
“Iler!!”
Gadis yang dipanggil dengan sebutan Iler oleh Zar langsung menolehkan kepalanya. Nampak pria itu melambaikan tangan ke arahnya. Mau tidak mau gadis tersebut menghampiri Zar, karena tak banyak orang yang dikenalnya.
“Sendirian aja, ***?” tanya Zar cuek.
“Abang bisa ngga sih tuh mulut enakan dikit manggilnya. Nama gue bukan Iler!”
Wajah gadis itu nampak berang. Tapi Zar terlihat cuek saja. Dia akan memanggil orang sesuai dengan pikirannya saja. Tidak peduli mereka senang atau tidak. Rakan dan Renata hanya tertawa kecil. Dalam pikiran mereka menerka-nerka, kenapa gadis cantik yang berdiri di sebelah Zar dipanggil Iler oleh anak sulung Kenzie.
“Ya terus gue harus manggil elo apa? Nama lo kan Vanila. Dipanggil Vani ngga mau, katanya pasaran tuh nama. Dipanggil Nila ngga mau, kaya nama ikan. Ya udah gue panggil Iler aja, beres kan? Kalo mau protes sama bokap nyokap lo, kenapa dikasih nama Vanila,” cerocos Zar panjang lebar.
“Panggil Ila apa susahnya sih, bang. Ila.. Ila.. Ila,” gemas Vanila yang biasa dipanggil Ila oleh orang tua, dan keluarganya yang lain.
“Elah beda huruf dikit doang.”
“Tapi artinya beda, bang!” sungut Vanila.
“Dah ah.. ribet soal nama doang. Kenalin nih, Renata, terus yang ganteng kalem ini bang Rakan.”
Vanilla langsung memasang wajah manis saat berkenalan dengan Renata dan Rakan. Dia memperkenalkan diri dengan nama Ila. Setelah berkenalan, dia menarik kursi di samping Renata, lalu mendudukkan diri di sana.
“Ini kak Rena yang gebetan abang, kan? Pantesan klepek-klepek, cantik gini.”
“Buset tuh lambe kaga ada saringannya udah kaya ban bocor,” sembur Zar.
Wajah Renata sedikit memerah ketika mendengar pujian Vanila. Apalagi ketika mendengar kalau pria di sebelahnya ini menyukai dirinya. Tapi Renata segera mengabaikan perasaannya, mengingat dirinya yang tak layak bersanding dengan cucu tertua keluarga Hikmat.
“Kak Rena jangan mau sama bang Zar. Dia kan playboy cap orang tua, pacarnya banyak di tiap tikungan ada. Malah ART di sebelah rumahnya juga di PHP ama dia.”
“Wah bener ya, lo ngajak rebut sama gue? Gue botakin baru tau rasa lo!”
“Coba aja kalau berani. Tar gue aduin ke papa, wleee..”
“Emang lo doang yang bisa ngadu? Gue juga bisa ngadu. Gue aduin bokap lo ke nenek Rindu, biar dikutuk jadi ban serep, hahaha…”
“Bengek.”
Suara tawa kembali terdengar dari meja Zar. Bukan hanya kedua saudara sepupu yang otaknya agak bergeser dari tempatnya, tetapi juga Renata dan Rakan. Di antara sepupunya yang lain, Vanila memang yang paling bisa membalas ucapan Zar. Dan tak sungkan membuat pria itu malu di depan orang lain.
“Gue heran, lo tuh sebenernya anak om Viren sama tante Al, bukan, sih? Bokap nyokap lo kalem, anaknya udah kaya petasan banting. Sekali ngemeng bikin darting.”
“Lah apa kabar abang? Papa Ken kan orangnya cool, calm, confidence. Nah abang kaga mau diem, mulut udah kaya radio rusak, gaya petakilan kaya ulet sagu.”
“Hahaha…”
Rakan tak bisa menahan tawanya lagi mendengar perdebatan Zar dan Vanila. Semua cucu keluarga Hikmat memang luar biasa memusingkan. Tapi dia senang melihat gaya Vanila yang bisa dikategorikan somplak.
“Abang bahagia banget ketawanya,” ceplos Vanila seraya melihat pada Rakan.
“Abisnya kamu lucu.”
“Ya ampun emang aku cihuahua apa dibilang lucu.”
“Hahaha…”
Meja yang ditempati Rakan sekarang terasa lebih hidup sejak kedatangan Vanila. Gadis itu selalu punya bahan untuk membalas celetukan Zar. Dirinya dan Renata sedari tadi hanya sebagai penikmat dan tak lupa memberikan sumbangan tawa saat ulah keduanya ada saja yang mengocok perut.
“Lo kapan lulus kuliah?” tanya Zar.
“Wah beneran nih, abang tipe saudara yang ngga peduli sama sodaranya sendiri. Gue udah lulus sejak dua bulan lalu. Baru tadi pagi gue diwisuda. Makanya gaul jangan sama cebong mulu, makanya ngga tau perkembangan dunia.”
“Bagus deh kalau udah lulus. Kasihan gue sama dosen lo kalau lo masih jadi mahasiswa.”
__ADS_1
“Kamu kuliah jurusan apa?” kali ini Rakan ikut masuk dalam pembicaraan.
“Aku kuliah di perhotelan, ambil tata boga.”
“Berarti pinter masak dong.”
“Heleh.. dia itu koki gadungan. Dia pernah bikin penghuni satu rumah muntah-muntah, gara-gara masakannya.”
“Itu sebelum gue masuk kuliah. Masih inget aja abang, tragedi memilukan, hahaha..”
Vanilla tak bisa menahan tawanya mengingat ulahnya kala itu. Niat hati ingin membuat masakan untuk keluarganya, malah membuat kedua orang tua, grandpa, grandma dan adiknya, bahkan para asisten rumah tangga di kediaman Juna muntah-muntah. Bukan muntah karena masakannya kemasukan bahan berbahaya, tetapi karena tidak kuat menerima rasa masakannya yang amburadul.
“Kalau sekarang udah bisa berarti?”
“Lumayan lah, bang. Dijamin ngga akan muntah hehehe..”
Seorang pelayan datang mengantarkan piring kecil berisi camilan. Piring tersebut diletakkan di depan semua orang yang ada di meja. Vanilla langsung mencicipi camilan yang baru saja mendarat di depannya.
“Ehmm.. sumpah ini enak banget,” seru Vanila.
“Ya pasti enak. Kan dari catering om Gavin,” seru Zar.
“Oh my God, chef Gavin yang terkenal itu? Huaaa.. mau dong ketemu chef Gavin. Pengen diajarin masak.”
“Kalau mau, nanti aku kenalin,” ujar Rakan.
“Beneran, bang? Asiiikkk.. abang kenal sama om Gavin?”
“Ya kenallah. Kan bang Rakan itu ponakannya om Gavin. Eh ponakan apa sepupu sih, bang?” tanya Zar.
“Keponakan iya, sepupu iya, hahaha…”
Vanilla menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengar jawaban Rakan. Tapi masa bodoh, mau ponakan, mau sepupu, yang penting dirinya bisa bertemu dengan chef terkenal tersebut.
“Selamat malam untuk semuanya. Salam sejahtera bagi kita semua. Semoga kita senantiasa berada dalam lingungan Tuhan Yang Maha Esa. Pada kesempatan kali ini, kami menyelenggarakan acara suksesi pimpinan Infinity Group yang akan memimpin perusahaan menjadi lebih maju lagi ke depannya. Sebagai acara pembuka, saya persilahkan pada bapak Muhammad Farel Ramadhan untuk memberikan sambutannya.”
Semua mata langsung tertuju pada Farel, kakak angkat dari Elang yang dipercaya mengurus Infinity Corp sejak awal berdiri sampai sekarang. Pria itu tersebut naik ke atas panggung dan langsung menuju mimbar. Tak banyak yang Farel katakan, pria itu hanya menceritakan awal mula perusahaan ini berdiri. Hingga lima tahun yang lalu berubah nama menjadi Infinity Corp. Dan sekarang perusahaan akan dipegang oleh pimpinan baru, sesuai amanat mendiang Irzal.
“Pada ananda tercinta, Irzal Habibie Ramadhan, dipersilahkan naik ke atas panggung,” ujar Farel.
Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar ketika Irzal berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju panggung. Kehadiran anak bungsu Elang itu, disambut pelukan hangat oleh Farel. Pria itu bersiap untuk memberikan estafet kepemimpinan pada pria yang tahun ini genap berusia 25 tahun.
Farel memberikan simbol Infinity Corp berupa satu batang bunga Lily yang terbuat dari emas putih yang tersimpan dalam kotak kaca. Terdengar tepukan tangan ketika Irzal menerimanya. Farel mempersilahkan Irzal memberikan satu dua patah kata sebagai pemimpin baru perusahaan ini. Pria itu segera naik ke atas mimbar.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Pertama-tama saya ucapkan terima kasih pada seluruh keluarga yang sudah mendukung saya sampai sejauh ini. Rasa cinta dan hormat tak lupa saya sampaikan pada mendiang kakek tercinta, almarhum Irzal Ramadhan. Karena kasih sayang kakek pada kita semua, membuat saya berdiri di sini menerima amanat yang beliau berikan. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang berat untuk saya. Saya berharap dukungan semua orang, untuk membantu saya mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik lagi.”
Elang menatap bangga pada anak bungsunya itu. Dia yakin kalau Irzal akan mampu memikul amanat yang diberikan padanya. Aslan juga menatap adiknya itu dengan perasaan bangga. Dua hari yang lalu Irzal sempat menemuinya dan mengatakan ragu untuk menjalankan amanat sang kakek. Dia merasa belum mampu untuk memikul tanggung jawab sebesar itu. Namun Aslan tetap memberikan masukan dan support untuk sang adik. Hingga akhirnya pria itu mampu berdiri di depan mimbar. Menerima amanat yang dipercayakan padanya.
“Infinity Corp adalah sebuah keluarga besar. Kita bekerja bersama saling bahu membahu membangun dan mengembangkan perusahaan ini. Mengatasi setiap masalah dan badai yang menerpa. Saya harap kalian tidak sungkan untuk menegur saya jika melakukan kesalahan. Dan tak malu berbagi jika ada permasalahan yang mendera. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Terima kasih atas semua dukungan dan doanya. Semoga kebaikan dan keberkahan akan menyertai kita semua. Aamiin..”
“Aamiin..”
Suara tepuk tangan kembali bergema setelah Irzal mengakhiri pidato singkatnya. Pria itu menyerahkan kembali jalannya acara pada pemandu acara. Dia berjalan kembali ke mejanya, menuju istri tercintanya yang sedari tadi tak berkedip melihatnya memberikan sambutan di atas panggung.
“Selamat, mas.”
“Makasih, sayang. Terus dukung aku.”
“Pasti, mas.”
__ADS_1
Arsy melemparkan senyum manisnya. Dipeluknya pinggang sang suami yang saat ini secara sah sudah menjabat sebagai CEO Infinity Corp. Arys tahu ke depannya, waktu sang suami akan banyak tersita untuk perusahaan. Namun begitu, wanita itu tetap akan memberikan dukungannya pada suami tercinta.
Setelah acara sambutan dan penyerahan simbol serta sambutan singkat dari CEO baru, acara dilanjutkan dengan penayangan perjalanan Infinity Corp dari dulu hingga sekarang. Sambil memegang tangan Arsy, Irzal terus menatap layar putih di depannya. Sesekali dia mencium punggung tangan sang istri.
Para pelayan mulai menghidangkan makanan yang sudah disiapkan panitia acara. Mereka mendorong troli berisikan makanan yang kemudian diletakkan di atas meja, tempat para undangan duduk. Sementara itu di panggung, acara hiburan mulai ditampilkan. Hiburan musik dari bintang tamu dan juga para cucu Ramadhan yang berkolaborasi dengan keluarga Hikmat bergantian mengisi panggung.
Setelah Ghea memperdengarkan suara merdunya saat berduet dengan Dion yang diiringi band besutannya selesai. Sang pembawa acara memanggil pasangan duet yang akan tampil berikutnya. Arsy yang ditinggalkan Irzal sejak lima menit lalu, tidak tahu kalau sang suami tengah bersiap di belakang panggung bersama dengan Stella, sepupunya.
“Bang.. nanti konsepnya kan kita nyanyi buat pasangan masing-masing. Abang lihat ke Arsy, terus aku lihat ke mana?” tanya Stella.
“Ya kamu lihat calon suami kamu lah. Masa lihat satpam.”
“Mending lihat satpam dari pada lihat dia. Emang dia duduk di mana sih?”
“Di meja sebelah kiri panggung. Makanya kamu berdirinya di sebelah kiri. Kan Aidan udah kasih tau.”
“Harus gitu lihat ke dia?”
Irzal tak menjawab lagi pertanyaan Stella. Sang pembawa acara sudah memanggil mereka, dan keduanya naik ke atas panggung. Suasana panggung dan juga ballroom sengaja dibuat gelap. Irzal berdiri di spot yang telah ditentukan untuknya, begitu juga Stella. Terdengar suara piano mengiringi lagu yang mereka nyanyikan. Sorot lampu mulai mengarah pada Irzal.
“I used to count the stars in the sky. Now I count the ones in your eyes. I used to think that my paradise. Was somewhere waiting on the other side, but you, ooh, ooh. Take me higher than I've been. Laying hands on my skin, it's true, ooh, ooh. Nothing compares to you.”
Arsy terkejut melihat suaminya berada di atas panggung, menyanyikan lagu bertema cinta dan melihat padanya tanpa berkedip. Wanita itu sungguh tidak menyangka sang suami ternyata memiliki suara yang begitu merdu. Hati Arsy begitu bahagia melihat sang suami yang bernyanyi khusus untuknya.
Setelah Irzal selesai menyanyikan sampai part refrain seorang diri, kini giliran Stella yang bernyanyi. Sorot lampu mengarah pada gadis itu yang berdiri di sisi kiri panggung. Tamar yang duduk tak jauh dari panggung bersama dengan Aidan, Daffa dan Zain, menatap gadis yang sebentar lagi menjadi istrinya.
“Waking up to you feels like a pinch-myself moment. If we're only here for a while. I wanna spend all of it holding you, ooh, ooh. Take me higher than I've been. Got me questioning everything I knew, ooh, ooh. 'Cause nothing compares to you.”
Mata Stella terus memandang ke arah depan, tapi bukan ke arah Tamar, melainkan pada Aidan. Gadis itu benar-benar malas melihat pada calon suaminya itu. Tamar melihat ke sebelahnya, pria itu nampak kesal karena Stella terus melihat pada Aidan, seolah tengah menyuarakan isi hatinya pada pria itu.
“Si Stella kok lihatnya ke gue terus. Waduh jangan-jangan dia naksir gue, ya,” ceplos Aidan.
“Bisa jadi,” sambar Daffa.
Perkataan kedua pria itu sukses membuat Tamar keki berat. Pria itu menghembuskan nafas kesal. Seharusnya sesuai rencana, Stella akan melihat pada dirinya. Itu yang membuat Adian menempatkan dirinya duduk di meja ini. Namun ternyata gadis itu malah melihat pada Aidan saat menyanyikan lirik demi lirik.
“Nothing comes, nothing comes close to this. Lookin' up, lookin' up even if it exists. My heaven is on your lips.”
Kembali terdengar suara Irzal dan Stella menyanyikan part secara bersamaan. Sesekali Irzal melihat pada Stella agar nyanyiannya harmonis. Pria itu kemudian berjalan menuruni anak tangga, bermaksud menghampiri istrinya. Stella pun melakukan hal yang sama. Gadis itu menuruni panggung dan menuju meja yang ditempati Tamar.
“So tell me why, what good is life. If we're all just waiting to dance in the sky?”
Irzal sampai di depan Arsy, kemudian menarik tangan istrinya itu hingga berdiri berhadapan dengannya. Sambil terus menyanyikan lirik lagu bersama dengan Stella, dia memegang tangan istrinya sambil menatap penuh cinta.
“I'm already there, here in your eyes. We climb the gates, every time that you lie down next to me. I rest in peace. Thеy say it's better, but how could that be?. If everyone had a love like us. They wouldn't call that place above, Heaven.”
Irzal mengakhiri nyanyiannya dengan kecupan di punggung tangan sang istri yang dilanjut dengan mencium keningnya. Arsy langsung menghambur dalam pelukan Irzal. Berbeda dengan Stella yang menarik tangan Aidan sebelum lagunya berakhir. Pria itu hanya bisa melemparkan cengiran kikuknya, apalagi saat melihat wajah Tamar yang tidak bersahabat.
Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar ketika nyanyian mereka berakhir. Stella melepaskan pegangannya di tangan Adian, kemudian kembali ke belakang panggung. Sedang Irzal mengajak Arsy menuju sebuah ruangan yang ada di dalam ballroom setelah meletakkan mic di atas meja begitu saja.
“Kamu suka lagunya?” tanya Irzal setelah mereka berada di dalam ruangan.
“Suka, mas. Terima kasih. Aku ngga nyangka suara mas merdu banget. Kok ngga bilang mas mau tampil?”
“Sengaja, buat kejutan.”
“Makasih, mas. Udah kasih kejutan yang indah buat aku.”
Arsy memeluk leher suaminya. Sambil sedikit berjinjit dia mendaratkan ciuman di bibir suaminya. Tangan Irzal segera memeluk pinggang sang istri, sedang tangan satunya menahan tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciuman mereka. Keduanya langsung terhanyut dalam pagutan yang terbalut rasa cinta yang dalam.
🍁🍁🍁
**Akhirnya bisa up setelah kesibukan panjang di rumah. Maklum sebagai emak, kerjaan rumah menggunung setelah ditinggal beberapa hari, minta giliran diurus. NR sore atau malam ya. Harap bersabar, antrian kerjaku masih banyak🙏
__ADS_1
Yang mau tau lagu yang dinyanyiin Irzal & Stella, judulnya Heaven, Callum Scott feat Lyodra😉**