
Di sebuah unit apartemen berukuran studio, Richie nampak sedang berbincang dengan empat anak buah Margarita yang sudah ditarik membelot padanya. Total ada lima orang yang ikut padanya. Kelima orang tersebut yang sekarang menjaga keamanannya. Dia meninggalkan Diki karena tidak percaya dengan pria itu. sejak Diki masuk dan menjadi salah satu tim keamanannya, satu per satu temannya tertangkap. Pria itu yakin kalau Diki adalah satu penyusup yang dimasukkan oleh Zar.
Richie sudah keluar dari tempat persembunyian yang disediakan oleh gank Margarita. Lewat bantuan mamanya, dia mendapat sejumlah uang untuk membayar empat anak buah yang sekarang menjadi pengawal pribadinya. Dia juga menyewa apartemen kecil untuk tempat tinggal sementaranya.
“Bagaimana Diki? Apa ada pergerakan darinya?”
“Ngga ada, bos. Dia tetap bekerja seperti biasanya.”
“Lalu Zar?”
“Dia juga melakukan aktivitas seperti biasanya. Hubungannya dengan Renata semakin dekat saja.”
“Brengsek! Rena.. ternyata setelah apa yang kamu alami, kamu masih bisa hidup bahagia. Baiklah.. aku akan membuatmu lebih terpuruk lagi. Jangankan Zar, laki-laki lain juga tidak akan mau melirikmu lagi.”
Tangan Richie terkepal begitu erat. Dia benar-benar membenci Renata. Berkali-kali wanita itu menolaknya. Richie sengaja membuat wanita itu hancur supaya dia tidak bangkit lagi. Namun mengetahui sampai saat ini Renata masih bertahan, membuat Richie murka. Kebenciannya pada Renata semakin mendalam. Apalagi wanita itu dekat dengan Zar, laki-laki yang juga sangat dibencinya.
“Apa renacanmu, bos?”
“Terus awasi Zar. Begitu dia lengah, culik dia. Aku akan menggunakan Zar untuk memancing Renata.”
Seringaian licik tercetak di wajah pria itu. Sudah terbayang apa yang akan dilakukannya pada Renata juga Zar. Dia akan memastikan dua orang itu mendapatkan balasan yang setimpal. Sudah menjadikan dirinya hidup dalam persembunyian dan menangkap semua teman-temannya.
Salah satu anak buah Richie yang tidak berada di ruangan, masuk ke dalam ruangan. Nafasnya nampak tersengal. Dia menunduk sambil memegangi kedua lutut dengan tangannya.
“Kenapa, lo?” tanya salah satu temannya.
“Diki.. Diki..”
“Kenapa dia?”
“Ba.. barusan gue lihat di abis dibegal. Motornya dibawa kabur, terus dia ditusuk pake pisau. Ada warga yang langsung bawa dia ke rumah sakit. Tapi dengar-dengar nyawanya ngga selamat.”
“Yang benar?”
“Iya.”
Pria itu masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Semua yang ada di sana terkejut mendengarnya. Tidak disangka nasib Diki harus berakhir di tangan para begal. Richie menyunggingkan senyum tipis. Berita kematian Diki merupakan angin surga untuknya. Dia tidak perlu mengkhawatirkan pria itu lagi.
🍁🍁🍁
Di markas tim keamanan keluarga Hikmat, Duta sedang memberikan pengarahan pada anak buahnya. Dikarenakan Diki sudah tidak mengawal Richie lagi, pria itu ditarik dari posisinya. Begitu pula Jalal yang ditugaskan bersamanya. Untuk mengurangi resiko, Duta menarik keluar anak buahnya dari gank Margarita.
Begitu pula dengan Fathir yang sudah menarik anak buahnya dari gank The Cave. Anak buahnya itu sudah berhasil mendapatkan data-data rahasia dari gank tersebut dan sudah membocorkan pada gank Margarita. Hanya tinggal menunggu dua gank tersebut untuk baku hantam. Karena Jalal juga sudah mengekspos soal gank Margarita pada The Cave.
Diki masuk ke dalam ruangan. Kaos yang dikenakannya terdapat noda darah. Dia baru saja memalsukan kematiannya, demi bisa keluar dari gank tempatnya menyamar. Pria itu mendudukkan diri di depan Duta untuk melaporkan apa yang baru saja dirinya dan beberapa rekannya lakukan.
“Sudah beres semuanya?”
“Sudah, pak.”
“Target kita sudah melihat kejadiannya?”
“Sudah. Aku yakin banget kalau dia sudah melaporkannya pada Richie.”
“Bagus.”
“Kamu sudah tahu tempat persembunyiannya?”
“Sudah, pak. Masih di lingkungan gank Margarita. Agak riskan kalau kita menerobos masuk ke sana. Pak Alvaro masih meminta gank Margarita untuk menjaga Richie dari kejauhan. Dia masih mengincar saham atas nama Richie.”
“Tetap awasi tempat tersebut.”
“Baik, pak.”
Duta bangun dari duduknya. Dia harus segera menuju kantor Metro East untuk melaporkan apa yang sudah dilakukannya. Kenzie dan Zar perlu mendengarkan laporannya. Seperti halnya Fathir yang sudah melaporkan penarikan anak buahnya pada Elang.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Seperti biasa, setiap harinya Renata selalu disibukkan dengan pekerjaannya sebagai sekretaris Rakan. Pria itu sangat mempercayainya, dan tentu saja Renata harus menjawabnya dengan kerja keras. Belakangan ini hubungannya dengan Zar juga semakin dekat. Perlahan rasa minder Renata mulai terkikis, dia sudah berani menerima ajakan Zar untuk makan siang atau malam bersama. Namun pria itu masih belum mau mengajaknya kencan. Dia masih ingin membuktikan ucapannya, menangkap Richie lebih dulu.
Seorang kurir datang mengantarkan makan siang untuknya. Karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, wanita itu memilih memesan makanan secara online. Renata menaruh kotak makan di mejanya, wanita itu lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama dia keluar dengan wajah dan tangannya yang basah setelah terkena air wudhu.
Setelah menunaikan ibadah shalat dzuhur, Renata kembali ke mejanya. Dia membuka kotak makanan yang dipesannya tadi. Wangi ayam bakar dengan sambel ijonya langsung menyapa indra penciuman wanita itu. Baru saja Renata hendak memakan makanannya, ponsel Renata berdering. Kening wanita itu berkerut melihat nomor tak dikenal di layar ponselnya.
Awalnya Renata mengabaikan panggilan tersebut. Namun ternyata sang pemanggil tak menyerah, dia terus saja menghubungi Renata. Akhirnya wanita itu menyerah, dia mengusap ikon berwarna hijau seraya menempelkan benda pipih persegi itu di telinganya.
“Halo..”
“Halo, Rena.. masih ingat aku?”
Jantung Renata berdetak kencang mendengar suara Richie dari sebrang. Tangannya seketika bergetar. Baru mendengar suara pria itu, sudah mengingatkannya pada kejadian kelam yang menimpanya karena perbuatan Richie. Dia menarik nafas panjang, berusaha untuk menenangkan perasaannya.
“Masih punya nyali kamu menelponku.”
“Ck.. ck.. ck.. Rena.. Rena.. sombong sekali kamu. Apa karea ada keluarga Hikmat di belakangmu sekarang? Tetap saja itu tidak mengubah dirimu yang sebenarnya. Kamu hanya wanita kotor, wanita sampah yang tidak berarti apa-apa.”
Renata menutup matanya. Perkataan Richie menusuk langsung ke hatinya. Namun dia segera memberikan sugesti positif pada dirinya agar tidak termakan dengan ucapan Richie.
Tenang Rena.. jangan dengarkan Richie. Dia itu cuma laki-laki brengsek, tidak bermoral dan juga bajingan. Dia adalah orang yang sudah merusak hidupmu. Jangan dengarkan dia, jangan mau terintimidasi lagi olehnya.
“Well.. terima kasih atas pujiannya. You know what? Ucapan sampah dari bajingan seperti kamu, bukan apa-apa untukku. Semakin kamu menghinaku, semakin jelas seperti apa orang sepertimu. Lelaki pengecut yang hanya menindas kaum lemah. Semoga kamu mendapat balasan setimpal!”
“Hohoho… sudah berani mengancam rupanya. Lihat saja Rena, aku akan membuatmu dan juga laki-laki kesayanganmu, Zar, menderita. Tunggu saja manis.”
“Mau apa kamu?”
“Tunggu saja tanggal mainnya, wanita sampah!”
Panggilan segera berakhir. Jantung Renata berdebar tak karuan setelah menerima panggilan dari Richie. Seketika dia mengkhawatirkan Zar. Dia takut pria itu menyakiti Zar. Nada suaranya tadi terdengar begitu serius. Wanita itu segera keluar dari ruangannya, lalu masuk ke ruangan Rakan.
“Ri.. Richie.. ta.. tadi dia menelponku. Dia mengancamku akan menyakitiku juga Zar.”
“Tenang, Rena. Mana nomor yang menghubungimu?”
Renata segera memperlihatkan nomor yang tadi menghubunginya. Rakan dengan cepat menghubungi Darren dan meminta pria itu melacak nomor yang menghubungi Renata. Pria itu meminta Renata duduk di sofa.
“Tenang Rena, kamu jangan takut. Aku akan meminta beberapa pengawal untuk menjagamu.”
“Bagaimana dengan Zar?”
“Kamu ngga usah khawatir soal Zar. Sekarang kamu hubungi Zar dan katakan apa yang Richie bilang sama kamu tadi.”
Renata menganggukkan kepalanya. Dia segera menghubungi Zar, namun pria itu tidak menjawab panggilannya. Wanita itu terus mencobanya, namun Zar tetap tidak mengangkatnya.
“Ngga diangkat, bang.”
“Mungkin dia sedang ada meeting penting. Kamu kirim pesan saja, hubungi kamu secepatnya.”
Sekali lagi Renata menuruti perkataan Rakan. Dia segera mengirim pesan pada Zar. Meminta pria itu untuk menghubunginya begitu membaca pesan ini. Hatinya masih belum tenang, dia takut sesuatu terjadi pada Zar.
🍁🍁🍁
Zar keluar dari ruang meeting. Sudah empat jam dia terjebak di ruangan tersebut, membahas proyek baru yang akan dikerjakan oleh Metro East. Sejak menyelesaikan studi S2-nya sebulan lalu, pria itu langsung diberi tanggung jawab penuh oleh Kenzie. Alhasil waktunya lebih banyak tersita di kantor.
Pria itu segera masuk ke dalam ruangan. Dia menghempaskan bokongnya ke kursi kerjanya. Sejenak Zar memejamkan matanya, tubuhnya terasa lelah. Setelah meninjau lokasi proyek, dirinya langsung mengahadiri rapat penting yang memakan waktu panjang.
Tangan pria itu bergerak membuka laci meja kerjanya, lalu mengambil ponsel dari dalamnya. Dia memang sengaja meninggalkan ponsel di ruangan karena tidak ingin terganggu hal lain saat sedang meeting. Dia terkejut melihat ada lima panggilan tak terjawab dari Renata. Wanita itu juga mengiriminya pesan. Dengan cepat Zar segera menghubungi Renata.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Ada apa, Ren? Maaf, aku tadi lagi meeting. Hape kutinggal di ruangan.”
__ADS_1
“Tadi Richie menghubungiku.”
“Apa? Dia bilang apa?”
“Dia ngancem aku. Dia bilang juga mau bikin perhitungan sama kamu. Aku takut Zar, aku takut kamu dicelakain sama dia.”
“Ngga usah takut. Aku baik-baik aja. Kamu jangan pulang sendirian. Mau aku jemput?”
“Ngga usah. Bang Rakan udah siapin orang buat jaga aku.”
“Ya udah, kamu hati-hati. Bisa kamu kirim nomor Richie.”
“Sebentar aku kirim.”
“Ok.. aku masih ada kerjaan di kantor. Kalau ada apa-apa hubungi aku.”
“Iya, Zar. Jangan lupa makan dan hati-hati. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Zar segera mengakhiri panggilannya. Tak lama sebuah pesan dari Renata masuk. Sejenak Zar memandangi deretan nomor yang dikirimkan Renata padanya. Dia langsung mengirimkan nomor tersebut pada Duta. Tak lama kemudian Duta menghubunginya.
“Halo.”
“Halo mas Zar.. ini nomor apa?”
“Itu nomor yang dipakai Richie buat hubungi Rena tadi. Tolong lacak nomornya.”
“Sebenarnya kita sudah tahu lokasi Richie sekarang. Tapi pak Alvaro sepertinya menempatkan banyak pengawal untuk menjaganya. Akan terjadi keributan besar kalau kita menyerbu ke sana, mas. Dan itu yang diharapkan pak Alvaro. Dari yang saya dengar dari Jalal, dia sedang mengincar Metro East dan Humanity Corp. Penyerangan yang kita lakukan, takutnya dijadikan senjata untuk menyerang Metro East.”
“Ya sudah, tunggu instruksi papa aja.”
“Baik, mas.”
Panggilan antara Zar dan Duta segera berakhir. Zar mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Persoalan Richie ternyata tidak sesimple yang dipikirkannya. Richie meminta bantuan Alvaro, dan pria itu memanfaatkan Richie untuk mendapatkan keuntungan besar. kedatangan Richie membantu ambisinya untuk mendapatkan Metro East dan Humanity Corp.
Lamunan Zar buyar ketika terdengar ketukan di pintu. Asistennya datang dan mengingatkannya akan rapat yang harus dihadirinya lagi. Zar kembali memasukkan ponsel ke laci meja, dia bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan.
🍁🍁🍁
Langit sudah menggelap ketika Zar keluar dari gedung Metro East. Perlahan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Sambil menutupi kepalanya dengan tangan, pria itu berlari menuju tempat di mana mobilnya terparkir. Zar mengibas-ngibas kemejanya yang basah terkena percikan air. Kemudian dia mulai menstarter mobilnya. Tak lama kemudian kendaraan roda empat itu mulai bergerak.
Gerimis kini sudah menjadi hujan yang cukup besar. Jalanan yang dilewati mobil Zar sudah basah oleh air yang turun ke bumi. Zar memperlambat laju mobilnya, ketika hujan jalanan akan menjadi sedikit licin. Pria itu membelokkan kendaraannya menuju jalan pintas untuk sampai ke rumahnya. Kondisi jalanan cukup sepi.
Tiba-tiba saja sebuah mobil menyalip lalu berhenti menghalangi beberapa meter di depan. Dengan cepat Zar mengerem mobilnya. Kemudian di belakang mobilnya berhenti dua buah kendaraan roda empat. Dari ketiga mobil tersebut, turun enam belas orang sambil membawa tongkat baseball. Mereka mendekati mobil yang dikemudikan Zar.
Zar hanya menghela nafas panjang. Diambilnya ponsel, lalu mengirim sinyal SOS ke tim keamanan keluarganya. Terdengar suara gedoran di kaca mobilnya. Pria di luar memintanya untuk turun. Zar menutupi wajahnya dengan tangan ketika salah seorang dari mereka memukul kaca depan mobilnya. Untung saja kaca itu tidak langsung pecah.
Tak ingin terus terintimidasi, akhirnya Zar turun dari mobil. Dilihatnya para pria yang berada di dekat mobilnya. Kurang lebih ada enam belas orang yang bersiap untuk menghajarnya. Zar sedikit menjauh dari mobil, mencari ruangan yang lebih luas untuknya bergerak. Seorang memberi komando dan orang-orang tersebut langsung menyerang Zar.
Perkelahian pun tidak terelakkan. Tubuh Zar meliuk ke sana sini menghindari pukulan dari lawan-lawannya. Setangguh apapun Zar, pria itu tetap keteteran menghadapi enam belas orang sekaligus. Setelah menghajar salah satu musuhnya, seseorang yang lain berhasil menendang pria itu hingga tubuhnya mental ke belakang beberapa meter. Kemudian salah seorang lagi melayangkan pukulan ke punggungnya. Secara bertubi Zar menerima pukulan sampai akhirnya ambruk.
“Berhenti! Jangan puku lagi. Kita butuh dia hidup-hidup. Bawa dia!” ujar pemimpin mereka.
Dua orang segera menyeret tubuh Zar lalu memasukkannya ke dalam mobil. Berturut-turut ketiga mobil tersebut meninggalkan tempat itu. Tak lama berselang Duta dan beberapa anak buahnya datang. Mereka hanya mendapati mobil Zar.
“Lacak cctv di dekat sini. Hubungi Darren, minta dia melacak chip yang ada pada Zar,” titah Duta.
“Siap!”
🍁🍁🍁
**Huaaaa Zar😱
Yang nunggu² kemarin, seperti biasa, Kamis aku libur, ok😉**
__ADS_1