Hate Is Love

Hate Is Love
Wasiat Kakek


__ADS_3

Mengetahui tamu yang ditunggunya sudah sampai. Pria itu pun membalikkan tubuhnya menghadap pada Irzal. Kini suami dari Arsy itu bisa melihat dengan jelas wajah pimpinan Infinity Corp yang selama ini ingin diketahuinya. Mata Irzal membulat melihat pria di depannya.


“Papa..”


Farel tersenyum melihat Irzal yang begitu terkejut melihatnya. Dia berjalan mendekati keponakannya itu lalu berdiri di hadapannya. Ditepuknya pundak Irzal untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya.


“Dasar anak nakal. Kamu itu suka sekali mengerjai orang tua. Pantas saja Zain bisa dengan mudah mencuri proposalmu. Ternyata kamu sudah memberi jebakan batman di dalamnya.”


“Papa, apa maksudnya ini?”


“El.. keluarlah! Anakmu sudah datang!”


Dari kamar yang ada di ruangan tersebut, muncul Elang, Azkia dan Arsy. Irzal semakin dibuat bingung melihat kedua orang tua dan juga istrinya berada di kantor Infinity Corp. Begitu juga Aidan, pria itu hanya melongo saja. Kemudian dari arah luar, masuk Zain.


“Ayah.. apa maksudnya ini?” tanya Irzal di tengah kebingungannya.


“Infinity Corp adalah bagian dari Humanity Corp. Perusahan ini sengaja ayah dan papamu dirikan atas amanat dari kakekmu. Dan kamu yang diminta menjadi pemimpin sekaligus penanggung jawab perusahaan ini. Setelah melalui ujian, kamu ayah rasa sudah pantas untuk memegang perusahaan ini sekarang.”


“Selamat, Bibie.. kamu memang kebanggaan bunda.”


Azkia mendekati anaknya yang masih belum hilang rasa terkejutnya, lalu memeluknya. Setelah melepaskan pelukannya, wanita itu memberikan kesempatan pada sang menantu untuk menyadarkan anaknya yang masih dalam mode bingung.


“Sebenarnya kami cukup bingung waktu kamu enggan untuk menikah dalam waktu dekat. Karena salah satu pesan dari kakekmu adalah kamu harus menikah dulu baru bisa menerima amanat ini. Tapi syukurlah om Abi punya ide cemerlang untuk membuatmu menikah dengan Arsy, hahaha..”


Elang ikut tertawa mendengar ucapan Farel, kakak angkatnya yang begitu disayanginya. Bersama dengan Farel, dia mendirikan perusahaan sesuai wasiat Irzal. Selama sepuluh tahun mereka jatuh bangun mendirikan dan membesarkan perusahaan bersama. Sampai akhirnya Infinity Corp bisa berdiri sejajar dengan Humanity Corp.


“Mas..”


Panggilan Arsy menarik kembali kesadaran Irzal. Wanita itu memeluk pinggang suaminya. Tangan Irzal menyambut pelukan sang istri. Kemarahan dan kekhawatirannya tadi langsung sirna, berganti dengan keterkejutan yang sampai saat ini masih belum bisa menghilang sepenuhnya.


“Jadi.. dalang dari hilangnya proyek Humanity adalah ayah dan papa?” tanya Irzal setelah berhasil menguasai dirinya lagi.


“Bukan.. itu ulahnya Aslan. Dia yang sudah menyusun rencana, dan Zain yang mengeksekusi,” jawab Farel.


“Mulai besok, kamu sudah mulai bertugas di sini. Zain akan menjadi sekretarismu dan Aidan tetap menjadi asistenmu.”


“Aku? Kenapa ngga papa aja?”


“Heh anak nakal! Apa kamu masih mau menyiksa papamu ini? Sudah cukup papa mengurus perusahaan ini secara diam-diam selama 10 tahun. Sekarang giliranmu untuk mengurusnya.”


“Zain, Aidan. Siapkan suksesi perusahaan dalam waktu seminggu. Kalian sanggup?”


“In Syaa Allah, sanggup.”


“Bagus. Bie.. Sebaiknya kamu pulang, ajak Arsy sekalian. Kamu bisa lihat apa yang kakekmu wasiatkan di ruang kenangan.”


“Iya, yah.”


Untuk sesaat Irzal masih terdiam di tempatnya. Memperhatikan ruangan baru yang akan ditempatinya mulai besok. Sebuah tanggung jawab besar menantinya. Hatinya masih ragu, apakah dirinya bisa menjalankan amanat besar ini.


“Ayo, mas.”


Suara Arsy kembali menyadarkan Irzal. Sambil menggandeng tangan istrinya, Irzal keluar dari ruangan tersebut. Rona bahagia terlihat di wajah Elang dan Farel, akhirnya mereka bisa menjalankan amanat yang diberikan Irzal padanya.


“Kita juga sebaiknya ke rumah sekarang. Kasihan anak itu kayanya masih shock,” ajak Elang.


“Gimana ngga shock. Kamu itu nyerahin perusahaan dengan cara ekstrim, hahaha…”


“Dia harus didorong sampai ke ujung jurang supaya pikirannya berkembang cepat.”


“Hahaha… dasar sableng.”


Farel keluar lebih dulu dari ruangan tersebut, disusul kemudian oleh Elang dan Azkia. Ketiganya segera menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai dasar. Farel mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Ara, istrinya. Pria itu meminta Ara menyusulnya ke kediaman Elang.


🍁🍁🍁


Sesampainya di rumah, Irzal langsung menuju ruang kenangan. Di dekat televisi, nampak sebuah USB yang baru pertama kali dilihatnya. Irzal memasangkan USB tersebut ke televisi. Pria itu kemudian mendudukkan diri di sofa, bersama dengan Arsy.


Gambar awal nampak hanya sebuah sofa kosong saja. Kemudian Irzal dan Poppy datang dan mendudukkan diri di sana. Keduanya merekam video untuk anak dan cucunya seminggu meninggal dunia. Irzal menggenggam erat tangan sang istri saat melihat kakek dan nenek yang begitu disayanginya, walau tak pernah bertemu secara langsung.


“Assalamu’alaikum anak dan cucu ayah tersayang.”


“Waalaikumsalam,” jawab Irzal dan Arsy pelan.

__ADS_1


“Tidak terasa kalian sudah besar bahkan sudah memberi kami cucu. Rasanya baru kemarin kalian masih dalam gendongan kami. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Satu hal yang harus kalian tahu, kami bangga memiliki anak dan cucu seperti kalian.”


Mata Irzal memanas melihat sang kakek yang selama ini hanya didengar dari cerita Rena atau pun ayah dan bundanya, kini seolah-olah tengah berbicara langsung dengannya. Arsy yang tahu bagaimana perasaan suaminya saat ini, memegang tangan Irzal dengan kedua tangannya.


“Kia.. kandunganmu sudah semakin besar. Dokter bilang kalau anak ketigamu adalah laki-laki. Ayah berharap, dia akan tumbuh hebat seperti ayah dan kakaknya. Yunda dan Ara, apa kalian ada niatan menambah momongan?” terdengar kekehan Irzal setelahnya.


“Elang.. Farel.. ayah sudah menyiapkan dana taktis untuk membuat perusahaan baru. Nantinya perusahaan itu akan menjadi bagian Humanity Corp. Dana itu ayah kumpulkan sedikit demi sedikit dari keuntungan perusahaan dan usaha kita lainnya. Ayah harap kalian bisa mewujudkan keinginan ayah. El.. ayah harap anak bungsumu nanti yang akan memegang kendali perusahaan. Tapi pastikan dia sudah siap saat melakukannya dan tentunya sudah menikah. Ayah ngga mau dia memegang perusahaan sebelum menikah. Carikan dia istri yang baik dan tangguh, yang bisa mendukungnya dan menemaninya di saat susah dan senang.


Yunda.. kalau kamu dikaruniai lagi anak laki-laki, mintalah dia bergabung di perusahaan juga. Tapi.. kalau kalau passionnya sama seperti papanya, jangan dipaksakan. Begitu juga kamu, Rel. Cobalah memproduksi anak laki-laki, hahaha…”


Terdengar ringisan Irzal ketika Poppy mencubit lengannya. Suaminya itu selalu saja menggoda Farel yang selalu dikaruniai anak perempuan. Namun begitu, Irzal juga sangat menyayangi anak-anak Farel seperti cucunya sendiri.


“Satu pesan ayah, jagalah tali silaturahim di antara kalian. Harus saling jaga dan mengingatkan. Ayah, papa Regan, papi Ega, papa Adit dan juga papa Nino adalah satu keluarga besar. Kalian, sebagai keturunan kami harus terus menjaga hubungan baik sampai anak cucu kalian. Dan untuk cucu kakek yang belum lahir, kakek dan nenek tidak tahu apakah bisa bertemu denganmu. Tapi kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jika kami tidak bisa menemuimu di saat kamu lahir ke dunia, bukan karena kami tidak sayang padamu. Tapi karena waktu kami sudah habis di sini. Peluk cium kami untukmu, jadilah anak yang soleh. Semoga kamu senantiasa diberikan keberkahan dalam hidup dan diberikan istri solehah dan keturunan yang baik nantinya.”


“Aamiin,” sambung Poppy.


“El, Farel, Yunda… jaga diri kalian baik-baik. Kami sayang kalian semua.”


Tayangan video berakhir, dan bersamaan dengan itu tangis Irzal pecah.


“Kakek… nenek..”


Airmata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. Irzal tak bisa menahan keharuan, ternyata kakek dan neneknya benar-benar menyayanginya, meski dirinya belum terlahir ke dunia saat mereka pergi. Kerinduannya ingin bertemu dengan mereka seolah terbayarkan setelah melihat video tadi. Arsy memeluk suaminya yang masih menangis.


Pintu ruang kenangan terbuka, Elang, Farel dan Azkia masuk ke dalamnya. Elang menepuk pelan punggung anaknya yang masih menangis dalam pelukan Arsy. Perlahan Irzal melepaskan diri dari pelukan Arsy. Dia melihat pada Elang yang berjongkok di depannya.


“Ayah.. kakek dan nenek sangat menyayangiku..”


“Iya, mereka sangat menyayangimu. Sejak dalam kandungan, mereka sudah menyayangimu. Hanya saja mereka harus pergi sebelum kamu melihat dunia. Dan kamu lahir beberapa jam setelah kepergian mereka.”


Elang menarik Irzal ke dalam pelukannya. Pria itu juga tak bisa menahan airmatanya, mengingat saat-saat paling menyedihkan dalam hidupnya. Di hari yang sama dia kehilangan kedua orang tuanya. Dan di hari yang sama juga, sang istri melahirkan putra bungsunya.


Wajah Irzal yang begitu mirip dengan sang ayah, membuat Elang menamakan anaknya seperti nama ayahnya, Irzal. Semua dilakukan untuk mengenang sang ayah yang telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dan dia bersyukur, sang anak kini tumbuh menjadi pria yang baik, sesuai harapan kedua orang tuanya.


“Jangan menangis lagi, El.. ayah dan bunda sudah tenang di sana. Dan kamu, Bibie.. tetaplah menjadi anak yang baik, jalankan amanat yang diberikan padamu dengan baik.”


Farel menenangkan adik dan keponakannya yang tengah terhanyut oleh kenangan akan sang ayah. Dirinya pun tak bisa menahan airmatanya setiap mengenang kebaikan Irzal dan Poppy. Berkat Irzal yang membawanya masuk ke dalam keluarga Ramadhan, dia bisa mendapatkan kasih sayang orang tua dan juga saudara. Seperti halnya Irzal dan Poppy, Elang dan Yunda juga sangat menyayanginya seperti saudara kandung.


“Aku memang tidak mengenal kakek Irzal dan nenek Poppy, tapi melihat video tadi, aku bisa merasakan kalau mereka orang yang baik dan memiliki kasih sayang yang begitu besar pada anak dan cucunya. Mas beruntung memiliki kakek dan nenek seperti mereka.”


“Iya, mereka memang yang terbaik. Kamu juga beruntung sayang, memiliki kakek Abi dan nenek Nina. Kamu harus lebih sering menemui.mereka, mumpung mereka masih diberi umur panjang untuk menemani kita.”


“Iya, mas.”


Keduanya kembali berpelukan. Irzal menciumi puncak kepala istrinya beberapa kali. Keletihannya beberapa hari belakangan ini, ternyata mendapatkan bayaran yang begitu indah. Bukan Infinity Corp, tapi video yang baru ditontonnya tadi. Melihat bukti nyata sang kakek yang begitu menyayanginya, membuat pria itu benar-benar bahagia.


🍁🍁🍁


Setelah memakai krim malam di wajahnya, Arsy merangkak naik ke atas ranjang lalu mendudukkan diri di samping suaminya. Irzal masih mempelajari beberapa berkas yang berkaitan dengan Infinity Corp. Dia meletakkan berkas di tangannya begitu Arsy sudah berada di sampingnya.


“Mas.. mulai besok mas sudah pindah kerja di Infinity Corp?”


“Iya.”


“Mas harus lebih semangat. Sekarang mas punya tanggung jawab yang lebih besar.”


“Iya, sayang. Kamu bakal terus dukung mas, kan?”


“Pasti dong.”


Senyum Irzal terbit mendengar perkataan istrinya. Dia meraih tengkuk Arsy lalu mendaratkan ciuman di bibir istrinya. Gayung bersambut, Arsy langsung menyambut ciuman sang suami. Keduanya melanjutkan ciuman menjadi l*m*tan dan pagutan dalam. Tangan Irzal mengusap pelan punggung istrinya.


Kemesraan keduanya terus berlanjut di atas ranjang. Gara-gara masalah Infinity Corp, momen mesra Irzal bersama dengan Arsy sampai tertunda berhari-hari. Pria itu selalu masuk kamar lewat tengah malam. Dan karena Arsy tak sanggup harus menunggu suaminya sampai beres bekerja karena lelah bekerja di rumah sakit. Wanita itu selalu tidur lebih awal.


Dan kali ini tentu saja Irzal tak mau melewatkan kesempatan yang ada. Pria itu terus mencumbui sang istri yang begitu dicintainya. Bukan hanya Irzal, tapi Arsy juga sudah sangat merindukan sentuhan suaminya. Dia juga sudah tidak malu lagi membalas sentuhan sang suami. Suasana di dalam kamar mereka kini sudah dipenuhi kehangatan akan cinta mereka.


Lenguhan Arsy terasa begitu merdu di telinganya, membuat Irzal semakin bersemangat untuk menjalankan ibadahnya bersama sang istri. Ciuman senantiasa diberikan oleh pria itu disela-sela kegiatannya mendayung nirwana. Bermain gulat bersama sang istri sekarang sudah menjadi hobi barunya, selain bermain futsal bersama dengan sahabat-sahabatnya.


Begitu pula dengan Arsy, beberapa hari tak merasakan sentuhan suaminya seperti ada yang kurang untuknya. Ibaratnya seperti sayur kurang garam. Setiap hari rasa cintanya pada Irzal semakin bertambah saja.


Arsy mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih pada suaminya untuk mengeksplore lehernya. Salah satu spot kesukaan Irzal adalah leher jenjangnya. Tapi dia melarang sang suami memberikan stempel di sana karena tak ingin mendapat ledekan dari rekan kerjanya.


Setelah beberapa waktu mendayung nirwana bersama, akhirnya keduanya sampai juga ke tujuan. Irzal memeluk erat punggung sang istri saat mengeluarkan benihnya ke dalam rahim sang istri. Tangannya merapihkan anak rambut yang menutupi kening Arsy lalu mendaratkan ciuman di sana.

__ADS_1


Seperti biasanya usai ibadah bersama, Irzal langsung membawa Arsy ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Setelah memakai kembali pakaiannya, mereka berbaring di atas kasur. Irzal menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka untuk mengurangi rasa dingin. Arsy menelusup masuk dalam pelukan suaminya.


“Mas..”


“Hmm..”


“Aku.. terlambat seminggu.”


“Terlambat? Terlambat apa?”


“Ish.. masa mas ngga ngerti.”


Arsy menepuk pelan dada Irzal. Gemas rasanya sang suami yang tak mengerti apa maksudnya. Irzal terdiam sebentar, mencoba memahami apa arti kata terlambat yang dimaksud oleh sang istri. Kemudian matanya langsung melihat sang istri begitu pria itu sadar akan perkataan Arsy barusan.


“Kamu sudah periksa?”


“Belum. Rencananya besok pagi aku mau test. Tapi aku takut, mas.”


“Maaf ya, sayang. Harusnya mas nahan diri dan tidak melakukannya di masa suburmu. Tapi kalau memang kamu hamil, berarti itu rejeki buat kita dan Allah sudah percaya pada kita.”


Sebuah kecupan kembali mendarat di puncak kepala Arsy. Wanita itu mengeratkan pelukannya di pinggang Irzal. Sejatinya bukan itu yang ditakutkan olehnya. Sejak dirinya menyandang status sebagai istri, melihat betapa besar cinta sang suami padanya. Dia justru ingin memiliki momongan lebih cepat.


🍁🍁🍁


Arsy bangun lebih awal, sebelum adzan shubuh berkumandang. Dia sudah tidak sabar untuk melakukan pengetesan. Tapi ada perasaan aneh saat dirinya bangun dari tidur. Wanita itu merasakan bagian bawahnya terasa basah. Dengan cepat wanita itu turun dari ranjang lalu berlari ke kamar mandi.


Wanita itu terduduk diam di atas kloset. Ternyata dirinya baru saja datang bulan. Kekecewaan langsung menyergapnya. Tadinya dia sudah berharap tinggi akan mendapat kabar bahagia. Tapi ternyata dugaannya salah. Kesibukannya di rumah sakit dan juga masalah yang menimpa Irzal, membuat Arsy sedikit stress hingga berpengaruh pada siklus bulanannya.


Arys tak dapat menahan tangisnya. Wanita itu benar-benar merasa kecewa. Irzal terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara tangis sang istri. Buru-buru pria itu bangun dan mencari sumber suara. Dengan cepat dibukanya pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci.


Irzal terkejut melihat istrinya yang duduk di atas kloset sambil menangis. Pria itu berjongkok di depan Arsy. Dengan lembut dia mengusap rambut sang istri seraya mengusap airmata yang mengalir.


“Kenapa sayang? Kenapa kamu nangis?”


“Mas..”


“Kenapa?”


“Aku ngga jadi hamil.. hiks.. aku baru aja datang bulan hiks..”


Arsy langsung memeluk Irzal dan melanjutkan tangisnya dalam dekapan sang suami. Untuk beberapa saat Irzal terbengong. Kemudian dia mengangkat tubuh sang istri dan menggendongnya kembali ke kamar. Didudukkannya Arsy di sisi ranjang, dengan dirinya berada di sampingnya. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Arsy.


“Sayang.. jangan nangis. Itu tandanya belum rejeki kita. Kamu jadi masih punya waktu untuk menyelesaikan magangmu di rumah sakit.”


“Tapi aku udah mau punya anak, mas.”


“Mas ngerti. Tapi kalau belum rejeki, kita bisa apa? Sabar aja, yang penting kita terus usaha dan jangan lupa untuk berdoa.”


“Begitu aku selesai datang bulan, aku mau ikut promil.”


“Iya.”


“Mas juga jangan teralu capek. Harus banyak makan makanan bergizi, olahraga yang teratur, jangan stress supaya kualitas sp*rmanya baik.”


“Iya.”


“Kita ngelakuinnya juga harus teratur, ngga boleh tiap hari. Posisi juga katanya harus diperhatiin. Oh iya, mas juga harus minum vitamin. Terus jangan…”


Perkataan Arsy langsung terputus ketika Irzal membungkam mulutnya dengan bibirnya. Pria itu menahan tengkuk sang istri agar tidak bisa melepaskan diri dari ciumannya. Setelah beberapa saat, barulah pria itu mengakhirinya.


“Mas iihhh..”


“Abisnya kamu cerewet banget. Ayo siap-siap, sebentar lagi shubuh.”


“Mas aja, aku kan lagi libur.”


“Oh iya.”


Irzal bangun dari duduknya kemudian masuk ke kamar mandi. Setelah menggosok gigi, mencuci muka dan berwudhu, pria itu turun ke lantai bawah untuk menunaikan shalat shubuh berjamaah bersama dengan ayah dan bundanya.


🍁🍁🍁


Hari ini spesial part Irzal dan Arsy ya😉

__ADS_1


__ADS_2