
“Assalamu’alaikum.”
Tak ada jawaban ketika Aidan mengucapkan salam. Hari ini pria itu pulang kantor selepas isya, karena harus lembur. Dia segera masuk ke dalam rumahnya yang pintunya tidak terkunci. Suasana rumah nampak sepi, seperti tidak ada kehidupan. Di rumah ini memang dia hanya tinggal berdua dengan Adisty. Istrinya itu menolak ketika akan diberi asisten rumah tangga dengan alasan masih bisa mengurus rumah seorang diri.
Aidan melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Sejenak dia tercenung ketika melihat Adisty sedang menunaikan shalat isya. Pelan-pelan dia menutup kembali pintu kamar. Dia melangkah ke dapur untuk membasahi kerongkongannya. Segurat senyum tercetak di wajahnya. Tamu bulanan sang istri rupanya sudah pergi. Berarti dia sudah bisa membajak sawah istrinya.
“Mas.. kapan pulang?” tanya Adisty, membuyarkan lamunan pria itu.
“Baru aja.”
“Mandi dulu. Aku siapin makan malam.”
“Iya.”
Dengan cepat Aidan menuju kamarnya. Sambil bersiul dia masuk ke kamar mandi. Hari yang ditunggunya akhirnya tiba. Dia membasuh tubuhnya dengan shampoo dan sabun, dari atas sampai bawah. Memastikan tidak ada yang terlewat sedikit pun. Harum aroma sabun langsung menguar begitu pria itu keluar dari kamar mandi. Di atas kasur sudah tersedia pakaian untuknya.
Kaos lengan pendek dan celana pendek selutut disiapkan sang istri untuknya. Aidan memakai pakaian tersebut, menyisir rambutnya dan tak lupa menyemprotkan sedikit parfum ke pakaiannya. Pokoknya dia harus tampil tampan, rapih dan wangi sebelum acara jebol menjebol gawang terjadi.
Di meja makan, makanan untuknya sudah tersedia. Aidan termasuk pria yang beruntung mendapatkan istri dengan paket lengkap. Cantik, pintar, solehah dan bisa memasak. Dia menarik kursi makan, kemudian mendudukkan diri di sana. Adisty sudah memasakkan ayam rica-rica, tumis kangkung dan tahu crispy untuknya. Wanita itu mengambil nasi untuk suaminya sebelum duduk di sebelahnya.
“Makasih, sayang,” ujar Aidan seraya mengambil piring dari tangan sang istri.
“Mudah-mudahan mas suka ya, masakanku. Aku baru tanya resepnya dari mama.”
“Kalau dari wanginya sih, enak ini.”
Aidan mengambil satu potong ayam rica-rica, tak lupa menambahkan bumbu pedas ke atasnya. Dia memang menyukai makanan pedas, kemudian menambahkan tumis kangkung dan beberapa potong tahu crispy. Begitu semua makanan itu masuk ke dalam mulutnya, jempol pria itu terangkat, memuji masakan sang istri.
“Enak.. pas banget bumbunya. Kamu emang pintar masak.”
“Makasih, mas.”
Lega perasaan Adisty mendengar pujian suaminya. Awalnya dia sempat ketar-ketir, takut kalau Aidan tidak menyukai masakannya. Wanita itu pun mengambil makanan ke piringnya. Resep ayam rica-rica yang diberikan mamanya, bisa dieksekusi dengan baik olehnya.
Sambil berbincang santai, keduanya menikmati makan malam. Aidan menanyakan persiapan pernikahan Ayumi. Gaun pengantin yang dirancang Adisty sudah selesai, hanya tinggal berburu bahan dan penjahitan saja. Mereka juga membicarakan rencana bulan madu yang sempat tertunda. Aidan harus berbagi waktu dengan Irzal. Pasalnya atasannya itu juga berencana bulan madu kedua bersama istrinya.
“Biar bang Irzal sama Arsy aja dulu yang bulan madu. Kalau aku masih harus beresin dulu gaun pengantin Ayumi. Ngga apa-apa kan, bang?”
“Iya, ngga apa-apa. Santai aja. Eh.. kamu udah selesai datang bulannya? Tadi mas lihat kamu udah shalat.”
“Iya, mas. Baru siang tadi selesainya.”
Aidan hanya menganggukkan kepalanya. Semoga saja sang istri mengerti kode yang barusan dikirimkan olehnya. Sudah seminggu dia menunggu momen menjebol gawang. Jika belum menikah, dia masih bisa santai. Tapi setelah menikah dan tidur satu ranjang dengan istrinya, kepalanya pening juga tidak bisa menyentuh wanita yang sudah halal untuknya.
Usai makan malam, Aidan membantu Adisty membereskan peralatan bekas makan mereka. Aidsty diminta membereskan meja makan dan menyimpan makanan, sedang dirinya yang akan mencuci peralatan kotor.
Setelah mencuci peralatan kotor dan mengeringkan tangannya, Aidan terkejut ketika Adisty memeluk pinggangnya dari belakang. Istrinya itu memeluk erat pinggangnya seraya menyandarkan kepalanya ke punggung Aidan. Saat ini Adisty membutuhkan punggung untuk bersandar. Tadi sore dia baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan.
Arga kembali datang menemuinya di butik. Pria itu sudah menikah dengan Maya, namun masih berani menemuinya. Padahal Arga juga tahu kalau dirinya sudah menikah dengan Aidan. Dengan tidak tahu malunya, mantan kekasihnya itu masih berharap kembali padanya. Dan tak lama kemudian Maya datang dan membuat keributan di butik.
Adisty ingin secepatnya menghilangkan bayang-bayang Arga yang masih berada dalam ingatan dan hatinya. Walau pria itu sudah menyakitinya, namun hubungan yang sudah terjalin lama, mau tak mau masih meninggalkan bekasnya. Wanita itu ingin mengganti semua kenangan Arga dengan suaminya.
__ADS_1
“Kamu kenapa, sayang?”
“Ngga apa-apa. Aku cuma kangen aja sama mas.”
Perlahan Aidan melepaskan pelukan Adisty di pinggangnya, kemudian membalikkan tubuhnya. Dia menyandarkan pinggangnya ke kitchen set di belakngnya, kedua tangannya melingkari pinggang sang istri. Ditatapnya lekat-lekat wajah cantik istrinya ini.
“Pasti ada sesuatu yang mengganggumu. Ada apa?”
Tangan Aidan bergerak merapihkan anak rambut Adisty. Wanita itu memberanikan diri menatap suaminya.
“Apa mas mencintaiku?”
“Tentu saja aku mencintaimu. Kenapa kamu menanyakan itu?”
“Hanya ingin memastikan saja. Maaf..”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku tahu kamu pasti butuh waktu untuk meyakinkan perasaanmu. Tidak mudah menghilangkan bayang-bayang orang yang pernah hadir dalam hidup kita. Apa Arga menemuimu lagi?”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Adisty. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Sebenarnya Aidan panas mendengar Arga masih berani menemui istrinya, tapi dia berusaha menahannya. Tangannya memeluk punggung sang istri. Saat ini yang dibutuhkan Adisty adalah pelukan hangatnya dan bahu untuk bersandar.
“Aku akan membuatmu melupakan pria itu sepenuhnya. Aku akan mencintaimu lebih dari pria itu mencintaimu. Dan aku akan membuatmu mencintaiku lebih dari kamu mencintainya.”
Adisty mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami. Perasaannya menghangat mendengar kata-kata Aidan barusan. Perlahan Aidan mengurai pelukannya. Diraihnya wajah Adisty, kemudian membenamkan bibirnya. Mata Adisty terpejam menikmati sapuan bibir suaminya. Walau mereka sudah menikah seminggu yang lalu, namun baru kali ini Aidan mencium bibirnya. Sejauh ini mereka baru berani bergandengan tangan, berpelukan atau mencium kening saja.
Aidan mengakhiri ciumannya. Netra pasangan halal itu bertemu dan saling mengunci. Jantung Adisty berdebar kencang melihat wajah Aidan yang memancarkan keteduhan. Sekali lagi pria itu menciumnya. Kali ini Adisty berusaha membalas ciuman sang suami walau masih terasa kaku.
“Aku boleh memberimu nafkah batin malam ini?” tanya Aidan begitu ciuman mereka berakhir.
Kepala Adisty mengangguk pelan. Dalam hati Aidan bersorak senang. Namun kebahagiaannya harus terganggu ketika mendengar suara bel di pintu. Dengan berat hati pria itu melepaskan sang istri dari pelukannya. Dia membuka pintu depan, ternyata pengurus RT yang datang ke rumahnya.
Cukup lama juga pria itu berkunjung ke rumah Aidan. Setelah memberikan minuman, Adisty segera masuk ke kamar. Dia memilih menunggu suaminya di kamar. Setengah jam kemudian, akhirnya sang tamu pulang. Aidan mengantarkan sampai ke pintu pagar, sekalian menguncinya. Setelah memastikan semua pintu terkunci, Aidan masuk ke dalam kamar.
Pria itu tercenung di tempatnya ketika melihat Adisty sudah menunggunya di atas kasur. Wanita itu mengenakan lingerie yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Jakun Aidan naik turun melihat penampilan istrinya. Setelah menutup pintu, Aidan melangkah mendekati ranjang. Dia mendudukkan diri di dekat sang istri.
“Aku siap, mas,” ujar Adisty.
Aidan meraih wajah sang istri, kemudian kembali menyatukan bibir mereka. Kini Adisty sudah mulai bisa mengimbangi permainan bibir suaminya. Bunyi decapan mereka terdengar memenuhi seisi kamar. perlahan Aidan merebahkan tubuh Adisty dengan dirinya berada di atas. Tangannya mulai bekerja meraba dan menyentuh bagian tubuh sang istri.
Sebagai lelaki, Aidan terus melakukan cumbuan mengikuti instingnya. Apa yang dilakukannya sukses memancing hasrat Adisty. Suara des*han sang istri akhirnya keluar juga, tanda sudah menikmati permainannya. Tanpa tergesa, Aidan melepaskan pakaian yang menutupi tubuh Adisty. Jantungnya berdebar kencang melihat tubuh polos wanita halal di depannya.
Perlahan Aidan juga melepaskan pakaian miliknya. Wajah Adisty memerah melihat sang suami melucuti pakaiannya satu per satu. Apalagi ketika Aidan melepaskan kain terakhir tempat senjata pusakanya bersembunyi. Wanita itu menutup wajah dengan kedua tangannya ketika melihat pisang tanduk sang suami.
Sebelum masuk ke pertarungan yang menguras keringat, Aidan kembali mencumbu istrinya. Tubuh Aidsty tak enak diam menerima serangan demi serangan suaminya. Pria itu berhasil membuatnya melayang sampai ke langit ke tujuh hanya lewat sentuhan dan ciumannya. Setelah merasa sang istri cukup siap menerima serangannya, Aidan pun bersiap.
Mata Aidan memandang lekat keindahan di depannya. Bentuknya seperti donat dengan lubang di bagian tengahnya. Pelan-pelan Aidan memasukkan pisang tanduknya ke dalam bolongan donat. Percobaan pertama gagal, karena ternyata lubangnya masih sempit. Namun pria itu tidak berputus asa. Kembali dia memasukkan pisang tanduknya. Beberapa kali pisang tanduk itu keluar masuk sampai akhirnya bisa menembus lubang donat tersebut.
Terdengar pekikan pelan Adisty saat donatnya berhasil ditembus pisang tanduk suaminya. Untuk sesaat keduanya masih terdiam, sebelum akhirnya Aidan mulai memainkan pisang tanduknya. Pria itu tak bisa menggambarkan dengan kata-kata, nikmatnya pisang tanduknya yang pulen bertemu dengan donat Adisty yang empuk dan manis. Rasanya begitu luar biasa.
Saking enaknya, Aidan terus memainkan pisang tanduknya hingga sang istri sampai mengeluarkan madunya. Mengetahui itu, Aidan semakin bersemangat memainkan pisang tanduknya. Setelah beberapa saat, pisang tanduknya mengeluarkan susu kental manis yang memenuhi donat sang istri. Pertemuan pisang tanduk dan donat diakhiri dengan lumuran madu dan susu kental manis.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Di atas ranjang berukuran king size, Aidan dan Adisty masih berbaring sambil berpelukan. Setelah shalat shubuh, keduanya kembali mengulang percintaan mereka semalam. Tubuh mereka pun hanya terbalut selimut saja untuk menghalangi udara dingin di pagi hari. Adisty memeluk tubuh Aidan erat. Mencoba mencari kehangatan dari sang suami.
Mata Aidan memicing, melihat pada jam yang tergantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rasanya malas sekali untuk bangun dan bersiap ke kantor. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. Sepertinya pria itu sudah mulai ketagihan bermain pisang tanduk dan donat.
“Kamu hari ini ke butik, ngga?” tanya Aidan.
“Iya, mas. Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Nanya aja. Emang bagian bawahnya udah ngga sakit?”
“Ish..” Adisty menepuk pelan dada suaminya. Aidan hanya terkekeh saja.
“Aku males banget ke kantor. Pengennya peluk kamu terus.”
Tak ada tanggapan dari Adisty. Dia juga enggan pergi ke butik. Tubuhnya lelah dan bagian bawahnya juga masih terasa sakit. Apa yang terjadi semalam dan tadi shubuh benar-benar menguras tenaganya. Apalagi Aidan bermain lebih lama selepas shubuh. Namun tak dipungkiri, dia juga menyukainya. Pantas saja Arga sampai ketagihan bermain dengan Maya. Beruntung dia melakukannya bersama pasangan halalnya.
“Udah hampir jam tujuh, mas. Ayo mandi dulu.”
“Ngga mau. Pengennya meluk kamu aja.”
Aidan mengeratkan pelukan di tubuh istrinya. Adisty membalas pelukan sang suami. Dia sendiri masih enggan beranjak dari kasur. Sepertinya wanita itu akan menghubungi asistennya dan mengurungkan niatnya ke butik. Hari ini dia ingin menghabiskan waktu di kasur, tidur sepuasnya.
“Mandi bareng ya, sayang,” ujar Aidan membuyarkan lamunan Adisty.
“Ngga mau, mas aja.”
“Ayo mandi bareng. Kita berendam, biar badan kamu segar.”
Setelah mengeluarkan bujuk rayunya, akhirnya Adisty mau juga diajak mandi bareng. Dengan bersemangat pria itu membopong tubuh sang istri menuju kamar mandi. Disiapkannya air hangat di dalam bath tub. Tidak lupa Adisty meneteskan aroma therapy ke dalamnya. Keduanya kemudian masuk ke dalam bath tub setelah air terisi penuh.
Dasar Aidan, di tengah keasyikan berendam, tangan pria itu tidak berhenti gerilya. Dengan sengaja dia menyentuh titik-titik sensitif sang istri, ditambah bibirnya yang terus menjelejahi tubuh di depannya. Akhirnya pertemuan pisang tanduk dan donat kembali terjadi. Udara di kamar mandi menjadi lembab gara-gara pertemuan tersebut.
🍁🍁🍁
Suasana ballroom Humanity Corp sudah mulai dipenuhi anggota keluarga Hikmat dan Ramadhan. Dua keluarga besar ini akan segera menggelar perhelatan pernikahan Arya dan Shifa. Ballroom sudah didekor sesuai keinginan pasangan pengantin. Nuansa serba silver menghiasi ruangan besar ini.
Panggung pelaminan untuk pasangan pengantin dan kedua orang tua sudah berdiri megah di bagian depan. Tepat di depan panggung pelaminan terdapat meja dengan enam buah kursi. Di sana tentu saja akan dilangsungkan pengucapan ikrar janji suci Arya yang akan membayar tunai Shifa, wanita pujaannya.
Berita pernikahan Shifa, pebulutangkis nomor satu dunia, sudah tersebar luas di media massa dan media sosial, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ucapan selamat banjir memenuhi laman IG atlit wanita tersebut. Namun demi kekhusyu’an acara, media massa dilarang untuk meliput jalannya pernikahan, baik akad maupun resepsi. Mereka akan mengadakan konferensi pers setelah pesta berakhir nanti.
Sedari tadi Arya tidak mau diam. Dia benar-benar gugup menantikan detik-detik pernikahannya. Beberapa kali dia melihat ke pintu masuk, berharap penghulu yang akan menikahkan dirinya segera tiba. Ervano mengajak Arya untuk duduk menenangkan diri. Calon pengantin pria itu memang memilih ditemani Ervano dibanding sepupunya yang lain. Jika dirinya ditemani Zar, Irzal, Tamar, Daffa, Rakan atau Rafa, sudah bisa dipastikan hanya akan semakin gugup dan gondok saja.
Gugup karena akan terus menerima ledekan, dan gondok melihat kemesraan mereka dengan pasangan masing-masing. Karenanya dia memilih Ervano yang masih berstatus jomblo sampai saat ini. Kepalanya segera menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara ayahnya menyapa seseorang.
“Selamat datang pak Rahman,” sapa Aric.
“Terima kasih pak Aric. Sebuah kehormatan saya bisa kembali hadir di tengah keluarga Hikmat dan Ramadhan.”
Mata Arya membulat melihat penghulu somplak yang datang ke pernikahannya. Seingatnya dia tahu betul untuk akad nikahnya, bukan Rahman Badarudin Surahman yang akan menikahkannya.
“Itu penghulu somplak ngapain ke sini?” ujarnya panik.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Mau ngajakin main congklak, Ar🤣🤣🤣