Hate Is Love

Hate Is Love
Cicit


__ADS_3

Di tengah rasa lelahnya, Arsy terus melayani pasien yang datang silih berganti ke IGD tempatnya bertugas. Sudah seminggu ini wanita itu merasakan tubuhnya gampang sekali lelah. Selain itu, dia juga mudah mengantuk, mudah marah dan selalu ingin dekat dengan suaminya. Sebagai seorang dokter, tentu saja dia mengalami perubahan yang dirasakannya.


Arsy mendudukkan diri di dekat meja perawat setelah pasien terakhirnya. Tak lama Daffa datang menyusul lalu berdiri di dekatnya. Mata pria itu memandangi wajah Arsy yang sedikit pucat.


“Sy.. muka kamu pucat. Kamu sakit?”


“Masa sih?”


Kedua tangan Arsy meraba wajahnya, kemudian dia meletakkan jari di pergelangan tangannya, memeriksa denyut nadinya sendiri. Wanita itu kemudian berdiri dan meninggalkan IGD. Tak dijawabnya pertanyaan Daffa yang heran melihatnya buru-buru meninggalkan ruangannya bertugas.


Arsy melangkah menuju tangga yang ada di bagian informasi, dia bermaksud menuju lantai dua. Dia terus berjalan menyusuri deretan ruang praktek. Kemudian langkahnya berhenti di depan ruang praktek dokter kandungan. Dilihatnya pasien terakhir baru saja masuk. Arsy mendudukkan diri di kursi tunggu.


Setelah sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya pasien tekahir tadi keluar juga. dia segera bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam ruangan praktek. Dokter Suci, salah satu dokter kandungan senior di rumah sakit ini terekjut melihat kedatangan Arsy yang tiba-tiba. Wanita itu mendudukkan diri di depan dokter wanita tersebut.


“Maaf dok, aku datang mendadak. Cuma mau mastiin aja.”


“Ngga apa-apa. Kamu mau mastiin apa?”


“Saya sepertinya hamil, dok.”


“Kapan kamu terakhir menstruasi?”


Sejenak Arsy terdiam untuk mengingat hari terakhirnya datang bulan. Wanita itu menepuk keningnya saat sadar kalau dirinya sudah terlambat satu minggu dari jadwal. Karena kejadian seperti ini sudah terjadi sebelumnya, jadi Arsy tidak terlalu memperhatikan terlambatnya jadwal datang bulan.


“Seminggu yang lalu harusnya, dok. Bulan kemarin juga aku terlambat, tapi hasilnya negatif.”


“Kita periksa dulu.”


Arsy bangun dari duduknya, kemudian menuju bed pemeriksaan. Suster yang membantu dokter kandungan, segera menyiapkan USG untuk memeriksa Arsy. Setelah mengoleskan gel ke perut dokter muda itu, Suci mulai menggerakkan probe ke perut wanita itu.


“Selamat ya Arsy, kamu akan menjadi seorang ibu. Lihat titik hitam itu, dia calon anakmu.”


Rasa haru langsung menyeruak, mata wanita itu nampak berkaca-kaca melihat titik hitam di layar. Selesai melakukan pemeriksaan USG, sang perawat membersihkan sisa gel di perut Arsy. Wanita itu juga segera turun dari bed dan kembali ke tempat duduknya tadi.


“Usianya masih 5 minggu, masih sangat muda. Kamu jangan terlalu letih, ada baiknya kamu cuti dulu dari magangmu. Apalagi bekerja di IGD menguras banyak energi.”


“Iya, dok.”


Suci memberikan dua lembar foto hasil USG pada Arsy. Dia juga memberikan resep vitamin dan penambah darah juga untuk mengurangi mual. Wajah Arsy nampak bahagia, akhirnya dia bisa mengandung dan memberikan keturunan untuk suaminya.


“Obat mualnya diminum kalau mual saja.”


“Iya, dok. Makasih.”


Dengan wajah sumringah, Arsy keluar dari ruangan dengan resep dan hasil USG di tangannya. Di saat bersamaan, Reyhan melintas di depan Arsy. Matanya langsung tertuju pada benda yang ada di tangan istri dari keponakannya itu.


“Arsy..” tegur Reyhan.


“Papa,” Arsy meraih tangan Reyhan lalu mencium punggung tangannya.


“Kamu…”


“Iya, pa.”


“Alhamdulillah. Papa turut senang mendengarnya. Bibie sudah tahu?”


“Belum, pa.”


“Cepat hubungi Bibie, pasti dia senang sekali. Dan besok sampai seminggu ke depan kamu ngga usah tugas dulu.”


“Makasih, pa.”


Reyhan mengusak puncak kepala Arsy, kemudian berjalan menuju lift. Arsy mendudukkan diri di kursi yang ada di sana, dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi suaminya. Sudah beberapa kali panggilan, namun Irzal belum menjawab panggilannya. Wanita itu memasukkan kembali ponsel ke saku jasnya lalu berjalan menuju apotik untuk menebus resep yang diberikan.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya terdengar apoteker memanggil namanya. Arsy bergegas menuju loket apotik dan menerima obat yang diperuntukkan untuknya. Baru saja dia meninggalkan area apotik, ponsel di saku jasnya bergetar. Senyum terbit di wajah cantiknya begitu melihat sang suami yang menghubunginya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Maaf ya sayang, tadi mas lagi rapat.”


“Ngga apa-apa, mas.”


“Ada apa sayang?”


“Mas bisa jemput aku sekarang?”


“Sekarang?”


“Iya, badanku lemas banget, mas.”


“Aku jemput kamu sekarang.”


“Makasih, mas.”


Setelah panggilannya dengan Irzal berakhir, Arsy menghubungi mamanya. Sejak kemarin dia sangat ingin dimasakkan sesuatu oleh mamanya itu. Tak butuh waktu lama Nara untuk menjawab panggilan anaknya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Mama..”


“Kenapa?”


“Ma.. aku pengen makan udang saos padang.”


“Kapan?”


“Sekarang. Ya ma, ya.. masakin.”


“Ya udah. Kamu ke rumah aja.”


“Asik.. makasih ma. Mmuuaacchh..”


Masih menyisakan senyum di wajahnya, Arsy kembali ke IGD. Dia mencari Daffa. Pria itu baru selesai memeriksa pasien yang datang. Dia menghampiri Daffa yang berdiri di dekat meja perawat.


“Daf.. aku mau istirahat dulu. Nanti kalau mas Bie datang suruh ke sana aja ya.”


“Ok.”


Setelah menitipkan pesan, Arsy keluar dari IGD, dia segera menuju ruang tidur yang diperuntukkan dokter yang berjaga malam. Ruangan nampak sepi ketika wanita itu masuk ke dalamnya. Arsy segera membaringkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya benar-benar terasa lelah, dan matanya sudah memberat.


🍁🍁🍁


Arsy terbangun dari tidurnya ketika merasakan kecupan di keningnya. Perlahan dia membuka mata. Nampak suaminya berjongkok di dekatnya. Arsy mengalungkan kedua tangannya pada Irzal dan meminta suaminya itu untuk menciumnya. Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Arsy.


Perlahan wanita itu bangun dari posisi berbaringnya dan mendudukkan diri di sisi ranjang tingkat yang ditidurinya tadi. Matanya menatap dalam pada sang suami yang masih berjongkok di depannya. Tangan Irzal mengusap wajah sang istri yang terlihat sedikit pucat.


“Kamu sakit, sayang?”


“Ngga, mas.”


Mata Arsy mencari keberadaan jasnya. Tangannya terulur mengambil jas snelinya yang tersampir di tangga ranjang. Dari saku jasnya dia mengeluarkan hasil cetak USG yang diberikan dokter Suci tadi lalu memberikannya pada Irzal. Mata Irzal memandangi kertas foto di tangannya tanpa berkedip.


“Sayang.. kamu hamil?”

__ADS_1


“Iya, mas. Ini.. anak kita,” Arsy memegang perutnya yang masih rata.


Rona bahagia terlihat jelas di wajah Irzal. Dia memeluk sang istri seraya mendaratkan ciuman bertubi di puncak kepalanya. Sebagai pria yang sudah menikah, sudah pasti memiliki keturunan adalah keinginan terbesarnya.


“Makasih, sayang, makasih.”


Puas menciumi puncak kepala istrinya, Irzal lanjut menciumi wajah cantik Arsy. Sebuah ciuman kembali diberikan pria itu ke bibir Arsy.


“Kamu mau apa, sayang?”


“Aku mau ke rumah mama. Aku udah minta dimasakin udang saos padang. Ngga sabar pengen makan itu, mas.”


“Ayo kita ke rumah mama.”


“Aku ganti baju dulu.”


Irzal hanya menganggukkan kepalanya. Dia bangun kemudian membantu sang istri untuk bangun. Sambil memeluk bahu Arsy, Irzal keluar dari ruang tidur tersebut. Keduanya segera menuju ruang ganti. Irzal memilih menunggu di luar, sedang Arsy masuk ke dalam. Daffa yang baru keluar dari ruang istirahat, segera menghampiri Irzal.


“Arsy sakit, bang?” tanya Daffa.


“Ngga.”


“Tapi mukanya pucat loh.”


“Daf.. gue mau jadi ayah!”


“Hah? Wah selamat bang!”


Daffa memberikan pelukan selamat pada kakak sepupunya yang akan segera menjadi ayah. Ternyata wajah pucat Arsy karena wanita itu sedang berbadan dua. Arsy yang sudah selesai berganti pakaian, tersenyum melihat dua lelaki di depannya yang sedang berpelukan.


“Sy.. selamat ya.”


“Makasih, Daf.”


“Kamu ngga usah tugas dulu.”


“Iya, tadi ketemu papa Rey. Kata papa aku disuruh istirahat seminggu.”


“Istirahat aja. Nanti biar aku atur ulang jadwalnya.”


“Makasih, Daf.”


“Udah siap, sayang?” tanya Irzal.


“Udah.”


“Daf.. kita balik dulu.”


“Iya, bang.”


Tangan Irzal melingkar di pinggang Arsy, kemudian mengajak istrinya itu keluar. Daffa masih terpaku di tempatnya. Pria itu merasa bahagia, sebentar lagi dia akan mendapat keponakan baru.


Irzal meminta Arsy menunggu di depan lobi rumah sakit, sedang dirinya mengambil mobil. Pria itu segera turun dari mobil sesampainya di depan lobi untuk membukakan pintu bagi sang istri tercinta. Setelah yakin sabuk pengaman sudah terpasang, pria itu baru melajukan kendaraannya lagi.


“Mama udah tahu, sayang?”


“Belum, mas. Baru mas, papa Rey sama Daffa yang tahu. Bunda sama ayah nanti aja pas kita pulang ke rumah kasih tahunya.”


“Iya.”


Kaki Irzal kembali menekan pedal gas untuk menambah kecepatan mobilnya. Diraihnya tangan Arsy kemudian mendaratkan ciuman di punggung tangan wanita itu. Sepanjang perjalanan menuju kediaman mertuanya, Irzal tak lepas menggenggam tangan istrinya.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mobil yang dikendarai Irzal sampai juga di depan kediaman Kenzie. Pria itu bergegas turun kemudian membukakan pintu untuk Arsy. Keduanya kemudian melangkah memasuki pekarangan rumah. Nara yang mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumahnya, segera membukakan pintu.


“Mama,” Arsy langsung menghambur pada sang mama.


“Iya, ma. Aku pengen makan udang saos padang buatan mama.”


“Kamu…” Nara tak melanjutkan ucapannya. Dia melihat curiga pada anaknya.


“Iya, ma. Alhamdulillah, Arsy hamil,” seru Irzal.


“Alhamdulillah, mama mau jadi nenek.”


Sebuah pelukan erat diberikan oleh Nara untuk putri satu-satunya. Wanita itu kemudian menggandeng sang anak masuk ke dalam rumah. Dia langsung membawa Arsy menuju ruang makan. Di sana udang saos padang pesanan anaknya sudah tersaji di meja, lengkap dengan nasi hangat dan cah kangkung.


“Papamu sudah tahu?” tanya Nara sambil mengambilkan nasi dan lauknya untuk sang anak.


“Belum. Mama aja yang kasih tahu..”


“Ayah sama bundamu?” kali ini Nara melihat pada Irzal.


“Belum juga, ma. Nanti pas di rumah kita kasih tahu.”


“Azzam sama bang Zar kasih tau juga sama mama,” ujar Arsy yang mulutnya penuh dengan makanan.


“Gampang soal Zar. Kalau Azzam, nanti aja mama kasih taunya. Tiga hari lagi mama sama papa mau ke Yogya, adikmu kan dilantik.”


“Oh iya, Azzam udah beres kuliahnya.”


“Iya, tapi dia lanjut lagi pendidikan.”


“Tapi dia pulang dulu kan, ma?”


“Iya, dia pulang dulu. Jadi bisa datang ke nikahannya Stella sama Aya. Mama telepon papamu dulu.”


Nara segera menyingkir dari ruang makan, membiarkan anaknya itu untuk makan sepuasnya. Sedang dirinya menuju kamar, mengambil ponselnya untuk menghubungi sang suami. Irzal yang duduk di samping Arsy hanya memandangi istrinya yang begitu lahap memakan makanan pesanannya.


“Sayang, jangan lupa kasih tau kakek Abi sama KiJo.”


“Mas aja yang telepon.”


Irzal menganggukkan kepalanya. Dia mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian menghubungi Abi lebih dulu. Butuh beberapa waktu untuk pria tua itu menjawab panggilannya. Hingga akhirnya terdengar suara Abi dari seberang.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Kakek sehat?”


“Alhamdulillah, sehat. Bagaimana kabarmu dan Arsy?”


“Alhamdulillah baik, kek. Kakek.. aku mau kasih kabar gembira. Arsy hamil, kek. Sebentar lagi kakek mau punya cicit.”


“Alhamdulillah.. sayaaaaangg… kita mau punya cicit!!”


Terdengar suara kencang Abi memberitahukan kabar gembira yang baru didengarnya pada sang istri. Irzal tertawa membayangkan tingkah Abi yang bahagia mendengar kehamilan istrinya.


“Besok kamu ajak ayah dan bundamu ke rumah kakek, kita syukuran.”


“Iya, kek.”


“KiJo biar kakek yang kasih kabar. Arsy mana?”


“Arsy ada kek di sebelah, lagi makan. Kakek mau ngomong?”

__ADS_1


“Ngga usah, biar dia makan yang banyak buat cicit kakek. Besok kakek tunggu ya.”


“Iya, kek.”


Panggilan Irzal dan Abi berakhir. Pria itu menaruh ponsel ke atas meja. Dia tidak jadi menghubungi Jojo, karena Abi yang akan mengabarkan. Perhatiannya tertuju pada Arsy yang masih menyantap makanannya. Tangannya mengambil sebutir nasi yang menempel di dekat bibir dan mengusap sisa saos di sana kemudian menjilatnya.


“Mas mau makan?”


“Ngga.. kamu aja yang makan.”


Usai mengisi perutnya dengan makanan buatan sang mama, Arsy memilih bersantai di ruang tengah sambil menunggu kepulangan papanya. Begitu mendapat kabar dari Nara, Kenzie memutuskan untuk pulang ke rumah dan membatalkan meeting pentingnya. Baginya tak ada yang lebih penting dari anaknya.


Tak butuh waktu lama bagi Kenzie untuk sampai di kediamannya. Pria itu bergegas turun dari mobil. Tak sabar rasanya bertemu dengan putrinya yang kini sedang mengandung cucu pertamanya.


“Arsy..” panggil Kenzie begitu masuk ke dalam rumah.


“Papa..”


Mendengar suara Kenzie, Arsy bangun dari duduknya dan menghampiri sang papa. Kenzie langsung memeluk putri semata wayangnya itu. Dia begitu bahagia mengetahui Arsy tengah berbadan dua. Pria itu menciumi puncak kepala anaknya beberapa kali.


“Dokter bilang sudah berapa usia kandunganmu?”


“Lima minggu, pa.”


“Masih muda. Kamu lebih baik berhenti bekerja dulu.”


“Iya, pa. aku dapet cuti dari papa Rey seminggu.”


“Ayah bundamu sudah tahu?”


“Belum, pa. Nanti pulang dari sini aku yang kasih tahu langsung,” jawab Irzal.


“Kamu mau makan apa, sayang? Bilang aja, nanti papa yang carikan.”


“Udah, pa. Tadi mama udah masakin buat aku.”


“Mau apalagi?”


“Ehmm… kayanya belum ada deh. Aku mau dipeluk papa aja.”


Tangan Arsy melingkari pinggang Kenzie dan menyandarkan kepala ke dada pria itu. Irzal hanya tersenyum melihat kelakukan manja sang istri. Untung saja Kenzie adalah papa mertuanya, jika bukan mungkin sudah dibuat patah semua tulang di tubuhnya karena berani memeluk istrinya.


🍁🍁🍁


Selepas maghrib, Irzal dan Arsy memutuskan untuk pulang. Nara menawarkan membuatkan makanan lagi untuk anaknya itu, tapi Arsy menolak. Untuk makan malam, dia ingin mencicipi makanan buatan mama mertuanya.


Jarak kediaman Kenzie dan Irzal tidak terlalu jauh. Dalam waktu sepuluh menit, mereka sudah sampai di rumah. Sambil menggandeng tangan istrinya, Irzal masuk ke dalam rumah. Kedua orang tuanya sedang duduk bersama di ruang tengah sambil menonton acara di televisi.


Irzal mendekati kedua orang tuanya, kemudian mencium punggung tangan mereka bergantian dengan Arsy. Pria itu mengajak Arsy duduk di dekatnya. Elang menatap sang anak dengan lekat, dari gelagatnya sepertinya Irzal hendak memberikan kabar penting.


“Ayah.. bunda.. kami punya kabar gembira.”


“Kabar apa?”


Walau sebenarnya Elang sudah bisa menebak kabar gembira yang akan dikatakan anaknya, namun pria itu berpura-pura tidak tahu saja. Dia melihat pada Azkia yang juga tengah menunggu sang anak mengabarkan soal kehamilan Arsy.


“Arsy.. hamil.. ayah sama bunda mau nambah cucu.”


“Alhamdulillah. Selamat Arsy, Bibie,” ujar Elang.


Azkia segera menghampiri Arsy kemudian memeluk menantunya itu. Tebakannya benar kalau Arsy tengah berbadan dua, melihat sikap sang menantu tadi pagi. Elang bangun dari duduknya, lalu ikut memeluk Arsy.


“Ayah jangan lama-lama peluknya,” protes Irzal.


“Ck.. dia itu menantu ayah. Wajar kalau ayah peluk Arsy.”


Wajah Irzal nampak kesal melihat ayahnya yang sengaja berlama-lama memeluk istrinya. Tak mau kalah, Irzal berdiri kemudian memeluk bundanya dengan erat. Matanya melihat pada Elang dengan sorot mengejek. Mau tak mau Elang melepaskan pelukannya, lalu menarik Azkia lepas dari pelukan sang anak. Arsy dan Azkia hanya tertawa melihat tingkah aneh para suaminya.


“Kamu mau makan apa, sayang?” tanya Azkia.


“Apa aja buatan bunda aku makan.”


“Bunda cuma masak pepes ayam, pepes jamur sama cah baby kailan.”


“Ngga apa-apa, bunda. Makan sekarang yuk, aku laper.”


“Ayo.”


Dengan manja, Arsy memeluk lengan suaminya kemudian berjalan menuju ruang makan. Di meja makan menu yang disebutkan Azkia tadi sudah tertata, lengkap dengan nasi hangat. Irzal menarik kursi untuk istrinya, kemudian mendudukkannya. Dia mengambilkan satu buah pepes ayam. Dibukanya daun pisang yang membungkus ayam lalu menaruh pepes ke dalam piring Arsy. Dia juga melakukan hal yang sama untuk pepes jamurnya.


“Ehmm.. pepesnya enak, bunda. Nanti ajarin aku buat pepes kaya gini ya.”


“Iya. Ayo makan yang banyak.”


Dengan lahap Arsy kembali memakan makanan buatan sang mertua. Dia beruntung di kehamilan pertamanya ini dirinya tidak mengalami mual, seperti yang kebanyakan wanita hamil rasakan. Kebahagiaan terpancar dari semua yang duduk di meja makan.


Usai makan malam, pasangan muda itu langsung menuju lantai tiga untuk mengistirahatkan diri. Keduanya segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Mata Irzal tak lepas memandangi Arsy yang tengah memakai krim malam di wajahnya. Bukan aktivitas istrinya itu yang menjadi perhatian, tetapi pakaian tidur yang dikenakan olehnya. Entah sengaja atau tidak, Arsy memakai pakaian tidur berbahan tipis dan tanpa lengan. Panjangnya juga hanya sampai sebatas paha.


Selesai memakai krim malam, Arsy merangkak naik ke atas ranjang. Irzal langsung menyambut sang istri dan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Tangannya menelusup masuk ke dalam pakaian tidur Arsy, kemudian mengusap perutnya yang masih rata.


“Kamu sengaja ya, sayang, pakai baju kaya gini.”


“Ngga.”


“Masa? Sengaja kayanya.”


Arsy hanya terkikik geli melihat suaminya yang sepertinya sangat ingin berolahraga malam dengannya. Dia membalikkan posisinya berhadapan dengan sang suami. Tangannya meraba wajah tampan suaminya.


“Tadi dokter bilang apa?”


“Aku harus banyak istirahat aja, kan masih hamil muda.”


“Ngga bilang yang lain?”


“Bilang apa?”


“Ya… boleh ngga kalau mas mau nengok dede.”


“Sekarang belum boleh ya, mas. Sabar, sampai trimester selesai, hihi..”


“Lama dong puasanya.”


Hanya senyuman saja yang diberikan oleh Arsy. Tapi dirinya juga belum berani memperbolehkan Irzal untuk menjamahnya saat ini mengingat usia kehamilannya yang masih lima minggu.


“Ya udah deh, pasrah aja. Yang penting anak kita sehat.”


“Tapi aku bisa bantu pake cara lain kok kalau mas mau.”


“Sekarang tidur aja. Kamu pasti capek.”


Irzal memberikan ciuman lembut di bibir istrinya, kemudian menarik sang istri lebih dekat dengannya. Asalkan sang jabang bayi dalam perut istrinya sehat, dia rela menahan diri untuk tidak menyentuh Arsy.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Selamat Arsy - Bibie mau jadi orang tua🥳🥳🥳


__ADS_2