
Keesokkan paginya, semua keluarga yang menginap di hotel, sudah berkumpul di ruangan yang sudah mereka sewa untuk makan pagi bersama. Selain kedua orang tua pengantin, Irzal dan Arsy juga menginap di sana. Keduanya sedang dalam masa menyicil bulan madu. Begitu pula dengan Rakan dan Vanila. Daffa dan Geya pun tidak mau kalah, ikutan menyicil bulan madu, karena keduanya memang belum bulan madu.
Bersama dengan Aidsty, Aidan segera menuju ke ruangan yang telah disiapkan. Semalaman pria itu tidak bisa tidur. Selain grogi karena baru pertama kali tidur satu ranjang dengan wanita, pria itu juga tidak bisa menyentuh sang istri. Mereka tidur dengan posisi sedikit berjauhan.
Sesampainya di tempat makan, Aidan terkejut, karena bukan hanya Irzal, Rakan dan Daffa yang ada di sana. Tapi juga Zar, Arya, Nalendra dan Ervano. Keempat pria itu penasaran ingin melihat pengantin pria. Lebih tepatnya mencari celah untuk bisa meledeknya. Mereka yakin sekali bisa mendapatkan bahan bullyan untuk pengantin baru itu.
“Widih pengantin baru mukanya anyep bener,” celetuk Zar.
“Curiga gagal malam pertama,” sambung Arya.
“Atau mainnya singkat nih?” sahut Ervano.
“Jangan-jangan baru foreplay doang, hahaha..” seru Nalendra.
“Lo ngga salah lobang kan, Dan?” pungkas Irzal.
Mata Aidan mendelik pada atasan sekaligus sahabatnya itu. Di antara celetukan yang lain, celetukan Irzal yang paling membuatnya gondok. Bagaimana bisa sahabatnya itu menanyakan dirinya salah lubang atau tidak. Bahkan kesempatan untuk melihat lubang pun tidak terjadi.
“Udah.. jangan diledekin. Bang Idan emang belum malam pertama.”
Apa yang dikatakan Arsy, sontak mengundang tatapan dari para pria kepo tersebut. Mata Aidan langsung melotot pada Arsy. Irzal yang tak terima istrinya dipelototi menimpuk sahabatnya itu dengan timun yang menjadi garnish di nasi gorengnya.
“Tau dari mana, Sy?” tanya Zar memancing di air keruh.
“Itu si Disty jalannya masih normal. Ngga kaya bebek ngegang, hahaha…”
Aidan langsung tertunduk. Niat hati ingin menutup mulut tentang gagalnya malam pertama, agar para mulut lemes sahabatnya tidak meraja lela. Apa daya, ternyata Arsy muncul dan melakukan tohokan tajam. Jika sudah begini, Aidan hanya pasrah menjadi bulan-bulanan.
“Bhuahaha… sokooorrr… kualat lo udah nyalip gue. Nikah boleh duluan, tapi malam pertama, pasti gue hahaha…” Zar terlihat bahagia sekali.
“Yakin, lo? Kali aja pas lo nikah, sawah si Rena juga banjir.”
Skak mat! Apa yang dikatakan Irzal, membuat Zar langsung mingkem. Aidan tertawa bahagia, ternyata mulut pedas sahabatnya ada gunanya juga saat ini. Dia bisa meredam mulut si petasan banting.
“Udah.. dari pada mikirin sawah si Rena banjir apa, ngga. Mending lo pikirin gimana caranya ngadepin penghulu elo nanti,” Arya menepuk pundak sepupunya ini.
“Oh iya. Tuh penghulu ngga bisa dianggap remeh. Gue ngga mau dipermaluin kaya Tamar atau bang Rakan. Pokoknya gue harus bisa bales dia. Biasanya dia suka pake pantun ya?”
“Pantun, lirik lagu, lengkap dah. Lo harus punya banyak amunisi.”
“Nal.. lo bisa bikin pantun, ngga? Ajarin gue dong.”
Zar melihat pada Nalendra. Anak laki-laki satu-satunya dari Farel ini hanya mengerutkan keningnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Zar minta diajari pantun olehnya. Jangankan membuat pantun, membacanya saja tidak pernah. Pria itu tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia yang menurutnya lebih sulit dari belajar matematika.
“Si Nal mana bisa bikin pantun. Kalo bikin lotek pasti jago. Secara, gaulnya sama emak-emak, hahaha…”
Ucapan Daffa menyambut sambitan dari Nalendra. Namun pria itu juga ikutan terpingkal. Mengurus perkebunan Humanity Corp, membuat dirinya kerap bergaul dengan emak-emak. Memberi mereka penyuluhan bagaimana merawat tanaman dengan baik, bagaimana memisahkan hasil panen sesuai grade dan mengajarkan cara packing yang benar. Percayalah, mengajari emak-emak lebih sulit dibanding mengajar pelajar atau mahasiswa.
“Elo, Van. Bisa ngga?” kini Zar beralih pada Ervano.
“Gue punya pantun.”
“Apaan?” mata Zar nampak berbinar.
“Jinak-jinak burung merpati. Tidak sejinak burung sendiri. Burung merpati dipegang lari. Burung sendiri dipegang berdiri, hahaha…”
“Bentar-bentar… kok gue familiar ya sama tuh pantun.”
Semua menyetujui ucapan Zar. Mereka memang pernah mendengar seseorang mengucapkan pantun tersebut. Arya yang lebih dulu kembali ingatannya, langsung menepak kepala sepupunya itu.
“Itu puisi pakpeng buat si Tamar, PEA!”
“Bhuahahaha…. Gue cuma kasih contoh. Lo kalo mau bikin pantun harus modelan gitu. Yang isinya ledekin tuh penghulu, hahaha..”
“Kampret.. kirain beneran itu lo yang bikin pantun.”
Suara gelak tawa kembali terdengar. Orang tua Aidan sampai menolehkan kepalanya ke meja yang ditempati para pria itu. Aidan sendiri cukup terhibur dengan perbincangan para pria somplak yang sedang bersamanya. Setidaknya ucapan absurd mereka bisa sedikit mengurangi kesedihannya karena gagal malam pertama.
“Gue punya ide,” celetuk Irzal.
“Apa? Awas aja lo kaya si Vano.”
“Sini..”
Dengan santai Irzal menarik telinga Zar, kemudian dia mengatakan dengan suara pelan. Seolah-olah pantun tersebut takut bocor dan sampai ke telinga Rahman Surahman. Zar mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Sepertinya pantun buatan Irzal cocok untuk membalas penghulu somplak itu.
🍁🍁🍁
Adisty dan Aidan bersiap meninggalkan hotel. Rasanya mereka tidak perlu berlama-lama tinggal di sana, karena Aidan juga belum bisa melakukan malam pertama. Dia mengepak barang-barang yang tidak banyak. Adisty masih bingung, kemana suaminya ini mengajaknya pulang.
“Ehmm.. bang.. kita pulang kemana?”
__ADS_1
“Ke rumah kita. Aku udah beli rumah sejak dua tahun lalu. Tapi belum aku tempatin. Kemarin abis direnovasi dan dicat ulang. Barang juga belum semua dibeli. Nanti kamu aja yang pilih barang-barangnya.”
“Oh abang udah beli rumah ternyata.”
“Iya. Aku beli setelah tunangan. Sayang rumahnya ngga jadi tempatin. Baru sekarang ditempatin, bareng kamu pastinya.”
“Abang pernah tunangan?”
“Pernah. Tapi putus gitu aja.”
“Kenapa?”
“Tunangan eh mantan tunangan abang kepincut laki-laki lain. Dia minta putus dan nikah sama laki-laki pilihannya.”
Adisty terdiam mendengar cerita Aidan. Ternyata kisah percintaan pria itu sama seperti dirinya. Sama-sama dikecewakan oleh pasangan yang dicintai. Aidan mengangkat kopernya, dan mengajak Adisty keluar kamar hotel.
Bersama-sama mereka turun menggunakan lift. Supir yang bekerja di kantor sudah mengantarkan mobil Aidan ke hotel. Keduanya segera menuju basement, di mana mobil Aidan berada. Setelah memasukkan koper ke bagasi, pria itu segera menjalankan kendaraannya.
Tak butuh waktu lama bagi Aidan sampai ke kediamannya. Pria itu membeli sebuah town house yang isinya hanya ada dua puluh lima unit saja. Dia menghentikan kendaraannya di depan rumah bercat biru muda. Mata Adisty terus memandangi rumah dengan gaya minimalis di depannya.
“Ayo masuk,” ajak Aidan.
Seperti yang pria itu katakan, kondisi rumah belum sepenuhnya dipenuhi barang. Baru ada kasur, kulkas, kompor dan beberapa peralatan masak. Untuk lemari pakaian, Aidan sengaja membuat walk in closet di dalam kamarnya.
“Meja riasnya belum beli, maaf ya.”
“Ngga apa-apa, bang. Kan kita nikahnya dadakan juga.”
“Gimana kalau hari ini kita belanja?”
Baru saja Aidan selesai bicara, terdengar ketukan di pintu. Pria itu bergegas membukakan pintu. Seorang pria sudah berdiri di balik pintu. Mata Aidan kemudian melihat mobil bak terbuka yang di atasnya terdapat perabotan.
“Dengan bapak Aidan?” tanya kurir tersebut.
“Iya.”
“Ini ada kiriman dari pak Irzal. Silahkan ditanda tangani dulu.”
Cukup terkejut Aidan mendengar ucapan sang kurir. Ternyata sahabat yang merangkap sebagai atasannya benar memberikan hadiah pernikahan yang pernah dijanjikan untuknya. Kurir tersebut memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan satu set sofa beserta mejanya. Satu set meja makan dan meja rias.
“Eh baru mau beli meja rias, udah ada aja,” ujar Adisty.
“Hadiah pernikahan dari Bibie.”
“Dia emang baik, setia kawan juga. Cuma ngga nahan aja mulut merconnya kalau udah ngomong.”
Adisty hanya terkikik saja mendengarnya. Aidan memberikan arahan, di mana perabotan tersebut harus ditempatkan. Selesai menata barang sesuai keinginannya, kurir tersebut segera meninggalkan kediaman Aidan.
“Jadi kita tinggal beli apa nih?”
“Kita cicil aja, bang. Yang penting sekarang tuh beli peralatan masak. Abang belum beli magic com ya?”
“Belum,” Aidan melayangkan cengirannya seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Bentar aku list mau beli apa aja. Biar kita ngga bingung nanti beli apa aja.”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Aidan. Adisty duduk di sofa, lalu mengeluarkan ponselnya. Dia membuat memo di ponselnya, mengetik barang apa saja yang akan mereka beli. Sesekali gadis itu menuju dapur untuk memastikan peralatan apa lagi yang dibutuhkan.
🍁🍁🍁
Sebelum belanja kebutuhan lainnya, Aidan dan Adisty memilih berjalan-jalan. Anggap saja ini sebagai kencan pertama mereka setelah menyandang status halal. Aidan yang semula masih canggung untuk melakukan kontak fisik, kini sudah berani menggandeng tangan atau memeluk bahu istrinya. Adisty sendiri tidak menolak. Kontak fisik memang salah satu cara untuk mengembangkan hubungan. Apalagi mereka sudah sah di mata hukum dan agama.
Setelah mengisi perut, Aidan mengajak Adisty untuk menonton di bioskop. Untuk acara menonton kali ini, Adisty mengajak menonton film horror. Sebenarnya Aidan tidak terlalu menyukai film horror, bukan karena takut tapi di film genre tersebut sering terjadi adegan jump scare yang sering membuatnya jantungan. Namun demi istri tercinta, pria itu mengabulkannya.
Aidan mengajak menonton di kursi bagian tengah. Untung saja penonton yang melihat film ini terbilang banyak, hampir tiga perempat kursi terisi. Kadang Aidan tak habis pikir, apa yang membuat orang-orang menyukai film horror. Bahkan seorang penakut pun senang melihat film yang temanya selalu berputar pada makhluk astral.
Suasana mencekam langsung terasa di awal film, ditambah dengan backsound yang membuat bulu kuduk berdiri. Film berjudul THE MANSION itu menceritakan tentang sebuah rumah besar yang ada di pinggir jalan. Setiap yang singgah di rumah tersebut akan berakhir tragis dan tidak bisa keluar hidup-hidup.
Aidan berteriak kencang ketika pemeran wanita ditarik tiba-tiba dan tubuhnya terhempas ke kasur dan sedetik kemudian lampu Kristal di atasnya jatuh menimpanya. Adisty karuan ikut terkejut mendengar teriakan suaminya. Kepalanya menoleh, dia berusaha menahan tawa melihat kaki Aidan sampai naik ke atas kursi dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
“Kenapa, bang?”
“Duh sumpah nih film bikin jantungan,” rutuk Aidan.
“Hahaha… abang ngga suka film horror, ya.”
“Emang ngga. Demi kamu nih aku rela nonton horror.”
Adisty hanya menggelengkan kepalanya. Tapi dalam hatinya berbunga-bunga. Aidan mau melakukan hal yang tidak disukai demi dirinya. Sepanjang film berlangsung, teriakan-teriakan Aidan terus terdengar. Terkadang pria itu menyembunyikan wajahnya di balik lengan sang istri.
Seratus menit yang mencekam akhirnya selesai sudah. Aidan terbebas dari penderitaannya. Sekeluarnya dari studio, pria itu bergegas menuju toilet untuk menuntaskan hajatnya. Menonton film horror membuatnya tak kuasa menahan sesuatu yang hendak keluar. Adisty menunggu tak jauh dari toilet pria.
__ADS_1
Tak lama berselang, Adian selesai dengan kegiatannya. Pria itu segera keluar dari toilet. Adisty bermaksud menghampiri sang suami. Namun langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita mendekati Aidan. Pria itu juga terkejut melihat kemunculan Naomi, mantan tunangannya dulu.
“A Idan, apa kabar?” tanya Naomi.
“Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?”
“Kalau fisik baik-baik aja. Tapi hati, ngga.”
“Banyakin shalat, berdoa dan istighfar. Dijamin hati kamu bakalan tenang.”
Tak ingin melanjutkan perbincangan terlalu lama, Aidan bermaksud pergi. Namun dengan cepat Naomi menahan tangannya. Refleks pria itu melepaskan pegangan Naomi, lalu melihat pada wanita yang sudah menorehkan cinta sekaligus luka di hatinya.
“Na.. tolong jangan seperti ini. Bagaimana kalau suamimu melihat. Nanti dia bisa salah paham.”
“Aku sudah bercerai, a. Ternyata Barry tidak sebaik yang kukira. Dia berselingkuh sampai punya anak dari selingkuhannya.”
Tangis Naomi pecah ketika menceritakan kisah hidupnya. Adisty yang bersembunyi dibalik tembok hanya mendengarkan dengan dada berdebar. Dia takut Aidan akan kembali pada mantan tunangannya. Jika itu terjadi, maka bagaimana dengan nasibnya.
“Ketika kamu meninggalkanku dan memilih Barry, kamu harus sudah siap dengan segala konsekuensinya. Manis dan pahitnya harus kamu terima. Aku sudah melewati bagianku, rasa sakit yang kudapat karena pengkhianatanmu sudah habis. Jadi, nikmati saja apa yang menjadi pilihanmu.”
“Aku menyesal, aku minta maaf. Tolong beri aku kesempatan untuk kembali. Maafkan aku, a. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi.”
Jantung Adisty semakin tak menentu. Ingin rasanya dia langsung mendekat dan mengatakan statusnya sekarang. Tapi dia ingin melihat sampai di mana kesetiaan Aidan padanya saat disuguhkan cinta masa lalunya. Sedang Aidan hnya tersenyum samar mendengar penuturan Naomi. Dipandanginya wajah wanita yang sudah tidak ada dalam hati dan pikirannya lagi.
“Aku sudah memaafkanmu. Saat kamu meninggalkanku, aku sadar kalau kamu bukan yang terbaik untukmu. Terima kasih sudah meninggalkanku dan memberiku pelajaran berharga. Berkatmu, sekarang aku sudah menemukan bidadari dalam hidupku.”
Aidan menjeda ucapannya sejenak. Matanya berkeliling mencari keberadaan istrinya. Dia menangkap Adisty sedang melihat padanya dari balik tembok, tak jauh darinya. Pria itu mendekat lalu menarik tangan Adisty.
“Kenalkan, ini Adisty. Dia adalah istriku. Sayang.. ini Naomi, perempuan yang pernah kuceritakan padamu.”
Dada Adisty berdesir ketika Aidan memanggilnya dengan sebutan sayang. Sebuah senyum tercetak di wajahnya. Dia mengulurkan tangan pada Naomi. Ragu-ragu Naomi menyambut uluran tangan Adisty. Hati wanita itu hancur mendengar Aidan sudah menikah. Tadinya dia berharap bisa kembali pada mantan tunangannya itu.
“Senang berkenalan denganmu. Terima kasih sudah meninggalkan mas Idan, dan memberiku kesempatan untuk mendapatkannya. Semoga kamu memiliki kehidupan yang bahagia juga.”
Hanya anggukan kepala pelan saja yang diberikan oleh Naomi. Wanita itu segera meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut, dengan hati hancur. Aidan memandangi wajah Adisty yang masih memandangi punggung Naomi.
“Mas?” tanya Aidan.
“Kenapa? Ngga suka dengan panggilannya? Harus aku ganti akang, abah atau kanda?”
“Hahaha… aku suka kok panggilannya. Coba panggil lagi.”
“Mas,” wajah Adisty bersemu merah saat mengatakannya.
“Iya, sayang.”
BLUSH
Wajah Adisty bertambah merah mendengar panggilan sayang untuknya. Gadis itu menundukkan kepalanya. Aidan menggandeng tangan sang istri, kemudian keluar dari area studio. Sekarang mereka akan berburu peralatan dan perlengkapan rumah mereka.
“Aku sempat mikir, mas bakal balikan sama Naomi.”
“Untuk apa? Mantan itu hanya masa lalu, tempatnya ada di tong sampah. Karena mantan seperti Naomi atau Arga itu ngga layak buat didaur ulang.”
“Hahaha.. aku suka kata-katamu, mas.”
Keduanya terus berjalan menuju toko yang menjual peralatan rumah tangga. Mereka menggunakan eskalator untuk turun ke lantai bawah. Tak berapa lama kemudian, keduanya sudah sampai di toko ternama, APEM WARE.
“Ayo pilih, kamu mau beli barang apa aja.”
“Kita beli peralatan masak dulu. Itu penting banget.”
“Kamu bisa masak?”
“Dikit-dikit bisalah, kalau bumbunya ngga ribet. Ya pokoknya ngga telor ceplok atau mie instan doang. Mas mau aku masakin apa malam ini?”
“Malam ini kita beli makan di luar aja. Kamu pasti capek.”
“Ok.. besok aku bakalan masakin makanan istimewa buat mas.”
“Apa tuh?”
“Semur jengkol.”
“Hahaha…”
Sambil mendorong troli belanjaan, keduanya berjalan menyusuri koridor. Sesekali tangan Aidsty mengambil peralatan seperti pan, wajan, sutil, panci dan alat tempur lainnya. Tak lupa gadis itu juga membeli magic com, blender, chopper dan yang lain. Aidan dengan setia menemani sang istri berbelanja.
🍁🍁🍁
**Ada yang ngeh dengan judul film horrornya? Kalau yang udah baca cerpenku THE MANSION, pasti tahu😂
__ADS_1
Besok yang mau datang ke nikahannya Zar. Jangan lupa dress codenya hijau sage yang lagi viral. Jangan lupa juga bawa amplop sama kantong plastik🤣**