
Arga calling…
Sudut mata Adisty menangkap nama yang tertera di layar ponselnya. Hatinya mendengus kesal, untuk apalagi mantannya itu menelpon. Gadis itu memilih untuk mengabaikannya saja. Tapi ternyata pria itu tidak menyerah. Setelah deringan berhenti, ponsel itu kembali berbunyi. Adisty hanya menatapnya saja, namun enggan untuk menjawab.
Panggilan belum berakhir, Arga tetap dengan gigih menghubungi mantan kekasihnya dan Adisty bersikeras untuk tidak mengangkatnya. Tak lama terdengar dentingan, tanda sebuah pesan masuk. Sebuah pesan dari Arga masuk.
From Arga :
Tolong angkat teleponku.
Kembali Adisty mengabaikan pesan tersebut. Gadis itu sudah tidak ingin berhubungan dengan lelaki yang pernah memberikan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun ternyata Arga hanyalah pria pengecut yang tidak berani memperjuangkan cinta mereka. Dengan alasan dijodohkan orang tuanya, dia mengakhiri hubungan begitu saja.
Tak mendapat balasan dari Adisty, Arga masih belum menyerah. Dia kembali mengubungi sang mantan. Karena kesal Arga masih terus saja menghubunginya, akhirnya Adisty menjawab panggilan tersebut.
“Halo..”
“Halo, Dis. Bisa kita ketemu?”
“Buat apa?”
“Ada yang mau aku bicarain.”
“Soal apa?”
“Soal kita.”
“Soal kita? Bukannya cerita kita udah tamat dengan rating yang sangat tidak memuaskan, dengan akhir sad ending,” sindir Adisty.
“Dis.. please.”
Adisty menghembuskan nafasnya kesal. Arga tahu sekali kalau dirinya terkadang tidak tegaan. Dan dia menggunakan kelemahannya itu untuk mendapatkan keinginannya. Dengan berat hati Adisty menyetujui pertemuan tersebut. Arga segera menyebutkan di café mana mereka akan ketemu.
Walau enggan, akhirnya Adisty menuruti keinginan Arga. Gadis itu bangun lalu membuka pintu lemari. Dipilihnya pakaian yang akan dikenakannya saat bertemu dengan mantan terindahnya. Sehelai celana kulot plisket berwarna khaki sudah membungkus kaki jenjangnya. Untuk atasan, Adisty mengenakan blouse dengan garis leher berbentuk V atau surplice warna putih.
Dia lalu mengenakan sandal model ankle-strap heels, dengan tali melintang di bagian pergelangan kaki. Setelah memasukkan ponsel dan dompet ke dalam shoulder bagnya, gadis itu keluar dari kamar. Tak lupa dia membawa kunci mobilnya.
Dengan kecepatan sedang Adisty memacu kendaraan menuju café Magnolia, tempat di mana dirinya akan bertemu dengan Arga. Dia sengaja datang terlambat, ingin membuat pria itu menunggunya. Dua puluh lima menit kemudian, Adisty tiba di café Magnolia. Matanya menatap sekeliling, mencoba mencari keberadaan Arga.
Aidan yang baru keluar dari toilet, bergegas kembali ke mejanya. Pria itu mendudukkan lagi bokongnya di kursi. Sedang kliennya masih memeriksa dokumen yang tadi diserahkannya. Tangan Aidan mengambil gelas di depannya, lalu menyeruputnya. Matanya membelalak saat melihat Adisty masuk ke dalam café dan berjalan menuju ke arahnya.
Langkah Adisty berhenti di meja yang hanya terhalang dua meja saja dari Aidan. Mata gadis itu memicing melihat Arga duduk menunggunya bersama dengan wanita yang dikenalnya. Dia adalah Maya, sahabatnya saat kuliah di London. Sebenarnya Adisty terkejut melihat Maya bersama dengan mantan kekasihnya.
“Maya,” panggil Adisty seraya menarik kursi di depan sahabatnya itu. Maya hanya melemparkan senyum tipis saja. Lalu dia memberi isyarat pada Arga.
“Dis.. aku minta kamu ke sini, mau kasih kamu ini.”
Arga mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu memberikan pada Adisty. Kening Adisty berkerut melihat selembar undangan di atas meja. Ternyata Arga masih belum puas menyakitinya. Pria itu sekarang hendak memamerkan pertunangannya. Dengan malas Adisty mengambil undangan tersebut. Matanya membulat melihat nama calon tunangan Arga.
“Maya..” desisnya.
“Sorry, Dis..” ujar Maya.
“Jadi calon yang dipilih orang tua kamu itu Maya?” tanya Adisty tidak percaya.
“Iya,” jawab Arga pelan.
Sebenarnya Arga tidak nyaman memberikan undangan tersebut pada Adisty. Dia tidak tega harus kembali menyakiti hati wanita yang selama ini setia menemaninya. Namun Maya yang memaksanya melakukan ini. Hubungannya selama tiga tahun harus kandas karena kesalahan semalam. Maya bukanlah wanita yang dipilihkan orang tuanya. Perjodohan adalah alasan yang digunakan Arga untuk berpisah dengan Adisty. Karena mabuk, Arga dan Maya tanpa sadar melakukan hubungan intim. Dan sekarang Maya hamil, dirinya harus bertanggung jawab atas itu.
“Selamat, Ga.. May.. aku doain semoga kalian bahagia. Setidaknya aku tenang karena perempuan yang dijodohkan dengan Arga, sahabatku sendiri.”
“Dijodohkan?” tanya Maya.
“May.. ayo kita pulang,” ajak Arga.
“Sebentar, apa maksudmu dijodohkan?” tanya Maya lagi.
“Bukankah kalian bertunangan karena kalian dijodohkan?” tanya Adisty bingung.
Arga memejamkan matanya. Dia tidak ingin Adisty tahu kenyataan yang sebenarnya. Pasti itu akan sangat menyakiti hatinya. Ternyata wanita yang sudah merebut kekasihnya adalah sahabatnya sendiri. Arga terus mengajak Maya pulang. Namun sepertinya wanita itu belum puas untuk menyakiti Adisty.
Sahabat hanyalah pertemanan palsu yang ditawarkan Maya pada anak dari Fathan dan Azra itu. Sebenarnya dia tidak menyukai Adisty. Apa yang ada dalam diri gadis itu membuatnya iri. Cantik, pintar dan berasal dari keluarga berada sungguh membuatnya muak. Apalagi pria yang diincarnya ternyata menjalin hubungan dengan Adisty. Sejak saat itu Maya mendekati Adisty, menawarkan persahabatan, dan menusuknya dari belakang di saat yang tepat.
“Arga ngga pernah dijodohin, Dis. Diam-diam aku dan Arga menjalin hubungan di belakangmu.”
__ADS_1
“May..” tegur Arga.
“Kenapa Ga? Kenapa harus ditutupin?"
“Itu semua hanya kesalahan.”
“Saat kita mabuk dan tidur bersama, ya.. itu adalah kesalahan. Tapi saat kamu datang lagi padaku dan kita melakukan hubungan intim berulang-ulang, apa itu kesalahan?”
“Kalian..”
Adisty tak sanggup menyelesaikan kata-katanya. Hatinya sakit dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya. Sakitnya beribu-ribu kali lebih dalam saat Arga memutuskannya. Kedua mata gadis itu mulai berembun, tangannya mengepal erat memandangi kedua pengkhianat di depannya. Namun yang membuatnya semakin terluka, senyum kemenangan di wajah Maya tercetak begitu jelas.
“Terima kasih, akhirnya aku tahu alasan sebenarnya Arga memutuskanku. Aku ngga nyangka, Ga. Aku pikir kamu itu laki-laki baik, tapi ternyata kamu ngga lebih dari laki-laki pemuja sel*ngkangan!”
Adisty menyambar tasnya yang ada di atas meja, lalu bergegas meninggalkan pasangan tersebut. Aidan yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka cukup terkejut sekaligus prihatin. Melihat Adisty yang tiba-tiba pergi, pria itu pun segera berpamitan pada kliennya. Urusannya sudah selesai, dan sekarang dia ingin mengejar Adisty yang terlihat kalut.
Dengan kecepatan tinggi Adisty memacu kendaraannya. Airmata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. Gadis itu mulai terisak sambil terus memacu mobilnya. Tepat di belakang mobil Adisty, Aidan terus mengejarnya.
Adisty membelokkan kendaraannya memasuki jalanan yang tidak terlalu ramai dengan lalu lalang kendaraan. Dia masih belum mengurangi kecepatannya. Tiba-tiba saja gerobak pedagang es cincau muncul dari salah satu belokan. Adisty yang terkejut mencoba menghindar dengan membanting stirnya. Laju kendaraannya jadi tidak terkendali dan menabrak trotoar di samping jalan.
“Aaaaaaa!!”
Terdengar teriakan Adisty sebelum mobilnya menghantam trotoar kemudian berhenti ketika menabrak tiang lampu jalan. Seketika air bag dari kemudinya mengembang dan menghalangi kepalanya dari benturan. Karena shock, Adisty jatuh pingsan.
Melihat itu, Aidan langsung menghentikan kendaraannya. Bergegas dia berlari ke arah mobil gadis itu. Beberapa orang yang ada di sana langsung mengerubungi kendaraan roda empat tersebut. Aidan menghalau orang-orang yang menghalangi pandangannya. Dia terkejut melihat Adisty yang terkulai lemah dengan kepala berada di air bag.
“Disty!!” panggilnya.
Aidan berusaha membuka pintu mobil, namun gagal karena terkunci dari dalam. Dia berlari ke mobilnya lalu kembali dengan kunci roda di tangannya. Pria itu memukulkan kunci tersebut ke jendela penumpang bagian belakang. Begitu kaca jendela berhasil dipecahkan, tangannya menerobos melalui celah pecahan dan membuka kunci pintu.
Aidan masuk ke bagian belakang mobil lalu membuka kunci bagian depan. Pria itu kembali keluar kemudian membuka pintu mobil. Pelan-pelan dia melepaskan sabuk pengaman di tubuh Adisty lalu membopongnya keluar. Sambil membopong tubuh Adisty, pria itu berlari ke mobilnya. Dia meminta seseorang di sana untuk membukakan pintu mobilnya.
Dengan hati-hati Aidan menaruh tubuh Adisty di jok belakang. Pria itu segera duduk di belakang kemudi, lalu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Menuju rumah sakit Ibnu Sina yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi kecelakaan.
🍁🍁🍁
Perlahan Adisty membuka matanya. Bau obat-obatan dan disinfektan langsung menyapa indra penciumannya. Matanya mulai mengedar ke sekeliling. Dia mendapati Arsy, sepupunya, duduk di dekatnya.
“Sy..” panggil Adisty.
“Gue di mana?”
“Lo di rumah sakit. Tadi lo kecelakaan.”
Adisty mencoba mengumpulkan kepingan ingatan apa yang menimpanya tadi. Karena tidak berhati-hati saat mengemudi, hampir saja dirinya menabrak pedagang cingcau dan membuatnya langsung membanting setir. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi.
“Ada yang celaka ngga gara-gara gue?”
“Ada.”
“Hah? Siapa?”
“Trotoar sama tiang lampu jalan. Siap-siap aja lo diminta ganti rugi sama bina marga, hihihi..”
“Rese, lo.”
Namun tak ayal senyum Adisty mengembang juga. Dia bersyukur tidak ada korban jiwa akibat dari kelalaiannya. Pertanyaan selanjutnya yang ada di benaknya, siapa yang sudah membawanya ke sini.
“Yang bawa gue ke sini siapa?”
“Aidan.”
“Aidan? Siapa tuh?”
“Sahabat sekaligus asistennya mas Bibie.”
“Mas Bibie siapa?”
“Suami gue. Astaga, lo kayanya harus cepet-cepet di CT Scan nih.”
“Suami lo kan namanya Irzal. Udah ganti nama sekarang?”
Arsy hanya menepuk keningnya saja mendengar ucapan sepupunya. Dia bangun dari duduknya, lalu menuju meja perawat. Arsy menjadwalkan Adisty untuk segera CT Scan. Dia perlu mengecek apakah sepupunya itu terdapat luka benturan di kepala.
__ADS_1
“Sy.. gimana keadaan Disty?” tanya Adian yang masih berada di rumah sakit.
“Udah sadar. Tapi buat jaga-jaga, mau di CT Scan dulu.”
“Oohh..”
“Mau lihat? Masuk aja, sapa tau jodoh, hehehe..”
“Weh… istri sobatku emang the best deh.”
Aidan melemparkan senyumnya. Tahu saja Arsy kalau dirinya yang jomblo ini butuh calon untuk menemani hidupnya yang sepi, sesepi keadaan di kuburan saat malam. Arsy mengajak Aidan memasuki bilik yang ditempati Adisty.
“Dis.. kenalin Aidan. Super hero yang udah nyelamatin elo.”
“Lebay.”
Adisty mengulurkan tangannya pada Aidan. Dada pria itu berdesir menyambut uluran tangan halus Adisty. Apalagi ketika mendengar gadis itu menyebutkan namanya. Suaranya lembut, selembut tahu sutra.
“Panggilannya apa? Kalo Aid ngga enak banget. Kaya nama penyakit.”
Baru saja memuji kalau gadis di depannya memiliki kecantikan paripurna, ditunjang dengan kulit halus dan suara lembutnya. Ternyata keturunan keluarga Hikmat tetaplah sama. Ada saja ucapan nyeleneh yang keluar dari mulutnya. Seingatnya Adisty baru saja mengalami patah hati, tapi ucapannya sudah bikin Aidan lumayan gondok.
“Ya ngga usah panggil Aid juga.”
“Terus panggil apa? Kalo Ai, kaya lagu Doel Sumbang. Terus masa pejantan dipanggil Ai.”
Aidan memejamkan matanya. Harusnya dia ingat kalau yang patah itu hatinya Adisty, bukan lidahnya. Wajar saja kalau gadis itu melontarkan kalimat absurdnya. Arsy hanya terkikik geli mendengar perbincangan kedua orang di depannya.
“Panggil aja nama belakangnya, Dan. Kan beres,” sela Arsy.
“Kaya kata sambung, Dan.”
“Astaga! Terserah kamulah mau panggil apa,” kesal Aidan.
Wajah Aidan yang semula sumringah, langsung berubah kusut. Baru membahas nama panggilan saja, sudah membuatnya pusing. Apalagi kalau dia tiba-tiba melamar Adisty. Bisa-bisa dia dibuat mendadak gagu dengan seribu ucapan absurdnya.
“Sy.. kapan gue CT Scan?”
“Bentar lagi. Tunggu aja. Kenapa emangnya?”
“Gue laper.”
Tak lama kemudian seorang suster datang dan siap mengantarkan Adisty untuk melakukan CT Scan. Seorang rekannya datang untuk membantu dengan membawa kursi roda. Adisty berpindah ke kursi roda, lalu segera menuju ruang CT Scan. Aidan memilih menunggu di ruang tunggu IGD. Daffa yang baru selesai operasi langsung menghampiri sahabatnya itu.
“Lagi ngapain di sini, bang?” tanya Daffa seraya mendudukkan bokongnya di samping Aidan.
“Lagi nunggu Adis. Tadi dia kecelakaan, sekarang lagi di CT Scan.”
“Adis siapa?”
“Sepupunya bini lo. Masa kaga tau.”
“Oh yang nemenin Geya pas akad ya.”
“Iya.”
“Lagi mepet ceritanya?”
“Ck.. namanya juga orang usaha.”
“Mepet boleh, tapi jangan sampe nyalip si Zar. Kasihan tuh orang, nanti malah tambah nangis kejer dia. Mana Arya udah dapet lampu ijo dari Shifa.”
“Serius? Wah gue tambah semangat buat nyalip si Zar.”
“Nyalip di tikungan lagi?”
“Kagalah. Nyalip tepat di dekat garis finish itu lebih maknyus rasanya, hahaha…”
“Hahaha..”
Tawa kedua pria itu langsung terdengar. Mereka sedang membayangkan bagaimana reaksi Zar nanti kalau kembali mendapat salipan. Sedang pria yang digadang-gadang akan kembali menerima salipan harus segera berangkat ke Thailand untuk urusan pekerjaan. Sungguh malang nasib Zar. Di saat dirinya serius bekerja. Di tanah air, sahabat dan sepupunya sedang sibuk menyusun rencana untuk menyalipnya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Elah Aidan cita² mau nyalip. Taklukin dulu aja Adisty yang lagi patah hati tapi bukan patah lidah🤣