
Sambil bersiul, Aidan masuk ke dalam ruang kerja atasannya. Wajahnya nampak begitu sumringah. Kemarin dirinya dan Adisty berhasil membuat kesepakatan. Jika dalam waktu dua bulan dia bisa membuat Adisty jatuh cinta padanya, maka Aidan bisa menikahi gadis itu. Artinya, peluangnya untuk menyalip Zar terbuka lebar.
Beberapa dokumen ditaruh di depan Irzal. Tanpa membuang waktu, suami dari Arsy itu segera memeriksa dokumen sebelum menandatanganinya. Kepala Irzal terangkat, matanya melihat wajah Aidan yang sedang senyum-senyum sendiri.
“Kenapa, lo? Abis kesambet setan ganjen ya, senyum-senyum sendiri.”
“Please, Bie, jangan rusak hari indah gue dengan suara dan kata-kata lo yang bikin empet.”
“Ya gue cuma mau mastiin kewarasan elo aja. Kan bahaya kalau klien sampe tahu asisten CEO Infinity Corp gila.”
“Lo mau tau aja atau tau banget?”
“Ck.. sebenernya ngga penting juga buat gue, lo mau kasih tau apa ngga. Yang jelas jangan senyum-senyum sendiri. Ada satpol PP lewat, bisa-bisa langsung diangkut, lo. Dianter ke RSJ.”
“Ya Tuhan… berilah hamba kesabaran dan ketenangan hati menghadapi atasan durjana ini.”
Aidan mengangkat kedua tangannya seperti orang yang tengah berdoa. Irzal nampak tak peduli dengan apa yang dilakukan asisten sekaligus sahabatnya. Dia malah sibuk menandatangani dokumen. Aidan mendengus kesal, padahal dirinya berharap Irzal merengek padanya, meminta diceritakan apa yang membuatnya begitu bahagia.
“Hari ini, lo mau makan siang di mana? Pak Sastro ngajakin makan bareng.”
“Gue mau ke rumah sakit, makan siang bareng Arsy.”
“Ya udah, nanti gue kabarin pak Sastro.”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Irzal. Pria itu terus melanjutkan kegiatannya. Aidan terus memandangi atasannya yang tengah memeriksa dokumen lalu membubuhi tanda tangan di sana.
“Bie… kalau dalam waktu dekat gue minta cuti boleh, kan?”
“Mau ngapain? Mau ke bonbin, nyamain muka sama beruk?”
“Astaga, nih atasan emang minta dijahit mulutnya.”
Hanya kekehan saja yang terdengar dari mulut Irzal. Dia memang senang sekali menggoda sahabatnya itu yang mulutnya sering merepet jika sedang kesal. Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang terjadi pada asistennya itu. Tapi Irzal berusaha menahan diri dan membuat Aidan menceritakannya sendiri tanpa perlu dirinya memaksa apalagi memohon.
Tangan Aidan akhirnya menarik kursi di depan meja kerja Irzal. Dia memutuskan untuk menceritakan kabar gembira yang menimpa dirinya. Pria itu mengalah dan menceritakan dengan suka rela, walau dia tahu kalau Irzal hanya menahan gengsi saja untuk tidak bertanya lebih jauh.
“Minggu kemarin gue ketemu Disty.”
“Gue tau.”
“Gue nolongin dia yang kecelakaan.”
“Udah tau.”
“Tau dari mana, lo?” kesal Aidan.
“Lupa lo, bini gue yang nanganin Disty.”
“Oh iya, hehehe… tapi lo ngga tau kan kabar selanjutnya?”
“Tau.”
“Apa?”
“Wani piro.”
“Aseeem..”
“Hahaha..”
Tawa renyah Irzal langsung terdengar. Kini dirinya yang berhasil membuat Aidan penasaran. Mata Aidan terus mengawasi Irzal yang masih membubuhkan tanda tangan di dokumen terakhir. Irzal menyusun semua dokumen yang sudah ditanda tangani, lalu memberikannya lagi pada Aidan.
“Lo ngajak Disty makan mie ayam di tempat si Kriwil.”
“Kok tau?”
“Gue, Irzal Habibie Ramadhan. Apa sih yang gue ngga tau soal Muhammad Aidan Basman.”
“Cih…”
Aidan hanya berdecih melihat sikap jumawa sahabatnya itu. Otaknya berputar keras mencari tahu, bagaimana Irzal bisa mengetahui kedatangannya ke tempat si Kriwil. Pria itu lalu menjentikkan jemarinya.
“Pasti si Kriwil yang kasih tau.”
“Ngga.”
“Jangan bohong, lo.”
“Tanya aja sama si Kriwil. Lagian ngga penting juga dia laporan sama gue.”
“Lah kalo bukan dari si Kriwil, lo tahu dari mana?”
“Mau tau aja atau mau tau banget?”
Dengusan kesal Aidan terdengar, membuat Irzal semakin terpingkal. Waktu itu tanpa sengaja Tamar melihat Aidan bersama Adisty di gerobak mie ayam Mustafa. Tamar yang datang bersama Stella hanya berselang beberapa detik saja sebelum Aidan meninggalkan tempat tersebut. Tentu saja Tamar tahu soal Adisty dari istrinya.
“Tapi di luar masalah gue ke tempat si Kriwil, lo pasti ngga tau kan?”
“Emang penting gue harus tau?”
“Kampret! Bilang aja gitu lo penasaran, beres kan Bie,” Aidan semakin dibuat kesal.
“Hahaha.. lo mau cerita ngga, beruk?”
“Ya udah, gue cerita nih. Jadi gini.. kemarin gue nganter Disty ke pertunangan mantan pacarnya. Nah tiba-tiba dia nantangin gue. Kalau dalam waktu dua bulan gue bisa bikin dia jatuh cinta sama gue, dia siap dinikahin sama gue.”
“Kalo lo menang, kalian nikah?”
“Iya.”
“Kalau lo, kalah?”
__ADS_1
“Gue bakal nyanyi di setiap perempatan yang ada di Bandung sambil pake daster.”
“Hahahaha…”
Tawa Irzal tak dapat dibendung ketika membayangkan sahabatnya itu mengenakan daster, memakai lipstick di bibirnya lalu menyanyi di depan perempatan lampu merah sambil membawa kecrekan.
“Lo dukung gue, kan?”
“Pasti gue dukung.”
“Nah gitu dong. Dukung gue dapetin Disty.”
“Gue dukung elo nyanyi di perempatan pake daster, hahahaha…”
“Kampret!!”
Perbincangan ringan keduanya terpaksa berhenti ketika Zain masuk ke dalam ruangan dan mengabarkan kalau rapat akan segera dimulai. Irzal bangun dari duduknya, menyambar jas yang ada di capstok, lalu keluar dari ruangannya bersama dengan Aidan.
🍁🍁🍁
“Ge..”
Langkah Geya yang hendak memasuki lobi rumah sakit Ibnu Sina tertahan ketika mendengar suara Adisty memanggilnya. Gadis itu berhenti, lalu menunggu sampai Adisty sampai ke dekatnya.
“Ngapain kamu ke sini, Ge? Ngintilin suami kamu kerja, ya?”
“Ish.. fatonah banget. Aku mau ambil data buat laporan magangku. Kakak sendiri ngapain ke sini?”
“Mau ketemu Arsy.”
“Ngapain?”
“Mau tanya-tanya soal Aidan.”
“Wew.. ada yang terseponah nih sama bang Idan.”
“Bukan gitu. Aku bikin taruhan sama dia.”
“Taruhan apa?”
“Mau tau aja atau tau banget?”
“Dih.. ngga niat banget kasih taunya. Asal kak Disty tau, selain sama bang Irzal, bang Idan itu sobatan juga sama suamiku. Jadi kalau kakak butuh informasi soal bang Idan, bisa tanya sama ayang Daffa.”
“Jiaaahhh ayang.”
“Iya, dong. Ayang alias abang sayang.”
“Hoek..”
Geya hanya terkikik geli melihat kakak sepupunya bergaya seperti ingin muntah saja. Gadis itu berpamitan ke ruangan di mana dirinya dulu magang dan berjanji akan menemui Adisty lagi setelah urusannya selesai. Sepeninggal Geya, Adisty melanjutkan langkahnya. Kali ini gadis itu menuju IGD.
Kepala Adisty bergerak ke kanan dan kiri mencari keberadaan sepupunya. Sudut matanya lalu menangkap Arsy tengah menangani pasien. Dia memilih menunggu Arsy selesai melakukan pekerjaannya di kursi tunggu yang ada di lobi rumah sakit. Sebelumnya gadis itu mengirimkan pesan pada sepupunya itu.
“Gimana, kak?” tanya Geya begitu duduk di samping Arsy.
“Jadi gini. Aidan kan nemenin gue pas ke acara tunangan Arga. Nah gue kan ngaku ke Arga kalau Aidan calon suami gue. Gue bilang dijodohin biar tuh laki percaya. Nah dari situ gue sama Aidan bikin kesepakatan. Kalau dalam waktu dua bulan dia bisa bikin gue jatuh cinta sama gue, kita bakalan nikah. Tapi kalau ngga, dia bakalan nyanyi di setiap perempatan yang ada di Bandung sambil pake daster.”
“Hahahaha…”
Tawa Arsy dan Geya langsung meledak mendengarnya. tentu saja keduanya berharap Aidan akan kalah taruhan. Dengan begitu mereka bisa melihat laki-laki gagah itu memakai daster lalu bernyanyi di setiap perempatan yang ada di Bandung. Geya yakin kalau aksi Aidan itu dimasukkan ke channel utube, pasti akan banyak mendapatkan like dan juga subscriber.
“Nah gue tuh sebenernya pengen tau kalau Aidan tuh orangnya kaya gimana.”
“Yang pasti gokil,” seru Arsy.
“PD abis,” timpal Geya.
“Jomblo akut.”
“Setia kawan.”
“Tukar tebar pesona.”
“Ngomongnya suka asal jeplak.”
Bergantian Arsy dan Geya menyebutkan semua hal tentang Aidan yang mereka tahu. Adisty menggaruk kepalanya pelan. Kenapa semua yang dikatakan sahabatnya lebih kepada meledek pria tersebut.
“Tapi gue setuju sih kalo lo sama Aidan. Dia itu aslinya baik banget, ngga genit juga jadi cowok, soleh dan yang jelas masa depannya cerah,” terang Arsy.
“Gitu, ya.”
“Dicoba aja dulu, kak. Kalau cocok ambil, ngga cocok buang ke tong sampah, hahaha…”
“Lo kira sandal jepit.”
“Hahaha..”
Baru saja Arsy hendak mengatakan pendapatnya lagi tentang Aidan, tiba-tiba ponselnya berdenting. Pesan dari IGD masuk. Sebentar lagi mereka akan mendapatkan beberapa pasien yang mengalami luka-luka akibat perseteruan. Arsy memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku baju OK yang dikenakannya. Dia berpamitan pada kedua sepupunya lalu bergegas menuju IGD.
“Ada apa?” tanya Adisty bingung.
“Pasti ada kasus darurat.”
Adisty hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian terdengar suara sirine ambulans memasuki area rumah sakit. Empat buah ambulans berurut-turut berhenti di depan IGD mengantarkan korban perseteruan. Di belakang mobil ambulans tersebut berhenti dua buah mobil SUV. Beberapa pria yang gayanya seperti preman turun, lalu masuk ke dalam IGD.
Seketika suasana IGD menjadi riuh dengan kesibukan para dokter dan suster, belum lagi dengan banyaknya pria berwajah seram dan bertato. Ada yang mendapat perawatan ringan, ada juga yang mengawasi para dokter menangani pasien, seperti seorang mandor bangunan.
Tiga buah blankar didorong menuju ruang tindakan. Ketiga pasien itu masuk dalam keadaan darurat dan membutuhkan pertolongan medis dengan segera. Suster segera menghubungi Reyhan dan Fandi untuk membantu di IGD. Arsy bersama beberapa dokter magang dan koas, membantu pasien yang mengalami luka sedang dan ringan.
“Apa yang bapak rasakan?” tanya Arsy pada pasien yang saat ini sedang duduk di atas blankar. Pria itu mengeluh sakit di bagian perutnya. Arsy mengangkat pakaian pasien dan melihat luka memar di bagian kanan perutnya.
__ADS_1
“Suster, ambilkan USG!”
Arsy meminta pasien itu untuk berbaring, lalu segera melakukan USG. Mata Arsy melihat pada layar, sedang tangannya terus menggerakkan probe. Sesekali terdengar ringisan pria itu ketika probe di tangan Arsy sedikit menekan luka memarnya.
“Ada pembengkakan internal di lambung, tapi tidak sampai terjadi pendarahan. Apa bapak baru saja terkena pukulan benda tumpul?”
“Iya.”
Dokter magang itu mengakhiri pemeriksaannya. Dia meminta suster untuk memberikan obat pereda nyeri dan menginfus pria itu. Selanjutnya Arsy berpindah ke blankar lain. Kondisi IGD saat ini benar-benar ramai. Arsy sampai kesulitan bergerak ke sana kemari karena keberadaan para pria berpenampilan preman ini.
Keadaan bertambah ramai ketika anggota kepolisian ikut datang. Mereka baru saja mendapat laporan terjadi baku hantam antara anggota gank Margarita dan The Cave. Tamar yang ikut langsung menanyai anggota gank yang ada di IGD.
“Di mana pimpinanmu?” tanya Tamar pada salah satu anggota The Cave.
“Sedang dirawat, dia mengalami luka tusukan di perutnya.”
Mata Tamar langsung melihat ke arah ruang tindakan. Pria itu berjalan ke sana dan mengamati jalannya pertolongan pertama pada para korban. Nampak Daffa, Ansel, Dante dan Genta berjibaku untuk menolong ketiga pasien tersebut.
“Intubasi!” seru Daffa yang melihat pasien yang ditanganinya mengalami kesulitan bernafas. Dengan cekatan suster Rima membantu dokter tersebut melakukan intubasi.
“Dok.. darah terus keluar dari luka tembakan,” seru Rima.
“Hubungi ruang operasi apakah sudah siap?”
“Baik, dok.”
“Bagaimana situasinya?” Reyhan datang untuk membantu. Dia segera memeriksa luka tembakan yang ada di area perut.
“Pendarahannya belum berhenti.”
“Ruang operasi akan siap dalam sepuluh menit,” ujar suster Rima.
“Kalau begitu kita harus menghentikan pendarahan di sini.”
“Baik, dok.”
Daffa segera bersiap untuk melakukan pembedahan. Untuk kedua kalinya dia harus membedah pasien di ruang tindakan demi menyelamatkan nyawa pasien. Pria itu keluar sebentar untuk memakai pakaian steril. Di saat itu salah satu anak buah Margarita menghampiri.
“Bagaimana keadaan pimpinan kami?”
“Kami akan menghentikan pendarahannya. Dia akan segera dioperasi.”
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Daffa kembali masuk ke ruang tindakan. Suster Rima membantu pria itu untuk membedah pasien dengan luka tembak. Pria itu memberikan sayatan pada bagian perut, kemudian melebarkannya dengan retractor.
“Suction!”
Suster Rima segera menyedot darah yang keluar. Reyhan mendekat, kemudian membantu mencari peluru yang bersarang di organ pria itu. Reyhan mengeluarkan peluru yang bersarang menggunakan pinset.
“Tutup lukanya dengan staples, lalu kirim ke ruang operasi.”
“Baik, dok.”
Suster Rima memberikan staples, lalu Daffa menutup luka bekas peluru dengan alat tersebut. Pria itu segera memerintahkan suster membawa pasien itu ke ruang operasi. Reyhan kemudian melihat pasien lain yang sedang ditangani Ansel. Pria itu juga harus melakukan pembedahan untuk menghentikan pendarahan. Pisau yang menancap di perut pria dengan banyak tato di tubuhnya, mengenai pembuluh darah dan menimbulkan kerusakan pada organ lainnya.
Dibantu suster lainnya, Ansel mulai membedah perut pasien tersebut. Banyaknya darah yang keluar, membuat pria itu kesulitan untuk mencari sumber masalah. Reyhan membantu dokter muda tersebut. Setelah menyedot darah, mereka kembali menuangkan cairan NaCL, kemudian menyedotnya lagi.
“Apa kamu bisa menemukannya?” tanya Reyhan.
“Sebentar, dok.”
Ansel terus mencari luka di bagian aorta yang terus mengeluarkan darah dengan mata dan tangannya. Akhirnya dia berhasil menemukan sumber luka. Dengan cepat pria itu menjahit luka tersebut. Reyhan menepuk pundak Ansel pelan.
“Ruang operasi sudah siap. Kamu bisa melakukannya sendiri?” tanya Reyhan.
“Bisa, dok.”
“Ok.. saya akan menangani pasien yang terkena tembakan.”
Reyhan bergegas keluar dari ruang tindakan, menuju ruang operasi. Di belakangnya, Daffa segera menyusul. Dia akan menjadi asisten sang ayah. Sementara itu, Fandi dan Dante berjuang keras menyelamatkan pasien yang mengalami pendarahan internal akibat pukulan benda tumpul.
Suster mengabarkan semua ruang operasi sudah siap. Empat orang perawat bersiap memindahkan dua pasien yang tersisa menuju ruang operasi. Ansel keluar dari ruang tindakan. Dengan cepat dia membuka sarung tangan dan baju steril dari tubuhnya. Di saat bersamaan, anak buah pasien yang ditanganinya mendekat.
“Kamu harus menyelamatkannya, harus!!”
“Saya akan berusaha semampunya.”
“Kalau kamu gagal menyelamatkannya. Maka kamu juga akan kehilangan nyawamu!”
Sejenak Ansel tertegun mendengar ancaman pria di dekatnya. Namun dia mengabaikannya, dan bergegas menuju ruang operasi.
🍁🍁🍁
Setelah berjuang di ruang operasi, akhirnya Ansel berhasil menyelamatkan pria yang terkena luka tusukan samurai yang sampai tembus ke belakang. Kondisi pasien itu sendiri masih kritis dan dalam pemantauan di ruang ICU. Ansel kembali ke IGD, kondisi di sana sudah terkendali. Pasien yang datang sudah dapat ditangani dengan baik. Ansel memilih bersantai di halaman belakang rumah sakit. Baru saja dia mendudukkan bokongnya di salah satu kursi, terdengar seseorang memanggilnya.
“Oii dokter!”
Kepala Ansel langsung tertoleh. Pria itu menelan ludahnya kelat ketika melihat pria yang mengancamnya tadi mendekat. Bersama dengan pria itu, datang juga beberapa anak buahnya yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Perlahan Ansel bangun dari duduknya. Dia langsung bersikap waspada.
“Bagaimana keadaan bos kami?”
“Operasinya berhasil. Tapi kondisinya masih kritis. Berdoa saja dia bisa melewati masa kritis.”
“Bukan jawaban seperti itu yang kami harapkan, dokter.”
Dengan cepat pria itu menarik baju OK yang dikenakan Ansel. Ketakutan mulai menyelimuti perasaan Ansel. Matanya memandangi para pria yang berdiri mengelilinginya.
“Kami ingin dia selamat. Ingat.. kalau terjadi sesuatu pada bos kami, kamu yang akan menanggungnya!”
“OOII!!!”
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Oii juga😂
Siapa tuh yang dateng ya? Yang nolongin Ansel apa anggota genk Margarita**?