
Ballroom Humanity Corp kini sudah mulai didatangi tamu undangan. Pasangan pengantin beserta kedua orang tua sudah berada di panggung pelaminan. Mereka mulai menerima ucapan selamat dari tamu yang datang.
Sekali lagi Arya harus menahan rasa cemburunya ketika rekan-rekan sang istri, baik dari dalam atau luar negeri datang dan memberikan ucapan selamat. Setiap naik ke panggung, mereka selalu mendominasi sang istri. Mulai dari mengajak mengobrol dan membiarkannya seperti obat nyamuk tak berasap. Sampai mengajak foto bersama, sialnya Arya selalu tersisihkan. Karena mereka hanya ingin berfoto dengan mempelai wanita saja.
Shifa melihat wajah suaminya yang terlihat masam. Karena tak enak hati, tadi dia sempat menolak ajakan foto bersama kalau tidak bersama suaminya. Tapi Arya malah mempersilahkan, walau dalam hatinya benar-benar dongkol. Wanita itu kemudian memberi tanda pada pembawa acara untuk menghentikan tamu yang hendak memberikan ucapan selamat. Dia mengajak Arya duduk di kursi.
“Kamu kenapa? Mukanya anyep gitu.”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu pasti kesal ya sama teman-temanku. Maaf, ya. Bukannya mereka sengaja, tapi mungkin ini momen terakhir mereka bisa foto bareng aku. Besok-besok pasti mereka akan sungkan, karena aku sudah jadi nyonya Arya. Please Ar, jangan bête gitu dong. Ini kan pernikahan kita, hari bahagia kita berdua, bukan aku aja.”
“Iya.”
Akhirnya Arya berdamai dengan hatinya dan juga keadaan. Wajahnya mulai tersenyum dan tentu saja itu membuat Shifa bahagia. Bagi wanita itu, sekarang kebahagiaan Arya lebih penting untuknya. Mereka masih menikmati waktu berdua sambil berbincang ringan. Setelah mood Arya kembali baik, barulah mereka mempersilahkan para tamu untuk naik ke panggung pelaminan lagi.
Dari arah bawah panggung, nampak Dayana berjalan menaiki panggung pelaminan. Di sampingnya, Rafa dengan setia mendampingi. Perut wanita itu semakin membuncit saja. Sebenarnya Rafa sudah meminta Dayana tidak usah ke panggung pelaminan dan langsung pergi ke rumah sakit karena sudah mulai merasakan mulas. Namun Dayana tetap ingin berpamitan dengan pasangan pengantin.
“Ar.. Shifa.. aku pamit ya,” ujar Dayana setelah berada di dekat pasangan pengantin.
“Mau kemana, Ay?”
“Perut gue mules. Kayanya bentar lagi gue lahiran deh.”
“Ya udah, ke rumah sakit aja. Nanti abis acara kita nyusul.”
Arya tak tega melihat wajah sepupunya yang nampak meringis menahan sakit. Dayana berjalan hendak menuruni panggung, namun langkahnya terhenti ketika merasakan konstraksi. Melihat itu refleks pasangan pengantin dan kedua orang tua mereka mendekat.
“Aduh..” ringis Dayana.
“Kenapa Ay?” tanya Arya panik.
“Perut gue sakit.. aaahhh maass sakiiitttt.. aaaaaarrrgggghhh..”
“Aaaaarrrrrgghhhhh!!!”
Bukan hanya Dayana yang berteriak kesakitan, melainkan Arya juga. Pria itu berteriak ketika rambutnya ditarik oleh Dayana dengan kencang. Ketika wanita itu merasakan kontraksi, refleks dia menarik rambut Arya. Rafa berusaha melepaskan jambakan Dayana, namun istrinya itu begitu kuat menarik rambut sepupunya.
“Aaaw.. sakit Ay.. lepas aaawww… jambak rambut laki lo aja. Aaaawwww..”
Untuk beberapa saat Dayana terus menarik rambut Arya. Jambakannya baru terlepas ketika rasa sakit yang dirasakannya mereda. Rafa segera mengajak istrinya turun dan langsung membawanya ke rumah sakit sebelum aksi penjambakan terjadi lagi. Shifa mengusap kepala suaminya, sebisa mungkin dia menahan tawanya.
“Yang.. sakit ini, jangan ketawa mulu.”
“Hihihi.. maaf.. maaf.. nasibmu kok malang banget sih hari ini.”
Shifa mengajak Arya kembali duduk di kursi pelaminan. Dia terus mengusap kepala suaminya yang baru saja mengalami kekerasan ibu hamil. Zar yang melihat dari bawah panggung hanya terpingkal saja.
“Si Arya hari ini nasibnya apes banget ya. mulai dari akad sampe sekarang, hahaha..” celetuk Zar.
“Ya ngga apa-apalah kalo judulnya sengsara membawa nikmat. Kan tar malem dia bisa dapet yang enak-enak,” sambung Daffa.
“Ya kalau Shifa ngga banjir, hahaha..” sahut Irzal.
“Kalau sawahnya Shifa kebanjiran, ya paslah apes dotcom judulnya.”
Gelak tawa langsung terdengar dari lainnya menyambut ucapan Rakan. Melihat Dayana dan Rafa keluar dari ballroom. Beberapa dari mereka juga ikut keluar. Sepertinya nyonya Rafa itu akan segera melahirkan. Zar mengajak istrinya menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Dayana.
Bukan hanya Zar, Abi dan Kevin beserta istri segera menuju ke rumah sakit. Begitu juga dengan Ravin dan Freya. Beberapa keluarga masih bertahan di dalam gedung karena tak mungkin meninggalkan pasangan pengantin. Arya memandangi kepergian beberapa anggota keluarganya. Ingin rasanya dia menyusul, namun tak mungkin juga meninggalkan tamu yang masih terus berdatangan.
🍁🍁🍁
Sesampainya di rumah sakit, Dayana tidak langsung melahirkan. Dia masih harus menunggu karena masih pembukaan enam. Rafa dengan setia mendampingi sang istri berjalan-jalan untuk mempercepat pembukaan. Freya juga menemani dan menenangkan anaknya yang terus merengek ketika merasakan sakit. Orang tua Rafa juga langsung menyusul ke rumah sakit begitu mendengar menantu mereka akan segera melahirkan.
__ADS_1
Dua jam kemudian pembukaan sudah lengkap. Rafa masuk ke dalam ruang persalinan untuk mendampingi sang istri. Dokter Livia dan bidan Gina sudah siap untuk membantu jalannya persalinan, bersama dua suster lainnya. Dayana sudah berbaring di bed partus dan membuka kedua kakinya lebar-lebar.
Di sampingnya, Rafa terus mendampingi sambil terus memegangi tangan sang istri. Mulutnya tak henti memberikan motivasi untuk membesarkan hati Dayana dan menyemangatinya. Dokter Livia mulai memberi aba-aba untuk calon ibu itu. Beberapa kali Dayana diarahkan untuk menarik dan mengeluarkan nafas dan mengejan untuk mengeluarkan calon anaknya.
Tubuh wanita itu sudah lemas, dua puluh menit berlalu, namun sang anak nampaknya masih enggan untuk keluar. Rafa terus memberi semangat pada istrinya. Terkadang dia menyeka keringat di kening sang istri atau mencium keningnya. Melihat sikap Rafa padanya, membuat Dayana bertambah semangat.
“Ayo bu, tarik nafas, hembuskan. Tarik, hembuskan.. dorong bu,” ujar dokter Livia.
“Eehhhhmmmmm…”
Sambil mengejan Dayana mengeluarkan suara namun tetap dengan mengatupkan mulutnya. Dokter memang melarangnya untuk berteriak saat mengejan, takut akan terjadi pembengkakan di lehernya dan juga tidak diperbolehkan memejamkan matanya agar pendarahan tidak naik ke mata.
Setelah kali mengejan akhirnya janin yang dikandungnya selama sembilan bulan lebih berhasil dikeluarkan. Suara tangisan bayi itu langsung terdengar ketika kulitnya merasakan hawa lain di luar rahim ibunya. Rafa tak henti mengucapkan syukur saat melihat anaknya lahir ke dunia.
“Terima kasih, sayang.. terima kasih,” ujar Rafa sambil menciumi kening sang istri.
Di tengah rasa lelahnya, Dayana melihat anaknya yang tengah dibersihkan oleh suster kemudian ditimbang dan diukur. Suster itu kemudian membawa sang anak ke dekatnya lalu memberikannya pada Rafa. Suaminya itu langsung mengadzaninya di telinga kanannya. Setelahnya, bayi perempuan itu diletakkan di atas dada Dayana untuk diinisiasi dini.
“Selamat ibu, bapak. Anaknya lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Semua indranya lengkap,” jelas sang suster.
“Terima kasih, sus. Berapa beratnya?” tanya Rafa sambil matanya terus melihat pada anaknya yang tengah menyusu.
“Beratnya 3 kg dan panjangnya 49 cm.”
“Alhamdulillah.”
Mulut mungil bayi perempuan yang masih belum diketahui namanya nampak masih anteng menyedot kolostrum yang sangat baik untuk pencernaan anak yang baru lahir. Selain itu inisiasi dini juga berperan penting untuk perkembangan otak anak dan mencegah terjadinya kematian neonatal dini pada anak.
Setelah selesai melakukan inisiasi dini selama satu jam, dan kondisi rahim Dayana sudah dibersihkan dari sisa darah yang menempel, wanita itu dipersilahkan untuk beristirahat di ruang perawatan. Rafa membantu Dayana naik ke atas kursi roda, kemudian mendorongnya dengan sebelah tangan. Tangan sebelahnya lagi menggendong sang anak.
Freya beserta suami dan besannya langsung menyambut sang anak begitu keluar dari ruang persalinan. Mata mereka langsung tertuju pada bayi mungil nan cantik yang ada dalam gendongan Rafa. Freya mengambil bayi tersebut, senyumnya mengembang melihat cucu pertamanya telah lahir ke dunia.
Abi, Nina, Kevin dan Rindu langsung mendekat. Mereka bahagia sekaligus merasakan haru yang luar biasa. Di sisa umurnya, mereka masih diberikan kesempatan bisa melihat cicitnya lahir ke dunia. Bersama dengan Rafa dan Dayana, mereka segera menuju ruang perawatan VVIP yang ada di lantai 12.
Begitu pula dengan Arsy yang melihat keponakanannya dengan sorot mata penuh cinta. Dia berdoa semoga saja Tuhan segera memberikannya momongan lagi. Menggantikan calon anaknya yang tidak sempat lahir ke dunia. Irzal mendekati sang istri, kemudian memeluk tubuhnya dari belakang.
“Semoga kita cepat diberikan momongan lagi, sayang,” bisik Irzal.
“Aamiin..”
Selain Stella dan Arsy, Vanila dan Geya juga sudah berada di sana. Di tengah sindrom morning sick yang melanda, Vanila memaksakan diri menghadiri pernikahan sepupunya dan juga kelahiran anak Dayana. Saat ini Vanila memang tengah hamil muda. Usia kandungannya baru menginjak tujuh minggu. Sedang Geya langsung mengikuti program KB, atas anjuran Daffa. Pria itu masih ingin menikmati masa pacarannya bersama sang istri.
Setelah Arsy, Dayana, Vanila dan Geya beranjak dari boks bayi, kini giliran Renata dan Adisty yang melihat didampingi suami masing-masing. senyum tercetak di wajah kedua wanita yang baru saja melepaskan masa lajangnya seminggu yang lalu. Mereka berharap secepatnya diberikan momongan.
“Lucu banget ya, mas. Aku jadi pengen cepet-cepet punya anak,” ujar Adisty.
“Aamiin.. mudah-mudahan terkabulkan, sayang. Kamu kan sekarang lagi masa subur, kita usaha aja terus.”
“Ish..” Adisty menepuk tangan suaminya.
“Ren.. begitu kamu selesai datang bulan, kita gas lagi ya biar cebongku cepat berkembang,” bisik Zar.
Renata pura-pura tak mendengar, tentu saja malu sendiri mendengar celotehan suaminya. Namun sialnya, ucapan Zar masih bisa tertangkap telinga Aidan. Refleks pria itu menolehkan kepalanya pada Zar.
“Bini lo lagi palang merah ya?” tanya Aidan dengan tatapan mengejek.
“Tapi gue udah sempet jebol gawang ya, ngga kaya elo,” balas Zar.
“Baru sekali udah dipalang. Kasihan ngga bisa nambah, hahaha..”
Zar menatap Adian dengan kesal. Kenapa juga pria itu harus menguping pembicaraannya dengan Renata. Renata mengajak Zar duduk di sofa. Tak lama kemudian Aidan dan Adisty menyusul.
“Kalian sudah menyiapkan nama?” tanya Abi pada Rafa dan Dayana.
__ADS_1
“Udah, kek.”
“Hasil sendiri atau ada sumbangsih dari opa kamu?”
“Hasil sendiri, kek,” jawab Dayana.
“Emang kenapa kalau ada sumbangan dariku?” tanya Kevin sewot.
“Takutnya namanya malah ngga nyambung. Kan opanya Ujang, kali aja kasih nama cicitnya Icih.”
Mata Kevin membulat mendengar ucapan besan sekaligus sahabatnya. Baru saja akan membalas, pria itu kembali mengatupkan mulutnya setelah mendapat cubitan kecil dari istrinya. Hanya mulutnya saja yang komat-kamit tanpa mengeluarkan suara.
“Namanya siapa?” tanya Ravin.
“Almahyra Dzakira Syahreza,” jawab Rafa.
“Alhamdulillah, nama yang bagus. Lebih kreatif dari opanya,” ujar Abi santai.
Pintu ruangan VVIP terbuka, dari luar nampak pasangan pengantin baru memasuki ruangan. Setelah pesta resepsi berakhir, mereka langsung menyusul ke rumah sakit. Arya dan Shifa langsung menuju boks, untuk melihat wajah cantik keponakan mereka.
“Oh jadi ini keponakan om yang tadi narikin rambut om. Cantiknya," celetuk Arya.
“Bhuahaha.. pala lo pitak ngga, Ar?” tanya Zar.
“Pitak pastinya, diameternya pasti gede tuh,” sambung Daffa.
“Sialan lo, ngga ada empatinya banget. Tapi itu pengorbanan gue buat si cantik nih,” Arya mengusap kepalanya yang tadi dijambak Dayana.
“Namanya siapa?” tanya Shifa.
“Almahyra Dzakira Syahreza.”
“Panggilannya apa? Alma? Mahy? Hyra apa Dzaki?”
Arya hanya terkekeh saja melihat pelototan Dayana padanya setelah pertanyaan nyelenehnya. Pria itu menarik tangan Shifa menuju sofa yang sudah penuh. Mereka hanya berdiri saja di dekat Zar.
“Kalian jangan lama-lama di sini. Langsung pulang aja ke hotel. Ngga lucu pengantin baru bulan madunya di rumah sakit,” celetuk Irzal.
“Balik, Ar.. persiapan belah duren,” ujar Rakan.
Wajah Shifa memerah mendengar ucapan Rakan. Pria yang biasanya terlihat kalem, sekarang senang sekali melontarkan kalimat absurd yang terkadang suskses membuat lawan bicara merona. Arya hanya berdecak sebal saja melihat para sepupunya yang terus meledeknya.
“Emang yakin dia bisa langsung belah duren?” tanya Aidan.
“Coba tanya Shifa, sawahnya lagi banjir ngga? Hahaha..” lagi-lagi Renata harus mencubit sang suami karena ucapannya. Shifa sendiri berpura-pura tidak mendengar.
“Bukan soal sawah banjir. Gue malah takut si Arya salah coblos, hahaha..”
“Kampret!!”
Dengan kesal Arya menoyor kepala Daffa yang langsung dibalas tepukan keras di lengannya. Sang pelaku siapa lagi kalau bukan Geya yang tidak terima suaminya menjadi korban penganiayaan.
“Sudah.. sudah.. lebih balik kalian pulang. Kamu juga Arya, bawa istrimu pulang. Di sini sudah banyak yang menemani Aya,” ujar Cakra.
“Iya, eyang. Aku pulang dulu, ya. Ay.. bang Rafa, kita pulang.”
“Iya, Ar.. makasih udah datang.”
Sambil menggandeng tangan Shifa, Arya menarik tangan istrinya keluar dari ruangan tersebut. Hari sudah gelap begitu mereka keluar dari gedung rumah sakit. Arya mengajak Shifa mengisi perut dulu. Namun sebelumnya mereka menuju masjid terdekat untuk menunaikan shalat maghrib.
🍁🍁🍁
**Arya beneran jadi pengantin sial🤣
__ADS_1
Buat Dayana dan Rafa, selamat ya buat baby cantiknya🤗**