Hate Is Love

Hate Is Love
Derita Arya


__ADS_3

“Itu penghulu somplak ngapain ke sini?” ujarnya panik.


Bukan hanya Arya, tapi Ervano dan yang lainnya juga menyadari kehadiran Rahman Badarudin Surahman. Zar langsung tertawa paling keras melihat kedatangan penghulu fenomenal yang telah berhasil membuatnya mati kutu saat pernikahan.


“Bhuahahaha.. apes banget si Arya. Bela-belain ngundur jadwal nikah, ujung-ujungnya ketemu juga sama penghulu kesayangan.”


“Emang berjodoh dia ama pak Rahman,” timpal Aidan.


“Jangan lupa direkam akad nikahnya, pasti seru,” sahut Irzal.


Dengan santai Rahman berjalan menghampiri Arya yang berdiri di dekat meja akad. Pria itu melemparkan senyuman manisnya. Tentu saja senyum manis Rahman diartikan Arya sebagai kode untuk dirinya bersiap menerima serangan pria itu.


“Sudah siap kang Arya?” tanya Rahman.


“Si.. siap sih, pak. Tapi kok bapak yang datang? Setahu saya, bukan bapak loh yang nikahin saya.”


“Hahaha…”


Tawa Rahman terdengar menyahuti ucapan Arya. Pria itu puas sekali melihat wajah panik calon pengantin pria. Entah apa yang ditakutkan calon mempelai ini. Padahal dirinya bukanlah orang yang menakutkan, malah sering membuat orang tertawa. Wajahnya juga tidak menyeramkan seperti genderuwo.


“Saya punya pantun buat kang Arya. Mau dengar?”


“Ngga usah, pak. Saya udah kenyang pantun pas nikahan Zar.”


“Hahaha.. tapi saya yakin, kang Arya akan senang dengar pantun saya ini.”


“Gassalah pak,” sahut Ervano.


“Main bulu tangkis pake raket. Main kasti pake tongkat.”


“Cakep,” seru Ervano. Berbeda dengan Arya yang nampak ketar-ketir menunggu kalimat selanjutnya.


“Kang Arya jangan kaget. Saya datang sebagai tamu, bukan untuk akad.”


Untuk sejenak Arya terdiam, mencoba merenungi kata-kata yang diucapkan Rahman barusan. Tak lama kemudian terdengar teriakannya mengucapkan hamdallah disertai teriakan kencang. Kesenangan Zar langsung ambyar begitu tahu ternyata Rahman datang karena undangan keluarganya, bukan untuk menikahkan Arya.


Tak berapa lama kembali terdengar suara Aric menyambut kedatangan seseorang. Kali ini wajah Arya nampak sumringah. Orang yang datang adalah penghulu yang akan menikahkannya. Penghulu muda yang dulu menikahkan Dayana dan Rafa. Pria itu segera berjalan menghampiri pengantin pria.


“Dengan pak Rafli?” tanya Arya.


“Iya, tolong jangan panggil bapak, Rafli saja.”


Pria bernama Rafli itu menyalami tangan Arya. Kemudian dia menyalami Rahman, seniornya yang lebih dulu datang darinya. Rahman menepuk pundak juniornya, seakan mengatakan ‘lakukan tugasmu dengan benar’.


“Pak Rahman kapan datang?”


“Baru saja.”


“Bapak diundang ke sini?”


“Iya.”


“Kalau begitu, bapak bisa kan mendampingi saya menikahkan pasangan pengantin?”


“Eh tunggu-tunggu.. kenapa harus didampingi?” sergah Arya.


“Pak Rahman ini senior saya, sekaligus panutan saya. Saya banyak belajar dari beliau. Saya merasa lebih tenang saja kalau bertugas didampingi beliau.”


“Ya salam,” Arya menepuk keningnya pelan.


“Oke, untuk mempersingkat waktu. Silahkan semua yang berkepentingan untuk duduk di meja akad.”


Berturut-turut Arya, Azriel, Firlan dan Kenzie duduk di kursi yang ada di meja akad. Begitu pula dengan Rafli. Pria itu meminta pada salah satu pegawai untuk membawakan satu kursi lagi untuk Rahman. Dengan wajah berseri pria itu mendudukkan diri di samping Rafli. Arya hanya bisa berdoa, semoga saja Rahman tidak melakukan maneuver yang membuat kepalanya pusing.


“Nama lengkap, Arya Faresta Dunia, benar?”


“Benar.”


“Usia 23 tahun, benar?”


“Benar.”


“Status single?”


“Iya.”


“Sama kaya saya, hehehe.. Cuma bedanya kang Arya mau melepas status jomblo. Kalau saya masih setia diikuti predikat jomblo,” jawab Rafli.


Arya hanya melemparkan cengiran saja mendengar ucapan Rafli. Entah apa maksud pria itu mengatakan hal tadi. Apakah itu sebuah isyarat kalau dirinya sedang mencari belahan jiwa? Entahlah Arya tidak mau pusing memikirkan itu semua.


“Nama mempelai wanita, Shifa Qirani Prakarsa?”


“Betul,” jawab Azriel.

__ADS_1


“Kok namanya familiar ya,” gumam Rafli.


“Familiar dengan siapa pak?” tanya Arya penasaran.


“Wanita pujaan saya. Usia 27 tahun, benar?”


“Iya.”


“Wah ternyata kang Arya lebih senang dengan wanita berusia matang ya. Sama seperti saya.”


“Ngga nanya, pak,” jawab Arya asal.


“Status single.”


“Iya.”


“Ok.. semua dokumen sudah lengkap. Acara akad nikah bisa dimulai sekarang?”


Tentu saja Arya menjawab pertanyaan Rafli dengan anggukan sekuat tenaga. Semakin cepat ijab Kabul terjadi, maka akan semakin kecil peluang Rahman untuk mengerjai dirinya. Rafli tersenyum melihat anggukan kepala calon pengantin pria. Kemudian dia melihat pada Rahman.


“Bapak mau ada ritual dulu sebelum akad? Silahkan saja, pak.”


Mata Arya membulat melihat pada Rafli. Pria itu sontak menggelengkan kepalanya. Kenzie sebisa mungkin menahan tawanya melihat wajah panik keponakannya. Azriel yang memang pada dasarnya usil, tentu saja senang menggoda calon menantunya itu.


“Sebagai penghulu yang sudah banyak makan asam garam, saya persilahkan bapak untuk memberikan sepatah dua patah kata. Sepertinya calon pengantin pria gugup. Tolong dihilangkan dulu ketegangannya, pak.”


Lemas sudah tubuh Arya mendengar ucapan calon mertuanya. Dari arah belakang, dia bisa mendengar tawa Zar dan yang lainnya. Sepertinya mereka tengah menunggu momen-momen di mana pengantin pria dikerjai oleh Rahman.


“Kita latihan vocal saya ya, kang Arya. Coba ikuti saya. A.. I.. U.. E.. O..”


“A.. I.. U.. E.. O..” dengan sangat terpaksa Arya mengikuti apa yang dikatakan Rahman.


“A.. I.. U.. E.. O..” ulang Rahman.


“A.. I.. U.. E.. O..”


“A.. abi namina Arya (nama saya Arya).”


“A.. abi namina Arya.”


“I.. ieu poe abi nikah (hari ini saya menikah).”


“I.. ieu poe abi nikah.”


“U.. unggal dinten abi ngadoa (tiap hari saya berdoa).”


“E.. eneng Shifa tos siap narima (neng Shifa sudah siap menerima).”


“E.. eneng Shifa tos siap narima."


“O.. oray abi bade nyemburkeun bisa (ular saya mau menyemburkan bisa).”


“O.. oray abi bade nyemburkeun bisa.”


Dengan pasrah se pasrah-pasrahnya, Arya mengikuti apa yang dikatakan oleh Rahman. Ucapan terakhirnya tentu saja disambut gelak tawa lainnya. Rahman tersenyum puas melihat tidak ada perlawanan berarti dari calon pengantin pria.


“Sekarang senam sebentar ya. Biar badan rileks.”


Rahman bangun dari duduknya. Dia mengambil posisi sedikit jauh dari meja akad. Pria itu juga memberi tanda pada Rafli untuk mengikutinya. Rafli berdiri di samping Rahman, sedang Arya berada di belakangnya. Ervano sudah bersiap dengan kamera ponselnya, hendak mengabadikan momen yang tak terlupakan untuk Arya.


Rahman berdiri tegak, lalu membuka kakinya. Dia sedikit menekuk lututnya, dan merentangkan tangan ke depan. Rafli dan Arya mengikuti gaya yang diperagakan oleh penghulu senior itu.


“Kang Arya ikuti ucapan saya ya.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Arya. Rahman bersiap melakukan gerakan sambil bernyanyi.


“Sir gobang gosir sir sir. Gula gula jawa wa..”


Tangan Rahman bergerak ke kanan dan kiri. Sedangkan posisinya berdiri tegak kemudian menekuk setengah lututnya. Arya mengikuti gerakan yang Rahman peragakan sambil ikut bernyanyi.


“Sir gobang gosir sir sir. Gula gula jawa wa..”


“Sir kang Arya naksir sir. Ka neng Shifa nu geulis tea..”


“Sir kang Arya naksir sir. Ka neng Shifa nu geulis tea..”


“Ulang!”


Rahman berbalik, kemudian meminta Arya melakukan gerakan serupa sambil terus menyanyikan lirik yang tadi diajarkan olehnya. Tangan Arya bergerak ke kanan dan kiri dengan tubuhnya naik turun serta mulutnya bernyanyi.


“Sir gobang gosir sir sir. Gula gula jawa wa.. Sir kang Arya naksir sir. Ka neng Shifa nu geulis tea..”


“Bagus.. ulang lagi sampai tiga kali, biar afdol.”

__ADS_1


Dalam hati Arya merutuki apa yang diperintahkan Rahman padanya. Sialnya hanya dia seorang diri yang melakukan adegan tersebut. Semua mata tentu saja tertuju padanya. Bahkan Yoshi dan Ayunda yang ada di dalam ruangan kecil, sampai keluar untuk melihat pertunjukkannya.


“Selesai.. mangga cep Rafli, dilanjut.”


TUUUUT


“Suara naon eta?” tanya Rahman.


Reflek Arya memegang bokongnya yang tanpa permisi mengeluarkan suara yang sukses membuatnya malu. Karena gugup dan grogi menghadapi pernikahannya, sejak semalam perut Arya kembung. Dan sedari pagi dia tidak bisa buang angin. Ajaibnya setelah melakukan senam ala Rahman, justru si angin keluar tanpa dapat ditahan lagi.


TUUUTT


PREEET


Berturut-turut suara alam terus keluar dari bokong Arya. Otomatis semua yang mendengarnya langsung terpingkal.


“Oii.. ke WC dulu sono!” teriak Zar.


“Awas keluar sama ampasnya, hahaha..” Irzal.


“Waduh pencemaran udara!” Daffa.


“Oksigen mana oksigen, hahaha..” Aidan.


Kampret nih angin. Dari tadi gue suruh keluar ngga mau. Malah sekarang keluarnya. Hadeuh untung yayang Shifa ngga ada di sini. Tapi kan ada papa Ziel, duh malu abis gue.


“Nah bagus tuh senamnya pak, yang sedari tadi ngga keluar akhirnya keluar juga, hahaha..”


Celetukan Azriel tentu saja semakin membuat suasana semakin riuh. Dengan wajah memerah Arya kembali ke kursinya. Rahman mempersilahkan Rafli untuk memulai akad nikah. Penghulu muda itu memberi tanda pada Azriel. Ayah dari Shifa tersebut segera menggenggam tangan Arya.


“Ananda Arya Faresta Dunia, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Shifa Qirani Prakarsa binti Azriel Haedar Prakarsa dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan miniatur piala Sudirman terbuat dari emas 24 karat seberat 100 gram, dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Shifa Qirani Prakarsa binti Azriel Haedar Prakarsa dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Bagaimana para saksi? Sah?”


“SAH!” tegas Kenzie dan Firlan.


“Alhamdulillah,” jawab Arya dan yang lain.


“WHOAAAA… YESSSS!!”


Teriakan kencang Arya tentu saja disambut teriakan ledekan dari semua yang menghadiri acara akadnya. Tapi pria itu tidak mempedulikannya. Dia berjoged menikmati euphoria karena sudah berhasil membayar tunai wanita yang dicintainya.


Dari ruangan kecil yang ada di dalam ballroom, Shifa keluar didampingi Yoshi dan Ayunda. Arya terus berdiri sambil menatap wanita yang sudah sah menjadi istrinya berjalan mendekatinya. Rafli yang semula duduk tenang, langsung berdiri ketika melihat Shifa yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi dari meja.


Mata penghulu muda itu menatap tak berkedip pada sang mempelai wanita. Dia tidak percaya kalau dirinya baru saja menikahkan atlit bulutangkis favoritnya. Tangan Arya terulur pada Shifa. Belum sempat tangan Shifa menjangkau tangan suaminya, Rafli sudah lebih dulu mendahului.


“Ya ampun jadi mempelai wanitanya, Shifa pemain bulutangkis nomor satu dunia? Pantas namanya familiar. Halo mba Shifa, kenalkan saya Rafli. Saya penggemar beratmu.”


Tangan Rafli memegang erat tangan Shifa. Tentu saja wanita itu terkejut dibuatnya. Arya yang keki langsung melepaskan pegangan Rafli. Tersadar sudah menginterupsi pasangan pengantin, Rafli mempersilahkan Arya membawa Shifa untuk duduk.


Arya menyematkan cincin pernikahan ke jari manis Shifa. Sejenak Shifa memandagi cincin pernikahan di jarinya, kemudian dia mengambil cincin lain, lalu memasangkan ke jari Arya. Diciumnya punggung tangan sang suami. Arya mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Shifa. Dia langsung memeluk shifa setelahnya. Perasaannya lega telah berhasil mempersunting wanita dalam pelukannya sebagai istrinya.


Pelukan Arya terurai ketika mendengar deheman Rafli. Keduanya membalikkan diri menghadap meja, kemudian menandatangani buku pernikahan. Setelahnya mereka berdua berpose di depan fotografer, memamerkan cincin pernikahan dan juga buku nikah di tangan mereka.


Shifa menolehkan kepalanya ketika pundaknya ditepuk seseorang. Rafli sudah berada di dekatnya. Pria itu meminta berfoto bersama Shifa. Suatu kebanggaan untuknya bisa berfoto dengan atlit yang namanya sedang melambung tinggi saat ini.


“Mba Shifa, saya boleh kan foto bareng?”


“Bo… boleh.”


“Kang Arya, boleh ya?”


Mau tak mau Arya menganggukkan kepalanya pelan. Rafli segera berdiri di dekat Shifa, kemudian mengarahkan kamera ponsel padanya. Tidak cukup hanya sekali, pria itu mengambil gambar dirinya bersama dengan Shifa beberapa kali dengan berbagai pose. Arya melihat pada Rafli dengan wajah dongkol. Apalagi tangan Rafli dengan santainya memeluk pundak istrinya.


“Sabar kang Arya. Rafli ngga ada maksud apa-apa. Dia memang penggemar berat Shifa,” Rahman memeluk bahu Arya, sebagai pengganti Shifa.


“Resiko nikah sama atlit terkenal,” Aidan.


“Depan mata banget loh, makjleb hahaha..” Ervano.


“Pak Rahman, coba disusut air di telinganya Arya, nangis tuh hahaha..” Zar.


“Derita pengantin pria. Ditikung setelah akad, hahaha..” Tamar.


“Shifa! Suami lo nangis guling-guling tuh!” Irzal.


“Shifa.. sungguh teganya.. teganya.. teganya.. teganya…” Daffa.


“Bubar.. bubar.. bubar..”


Arya menghalau semua sahabat dan sepupunya yang ikutan meledek. Bukannya pergi, mereka malah semakin meledek Arya dan terpingkal. Shifa segera mengakhiri sesi fotonya bersama Rafli, kemudian menghampiri Arya. Dipeluknya lengan suaminya itu, lalu membawanya kembali ke meja akad. Rafli sendiri sudah kembali ke kursinya dan bersiap memberikan tausyiah singkatnya tentang hukum rumah tangga.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Sabar Arya, yang penting udah sah😂


__ADS_2