Hate Is Love

Hate Is Love
Burung dan Apem


__ADS_3

Dua hari menjelang pernikahannya, Rakan memilih berkumpul dengan para sepupunya. Di sana juga ikut bergabung Zar dan Arya. Selain Zar yang memang berteman baik dengan para pria dari keluarga Ramadhan, Arya mulai mengikuti jejak sepupunya itu. Selain para pria itu menyenangkan, dia juga perlu mencari tahu lebih banyak tentang Shifa dan mendapat dukungan dari mereka semua.


Sepulang kerja, para pria itu berkumpul di kediamannya. Rakan sengaja mengajak semua berkumpul di rumah barunya. Dia juga membeli makanan dan minuman yang dapat dinikmati sambil berbincang santai. Zar mengambil sepotong pizza, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


“Bang.. beneran si Iler minta tinggal pisah setelah nikah?” tanya Zar.


“Tahu dari mana?” kening Rakan nampak berkerut.


“Daffa.”


“Ck.. dasar ember bocor.”


Rakan melirik pada adik bungsunya itu yang hanya dibalas cengiran saja. Mendengar kabar dari Daffa, tentu saja membuat Zar terkejut sekaligus malu. Dia tidak menyangka adik sepupunya itu memiliki ide nyeleneh seperti itu.


“Ngga usah diturutin, bang.”


“Iya, mending ngga usah. Aneh-aneh aja si Iler. Dia yang minta dilamar, sekarang dia minta tinggal terpisah,” celetuk Arya.


Bukan hanya Zar yang merasa tak enak mendengar usulan Vanila, begitu pula dengan Arya. Rakan hanya menanggapi ucapan Zar dan Arya dengan senyum tipis saja. Permasalahannya dengan Vanila sudah selesai. Walau masih tetap tinggal terpisah setelah menikah, namun dia berhasil memangkas waktu hanya tiga hari saja.


“Ngga apa-apa. Aku maklum sih, dia kan masih muda. Dia kaget juga kali dengan pernikahan kita yang kilat ini.”


“Lah kan dia yang minta dilamar,” seru Zar.


“Iya. Ngga apa-apa, Zar. Toh kita pisahnya cuma tiga hari aja.”


“Bukannya sebulan?” timpal Daffa.


“Ngga jadi. Om Viren ngancem mau batalin pernikahan kalau Vanila tetap mau tinggal terpisah. Akhirnya kita sepakat tetap tinggal terpisah, tapi cuma tiga hari.”


Daffa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Setidaknya waktu yang berhasil dipangkas banyak juga. Irzal sedari tadi hanya mendengarkan saja apa yang dibicarakan kakak sepupu dan sahabatnya. Untung saja Arsy tidak bersikap kekanakkan seperti itu saat mereka menikah.


“Abang ngga ambil cuti?” akhirnya pertanyaan keluar juga dari mulut Irzal.


“Ngga. Kan kita tinggal terpisah, ngga bisa bulan madu juga. Ngapain cuti, kerjaan juga lagi banyak-banyaknya.”


“Bang.. gue punya ide. Gue jamin, ngga nyampe tiga hari si Iler bakalan langsung tinggal bareng sama abang.”


“Ide apa?”


Zar mendekat pada Rakan, pria itu mengatakan ide yang terlintas di pikirannya. Semua yang ada di sana setuju dengan ide yang dicetuskan oleh Zar. Namun Rakan nampak masih berpikir.


“Setuju ngga, bang?”


“Terlalu beresiko ngga sih?”


“Ngga, lah. Dijamin ngga.”


“Tapi aku ngga kenal orangnya.”


“Itu temannya Aidan, tenang aja, aman.”


Rakan melihat pada Aidan. Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai asisten Irzal itu hanya mengangkat kedua jempolnya, tanda setuju dengan yang dikatakan Zar tadi. Setelah berpikir sebentar, akhirnya Rakan menyetujui usulan Zar.


Sebuah mobil berhenti di depan kediaman Rakan, dari dalamnya turun Rafa. Semua yang ada di dalam rumah hanya melongo melihat Rafa masuk mengenakan kemeja berwarna pink. Sejak masuk ke dalam keluarga Hikmat, pria itu sudah mulai ikut dalam perkumpulan para pria. Dia mendudukkan diri di tempat yang tersisa.


“Bang.. ngga salah pake kemeja pink?” tanya Aqeel.


Bekerja bersama Rafa di rumah sakit yang sama, pria itu tahu kalau Rafa tidak pernah mengenakan kemeja dengan warna yang identik dengan kaum hawa. Terdengar helaan panjang Rafa sebelum menjawab pertanyaan Aqeel.


“Ini maunya Aya. Udah seminggu ini aku pake kemeja yang warnanya bukan aku banget. Kadang pink, peach, kuning, merah cabe, pink fanta,” Rafa hanya menggelengkan kepalanya saja mengingat keinginan istrinya yang aneh.


“Hahahaha..”


Hanya gelak tawa yang terdengar menanggapi ucapan Rafa. Jika sudah berhubungan dengan ibu hamil, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu pula dengan Rafa, didorong rasa cintanya pada sang istri, pria itu melakukan saja apa yang diminta oleh Dayana.


“Selain pake kemeja kaya gini, Aya ngidam apa lagi?” tanya Arya penasaran.


“Oh iya, kalian tahu ngga boyband Blue?” tanya Rafa.


“Tahu, kenapa emang?” balas Irzal.


“Sebelum tidur, Aya minta dinyanyiin sama aku. Dia request lagunya Blue. Duh aku kan ngga tau lagu-lagu mereka.”


“Masih mending, bang. Abang cuma disuruh nyanyi di rumah, apa kabarnya kalau disuruh nyanyi di perempatan sambil bawa kecrekan, hahaha..”


Rafa bergidik ngeri membayangkan apa yang dikatakan Daffa. Untung saja Dayana masih berbaik hati hanya meminta dia menyanyi di dalam kamar, menjelang tidur sang istri. Irzal mengambil ponselnya, lalu mengirimkan link di mana Rafa bisa mendengarkan lagu-lagu milik Blue, boyband asal Inggris.


“Coba buka link yang aku kirim. Abang bisa dengar lagu-lagu Blue di sana.”


“Emang abang bisa nyanyi?” tanya Arya penasaran.


“Bisa, tapi nadanya ngga ke sana, ngga ke sini,” jawab Rafa jujur.


“Hahaha..”


Suara gelak tawa kembali terdengar. Rafa segera mengklik tautan yang diberikan Irzal. Dia memilih lagi Quilty yang menjadi requet pertama Dayana. Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jika dia yang menyanyikan lagu tersebut, dijamin lagu itu mendadak jadi tidak enak didengar.


“Bisa ngga, bang nyanyinya?”


“Nah itu dia. Mana nadanya tinggi juga.”


“Suruh si Zar yang nyanyi,” celetuk Aidan.


“Bahaya kalau dia yang nyanyi, tar si Aya kontraksi, repot dah, hahaha,” timpal Arya.


“Hahaha… bukan kontraksi lagi. Brojol langsung kayanya,” Daffa memegangi perutnya sambil terus tertawa.


Senyum Rafa terkulum mendengar celotehan para pria tersebut. Lain Rafa, lain Tamar, calon bapak itu juga tengah dibuat bingung oleh permintaan sang istri. Kali ini Stella minta dibelikan bolu Koja.


“Kenapa, Tam? Muka lo kusut gitu? Bini lo minta apa?” tanya Irzal melihat wajah sahabatnya yang kebingungan.


“Lo tau bolu Koja, ngga?”


“Bolu Koja? Baru denger gue,” ujar Irzal.

__ADS_1


“Sama. Bolu apaan tuh?”


“Gue juga ngga tau.”


“Searching aja coba. Terus belinya di mana,” Rakan menyarankan.


Tamar mengetik nama bolu Koja di kolom pencarian. Informasi tentang bolu Koja langsung terpampang di layar ponselnya. Bukan hanya Tamar, yang lain juga ikut mencari tahu bolu yang sedang diinginkan oleh ibu hamil tersebut.


“Nih ada di jalan Lengkong. Lo ke sana aja, coba.”


“Telepon dulu.”


Tamar mengikuti usulan Aidan. Pria itu segera menghubungi nomor yang tertera. Setelah cukup lama, panggilannya akhirnya terjawab. Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk bicara, dia lalu mengakhiri panggilannya.


“Gimana?”


“Tutup. Mereka tutup selama tiga hari.”


“Terus gimana? Coba searching lagi di tempat lain,” usul Aqeel.


“Minta om Gavin atau om Gibran aja yang buat,” usul Irzal.


“Nah iya, bener tuh. Mereka berdua kan jago bikin kue juga.”


“Ngga enak gue.”


“Elo kaya sama siapa aja. Buruan telepon om Gavin.”


Mau tidak mau, akhirnya Tamar memberanikan diri untuk menghubungi Gavin. Tak butuh waktu lama bagi pria itu menjawab panggilan Tamar. Dengan cepat Tamar mengatakan maksudnya menghubungi Gavin. Mendengar kalau itu permintaan istrinya yang tengah hamil, Gavin akhirnya setuju membuatkan kue jadul itu untuknya.


“Dua jam lagi kamu ke rumah, ambil kuenya.”


“Makasih banyak, om.”


“Sama-sama.”


Kelegaan nampak di wajah Tamar, akhirnya dia berhasil memenuhi keinginan ngidam sang istri. Sejak awal hamil, Stella memang selalu mengidam tentang makanan, tapi makanannya yang diinginkannya terkadang sulit untuk dicari, seperti sekarang ini.


“Si pppssstt kalo ngidam makanan doang. Kebayang tuh perut udah kaya gentong, hahaha..”


Mata Tamar mendelik pada Zar. Pria itu sampai sekarang masih konsisten memanggil sang istri dengan sebutan ppsssttt. Ucapan Zar langsung disambut gelak tawa lainnya. Rakan hanya tersenyum saja. Berkumpul bersama saudara sepupu dan juga sahabatnya, bisa mengurangi kegugupannya menjelang hari pernikahan.


🍁🍁🍁


Hari yang dinanti calon pasangan pengantin tiba juga. Pernikahan Rakan dan Vanila diadakan di ballroom Yudhistira hotel. Hantaran pernikahan sudah tertata rapih di atas meja. Mas kawin berbentuk buket dan juga kotak beludru berisikan cincin pernikahan sudah berada di atas meja akad.


Rakan bersama dengan Viren dan juga penghulu yang akan menikahkannya sudah berada di meja akad, bersama dengan saksi dari kedua belah pihak. Dari pihak Vanila, Kenan yang akan menjadi saksi. Sedang dari pihak Rakan diwakili oleh Firlan. Reyhan berdiri di belakang putranya, menantikan detik-detik anak sulungnya berubah status. Ayunda dengan setia mendampinginya.


Sang penghulu masih memeriksa kelengkapan dokumen calon pengantin. Sesekali dia bertanya pada Rakan juga Viren sambil melihat dokumen di tangannya. Setelah semua dirasa cocok. Penghulu bernama Rahman itu mulai membuka acara akad nikah.


“Hari ini kita akan menyaksikan janji suci antara dua insan yang saling mencintai. Antara kang Rakan dan neng Vanila. Semoga saja pernikahan ini akan menjadi yang pertama dan yang terakhir.”


“Aamiin..” jawab Rakan.


“Kang Rakan teh nikah sareng neng Vanila karena cinta atau paksaan?”


“Bagus. Pernikahan itu memang seharusnya dilandasi oleh cinta. Jangan karena paksaan, karena hidup tidak seperti di dalam novel online, dipaksa nikah, dari benci terus jadi bucin. Benar tidak?”


“Wah pakpeng suka baca novel online juga?” celetuk Zar.


“Eh iya atuh, gaul bapak mah. Bapak juga nulis novel online.”


“Serius, pak? Apa judulnya?”


“Suster Ngesot Kepentok Pocong Gagal Move On. Sayang, sepi peminat”


Semua yang mendengar judul novel yang dikatakan Rahman sebisa mungkin menahan senyumnya. Rakan menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan tawa yang hendak keluar. Kalau tawanya sampai terdengar, takut sang penghulu merasa tersinggung dan tidak jadi menikahkannya.


“Kang Rakan gaduh burung?” tanya sang penghulu, membuat Rakan mengangkat kepalanya.


“Burung? Ngga, pak.”


“Masa? Atuh bahaya kalau tidak punya burung. Gimana nasibnya neng Vanila kalau akang ngga punya burung.”


Wajah Rakan langsung memerah saat tahu kemana arah pembicaraan Rahman. Ucapan pria itu langsung mendapat sambutan gelak tawa, termasuk Viren yang duduk di depan Rakan.


“Jadi akang teh punya burung, ngga?”


“Ehem.. pu.. punya,” jawab Rakan pelan.


“Burung naon? (burung apa?).”


“Burung yang bawa telor dua, pak. Hahahaha,” ceplos Zar.


“Kalau sudah sah dengan neng Vanila, itu burungnya mau dikasihkan tidak ke neng Vanila?”


Tak ada jawaban dari Rakan. Menjawab pun percuma, pasti akan mengundang gelak tawa lainnya.


“Kalau sudah sah, wajib masihan burung ka neng Vanila. Sakalian jeung lato-latona.”


“Hahahaha.. lato-lato yang kalo diadu berisik banget bunyinya,” celetuk Aidan.


“Eh.. upami lato-lato nu ieu mah moal gandeng, paling suarana nu beda. Leres teu, kang? (eh kalau lato-lato yang ini ngga berisik, paling suaranya yang beda. Benar ngga, kang?).”


“Kaya gimana suaranya, pak?” tanya Daffa sambil cengar-cengir.


“Uuhh.. aaaahhh..” sambar Arya.


Baik Reyhan maupun Viren hanya mampu tertawa mendengar celetukan dari arah belakang. Wajah Rakan jangan ditanya lagi bagaimana warnanya. Persis seperti tomat yang kelewat matang menjelang busuk. Rahman tersenyum senang berhasil menggoda calon pengantin di depannya. Kebiasaan yang sering dilakukan pria itu pada para calon pengantin yang dinikahkan olehnya.


“Hayulah kita mulai saja akadnya. Sepertinya kang Rakan sudah tidak sabar untuk melepas burungnya.”


“Hahaha..”


Viren segera menggenggam tangan Rakan. Matanya menatap lekat pada wajah pria yang sebentar lagi akan sah menjadi menantunya. Rakan menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga paru-parunya.

__ADS_1


“Ananda Rakan Aarav Vaughan, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Vanila Chandara Sanjaya binti Virendra Adhitama Sanjaya dengan mas kawin uang tunai sebesar 1000 dolar dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Vanila Chandara Sanjaya binti Virendra Adhitama sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”


“Bagaimana para saksi?” Rahman melihat pada Kenan dan Firlan.


“Sah!”


“SAAAAAAHHHHH,” terdengar suara dari arah belakang.


Rakan mengusap wajah dengan kedua tangannya seraya mengucapkan hamdallah. Akhirnya dia bisa menyelesaikan kalimat ijab kabul dengan lancar tanpa hambatan. Reyhan menepuk pundak anak sulungnya itu. Kini pria itu sedang menunggu mempelai wanita datang padanya.


Dari sebuah ruangan kecil yang ada di ballroom, Vanila keluar bersama dengan Alisha dan Azra. Kedua wanita cantik itu mengapit Vanila, dan mengantarkannya menuju meja akad. Jantung Vanila berdebar ketika beradu pandang dengan Rakan. Gadis itu refleks menundukkan kepalanya. Alisha membantu anaknya duduk di samping Rakan.


Pria yang sudah sah menyandang status sebagai suami Vanila mengambil cincin pernikahan dari atas meja lalu mengeluarkan cincin dari dalamnya. Disematkan cincin tersebut ke jari manis sang istri. Vanila mengambil cincin yang tersisa, lalu menyematkannya ke jari manis Rakan. Setelahnya dia mencium punggung tangan Rakan. Dadanya berdesir ketika Rakan mencium keningnya. Ini adalah sentuhan pertama yang diberikan Rakan untuknya.


“Neng Vanila,” panggil sang penghulu.


“Iya, pak.”


“Panggilannya apa? Vani?”


“Iler, pak!” celetuk Zar.


Refleks Vanila melihat pada kakak sepupunya itu. Tangannya terangkat lalu mengepal pada Zar. Rakan menyentuh tangan Vanila dan meminta istrinya itu kembali fokus pada pak penghulu.


“Masa cantik-cantik dipanggilnya Iler. Panggilannya apa, neng?”


“Ila, pak.”


“Nah itu lebih bagus, Ila. Kalau neng Ila punya apem?”


“Apem? Ngga, pak. Saya ngga suka apem.”


“Waduh, gimana atuh. Padahal kang Rakan suka banget apem.”


“Hahaha..”


Vanila menoleh pada Rakan. Dia masih bingung mendengar apa yang dikatakan penghulu. Setahunya Rakan tidak pernah mengatakan kalau menyukai apem. Viren hanya mengulum senyumnya saja melihat kebingungan di wajah anaknya. Untung pria yang menikahkannya dulu tidak segila Rahman.


“Emang abang suka apem?” tanya Vanila dengan polosnya.


“Suka banget, neng. Apalagi kalau malam pertama dikasih apem bakalan nagih terus.”


“Hahahaha..”


“Sok sekarang akang dan neng saling berhadapan. Tangannya memegang satu sama lain.”


Kompak Rakan dan Vanila merubah posisi duduknya. Mereka kini saling berhadapan dengan kedua tangan saling menggenggam. Sang penghulu meminta pasangan pengantin mengikuti apa yang dikatakan olehnya.


“Neng Ila, belahan jiwa akang. Mulai hari ini akang berjanji akan menjadi imam hidupmu, bertanggung jawab untukmu dunia akhirat.”


“Neng Ila, belahan jiwa akang. Mulai hari ini akang berjanji akan menjadi imam hidupmu, bertanggung jawab untukmu dunia akhirat.”


“Akang Rakan, neng juga berjanji akan menjadi istri yang baik untuk akang. Menaati dan menghormati akang sebagai imam hidup neng sampai mau memisahkan.”


“Akang Rakan, neng juga berjanji akan menjadi istri yang baik untuk akang. Menaati dan menghormati akang sebagai imam hidup neng sampai mau memisahkan.”


Pasangan pengantin mengikuti apa yang dikatakan oleh Rahman. Keduanya saling melihat satu sama lain. Apa yang mereka ucapkan dilandasi oleh perasaan sayang yang tulus. Dan yang pasti diiringi debaran jantung yang lebih cepat dari biasanya.


“Neng.. jangan lupa nanti malam, siapkan apem yang legit buat akang.”


Rakan tak langsung mengikuti apa yang dikatakan Rahman. Penghulu itu memberi tanda hingga akhirnya membuat Rakan mengucapkan kata-kata tersebut dengan wajah merona.


“Neng.. jangan lupa nanti malam, siapkan apem yang legit buat akang.”


“Siap akang. Neng akan siapkan apem legit kesukaan burung akang.”


Sontak Vanila melihat pada Rakan. Kini dia baru sadar apa maksud apem yang sedari tadi dikatakan oleh Rahman. Gadis itu enggan mengatakannya, tapi melihat isyarat mata sang penghulu, mau tak mau Vanila mengatakannya juga.


“Si..ap akang. Neng.. neng..”


“Neng, neng, neng naon? Neng nang ninggung?” ceplos Rahman.


“Hahaha..”


“Sok ulang, neng. Ulah isin-isin. Engke ge dedeuien geura, bakalan nagih ka burung si akang (ayo ulang, neng. Jangan malu-malu. nanti juga mau lagi, bakalan nagih sama burung si akang).”


Memerah wajah Vanila mendengar ucapan Rahman yang tanpa saringan lagi. Belum lagi suara tawa di sekelilingnya semakin membuat gadis itu malu.


“Siap akang. Neng akan siapkan apem legit kesukaan burung akang.”


“Siap akang. Neng akan siapkan apem legit kesukaan burung akang.”


Sambil menutup matanya, Vanila mengulangi perkataan Rahman. Sontak hal tersebut langsung mendapat celetukan dari para sepupunya yang rata-rata timbangan otaknya kurang se-ons.


“Uhuy.. judulnya burung ketemu apem!” Aidan.


“Pasti burung pelatuk tuh,” Irzal.


“Baru tahu burung sukanya apem,” Aqeel.


“Kalau sukanya pisang, nanti jeruk makan jeruk, hahaha..” Daffa.


“Pastiin burungnya bangun jangan tidur,” Rafa.


“Tapi surat ijin makan apem belum keluar,” Tamar.


“Masih dipending, hahaha..” Arya.


“Jangan kelamaan dipending, nanti diganti apem lain, hahaha..” Zar.


Celetukan demi celetukan sukses membuat wajah pengantin merona. Vanila menundukkan kepalanya, dalam hati dia merutuki para pria di belakangnya yang berbicara tanpa saringan. Acara akad nikah seketika menjadi ricuh dengan gelak tawa yang datang menyaksikan acara sakral tersebut.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Selamat Rakan dan Vanila, semoga menjadi keluarga samawa. Yang mau datang ke resepsi, dress code-nya warna kuning mengambang, oke😜


NR baru tayang besok yaaa... Sekalian sama novel terbaru mamake😘😘😘**


__ADS_2