
Seorang pria memasuki IGD sambil memegangi perutnya. Salah satu suster langsung mengarahkan pria tersebut ke blankar. Daffa yang tengah bertugas langsung mengambil stetoskopnya dan masuk ke dalam bilik pemeriksaan.
“Bagian mana yang sakit, pak?” tanya Daffa.
“Perut saya, dok. Kembung rasanya, sudah beberapa hari susah buang angin.”
Daffa mengetuk-getuk perut pasien pria tersebut. Terdengar bunyi dari dalam ketika perutnya diketuk, tanda banyak gas di dalamnya. Daffa keluar dari bilik tersebut, dia ingin meminta suster membawakan mesin USG. Tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat nama sang pemanggil, pria itu segera menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum.”
“Walaikumsalam. Daf.. tolong tangani pasien bapak yang ngeluh sakit di bagian perutnya.”
“Yang susah buang angin?”
“Iya. Aku sengaja kirim pasien itu ke sana, buat kasih pengalaman pada dokter magang.”
“Ok, bang.”
Panggilan pun segera berakhir. Senyum tersungging di wajah pria itu. Daffa memanggil Titian dan meminta wanita itu untuk menangangi pasien pria tersebut. Seorang suster datang membawakan mesin USG. Titian segera masuk ke dalam bilik pemeriksaan, Daffa juga ikut masuk untuk mengawasi.
Titian mengoleskan gel di perut sang pasien, dia menggerakkan probe. Daffa terus mengawasi apa yang dilakukan oleh pasien tersebut. Titian terus memperhatikan layar untuk mencari tahu apa penyebab sang pria tidak bisa buang angin.
“Bapak kapan terakhir buang air besar?” tanya Titian.
“Ehmm.. kira-kira seminggu yang lalu. Perut mulas tapi kotoran ngga mau keluar. Aduh tolong dok, perut saya sakit.”
“Apa penyebabnya?” tanya Daffa pada Titian.
“Sembelit, dok.”
“Lalu tindakannya?”
“Saya akan memberi obat untuk melancarkan pasien buang angin.”
“Bagus. Tangani dengan baik.”
“Baik, dok.”
Daffa segera keluar dari bilik pemeriksaan. Titian meminta suster untuk menyiapkan obat yang harus diminum oleh pasien tersebut. Sang pasien masih berbaring sambil memegangi perutnya.
“Bapak jaga asupan makanannya ya. Banyak makan kavang-kacangan dan buah-buahan. Apel, pir atau apricot bagus. kacang kedelai atau kacang polong bisa juga.”
“Iya, dok.”
Suster yang membantu Titian datang membawakan obat dan air putih. Titian segera meminta sang pasien untuk meminum obat tersebut. Pria tersebut bangun dari posisinya, kemudian meminum obatnya.
“Coba nungging, pak. Posisi itu bagus buat bantu buang angin. Saya tinggal dulu, ya.”
Tanpa banyak berpikir, pasien pria itu segera memposisikan dirinya nungging. Perutnya masih terasa sakit. Titian menuliskan laporan tentang pasien yang tadi diperiksanya. Dia juga memberikan resep untuk pria itu. Selesai menulis laporan, wanita itu kembali ke bilik pemeriksaan. Baru saja masuk, tiba-tiba terdegar bunyi dentuman disusul bau gas yang sungguh memabukkan.
DUUUTT
PPSSSTTTTT
Titian tentu saja terkejut mendapat serangan mendadak. Gas beracun tersebut langsung terhisap olehnya. Refleks dia menggerakkan tangannya lalu keluar dari bilik untuk menghirup udara segar. Cukup lama dia berada di luar dan baru kembali masuk setelah memastikan kondisi bilik aman.
“Bapak sudah boleh pulang. Saya sudah menyiapkan obat untuk bapak,” ujar Titian sambil menutup hidungnya. Ternyata gas masih berputar di dalam bilik.
“Makasih, dok. Maaf kalau bau, hehehe…”
Bergegas Titian keluar, wanita itu menuju pintu keluar IGD lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk sirkulasi udara yang tadi dihirupnya. Pasien pria itu keluar sambil memegangi perutnya yang sudah terasa lega. Dia segera melunasi biaya perawatan dan mengambil obat yang disiapkan untuknya.
Titian mendaratkan bokongnya di kursi tunggu yang ada di IGD. Suster yang tadi bertugas dengannya tak bisa menahan tawa melihat dokter magang itu habis mendapat serangan bom dari pasiennya. Daffa yang mengetahui hal tersebut hanya mengulum senyum saja. Arsy yang penasaran bertanya pada dokter residen tersebut. Wanita itu tak bisa menahan tawanya mendengar keseluruhan cerita.
Di saat bersamaan, seorang pasien wanita datang. Dengan langkah tertatih dia masuk ke dalam IGD. Seorang suster membantunya menuju blankar. Daffa segera masuk ke bilik pemeriksaan di mana wanita itu masuk. Dia memanggil Astrid untuk membantunya.
“Apa yang dirasakan?” tanya Daffa.
“Tolong, dok. Saya tadi jatuh dari motor. Sepertinya ada yang salah dengan bahu saya.”
Daffa memeriksa keadaan pasien tersebut. Ternyata dia mengalami diskolasi tulang selangka. Dokter residen itu juga memeriksa bagian lain di tubuh pasien tersebut. Ada luka memar dan lecet di tangan dan kakinya.
“Astrid, kamu obati luka-lukanya. Saya akan membenarkan letak tulangnya.”
Astrid mengambil obat-obatan dan cairan untuk membersihkan luka. Dia kembali masuk dan mengobati lengan kanan pasien yang terdapat luka lecet. Daffa bersiap untuk membenarkan posisi tulang selangka sebelah kiri pasien. Dirabanya bagian yang mengalami dislokasi, kemudian dengan satu gerakan dia mengembalikan tulang ke posisi semula.
“Aaaaarrrgghhhh!!”
“Aaaaa..”
Terdengar teriakan kencang wanita itu, disusul oleh teriakan Astrid. Karena merasakan sakit, dia menjambak dengan keras rambut Astrid sampai kepala wanita itu tertarik mengikuti arah tangan pasien wanita tersebut. Daffa berusaha menahan senyumnya melihat Astrid yang mengusap kepalanya yang terasa sakit.
“Lanjutkan pengobatannya. Jangan lupa dibebat tulang selangka yang tadi dibenarkan,” titah Daffa.
“Iya, dok,” jawab Astrid sambil mengusap kepalanya.
__ADS_1
Astrid melanjutkan pengobatannya. Tanpa sengaja dia menyentuh luka lebam sang pasien dan kembali menimbulkan reaksi wanita itu. Refleks dia menepuk dengan kencang lengan Astrid sampai dokter magang itu meringis kesakitan.
“Aduh, sakit! kamu bisa kerja ngga sih?”
“Maaf.. maaf..”
Beberapa kali wanita itu meringis menahan sakit saat Astrid mengobati lukanya. Dan selalu Astrid yang menjadi sasaran untuk melampiaskan rasa sakitnya. Setelah mengobati luka dan memasang pembebat, tugas Astrid selesai. Wanita itu keluar dari bilik dengan rambut acak-acakkan. Dengan tatapan kosong dia duduk di samping Titian.
“Kenapa? Kok acak-acakan gitu?”
“Pasiennya bar-bar.”
“Aku juga tadi abis dikentutin pasien.”
“Apes bener kita.”
Dari meja perawat, Daffa, Dante dan Arsy juga beberapa suster terkikik geli melihat kedua dokter magang tersebut. Tawa Arsy semakin menjadi ketika mendengar cerita Daffa kalau dua pasien tersebut sengaja dikirimkan Irzal berobat ke sini untuk mengerjai Astrid dan Titian. Rupanya sang suami masih belum puas hanya memberikan semprotan saja kemarin.
“Sayang..”
Arsy menolehkan kepalanya ketika mendengar suara sang suami memanggilnya. Irzal berjalan mendekat dengan membawa kantong berisi kotak makanan. Dia meletakkan kantong tersebut di atas meja. Pria itu sengaja memesan makanan untuk staf IGD dari restoran Premium.
“Buat makan siang kalian.”
“Makasih, pak Irzal,” ujar para suster yang ada di sana.
“Gimana pasien kirimanku?”
“Sip.. udah beres. Lihat aja tuh cewek lagi pada shock, hahaha..”
“Sayang, makan yuk.”
“Ayo.”
“Daf, Arsy gue culik dulu, ya.”
“Ok, bang.”
“Aku ganti baju dulu.”
Dengan cepat Arsy menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Astrid dan Titian hanya bisa melihat Arsy tanpa melakukan apapun. Apalagi ada Irzal yang melihat ke arah mereka dengan tatapan tajam. Tak lama kemudian Arsy kembali, Irzal segera membawa sang istri keluar dari IGD. Tangannya memeluk erat pinggang Arsy.
Sepeninggal Irzal, Daffa mengambil kotak makanan yang dibawa oleh Irzal lalu membawanya ke ruang istirahat, bersama dengan Dante. Suster Mira mengambil dua kotak makan siang lalu membawanya pada Astrid dan Titian.
“Ini ada titipan dari pak Irzal buat semua staf IGD.”
“Iya. Dia itu aslinya baik banget, sama kaya dokter Arsy. Tapi kalau sama orang yang suka julid dan nyinyir, beuh buas banget.”
Astrid dan Titian hanya mampu meneguk ludahnya kelat. Mereka mengambil kotak makanan yang diberikan suster Mira, lalu menuju ruang istirahat. Siang ini IGD tidak kedatangan banyak pasien. Mereka bisa menikmati waktu istirahat sambil mengisi perut dengan tenang.
🍁🍁🍁
Daffa bergegas menuju ruangan Reyhan ketika sang ayah memanggilnya. Bukan hanya Daffa, tapi Dante dan beberapa dokter residen yang bertugas di IGD juga ikut dipanggil. Sesampainya di ruangan Reyhan, di sana sudah ada dokter Fabian, dokter Krishna, dokter Rizky dan seorang dokter muda yang berwajah lumayan tampan.
“Silahkan duduk,” pinta Reyhan.
Daffa dan yang lainnya segera duduk di kursi yang tersisa. Reyhan bangun dari kursi kerjanya lalu mendekati dokter muda yang wajahnya terlihat asing. Reyhan menepuk bahu dokter muda tersebut.
“Kenalkan, ini dokter baru yang bergabung dengan kita. Namanya dokter Ansel, dia dokter spesialis kegawatdaruratan dan spesialis bedah umum. Dokter Ansel akan langsung bergabung mulai besok di IGD untuk membantu kalian.”
Dokter muda bernama Ansel tersebut hanya melemparkan senyum tipis pada Daffa dan yang lainnya. Reyhan kembali menjelaskan kalau Ansel adalah dokter lulusan Cambridge University. Universitas tersebut memiliki fakultas kedokteran dan salah satu yang terbaik di negeri Ratu Elizabeth tersebut.
“Saya harap dokter bisa bekerja sama dengan rekan lainnya. Dan menjadikan IGD Ibnu Sina menjadi trauma center terbaik di Indonesia.”
“Saya akan berusaha sebaik mungkin.”
“Baiklah. Silahkan kembali ke tempat kalian.”
Semua yang berada di dalam ruangan segera pamit mundur. Dokter Ansel meminta dokter Fabian untuk menemaninya melihat-lihat keadaan IGD. Dokter ramah itu menyetujui permintaan Ansel. Keduanya keluar dari ruangan dan segera menuju IGD.
Satu per satu para dokter meninggalkan ruangan Reyhan, kecuali Daffa. Dia senang sekaligus tak nyaman melihat sikap dokter baru tersebut. Mungkin karena lulusan luar negeri, dia merasa kalau Ansel sedikit arogan.
“Dia benar lulusan Cambridge University?”
“Iya, kenapa?”
“Ngga apa-apa, pa. Cuma kok kaya arogan gitu ya.”
“Hemm.. sayangnya dia memang sedikit arogan. Teman papa yang merekomendasikannya bekerja di sini juga mengatakan itu. Dia tidak mau dibantah dan keras kepala. Tapi di luar semua itu, dia dokter yang kompeten. Kamu akan banyak belajar darinya.”
“Iya, pa.”
“Bagaimana Arsy?”
“Baik, pa. Dia sudah bisa bekerja seperti biasa.”
__ADS_1
“Bagus. kamu harus kembali ke IGD sekarang.”
“Iya, pa.”
Daffa bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan. Perasaan pria itu mengatakan tidak akan mudah bekerja di bawah Arsen. Selain mempunyai kemampuan yang baik, dia arogan dan sedikit perfeksionis. Sepertinya dia harus menyiapkan stok sabar lebih banyak lagi berhadapan dengan dokter tersebut.
Sesampainya di IGD, nampak dokter Fabian tengah mengenalkan Ansel pada semua yang ada di sana. Dia juga menjelaskan kalau mulai besok Ansel akan bertugas di IGD. Semua dokter magang dan dokter residen harus melapor pada pria itu sebelum pada dokter Fabian.
“Saya sudah tidak sabar untuk bekerja sama dengan kalian. Saya harap keadaan di sini sesuai ekspektasi saya. Dan kemampuan kalian memang benar-benar bisa diandalkan.”
Satu per satu Ansel menyalami semua yang ada di IGD. Ketika pria itu berhadapan dengan Arsy, wanita itu hanya menangkupkan kedua tangannya sambil menyebutkan namanya. Kening Ansel nampak berkerut, namun kemudian dia melakukan hal sama. Setelah berkenalan, semua staf IGD membubarkan diri. Ansel langsung mengejar Arsy.
“Arsy.. namamu Arsy, kan?”
“Iya, dok.”
“Kenapa kamu tidak mau bersalaman denganku?”
“Oh.. itu karena kita bukan mahrom, maaf.”
“Lalu bagaimana kamu menangani pasien pria?”
“Saya akan melakukan seperti dokter pada umumnya.”
“Kenapa ada perbedaan perlakuan?”
“Ketika saya bertugas sebagai dokter, maka saya bebas menyentuh pasien untuk mengecek keadaannya. Tapi berbeda dalam situasi seperti ini. Untuk hubungan personal, pada lawan jenis lebih baik menghindari sentuhan.”
“Kenapa?”
“Seperti yang tadi saya bilang, bukan mahrom. Lagi pula saya sudah menikah. Tidak baik bersentuhan dengan lelaki yang bukan suami saya. Masih ada yang ingin ditanyakan, dok?’
“Tidak.”
“Ok, kalau begitu saya pergi dulu.”
Ansel hanya terpaku di tempatnya, memandagi Arsy yang pergi meninggalkan dirinya. Menurutnya Arsy adalah seorang yang menarik. Dia sudah tidak sabar bekerja sama dengan wanita itu. Daffa terus memperhatikan Ansel. Pria itu terganggu dengan cara Ansel melihat Arsy.
🍁🍁🍁
Geya turun dari ojek online yang ditumpanginya. Hari ini adalah hari pertamanya magang di rumah sakit. Gadis itu terlihat sangat senang, dia akhirnya bisa melakukan kuliah kerja nyata di tempat pujaan hatinya bekerja. Geya menuju bagian pusat informasi dan menanyakan di mana bagian humas berada.
“Bagian humas ada di lantai dasar. Adek jalan terus setelah melewati administrasi center, nanti ada pintu bertuliskan office, masuk aja. Semua divisi di rumah sakit ini ada di sana.”
“Makasih, bu.”
Dengan langkah riang Geya segera mengikuti petunjuk bagian informasi tadi. Akhirnya dia menemukan pintu bertuliskan OFFICE di bagian depannya. Geya membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. Kesibukan nampak di dalam ruangan. Ternyata di balik pintu terdapat ruangan yang besar. Ada beberapa bagian yang terhalang sekat dan pintu kaca. Geya berhenti di depan pintu dengan tulisan DIVISI HUMAS. Setelah mengetuk pintu, Geya masuk ke dalam.
“Pagi,” sapa Geya pada semua orang yang ada di sana.
“Pagi. Ada yang bisa dibantu?” tanya salah satu karyawan.
“Saya Geya Kirania, yang akan magang di divisi humas.”
“Oh anak magang. Mari ke ruangan bu Ranti dulu.”
Geya menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah karyawan wanita tersebut. Dia berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu dan sekat terbuat dari kaca. Setelah mengetuk pintu, dia mengajak Geya masuk ke dalam ruangan.
“Pagi, bu. Ini Geya, yang akan magang di sini.”
“Silahkan duduk.”
Dengan cepat Geya duduk di depan meja kerja seorang wanita berusia empat puluhan. Karyawan yang tadi mengantarnya segera keluar dari ruangan. Wanita bernama Ranti itu mulai menjelaskan apa saja yang harus Geya lakukan selagi menjadi pegawai magang di rumah sakit ini selama dua bulan. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Apa kamu sudah mengerti?”
“Sudah, bu.”
“Ok. Sekarang kamu ikut saya.”
Ranti bangun dari duduknya kemudian keluar dari ruangan diikuti oleh Geya. Dia memanggil karyawan yang tadi mengantar Geya dan anak magang yang sudah lebih dulu tiba. Dia meminta karyawan tersebut mengajak Geya dan anak magang satunya untuk melihat-lihat keadaan rumah sakit. Kedua gadis itu segera mengikuti sang karyawan wanita.
Karyawan bernama Tiwi itu menerangkan bagian-bagian yang ada di rumah sakit. Dia juga mengajak Geya dan Lara menaiki setiap lantai, supaya keduanya tahu apa yang terdapat di lantai yang ada di rumah sakit ini. Selesai mengunjungi semua lantai, Tiwi mengajak dua anak magangnya menuju IGD.
Baru saja ketiganya keluar dari lift, tanpa sengaja Geya menabrak seorang dokter, hingga rekam medis yang ada di tangannya terjatuh. Tentu saja dokter pria itu merasa kesal. Baru saja dia akan memaki Geya, namun ucapannya tertahan ketika melihat wajah cantik gadis itu.
“Maaf, dok. Saya tidak sengaja. Maaf, ya.”
Geya mengambilkan rekam medis yang terjatuh lalu memberikannya pada dokter yang ditabraknya tadi. Untuk sesaat dokter itu hanya memandangi Geya tanpa berkedip. Tiwi yang merasa tidak enak, ikut meminta maaf.
“Maafkan kami, dok,” ujar Tiwi.
“Siapa namamu?” dokter tersebut melihat pada Geya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Siapa yang ditabrak Geya ya🤔
Bonchap NR, In Syaa Allah besok launching ya🤗**