
Stella menunjuk ruang kosong di sebelahnya. Tamar dan Aji hanya saling berpandangan saja, karena tak melihat siapa pun di samping Stella.
“Kamu jangan bercanda, ya,” kesal Tamar.
“Saya ngga bercanda, pak. Saksinya itu Suzy alias Malika, jin penunggu unit apartemen Ferdi.”
“APA??!!”
Melihat reaksi Tamar dan Aji, Stella hanya melemparkan cengirannya saja. Dia sebenarnya sudah menduga akan reaksi mereka berdua. Tapi gadis itu tak punya pilihan lain, kecuali mengatakan yang sebenarnya.
Tamar menundukkan kepalanya sejenak. Kalau boleh jujur, ingin rasanya dia memasukkan Stella ke dalam karung lalu melemparnya keluar. Dia sudah meluangkan waktu mendengarkan penjelasan gadis itu, malah diakhiri dengan jawaban absurdnya. Pria itu melihat pada bawahannya.
“Aji…”
“I.. iya.. capt..”
“Bawa perempuan ini keluar!!”
“Eh bentar-bentar, aku ngga bohong. Ini beneran jin yang kasih info ke aku.”
“Yaa.. kamu anggap aku orang bodoh? Bisa-bisanya kamu menyeret jin ke kasus ini. Aji! Bawa dia keluar.”
“Ta.. tapi beneran, dia..”
“KELUAR!!!”
Stella terkesiap mendengar suara kencang Tamar. Gadis itu segera bangun dari duduknya, lalu keluar dari ruangan tersebut. Hatinya sungguh kesal melihat sikap Tamar padanya. Aji bergegas mengikuti Stella. Sadar diikuti oleh Aji, Stella menghentikan langkahnya. Dia berbalik lalu melihat pada Aji.
“Dengar ya, aku ngga bohong soal jin!”
“Pulang aja ya, dek. Jangan bikin captain marah besar, ok.”
Aji menggerakkan tangannya, mempersilahkan Stella untuk pergi. Dengan kesal Stella membalikkan badan, kemudian berjalan cepat menuju mobilnya. Dia segera naik ke kendaraan roda empat tersebut kemudian berteriak kencang.
“Aaaarrggghhh!! Polisi nyebelin.”
“Stel, kita….”
“DIEM!!! Semua gara-gara elo! Gue dianggap orang gila sama si polisi rese itu gara-gara elo!”
Telunjuk Stella menunjuk tepat pada Suzy. Tapi jin wanita itu hanya melihat pada Stella tanpa ekspresi. Stella segera menghidupkan mesin mobilnya, kemudian tancap gas meninggalkan kantor bareskrim.
“Kamu bilang aja kalau ada bukti di apartemen. Aku tahu di mana buktinya.”
“Lo pikir tuh polisi rese bakalan percaya?”
“Coba aja dulu.”
“Coba.. coba.. lo ngga lihat reaksinya tadi? Dia itu ngeliatin gue udah kaya ngeliat orang gila!”
Suzy tak melanjutkan kata-katanya. Dia memilih diam, besok dia akan kembali membujuk Stella, agar mau mendatangi unit apartemen tersebut bersamanya. Mereka harus segera mengamankan bukti dan memberikannya pada Tamar agar polisi itu percaya.
🍁🍁🍁
Tamar menghempaskan tubuhnya di sofa. Tangannya memijat kepalanya yang terasa pening. Gara-gara Stella, dia terpaksa menunda laporan. Alhasil dia mendapat semprotan dari atasannya. Pria itu menegakkan tubuhnya ketika Irzal dan Aidan datang. Tak lama Fathir sampai ke dekat mereka.
Seorang pelayan langsung memberikan minuman yang sudah dipesan sebelumnya. Saat ini mereka sedang berada di private room More & Most Coffee. Para pria itu sepakat bertemu untuk membicarakan perkembangan pencarian Richie dan kawan-kawan. Anak buah Duta sudah ada yang menyusup ke markas Margarita dan juga tim keamanan Alvaro. Sedang anak buah Rimba, menyusup ke markas The Cave.
“Kenapa muka lo kusut gitu?” tanya Irzal pada Tamar.
“Pusing gue, gara-gara cewek gila.”
“Siapa?”
“Lupa gue namanya. Dia dateng terus bilang kalau kasus kemarin di apartemen itu bukan kasus over dosis tapi pembunuhan. Dia cerita panjang lebar, kronologi gimana akhirnya korban sampe mati over dosis. Pas gue tanya saksinya mana, eh dia bilang jin penunggu apartemen.”
“Bhuahahaha… siapa tuh cewek? Astaga, hahaha…” Aidan tak bisa menahan tawanya.
“Kayanya sepupu calon lo, Bie. Sumpah gue lupa namanya, yang dulu kecelakaan.”
“Stella?”
“Nah iya, Stella. Dasar pengacau tuh cewek,” Tamar mengambil gelas di depannya kemudian meneguknya sampai habis setengah.
“Tapi kata Arsy, dia emang bisa lihat makhluk astral. Keturunan eyang Cakra katanya emang punya kemampuan indigo,” jelas Irzal.
“Yang bener?” Aidan nampak tak percaya.
“Tapi coba lo tanya Zar, deh. Bentar lagi dia sampe.”
Tamar terdiam merenungi ucapan Irzal. Kalau informasi tersebut berasal dari sahabatnya, rasanya itu informasi yang valid. Tapi dia tidak bisa mempercayai begitu saja ucapan Stella. Bisa saja jin wanita itu membohonginya.
Tak berapa lama Zar tiba bersama dengan Imron. Pria itu menyapa semua yang ada di ruangan, kemudian mendudukkan dirinya di sisi Irzal. Matanya langsung tertuju pada Tamar. Di antara yang lain, wajah pria itu yang terlihat paling kusut.
“Kenapa tuh orang?” tanya Zar pada Irzal.
“Zar.. sepupu lo, Stella. Beneran bisa lihat makhluk astral.”
“Katanya. Begitu bangun dari komanya, dia emang bisa lihat makhluk astral. Gue aja pernah dites sama dia.”
“Di tes apaan?”
“Jadi.. ada orang-orang yang kalau dia deket sama orang itu, makhluk astral yang coba deketin dia mental. Nah dia nguji gue, tapi hasilnya zonk, hahaha…”
“Zonk gimana?” tanya Aidan penasaran.
“Setannya ngga kabur kalo gue deket-deket dia, hahaha…”
“Hahaha…”
Suara gelak tawa terdengar menyambut ucapan Zar, kecuali Tamar. Pria itu nampak berpikir, sudah tiga kali gadis itu memegangnya. Saat itu kondisi Stella kelihatan begitu takut. Tamar jadi menerka-nerka apakah dirinya bisa mengusir makhluk astral tersebut atau tidak.
“Gimana soal Richie, udah ada perkembangan belum?” tanya Zar pada Imron dan Fathir.
“Dia sepertinya masih bersembunyi dengan baik. Tapi tunggu saja laporan dari Diki dan Candra, mereka masih mencari tahu di mana Richie bersembunyi,” jawab Imron.
“Tuh belut pinter banget ngumpetnya,” kesal Zar.
Merasakan ponsel di saku celananya bergetar, Irzal mengambil ponsel miliknya. Sebuah pesan dari Arsy masuk. Kening Irzal berkerut membaca pesan dari calon istrinya itu.
From Miss Jutek :
__ADS_1
Bisa jemput aku di RS? Ban mobilku kempes semua. Aku telepon Zar ngga diangkat.
Mata Irzal langsung melihat pada Zar. Pria itu masih serius berbicara dengan Imron dan Fathir. Setelah berpikir sebentar, Irzal membalas pesan sang calon istri.
To Miss Jutek :
Tunggu di depan lobi. Aku jemput sekarang.
Setelah membalas pesan Arsy, Irzal menghabiskan minumannya, kemudian berdiri dari duduknya. Sontak Aidan dan Tamar langsung melihatnya dengan mata penuh tanda tanya.
“Mau kemana?” tanya Tamar.
“Jemput Arsy dulu.”
“Uhuk…”
Mata Irzal mendelik mendengar godaan Aidan. Pria itu segera menyambung pembicaraan Zar dengan Fathir dan Imron melihat tatapan horror sang atasan. Tanpa berpamitan pada yang lain, Irzal segera meninggalkan private room tersebut.
🍁🍁🍁
Setelah menghubungi Irzal, Arsy segera berganti pakaian lalu membereskan barang-barangnya. Dia masih kesal mendapati empat ban mobilnya kempes semua. Padahal tadi kondisinya masih baik-baik saja. Yang lebih menyebalkan kamera cctv tidak bisa menangkap wajah sang pelaku.
Gadis itu keluar dari ruang istirahat dokter IGD dan berjalan menuju lobi rumah sakit. Cukup lama dia menunggu di sana. Sampai akhirnya dia melihat kendaraan yang dikemudikan Irzal memasuki pelataran rumah sakit. Pria itu menghentikan kendaraan tepat di depan Arsy. Tanpa menunggu lama, gadis itu segera naik ke dalam mobil.
“Mobil kamu kenapa?”
“Bannya kempes semua. Heran siapa sih yang jahil,” gerutu Arsy.
Tanpa harus menyelidiki lebih lanjut, Irzal sudah tahu pasti Daffa yang menjadi dalangnya. Walau tidak melakukannya sendiri, sepupunya itu pasti sudah menyuruh orang lain untuk menjalankan rencananya. Tapi Irzal tak berniat mengatakannya pada Arsy, percuma saja, dia yakin di belakang Daffa pasti ada Abi.
“Kamu lagi sibuk, ngga? Maaf udah ganggu.”
“Ngga apa-apa.”
Irzal melihat jam di pergelangan tangannya, waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam. Pria itu segera mengarahkan kendaraannya menuju mall The Ocean. Dia bermaksud mengajak Arsy membeli cincin pernikahan, mumpung memiliki waktu senggang bersama.
“Kita mau kemana?”
“Ke mall. Kita beli cincin pernikahan sekarang aja.”
Tak ada jawaban dari Arsy, yang artinya gadis itu setuju saja dengan rencana calon suaminya. Tak berselang lama, mereka tiba di mall yang dimaksud. Irzal langsung mengajak Arsy menuju toko perhiasan langganan keluarganya yang ada di lantai 3. Seorang pramuniaga menyambut ramah kedatangan Irzal dan Arsy.
“Selamat malam, ada yang bisa dibantu?”
“Kami mau cari cincin pernikahan,” jawab Irzal.
“Oh pak Irzal, selamat datang.”
Seorang wanita paruh baya yang merupakan manajer toko segera menyambut kedatangan Irzal. Dia mempersilahkan Irzal dan Arsy masuk ke dalam ruangan yang biasa digunakan tamu VVIP. Azkia sudah menghubunginya dan mengabarkan kalau Irzal hendak membeli cincin pernikahan. Namun wanita itu tidak menyangka Irzal akan datang secepat ini.
“Ini beberapa contoh cincin pernikahan. Siapa tahu bapak ingin memesan cincin yang belum ada dalam koleksi kami.”
Wanita itu menyerahkan katalog di tangannya. Arsy mengambil katalog tersebut, kemudian melihat-lihat bermacam model cincin pernikahan. Irzal hanya melirik sekilas dan membiarkan Arsy memilih model yang disukainya.
“Untuk cincin pria, terbuat dari apa?”
“Ada yang dari perak, ada juga titanium, platinum, palladium atau tungsten. Sesuai pesanan yang bapak inginkan saja. Tapi kebanyakan kalau kaum pria menggunakan titanium. Tungsten juga bagus, bahannya seperti titanium dan ketahanannya empat kali lebih besar.”
“Begitu ya.”
“Saya suka yang ini,” Arsy menunjuk model cincin yang dipilihnya. Sontak Irzal langsung melihat pada gambar yang ditunjuk Arsy.
“Suka ngga, mas?” tanya Arsy.
“Hmm.. bagus. Yakin mau yang itu?”
“Iya.”
“Ok, saya pesan yang ini. Matanya diganti berlian aja. Terus untuk cincin saya, saya mau pakai bahan tungsten. Modelnya samakan saja dengan pilihan calon istri saya.”
Manajer toko itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Dada Arsy berdesir ketika mendengar Irzal memanggilnya dengan sebutan calon istri saya. Ada perasaan senang, dirinya diakui sebagai calon istri es kering tersebut.
Irzal menyerahkan kartu di tangannya untuk menyelesaikan pembayaran. Sang manajer mengambil kartu tersebut untuk memproses pembayaran kemudian mengembalikan kartu pada sang empu.
“Kalau cincinnya sudah selesai, nanti akan langsung dikirimkan ke rumah bapak.”
“Iya, terima kasih.”
“Sama-sama, pak.”
Wanita itu memandu Irzal dan Arsy keluar dari ruangan VVIP. Keduanya segera keluar dari toko yang sebentar lagi akan tutup jam operasionalnya. Untuk sesaat mereka berdiam diri di depan toko.
“Kamu masih ada yang mau dibeli di sini?” tanya Irzal.
“Ngga.”
“Sudah makan belum?”
“Belum.”
“Ayo makan dulu,” Irzal melangkahkan kakinya lebih dulu.
“Makan di mana?”
“Bebek panggang bu Rika.”
Senyum Arsy terbit mendengar tempat makan yang akan didatangi olehnya juga Irzal. Sudah lama dia ingin makan bebek panggang bu Rika lagi setelah insiden menwa yang menimpanya.
Sudah banyak kendaraan yang terparkir di depan warung tenda bu Rika. Irzal sampai kesulitan mencari tempat untuk mobilnya. Pria itu segera menuju menempati tempat yang kosong setelah mobil sebelumnya pergi.
Hampir semua meja di warung tenda bu Rika terisi. Untung saja masih tersisa satu meja yang kosong. Irzal segera mengajak Arsy ke sana. Mereka berjalan melewati jajaran meja yang sudah ditempati pengunjung. Salah seorang asisten bu Rika datang untuk mencatat pesanan mereka.
“Bebek panggang level 4 satu, iced lemon teanya satu,” ujar Irzal. Kemudian pria itu melihat pada Arsy.
“Bebek panggang level 5 satu, minumnya samain aja.”
Pelayan tersebut segera mencatat pesanan kemudian meninggalkan mereka berdua. Irzal lega mendengar kalau calon istrinya hanya memesan level 5, bukan 10. Dia melihat pada Arsy yang duduk di depannya. Wajah calon istrinya itu terlihat lelah.
“Hari ini banyak pasien?” tanya Irzal membuka pembicaraan.
“Iya. Lumayan.”
__ADS_1
“Kamu masih lama koasnya?”
“Minggu besok sudah beres, lanjut magang. Aku rencananya tetap magang di rumah sakit Ibnu Sina.”
“Kamu magang di bagian mana?”
“IGD. Aku udah mantap mau ambil residen jurusan kegawatdaruratan.”
Irzal hanya menganggukkan kepalanya saja. Usulan Reyhan tentang ambulans mobile yang bekerja sama dengan layanan darurat sudah pasti membutuhkan banyak dokter di bidang kegawatdaruratan. Jika Arsy berencana mengambil spesialis di bidang itu, maka dokter IGD akan bertambah banyak.
Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka berdua. Perut Arsy sudah tak tahan minta diisi begitu melihat bebek panggang pesanannya. Tanpa menunggu lama, dia langsung menikmati makanannya. Irzal menyunggingkan senyuman melihat Arsy makan begitu lahap, seperti tidak makan selama tiga hari.
“Bisa ngga, makannya pelan-pelan. Lihat nih, sambelnya belepotan.”
Dengan ibu jarinya, Irzal mengusap sambal yang ada di sudut bibir Arsy. Gadis itu sampai menghentikan makan saking terkejutnya. Dan yang membuatnya semakin tercengang, Irzal menjilat sambal tadi tanpa merasa jijik. Tanpa dikomando, jantungnya langsung berdebar kencang, pipinya bahkan ikut memerah.
Iisshh.. kalo kaya gini dia manis banget. Aaaaa…. Gimana dong kalo gue jatuh cintrong duluan.
“Udah selesai?” pertanyaan Irzal sukses membuyarkan lamunan Arsy.
“Sudah.”
“Ayo.”
Irzal bangun dari duduknya kemudian menghampiri bu Rika untuk membayar makanannya. Arsy menyusul di belakangnya, kemudian keduanya segera masuk ke dalam mobil. Hari sudah semakin malam dan Irzal harus segera mengantarkan Arsy pulang. Pria itu melajukan kendaraannya cukup kencang agar bisa tiba lebih cepat.
Sesampainya di kediaman Kenzie, Irzal ikut turun untuk mengantarkan Arsy sampai ke depan pintu rumahnya. Baik dirinya maupun Arsy terkejut ketika Kenzie yang membukakan pintu untuk keduanya.
“Maaf om, antar Arsynya kemalaman. Tadi kita beli cincin pernikahan dulu,” ujar Irzal pada Kenzie.
“Tidak apa.”
“Aku pulang dulu, om. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Irzal melihat sebentar pada Kenzie dan Arsy sebelum meninggalkan tempat tersebut. Arsy masih berdiri untuk melihat mobil yang dikendarai Irzal melaju. Kemudian bersama dengan Kenzie, dia masuk ke dalam rumah. Kenzie terus memperhatikan wajah putri satu-satunya. Arsy sampai malu sendiri dilihat oleh sang ayah.
“Ternyata hubungan kalian sudah dekat ya,” goda Kenzie.
“Papa…”
“Kemarin masih nolak waktu dijodohkan. Sekarang…”
“Papa apaan sih..”
Bergegas Arsy meninggalkan Kenzie, tapi sebelumnya dia mendaratkan ciuman di pipi sang papa lalu naik ke lantai dua. Kenzie terjengit ketika sebuah tangan melingkari pinggangnya. Sang istri tercinta sudah berada di sampingnya.
“Kenapa mas?”
“Anakmu, sepertinya dia sudah mulai suka pada Irzal.”
“Siapa juga yang ngga akan kepincut sama Irzal. Sudah pintar, soleh, ganteng juga.”
“Ehem!”
Nara terkekeh melihat wajah Kenzie yang terlihat cemburu karena pujiannya pada Irzal. Dia melepaskan pelukannya, kemudian berdiri di depan sang suami seraya memeluk leher pria itu.
“Irzal itu hampir sama seperti mas. Jadi wajar kalau Arsy bisa cepat jatuh cinta padanya. Mas kan cinta pertamanya. Kalau buatku, mas cinta sejatiku.”
“Dasar tukang gombal.”
Kedua tangan Kenzie memeluk pinggang Nara dengan erat hingga tubuh mereka merapat. Kemudian pria itu mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan. Nara semakin mengeratkan pelukan di leher pria tercintanya.
🍁🍁🍁
“Haaiisshh… brengsek lo, Zar!”
Daus memaki kesal melihat foto-foto yang dikirimkan salah satu anak buah gank margarita. Dalam foto tersebut, terlihat Zar tengah bersama dengan Pinkan, kekasihnya. Sudah empat hari ini dia selalu mendapatkan foto yang sama. Dengan kesal pria itu keluar dari kamarnya, dia melintasi Richie, Abbas dan Yuke yang duduk di ruang tengah begitu saja.
“Mau kemana lo?” tanya Richie.
“Keluar bentar.”
“Keluar kemana?” tanya Richie lagi.
Daus tak menjawab pertanyaan temannya lagi, dia bergegas keluar dari ruangan tempat tinggalnya. Pria itu menuju lift yang ada di depan ruangannya. Daus segera memencet tombol B1, dan kotak besi tersebut bergerak naik. Selama ini dirinya bersama Richie, Abbas dan Yuke bersembunyi di ruang bawah tanah gedung kantor Desmond Group.
Sesampainya di lantai B1, pria itu bergegas menuju ruangan paling ujung. Di dalam sana, lima orang anggota gank margarita nampak tengah berbicara serius. Salah seorang di antara mereka tengah melaporkan sesuatu pada ketua mereka.
“Urusan Ferdi sudah beres. Polisi juga akan menutup kasusnya sebagai kasus over dosis,” lapor salah seorang.
“Pastikan tidak ada bukti yang tertinggal.”
“Aku akan ke apartemennya lagi. Jarum suntikku tertinggal di sana.”
“Haaiisshh kenapa sampai tertinggal, dasar bodoh!”
“Maaf, bos.”
Percakapan keduanya terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Daus masuk kemudian mendekati kelima orang tersebut. Sebenarnya Daus cukup ketar-ketir jika berhadapan dengan gank margarita. Tapi demi membalaskan sakit hatinya pada Zar, dia memberanikan diri.
“Boleh aku minta tolong?”
“Soal apa?”
“Bisa kalian culik perempuan ini?”
Daus mengambil ponselnya lalu memperlihatkan foto Arsy pada kelima orang tersebut. Dia akan membalas sakit hatinya pada Zar melalui Arsy. Pria itu akan membuat hidup Zar menderita melihat adik kembarnya mengalami kejadian yang sama seperti Renata.
“Culik dia, bawa padaku. Setelah aku berhasil menidurinya, kalian bisa gangbang rame-rame. Tapi jangan sampai dia mati, aku mau dia hidup menderita.”
“Apa imbalannya?”
“Mobil dan uang di rekeningku untuk kalian semua.”
Pria yang merupakan ketua lima orang tersebut berpikir sebentar, kemudia melihat pada keempat anak buahnya. Dia lalu melihat kembali pada Daus kemudian menganggukkan kepalanya. Senyum tercetak di wajah Daus. Dia sudah tidak sabar untuk membuat hidup saudara kembar itu menderita.
🍁🍁🍁
**Irzal sama Arsy lagi mode sweet lagi ya sekarang😘
__ADS_1
Yakin nih mau culik Arsy? Awas jangan sampai kena bantai penjaganya loh😬
Ternyata kasus Ferdi nyambung ke gank margarita🙈**