Hate Is Love

Hate Is Love
Kehilangan


__ADS_3

Sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi, Arsy memejamkan matanya. Tubuhnya terasa begitu lelah, beberapa kali wanita itu merasakan kram di bagian perutnya, membuatnya harus beberapa kali mengistirahatkan diri. Arsy membuka matanya dan melihat suasana IGD yang cukup sepi. Dia memutuskan untuk menemui dokter kandungan untuk memeriksakan dirinya.


Dokter Suci baru akan memulai prakteknya ketika Arsy masuk ke dalam ruangan. Wanita itu membiarkan Arsy melakukan konsultasi lebih dulu saat sang suster masih menyiapkan peralatan dan juga berkas pasien.


“Kenapa, Sy?” tanya dokter Suci.


“Dok.. akhir-akhir ini badanku cepat lemas, dan tadi juga aku beberapa kali kram.”


“Coba kita periksa dulu.”


Arsy naik ke atas bed. Dokter Suci beranjak dari duduknya, dia mengoleskan gel ke perut Arsy dan mulai menggerakkan probe di atas perut yang masih rata tersebut. Beberapa kali tangannya terus bergerak, dan matanya melihat pada layar monitor. Dokter wanita itu lalu memeriksa denyut nadi Arsy.


“Aku kenapa, dok?”


“Arsy.. kandunganmu lemah. Kondisimu rawan, kalau tidak hati-hati kamu bisa kehilangan janinmu.”


“Apa dok?”


Perasaan Arsy langsung was-was mendengar keterangan dokter Suci. Dia takut sesuatu yang buruk menimpa calon anaknya, apalagi suaminya sangat menginginkan anak ini, dan juga keluarga besarnya.


“Kamu harus tenang, Sy. Jangan banyak pikiran. Aku sarankan kamu untuk cuti. Kamu harus banyak istirahat, bed rest tepatnya.”


“Tapi anakku ngga akan apa-apa kan?”


“Mudah-mudahan, Sy. Kita hanya bisa berusaha. Tetap Allah yang menentukan. Aku akan memberi resep untuk menguatkan kandunganmu. Setelah ini kamu lebih baik pulang dan istirahat. Jangan melakukan apapun apalagi mengangkat barang berat dan jangan banyak pikiran.”


“Iya, dok.”


Arsy turun dari bed setelah suster membersihkan gel di perutnya. Dengan langkah pelan, wanita itu kembali mendudukkan dirinya di tempat semula. Dokter Suci menuliskan resep untuk Arsy lalu memberikan padanya.


“Istirahat ya, Sy.”


“Iya, dok. Makasih.”


“Kalau kamu merasakan hal tak beres dengan kandunganmu, langsung datang ke sini.”


“Iya, dok.”


Setelah menerima resep dari dokter kandungannya, Arsy bangun dari duduknya. Wanita itu memilih menggunakan lift untuk turun ke lantai dasar. Dia segera kembali ke IGD untuk meminta ijin pulang pada dokter Fabian. Baru saja wanita itu sampai di IGD, beberapa blankar masuk ke dalam Instalasi Gawat Darurat tersebut.


“Ada apa?” tanya Arsy.


“Beberapa anak mengalami keracunan.”


Berturut-turut sepuluh orang pasien masuk ke dalam IGD. Rata-rata pasien adalah anak sekolah yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Mereka disinyalir mengalami keracunan setelah mengkonsumsi permen karet yang tengah viral. Melihat banyaknya pasien yang datang, Arsy melupakan tujuannya datang ke IGD. Dia ikut sibuk menangani para pasien.


Bersama tiga orang dokter residen, termasuk Daffa, Arsy merawat pasien-pasien tersebut. Tiga orang pasien mengalami kondisi kritis dan harus masuk ruangan tindakan. Arsy membantu Daffa di ruang tindakan. Dia memasang nasogastric tube ke dalam hidung pasien. Selang akan turun ke kerongkongan dan masuk ke perut. Mereka akan mengeluarkan isi perut anak tersebut.


Daffa memerika penempatan selang, memastikan berada di tempat benar. Dia kemudian memasukkan zat untuk memompa racun yang tertelan oleh anak itu keluar. Arsy terus membantu apa yang dilakukan oleh Daffa sampai racun dapat dikeluarkan dari pasien tersebut.


Selesai dengan pasien satu, Arsy berpindah ke pasien lainnya. Tak terasa hampir satu jam lebih dia berjibaku membantu pasien yang keracunan. Wanita itu mendudukkan tubuhnya di kursi setelah semua pasien dapat teratasi. Kembali Arsy merasakan kram di bagian perutnya. Beberapa kali wanita itu mengambil nafas panjang. Setelah kram di perutnya berkurang, dengan langkah gontai dia berjalan menuju toilet.


Mata Arsy membulat melihat darah yang membasahi segitiga pengamannya. Wajahnya langsung pucat, pikirannya buyar kemana-mana. Yang dipikirkan saat ini hanyalah anak dalam kandungannya. Wanita itu segera keluar dari kamar mandi. Perutnya kembali merasakan kram dan tubuhnya tidak bisa berdiri lagi. Beruntung ada suster yang masuk ke dalam toilet.


“Dokter Arsy!”


🍁🍁🍁


Perlahan mata Arsy terbuka. Ruangan serba putih langsung menyapa indra penglihatannya. Tubuhnya terasa lemas dan sulit untuk bangun. Di tangan kanannya sudah terpasang jarum infus. Matanya kemudian menangkap dokter Suci mendekat padanya.


“Dokter.. ba.. bagaimana anakku?”


“Maaf Arsy.. saya tidak bisa menyelamatkan anakmu. Kamu mengalami keguguran.”


“Ngga.. dokter bohong. Anakku baik-baik aja kan, dok? Dia baik-baik aja kan, dok. Dokter..”


“Maaf, Arsy.”


“Dokter bohong!! Anakku baik-baik aja, kembalikan anakku!!”

__ADS_1


Tangis Arsy langsung pecah mendengar apa yang dikatakan dokter Suci. Dia terus berteriak, tak percaya apa yang dikatakan dokter Suci padanya. Nara dan Azkia yang langsung datang ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari Daffa segera menghampiri Arsy.


“Arsy.. sayang.”


“Mama.. anakku, ma. Anakku..”


Nara memeluk putri satu-satunya ini. Dia juga tak bisa menahan airmatanya melihat sang anak yang begitu terpukul kehilangan calon buah hatinya. Azkia pun tak mampu mengatakan apapun selain mengusap punggung menantunya.


“Mas Bibie pasti marah padaku, ma.. aku sudah kehilangan anak kami.”


Arsy terus menangis dalam pelukan Nara. Dokter Suci memerintahkan suster untuk menyuntikkan obat penenang pada Arsy, melihat wanita itu yang begitu histeris. Tubuh Arsy terkulai ketika cairan yang disuntikkan padanya mulai bekerja. Nara menyelimuti tubuh anaknya sampai sebatas dada.


🍁🍁🍁


Dengan cepat Irzal langsung menuju ke rumah sakit ketika Daffa menghubungi. Sepupunya itu tidak mengatakan perihal Arsy yang mengalami keguguran. Dia hanya meminta Irzal cepat datang untuk menemui Arsy. Sepanjang perjalanan pria itu tidak tenang. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Irzal langsung memasuki gedung rumah sakit sambil berlari. Dia segera menuju lantai 11, ruangan di mana Arsy dirawat. Yang dalam pikirannya hanyalah keselamatan istri dan calon anaknya. Mata Irzal terus memandangi panel di atas pintu lift, menunggu layar menunjukkan angka sebelas.


Irzal bergegas keluar dari lift begitu pintu terbuka. Dia segera menuju ruang perawatan di mana Arsy berada. Langkahnya terhenti ketika melihat sang istri terbaring lemah dengan tangan sebelah kanan tertusuk jarum infus. Perlahan dia mendekati bed lalu memegangi tangan Arsy.


“Arsy kenapa, ma? Bunda?” tanya Irzal dengan suara pelan.


“Bibie..” Azkia mengusap punggung anaknya.


“Arsy kenapa bunda?” ulang Irzal.


“Arsy.. dia keguguran, nak.”


Irzal seperti tersambar petir mendengar kabar dari sang bunda. Tubuh pria itu sedikit terhuyung. Azkia segera menangkap tubuh anaknya lalu memeluknya. Tangan Irzal memeluk erat punggung Azkia. Airmata langsung membasahi wajah tampannya. Berita kehilangan sang buah hati begitu membuatnya terpukul.


“Sabar, nak. Ini sudah kehendak Allah.”


Azkia membimbing anaknya duduk di sofa. Nara mengambilkan minum untuk menantunya yang terlihat shock. Irzal menghapus airmatanya lalu mengambil gelas tersebut dan meneguknya sedikit.


“Bagaimana kejadiannya, ma? Bunda? Tadi pagi keadaan Arsy baik-baik saja.”


Tangan Azkia terus mengusap punggung Irzal. Anaknya itu hanya tergugu saja saat mendengar penjelasan sang bunda. Nara mendudukkan diri di samping Irzal, wanita itu juga berusaha memberikan dukungan untuk menantunya itu.


“Arsy juga sangat terpukul. Tadi dokter sampai harus memberinya obat penenang. Kamu harus kuat, Zal. Kamu harus bisa menguatkan Arsy juga.”


Beberapa kali Irzal menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya. Pria itu lalu bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri bed sang istri. Dia mendudukkan diri di samping bed. Diraihnya tangan Arsy lalu diciumnya beberapa kali punggung tangan istrinya itu.


🍁🍁🍁


Kabar keguguran yang dialami Arsy sudah tersebar ke seluruh keluarga. Satu per satu anggota keluarga datang menemui Arsy di rumah sakit. Abi ditemani Nina datang ke rumah sakit. Begitu pula dengan Jojo yang langsung datang bersama dengan Adinda saat mendengar sang cucu mengalami keguguran. Stella dan Dayana juga langsung menuju rumah sakit untuk memberikan dukungan pada sepupunya. Sedang Kenzie dan Elang masih belum bisa dihubungi karena masih menghadiri meeting penting.


Mata Abi langsung tertuju pada Arsy yang terbaring di atas bed dan Irzal yang duduk di samping bed. Pria itu hanya menundukkan kepalanya dengan tangan terus menggenggam tangan Arsy. Dengan langkah pelan Abi menghampiri Irzal. Mendengar suara langkah kaki, Irzal mengangkat kepalanya.


“Kakek,” panggil Irzal pelan.


“Arsy.. bagaimana kondisinya?”


“Dia baru diberi obat penenang. Dia sangat shock.”


“Sabar, nak. Sabar. Ini ujian untuk kalian. Yang penting Arsy selamat dan baik-baik saja.”


Hanya anggukan kepala saja yang mampu diberikan Irzal. Pria itu tak mampu berkata apa-apa. Kesedihan masih menggelayuti hatinya. Apalagi Arsy masih belum terbangun karena obat penenang yang diberikan dokter. Semakin membuat perasaannya tak menentu.


Jojo datang dan memberikan dukungannya pada Irzal. Beberapa kali pria itu menepuk pundak sang cucu mantu. Nina mengajak suaminya untuk duduk, begitu pula dengan Adinda. Mereka masih harus menunggu sampai Arsy terbangun dari tidurnya. Stella dan Dayana yang datang bersamaan pun tak bisa mengatakan apapun. Melihat sepupunya yang terbaring dengan wajah pucat dan Irzal yang nampak sedih, keduanya hanya mampu mengatupkan mulutnya.


Selesai menghadiri meeting, Kenzie dan Elang terkejut saat mendapat kabar kalau anak mereka baru saja kehilangan janinnya. Keduanya bergegas menuju rumah sakit. Kenzie nampak tak tenang memikirkan kondisi Arsy. Beberapa kali Elang berusaha menenangkan besannya itu. Dalam hatinya terus berdoa semoga anak dan menantunya baik-baik saja.


“Arsy..” panggil Kenzie pelan.


Pria itu segera mendekati bed Arsy. Irzal bangun dari duduknya, memberikan ruang untuk papa mertuanya. Matanya menangkap Elang yang ada di belakang Kenzie. Dia segera mendekati sang ayah.


“Bagaimana Arsy bisa keguguran?” tanya Kenzie pelan.


“Aku juga ngga tau, pa,” jawab Irzal.

__ADS_1


“Nara.. kenapa Arsy bisa keguguran? Kenapa?” Kenzie menatap nanar pada istrinya.


“Kandungannya lemah, mas.”


“Tapi kemarin dia masih baik-baik saja.”


“Aku tahu, mas. Tapi semua sudah takdir. Kita hanya perlu menguatkan Arsy saja.”


Nara memeluk suaminya yang nampak shock. Kehamilan Arsy merupakan berita bahagia untuknya. Dia akan menjadi seorang kakek dan tidak sabar untuk segera menggendong cucu. Namun kenyataan berkata lain. Baru saja kehamilan Arsy berjalan dua bulan, anaknya itu harus mengalami keguguran.


Melihat kondisi anaknya yang tidak baik-baik saja, Elang mengajak Irzal keluar ruangan. Irzal mengikuti langkah sang ayah keluar dari ruang perawatan. Mereka duduk di kursi yang ada di depan ruang perawatan.


“Bie.. kamu baik-baik aja?”


“Aku.. aku..”


Irzal tak mampu berkata-kata. Airmata yang sedari tadi ditahannya saat Abi dan yang lainnya datang akhirnya keluar juga. Elang memeluk anaknya ini, membiarkan pria itu menangis sepuasnya.


“Kamu harus kuat, nak. Ini adalah jalan yang sudah ditakdirkan Allah untuk kalian. Anggap saja ini adalah ujian dalam pernikahan kalian. Hidup tidak selalu mulus dan bahagia, kadang kala ada angin atau topan yang datang. Jadikan masalah yang menimpa kalian untuk mempererat hubungan kalian. Kamu harus kuat dan menguatkan Arsy. Dia pasti lebih terpukul darimu.”


Hanya suara tangis Irzal saja yang terdengar, namun ucapan Elang masuk ke gendang telinganya dan terekam dengan jelas dalam ingatannya. Kata-kata sang ayah seperti penyejuk di hatinya yang kekeringan karena baru saja kehilangan calon buah hatinya.


“Bibie..”


Pelukan Elang terurai ketika mendengar suara Rena. Wanita itu segera datang ke rumah sakit begitu mendengar cucunya baru saja kehilangan calon anaknya. Rena mendekat kemudian memeluk Irzal. Tangannya mengusap punggung Irzal yang nampak bergetar karena tangisnya.


Untuk menenangkan perasaan Irzal, Rena mengajak pria itu ke rooftop untuk berbincang dan menghirup udara segar. Mereka duduk di sebuah bangku yang ada di dekat pohon yang cukup rindang.


“Nenek mengerti pasti kamu kecewa dengan keguguran yang dialami Arsy. Tapi jangan sampai itu membuatmu sedih berkepanjangan. Arsy pikirkan juga bagaimana perasaannya. Dia pasti merasa sedih dan bersalah karena tidak bisa menjaga anak kalian dengan baik.”


“Aku tidak menyalahkannya, nek. Aku sadar kalau ini semua sudah ketentuan Allah. Aku hanya butuh waktu untuk menerima ini, sebentar saja.”


“Nenek tau, kamu pasti bisa melewati semua ini. Ingat ada Arsy juga yang membutuhkanmu. Jangan biarkan dia melewati ini sendirian karena kamu terlalu sibuk memikirkan kesedihanmu. Nenek tidak mau Arsy seperti nenek Poppy yang sempat depresi karena kehilangan anak mereka. Saat itu kakekmu sedang tidak bersamanya dan tidak tahu soal keguguran itu. Nenek Poppy takut kalau kakekmu marah dan meninggalkannya karena tak bisa menjaga kandungan dengan baik.”


“In Syaa Allah, nek. Aku tidak akan membiarkan Arsy menjalani ini sendirian.”


Rena menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyuman ke arah sang cucu. Irzal menarik nafas panjang beberapa kali. Kondisinya sudah sedikit membaik setelah berbicara dengan Elang dan Rena. Pria itu bangun dari duduknya lalu mengajak Rena kembali ke kamar perawatan. Dia takut Arsy bangun dan tidak menemukan dirinya.


Sementara itu di dalam ruangan, Arsy sudah terbangun dari tidurnya. Dia terkejut melihat sudah banyak anggota keluarganya yang datang. Tapi dari sekian banyak orang, dia tak melihat kehadiran suaminya. Perasaan was-was kembali muncul dalam hatinya. Dia takut Irzal marah dan tak mau menemuinya.


“Arsy.. kamu sudah bangun.”


Kenzie dan Nara bergegas mendekati anaknya. Begitu pula Abi, Nina, Azkia dan Elang. Dayana dan Stella tak mau ketinggalan, mereka segera mendekati bed sepupunya itu. melihat Kenzie, tangis Arsy kembali pecah.


“Papa.. papa..”


“Ini papa, sayang. Ini papa.”


Kenzie segera memeluk Arsy yang kembali menangis. Wanita itu menumpahkan semua kesedihan dan ketakutannya dalam pelukan sang papa. Nara ikut memeluk anaknya, mencoba menenangkan Arsy yang masih terlihat shock.


“Jangan menangis lagi, sayang. Kamu harus sabar, ikhlas,” ujar Nara pelan.


“Mas Bibie pasti marah padaku, ma. Mas Bibie marah padaku. Dia ngga mau menemuiku,” ujar Arsy di tengah-tengah tangisnya.


“Ngga, sayang. Suamimu tidak marah padamu. Dia tadi di sini menungguimu. Dia sedang keluar sebentar. Jangan berpikir yang macam-macam.”


“Aku takut, ma. Aku takut mas Bibie marah. Aku.. tidak bisa menjaga kandunganku.”


Arsy terus saja menangis sambil mengungkapkan ketakutannya kalau Irzal marah padanya. Dia takut Irzal akan meninggalkannya karena kecewa dirinya sudah kehilangan calon buah hati mereka. Nara dan Kenzie terus berusaha menenangkan sang anak yang masih saja menangis.


Di saat itu pintu ruangan terbuka, Irzal dan Rena masuk ke dalam ruangan. Irzal terkejut melihat anggota keluarga mengerubungi bed Arsy. Dia takut sesuatu terjadi pada istrinya. Dengan cepat dia menghampiri bed. Pria itu tertegun melihat sang istri yang tengah menangis dalam pelukan papa mertuanya.


“Mas Bibie pasti marah padaku, pa. Mas Bibie pasti kecewa padaku. Bagaimana kalau dia meninggalkanku, pa.”


“Sayang..”


🍁🍁🍁


Iya, mas Bie. Eh Arsy yang dipanggil ya🤭

__ADS_1


__ADS_2