Hate Is Love

Hate Is Love
Modus Berbuah Manis


__ADS_3

Hari ini sengaja Arya pulang dari kantor lebih cepat. Saat jam makan siang, dia meminta ijin pada papanya untuk pulang. Sebenarnya Aric melarang, namun sulungnya bersikeras dan mengatakan ijinnya kali ini demi masa depannya. Aric tak punya pilihan, selain mengijinkan anaknya pulang.


Sesampainya di rumah, Arya segera berganti pakaian menggunakan pakaian santai. Kebetulan sekali di rumahnya tidak ada siapa-siapa, hanya asisten rumah tangganya saja. Sang mama sedang pergi mengantar Nara untuk membeli hantaran pernikahan Zar. Dia bersiap untuk memulai aksinya. Pria itu segera menghubungi Shifa. Butuh beberapa waktu sebelum wanita itu menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum..” terdengar suara Shifa dari seberang.


“Waalaikumsalam.. lagi di mana, Fa?” suara Arya terdengar lemah. Atau lebih tepatnya dibuat lemah.


“Baru habis latihan. Kamu kenapa? Kok suaranya lemas gitu. Kamu sakit?”


“Kayanya sih.. tadi aku ijin pulang cepat dari kantor.”


“Kamu udah makan belum?”


“Nanti aja, ngga enak makan juga. Aku pengen tiduran aja.”


“Kamu harus makan, Ar. Biar bisa minum obat. Nanti sakitnya keterusan.”


“Ngga usah.. udah ya. Aku cuma mau tahu kabar kamu aja. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dengan cepat Arya mengakhiri panggilannya. Dia sudah melemparkan umpan. Tinggal tunggu saja ikan menyambar umpannya. Arya yakin sekali kalau Shifa akan menemuinya, tadi terdengar suara Shifa cukup menyiratkan kecemasan. Pria itu segera melacak chip yang ada di tubuh Shifa. Tentu saja dia harus merayu Darren dulu agar bisa diberi akses untuk melacak chip wanita itu.


🍁🍁🍁


Shifa dengan cepat membereskan peralatannya, lalu bergegas menuju ruang ganti. Sebelum pulang, wanita itu lebih dulu membersihkan diri. Setelah mandi dan tubuhnya lebih segar, Shifa bergegas meninggalkan GOR tempatnya berlatih. Mendengar kalau Arya sakit, tak ayal membuatnya cemas juga.


Setelah berpamitan pada ayahnya, Shifa bermaksud langsung menuju kediaman Arya. Tapi sebelumnya dia mampir dulu untuk membeli bubur. Wanita itu menepikan kendaraannya di depan kedai bubur yang cukup terkenal di kota Bandung ini. Setelah mengunci kendaraannya, Shifa segera masuk ke dalam kedai, lalu memesan bubur. Sambil menunggu pesanan bubur siap, Shifa kembali menghubungi Arya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Lagi tidur?”


“Belum, ngga bisa tidur.”


“Di rumah ada siapa?”


“Ngga ada siapa-siapa, cuma ada bi Ratmi aja.”


“Ya udah aku ke sana sekarang. Aku bawain bubur, kamu harus makan.”


“Makasih, sayang.”


“Udah dulu ya, buburnya udah siap. Aku ke rumahmu sekarang. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Setelah membayar pesanan bubur, Shifa segera kembali ke dalam mobilnya lalu menjalankannya menuju kediaman Arya.


Sementara itu Arya bersorak senang mendengar Shifa akan datang menjenguknya. Pria itu membuka pintu lemari, lalu mengambil sweater berhoodie. Dikenakannya sweater itu, lalu naik ke lantai tiga. Cuaca siang ini sangat terik. Matahari seakan tengah menunjukkan arogansinya, bersinar terang membuat siapa saja yang berjalan di bawah pancaran cahayanya akan merasa kepanasan.


Arya berdiri di tengah-tengah selasar, lalu mulai lari-lari di tempat. Dia perlu mejemur dirinya di bawah matahari agar suhu tubuhnya naik. Beberapa kali dia jalan mondar-mandir agar tubuhnya memiliki suhu yang cukup meyakinkan Shifa kalau dirinya tengah sakit.


Sepuluh menit berjemur di bawah sinar matahari, Arya melihat dari kejauhan, mobil yang dikendarai Shifa melaju mendekati rumahnya. Pria itu segera turun dari lantai tiga, langsung menuju lantai dasar. Dia menuju kotak obat yang berada di ruang tengah, diambilnya thermometer dari dalamnya. Lalu Arya ke dapur, mengambil segelas minuman hangat kemudian bergegas menuju kamarnya kembali.


Arya melepas sweater yang dipakainya tadi. Mengganti kaos oblongnya yang sudah basah oleh keringat. Pria itu lalu berbaring di kasur, dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Tak lupa dia mencelupkan thermometer ke dalam gelas air hangat. Begitu terdengar suara langkah kaki mendekat. Arya mengambil thermometer, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


“Ar…” panggil Shifa seraya membuka pintu.


Wanita itu terkejut melihat Arya yang sedang berbaring, dengan thermometer berada di mulutnya. Dengan cepat dia mendekat. Ditaruhnya wadah berisi bubur di atas meja, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang. Diambilnya thermometer dari mulut pria itu. Alat pengukur suhu itu menunjukkan angka 38 derajat celcius. Tangan Shifa meraba kening Arya, tubuhnya terasa hangat.


“Ar.. bangun.. makan dulu, yuk.”


“Aku ngga nafsu makan.”


“Jangan gitu, ayo bangun makan dulu. Aku suapin, ya.”


Pelan-pelan Arya bangun dari posisi tidurnya. Hatinya bersorak mengetahui Shifa begitu perhatian padanya. Dia semakin yakin kalau Shifa memang menyanyanginya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang. Shifa membuka wadah bubur yang dibelinya tadi. Harum aroma bubur ayam langsung menerpa indra penciuman Arya.


KRIUUUKK


Waduh, kampret nih perut, kaga ada komprominya. Gue udah bilang ngga nafsu makan, malah bunyi. Kan tengsin kalau ketahuan Shifa, gue pura-pura sakit.


“Perut kamu bunyi, tuh. Makanya cepetan makan.”


Tanpa menunggu persetujuan Arya, Shifa segera menyuapkan bubur pada pria itu. Arya yang sebenarnya sehat walafiat, tentu saja menikmati bubur itu dengan lahap. Bahkan pria itu minta ditambahkan sambal yang memang disediakan terpisah dari bubur. Sebenarnya Shifa cukup heran, katanya tidak nafsu makan, tapi begitu disuapi lahap sekali. Tak butuh waktu lama untuk Arya menghabiskan makanan tersebut.


“Tadi katanya ngga nafsu makan,” goda Shifa.


“Kan kamu yang suapin, jadi semangat makannya,” Arya beralasan.


Shifa hanya tersenyum saja. Dia senang Arya cepat menghabiskan makanannya. Wanita itu menaruh wadah bekas bubur di atas meja, lalu menyodorkan minuman pada Arya. Pria itu langsung menghabiskan minuman yang masih terasa hangat itu. Tangan Shifa kemudian bergerak memegang dahi Arya lagi.


“Eh.. panasnya langsung turun.”

__ADS_1


GLEK


Arya terkejut mendengar ucapan Shifa. Tentu saja suhu tubuhnya akan kembali normal setelah berada di ruangan yang adem. Namun Arya tak hilang akal, pria itu langsung mencari alasan yang masuk akal.


“Sebenarnya tadi di kantor aku udah minum obat. Terus disuruh pulang buat istirahat. Eh ada kamu yang datang dan suapin aku makanan, makanya panasku cepat turun.”


“Hilih gombal.”


“Beneran. Kamu bisa jadi obat mujarab buat aku. Makasih ya, sayang.”


“Sama-sama. Kamu jangan sakit, dong. Katanya mau jadi supporter aku di piala Sudirman.”


“Kalau itu pasti dong, sayang. Kapan kamu berangkat ke Jakarta?”


“Lusa.”


“Tenang aja. Aku udah bawa pasukan buat jadi penyemangat kamu. Kamu seminggu kan pertandingannya?”


“Iya, kalau sampai ke final.”


“Aamiin.. mudah-mudahan sampai ke final. Kalau tim Indonesia sampai final, aku bakalan bawa supporter segerbong buat jatuhin mental lawan kalian.”


“Hahaha.. ada-ada aja kamu. Aku pulang, ya. Kamu istirahat aja biar cepat sembuh.”


“Eh jangan, kamu di sini aja. Ngobrol sama kamu buat aku cepat sembuh.”


Shifa mengurungkan niatnya untuk pulang melihat Arya yang masih enggan ditinggalkan olehnya. Mereka kemudian berbincang membicarakan banyak hal, terutama soal pribadi masing-masing. Mereka memang harus lebih saling mengenal lagi. Arya sudah membulatkan tekadnya membawa Shifa ke pelaminan setelah perhelatan piala Sudirman.


🍁🍁🍁


Mobil yang dikendarai Aidan berhenti di depan butik milik Azra. Tak lama kemudian, pria itu turun dari kendaraannya. Dia langsung masuk ke dalam butik. Kedatangannya ke sini tentu saja untuk menemui Adisty. Sudah beberapa hari ini Aidan mulai menjalankan rencananya mendekati Adisty. Dia sudah bertekad menikahi gadis itu dan menyalip Zar tepat di dekat garis finish.


Adisty cukup terkejut melihat Aidan yang datang tanpa memberitahunya lebih dulu. Wanita yang sedang mendesain pakaian nikah untuk Ayumi, anak kedua dari Barra dan Hanna, segera menghentikan pekerjaannya. Dia menyambut kedatangan pria itu.


“Datang kok ngga bilang-bilang.”


“Emang harus bilang ya? Aku ke sini mau beli pakaian,” kilah Aidan.


“Eh..”


Adisty jadi malu sendiri. Disangkanya Aidan datang untuk menemui dirinya. Tahunya untuk membeli pakaian di butik milik mamanya. Gadis itu segera mengajak Aidan melihat-lihat koleksi terbaru butik tersebut. Aidan memang tidak berbohong, dia memang ingin membeli pakaian untuk adik, mama dan papanya. Tapi tetao saja tujuan utamanya untuk menemui Adisty. Sambil menyelam, menangkap ikan. Itulah mottonya saat ini.


“Kamu cari baju apa?”


“Ada, kok. Ini koleksi terbaru kita. Abang lihat-lihat aja dulu.”


Dengan cepat Adisty mengeluarkan koleksi terbaru mereka dibantu salah seorang pegawai. Aidan yang tidak tahu apa-apa soal mode, menyerahkan semuanya pada Adisty. Gadis itu memilihkan pakaian couple untuk kedua orang tua Aidan dan dua buah gamis itu adiknya. Tak lupa, pria itu membeli pakaian untuk dirinya.


“Abang coba yang ini. Kayanya pas buat abang.”


“Oke.”


Aidan masuk ke ruang pas, lalu memakai kemeja yang dipilihkan Adisty. Tak lama dia keluar dengan tubuh terbalut kemeja berwarna biru tua dengan sedikit ornament di bagian bawahnya. Adisty yang menunggu di depan ruang pas, tak bisa mengatakan apa-apa saat melihat Aidan. Pria itu terlihat tampan mengenakan kemeja slim fit yag begitu pas di tubuhnya. Harus Adisty akui, tubuh Aidan jauh lebih baik dari Arga, begitu juga dari segi wajah. Gadis itu menggelengkan kepalanya, mengusir apa yang tadi terbersit di pikirannya.


“Gimana, Dis?” tanya Aidan membuyarkan lamunan gadis itu.


“Ba.. bagus, bang. Oke banget.”


“Ya udah, aku ambil semua yang kamu pilihkan.”


Hanya anggukan saja yang diberikan Adisty. Aidan kembali ke kamar pas untuk melepas kemeja yang tadi dicobanya. Adisty meminta sang pegawai untuk menghitung semua belanjaan Aidan. Tak lupa dia memberikan diskon khusus untuk pria itu. Selesai berbelanja, Aidsty mengajak Aidan masuk ke ruang kerjanya.


“Lagi sibuk?”


“Ngga juga. Aku lagi desain baju pernikahan buat Ayumi, sepupuku.”


“Wah sepupu kamu udah ada yang mau nikah juga. Kapan? Jangan-jangan nyalip Zar.”


“Hahaha.. ngga, lah. nikahnya masih agak lama. Sekitar lima bulanan lagi. Nunggu dia beres sidang kuliah.”


“Kirain mau nyalip Zar. Kasihan dia bisa nangis sampe nungging kalo kena salip, hahaha.”


“Tapi aku kok senang ya lihat dia kena salip, hahaha.. jahat banget ya.”


“Kalau banyak yang doain, kayanya bakal kejadian nih.”


Tawa keduanya kembali terdengar. Aidan mendudukkan diri di kursi di depan meja kerja Adisty. Matanya terus melihat tangan gadis itu yang tengah menyelesaikan desain kebaya untuk akad nikah sepupunya. Tidak sia-sia Aidsty mengambil kuliah jurusan fashion dan mode di London. Ternyata hasil desainnya memang bagus.


“Dis.. kamu udah makan siang?”


“Belum, sih.”


“Mau makan di luar, ngga?” tawar Aidan.


“Ehmm… boleh, deh. Aku beresin ini dulu bentar, ya.”

__ADS_1


Adisty kembali melanjutkan pekerjaannya. Mata Aidan terus mengawasi pergerakan tangan gadis itu. Selain cantik, ternyata Adisty juga sangat berbakat. Tak butuh waktu lama baginya menyelesaikan pekerjaannya. Setelah merapihkan peralatan yang digunakannya tadi, dia mengajak Adian pergi.


“Kamu mau makan di mana?” tanya Aidan setelah mereka berada di dalam mobil.


“Terserah aja. Enaknya di mana?”


“Mau di Rose café, ngga? Café punyanya Yangpa. Makanannya enak-enak loh.”


“Boleh, deh.”


Aidan segera mengarahkan kendaraannya menuju Rose café. Kalau saja Adisty bisa mendengar siulan pria itu di dalam hatinya, pasti gadis itu tahu betapa bahagianya Aidan. Pendekatannya berjalan mulus sejauh ini. Adisty selalu membalas pesan yang dikirimkan olehnya, menjawab panggilannya dan tidak menolak saat diajak makan keluar. Semoga saja usahanya tetap mulus tanpa hambatan sama sekali.


Lima belas menit kemudian, mereka sudah tiba di Rose café. Suasana café di siang ini cukup ramai. Seorang pelayan sampai membantu mereka untuk mendapatkan meja kosong. Pelayan mengarahkan mereka ke meja yang ada di lantai dua. Tepatnya di dekat jendela besar yang dibiarkan terbuka, jadi para pengunjung tetap bisa menikmati angin sepoi-sepoi.


Adisty sedang serius melihat-lihat menu di tangannya, ketika datang dua orang mengusik ketenangannya. Maya mendekati meja yang ditempati mantan tunangannya sambil memeluk erat lengan Arga. Sadar ada yang mendekat, Adisty mengangkat kepalanya. Sebenarnya dia terkejut melihat kedatangan Maya dan Arga. Namun tetap berusaha bersikap tenang.


“Ngga nyangka ya, kita ketemu di sini. Atau jangan-jangan kamu sengaja ngintilin kita, ya,” ujar Maya.


“Kaya kurang kerjaan aja ngintilin kalian,” jawab Adisty cuek.


“Ayo, sayang.”


Maya mengajak Arga kembali ke mejanya yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja Adisty. Wanita itu mulai bersikap manja pada Arga. Suaranya sengaja agak dikeraskan agar Adisty mendengarnya. Aidan segera memanggil pelayan untuk memesan makanan. Matanya melihat Adisty yang sesekali mencoba mencuri lihat apa yang dilakukan mantan kekasihnya.


“Ngga usah dilihatin. Mereka malah senang jadinya. Cuekin aja, dengan begitu mereka malah tambah kesal. Karena tujuannya tidak tercapai.”


“Iya, sih. Cuma kesel aja, aku. Maya tuh punya dendam apa sih sama aku. Kayanya dia pengen buat aku menderita banget. Padahal kita dulu berteman dekat,” terdengar kesedihan dalam ucapan Adisty.


“Kamu ngga sepantasnya sedih karena sikap Maya. Sahabat sejati tidak akan pernah menyakiti hati sahabatnya. Kamu harus bersyukur sudah ditunjukkan wajah asli Maya. Sahabat seperti dia itu cuma jadi toxic buat kamu.”


Tangan Aidan terulur menggenggam tangan Adisty. Saat ini pria itu benar-benar sedang menjalankan azas manfaat, menggunakan kesempatan sebesar-besarnya dalam kesempitan. Hal yang dilakukan Aidan tanpa sengaja, berhasil membuat Arga gondok setengah hidup. Sebagian dari hatinya masih belum bisa menerima kalau Adisty sudah berpaling darinya.


“Dis.. gimana? Aku pegang kaya gini, udah ada setrum belum di tubuh kamu?”


“Ish..”


Sontak Adisty langsung menarik tangannya, membuat Adian terpingkal. Tak ayal gadis itu juga tersenyum mendengar ucapan absurd Aidan. Sudah tidak dipedulikan lagi keberadaan Arga dan Maya. Kehadiran Aidan sudah bisa membuatnya melupakan pasangan itu. Sesekali terdengar suara tawanya menanggapi ucapan Aidan.


Maksud hati ingin membuat Adisty panas dan nangis bombay. Justru sekarang Maya yang dibuat kesal. Pasalnya, Arga sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Adisty dan mengabaikan dirinya. Wanita itu sampai harus menegur Arga. Namun pria itu tidak kapok untuk kembali melihat pada mantan kekasihnya.


Usai menikmati makanannya, Aidan langsung mengajak Adisty pergi. Pria itu sengaja menggamit pinggang Adisty, memperlihatkan kemesraan pada Arga. Tangan Arga mengepal erat melihat pemandangan itu. Matanya terus mengikuti sampai pasangan itu menuruni tangga. Kemudian dia bergegas mengejar Adisty, meninggalkan Maya begitu saja.


“Dis…” Arga menahan tangan Aidsty yang hendak masuk ke dalam mobil.


“Lepas, Ga,” Adisty berusaha melepaskan pegangan Arga.


“Please Dis.. kasih aku kesempatan kedua. Aku masih sayang sama kamu.”


“Sayang sama aku? Terus apa kabarnya anak di perut Maya?”


“Aku khilaf, Dis. Maya terus goda aku. Laki-laki mana yang tahan kalau digoda terus menerus.”


“Heleh.. khilaf atau doyan. Sampe melendung gitu,” timpal Aidan. Pria itu memang tidak berusaha menghalau Arga. Dia ingin melihat sikap Adisty.


Arga tidak mempedulikan ucapan panas Aidan. Dia tidak tahan melihat Adisty bersama pria lain. Hatinya panas melihat Adisty yang seperti sudah melupakan dirinya. Tanpa mempedulikan keberadaan Maya, pria itu berusaha kembali pada mantan kekasihnya.


“Dis.. kita balikan, ya.”


“Ngga salah, Ga? Anak kamu mau dikemanain?”


“Aku akan tetap bertanggung jawab pada Maya. Tapi tidak akan menikahinya. Aku sayang kamu, Dis.”


“Udahlah, Ga. Lebih baik kamu fokus sama Maya. Kalian berdua cocok, kok. Sama-sama brengsek dan pengkhianat. Aku sudah merelakanmu dengan Maya. Sekarang sebaiknya tidak usah saling ganggu. Kamu sudah bersama Maya, dan aku sama bang Aidan.”


Adisty melepaskan pegangan tangan Arga, lalu segera masuk ke dalam mobil. Arga yang masih belum menyerah, terus mengetuk kaca jendela mobil. Aidan mendekati Arga, lalu mendorongnya menjauh dari mobilnya.


“Jauhin Disty. Antara kamu dan dia sudah berakhir. Dia sekarang calon istriku, jadi aku harap jaga sikapmu. Atau aku ngga akan segan untuk menghajarmu.”


Beberapa kali Aidan menepuk pelan dada Arga. Setelah itu dia kembali ke mobilnya, lalu masuk ke dalamnya. Kendaraan roda empat itu segera berlalu meninggalkan Arga yang masih terpaku di tempatnya.


🍁🍁🍁


**Arya sama Aidan sama² modus🤣


Selamat bertanding buat tim Piala Sudirman. Semoga kalian bisa melewati hadangan tim Tiongkok. Kalau kalian sampai di final, ada Arya dan Abi cs buat dukung kalian🤭


Ini penampakan Adisty dan Aidan versiku


Adisty**



Aidan


__ADS_1


__ADS_2