
Sambil bersiul Daffa keluar dari ruang istirahat dokter IGD. Dokter residen itu sudah mandi dan juga berganti pakaian. Di koridor rumah sakit dia berhenti sebentar di depan mesin penjual minuman otomatis. Di sana juga ada Rafa yang baru selesai bertugas.
“Hai, Daf.. rapih benar. Mau kemana?” tanya Rafa sambil mengambil minuman yang baru saja keluar.
“Kencan, hehehe…”
“Wah ada kemajuan nih. Kencan sama siapa?”
“Bukan kencan juga, sih. Cuma jalan-jalan biasa, dia juga bukan pacar aku. Yah dalam masa penjajagan.”
“Selamet ya. Bakalan ngga jadi jomblo lagi nih.”
Daffa membalas ucapan Rafa hanya dengan tawa kecil saja. Dia mengambil minuman yang dibelinya, kemudian bersama dengan Rafa berjalan menuju pintu keluar. Dibukanya penutup botol lalu meminumnya. Tangannya meraih ponsel yang ada di saku celana ketika merasakan benda pipih itu bergetar.
“Halo..”
“…”
“Ok.. tunggu, ya. Aku baru keluar rumah sakit. Kamu beli makanan aja dulu buat teman nonton.”
“…”
“Terserah kamu aja, Ay.. aku ngikut aja.”
DEG
Jantung Rafa berdegup kencang ketika Daffa menyebut kata ‘Ay’. Otaknya langsung tertuju pada sebuah nama yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Bahasa tubuh Rafa mulai terlihat tak enak. Ingin rasanya dia bertanya pada Daffa, siapa gadis yang akan dikencaninya. Tapi rasanya kurang etis, apalagi dia juga tidak terlalu dekat dengan dokter residen itu.
Di dekat pintu keluar, keduanya bertemu dengan Arsy yang tengah menunggu jemputan. Seperti biasa, Irzal selalu mengantar dan menjemput istrinya bekerja. Daffa dan Rafa menghampiri Arsy.
“Nunggu bang Bibie?” tanya Daffa.
“Iya. Mau langsung pulang?”
“Ngga. Mau nonton dulu.”
“Cieee… sama siapa nih?” goda Arsy.
“Sama sepupu lo,” cetus Daffa santai.
Jawaban santai Daffa, nyata berbanding terbalik dengan yang dirasakan Rafa. Perasaannya semakin yakin kalau gadis yang akan ditemui Daffa adalah Dayana. Hati dokter spesialis bedah jantung itu langsung tak karuan.
“Siapa? Sepupuku banyak.”
“Aya.”
JEDER
Rafa seperti tersambar petir saat Daffa menyebut nama Dayana. Hatinya langsung panas begitu tahu dokter muda di sampingnya ini hendak menghabiskan waktu berdua saja dengan Dayana. Otaknya berpikir cepat, bagaimana caranya menggagalkan Daffa nonton bersama Dayana.
Dari arah gerbang, nampak mobil Irzal memasuki pelataran rumah sakit. Kendaraan roda dua tersebut berhenti di depan lobi rumah sakit. Arsy berpamitan pada Daffa dan Rafa, kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah kendaraan Irzal berlalu, Daffa dan Rafa segera menuju ke mobilnya masing-masing.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Rafa masih berdiam diri di belakang kemudi. Matanya terus melihat mobil Daffa yang masih belum bergerak. Tak lama roda kendaraan Daffa mulai bergerak meninggalkan tempatnya. Rafa pun menyalakan mesin mobilnya lalu menekan pedal gas. Dia mengikuti kemana Daffa pergi.
Sambil menjaga jarak aman, Rafa terus mengikuti Daffa. Ternyata pria itu menuju The Ocean mall. Mobil Daffa terus masuk menuju parkiran yang berada di basement. Rafa pun mengikuti masuk ke basement. Pria itu memarkirkan kendaraannya, dekat dengan mobil Daffa, hanya berselang tiga mobil saja.
Tanpa merasa curiga diikuti, Daffa masuk ke dalam mall dan langsung menuju lantai teratas mall ini, tempat di mana bioskop berada. Rafa memilih naik ke lantai atas menggunakan tangga jalan. Tidak seperti Daffa yang menggunakan lift. Sesampainya di lantai teratas, Rafa tidak langsung masuk ke dalam bioskop. Pria itu hanya memperhatikan dari luar saja.
“Udah beli tiketnya, Ay?” tanya Daffa yang baru saja tiba.
“Udah. Makanan juga udah.”
“Mangsanya juga udah dateng, hehehe…”
“Di mana dia?”
“Kayanya masih di depan. Gimana? Rencana kedua siap dijalanin?”
“Wokeh.”
Dayana mengangkat kedua jempolnya. Daffa dan Dayana memang merencanakan ini semua untuk melihat reaksi Rafa. Ternyata umpan yang mereka lemparkan langsung dimakan oleh ikan besar itu. Semua Rencana sudah disusun oleh Rena, Daffa dan Dayana hanya tinggal menjalankan saja.
Melihat Rafa yang masih bertahan di luar bioskop, akhirnya Daffa dan Dayana pura-pura berjalan keluar. Rafa bersembunyi di belakang stand banner yang terpanjang dekat pintu masuk. Daffa mengambil ponselnya, berpura-pura menerima panggilan.
“Halo.. ya, dok.”
“Ok, dok.. saya otw.”
Daffa memasukkan kembali ponsel ke saku celananya. Dia melihat pada Dayana dengan wajah memelas. Dayana yang melihat itu tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
“Kenapa Daf?”
“Barusan dokter Iqbal telepon. Dia butuh asisten di ruang bedah. Gimana dong, Ay?"
“Ya udah pergi aja sana.”
“Terus kamu gimana?”
“Ngga apa-apa aku nonton sendiri aja. Kapan-kapan kita bisa nonton bareng.”
__ADS_1
“Ok, deh. Sorry banget ya, Ay.”
“Iya.”
Daffa bergegas meninggalkan Dayana. Pria itu menuju escalator, lalu turun ke bawah. Dayana masih bertahan di tempatnya sampai Daffa tak terlihat lagi. Kemudian gadis itu kembali masuk ke dalam lobi. Rafa keluar dari tempat persembunyiannya. Pria itu kemudian mendekati Dayana yang tengah duduk menunggu pintu studio dibuka.
“Ay..”
Kepala Dayana terangkat mendengar suara Rafa. Dalam hatinya tersenyum bahagia melihat pria yang disukainya benar-benar memakan umpan yang dilemparkannya. Rafa mendekati Dayana lalu mendudukkan diri di sampingnya.
“Kamu sendiri aja?” tanya Rafa basa-basi.
“Iya. Mas sendiri ngapain di sini? Mau nonton juga.”
“Euung..”
Rafa bingung sendiri hendak menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kalau mengikuti Daffa sampai ke sini. Pria itu mengusap tengkuknya untuk menghilangkan grogi yang seketika menyergapnya.
“Mas ada acara lain ngga?”
“Ngga. Kenapa?”
“Temenin aku nonton mau ngga? Aku udah beli tiket dua, udah beli cemilan juga. Eh teman nontonku malah ngga bisa ikut,” tutur Dayana dengan ekspresi sedih.
“Emang kamu mau nonton sama siapa?”
“Sama Daffa. Tapi dia mendadak ada panggilan tugas, batal deh. Mas Rafa mau ngga temani aku?”
“Boleh.”
Senyum Dayana terbit mendengarnya. Rafa pun tidak kalah bahagia. Dia senang akhirnya bisa menghabiskan waktu berdua dengan Dayana. Sepertinya dia harus mengucapkan terima kasih pada dokter Iqbal karena sudah membawa pergi Daffa. Dirinya jadi tidak perlu mencari alasan untuk membatalkan kencan mereka.
Terdengar suara operator yang mengumumkan pintu studio sudah dibuka. Dayana bangun dari duduknya, bersiap untuk masuk ke dalam studio. Rafa juga ikut bangun, dia membantu Dayana membawa camilan yang dibeli gadis itu tadi. Keduanya berjalan memasuki studio.
Dayana terus berjalan menuju kursi di deretan atas. Dia berhenti di deretan ke tiga dari atas lalu berjalan hingga bangku yang ada di tengah kemudian mendudukkan diri di sana. Rafa datang menyusul lalu ikut duduk di samping Dayana. Lumayan banyak juga pengunjung yang datang menonton pertunjukkan film ini.
Tak berapa lama, lampu studio mulai meredup. Layar di depannya juga sudah menyala, menampilkan beberapa iklan sebelum menayangkan film. Rafa sendiri tidak tahu, film apa yang ditontonnya. Yang penting dirinya bisa berduaan dengan Dayana.
Akhirnya tayangan film pun dimulai.
Wajah Dayana terlihat serius menikmati adegan action yang tersuguh di depannya. Dia memang memilih film genre action superhero buatan negeri sendiri. Sang jagoan yang diberi nama Entongman, memiliki kekuatan super, dia bukan hanya kuat, cepat, tapi juga memiliki kemampuan untuk menggerakkan benda-benda di sekitarnya hanya lewat pikiran saja. Namun dia memiliki satu kelemahan. Kekuatannya akan hilang jika pria itu makan tumis toge. Dan hal tersebut dimanfaatkan oleh sang musuh untuk mengalahkannya. Namun berkat bantuan Kokom, sahabat sekaligus pacarnya, Entong berhasil selamat dan dapat mengalahkan musuhnya.
Sembilan puluh lima menit berlalu, akhirnya tayangan film berakhir juga. Lampu studio kembali menyala. Dayana dan Rafa bangun dari duduknya, kemudian bersama penonton lain keluar dari studio. Mendekati pintu keluar, para penonton mulai berdesakan. Rafa terpaksa mundur ke belakang Dayana. Pria itu memegangi pundak Dayana untuk menjaga posisi tubuhnya agar tidak terdorong penonton lain.
“Habis ini mau kemana?” tanya Rafa.
“Pulang.”
“Makan apa?”
“Terserah kamu mau makan apa?”
“Makan seafood aja yuk, mas.”
“Boleh.”
Dayana yang memang sengaja tidak membawa kendaraan, ikut pergi menggunakan mobil Rafa menuju tempat makan seafood langganannya. Kendaraan Rafa bergerak menuju jalan Cilaki, kemudian berhenti di depan rumah makan yang terkenal seantero Bandung. Mereka mengambil meja di bagian paling sudut.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Rafa.
“Kepiting soas padang.”
“Kepiting saos padang satu, udang mentega satu, nasi dua porsi dan minumnya…” Rafa melihat pada Dayana.
“Lemon tea.”
“Lemon tea dua.”
“Saya ulang ya. Kepiting saos padang satu, udang mentega satu, nasi dua porsi dan lemon tea dua.”
Rafa hanya menganggukkan kepalanya saja. Pelayan tersebut segera berlalu untuk memberikan pesanan ke dapur. Kini hanya tinggal pasangan itu saja di meja. Rafa memandangi Dayana yang tengah berbalas pesan dengan seseorang. Mata pria itu terus memandangi wajah cantik Dayana yang selalu mengganggu tidurnya akhir-akhir ini.
“Kamu sama Daffa ada hubungan apa?” Rafa membuka percakapan.
“Hubungan apa ya? kolaborasi dua jomblo kayanya, hihihi…”
“Ada-ada aja kamu.”
“Ngga ada hubungan apa-apa sih, mas. Cuma Daffa tuh enak diajak ngobrol, asik aja anaknya.”
“Gimana sama laki-laki yang kamu suka? Kamu masih ada niatan lanjut atau mau nyerah?”
“Pengennya sih nyerah..”
“Jangan…”
Jawaban spontan Rafa tentu saja mengejutkan Dayana. Gadis itu memandangi wajah Rafa yang juga tengah melihat padanya. Untuk sesaat keduanya hanya saling memandang saja. Acara bertatap mata terputus ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka. Rafa mengambil piring berisi kepiting, kemudian membukakan tulangnya menggunakan alat yang disediakan.
“Makan yang banyak,” Rafa mendorong piring ke dekat Dayana.
__ADS_1
“Mas ngga usah terlalu baik sama aku. Nanti akunya susah move on.”
“Aku ngga mau kamu move on. Biar aku aja yang move on.”
Mata Dayana kembali memandang pada Rafa, tapi pria itu memilih memakan makanannya saja. Dayana pun mulai memakan makanannya, apa yang dikatakan Rafa barusan terdengar ambigu di telinganya.
Makan malam berjalan tanpa pembicaraan yang berarti sampai selesai. Dayana minta langsung diantarkan pulang ke rumahnya sebelum hari semakin malam. Di dalam mobil pun nyaris tak ada pembicaraan. Dayana lebih memilih mendengarkan musik dari audio mobil sampai perjalanan mereka berakhir.
Rafa menghentikan kendaraannya di depan kediaman Kevin. Dia melepaskan sabuk pengamannya, hendak mengantarkan Dayana sampai ke depan pintu rumah. Namun tangannya yang hendak membuka pintu terhenti begitu mendengar suara gadis di sebelahnya.
“Aku bisa sendiri. Mas ngga usah antar aku. Terima kasih sudah menemaniku malam ini. Maaf kalau udah buat mas ngga nyaman. Aku janji ngga akan ganggu mas lagi.”
“Ay..”
Tangan Rafa langsung bergerak menahan Dayana yang hendak turun. Kepala gadis itu menoleh dan matanya langsung bersitatap langsung dengan kedua netra Rafa.
“Aku baik-baik aja. Aku ngga merasa ngga nyaman denganmu. Tolong jangan salah paham dengan ucapanku tadi.”
“Aku malah ngga berani berasumsi macam-macam, mas. Aku sadar aku bukan siapa-siapa dan selama ini aku sudah terlalu sering mengganggu kehidupan mas. Aku mundur.”
“Jangan mundur.”
“Lalu mas mau aku gimana? Di depanku hanya ada dinding kokoh yang ngga bisa ditembus.”
“Tetap di sana. Biar aku yang menghancurkan dinding itu dan mendekat padamu.”
Mata Dayana memandang Rafa tanpa berkedip. Sungguh tak percaya kalau pria itu mengatakan hal seperti tadi. Tangan Rafa bergerak menggenggam tangan Dayana dengan erat. Kedua netranya menatap dalam pada gadis di hadapannya.
“Bisakah kita memulainya dari awal? Kali ini biarkan aku yang mendekat. Aku yang akan mengenalmu lebih jauh lagi. Kamu tidak perlu melakukan apapun, tunggu aku sampai padamu. Tapi.. aku ini tipe pencemburu, aku tidak suka melihatmu dekat dengan lelaki lain, termasuk Daffa.”
“Dan aku juga bukan orang yang sabar. Aku akan benar-benar pergi kalau mas terlalu lama membuatku menunggu.”
Dayana melepaskan tangannya dari genggaman Rafa lalu turun dari mobil pria tersebut. Tanpa melihat ke belakang lagi, gadis itu segera masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu rumah, Dayana meloncat kegirangan.
“Yess!! Yess!! Yes!!”
Ingin rasanya dia langsung menjawab iya atas ajakan Rafa tadi. Tapi dirinya mengingat saran dari Rena yang tidak boleh langsung mengiyakan apa yang dikatakan Rafa. Pria itu harus membuktikan dirinya kalau benar-benar mencintanya.
“Aaaa… nenek Rena, love youuuuu..” Dayana berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Sementara itu di dalam mobil, Rafa masih terdiam merenungi ucapan Dayana barusan. Ternyata gadis itu lebih keras kepala dari dugaannya. Sepertinya dia harus bergerak cepat untuk meluluhkan hati gadis itu. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan Dayana. Sudah cukup baginya menutup diri selama tiga tahun ini. Dan sekarang waktunya melanjutkan hidup. Rafa menghidupkan mesin mobil lalu menjalankan kendaraannya meninggalkan kediaman Kevin.
🍁🍁🍁
Di hari libur, Dayana dan Stella memutuskan mengunjungi Arsy di kediamannya. Keduanya langsung menuju ke lantai tiga, di mana Arsy dan Irzal tinggal. Ketiganya berkumpul di ruang tengah, berbincang santai sambil menonton drama Korea. Irzal sendiri memilih berdiam diri di ruang kerja, mempelajari lebih banyak tentang Infinity Corp.
Stella mengeluarkan cairan dari hidungnya melihat tayangan sedih dari drama yang dilihatnya. Arsy dan Dayana hanya tertawa melihat sepupunya itu yang terlalu mudah baper kalau lihat adegan drama. Entah sudah berapa banyak tisu yang dipakai oleh gadis itu.
Selain menghabiskan tisu, Stella juga menghabiskan camilan yang disediakan Arsy. Baginya menangis juga membutuhkan energi, wajar saja kalau dirinya butuh makanan ekstra untuk mengisi perutnya.
Usai menonton drama, mereka berbincang membicarakan keseharian mereka, dan tentu saja pasangan masing-masing. Arsy menceritakan kesedihannya karena belum juga diberi kesempatan hamil padahal kemarin dia sudah berharap banyak.
“Syukuri aja, Sy. Anggap aja masa pacaran kalian diperpanjang,” celetuk Stella.
“Betul itu. Kalian berdua juga masih muda. Santuy.. santuy..” sambung Dayana.
“Lo sendiri gimana Ay?” tanya Arsy.
“Udah ada perkembangan. Dia jealous waktu gue mau nobar sama Daffa, hihihi..”
“Wah keren, gue doain lancar ya. Terus lo gimana?” Arsy melihat pada Stella.
“Emang gue kenapa?”
“Lo ngga ada cenat-cenut gitu sama Tamar?”
“Mana ada. Yang ada gue gedeg ama dia, ngatain gue kalo makan sebakul lah, aneh lah suka ngomong sendiri, teman gue cuma makhluk astral. Asli bikin bengek.”
“Hahaha..”
Arsy dan Dayana tidak bisa menahan tawanya mendengar kelutusan Stella. Yang menjadi bahan tertawaan tak bereaksi apapun, gadis itu sibuk membuka kuaci bunga matahari yang sudah habis setengah bungkus di makan olehnya.
“Ngapain lo marah? Kan apa yang dibilang Tamar kenyataan, elo kan emang rewog kalo makan. Lihat nih semua bungkus makanan, semua hasil karya perut lo hahaha…” ledek Arsy.
“Soal teman lo yang makhluk astral juga bener tuh. Kemana-mana sama bestie mulu, siapa tuh Bae bukan Suzy ya, hahaha..” sambar Dayana.
“Dasar lo lo pada, sodara nurjanah semua.”
“Udah… lo kaga usah jual mahal. Pepet aja Tamarnya, lagian gue juga yakin ngga ada laki yang kuat sama ondel-onel model elo kecuali Tamar.”
“Betul tuh Sy.. cuma Tamar yang kuat mental, hahaha..”
“Haaiisshh.. berisik lo! Dari pada ngurusin gue, mending lo minta dokter Rafa lamar elo. Kasihan tuh duda kelamaan ngga ganti oli, bhuahahaha..”
“Rese lo!”
Dayana mengambil bantal sofa lalu memukulkannya pada Stella. Namun gadis itu malah makin terbahak saja. Dari dalam ruang kerjanya, Irzal bisa dengan jelas mendengar gelak tawa ketiga wanita di depan sana. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Ternyata bukan cuma istrinya yang agak bergeser otaknya, tetapi kedua sepupunya juga.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Sabar Bie.. Cewek kalo udah rumpi emang berisik ngalahin toa masjid🤣