
Sebuah gedung apartemen berdiri gagah di depan Stella. Gadis itu segera melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut. Dia hendak mengunjungi Gita, teman kuliahnya itu butuh referensi untuk skripsinya. Berhubung Stella sudah selesai dengan studinya sebagai sarjana, dia meminta bantuan Stella.
Tadinya mereka akan bertemu di tempat lain, tapi berhubung Gita tiba-tiba mengalami diare, Stella yang tidak tega berinisiatif mendatangi tempat di mana gadis itu tinggal. Mata Stella terus melihat panel di atas pintu. Begitu panel menunjukkan angka tujuh, pintu lift terbuka.
Gadis itu tertegun melihat banyaknya orang berkumpul di salah satu unit apartemen. Bahkan dia bisa melihat Gita juga berada di sana. Dengan cepat Stella menghampiri temannya itu.
“Git.. ada apaan?”
“Astaga, kaget gue,” Gita mengusap dadanya.
“Rame amat. Ada polisi juga.”
Stella melihat dua petugas polisi tengah menyiapkan tali kuning di depan pintu masuk unit apartemen. Kemudian matanya menangkap Tamar yang sedang berbincang dengan beberapa orang yang diduga sebagai saksi.
Oh ternyata tuh laki, polisi. Penasaran gue, ada apaan sih.
“Kenapa sih?” tanya Stella pada Gita.
“Tetangga unit gue meninggal. Ada yang bilang bundir, ada yang bilang mati karena OD.”
“Waduh, serem amat.”
“Eh mana bahan buat skripsi?”
Stella membuka tasnya kemudian memberikan satu bundel kertas pada temannya itu. Perhatiannya kembali tertuju pada TKP. Kemudian dia menangkap seorang pria berdiri di dekat pintu. Wajahnya pucat dan menatap tajam padanya. Stella langsung mengalihkan pandangan.
“Ssstt.. Git.. lo lihat cowok pake kaos hitam yang dekat pintu ngga?”
Mata Gita mencari-cari sosok yang dimaksud. Tapi dia hanya melihat dua orang petugas polisi saja tengah menjaga pintu. Tak ada pria yang dimaksud Stella.
“Ngga ada. Cuma polisi doang.”
Asem bener deh. Berarti setan tuh. Duh salah waktu nih gue dateng ke sini.
Semua orang yang berkerumun segera memberikan jalan ketika dua orang petugas menandu seseorang yang terbungkus tas mayat lalu membawanya pergi. Lalu dia melihat lelaki yang tadi melihatnya terus mengikuti kedua petugas tersebut. Stella langsung menolehkan pandangannya ke arah lain saat pria itu melihatnya.
Tamar dan Aji yang sudah selesai dengan penyelidikannya, segera keluar dari unit apartemen tersebut. Sejenak Tamar dan Stella beradu pandang, namun tak ada respon apapun dari keduanya. Tamar bergegas meninggalkan unit apartemen tersebut.
“Stel.. lo mau masuk dulu?”
“Ngga, deh. Gue mau cabut aja.”
“Makasih ya.”
Hanya anggukan saja yang diberikan oleh Stella. Gadis itu bergegas menuju lift yang pintunya hampir menutup. Aji dan Tamar yang berada di lift hanya melihat padanya tanpa mengatakan apapun. Stella berdiri di samping Tamar, matanya hanya tertuju pada lantai lift saja.
Dia terjengit ketika melihat ada sepatu lain di sebelah kirinya yang tadinya kosong. Perlahan dia mengangkat kepalanya, dan ternyata pria yang tadi ada di TKP sudah berada di sampingnya. Refleks Stella berbalik kemudian memegang lengan Tamar dengan kencang. Sontak Tamat terkejut dibuatnya.
“Kamu kenapa?”
Perlahan Stella membuka mata kemudian mengangkat kepalanya. Sebelum menjawab pertanyaan Tamar, dia melihat ke arah samping kirinya. Ternyata pria tersebut sudah menghilang.
“Hei..” ucapan Tamar menyadarkan Stella.
“Ma.. maaf.. tapi boleh ya saya pegang tangan bapak sampe keluar lift.”
Aji yang berada di samping Tamar segera melongokkan kepalanya. Nampak seorang gadis cantik tengah memegangi lengan Tamar. Wajahnya seperti orang ketakutan. Tamar menatap Stella tanpa berkedip, dia mulai mengingat Stella.
“Kamu… cucu keluarga Hikmat, kan?”
“Iya.. kok bapak tau?”
“Kamu juga pegang-pegang saya waktu pernikahan Aqeel kalau kamu lupa.”
“Oh iya, hehehe.. pinjem tangannya bentaran aja, pak. Anggap aja amal.”
Mata Stella kembali melihat ke sekeliling, sosok pria tadi sudah tidak ada lagi. Sesampainya di lantai dasar, pintu lift terbuka. Stella segera melepaskan pegangannya, setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu segera keluar dari lift sambil berlari.
“Dasar gadis aneh,” gumam Tamar.
“Tapi cantik, capt.”
“Cantik tapi aneh. Mana ada cowok yang mau sama dia.”
Aji hanya mengendikkan bahunya saja mendengar ucapan Tamar. Atasannya itu memang agak susah bergaul dengan perempuan. Setahunya hanya Renata dan anggota keluarga Ramadhan yang berjenis perempuan yang dikenalnya.
“Tapi dia kaya ketakutan gitu, kaya abis lihat hantu,” celetuk Aji sambil membuka pintu mobil.
“Mana ada hantu siang-siang.”
“Ada aja, capt. Emangnya kalo hantu harus selalu malem nongolnya?”
“Mana aku tahu. Aku kan ngga berteman sama mereka,” jawab Tamar asal.
Pria itu segera naik ke belakang kemudi, kemudian menjalankan kendaraannya. Mereka harus segera menuju rumah sakit untuk melihat jalannya autopsi dari jenazah yang ditemukan tadi.
🍁🍁🍁
CIIITTTT
Stella menekan pedal rem dalam-dalam ketika matanya menangkap sosok pria yang dilihatnya tadi di apartemen Gita duduk di jok belakang. Wajah gadis itu masih terbenam ke stir mobil. Dengan takut-takut dia menolehkan kepalanya ke belakang. Dia bisa bernafas lega saat tak menemui sosok itu lagi. Stella memutar kembali kepalanya ke arah depan.
“Astaghfirullahaladziim!!”
Terdengar suara kencang Stella ketika melihat pria tadi sudah duduk di jok depan, tepat di sebelahnya. Gadis itu memejamkan matanya sambil membaca doa-doa yang diketahuinya kemudian membuka matanya lagi. Melihat pria itu sudah tidak ada, Stella kembali menjalankan kendaraannya menuju rumah.
“Assalamua’alaikum..”
“Waalaikumsalam.”
Keadaan rumah nampak sepi ketika Stella masuk. Hanya asisten rumah tangganya saja yang menjawab salamnya. Dia segera menghampiri bi Juju, asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama 15 tahun pada keluarganya.
“Bi… yang lain pada kemana?”
“Eyang kakung sama eyang putri lagi ke rumah grandpa. Ibu ke kantor, mau ketemu bapak katanya. Dipa belum pulang kuliah.”
“Oh…”
Dengan langkah gontai Stella naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Dia hanya bisa berharap, pria tadi tidak mengikutinya lagi. Setelah menaruh tas di atas meja, Stella menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Sejak bangun dari koma pasca kecelakaan, dia terus saja didatangi makhluk astral.
“Haaiisshh.. kenapa hidup gue jadi gini. Kenapa para hantu jadi suka ngikutin gue.”
__ADS_1
Stella menggerak-gerakkan tubuhnya tak tentu arah. Selain takut, dia juga kesal karena kerap diganggu makhluk astral tersebut. Gadis itu bangun dari tidurnya kemudian duduk bersandar ke headboard ranjang.
“Hai.. Stel..”
“Astaghfirullah!!”
Gadis itu kembali terlonjak, ketika pria tadi masih mengikutinya. Bahkan dia sudah menegur sambil memanggil namanya. Dengan tangan masih berada di depan dada, Stella memandangi pria yang tengah berdiri di dekat ranjangnya.
Tenang, Stel.. lo harus berani. Kalo lo takut, yang ada mereka tambah seneng ngerjain elo. Itu kata eyang, jadi lo harus berani, harus..
“Stel..” panggil pria misterius itu lagi.
“Lo tau nama gue dari mana?”
“Kan tadi aku dengar teman kamu manggil Stel.. nama kamu siapa? Pastel?”
“Sembarang.. nama gue Stella.. bukan pastel,” gerutu Stella, tapi hantu pria itu malah tertawa.
“Lo ngapain sih ngikutin gue terus? Kenal juga ngga, ngga usah sok akrab deh. Gue ngga demen temenan ama hantu.”
“Aku hantu laki-laki yang meninggal di unit apartemen tadi.”
Mata Stella terus memandangi laki-laki di hadapannya. Sebenarnya penampakan hantu tersebut tidak seram, hanya wajahnya saja yang pucat. Tidak ada darah atau muka rusak yang membuat bulu kuduk berdiri. Namun tetap saja, judulnya masih makhluk astral dan itu menakutkan bagi Stella.
“Tolong aku..”
“Tolong apa?”
“Aku.. ngga mati bunuh diri.”
“Eh dengar ya, lo itu bukan hantu arwah penasaran laki-laki yang mati tadi. Orang yang udah mati sibuk jawab pertanyaan malaikat Munkar, Nakir, bukan kelayapan gangguin orang. Lo itu jin yang nungguin unit apartemen dia kan?”
“Kok tau? Hehehe.. cerdas juga lo.”
“Ngga usah nyengir!”
Stella menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa sekarang dia jadi ngobrol dengan mahkluk tersebut. Jin berpenampilan pria itu mendekat pada Stella, refleks gadis itu beringsut mundur.
“Tolong aku.. Ferdi, laki-laki yang mati di unit apartemen tadi ngga mati bunuh diri atau over dosis, tapi dia dibunuh.”
“Kok lo tau?”
“Aku setiap hari ada di sana. Aku juga suka ngikutin dia terus kemana-mana.”
“Buset, jadi stalker. Lo naksir dia?”
“Iya.”
“Hah?? Ya ampun baru tau gue ada jin homo.”
“Aku bukan homo. Aku ini jin perempuan.”
“Ya maaf, kan elo penampakannya laki. Nama lo siapa?”
“Malika.”
“Bhuahaha.. Malika, kaya kacang kedelai hahaha… ups.. sorry, peace hehehe..”
Stella langsung mengangkat dua jarinya ketika melihat jin di hadapannya melihat dengan pandangan marah.
“Tolong aku..”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
Wujud Ferdi yang diambil jin wanita itu segera berubah menjadi wujud lain yang penampakannya jauh lebih mengerikan. Stella langsung menutup wajah dengan kedua tangan. Menyesal meminta jin tersebut menunjukkan rupa aslinya.
“Ganti.. ganti.. sumpah muka lo serem banget.”
“Kamu mau ganti siapa?”
“Siapa aja asal masih hidup. Cewek tapi ya, kan elo cewek,” jawab Stella masih menutup wajahnya.
Rupa jin wanita yang menyeramkan itu kembali berubah. Stella yang mengintip dari sela-sela jarinya, sontak langsung melepaskan tangan dari wajahnya. Dia hanya melongo melihat penampakan di depannya.
“Mau yang ini? Atau ini?”
Penampakan jin berubah-rubah, namun hanya wajah dan rambutnya saja yang berubah, sedang penampilannya masih sama. Dia berwujud menjadi wanita seksi dengan bodi aduhai, mengenakan high heels dan bikini two pieces.
“Buset, seksi banget. Lo mau godain siapa? Gue masih normal, doyan ama laki.”
“Aku ngga tau harus meniru siapa. Ini yang sering aku lihat dari film yang ditonton Ferdi.”
Seketika tawa Stella terdengar. Rupanya si Ferdi senang sekali melihat film dewasa. Wajar saja kalau Malika akhirnya meniru penampilan aktris film panas tersebut. Setelah tawanya berhenti, Stella kembali mengajukan permintaan.
“Jangan yang begitulah. Gimana kalau kamu tiru Bae Suzy aja, dia kan cantik. Ok?”
“Bae Suzy siapa?”
“Sumpah lo ngga tau Bae Suzy? Dia itu artis terkenal Korea, mantannya Lee Min Ho sama Lee Dong Wook.”
Malika hanya terdiam mendengar perkataan Stella. Dia sama sekali belum pernah mendengar nama-nama yang disebutkan oleh gadis tersebut. Melihat Malika nampak bingung, Stella seperti menemukan celah untuk menghindari jin wanita di depannya.
“Lo cari tau deh siapa Bae Suzy. Kalo lo udah bisa niru penampilannya, baru lo dateng lagi ke gue. Gue janji deh bakal nolongin elo.”
“Aku harus cari tahu di mana?”
“Terserah. Lo tanya aja mbah gugel atau ke Korea dulu sono.”
“Siapa mbah gugel?”
“Mbah gugel itu orang pinter. Dia bisa jawab pertanyaan apa aja. Tapi dia belum pinter-pinter amat sih, gue kadang masih suka nyasar kalo nanya jalan ke dia.”
“Ok.. aku cari mbah gugel dulu.”
Tubuh Malika langsung menghilang. Stella celingukan mencari sosok tersebut. Namun akhirnya dia bisa bernafas dengan lega berhasil mengusir Malika pergi. Setidaknya untuk sementara dia bisa terlepas dari jin wanita bucin itu. Nanti dia akan meminta Dipa untuk terus menemaninya.
🍁🍁🍁
“Please ya, Dip, lo temenin gue tidur. Nanti si Malika dateng lagi kalo udah berubah jadi Bae Suzy,” Stella terus merengek pada sang adik.
__ADS_1
“Malika siapa?”
“Jadi gini..”
Dengan serius Dipa mendengarkan Stella bercerita tentang siapa itu Malika. Jin perempuan yang bucin pada Ferdi, dan meminta tolong untuk mengusut kematian Ferdi karena tidak terima disebut bunuh diri. Dipa hanya melongo saja mendengarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Buset, lo sekarang berteman ama jin?”
“Ish mana ada. Dia mulu yang ngintil sama gue. Ya udah gue ajak ngobrol aja.”
“Bhuahahaha… kakak gue bener-bener emejing. Kenapa lo ngga sekalian nanya nomer togel, hahaha…”
“Togel mulu di kepala lo. Ditanya Bae Suzy aja ngga tau, dia jin dongo kayanya. Mana tau dia nomer togel yang keluar, hahaha…”
Stella tak bisa menahan tawanya membayangkan wajah bingung Malika saat dirinya meminta jin wanita itu mengambil perwujudan Bae Suzy. Sepertinya jin itu sedang berkeliling Indonesia mencari keberadaan mbah gugel.
“Jadi ya, lo tidur sama gue. Nanti gue tambahin uang jajan lo, deh. Gue abis dapet honor dari mama Azra.”
“Ok, sip.”
Dipa membereskan buku-bukunya, kemudian pria itu keluar dari kamarnya bersama dengan Stella. Pemuda itu langsung naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya. Stella melihat-lihat keadaan kamarnya. Setelah yakin kalau Malika tidak ada, dia pun membaringkan tubuhnya di samping Dipa.
🍁🍁🍁
Usai mendaftar untuk kuliah S2-nya, Stella berjalan keluar dari gedung pasca sarjana. Langkahnya terhenti ketika melihat artis Korea, Bae Suzy berdiri di hadapannya. Gadis itu melongo saja melihat wanita cantik di depannya. Perlahan sosok Bae Suzy itu berjalan mendekatinya.
“Ini kan Bae Suzy?” tanya Malika.
“I.. iya. Hehehe.. Suzy jaman muda yeee..”
“Aku ambil dari film dia, Dream High.”
“Hahaha… pantes.”
Stella langsung menutup mulutnya saat menyadari orang-orang yang melintasinya melihat padanya dengan pandangan aneh. Dia segera menuju tempat yang sepi untuk melanjutkan percakapan bersama dengan Malika.
“Jadi.. kamu mau bantu aku, kan?”
“Aku harus gimana?”
“Datangi polisi yang menangani kasusnya terus bilang kalau dia dibunuh.”
“Kan harus ada buktinya.”
“Aku tau buktinya.”
“Ya udah deh, udah kadung janji juga. Tapi kalo kasusnya udah beres, lo jangan ganggu gue lagi ya.”
“Iya.”
Mau tak mau Stella harus mengabulkan keinginan Suzy alias Malika. Semoga saja kasus Ferdi segera terpecahkan, jadi dia tidak akan diikuti lagi oleh jin wanita itu. Stella masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukannya menuju kantor bareskrim.
Sejenak Stella masih duduk di belakang kemudinya, melihat lalu lalang petugas polisi di depannya. Dia masih bingung harus menghadap siapa. Kemudian matanya menangkap Aji yang hendak masuk ke dalam kantor bareskrim. Dengan cepat, dia turun lalu menghampiri Aji.
“Siang, pak.”
“Siang. Eh kamu perempuan yang waktu itu kan?”
“Iya, pakpol. Boleh saya ketemu sama atasannya ngga?”
“Kapten Tamar?”
“Iya.”
“Ada apa?”
“Ada info penting soal kasus yang di unit apartemen itu. Kasusnya belum ditutup kan?”
“Sudah selesai diselidiki, itu over dosis. Tinggal laporannya aja.”
“Jangan dulu. Itu bukan kasus over dosis. Itu kasus pembunuhan.”
“Heh.. jangan ngomong sembarangan kamu. Bisa-bisa nanti kamu terkena tuntutan dari pihak keluarga.”
“Saya mau ketemu kaptennya dulu. Nanti saya ceritain semuanya.”
Melihat wajah Stella yang nampak begitu yakin dengan ucapannya, akhirnya Aji membawa Stella bertemu dengan Tamar. Setelah berbicara sebentar dengan Tamar, dia membawa Stella ke sebuah ruangan. Aji menutup pintu ruangan kemudian menyusul Stella dan Tamar yang sudah duduk berhadapan.
“Ceritakan apa yang kamu tahu,” ujar Tamar.
Dengan cepat Stella menceritak kronologi pembunuhan Ferdi menurut versi Suzy, tentu saja Suzy berada di samping Stella. Dia mengatakan semua dan Stella menceritakannya pada Tamar.
“Jadi begitu ceritanya pak.”
“Siapa yang bilang sama kamu?”
“Saksi pembunuhan pastinya.”
“Siapa? Ayo bawa kami bertemu dengannya.”
“Dia udah ada di sini, pak.”
“Di mana?”
“Nih…”
Stella menunjuk ruang kosong di sebelahnya. Tamar dan Aji hanya saling berpandangan saja, karena tak melihat siapa pun di samping Stella.
“Kamu jangan bercanda, ya,” kesal Tamar.
“Saya ngga bercanda, pak. Saksinya itu Suzy alias Malika, jin penunggu unit apartemen Ferdi.”
“APA??!!”
🍁🍁🍁
**Kalau kalian jadi Tamar, gimana reaksi kalian kalau saksi kasus pembunuhan ternyata makhluk astral🤣
Kita tinggalin bentar Arsy sama Irzal yg lagi siap² ketemu penghulu. Kita tengok Stella dulu ya😉
__ADS_1
Yang masih bingung dengan kategori TEEN. Itu kategori untuk novel yg pemerannya masih kinyis² model anak SMA gitu. Makanya aku herman kenapa Hate is Love masuk kategori itu. Tau² dpt notif dari neneng entuuunn. Disangkanya Irzal itu ketos dan Arsy anggota PMR kali🤣
Aku udah tambah dicover klo novel ini mengandung adegan dewasa. Entah berhasil atau ngga. Neneng entuuun kan suka pinter soalnya🤣**