Hate Is Love

Hate Is Love
Aksi Pandawa Lima


__ADS_3

Syukuran kelahiran Elina baru diadakan satu bulan setelah kelahirannya. Acara baru diselenggarakan menunggu sampai kondisi bayi itu benar-benar sehat. Karena kelahirannya yang premature, berat bobotnya masih kurang dan selama satu bulan ini, Renata terus menggendongnya ala kangguru, untuk menghangatkan tubuh anaknya itu.


Bobot Elina naik dengan pesat. Renata rela mengkonsumsi banyak makanan bergizi demi asupan sang anak. Dia tidak peduli jika tubuhnya masih tetap gemuk pasca melahirkan. Yang penting anaknya bisa terpenuhi gizinya dan tumbuh seperti anak yang lahir normal. Zar pun selalu memberikan dukungannya. Pria itu selalu membantu sang istri ketika mengurus anaknya.


Tiga hari setelah sang anak lahir, Zar langsung mengadakan aqiqah. Pria itu juga menggelar pengajian di kediaman kedua orang tuanya. Tak lupa membagikan bingkisan untuk majelis taklim, tetangga dan juga berbagi dengan anak yatim.


Di akhir bulan, acara syukuran diselenggarakan. Selain syukuran, kegiatan ini juga dijadikan ajang berkumpul bagi keluarga Hikmat dan Ramadhan. Untuk acara sekarang, dilaksanakan di kediaman Abi. Awalnya Jojo ingin mengadakan di kediamannya lagi, namun Abi bersikeras mengadakan di kediamannya. Dulu saat Dayana melahirkan, acara diselenggarakan di kediaman Kevin. Jadi untuk anak Zar dan Renata diminta diselenggarakan di rumahnya.


Renata datang bersama Zar dan juga anaknya. Kenzie dan Nara sudah lebih dulu datang. Seperti biasa, Nara akan berkutat di dapur bersama saudaranya yang lain. Satu per satu anggota keluarga Hikmat mendatangi kediaman Abi. Arya juga datang dengan Shifa. Kehamilan istrinya sudah memasuki HPL. Jika tidak ada halangan, besok Shifa akan masuk ruangan operasi.


Wajah Elina sangat cantik, perpaduan dari wajah Zar dan juga Renata. Siapa saja yang melihatnya pasti akan dibuat gemas olehnya. Anak itu terlihat anteng dalam gendongan sang mama. Mereka tidak berani menggendong Elina, khawatir kalau kondisi belum cukup kuat jika harus berpindah-pindah gendongan.


“Akhirnya aku udah punya tiga cicit,” ujar Jojo bangga, melihat pada Juna dan Cakra yang baru saja mendapat seorang cicit.


“Sombong. Aku aja yang empat, biasa aja,” sahut Abi.


“Betul, sombong betul. Nyumbang ide buat nyatuin cucunya aja, ngga. Cuma terima hasilnya aja seneng banget,” sambung Kevin.


“Terserah kalian mau bilang apa. Sebentar lagi cicitku bakalan nambah jadi 5.”


“Itu cicitku juga,” sambung Cakra tak mau kalah.


Juna hanya menggelengkan kepalanya melihat adik dan sahabatnya yang sikapnya sudah seperti anak kecil. Sebentar lagi juga dia akan mendapatkan dua orang cicit. Jika tidak ada halangan, sebulan lagi Adisty akan melahirkan.


“Kak.. anaknya Disty laki-laki ya?” tanya Abi.


“Iya. Alhamdulillah aku bakalan dapat cicit sepasang. Aku juga diminta nyumbang nama buat anaknya,” bangga Juna.


“Kalau aku sih percaya, kakak bisa nyumbang nama yang bagus. Ngga kaya yang onoh,” Cakra melihat pada Kevin.


“Sembarangan. Nama anakku bagus-bagus.”


“Ravin sana Viren, cuma beda letak R sama V doang. Ngga kreatif sama sekali,” ledek Jojo.


“Kaya kamu ngga aja. Apa itu Nayara sama Naraya, benar-benar ngga kreatif,” balas Kevin.


“Udah-udah, kenapa malah bahas nama. Yang penting cicit kita lahir dengan selamat da tumbuh sehat. Doakan juga untuk Shifa yang akan melahirkan besok. Pasti anak itu cemas, harus masuk ruang operasi,” seru Juna.


“Betul itu. Lebih baik kita hibur dia, supaya tidak stress.”


Semua mengangguk, setuju dengan usulan Abi. Kelima pria itu berdiri, lalu mencari keberadaan Shifa. Sebagai para tetua, mereka ingin memberikan dukungan agar sang cucu tidak stress menghadapi operasi besok.


Sementara di gazebo yang ada di halaman belakang, para orang tua baru sedang berkumpul. Pasangan Irzal-Arsy, Stella-Tamar, Dayana-Rafa dan Rakan-Vanila berkumpul bersama anak mereka. Mereka berbincang membicarakan pertumbuhan anak-anak mereka.


“Adit rewel ngga Stel? Dia ngga pilih-pilih makanan, kan?” tanya Arsy.


“Ngga sih, dia mah apa aja masuk.”


“Persis kaya emaknya,” celetuk Dayana yang langsung disambut tawa yang lain.

__ADS_1


“Bie.. gimana rasanya punya anak kembar?” tanya Rakan.


“Repot ya? Pasti gagal mulu pas mau deketin emaknya, si Irsyad tidur, Arsyad bangun. Arsyad tidur, Irsyad bangun. Yang ada kepala atas bawah tambah pening, hahaha…”


Irzal ikutan tertawa mendengar penuturan Tamar. Apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar. Dia selalu kesulitan mendekati Arsy karena anak kembarnya. Bahkan ketika hendak beraksi di tengah malam, masih terganggu oleh tangis mereka. Tapi itu justru menjadi tantangan tersendiri baginya. Bercinta dengan sang istri dengan kecepatan penuh dalam waktu terbatas ternyata lebih mendebarkan.


Di tempat lain, Arya sedang berbincang dengan Zar. Di tengah pembawaannya yang ceria. Sebenarnya pria itu cemas menantikan kelahiran anaknya. Besok Shifa dijadwalkan masuk ruang operasi. Antara perasaan senang dan cemas membaur menjadi satu.


“Kenapa?” tanya Zar, melihat sikap tak biasa sepupunya.


“Waktu Rena dioperasi, gimana perasaan lo?”


“Cemaslah. Tapi tetap aja gue harus kelihatan tegar. Gue paham perasaan lo. Lo harus kuat, Ar. Shifa pasti takut, kalau lo ikutan takut, gimana dia bisa bertahan. Lo harus tahan semuanya. Lo harus tersenyum, membuatnya tertawa, pokoknya jangan sampai dia stress. Lo pasti bisa.”


Zar memegang erat bahu sepupunya. Arya hanya menganggukkan kepalanya. Bagaimana pun juga, dia harus lebih kuat dari Shifa. Siapa yang akan menguatkan sang istri di ruang operasi kalau bukan dirinya. Kepalanya yang semula menunduk mulai terangkat. Matanya mencari keberadaan istrinya.


Di ruang tengah, nampak Shifa tengah duduk bersama dengan Geya dan Ayumi. Tak berapa lama, pandawa lima menghampiri ketiga wanita tersebut. Mereka duduk mengelilingi ibu hamil itu.


“Shifa, apa kamus udah siap untuk besok?” tanya Juna.


“In Syaa Allah, grandpa.”


“Jangan cemas. Berdoa saja, In Syaa Allah kamu dan bayimu akan baik-baik saja,” Abi menepuk tangan Shifa pelan.


“Andai boleh, besok eyang juga pengen masuk ke ruang operasi. Eyang mau nemanin Arya, supaya kamu ngga terlalu tegang,” ujar Cakra.


Semua yang ada di sana langsung melihat Kevin tanpa berkedip, termasuk Geya dan Ayumi. Mereka tidak menyangka Kevin mampu mengeluarkan kalimat panjang tanpa jeda. Biasanya pria itu paling malas bicara.


“Tumben panjang, biasanya cuma aku sih, yes,” sindir Abi.


“Lagi eling dia,” sahut Juna.


“Gimana kalau yang nemanin Arya di dalem Kevin aja,” usul Abi.


“Jangan!” teriak Cakra dan Jojo bersamaan.


“Emang kenapa eyang? KiJo?” tanya Geya yang ikutan kepo.


“Nanti yang ada dokter sama susternya repot ngurusin orang pingsan,” jawab Cakra.


“Bener tuh. Mending kalau langsung pingsan. Kalau dia teriak-teriak gara-gara lihat jarum suntik sama pisau bedah gimana?” sambung Jojo.


“Hahaha..”


Shifa yang awalnya hanya menyimak pembicaraan absurd pandawa lima, tak bisa menahan tawanya. Sepertinya seru kalau pandawa lima ikut ke ruang operasi. Pasti akan menjadi hiburan tersendiri untuknya.


“Biar kamu ngga stress. Grandpa bakalan nyanyi buat kamu.”


“Benar grandpa?” tanya Shifa antusias.

__ADS_1


“Bukan cuma grandpa. Tapi eyang juga. Yang lain cuma jadi backing vocal aja. Khusus kakek Abi, dia backsound suara monyet. Uu aa.. uu aa..”


“Hahaha..”


Abi hanya berdecak saja. Tapi demi membuat Shifa lebih tenang, dia membiarkan sang sahabat yang sudah memporak porandakan harga dirinya. Juna bersiap memperdengarkan suaranya yang masih merdu, begitu juga dengan Cakra.


“Burung kakak tua hinggap di jendela,” Juna memulai lagunya.


“Syudup.. syudup..” Jojo dan Kevin menyambung.


“Nenek sudah tua, gigi tinggal dua,” lanjut Cakra.


“Syudup.. syudup..”


“Burung kakak tua hinggap di jendela.”


“Nenek sudah tua gigi tinggal dua.”


“Nenek Nina sudah tua, kakek Abi tetap muda,” sambung Abi.


Semua mata langsung melihat pada Abi. Bukan karena suaranya yang sember, tapi lirik yang dinyanyikan pria itu tentu saja membuat yang lain terkejut. Tapi bukan Abi namanya kalau terpengaruh. Dia kembali menyanyikan lirik tersebut, walau keempat pria di dekatnya menggelengkan kepala.


“Nenek Nina sudah tua, kakek Abi tetap muda. Aaaaaaa…”


Terdengar teriakan Abi, ketika telinganya dijewer oleh seseorang. Dengan cepat dia menoleh ke samping. Amarahnya langsung surut ketika melihat sang pelaku adalah istri tercintanya.


“Siapa yang sudah tua? Siapa yang masih muda?”


“Itu..belum selesai, sayang. Masih ada sambungannya.”


“Apa sambungannya?”


“Nenek Nina masih cantik walau sudah tua,” Abi menyanyikan lirik lain.


“Hahaha…” Shifa, Geya dan Ayumi tidak bisa menahan tawanya.


“Dasar kang ngeles,” Jojo.


“Udah tua ngeles terus kaya bajaj,” Cakra.


“Jewer aja terus Nin,” Juna.


“Aku sih yes. Jewer terus,” Kevin.


Shifa terus saja tertawa melihat tingkah konyol pada pandawa lima. Setidaknya kelima pria itu sudah membuat kecemasannya berangsur menjauh. Saat ini dia benar-benar terhibur dengan aksi pandawa lima.


🍁🍁🍁


Segini dulu aja ya🙈

__ADS_1


__ADS_2