Hate Is Love

Hate Is Love
Finding Stella


__ADS_3

Dengan katalog berisi rancangan terbaru butik Azra, Stella mendatangi kediaman Bertrand. Dia berpura-pura sebagai tim marketing dari butik tersebut. Menawarkan produk terbaru The Az Boutique. Tangan gadis itu memencet bel yang ada di dekat pintu pagar. Suzy masuk lebih dulu ke dalam rumah.


Seorang asisten berwajah kaku membukakan pintu untuknya. Dia menatap Stella, memandangi gadis itu dari atas sampai bawah. Stella bergidik sendiri melihat cara wanita itu melihatnya.


“Siang, bu. Saya dari The Az Boutique, mau menawarkan rancangan terbaru kami. Kalau ibu Astridnya ada?”


“Sudah buat janji?”


“Belum sih. Tapi ngga apa-apa kan saya masuk?” Stella menunjukkan wajah imutnya.


“Silahkan.”


Akhirnya asisten wanita itu mempersilahkan Stella untuk masuk. Sang asisten berjalan lebih dulu, diikuti Stella dari belakang. Dia meminta Stella menunggu di ruang tamu sebentar. Mata gadis itu langsung memindai ruangan di mana dirinya berada. Foto pernikahan Bertrand dan Astrid terpajang cukup besar. Sepertinya benar kalau pasangan ini belum punya anak.


Asisten wanita bernama Wintang itu datang kembali menemui Stella. Sang nyonya rumah meminta gadis itu masuk ke ruang tengah. Dia menunggu Stella di sana. Stella berjalan mengikuti Wintang lalu menemui Astrid.


“Siang, bu Astrid. Perkenalkan nama saya Stella. Saya dari The Az Boutique mau menawarkan koleksi rancangan terbaru kami.”


Dengan sopan Stella menyerahkan katalog di tangannya. Tanpa menanggapi ucapannya, Astrid melihat-lihat katalog di tangannya. Stella terus mengamati wanita yang duduk di dekatnya. Wajahnya mulus seperti jalan tol yang baru jadi. Kulitnya putih bersih, bodinya juga bagus. Sepertinya wanita itu rajin melakukan perawatan tubuh.


“Rancangannya cukup bagus. Tapi saya baru dengar soal The Az Boutique,” ujar Astrid.


“Biasanya butik kami hanya melayani pesanan saja. Tapi sekarang kami sedang melebarkan sayap, mencari konsumen lain yang mungkin saja tertarik dengan rancangan kami.”


Kemana aja lo, baru tau butik mama Azra. Nih butik ada sebelum gue dibikin ama bokap nyokap gue. Jangan-jangan OKB ya. Belagu amat, sok ningrat. Preeeetttt.


Sambil menunggu Astrid melihat-lihat katalog, Stella kembali memandangi keseluruhan ruangan ini. Sebuah layar datar berukuran 69 inch tergantung di dinding, lengkap dengan peralatan audio. Lemari yang memajang beberapa miniatur ikon negara-negara luar. Sebuah lukisan abstrak, karpet yang membentang di atas sofa sudut yang didudukinya. Stella bisa menebak semua barang di ruangan ini memiliki harga yang tinggi.


Kemudian dia melihat Suzy berdiri di tangga. Dia melambaikan tangannya, meminta Stella untuk naik. Gadis itu langsung memutar otak, bagaimana caranya naik ke lantai atas. Astrid masih asik melihat-lihat katalog. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Astrid bangun dari duduknya, kemudian meninggalkan Stella begitu saja.


Melihat peluang tersebut, Stella segera bangun. Dia berjalan pelan menuju tangga. Namun sebelum kakinya menapaki anak tangga, suara Wintang mengejutkannya.


“Mau kemana?”


“Astaghfirullah. Eeunng.. perut saya sakit. Kamar mandi di mana?”


“Itu di dekat tangga.”


“Makasih.”


Stella segera masuk ke kamar mandi. Dia berada di dalam untuk beberapa saat. Lalu pelan-pelan dia membuka pintu, kepalanya melongok keluar, melihat keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, gadis itu keluar dari kamar mandi. Kemudian dengan langkah tanpa suara, naik ke lantai atas.


“Gimana? Ada si Yogi?”


“Ada. Dia ada di kamar itu, lagi tidur. Kaki sama tangannya diiket.”


Bergegas Stella masuk ke kamar tersebut. Benar saja, nampak Yogi tengah tidur dengan kedua tangan dan kaki terikat. Wajahnya nampak pucat, di lengan dan kakinya terdapat luka lebam. Stella segera menghampiri Yogi, anak itu demam. Keringat dingin membasahi keningnya.


“Yogi.. bangun.. Yogi..”


Perlahan mata anak itu terbuka. Dia menatap Stella cukup lama, mencoba menebak siapa gadis di depannya ini. Kemudian bibirnya yang kering nampak bergerak-gerak ketika mengucapkan sesuatu.


“Kakak siapa?” tanya anak tersebut dengan suara lemah.


“Namaku Stella. Aku akan membawamu keluar dari sini.”


Yogi hanya menganggukkan kepalanya lemah. Kalau Stella bisa membawa Yogi keluar dari rumah, menghadapi Astrid atau Wintang bukan masalah untuknya. Saat dia sedang membuka tali yang mengikat kaki Yogi, Suzy mendekat padanya.


“Stel.. ngumpet. Si asisten dateng.”


Stella buru-buru bersembunyi di dalam lemari. Tak lama terdengar langkah sang asisten memasuki kamar. Dia mendekati Yogi yang masih terbaring. Kemudian matanya melihat sekeliling kamar.


“Keluarlah! Aku tahu kamu sedang bersembunyi.”


Suasana masih terasa sunyi, Stella sebisa mungkin menahan nafasnya. Mendengar kata-kata Wintang, berarti wanita itu tahu keberadaannya. Wintang mengelilingi kamar, kemudian berhenti di depan lemari.


“Keluar!”


Baru saja Stella akan membuka pintu, nampak Suzy keluar dari bagian lemari yang ada di sebelahnya. Suzy dan Wintang saling berhadapan. Terlihat senyum samar wanita itu saat melihat pada Suzy.


“Aku baru tahu ada makhluk lain yang datang ke rumah ini.”


Eh.. si nenek sihir bisa lihat si Suzy juga. Waduh gawat nih.


“Apa maumu?” tanya Wintang pada Suzy.


“Kenapa kalian menyiksa anak tidak berdosa itu?”


“Bukan urusanmu. Dunia kita berbeda dan kamu tidak ada hak mencampuri kehidupan kami di dunia.”


“Kelakuan kalian lebih menakutkan dari iblis. Aku akan membawa orang yang bisa melihatku dan membawa anak itu keluar dari sini.”


Suzy segera menghilang. Terdengar gumaman kesal Wintang. Wanita segera mengejar Suzy. Dia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari sosok Suzy. Merasa Wintang sudah keluar. Stella keluar dari kamar, kemudian dia melepaskan ikatan di tubuh Yogi. Sambil memapah anak itu, Stella keluar dari kamar.


Pelan-pelan dia menuruni anak tangga. Stella melihat ke kanan dan kiri, keadaan rumah sangat sepi. Gadis itu langsung membawa Yogi ke ruang tamu. Saat Stella membuka pintu, dia terkejut melihat Bertrand sudah berdiri di depannya.


“Siapa kamu?” tanya Bertrand. Wajahnya nampak mengeras melihat Stella menggandeng Yogi. Refleks gadis itu berjalan mundur.


“SIAPA KAMU?!!”


Teriakan kencang Bertrand membuat Astrid dan Wintang segera menuju ruang depan. Mata Astrid membulat melihat Stella bersama dengan Yogi. Wanita itu segera menarik tangan Yogi, tapi Stella berusaha menahannya. Bertrand yang tak menyukai kehadiran Stella segera bergerak. Dia memukul tengkuk gadis itu hingga jatuh pingsan.

__ADS_1


“Stella!!” teriak Suzy.


Suzy segera menghilang saat melihat Wintang membawa alat untuk melenyapkannya. Bertrand memerintahkan Wintang untuk membuka ruangan rahasia. Dia membopong tubuh Stella. Pria itu juga menyuruh Astrid membawa Yogi kemudian mengikutinya.


🍁🍁🍁


Suzy kembali ke kantor polisi. Dia harus membawa Tamar untuk membebaskan Stella. Sejenak jin wanita itu terdiam memandangi Tamar yang tengah menulis laporan. Dia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah pria itu, namun Tamar bergeming. Suzy lalu menyentuh buku yang ada di dekat Tamar lalu melemparnya.


BRUK


Tamar terkejut melihat buku di mejanya terjatuh begitu saja. Ketika dia menunduk untuk mengambil bukunya, kertas di mejanya berhamburan. Semua benda yang ada di mejanya berpindah ke lantai.


“Haaiisshh.. apa-apaan ini!!”


Aji yang mendengar teriakan kencang Tamar, segera masuk ke ruangan atasannya. Dia hanya melongo melihat ruangan Tamar sudah seperti kapal pecah.


“Capt kenapa?”


Baru saja Aji selesai bertanya. Kursi kerja Tamar langsung terjatuh dengan kencang, membuat kedua lelaki tersebut terkejut. Aji segera mendekati Tamar yang masih tampak bingung.


“Capt ada hantu yang marah kayanya.”


“Hantu.. hantu.. mana ada hantu!”


“Lah terus ini yang bikin ruangan berantakan siapa? Captain?”


Salah seorang petugas yang melintas di depan ruangan Tamar, masuk ke dalam begitu melihat ruangan tersebut acak-acakkan. Suzy melihat aura kuning yang memancar dari petugas itu, tapi sinarnya sangat redup. Jika ada manusia yang memancarkan aura kuning, itu pertanda manusia tersebut bisa dimasuki olehnya. Hanya sinarnya redup, yang artinya dia hanya bisa masuk sebentar. Dengan cepat Suzy masuk ke dalam tubuh pria itu.


Tubuh pria yang dirasuki Suzy bergetar sebentar, kemudian matanya melotot melihat pada Tamar. Dia berjalan menuju pria itu lalu menarik kaos yang dikenakan oleh Tamar. Matanya menatap tajam pada Tamar.


“Stella dalam bahaya. Dia ada di rumah Bertrand.”


“Apa?”


“Stella!! Cari dia!!”


Tubuh Suzy mental keluar dari sang petugas. Cengkeraman di kaos Tamar mengendur, petugas itu tiba-tiba saja pingsan. Aji yang terkejut, mencoba untuk menyadarkan rekannya. Tamar memandangi pria yang baru saja menyuruhnya mencari Stella. Dia berpikir sejenak, kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Zar.


“Halo..”


“Zar.. sepupu lo, Stella. Bisa lo telepon dia ada di mana sekarang?”


“Ngapain lo nanya-nanya Stella?”


“Ngga usah banyak tanya. Telpon dia, tanya ada di mana. Atau gue minta nomer teleponnya.”


Tamar mengakhiri panggilannya. Dia mencari kembali di mana alamat Bertrand. Tak lama ponselnya bergetar, Zar baru saja mengirimkan nomor Stella. Dengan cepat Tamar menghubungi nomor tersebut. Namun panggilannya hanya terhubung pada kotak suara. Pria itu segera mengambil kunci mobilnya, lalu bergegas menuju kediaman Bertrand.


🍁🍁🍁


“Apa gadis ini datang ke sini tadi?”


Wintang mendekatkan wajahnya, melihat foto Stella dari dekat. Rupanya gadis itu bukan orang sembarangan. Baru satu jam yang lalu Bertrand menyekapnya, tapi sudah ada polisi yang mencarinya.


“Tidak pernah,” jawab Wintang dengan tanpa ekspresi.


“Ibu yakin?”


“Iya. Bapak dan ibu tidak pernah menerima tamu sembarangan. Permisi.”


Wintang kembali menutup pintu pagar, kemudian segera masuk ke rumah. Tamar mendengus kesal. Apa rekannya tadi hanya mengeprank-nya. Tapi dia tidak tahu soal Stella. Untuk memastikan, Tamar menghubungi Irzal. Terdengar umpatannya beberapa kali karena sahabatnya itu belum menjawab panggilannya. Tak lama terdengar suara Irzal dari sebrang.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Bie.. Stella dipasang chip buatan om Jay ngga?”


“Iya, kenapa?”


“Gue minta lokasinya dia sekarang. Bisa kirim ke gue ngga?”


“Gue cuma bisa akses chip Arsy sama Aidan. Kalo Stella lo tanya aja keluarganya.”


“Gue ngga kenal.”


“Emang ada apa?”


“Gue cuma mau mastiin sesuatu.”


“Telepon om Jay. Minta ke om Jay aja.”


“Ok, thanks. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Tamar mendial nomor Jayden. Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk menjawab panggilan Tamar.


“Om.. aku minta lokasi chip Stella, bisa?”


“Buat apa?”


“Aku punya firasat, anak itu dalam bahaya.”

__ADS_1


“Ok. Om kirim sekarang."


Sambil menunggu lokasi chip Stella, Tamar melihat sekeliling rumah Bertrand. Dia mencari celah di mana dirinya bisa masuk ke dalam rumah. Ponselnya berdenting, Jayden sudah mengirim lokasi chip Stella. Tamar menggeram kesal, ternyata benar gadis itu ada di rumah Bertrand. Dia kembali memijit bel rumah. Lagi-lagi Wintang yang membukakan pintu.


“Ada apa lagi?”


“Stella, di mana dia?”


“Saya sudah bilang tidak pernah melihat perempuan itu.”


“Oh ya? Tapi lokasi ponsel terakhirnya di sini. Kamu menyangkal lagi?”


Tamar mendorong tubuh Wintang, kemudian menerobos memasuki pekarangan rumah. Wintang langsung mengejar pria itu dan berusaha mencegahnya masuk ke dalam rumah. Di saat yang bersamaan Bertrand membuka pintu.


“Ada apa ini?” tanya Bertrand. Tamar mengeluarkan lencananya kemudian memperlihatkannya pada pria itu.


“Saya mencari Stella. Dari ponselnya terlacak kalau gadis itu berada di sini.”


“Siapa Stella?”


“Tolong kerjasamanya pak Bertrand. Saya harus mengecek ke dalam.”


Langkah Tamar tertahan, ketika Bertrand menahan dada Tamar. Dia menghalangi pintu dengan badannya.


“Kamu pikir rumahku adalah mall yang bisa kamu masuki seenaknya? Mana surat perintahmu? Kalau tidak ada, silahkan pergi.”


Dengan kesal Tamar memandangi Bertrand yang tetap terlihat tenang. Pria itu segera keluar dari kediaman Bertrand, mencoba cara lain untuk masuk. Tamar lagi-lagi menghubungi Jayden.


“Apa lagi?” tanya Jayden.


“Om.. bisa kasih aku info soal Bertrand Subrata?”


“Ok, tunggu.”


Tak butuh waktu lama bagi Jayden. Semua informasi tentang Bertrand sudah dikirimkan oleh Jayden. Dengan cepat Tamar membaca semua informasi, dan dia menemukan sesuatu yang menarik. Tamar segera menghubungi Aslan. Pria itu bisa membantunya memancing Bertrand keluar.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Bang, maaf ganggu. Aku bisa minta tolong?”


“Soal apa?”


🍁🍁🍁


Dari balik pohon, Tamar melihat pagar kediaman Bertrand terbuka. Dari dalamnya keluar mobil yang dikendarai Bertrand. Pria itu langsung pergi setelah mendapat telepon dari Aslan. Bersama dengan istrinya, dia menemui wakil direktur Humanity Corp tersebut. Sudah lama dia menantikan bisa bekerja sama dengan perusahaan besar itu. Dan sekarang adalah kesempatan untuknya.


Setelah Wintang menutup pintu pagar dan masuk ke dalam rumah, Tamar segera bergerak. Pria itu menaiki pagar dan mendarat sempurna di pekarangan. Sambil mengendap-endap dia mencari jalan masuk ke dalam rumah. Ternyata seluruh rumah tertutup rapat, bahkan tidak ada jendela yang terbuka.


Tak ada cara lain, Tamar mengetuk pintu. Dia menggedor pintu ketika ketukannya tak juga mendapat respon. Wintang nampak terkejut ketika mendapati pria itu berada di depan pintu.


“Mau apa lagi?”


“Minggir.”


Tamar mendorong tubuh Wintang sedikit keras, lalu masuk ke dalam rumah. Wintang segera mengejar Tamar lalu menghalangi jalannya.


“Apa kamu punya surat perintah? Kamu tidak bisa seenaknya masuk ke dalam sini. Aku bisa melaporkanmu.”


“Ya.. yaa.. ya.. laporkan saja. STELLA!! STELLA!!”


Tamar berteriak keras memanggil nama Stella. Pria itu belari menuju lantai dua. Dibukanya setiap kamar yang ada di sana. Memeriksa setiap sudutnya, namun dia tak menemukan Stella di mana-mana. Dia kembali turun lalu memeriksa kembali seluruh rumah. Wintang terus saja mengikuti pergerakan pria tersebut.


“Dia tidak ada di sini! Kenapa kamu tidak percaya!!”


“Penyangkalanmu yang seperti ini semakin membuatku yakin kalau dia ada di sini.”


“STELLA!! STELLA!!”


Pria itu berlari menuju ruang belakang. Namun Stella juga tidak ditemukan. Tamar kembali ke ruang tengah. Karena tidak berhati-hati, kakinya tersandung ujung karpet yang terlipat. Wajah Wintang nampak panik saat melihat hal tersebut dan tertangkap oleh Tamar. Pria itu mendorong meja yang ada di atas karpet, lalu menyingkapnya. Dia melihat ada lantai yang berbeda, bukan keramik yang menutupinya, tapi papan kayu. Wintang langsung bergerak ketika Tamar hendak mendekati.


“Jangan berani-berani kamu ke sana!”


“Haaiissshh berisik!!”


Tamar mendorong tubuh Wintang hingga jatuh terjerembab ke lantai. Dia segera menarik pengait yang ada di papan kayu, dan ternyata itu adalah jalan masuk menuju ke basement. Tamar menyalakan senter dari ponsel, kemudian menuruni anak tangga. Keadaan basement sangat sepi dan dingin. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat. Pintu tersebut terkunci dan hanya bisa dibuka dengan kode akses.


“Om.. bisa kirim Darren ke lokasiku sekarang? Aku butuh bantuannya untuk membuka kunci akses,” Tamar kembali menghubungi Jayden.


Setelah menghubungi Jayden, Tamar menghubungi Aji, meminta bawahannya itu untuk menyusulnya dengan membawa anggota timnya. Sementara itu, Wintang segera menghubungi Bertrand dan mengatakan apa yang terjadi. Mendapat kabar dari Wintang, Bertrand segera kembali ke rumahnya.


Bergegas Bertrand masuk ke dalam rumah lalu turun ke basement. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan ketika melihat Tamar tengah melihat-lihat basemennya. Dia segera menghambur pada pria itu dan menarik kaos Tamar.


“Apa yang kamu lakukan?!!”


Dengan cepat Tamar menepis cengkeraman Bertrand di kaosnya. Dia lalu memerintahkan Bertrand untuk membuka pintu ruangan. Bukannya menuruti perintah Tamar, pria itu bertepuk tangan tiga kali. Dan tak lama kemudian, lima orang bertubuh tegap turun ke basement.


“Habisi dia!!” titah Bertrand.


🍁🍁🍁


Stella ngumpet di mana?🧐

__ADS_1


__ADS_2