
“Adaaww.. adduuhh..”
Terdengar ringisan Stella ketika telinganya dijewer dan kepalanya terkena jitakan. Sang pelaku adalah eyang tersayangnya. Sejak Stella menuruni panggung sambil bernyanyi, pria itu sudah sangat gemas pada cucunya itu. Bisa-bisanya Stella malah menggenggam tangan Aidan bukan tangan Tamar.
“Kamu itu sudah mempermalukan Tamar, tau ngga?”
“Biarin aja.”
“Tamar itu calon suamimu. Kenapa kamu malah gandeng Aidan?”
“Bang Tamarnya juga ngga mau nikah sama aku. Malah dia bilang aku suruh banyak-banyak doa biar pernikahan batal. Aku juga punya harga diri, eyang. Disangkanya aku yang ngebet mau nikah sama dia. Emangnya dia aja yang ngga setuju? Aku juga ngga.”
“Pernikahan ini terjadi karena kamu sudah mengaku-ngaku jadi calon istrinya Tamar dan terdengar ke pihak keluarganya. Makanya kalau mau melakukan sesuatu dipikir dulu. Kamu sudah menjadi calon istrinya Tamar, kamu bukan hanya membawa nama sendiri, tapi ada nama keluarga di belakangmu. Paham?”
Cairan bening di kedua mata Stella mengembang setelah mendengar penuturan panjang lebar Cakra. Gadis itu tidak terima disalahkan begitu saja oleh sang eyang. Memang dirinya yang pertama kali mencetuskan soal calon istri. Tapi dia tidak tahu masalah itu bisa berkembang jadi rumit seperti ini.
Stella sendiri tidak keberatan kalau harus menikah karena dijodohkan. Melihat Arsy yang hidup bahagia, membuat gadis itu yakin kalau keluarganya pasti akan memberikan orang yang tepat sebagai jodohnya. Namun sikap arogan Tamar yang membuatnya kesal, hingga melakukan hal konyol seperti tadi.
Sambil menahan tangis, Stella keluar dari ballroom. Sekar segera menenangkan suaminya yang masih kesal dengan sikap cucunya. Dia membawa Cakra duduk dan memberinya minum untuk menenangkannya.
Sementara itu di mejanya, Tamar terus mendapatkan ledekan dari teman-temannya. Aidan sedari tadi tak berhenti meledek pria itu. Apalagi tangannya yang sedari tadi terus dipegangi oleh Stella. Belum lagi tatapan gadis itu hanya tertuju padanya sejak awal menyanyi.
“Gini aja deh. Kalau elo emang ngga mau nikah sama Stella, biar buat gue. Tar gue yang ngomong sama keluarga lo sama Stella, gimana?” cetus Aidan. Pria itu sebisa mungkin menahan tawanya melihat wajah Tamar yang sudah memerah menahan amarah.
“Kalau kata gue sih wajar Stella kaya gitu. Mungkin aja dia balas dendam. Bang Tamar kan sama dia ngga ada manis-manisnya. Pasti tuh cewek empet banget ama abang. Makanya abang ngga usah sok-sok nolak, jalani aja bang. Stella tuh cantik, baik dan dia kuat sama sikap jutek abang. Kurang apalagi coba? Keluarganya juga keluarga terpandang. Dari pada nyesel dia diembat orang, mending kejar dia, minta maaf. Tadi aku dengar dia sempat dimarahin sama eyangnya, kasihan kan. Padahal awalnya yang salah abang, loh.”
“Kenapa jadi nyalahin gue? Dia yang awalnya ngaku-ngaku jadi calon istri gue, sampe atasan gue bilang ke orang tua gue,” sengit Tamar yang tak mau disalahkan oleh Daffa.
“Kan abang bisa klarifikasi, ini malah diem aja. Ibaratnya Stella lempar bola, abang yang nendang. Sikap diam abang itu yang membuat bola panas jadi liar ke sana kemari.”
Tamar hanya terdiam saja mendengar ucapan Daffa. Apa yang dikatakan pria itu memang benar. Masalah ini menjadi berkembang seperti ini karena sikap diamnya yang membiarkan saja rekan-rekan kerja juga atasannya mempercayai apa yang dikatakan oleh Stella.
Pria itu bangun dari duduknya, kemudian berjalan keluar dari ballroom. Dia perlu mencari udara segar untuk menenangkan perasaannya. Tamar berjalan keluar dari gedung Infinity Corp, menuju taman kecil yang ada di sisi kanan gedung. Dia mendudukkan diri di kursi taman sambil membakar sebatang rokok.
Saat sedang menikmati rokoknya, sayup-sayup dia mendengar suara wanita tengah berbincang. Dan pria itu hafal dengan suara yang didengarnya. Tamar bangun dari duduknya, kemudian berjalan menuju arah suara. Beberapa meter di depannya, dia melihat Stella tengah berbincang sendirian. Pasti gadis itu sedang berbicara dengan Suzy.
“Gimana satpam gebetan lo?” tanya Stella pada Suzy. Saat gadis itu keluar untuk menghindari Cakra, Suzy datang dan mengajaknya ngobrol di taman.
“Ya gitu deh. Yang penting gue bisa lihat dan dekat-dekat sama dia udah cukup kok. Lo sendiri kenapa nangis?”
“Gue habis dimarahin eyang. Gara-gara tadi nyanyi malah megang tangan bang Aidan bukannya bang Tamar.”
“Lagian salah lo juga. Calon suaminya siapa, yang dipegang siapa.”
“Gue gedeg aja sama dia. Emang sih semua salah gue waktu ngaku jadi calon istri dia, tapi kan dia tinggal bilang bukan ke teman sama atasannya. Ini dibiarin aja, seolah-olah mengiyakan. Setelah kaya gini dia nyalahin gue. Kesannya gue ngejar-ngejar dia dan ngga punya harga diri.”
Suzy menundukkan kepalanya saat Stella mengeluarkan keluh kesahnya. Bukannya ikutan sedih atau terharu, tapi jin wanita itu berusaha menahan tawa yang hendak keluar. Menyadari hal itu, karuan saja membuat Stella bertambah kesal.
“Lo jadi jin kaga ada empatinya. Gue lagi sedih malah diketawain.”
“Sorry, Stel.. lagian emang elo suka ngejar-ngejar dia kan. Nyamperin ke kantornya, ngintilin kemana dia pergi. Ya lo ngga usah sewot.”
“Kan semua awalnya gara-gara elo!”
“Tapi kan kasus Ferdi udah beres. Lo aja yang kecanduan.”
“Eh ngga usah ngeles, lo juga kan yang waktu itu nyeret gue ke rumah Bertrand.”
“Iya, tapi sampe situ doang. Yang kasus bu Lina, gue ngga ikut-ikutan,” balas Suzy tak mau kalah.
“Haaiisshh.. udah diem. Ngobrol sama elo malah bikin darting.”
“Gue cabut ya, Stel.. gebetan gue udah sampe rumah kayanya.”
__ADS_1
“Ish..”
Tanpa menunggu persetujuan Stella, Suzy segera menghilang. Kini gadis itu hanya duduk seorang diri, ditemani semilir angin malam. Tanpa disadari, sedari tadi Tamar memperhatikan apa yang dilakukannya dan mendengar semua obrolannya dengan Suzy. Walau hanya mendengar part bicara Stella saja.
Tak terdengar lagi suara Stella berbincang, itu artinya Suzy sudah tidak bersama gadis itu lagi. Tamar pun mendekat lalu mendudukkan diri di samping calon istrinya. Stella terjengit melihat Tamar sudah berada di sampingnya.
“Udah puas ngobrolnya sama si Suzy?” tanya Tamar.
“Ish nguping.”
“Bukannya nguping, suara kamu udah kaya toa masjid. Untung yang dengar aku, coba kalau orang lain, disangka sinting kamu ngomong sendiri.”
Tak ada tanggapan dari Stella. Gadis itu hanya menyebikkan bibirnya saja. Rasa kesalnya pada pria itu masih belum hilang. Dia menghadapkan wajahnya ke samping kiri, enggan melihat wajah Tamar yang terlihat menyebalkan di matanya. Untuk sesaat suasana menjadi hening di antara mereka berdua.
“Maaf..” ujar Tamar.
“Maaf buat apa?”
“Maaf kalau kata-kataku membuatmu tersinggung. Sehabis lamaran pikiranku masih kacau jadi ngga sadar melontarkan kata-kata yang membuatmu marah. Sekali lagi aku minta maaf.”
Stella merubah posisinya yang tadinya agak membelakagi Tamar, kini menghadap ke depan. Dia menolehkan kepalanya pada pria di sampingnya. Gadis itu lumayan terkejut mendengar kata maaf keluar dari bibir pria yang kerap membuatnya naik darah.
“Kalau abang ngga setuju dengan pernikahan ini, ayo kita berjuang bersama buat ngebatalinnya. Bukan abang aja yang merasa terbebani, tapi aku juga. Aku minta maaf karena semua berasal dari sikap gegabahku. Aku ngga nyangka aja, masalahnya jadi seserius ini. Maaf karena aku, abang merasa terjebak. Bagaimana kalau abang bilang ke keluargaku menolak pernikahan kita, dan aku yang akan bilang pada keluarga abang.”
Usulan Stella sebenarnya menarik. Namun entah mengapa Tamar justru enggan melakukannnya. Saat melihat Stella bernyanyi sambil melihat Aidan, bahkan sampai menggandeng tangan sahabatnya itu, jujur saja Tamar tak suka melihatnya. Bukan karena Stella sukses mempermalukannya, tapi karena cemburu. Harusnya dia pria yang dilihat dan digenggam tangannya oleh Stella, bukan Aidan.
“Bang..”
Panggilan Stella membuyarkan lamunan Tamar. Pria itu menolehkan kepalanya, namun tak ada reaksi apapun darinya. Stella jadi bingung sendiri melihat respon Tamar. Setelah beberapa saat, akhirnya terdengar juga suara pria itu.
“Kamu sendiri bagaimana? Maksudku dengan konsep perjodohan, apa kamu menerimanya?”
“Awalnya aku ngga suka dengan konsep perjodohan. Tapi setelah melihat Arsy, mataku terbuka, kalau tidak selamanya perjodohan itu buruk. Buktinya Arsy sekarang sudah bahagia bersama bang Irzal. Aku yakin keluargaku tidak akan menjerumuskanku menjodohkan dengan orang yang salah. Itu menurutku, makanya aku diam ketika papa dan eyang meminta aku menikahi abang. Tapi kalau abang ngga nyaman dan ngga setuju, ayo kita batalkan aja. Percuma juga menikah kalau salah satu atau dua belah pihak ngga bahagia. Bukannya ibadah yang jadi pahala, malah banyak buruknya nanti.”
Tamar cukup terkesima mendengar jawaban panjang lebar Stella. Tak menyangka gadis yang biasanya bersikap semaunya, kerap membuat kepalanya pusing dan naik darah, ternyata bisa juga melontarkan kalimat bijak.
“Abang yakin?”
“Iya.”
Senyum mengembang di wajah Stella setelah melihat anggukan kepala pria itu. Sebenarnya Stella tidak membenci Tamar, selain berwajah tampan, pria itu juga bisa menjadi satpamnya. Hanya saja ucapan pria itu kerap membuat kepalanya mengeluarkan asap.
KRIUK
Stella refleks memegangi perutnya ketika terdengar suara demo dari cacing-cacing di perutnya. Tamar yang juga mendengar nyanyian perut Stella langsung tertawa. Sang calon istri benar-benar tidak tahan akan lapar. Pria itu berdiri kemudian mengajak Stella kembali ke ballroom untuk menikmati hidangan.
“Ayo balik ke ballroom. Kayanya kamu belum makan ya?” ajak Tamar.
“Udah kok. Cuma porsinya kurang.”
“Hahaha…”
Sambil memanyunkan bibirnya, Stella berdiri dari duduknya. Dia berjalan mengikuti Tamar dari belakang. Langkah gadis itu terhenti ketika makhluk menyeramkan muncul tiba-tiba di hadapannya.
“Aaaaaa!!”
Mendengar teriakan Stella, Tamar menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan melihat Stella tengah menutup wajah dengan kedua tangannya. Bergegas pria itu mendekati Stella lalu memeluknya.
“Tenang, Stel.. kamu aman.”
Untuk beberapa saat Stella masih berada dalam pelukan Tamar. Wajah hantu yang dilihatnya tadi benar-benar menyeramkan. Jantungnya berdetak tak karuan, dan tubuhnya sedikit bergetar. Tamar mengusap pelan punggung calon istrinya itu. Kemudian secara perlahan melepaskan pelukannya.
“Kamu ngga apa-apa?”
__ADS_1
Tamar sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat ekspresi Stella. Pelan-pelan Stella membuka matanya. Makhluk menyeramkan tadi sudah sepenuhnya menghilang. Tamar meraih tangan Stella yang terasa dingin dan sedikit gemetar.
“Ini kamu gemeteran karena takut apa laper?”
Mata Stella melotot mendengar pertanyaan Tamar yang tanpa saringan. Pria itu malah tertawa melihat mata Stella yang sudah mirip Suzanna. Dia menarik tangan Stella kemudian menggenggamnya erat. Dibawanya gadis itu kembali ke ballroom. Sepertinya calon istrinya ini membutuhkan asupan makanan untuk menghilangkan ketakutannya.
🍁🍁🍁
Suzy muncul di tengah kerumunan orang yang tengah menonton konser musik. Setelah menakuti Stella, dirinya terpental jauh ketika Tamar memeluk bestie-nya itu. Setelah mendengar perbincangan Stella dan Tamar diam-diam, dia memutuskan untuk membantu keduanya lebih dekat. Suzy sengaja mencari penampakan yang super duper menyeramkan.
Matanya kemudian berkeliling untuk mencari tahu di mana dia berada. Ternyata jin wanita itu ada di daerah Dipatiukur. Di sana tengah ada pertunjukkan musik dangdut. Terdengar suara biduan menyanyikan lagu-lagu hits, membuat para penonton tak bisa berhenti bergoyang. Ditambah dengan gerakan erotis sang biduan, semakin membuat penonton tambah bersemangat.
Saweran pun tak henti mengalir untuk sang biduan. Mata Suzy kemudian menangkap seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah manis. Dia asik bergoyang sendirian mengikuti irama lagu.
Senyum di wajah Suzy terbit begitu mengenali pria tersebut. Dia adalah Johan yang memiliki nama asli Juhana. Johan adalah satpam kompleks yang menjadi gebetannya. Suzy segera mendekati Johan. Dia lalu ikut bergoyang mengikuti gerakan Johan yang tengah memeragakan gaya goyang dumang.
🍁🍁🍁
Perhelatan pesta di Infinity Corp sudah usai. Para tamu satu per satu mulai meninggalkan ballroom tempat diselenggarakannya acara. Zar berinisiatif mengantarkan Renata, sedang Vanila dipercayakan pada Rakan. Pria itu sebenarnya sudah mendapat mandat dari Viren untuk mengantarkan anaknya pulang. Tapi Zar memilih bertukar pasangan saja. Dia yang mengantar Renata dan Rakan mengantar Vanila.
Rakan mengambil mobilnya terlebih dulu. Dia meminta Vanila menunggu di depan lobi kantor. Tak berapa lama mobil yang dikendarainya berhenti di depan Vanila. Gadis itu segera naik ke dalamnya.
“Abang ngga apa-apa anterin aku?” tanya Vanila seraya memasang sabuk pengaman.
“Ngga apa-apa. Kita kan searah. Kamu tinggal di rumah kakek Juna kan?”
“Iya, bang. Panggilnya grandpa, biar ngga ketuker sama kakek Abi.”
“Ok.”
Kaki Rakan menginjak pedal gas, kendaraan roda empat itu pun mulai bergerak. Sebenarnya Vanila senang saja diantarkan oleh Rakan, selain ramah, pria itu juga keponakan dari chef Gavin, salah satu chef favoritnya. Anggap saja sebagai pendekatan agar bisa berkenalan dengan chef terkenal tersebut.
“Kamu mau ketemu om Gavin kapan?” Rakan membuka pembicaraan.
“Terserah abang aja, sesempatnya abang. Aku juga sekarang lagi jadi pengangguran, hihihi..”
“Kamu ngga niat kerja?”
“Maunya sih, bang. Tapi di hotel Arjuna sama Yudhistira belum ada lowongan. Ngga enak aja kalau aku masuk terus bikin pegawai lama jadi tersingkir. Lagian bisa digetok aku sama papa Ravin.”
“Nanti aku coba tanya om Firlan. Siapa tahu ada lowongan di The Ocean.”
“Beneran bang?”
“Iya.”
“Ya ampun makasih, bang. Tapi aku sih pengennya kursus dulu sama chef Gavin, hehehe..”
“Kita jadwalin ketemu chef Gavin secepatnya kalau begitu.”
“Ya ampun abang baik banget sih. Senin besok mau aku bawain makan siang ke kantor ngga?”
“Nyogok nih? Hahaha..”
“Bisa dibilang begitu, hehehe… eh tapi kantor abang di mana sih?”
“Rakan Putra Group, masih di daerah Dago sih.”
“Oh siplah. Nanti aku tanya papa aja.”
Rakan membalas ucapan Vanila dengan senyum manisnya. Berbicara dengan Vanila cukup menghibur untuknya. Sikapnya yang ceria dan gaya bicaranya yang ceplas-celpos membuat Rakan nyaman berada dekat dan berbincang dengan gadis itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Ehek... Rakan udah siap mup on ya?😁
Stella ama Tamar udah ada kemajuan.. Suzy... Gue suka gaya lo🤣**