Hate Is Love

Hate Is Love
Double Joepardy


__ADS_3

Stella masih bermalas-malasan di atas kasur, padahal dia sudah bangun sejak satu jam lalu. Dia melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Perlahan dia bangun dari posisi tidurnya, menyambar handuk, kemudian masuk ke kamar mandi. Jika sedang kedatangan tamu bulanan, gadis itu memang lebih rajin mandi.


Setelah mandi dan berdandan ala kadarnya, gadis itu keluar dari kamarnya. Sambil menggaruk kepalanya, dia menuruni anak tangga. Di meja makan, semua keluarganya sudah berkumpul. Stella menarik kursi di samping Dipa, adiknya.


“Mi.. semalem aku pulang jam berapa?”


“Kamu naenya,” hanya itu saja yang keluar dari mulut Anya. Irvin hampir saja tersedak mendengar gaya bicara sang istri.


“Kamu pulang jam setengah sepuluh. Tidur udah kaya kebo, susah dibangunin. Untung ngga ngorok sama ileran. Untung juga Tamar kuat gendong kamu sampe ke kamar. Kalo eyang yang gendong, udah yakin encok,” celetuk Cakra.


“Hah?? Eyang cius si Tamara belepotan yang gendong aku??”


PLETOK


Stella mengusap kepalanya yang terkena pukulan sendok dari Cakra. Bibir gadis itu maju beberapa senti sambil melihat Cakra dengan tatapan memelas.


“Eyang, mah.. kenapa juga nyuruh dia gendong aku?”


“Terus siapa yang mau gendong? Eyang?”


“Kan eyang bisa panggil papi.”


“Papi kamu lagi enak-enakan sama mami kamu, masa mau eyang ganggu.”


Uhuk.. uhuk..


Kompak Irvin dan Anya langsung terbatuk mendengar ceplosan Cakra yang tanpa saringan. Sekar sebisa mungkin menahan tawanya melihat wajah anak dan menantunya yang memerah. Dipa yang belum terlalu paham, menghabiskan sarapannya sambil menyimak pembicaraan. Anggap saja tengah mendengarkan talk show.


“Badanku kan jadi ternoda eyang.”


“Ternoda apaan, emangnya Tamar itu sejenis kuman, apa? Lagian eyang yakin, dia juga langsung mandi tujuh sumur abis gendong kamu.”


“Hahahaha…”


Tawa Dipa langsung pecah mendengar ucapan absurd sang eyang. Bukan hanya Dipa, tapi Anya, Irvin dan Sekar ikut tertawa. Bibir Stella semakin maju saja mendengar ledekan eyangnya. Dia bukan anti digendong Tamar, tapi pria itu pasti akan meledeknya lagi. Apalagi dia tidak bangun ketika dibangunkan.


Dari pada kembali dibully oleh eyangnya sendiri, Stella memilih menghabiskan makanannya saja sambil memainkan ponselnya. Iseng dia membuka aplikasi yang menunjukkan chip yang menunjukkan keberadaan Tamar berada. Nampak titik posisi pria itu masih berada di kantornya. Sepertinya belum ada pergerakan dari Tamar. Stella menghabiskan makannya dengan tenang.


Usai sarapan, Stella bersiap untuk berangkat ke kampus. Dia memasukkan buku-buku yang diperlukan ke dalam tas, kemudian keluar dari kamar seraya menggendong tas punggungnya. Setelah berpamitan dengan Cakra, Sekar dan Anya, gadis itu bermaksud langsung pergi, namun Irvin menahannya.


“Kamu ke kampus sama papi aja.”


“Kenapa, pi?”


“Mobil kamu lagi diservice.”


“Oh.. ok, pi.”


Dengan cepat Stella masuk ke kursi penumpang bagian depan. Tak lama Irvin masuk lalu menjalankan kendaraannya. Sebenarnya perihal mobil Stella, hanya akal-akalan dirinya juga Cakra. Mereka sengaja melakukan itu agar Stella bisa lebih sering bersama dengan Tamar. Sudah tiga hari ini, anak gadisnya pulang diantar Tamar.


Irvin memang menginginkan Stella cepat melepas masa lajangnya. Ini semua demi kebaikan Stella. Irvin tidak mau kejadian saat Stella terkunci di ruang pendingin terjadi lagi. Menurutnya Tamar adalah pilihan yang tepat. Namun mereka harus melakukannya dengan cara halus, agar keduanya tidak menaruh curiga.


“Bagaimana hubunganmu dengan Tamar?” Irvin membuka percakapan.


“Baik. Udah agak ngurangin sih sifat nyebelinnya.”


“Kamu juga jangan ngerecokin dia terus.”


“Siapa yang ngerecokin. Aku kan bantuin dia, pi.”


“Awas kamu kepincut dia loh, hahaha..”


“Dih.. ngga deh. Cowok songong kaya dia.”


“Songong tapi kamu nempel terus.”


“Kan aku bantuin dia papiiii..”


“Ngga usah dibantuin juga dia pasti bisa beresin kasusnya. Kamu aja yang kesenengan mepetin dia.”


“Au ah.. papi ngga asik nih.”


Stella mengalihkan pandangannya ke jendela samping seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Irvin hanya tertawa melihat tingkah putri satu-satunya ini. Pria itu tak melanjutkan pembicaraan soal Tamar lagi. Yang penting dia sudah membahas sebentar, dan yakin kalau akan menempel dalam ingatan anaknya.


Setelah menurunkan Stella di kampus, Irvin melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Stella langsung masuk ke gedung pasca sarjana, tempatnya menimba ilmu. Ketika gadis itu tengah melewati sekumpulan pria, terdengar pembicaran para pria tersebut.


“Ssstt.. cantik tuh, siapa namanya.”


“Stella. Tapi jangan deh, kelakuannya abnormal.”


“Abnormal gimana?”

__ADS_1


“Udah galak, judes, terus suka ngomong sendiri lagi. Sereeemm pokoknya.”


Stella menghentikan langkahnya. Dengan cepat kepalanya menoleh ke sekumpulan pria tersebut. Semua langsung berpura-pura tak melihat gadis itu. Stella berjalan mendekat kemudian menendang lutut pria yang menyebutnya abnormal.


“Heh.. apa lo bilang tadi? Abnormal? Yang abnormal tuh elo, cowok kok demen ngerumpi. Ngga ada kerjaan lo!”


Puas mengatakan apa yang ada di pikirannya, Stella segera meninggalkan kumpulan pria tersebut. Pria yang tadi menanyakan tentang Stella hanya melongo saja melihat tingkah gadis cantik itu.


“Yakin lo mau ngejar dia?” tanya pria yang tadi ditendang kakinya oleh Stella.


“Ngga deh. Buas banget.”


“Hahaha..”


🍁🍁🍁


Sambil menggandeng tangan anaknya, Lina membawa Egi masuk ke kediaman orang tuanya. Sudah seminggu lamanya mereka tinggal di kediaman orang tua Lina. Setiap harinya Lina selalu mengantar dan menunggui Egi sekolah. Keluarga Putra sudah tak berani lagi mengganggunya. Dia juga berencana mencari kerja, agar bisa menghidupi Egi dan dirinya.


Rumah orang tua Lina nampak sepi. Kedua orang tuanya tengah pergi menjenguk temannya yang sakit. Di rumah hanya ada dirinya dan Egi sekarang. Saat tengah menyuapi Egi, terdengar suara bel. Wanita itu menaruh piring di atas meja lalu bergegas membukakan pintu. Nampak seorang kurir berdiri di depan pagar rumah.


“Paket,” ujarnya.


Lina datang mendekat lalu membukakan pintu pagar. Kurir pembawa paket itu mengenakan topi yang dibenamkan cukup dalam hingga wajahnya sulit terlihat. Dia menyerahkan sebuah kotak pada Lina. Ketika Lina mengambil kotak yang diberikannya, kepala kurir itu terangkat.


“Mas Putra..”


“Halo Lina.”


“Ma.. mau apa kamu, mas?”


“Apa aku tidak boleh mengunjungi istriku sendiri.”


Refleks Lina berjalan mundur, mencoba menghindari Putra, kemudian wanita itu bergerak cepat menjauhi. Putra segera mengejar mantan istrinya. Lina yang sudah masuk ke dalam tak berhasil menutup pintu karena Putra lebih dulu menahannya. Tenaga Lina kalah besar, sekali dorong pintu tersebut berhasil terbuka, hingga membuat Lina jatuh terduduk.


“Mau apa kamu, mas? Pergi!!”


“Mama!”


Langkah Putra terhenti ketika mendengar suara Egi. Pria itu langsung melihat pada Egi lalu berjalan menghampiri anaknya itu.


“Egi.. ini papa, nak. Ini, papa.”


“Jangan sentuh Egi!”


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Lina, hingga wanita itu terjatuh. Egi yang melihat hal tersebut tentu saja terkejut.


“Mama!”


“Ayo ikut papa.”


“Ngga mau! Egi mau sama mama. Mama!!”


Putra segera menggendong anak semata wayangnya itu lalu membawanya pergi. Bersusah payah Lina bangun dari posisinya, kemudia mengejar suaminya itu. Putra mendorong dengan kencang ketika wanita itu mendekat. Tubuh Lina kembali terjatuh. Namun dia terus berusaha bangun untuk mengejar Putra.


Pria itu bergegas menuju mobilnya. Di sana Liliana sudah menunggu. Namun belum sempat dia mencapai mobil, Tamar sudah menghalanginya. Dia sudah menempatkan mata-mata di dekat kediaman orang tua Lina. Dan pria itu langsung datang setelah mendapat laporan ketika Putra mendatangi rumah mantan mertuanya.


“Serahkan Egi.”


“Jangan ikut campur!”


Bertepatan dengan itu, delapan pria bertubuh tegap keluar dari mobil, mereka langsung mengepung Tamar, Aji dan dua orang anak buah Tamar. Perkelahian pun tidak dapat dielakkan. Aji dan yang lainnya menghadapi para pria bertubuh kekar itu, sedang Tamar menghalangi Putra untuk pergi.


Ketika pria itu hendak menghalangi Putra naik ke mobil, salah seorang orang bayaran Putra mendekat lalu melayangkan pukulan ke arah Tamar. Dengan cepat Tamar menghindar, hingga perkelahian di antara keduanya tidak dapat terhindarkan. Hal tersebut dimanfaatkan Putra untuk melarikan diri. Liliana segera menginjak pedal gas ketika Putra masuk ke dalam mobil.


“Mang… cepetan!” ujar Stella pada pengemudi ojek yang ditumpanginya.


Gadis itu langsung pergi dari kampusnya setelah melihat pergerakan Tamar. Dan sekarang gadis itu sudah berada di perumahan, di mana orang tua Lina tinggal. Stella menghentikan motor ketika melihat mobil Putra mendekat. Dia menyuruh pengemudi ojek online itu untuk pergi.


Mata gadis itu mencari-cari sesuatu untuk menghentikan mobil. Kemudian dia melihat sebuah batu seukuran kepalan tangannya. langsung saja dia melemparkan batu ke arah mobil Putra, mengarah pada kap mobilnya. Liliana yang panik, membanting stir hingga mobil membentur trotoar dan berhenti.


Dengan kesal Putra turun dari mobil lalu berjalan menghampiri Stella. Dia bermaksud melayangkan pukulan pada Stella namun gadis itu menahan dengan kedua tangannya lalu menendang perutnya.


“Brengsek!”


Putra kembali bangun dan mendekati Stella lagi. Dia mulai menyerang gadis itu. Stella yang memang pernah belajar bela diri namun hanya sampai ban putih, masih bisa menghindar. Namun saat lengah, sebuah tendangan Putra menghantam perutnya hinggu tubuhnya mundur beberapa meter ke belakang.


Tak ingin bermain-main lebih lama, Putra mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya lalu kembali menyerang gadis itu menggunakan pisau. Stella menahan pisau yang mengarah padanya dengan tas miliknya. Tamar yang melihat Stella dalam bahaya segera berlari ke arah gadis itu.


Keadaan Stella semakin terdesak. Serangan Putra semakin gencar dan Stella semakin terpojok. Di saat gadis itu lengah, Putra mengangkat tangannya dan menghujamkan pisau ke arah Stella. Di saat bersamaan, Tamar sampai dan menghalangi pisau dengan tubuhnya.

__ADS_1


JLEB


“Bang Tamar!!”


Pisau Putra menancap di punggung Tamar. Sambil menahan sakit di punggungnya, Tamar membalikkan tubuhnya. Dihajarnya Putra yang berada tepat di depannya. Orang bayaran Putra mendekat lalu menghalangi Tamar untuk menghajar Putra. Perkelahian pun kembali terjadi. Putra menarik pisau dari punggung Tamar, membuat pria itu menjerit kesakitan. Darah keluar dari punggungnya.


Di sisa-sisa tenaga dan kesadarannya Tamar terus menghadapi anak buah Putra. Darah terus keluar dari punggungnya. Sebuah tendangan kencang dilepaskan Tamar hingga penyerangnya pingsan. Melihat itu Putra berusaha untuk kabur. Namun tiba-tiba tubuh pria itu ambruk, kepalanya nampak bersimbah darah.


Lina yang terkejut dengan apa yang baru dilakukannya menjatuhkan batu yang dipakainya untuk menghajar Putra ke aspal. Tubuh wanita itu juga jatuh melihat perbuatannya pada sang suami. Aji dan dua rekannya yang sudah berhasil melumpuhkan musuh segera mendekat dan mengamankan Liliana. Egi berlari menuju Lina kemudian memeluknya. Bertepatan dengan itu tubuh Tamar ambruk.


“Captain!!”


“Bang Tamar!!”


🍁🍁🍁


Aji dan yang lainnya segera membawa semua tersangka ke kantor polisi. Tamar dan Putra dikirim ke rumah sakit. Keduanya langsung menjalani operasi. Luka Tamar tidak terlalu parah, jadi operasinya lebih dulu selesai. Berbeda dengan Putra, dia menderita cedera parah di kepala akibat hantaman batu. Lina juga menunggui di rumah sakit. Dia menyesal melakukan hal tersebut pada mantan suaminya.


Bukan menyesal karena memukul Putra. Tapi wanita itu takut harus masuk penjara lagi dan berpisah dengan Egi. Dia terus berdoa, semoga nyawa Putra dapat diselamatkan. Setidaknya hukumannya tidak akan berat. Setelah menunggu selama empat jam, akhirnya operasi selesai. Reyhan yang memimpin operasi keluar dari ruangan tersebut.


“Bagaimana keadaannya, dok?”


“Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Dia akan dalam pengawasan di ruang ICU.”


Lina tak bisa melukiskan perasaannya saat ini. Wanita itu hanya memandangi tubuh Putra di atas blankar yang didorong oleh dua orang suster. Dia mengikuti kemana kedua suster tersebut membawa Putra.


Sementara itu, di ruang perawatan VIP, Tamar masih belum sadarkan diri dari obat bius saat melakukan operasi. Cakra yang mendapat kabar dari Stella akan apa yang menimpa Tamar, segera meminta pihak rumah sakit memberikan layanan terbaiknya.


Orang tua Tamar yang memang sedang dalam perjalanan menuju Bandung untuk menengok anaknya, tentu saja terkejut mendengar anaknya terluka. Keduanya langsung menuju rumah sakit.


“Tamar ya ampun.. kamu kenapa, nak? Bangun nak.”


Ibu Tamar mulai menangis. Ayah Tamar memeluk wanita itu untuk menenangkannya. Daffa masuk untuk memeriksa keadaan Tamar. Kedua orang tua Tamar memberikan tempat pada dokter muda itu untuk memeriksa.


“Dokter… bagaimana keadaan anak saya,” tanya ibu Tamar sambil menangis.


“Ya ampun tante. Aku Daffa, tante lupa ya?”


“Daffa? Ya ampun, kamu sudah besar. Bagaimana keadaan Tamar? Dia baik-baik aja kan?”


“Tenang aja, tante. Bang Tamar baik-baik aja. Dia cuma tidur karena pengaruh obat bius. Lukanya juga ngga terlalu parah. Dua jam lagi juga dia bangun.”


Di saat bersamaan pintu terbuka, Cakra, Abi, Stella dan atasan Tamar, Ridwan masuk ke dalam ruangan. Kedua orang tua Tamar menyambut kedatangan mereka semua.


“Pak Ridwan,” sapa ayah Tamar.


“Bagaimana keadaannya, pak?”


“Alhamdulillah, baik.”


“Keadaan Tamar baik-baik saja, lukanya tidak parah. Saya yakin sebentar lagi juga sembuh. Apalagi ada calon istrinya yang menemani,” Ridwan melihat pada Stella.


“Calon istri?” tanya kedua orang tua Tamar bingung.


Sontak keduanya melihat pada Stella. Bukan hanya mereka, tetapi Abi, Cakra dan Daffa juga melihat pada Stella. Abi dan Cakra saling berpandangan, apakah ada sesuatu yang mereka lewatkan sampai Stella sudah dianggap sebagai calon istri oleh Tamar. Stella hanya melemparkan cengirannya saja sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


🍁🍁🍁


Jantung Lina berdegup kencang ketika melihat banyaknya dokter yang masuk ke ruang ICU di mana Putra dirawat. Pria itu tiba-tiba saja mengalami henti jantung. Dengan harap-harap cemas, wanita itu menunggu para dokter dan suster yang tengah mencoba menyelamatkan nyawa pria itu.


Sepuluh menit kemudian, Reyhan keluar dari ruang ICU. Nampak titik-titik keringat membasahi keningnya. Kelelahan nampak di wajah pria itu. Dia berjalan mendekati Lina yang menunggu jawabannya.


“Ba.. bagaimana keadaannya, dok?”


“Maafkan saya bu, nyawa pak Putra tidak bisa diselamatkan.”


Nyawa Lina seakan tercabut mendengar penuturan Reyhan. Tubuh wanita itu limbung dan hampir terjatuh. Beruntung Aji yang datang bersama dengan Ridwan segera menahan tubuhnya.


“Pak polisi.. a.. apa ada keringanan hukuman untuk sa.. saya? Sa.. saya hanya membela diri. Tidak ada maksud untuk membunuhnya.”


“Tenanglah bu. Ibu tidak akan terkena tuntutan apapun. Secara hukum, pak Putra itu sudah mati dua tahun lalu. Ibu juga sudah menjalani hukuman atas kesalahan yang tidak ibu lakukan. Apa tuntutan yang harus kami lakukan? Ibu membunuh orang yang sudah mati, jadi tidak ada tuntutan apapun.”


“Be.. benarkah itu?”


“Iya.. dalam hukum, kami menyebutnya Double Joepardy atau Ne Bis In Idem.”


Airmata Lina jatuh luruh mendengar keterangan Ridwan. Bukan airmata kesedihan, melainkan kebahagiaan. Kini dirinya dan Egi bisa hidup dengan tenang dan bahagia.


🍁🍁🍁


**Wah kasus bu Lina selesai juga ya..

__ADS_1


Hayoo Stella, ortunya Tamar udah tau tuh, tanggung jawab neng🤣🤣🤣


Yang mau tau lagu² yang kemari nyanyikan Stella, judulnya Bebende sama Inget Ka Mantan. Coba aja cari versi Ade Astrid di Utube. Aku suka versi yang Ade Astrid😂**


__ADS_2