
Daffa Pov
Aku sedang berjaga di IGD ketika papa memanggilku ke ruangannya, lalu mengajakku ke ruang VVIP, katanya ada keluarga Hikmat yang dirawat di sana. Aku tidak terlalu tahu soal keluarga Hikmat, karena diriku tidak berkecimpung di perusahaan. Mungkin saja bang Rakan atau bang Bibie mengenalnya. Yang aku tahu Arsy, juniorku yang sedang menjadi koas di IGD adalah cucu dari keluarga Hikmat.
Bersama bang Aqeel, aku, bang Rakan dan papa menuju ruang VVIP yang berada di lantai 11. Begitu masuk ke sana, ternyata sudah banyak orang yang datang, bahkan bang Aslan dan ayah Elang juga ada di sana. Satu per satu aku dikenalkan dengan semua anggota keluarga Hikmat yang ada di dalam ruangan. Ternyata yang sakit adalah opa Kevin, besannya kakek Abi dan grandpa Juna.
Di antara cucu keluarga Hikmat yang ada di ruangan, ada satu yang menarik perhatianku. Dia adalah gadis cantik dan imut, dia terlihat imut karena postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi. Namanya Geya, itulah nama yang dia sebutkan saat berkenalan denganku. Dia adalah gadis yang ceria dan banyak tersenyum. Dan satu lagi, otaknya sedikit geser. Tapi menurutku itu yang menjadi daya tariknya, selain wajah cantiknya.
Sejak aku di bangku sekolah, banyak perempuan yang mengejarku. Berlanjut ketika aku kuliah, sampai akhirnya aku berada di sini, di rumah sakit Ibnu Sina. Perawat, dokter, bahkan pasien yang berobat ada saja yang berusaha menarik perhatianku. Tapi sampai aku berusia 23 tahun, belum ada gadis yang berhasil membuat hatiku berdesir, kecuali Geya. Dia gadis pertama yang sudah berhasil membuka pintu hatiku.
Hubunganku dengan Abimanyu Hikmat ternyata berlanjut. Setelah pertemuan pertama kami di rumah sakit waktu itu, aku kembali bertemu dengannya saat kakek Abi datang ke IGD dibawa oleh bang Bibie. Rupanya kakek sedang berpura-pura sakit untuk mendekatkan bang Bibie dengan Arsy.
Dari situlah hubunganku dengan kakek Abi mulai akrab. Suatu hari kakek memintaku ke rumahnya. Rupanya kakek memintaku menjadi kaki tangannya untuk menjodohkan cucu-cucunya. Selain ingin menjodohkan Arsy dan bang Bibie, ternyata kakek juga ingin menjodohkan Dayana dengan dokter Rafa.
“Daffa.. kamu mau bantu kakek, ngga?”
“Bantu apa, kek?”
“Jadi kaki tangan kakek untuk bantu menjodohkan Arsy dengan Irzal, juga Aya dengan dokter Rafa.”
“Boleh, kek. Bang Bibie emang harus dijodohin, kalau ngga, bisa-bisa dia jadi perjaka tua. Kan dia jutek banget sama cewek.”
“Hahaha… betul itu. Makanya bantuin kakek, ya.”
“Sip, kek. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Kakek ngga boleh jodoh-jodohin aku, ya. Aku mau dapetin perempuan yang aku suka dengan caraku sendiri.”
“Ok. Memangnya kamu sudah punya perempuan yang kamu suka?”
“Ada sih, kek. Tapi masih terlalu awal juga. Aku mau lihat sikon dulu.”
“Ok. Kalau kamu butuh bantuan, bilang aja ke kakek.”.
“Sip, kek.”
Itulah kesepakatanku dengan kakek Abi. Dan sampai sekarang belum ada orang yang tahu soal perasaanku pada Geya, termasuk keluargaku sendiri. Bukan tanpa alasan aku memilih menyimpan dulu rasa ini. Aku harus berkonsentrasi pada masa residenku yang hanya tinggal satu tahun lagi.
Menjadi kaki tangan kakek Abi untuk membantu perjodohan, aku harus mau berperan jadi apapun. Dan untuk kasus Dayana dan dokter Rafa, aku bertugas sebagai orang ketiga. Tugasku adalah membuat dokter Rafa cemburu dan membuat pria itu menyatakan cintanya pada Dayana.
Akhirnya dua perjodohan itu berhasil dengan baik. Setelah Arsy menikah dengan bang Bibie. Tak lama kemudian Dayana menyusul menikah dengan dokter Rafa. Namun ternyata kecemburuan dokter Rafa masih berlanjut. Saat di rumah kakek Abi sedang diadakan syukuran kehamilan Arsy, dokter Rafa terlihat masih cemburu padaku. Aku terpaksa mengajak Geya masuk ke dalam permainan.
Waktu terus berlalu, dan aku masih berkonsentrasi menyelesaikan residenku. Untuk sementara, aku tepikan dulu perasaanku pada Geya. Namun tak disangka, tak diduga, ternyata Geya memiliki perasaan yang sama denganku. Tanpa sengaja aku membuatnya baper hingga akhirnya dia benar-benar jatuh cinta padaku.
Tentu saja aku senang bukan kepalang, tanpa aku bersusah payah, akhirnya perempuan yang kusukai ternyata memiliki perasaan yang sama. Sebenarnya setelah aku tahu perasaan Geya padaku, aku pun ingin langsung mengakui perasaanku padanya. Tapi aku terpaksa menunda itu semua setelah aku berbincang dengan om Kenan.
“Om.. kok kusut gitu. Ada apa?”
“Geya..”
“Ada apa sama Geya, om?”
“Anak itu, nilai akademiknya jelek banget. Dia itu suka ngga fokus kalau ada yang dia pikirkan atau lakukan. Dan anehnya sekolahnya itu yang selalu menjadi korban. Coba kamu bayangkan, masa IPK-nya ngga sampe 3. Anak itu, susah sekali kalau dikasih tahu. Belum lagi dia susah dibangunkan shubuh. Kalau shalat shubuh pasti di akhir waktu.”
Om Kenan menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan anak perempuan satu-satunya. Mendengar itu, aku jadi mengurungkan niatku untuk mengakui perasaanku padanya. Bagaimana kalau dia akhirnya hanya fokus padaku dan mengabaikan kuliahnya. Aku memutar otak bagaimana caranya membuat gadis itu mau berubah demi kebaikan.
Sebagai permulaan aku ingin membuatnya bisa bangun shubuh. Aku menghubunginya untuk mengecek apakah dia sudah bangun atau belum. Selama beberapa hari aku terus menghubunginya, sampai akhirnya dia terbiasa bangun shubuh tanpa harus dibangunkan atau kutelepon.
Sejak acara telpon-telponan itu, hubunganku dengan Geya semakin dekat. Bahkan dia sempat memintaku untuk melamarnya, benar-benar gadis ajaib. Tapi aku justru semakin dibuat jatuh cinta oleh tingkah absurdnya itu. Akhirnya aku menjanjikan akan menjawab perasaannya setelah residenku berakhir.
Hubungan kami terus terjalin, apalagi saat Geya magang di rumah sakit tempatku bekerja. Intensitas kami untuk bertemu semakin sering saja. Namun aku harus memendam rasa cemburuku saat tahu dokter baru di IGD ternyata mengincarnya juga. Untung saja Geya tidak pernah menanggapi perasaan dokter Ansel. Namun sebagai balasannya, dokter itu malah menindasku. Tapi aku sendiri tidak masalah, asalkan Geya tidak membuka hatinya untuk dokter Ansel.
Saat ini aku sudah menyelesaikan masa residenku. Sesuai janjiku, aku akan menjawab soal pengakuan perasaannya padaku waktu itu. Sekarang aku siap mengakui perasaanku pada Geya. Namun akhir-akhir ini aku melihat fokus Geya kembali terganggu, dia terus saja fokus padaku dan mulai mengabaikan kuliahnya lagi. Aku takut kalau seperti ini, dia akan semakin lama menyelesaikan kuliahnya.
Setelah dipikirkan matang-matang, aku akhirnya memilih jalan lain untuk membantu anak itu mengkatrol nilainya. Dan aku rasa ini adalah pilihan yang tepat. Dan dengan cara ini juga, aku bisa mencegah dokter Ansel untuk mendekati Geya lagi.
Daffa Pov End
Selesai berlari pagi mengelilingi kompleks perumahan di mana kediaman orang tuanya berada, Daffa masuk ke dalam rumah. Kesibukan sudah nampak di dalam rumah, walau hari masih pagi. Ayunda sedang berkutat di dapur bersama asisten rumah tangga mereka untuk menyiapkan sarapan. Sedang Reyhan sedang berjemur bersama cucu pertamanya di halaman belakang.
Aqeel sendiri tengah bersiap untuk berangkat di rumah sakit, dan tentu saja Iza yang menyiapkan semua keperluan suaminya. Daffa segera naik ke lantai dua lalu masuk ke dalam kamarnya. Pria itu mengistirahatkan tubuhnya sebentar untuk mengeringkan keringat yang masih membasahi tubuhnya.
Setelah keringat di tubuhnya kering, pria itu segera masuk ke kamar mandi sambil membawa handuknya. Tak berapa lama kemudian, Daffa selesai dengan ritual mandinya. Setelah berpakaian dan menyisir rambutnya, Daffa segera keluar dari kamar. Hari ini dia akan berbicara dengan kedua orang tuanya soal hubungannya dengan Geya.
Sesampainya di bawah, Daffa segera menuju ruang makan. Di sana semua keluarganya sudah berkumpul. Pria itu segera menarik kursi di samping mamanya. Diliriknya Reyhan yang sedang menikmati sarapannya dengan tenang.
“Pa.. ma.. ada yang mau aku bicarakan.”
__ADS_1
“Soal apa?”
“Aku mau ngelamar Geya.”
Ayunda dan Reyhan menghentikan makannya. Keduanya langsung memandangi anak bungsunya ini. Begitu pula dengan Aqeel. Dia cukup terkejut mendengar adiknya hendak melamar Geya.
“Ngelamar dulu atau mau langsung nikah?” tanya Ayunda.
“Aku pengennya langsung nikah.”
“Tapi Geya masih kuliah,” ujar Reyhan.
“Karena Geya masih kuliah, makanya aku mau langsung nikahin Geya aja, pa.”
“Maksudnya gimana, nih. Mama ngga ngerti.”
“Jadi gini, ma. Geya itu susah fokus sama pelajarannya kalau ada sesuatu yang diinginkannya atau dikejarnya. Mama sama papa tahu sendiri kan, kalau dia suka sama aku. Aku juga punya perasaan yang sama. Tapi aku yakin, dia bakal terus fokus sama aku kalau kami belum nikah, ujung-ujungnya pasti kuliahnya terbengkalai. Makanya aku mau secepatnya aja nikah sama dia, supaya dia fokus dan aku bisa bantu dia beresin kuliah.”
Masih belum ada tanggapan dari Ayunda maupun Reyhan. Kedua orang tua itu masih mencerna apa yang dikatakan anaknya itu. Sebenarnya mereka tidak masalah kalau Daffa mau langsung menikahi Geya. Tapi pernikahan itu butuh persiapan, dan tidak bisa langsung dilakukan. Apalagi Zar juga akan menikah kurang dari dua bulan. Sudah pasti keluarga Hikmat sedang sibuk mempersiapkan pernikahan cucu sulungnya.
“Kamu kan tahu sendiri Zar akan menikah dalam waktu dekat. Pasti keluarga Geya lagi sibuk banget.”
“Aku sama Geya akad dulu aja, ma. Resepsinya bisa menyusul setelah Geya lulus kuliah. Lagian kan aku udah mulai kerja full di rumah sakit, ngga jadi residen lagi. Aku udah punya cukup penghasilan untuk biaya hidup kita nanti.”
“Heleh bilang aja buru-buru nikahin Geya biar ngga digoda sama dokter Ansel lagi. Pake alasan kuliah segala,” celetuk Aqeel.
Dengan kesal Daffa menendang kaki kakaknya ini. Aqeel hanya terkekeh saja. Dia senang mengganggu adik bungsunya ini. Pria itu kembali melihat pada kedua orang tuanya. Menunggu jawaban mereka atas keputusan yang diambilnya.
“Kalau kamu sudah siap, papa hanya bisa mendukung saja. Kapan kamu akan melamarnya?”
“Malam minggu besok, pa.”
“Ok.. nanti papa telepon Kenan. Biar papa yang bicara dengannya.”
“Makasih, pa.”
“Terus nanti kamu mau tinggal di mana?”
“Gantian aja, ma. Di sini atau di rumah kakek Abi, senyamannya Geya aja. Tapi mungkin lebih banyak di sini. Kan di rumah kakek Abi rame. Kalau aku di sana, sepi dong di sini.”
“Bujuk Geya ya, biar mau tinggal di sini.”
Daffa dapat menghembuskan nafas lega, ternyata kedua orang tuanya menyetujui keputusannya. Dia sengaja tidak memberitahukan soal lamaran pada Geya. Biarkan saja ini menjadi kejutan indah untuk gadis itu.
🍁🍁🍁
Setelah berbicara panjang lebar dengan Kenan, akhirnya Reyhan dan anak bungsu Abi itu memutuskan untuk langsung saja menikahkan Geya dan Daffa tanpa lamaran. Kenan setuju dengan ide Daffa. Anaknya itu memang sulit berkonsentrasi untuk kuliah, saat ini yang ada di pikirannya, hanya Daffa dan Daffa saja.
“Jadi kamu maunya langsung nikah aja nih?” tanya Reyhan memastikan.
“Iya, mas. Lebih baik begitu. Nanti Daffa bakal bantu mengarahkan Geya.”
“Ok, kalau begitu aku bakal urus semuanya mulai sekarang.”
“Soal penghulu, mas ngga usah khawatir. Papa punya banyak kenalan di KUA. Biar mendadak, pasti bisa dapet penghulu yang akan menikahkan mereka.”
“Waktunya mau kapan? Sabtu atau Minggu?”
“Minggu pagi aja, gimana? Biar Sabtunya bisa gelar pengajian dulu.”
“Hmm.. betul juga. Ok kalau begitu, aku bakal minta kak Rain urus semua. Eh tapi kamu ngga nanya Geya dulu? Anak itu mau ngga langsung dinikahin sama Daffa?”
“Ah di amah ngga usah ditanya, udah pasti mau, bisa kegirangan malah. Di otaknya sekarang kan cuma Daffa doang. Dia semangat magang juga karena ada Daffa di sana. Kemarin waktu Daffa sibuk dan ngga ketemu sama dia, malah ogah-ogahan berangkat magang. Astaga tuh anak, mirip siapa,” Kenan menepuk keningnya.
“Ya mirip kamulah, masa mirip tukang sayur keliling, hahaha..”
Kenan ikut tertawa mendengar ucapan calon besannya. Kalau dipikir-pikir tingkah Geya memang mirip dirinya waktu muda. Bedanya dia masih bisa fokus menyelesaikan kuliah demi bisa menikahi Zahra. Tapi Geya berbeda, mungkin karena dia perempuan, makanya tidak terlalu memikirkan itu.
“Setelah akad nikah, sorenya aku mau adakan syukuran kecil-kecilan di rumah, mengundang tetangga dekat. Pernikahan kan kabar baik, harus diumumkan takutnya malah menjadi fitnah. Karena mungkin Geya akan tinggal bersama kami,” ujar Reyhan.
“Iya, mas. Aku juga mau undang tetangga dekat. Seperti mas bilang, supaya tidak terjadi fitnah nantinya.”
“Soal maharnya bagaimana?”
“Aku serahkan pada Daffa dan mas saja. Aku juga yakin Geya tidak akan mempermasalahkan mahar apa yang akan diberikan oleh Daffa, yang penting Daffa sudah sah menjadi suaminya.”
“Hahaha.. anakmu itu loh, antik banget. Tapi jujur, aku suka Geya.”
Kenan tersenyum lega mendengar calon besannya ternyata menyukai Geya. Awalnya dia khawatir kalau Reyhan sempat tidak bersimpati karena drama pernikahan Rakan dan Vanila. Walau akhirnya Vanila membatalkan niat tinggal terpisah dengan Rakan, tapi di awal wanita itu sempat mengecewakan Reyhan juga dengan ide anehnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Daffa sangat senang mendengar hasil pembicaraan antara Reyhan dengan Kenan. Kini dia hanya memikirkan mahar yang pas untuk Geya. Tadi dia sudah berdiskusi dengan Rain dan mamanya. Kedua wanita itu mengusulkan mahar seperangat alat shalat yang ditambah dengan perhiasan emas saja.
Dari pada menerka-nerka, lebih baik menanyakan langsung pada calon pengantin. Daffa masuk ke dalam kamarnya, lalu menghubungi Geya. Awalnya pria itu akan melakukan panggilan telepon saja, namun dia langsung menggantinya dengan panggilan video. Sudah tiga hari dia tidak bertemu dengan Geya, dan rasanya rindu sekali ingin melihat wajah cantik calon istrinya. Setelah menunggu beberapa saat, Geya menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum, abang,” wajah cantik Geya langsung memenuhi layar ponsel.
“Waalaikumsalam. Lagi apa?”
“Lagi golar-goler ngga jelas. Ngga ada kerjaan.”
“Kamu ngga kerjain laporan magang?”
“Nanti ajalah, lagi mager.”
“Ehmm.. kamu punya usul ngga kalau buat mahar bagusnya apa?”
“Mahar buat siapa?”
“Tadi Renata ke sini. Dia minta pendapat mama sama Iza soal mahar pernikahannya nanti.”
Daffa tidak berbohong, tadi memang Renata datang ke rumahnya. Wanita itu memang meminta pendapat Rain dan Ayunda soal mahar pernikahannya dengan Zar. Namun Daffa tidak mengatakan kalau tujuannya bertanya itu untuk mengetahui keinginan Geya.
“Syukur deh. Aku pikir mahar buat calon istri abang.”
“Hahaha…”
Emang buat calon istriku. Dan calonnya itu kamu.
Geya nampak terdiam sebentar. Gadis itu masih memikirkan mahar apa yang pantas untuk calon istri kakak sepupunya.
“Kalau seandainya yang nikah kamu. Kamu mau mahar apa?” tanya Daffa.
“Kalau aku, simple aja sih. Seperangkat alat shalat sama emas. Tapi emas Antam. Kan lumayan bisa buat investasi juga, hehehe..”
“Oh gitu, ya.”
“Iya. Eh itu kalau aku, kalau kak Rena mungkin ngga sama pikirannya kaya aku. Kali aja kak Rena mau perhiasan atau berlian gitu.”
“Kamu kenapa ngga mau emas dalam bentuk perhiasan? Kan sama bisa buat investasi juga.”
“Ngga ah.. aku lebih suka emas batangan. Mau beratnya cuma 1 gram yang penting bentuknya batangan.”
“Hahaha.. mana ada emas batangan beratnya 1 gram, ngaco aja kamu.”
“Hahaha iya, ya. Udah ah jangan ngomongin mahar, kan aku jadi nganan pengen cepet-cepet dihalalin sama abang.”
Suara tawa Daffa kembali terdengar. Kalau saat ini Geya ada di dekatnya dan hubungan mereka sudah sah, ingin rasanya dia memeluk dan mencium gadis menggemaskan itu. Andai Geya tahu bagaimana dia menekan perasaannya mati-matian untuk tidak memeluk dan mencium gadis itu sebelum waktunya.
“Abang ngga lupa kan, soal janji kencan akhir minggu ini?”
“Ngga dong. Hari Minggu pagi aku ke rumah.”
“Ok, bang. Abang juga jangan lupa janji abang yang lain.”
“Janji apa?”
“Abang kan mau kasih jawaban soal kita habis residen.”
“Iya, abang ngga lupa kok. Hari Minggu pagi, abang bakalan ke rumah kamu dan kasih jawaban yang kamu tunggu-tunggu. Dandan yang cantik ya.”
“Ok, bang.”
“Udah dulu, ya. Abang masih ada kerjaan. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Layar ponsel Daffa kembali menunjukkan wallpaper ponselnya. Pria itu langsung bersiap untuk membeli mahar yang diinginkan Geya. Untung saja pria itu sudah memiliki cukup tabungan. Selain gajinya dari rumah sakit, setiap tahunnya dia mendapatkan keuntungan dari Infinity Corp. Farel selalu mengirimkan deviden ke rekening Daffa, karena dia juga memiliki saham di sana, sesuai amanat almarhum Irzal.
Semua cucu yang hadir setelah kepergiannya, akan mendapatkan saham dari perusahaan baru. Untuk cucu yang hadir saat dirinya masih ada, mendapat jatah dari Humanity. Terhitung ada enam orang yang memiliki saham di Infinity. Selain Irzal dan Daffa, masih ada dua anak Farel dan anak bungsu pasangan Dimas dan Firly.
Sambil bersiul, Daffa keluar dari kamarnya. Sebelum pergi, dia berdiskusi dulu dengan Rain dan Ayunda. Di mana sebaiknya dia membeli emas batangan sebagai mahar untuk calon istrinya.
🍁🍁🍁
**Tuh yang bertanya² soal perasaan Daffa udah kejawab ya.
Dan soal Abi yang ngga mau bantu Geya juga udah kejawab.
__ADS_1
Yang belum kejawab, gimana reaksi Zar kalo tau dia ditikung🤣**