Hate Is Love

Hate Is Love
Rencana Jahat


__ADS_3

Mata Stella terbuka ketika merasakan kehadiran makhluk lain di sampingnya. Dengan perlahan dia menolehkan kepalanya ke samping. Terdengar hembusan nafas lega saat melihat ternyata Suzy yang ada di sebelahnya.


“Kenapa masih tiduran?” tanya Suzy penasaran, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


“Kepo. Kamu udah ke rumah bu Lina, belum?”


“Udah.”


“Udah dapet informasi dari teman kamu?”


“Udah.”


“Terus gimana?”


“Kepo.”


“Yaaaa!!”


Stella berteriak kencang karena Suzy meniru ucapannya. Senyum Suzy terbit melihat wajah keki Stella. Dipikir-pikir jin wanita itu semakin terkontaminasi sifat jahil Stella. Suzy bangun dari posisi berbaringnya, lalu duduk di samping Stella.


“Mau aku ceritain?”


“Iyalah.”


“Tapi janji dulu ya.”


“Janji apa?”


“Begitu kasus bu Lina selesai, aku mau cuti.”


“Eh buset jin butuh cuti juga. Mau ngapain, lo?”


“Nyari gebetan baru.”


“Cieee… udah mup on dari Ferdi. Siapa nih laki yang ketiban sial jadi gebetan elo?”


Wajah Suzy berubah kesal mendengar ucapan Stella. Kalau gadis di sampingnya ini bukan bestienya, rasanya ingin dia menakuti Stella sampai terkencing-kencing di celana.


“Siapa?” desak Stella.


“Itu… security kompleks.”


“What? Bhuahahaha.. bisa-bisanya elo ngeceng pak Tarjo. Kan perutnya buncit, di kepalanya juga cuma sisa berapa lembar rambut. Udah nikah juga. Selera lo ngga ada yang bagusan dikit napa?”


“Enak aja, bukan pak Tarjo. Tapi Rifky, security kompleks yang baru, ganteng, masih muda lagi.”


“Emang ada? Perasaan security di kompleks ini buluk semua deh, hahaha… anyway ngga peduli gue lo mau ngeceng siapa. Cepetan ceritain informasi yang lo dapet soal bu Lina.”


“Tapi deal kan? Aku boleh cuti dulu abis kasus bu Lina selesai.”


“Iya, deal. Bawel, lo. Buruan ceritain!”


Melihat Stella yang sudah tidak sabaran, akhirnya Suzy menceritakan kronologi kejadian pembunuhan yang menimpa Putra, suami dari Lina. Stella mendengarkan dengan serius. Dia yakin, cerita dari Suzy akan membantu Tamar melakukan penyelidikan.


🍁🍁🍁


Sejak pagi sampai sore, Stella berusaha menghubungi Tamar, namun petugas polisi bagian kriminal itu tengah disibukkan dengan urusan Lina dan tidak bisa diganggu. Pria itu sedang menyiapkan materi untuk pengajuan ulang penelitian dan pengajuan banding. Belum lagi pria itu masih harus menyelesaikan kasus bunuh diri seorang mahasiswi di kost-annya. Praktis pria itu tidak bisa diganggu.


Menjelang maghrib, gadis itu baru mendapatkan kabar dari kamar. Stella bergegas bersiap untuk menemui pria itu. Dia buru-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sejak pagi, gadis itu memang belum mandi, karena tidak ada perkuliahan. Rasanya rugi saja mandi, hanya membuang air, shampo dan sabun saja.


Setelah mandi dan menunaikan ibadah shalat maghrib, Stella bersiap untuk pergi. Baru saja gadis itu hendak keluar rumah, dia sudah mendapat berondongan pertanyaan dari sang mami yang sedang berada di ruang tengah.


“Mau kemana?”


“Mau ketemu bang Tamar.”


“Kamu senang banget ngerecokin dia.”


“Ish.. bukan ngerecokin, mi. Tapi bantuin dia.”


“Kamu udah mandi belum? Kasihan dia nanti pingsan nyium bau badan kamu.”


“Ish.. mami ngadi-ngadi. Anak mami yang cetar membahana ini udah wangi. Ngga nyium nih aroma parfumnya semerbak menwangi. Emangnya mami yang bau bawang.”


“Eeehh.. dasar anak sableng.”


“Aku berangkat dulu, mi. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dengan cepat, Stella segera keluar dari rumah. Dia sengaja tidak menggunakan kendaraan sendiri, melainkan menggunakan jasa taksi online. Dirinya dan Tamar sepakat bertemu di tukang nasi goreng yang ada di daerah Tubagus Ismail. Tamar tak mau Stella datang ke kantor, untuk menghindari ledekan rekan-rekannya.


Taksi online yang ditumpangi Stella berhenti di depan tukang nasi goreng langganan Tamar. Nampak pria itu sudah datang. Di meja yang ada di depan Tamar, sudah tersedia dua piring nasi goreng dan juga satu piring kwitiaw. Dengan cepat Stella segera menuju meja yang ditempati Tamar.


“Wah udah pesan aja. Ini ada tiga piring, emangnya sama siapa abang datang ke sini?”


“Sendiri.”

__ADS_1


“Terus ini kenapa pesan tiga piring?”


“Kan kamu dua piring,” jawab Tamar santai.


Mata Stella membulat mendengarnya, namun tak ayal dia menarik piring nasi goreng ke dekatnya. Kebetulan sekali perutnya sudah lapar. Dengan lahap gadis itu memakan nasi gorengnya sambil sesekali memasukkan kwitiaw ke dalam nasi gorengnya. Sepertinya tak salah kalau Tamar memesan dua piring makanan untuk gadis itu.


🍁🍁🍁


Lina baru saja pulang dari bekerja. Tak ada sang anak yang menyambutnya karena sedang dititipkan di rumah mertuanya. Asisten rumah tangganya pun sedang ijin pulang kampung. Kening wanita itu berkerut melihat sepatu wanita ada di dekat pintu masuk. Perlahan dia masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam nampak sepi.


Dengan langkah pelan, wanita itu masuk ke dalam kamarnya, namun tak ada siapapun di sana. Lina segera menuju dapur ketika mendengar suara dari sana. Matanya membulat melihat suaminya tengah bercumbu dengan seorang wanita yang sepertinya adalah kekasih gelapnya.


“MAS!!”


Putra terkejut melihat kedatangan Lina. Pria itu bergegas menuju sang istri. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah pria itu. Pertengkaran tidak dapat terelakkan lagi. Bahkan teriakan keras mereka sampai terdengar ke rumah tetangga. Isma yang tinggal di samping rumah Lina segera keluar mendengar suara keras dari rumah sebelah.


Sebelum Isma keluar, seorang security yang sedang berkeliling terpaksa masuk ke kediaman tersebut begitu mendengar suara barang pecah terbanting ke lantai. Pria itu terkejut melihat Lina dan Putra yang sedang bertengkar. Beberapa kali Lina melemparkan barang-barang di dekatnya.


Putra yang tidak bisa menahan emosinya lagi menampar Lina dengan kencang hingga kepalanya terantuk ujung meja dan jatuh pingsan. Sang security segera mendekati Lina yang jatuh tersungkur. Namun belum sempat pria itu mendekat, dari arah belakang, selingkuhan Putra, alias Liliana datang lalu memukul kepala pria itu dengan tongkat baseball.


Isma yang sudah berada di depan rumah Lina, terkejut melihat bayangan adegan pemukulan itu. Dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang memukul karena terhalang gorden tipis. Namun yang jelas pelakunya adalah seorang wanita. Isma buru-buru kembali ke rumahnya untuk menghubungi pihak berwajib.


Melihat sang security yang sudah tak sadarkan diri, Putra segera melepas pakaian pria itu lalu menggantinya dengan pakaiannya. Dia juga memakaikan cincin dan jam tangannya ke tangan sang security. Semua barang bukti yang mengarah pada dirinya juga Liliana segera disingkirkan.


Pria itu lalu menyiram tubuh security dengan bensin, kemudian membakar tubuh pria itu. keduanya bergegas pergi keluar rumah sebelum orang-orang datang ke kediamannya. Perlahan Lina tersadar dari pingsannya. Melihat seseorang terbakar, wanita itu panik sendiri. Dia berusaha mematikan api ketika melihat tubuh seorang pria menggelepar-gelepar di lantai.


Di saat bersamaan, petugas polisi datang. Mereka pun berusaha memadamkan api yang membakar tubuh seorang pria. Sedang Lina segera diamankan. Usaha petugas berhasil, namun nyawa sang security tidak bisa diselamatkan. Tubuhnya hangus dan sudah tidak bisa dikenali lagi. Lina segera dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


🍁🍁🍁


“Jadi gitu ceritanya, bang,” ujar Stella mengakhiri cerita yang didapatnya dari Suzy.


“Jadi, yang mati itu Nasir, security kompleks yang baru bekerja dua bulan.”


“Iyes.. emang kalian ngga nyadar kalau tuh security hilang?”


“Dia justru menjadi buronan, karena diduga membantu Lina melenyapkan nyawa Putra. Nasir itu tinggal sendiri di Bandung. Dia tidak punya keluarga dan sejak kecil sudah yatim piatu. Sepertinya Putra dan Liliana memikirkan matang-matang soal ini. Mereka bahkan memilih Nasir sebagai korban. Pasti pria itu sudah menyelidiki masa lalu Nasir.”


Tamar mengambil ponselnya lalu menghubungi Aji. Pria itu meminta anak buahnya untuk menyelidiki petugas forensik yang menguji DNA mayat yang terbakar. Dia yakin petugas tersebut menjadi komplotan Putra juga. Setelah menghubungi Aji, Tamar melanjutkan makannya.


“Menurut abang, kenapa Putra malsuin kematiannya sendiri?”


“Karena uang asuransi.”


“Uang asuransi?”


Ucapan Tamar terpotong ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pria tersebut segera membuka file yang dikirimkan Aji. Di sana data dari petugas forensik dikirimkan secara lengkap. Pria bernama Indra itu mengundurkan diri satu bulan setelah putusan vonis Lina keluar. Istrinya, Meta, ternyata marketing asuransi yang menawarkan asuransi pada Putra. Keduanya langsung pindah keluar kota dan menghilang. Tamar kembali menghubungi Aji.


“Halo, capt.”


“Kapan adiknya Putra mencairkan uang asuransi?”


“Tiga bulan setelah kematian Putra.”


“Keluarkan DPO untuk Indra, Meta dan Liliana. Sebarkan ke semua kota.”


“Baik, capt.”


Mata Tamar langsung tertuju pada dua piring di depan Stella, setelah panggilannya berakhir. Satu porsi nasi goreng dan kwitiaw goreng sudah tandas dimakan gadis itu.


“Wah… kamu memang luar biasa. Rasanya ususmu itu benar-benar panjang, mungkin sepanjang jalan tol Cipularang. Badan kecil, tapi dua porsi makanan bisa masuk ke dalam perutmu.”


“Aku laper. Aku itu baru saja menghabiskan energi berbicara dengan Suzy.”


“Ngeles mulu kaya Cak Lontong.”


“Mana ada Cak Lontong cantik kaya aku.”


“Oh iya, ganti jadi Cak Apem,” jawab Tamar asal.


Pria itu segera berdiri lalu mendekati gerobak nasi goreng untuk membayar pesanannya. Dengan wajah keki, Stella menghabiskan dulu minumannya baru kemudian berdiri lalu menyusul pria itu menuju mobilnya.


“Dasar cengek domba,” gerutu Stella kesal. Gadis itu kemudian masuk ke dalam mobil.


“Kamu jadi perempuan ngga ada jaim-jaimnya, ya. Mana ada laki-laki yang mau sama kamu kalau modelannya kaya gini,” ujar Tamar ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Kalau ngga ada yang mau, aku tinggal minta papi nikahin aku sama bang Tamar.”


“Males banget. Bisa suram hidupku kalau nikah sama kamu. Masa iya tidur di kasur bertiga sama si Suzy. Udah gitu tiap hari harus lihat kamu ngomong sendiri kaya orang gila.”


“Yaaaa!! Abang tuh ya, emang bener mulut udah kaya cengek domba. Pedesnya bikin orang naik darah. Turunin aku di sini!”


“Yakin?”


“Yakin.”


“Ok..”

__ADS_1


Tamar menepikan kendaraannya. Stella melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Baru saja gadis itu menggerakan handel pintu, terdengar suara Tamar.


“Hati-hati, seratus meter di depan ada rumah kosong. Menurut info, para hantu lagi reunian di sana sekarang.”


Niat Stella urung untuk turun begitu mendengar perkataan pria itu. Apalagi dia melihat jalan memang sepi dan penerangan pun seadanya saja. Hanya ada satu lampu jalan saja yang berfungsi. Gadis itu kembali menutup pintu dan memasang sabuk pengamannya. Tamar hanya tersenyum tipis melihat tingkah Stella. Dia kembali melajukan kendaraannya. Pria itu senang berhasil menjahili Stella. Jangan hanya dirinya yang dibuat pusing oleh gadis itu.


🍁🍁🍁


Sudah sejak dua puluh menit yang lalu Rafa berusaha memejamkan matanya. Tubuhnya terus berganti posisi tak tentu arah. Kadang ke kanan, kadang ke kiri atau telentang. Pria itu benar-benar frustrasi, karena setiap memejamkan mata, selalu saja wajah Dayana yang terbayang.


Dia bangun dari posisinya lalu duduk di atas kasur seraya mengacak-acak rambutnya. Mau tidak mau, pria itu harus mengakui kalau dirinya mulai tersentuh perasaannya pada Dayana. Sejak acara makan bersama tiga hari yang lalu, Dayana tidak pernah menghubunginya lagi. Bahkan gadis itu tidak ikut mengantar Kevin melakukan check up ke rumah sakit.


Disambarnya ponsel yang tergeletak di atas nakas dekat ranjang. Jam digital di ponsel menunjukkan pukul 22.54 menit. Mau menghubungi Dayana hanya untuk mendengar suaranya saja rasanya tak sopan karena waktu sudah hampir tengah malam. Rafa beranjak dari ranjang kemudian keluar dari kamar.


Pria itu menuju dapur untuk membuat teh hijau hangat. Semoga saja meminum teh hijau bisa membuat pikirannya rileks. Rafa duduk di kursi yang ada di dapur sambil menyesap tehnya secara perlahan. Teringat lagi pembicaraannya dengan Dayana kala itu. Gadis itu bermaksud melupakan rasa cinta padanya. Dan jujur saja, Rafa tidak suka mendengarnya.


Setelah menghabiskan tehnya, Rafa kembali ke kamarnya. Dia lalu berhenti di depan figura besar yang terpajang di dinding kamarnya. Sebuah gambar dari Maya yang tengah tersenyum. Mata Rafa menatap tanpa berkedip pada foto di depannya. Tiba-tiba saja wajah Maya berubah menjadi wajah Dayana.


“Aku sudah gila,” Rafa mengusap wajahnya kasar.


“Aku harus bagaimana, May? Gadis itu.. apa aku sudah jatuh cinta padanya? Tapi dia masih sangat muda, umurnya bahkan berbeda 11 tahun dariku. Aku harus bagaimana?”


Rafa menundukkan kepalanya. Dalam bayangannya saat ini, Maya tengah mendekat padanya lalu memeluk tubuhnya. Tepukan pelan Maya terasa di punggungnya.


“Mas harus tetap melanjutkan hidup. Jika mas mencintainya, maka akui perasaan mas. Jalanilah hidup mas dengan baik. Aku sudah tenang sekarang, mas sudah menemukan wanita yang akan menjadi penggantiku.”


Perlahan Rafa merasakan tepukan Maya menghilang, begitu pula dengan pelukannya. Bayangan sang istri hilang dari pikirannya. Kepala pria itu terangkat lalu melihat lagi pada gambar Maya.


“Apa aku harus mengejarnya?” gumam Rafa pelan.


🍁🍁🍁


Dengan tergopoh-gopoh Aidan berjalan memasuki ruangan Irzal. Dia baru saja mendapatkan informasi kalau Infinity Corp sudah berhasil mendapatkan tanda tangan kontrak dari Global Company. Tanpa mengetuk pintu lagi, pria itu segera masuk ke dalam ruangan.


“Bie.. gawat..”


“Kenapa?”


“Infinity Corp sudah berhasil mendapatkan kontrak dari Global Company.”


“Aku tahu.”


“Hah?”


“Sebentar lagi pengkhianat itu juga akan datang ke sini.”


Aidan hanya mengerutkan keningnya saja. Irzal nampak tersenyum tipis, jebakannya ternyata berhasil. Zain, salah satu karyawan potensial di Humanity Corp yang digadang-gadang akan diangkat menjadi asisten Virzha ternyata seorang pengkhianat. Pria itu juga yang mencuri proposal yang digarapnya. Untung saja dia sudah mengubah flowchart proposal, sebentar lagi mereka akan mendapat tekanan dari Global Company.


Beberapa menit kemudian, orang yang ditunggu Irzal datang. Aidan bingung melihat Zain datang ke ruang sahabatnya itu. Wajah Zain nampak serius. Matanya menatap Irzal tanpa berkedip. Sepertinya dia memang sudah siap perang terbuka dengan anak bungsu dari Elang tersebut.


“Ada apa kamu ke sini?”


“Kamu ingin bertemu dengan pimpinan Infinity Corp bukan?”


“Aku? Bukannya kalian yang ingin bertemu denganku? Suruh saja bosmu yang menemuiku.”


“Lebih baik bapak yang menemuinya. Bapak ditunggu di perusahaan kami.”


“Tunggu.. tunggu.. perusahaan kami? Jadi kamu bagian dari Infinity Corp?”


Zain sama sekali tidak menjawab pertanyaan Aidan. Pria itu masih saja melihat pada Irzal, menunggu reaksi pria tersebut. Irzal masih terlihat tenang, tidak ada keinginan darinya untuk memenuhi keinginan Zain.


“Katakan pada bosmu untuk bertemu denganku di sini. Kalian yang butuh aku, kenapa aku yang harus menemui kalian?”


“Baiklah, aku akan mengatakan padanya kalau bapak menolak. Tapi.. apa bapak tahu kalau sekarang istri bapak sedang bersama atasan saya? Siapa yang tahu kalau dia akan menaruh racun pada minuman atau makanan yang disiapkan untuk istrimu.”


“KAU!!!”


Wajah Irzal mengeras mendengar penuturan Zain. Serta merta pria itu bangun dari duduknya. Dia lalu menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Rahangnya mengeras mengetahui Arsy memang berada di kantor Infinity Corp. Tak ada pilihan lain, Irzal akhirnya mengikuti kemauan Zain. Bersama dengan Aidan, pria itu menuju kantor Infinity Corp.


Kantor Infinity Corp hanya berbeda tiga blok saja dari Humanity Corp. Sepuluh tahun yang lalu, Infinity Corp hanya sebuah CV biasa. Lima tahun kemudian perusahaan tersebut berubah menjadi PT. Tiga tahun terakhir, perusahaan itu berkembang pesat dan merubah namanya menjadi Infinity Corp. Dan setahun belakangan ini selalu bersaing dengan Humanity Corp untuk urusan tender.


Irzal dan Aidan sampai juga di depan kantor Infinity Corp. Sebuah gedung megah berlantai 11 berdiri kokoh di hadapan pria itu. Dia terus mengikuti langkah Zain menuju lift yang khusus diperuntukkan untuk petinggi manajamen. Kotak besi tersebut bergerak naik menuju lantai teratas gedung.


Sesampainya di lantai 11, Zain terus memandu tamunya menuju sebuah ruangan dengan pintu besar berwarna coklat. Dia membukakan pintu lalu mempersilahkan Irzal dan Aidan untuk masuk. Mata Irzal memandangi ruangan yang cukup luas ini. Tidak ada keberadaan Arsy di sana. Hanya ada seorang pria paruh baya yang berdiri membelakanginya.


Mengetahui tamu yang ditunggunya sudah sampai. Pria itu pun membalikkan tubuhnya menghadap pada Irzal. Kini suami dari Arsy itu bisa melihat dengan jelas wajah pimpinan Infinity Corp yang selama ini ingin diketahuinya.


🍁🍁🍁


**Tamar awas bucin ama Stella🤣


Go Rafa tembak aja Aya, umur mah ngga masyalah😁


Siapa sih pemimpin Infinity Corp? Terus Arsy diumpetin di mana coba?


Lunas ya janjiku 2x up😉**

__ADS_1


__ADS_2