
Suasana di ruang perawatan Iza terlihat ramai dengan perbincangan dan juga gelak tawa. Wanita itu baru saja melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Aqeel yang sejak awal persalinan terus mendampingi istrinya, nampak bahagia setelah resmi menyandang status sebagai papa.
Ayunda dan Reyhan terus mendampingi anak dan menantunya sampai sang cucu lahir ke dunia. Elang dan Farel langsung melihat cucu pertama dari adiknya bersama dengan pasangannya masing-masing. Berturut-turut kemudian Rain, Gara, Firla, Firly datang dengan pasangannya. Bahkan Azriel yang sedang berada di Malaysia menyempatkan diri untuk melihat kelahiran cucu pertama sahabatnya.
Setelah para orang tua, sekarang saudara sepupu dan sahabat Aqeel yang datang menjenguk. Dari pagi, kamar perawatan itu tidak pernah sepi dari penjenguk. Menjelang jam makan siang, Irzal datang bersama dengan Arsy. Disusul kemudian oleh Tamar dan Stella, Rakan dan Vanila, Rafa dan Dayana serta Zar dan Renata. Tak lupa Aidan, Arya dan Ervano juga menyempatkan datang di sela-sela jam makan siang mereka.
“Namanya siapa, bang?” tanya Arsy dengan mata tak lepas memandang bayi tampan di depannya.
“Fauzan Hasybi Vaughan.”
“Wah namanya bagus banget. Pasti panggilannya Ojan, hahaha..”
Aqeel menoyor kepala Zar, namun tak ayal senyum mengembang di wajahnya. Puas melihat wajah tampan bayi mungil yang tertidur nyenyak setelah puas menyusu, Arsy dan para wanita duduk di sofa. Mereka mengeluarkan makanan yang sengaja dibawa dari rumah. Selain menengok Iza yang baru melahirkan, mereka juga ingin makan bersama para suami di ruangan ini.
Renata membuka kotak bekal yang dibawanya. Dia membawakan cukup banyak makanan, karena tidak hanya membuatkan untuk Zar, tapi juga untuk Iza, Aqeel dan tiga jomblo lainnya, Aidan, Aryan dan Ervano. Makanan yang dibuat wanita itu juga nampak lezat. Capcay, ayam kemangi, tempe dan tahu bacem serta sambal.
“Ehmm wanginya,” ujar Stella.
“Lo bawa apa, Sy?” tanya Stella ketika melihat sepupunya itu mengeluarkan kotak bekal dari tote bag.
“Gue cuma masak bistik sapi, cah brokoli sama perkedel jagung.”
“Widih udah pinter masak nih.”
“Yoi.. ngga percuma gue cuti magang sebulan, langsung tancap gas belajar masak. Ada mama, bunda sama Yangpa yang ngajarin masak.”
“Lo bawa apa, La?”
Vanila segera mengeluarkan kotak bekal yang dibawanya. Stella benar-benar penasaran ingin mencicipi semua masakan yang dibawa oleh wanita yang sedang bersamanya. Dia menelan ludahnya kelat melihat ayam rica-rica, tumis toge dan tahu serta perkedel kentang yang dibawa Vanila. Dia langsung mencomot perkedel kentang dari kotak bekal Vanila.
“Ish..” desis Vanila namun diabaikan oleh Stella. Wanita itu hanya mengangkat bahunya saja.
“Lo sendiri bawa apa, Stel, Ay?” tanya Arsy.
Wanita itu cukup penasaran karena Stella dan Dayana hanya membawa satu wadah saja. Dayana segera membuka wadah miliknya. Terlihat telor ceplok yang dibumbui saos andalan berada di atas tempat makannya.
“Ya ampun Ay. Lo kaga bosen apa makan telor ceplok mulu,” seru Stella.
“Bang Rafa kaga bisulan apa? Lo udah hamil tiga bulan, itu telor ceplok kaga bosen ngikut mulu, hahaha..” Arsy tidak bisa menahan tawanya.
“Lo bawa apa, Stel?”
“Tahu siksa.”
Dengan bangganya Stella menyebutkan menu andalannya. Wanita itu membuka wadah tempat makannya. Terlihat masakan yang bahan utamanya tahu yang dihancurkan, ditumis dengan cincangan bawang putih, irisan bawang merah, daun bawang, cabe rawit merah dan taburan daun kemangi di dalamnya.
“Elah gue kirain apaan,” seru Vanila.
“Mas.. ayo makan dulu. bang Aqeel ayo makan,” seru Arsy.
Mendengar panggilan Arsy, sontak semuanya langsung mendekat. Aqeel mengambil makanan untuk dirinya juga Iza lalu kembali ke bed istrinya. Pria itu mulai menyuapi Iza dengan telaten.
“Buset bang, istri lo istiqomah banget masaknya telor ceplok mulu,” ceplos Zar.
“Aya belum bisa masak yang lain. Dia masih suka mual.”
“Yang sabar ya, bang. Kalo bisulan, tinggal ke Daffa minta dipecahin.”
Irzal menepuk pundak Rafa. Karuan saja ucapannya itu disambut gelak tawa lainnya. Dayana hanya memajukan bibirnya saja, mendengar ucapan Irzal yang akhir-akhir ini terdengar semakin julid saja.
“Ppssttt.. lo bikin apaan nih?”
Arya yang memang mengikuti jejak Zar dalam memanggil adik sepupunya, menunjuk pada wadah yang berisi masakan buatan ibu hamil itu. Tamar hanya nyengir saja melihat menu yang sudah seminggu ini selalu hadir di meja makannya. Istrinya itu keranjingan memakan tahu orek yang biasa disebut dengan tahu siksa olehnya.
“Tahu siksa,” jawab Stella cuek.
“Buset beneran disiksa nih tahu, udah dibejek-bejek terus di oseng-oseng di atas wajan, hahaha…”
“Lo pas bikinnya pake tenaga penuh ya, Stel.. nih tahu beneran ancur, hahaha..”
Sebuah tepakan mendarat di punggung Zar. Sontak pria itu langsung meringis karena tulang rusuknya masih belum sepenuhnya pulih. Tamar hampir saja tersedak mendengar celotehan Zar.
“Tam.. lo sering dibikinin tahu siksa sama Stella?” tanya Aidan.
“Bukan pernah lagi, hampir setiap hari.”
“Hahaha… kasihan amat lo. Stel.. tega lo, masa laki lo dikasih makan tahu siksa mulu. Tar dia letoy ngga punya tenaga buat ngejar penjahat, hahaha..”
Dengan kesal Tamar menoyor kepala Ervano. Cucu dari Juna itu memang tidak kalah somplak dari Zar dan juga Arya. Ada saja celotehan absurd yang keluar dari mulutnya. Keriuhan di ruang perawatan semakin bertambah ketika Daffa dan Geya masuk ke dalamnya.
“Wah datangnya tepat waktu nih, makan-makan,” seru Daffa sambil mengusap perutnya.
“Wah wadahnya sisa satu, Daf,” seru Arsy.
“Ngga apa-apa, kak. Aku bakal suapin bang Daffa,” cetus Geya.
“Cieee… yang perhatian banget sama calon imam,” goda Dayana.
Tanpa merasa risih, Geya segera mengambil nasi dan juga lauk pauknya. Diambilnya sendok yang tersisa, lalu menarik Daffa ke tempat yang masih kosong. Tanpa merasa malu Geya menyuapi Daffa. Mau tidak mau Daffa membuka mulutnya karena perutnya memang sudah lapar.
“Ya ampun, kok mereka yang sweet sih. Sini ayang, aku suapin juga.”
__ADS_1
Arsy berpindah duduk di dekat Irzal. Dia ikutan menyuapi Irzal. Dengan senang hati Irzal membuka mulutnya kemudian mendaratkan ciuman di pipi Arsy. Desisan terdengar dari para jomblo, termasuk Zar.
“Inget tempat oii!!” Zar.
“Au tuh, ngamar sana ngamar,” Aidan.
“Mata suci gue ternoda,” Ervano.
“Ayang Shifa, makan yuk,” Arya menyuapkan nasi ke mulutnya.
Tak mau kalah dengan Irzal, Rakan juga mencium pipi istrinya. Tentu saja para jomblo semakin dibuat kesal. Pemandangan menyakitkan kembali bertambah, ketika Rafa mengusap puncak kepala istrinya diiringi kecupan di sana. Tamar sebenarnya ingin bersikap mesra juga, namun apa daya Stella malah terlihat sibuk dengan makanannya.
Aqeel yang melihat tingkah para sahabatnya hanya tertawa saja. Dia ikutan mencium kening, pipi dan bibir sang istri. Sialnya pemandangan itu kembali terlihat oleh para jomblo. Zar hanya melihat frustrasi pada para pria yang sedang berlomba-lomba menunjukkan kemesraan pada pasangannya masing-masing.
“Ren.. abis ini kita ke KUA, yuk.”
“Bhuahahaha.. dia nganan,” Ervano tertawa meledek.
“Semua penghulu se-Indonesia pada cuti katanya Zar. Tidak melayani pernikahan hari ini,” sambung Aidan.
“Nama lo sementara diblack list di KUA, hahaha..” Irzal ikutan membully kakak iparnya itu.
Acara makan siang terus berlanjut diselingi perbincangan yang lebih menjurus pada pembullyan pada calon pengantin yang masih harus bersabar menunggu waktu pernikahan mereka tiba.
Setelah Aqeel menyelesaikan makannya, ponselnya pria itu berdering. Untuk beberapa saat pria itu berbicara di telepon, kemudian langsung bersiap setelah panggilannya berakhir. Aqeel segera mengenakan snelinya.
“Mau kemana?” tanya Rakan.
“Aku ada operasi setengah jam lagi.”
“Pasien anak itu ya, bang?” tanya Daffa.
“Iya. Kasihan, umurnya baru enam bulan. Tapi udah harus masuk ruang operasi. Ada masalah dengan paru-parunya.”
“Ya Allah kasihan banget,” cetus Dayana.
“Sayang, aku pergi dulu ya.”
“Iya, bang. Semoga operasinya lancar dan berhasil.”
“Aamiin..”
Aqeel mendaratkan ciuman di kening istrinya. Sebelum pergi, dia menyembatkan diri melihat anaknya yang masih tertidur. Setelah itu Aqeel bergegas keluar dari ruang perawatan tersebut.
Sepuluh menit berselang, giliran ponsel Daffa dan Arsy yang berdenting. Dengan cepat mereka membuka ponselnya. Sebuah pesan dari grup IGD masuk. Tiga orang pasien dengan luka trauma akan masuk ke IGD dalam waktu lima belas menit. Sontak Daffa dan Arsy langsung bersiap.
“Mas.. aku ke IGD dulu.”
Arsy mencium punggung tangan Irzal lalu bergegas keluar dari ruangan, disusul oleh Daffa. Keduanya bergegas menuju lift yang sudah terbuka pintunya. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di lantai dasar. Sambil berlari mereka segera menuju IGD. Semua staf medis sedang bersiap untuk menerima kedatangan pasien.
“Apa statusnya?”
“Kecelakaan mobil, tiga orang yang dibawa ke sini. Satu orang dengan cedera parah,” jelas Dante.
Beberapa saat kemudian terdengar sirine ambulans. Tiga ambulans berturut-turut berhenti tepat di depan IGD. Para perawat dengan sigap menyambut kedatangan pasien. Salah seorang pasien dengan luka parah didorong masuk lebih dulu.
“Pasien kehilangan banyak darah,” ujar petugas medis yang membawanya.
“Bawa ke ruang tindakan.”
Daffa dan Dante bergegas mengurus pasien pertama yang mengalami cedera parah di bagian perutnya. Dua pasien lainnya ditangani oleh Genta, Arsy dan dokter magang lainnya. Dengan cepat perawat memasang alat yang menunjukkan tanda vital pasien. Daffa memakai sarung tangannya lalu langsung memeriksa keadaan pasien.
Perlahan dia mengeluarkan besi yang tertancap di perut pria itu. Dante langsung menutup darah yang keluar dengan kasa yang sudah disiapkan.
“Sepertinya pendarahan harus dihentikan dari dalam,” ujar Dante.
“Keluarga pasien ada?”
“Ada, dia sedang mendapatkan perawatan.”
“Cederanya parah?”
“Ngga, dok. Hanya luka ringan.”
Daffa bergegas keluar dari ruang tindakan. Dia segera menghampiri istri pasien yang ditanganinya.
“Maaf, bu. bapak harus segera dioperasi, kami membutuhkan persetujuan ibu,” ujar Daffa tanpa basa-basi.
“Baik, dok.”
Mendengar ucapan suaminya, wanita itu beranjak dari tempatnya. Dia segera menuju meja perawat untuk menandatangani formulir persetujuan operasi. Daffa mendekati meja pasien lalu memeriksa ruang operasi melalui laptop yang terdapat di sana.
“Semua ruang operasi penuh,” gumamnya pelan.
“Dok, ruang operasinya masih penuh,” ujar salah satu perawat.
“Mana ruang operasi yang diperkirakan akan cepat selesai.”
“Ruang operasi 2, dok. Pasien dokter Reyhan.”
“Hubungi dokter Reyhan.”
__ADS_1
“Baik, dok.”
“Dokter Ansel, di mana dia? Hubungi juga.”
“Baik, dok.”
Daffa berlari kembali ke ruang tindakan. Dante baru saja selesai melakukan intubasi. Darah masih terus keluar dari perut pasien. Daffa mengganti kain kasa yang sudah berganti warna menjadi merah. Suster yang menghubungi Reyhan segera mendatangi ruangan tindakan. Dia mengarahkan ponsel yang dimode loudspeak pada Daffa.
“Bagaimana kondisi pasien?” tanya Reyhan.
“Pasien banyak kehilangan darah. Besi yang menancap di perutnya sepertinya melukai limpanya. Kami harus menghentikan pendarahan dari dalam.”
“Bisakah kamu menahannya sampai 10 menit?”
“Kondisinya sepertinya tidak akan bertahan sampai sepuluh menit. Darah terus keluar, dok.”
“Kalau begitu bedah di tempat, cari sumbernya lalu hentikan pendarahannya. Setelah aku selesai, bawa ke ruang operasi.”
Sejenak Daffa hanya terbengong saja mendengar titah sang ayah. Dia memang sudah beberapa kali mengikuti jalannya operasi, tetapi melakukan pembedahan di ruang tindakan adalah yang pertama baginya.
“Di mana dokter Ansel?” suara Reyhan membuyarkan lamunan Daffa.
“Dokter Ansel masih belum bisa dihubungi.”
“Dokter Daffa, kamu bisa melakukannya?”
Tak ada jawaban dari Daffa, pria itu masih terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya.
“Daffa!! Apa kamu bisa melakukannya?!”
“Ta.. tapi dok..”
“Jangan bimbang, ambil keputusan! Nyawa pasien ada di tanganmu. Apa kamu bisa melakukannya?!”
“Bisa, dok.”
“Lakukan sebaik mungkin. Aku akan menyelesaikan operasi secepatnya. Jaga dia tetap hidup bagaimana pun caranya!”
Begitu panggilan berakhir, Daffa segera menyadarkan dirinya. Dia meminta perawat yang membantunya segera menyiapkan peralatan. Pria itu kemudian menghampiri wali pasien yang masih menunggu dengan cemas.
“Ibu, suami ibu mengalami pendarahan hebat. Kami harus segera menghentikan pendarahan. Karena semua ruang operasi penuh, kami terpaksa melakukannya di sini. Apa ibu mengijinkan?”
“I.. iya, dok.”
Setelah mendapat ijin dari wali pasien, Daffa kembali masuk ke ruang tindakan. Dia mengganti sarung tangan dengan yang baru dan bersiap melakukan pembedahan pada pasien.
“Daf.. lo yakin?” tanya Dante.
“Harus.. nyawa pasien dalam bahaya. Lo dengar sendiri apa kata dokter Reyhan.”
Dante hanya menganggukkan kepalanya saja. Pria itu bersiap untuk membantu Daffa. Pria itu menghirup nafas dalam-dalam sejenak. Setelah mengucapkan doa dalam hati, Daffa memulai aksinya.
“Mess.”
Seorang perawat memberikan pisau bedah padanya. Dengan gerakan pelan Daffa menyayat perut pasien.
“Retractor.”
Dengan dibantu Dante, Daffa memisahkan tepi sayatan luka, agar dirinya bisa melihat bagian mana yang mengalami pendarahan.
“Suction.”
Perawat memasukkan selang ke dalam perut pasien lalu mulai menyedot darah keluar. Daffa mencari-cari bagian yang terluka.
“Irigation.”
Cairan saline segera dimasukkan ke dalam perut pasien.
“Suction.”
“Kasa.”
Seorang suster memasukkan kasa untuk mengeringkan darah. Tangan Daffa terus meraba bagian dalam perut pasiennya. Matanya terus mencari daerah yang terluka.
“Ketemu.”
Daffa berhasil menemukan luka yang menyebabkan pendarahan. Dilihatnya terdapat robekan di bagian limpa pasien.
“Suture.”
Perawat memberikan jarum beserta benang untuk menjahit luka tersebut. Dengan hati-hati Daffa menjahit luka tersebut, menutupnya sementara untuk menghentikan pendarahan. Dante dapat bernafas lega ketika rekannya itu dapat melakukannya dengan baik.
“Ruang operasi 2 siap,” seru salah satu orang perawat yang baru saja mendapat kabar.
“Tutup luka pasien dengan baju operasi, lalu bawa ke ruang operasi.”
“Dokter Daffa diminta dokter Reyhan ke ruang operasi.”
Daffa hanya menganggukkan kepalanya. Dengan cepat dia melepaskan pakaian steril dan sarung tangan yang digunakannya. Lalu bergegas menuju ruang operasi. Di belakangnya, dua orang perawat segera membawa bed pasien menuju ruang operasi.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Baru aja makan, Daf.. Udah ngorek² jeroan🤭