
“GO SHIFA GO!” teriak Arya.
“SHIFA KAMU PASTI BISA!,” Elvano.
“SEMANGAT MENANG SHIFA!” Anfa.
“SHIFA PASTI JUARA!” Juna.
“JANGAN KASIH KENDOR, SOSOR ARYA!!” Abi.
“CUCU MANTU PASTI BISA!” Cakra.
“HABIS INI LANGSUNG KE KUA!” Jojo.”
“Vin.. kenapa diam aja?” tegur Abi.
“Kan udah diwakilin yang lain,” jawab Kevin enteng.
Pria itu segera duduk di kursinya ketika melihat Shifa sudah selesai melakukan pemanasan dan siap untuk bertanding. Abi dan yang lainnya juga ikut duduk, begitu pula dengan Arya. Nampak wasit tengah melempar koin untuk mengundi siapa yang akan melakukan service pertama. Kesempatan pertama diberikan pada Shifa. Kedua wanita itu segera menuju posisinya dan siap untuk bertanding.
Sorak sorai penonton langsung terdengar, pertarungan seru sudah ditunjukkan di awal-awal set. Arya beserta rombongan tidak berhenti memberikan dukungan. Namun di sela-sela pemberian dukungan. Masih saja terdengar kata-kata nyeleneh yang dikeluarkan oleh Cakra dan Jojo.
“AYO CUCU MANTU KAMU PASTI BISA!” Cakra.
“ADA CALON SUAMIMU DI SINI. SEMANGAT!” Jojo.
Dari tempatnya duduk mengawasi jalannya pertandingan, Azriel hanya bisa mengulum senyumnya saja mendengar celotehan-celotehan nyeleneh dari para orang tua itu. Sikap Cakra dan Jojo justru mengingatkannya pada sosok papi dan papanya. Dulu Ega dan Adit juga sering bersikap nyeleneh seperti itu.
Untung saja Shifa adalah pemain dengan mental baja. Bermain di negeri orang dan sering mendapat cemoohan yang membuat mentalnya down saat menghadapi tuan rumah sudah sering ditemuinya. Jadi sorakan dan teriakan Abi cs tidak berpengaruh sama sekali padanya. Wanita itu tetap menyuguhkan permainan cantik.
“AYO SAYANG!! KAMU PASTI BISA!!”
Terdengar suara Arya memberikan dukungan untuk wanita tercintanya. Tak lupa dia menepukkan balon tepuk di tangannya untuk lebih membakar semangat Shifa. Ervano membentangkan kembali syal di tangannya sambil berteriak memberikan semangat. Diam-diam Shifa tersenyum melihat kekonyolan supporter dadakannya.
Set pertama berhasil dimenangkan oleh Syifa dengan angka yang cukup jauh 21-16. Sepertinya Anane Tamagochi, lawannya itu sedikit terganggu konsentrasinya karena teriakan supporter Arya. Di akhir-akhir set wanita itu sering melakukan kesalahan sendiri dan menguntungkan Shifa.
Menghadapi set kedua, pemain berpindah tempat. Kini Shifa akan bermain di sisi di mana Arya dan yang lainnya berada. Sekilas dia melihat pada Arya yang mengedipkan mata padanya. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Pertandingan kembali dimulai. Seperti di set pertama, pertandingan berjalan seru di awal-awal.
Pertandingan di set kedua berjalan lebih ketat dari set pertama. Anane Tamagochi sudah kembali pada permainan terbaiknya dan memberikan perlawanan sengit. Kejar mengejar angka terus terjadi. Abi memberikan semangat pada para sahabatnya untuk terus memberikan dukungan pada Shifa yang secara tidak langsung memberikan tekanan mental pada musuh.
“SHIFA GANBATTE!!” Anfa.
“CUCU MANTU PALING HEBAT!” Jojo.
“CUCU EYANG PASTI JUARA!” Cakra.
“LAWAN TERUS SHIFA, ADA ARYA DI SINI!” Juna.
“SMASH ARYA DENGAN CINTAMU!” Abi.
“KELUARKAN JURUS SARINGAN!” Kevin.
“Apaan jurus saringan?” tanya Cakra bingung.
“Kalau di saring koknya ngga akan jatuh,” jawab Kevin santai.
“Mending ngga usah ngomong. Ngga ada gunanya juga,” seru Abi yang dibalas tatapan tajam Kevin.
Mendengar teriakan-teriakan pandawa lima ditambah goyangan Arya dan Ervano kembali membuat Anane Tamagochi tidak konsentrasi menjelang akhir set. Teriakan pelatihnya terdengar memberinya arahan untuk tetap fokus pada pertandingan. Melihat itu Shifa tak mengendorkan serangan. Dan akhirnya dia berhasil menang straight set. Babak kedua ditutup dengan kemenagan 21-19.
Arya bersorak kencang setelah Shifa memenangkan pertandingan. Usia menyalami lawan dan juga wasit, Shifa dikejutkan dengan Arya yang tiba-tiba masuk ke lapangan dan memeluknya sebentar. Pria itu mengangkat tangan Shifa ke atas seperti seorang petinju yang memenangkan pertandingan. Karuan saja hal tersebut memancing sorakan dari penonton lainnya. Panitia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Arya merupakan salah satu sponsor acara lewat Maeswara Dunia.
“Arya, kamu apa-apaan sih? Malu tau.”
“Biar pada tahu kalau aku itu calon suami kamu.”
“Astaga.”
Dengan cepat Shifa menuju boks tempatnya menaruh barang. Azriel membantu sang anak membereskan barang-barangnya. Kemudian Shifa segera keluar dari lapangan. Sedang Azriel memilih menemui para tetua dan juga Arya.
“Om..” Arya dan Elvano mencium punggung tangan Azriel bergantian. Kini giliran pria itu yang mencium punggung tangan para tetua.
“Terima kasih buat kedatangannya, om. Shifa jadi tambah semangat bertandingnya.”
“Oh jelas. Kan kita ke sini khusus untuk calon cucu mantu,” seru Cakra dan hanya dibalas senyuman saja oleh Azriel.
“Shifa bisa keluar ngga? Kita makan malam bersama,” ajak Jojo.
“Bisa, om. Nanti setelah mandi dan berganti pakaian, aku akan ajak dia.”
“Kita tunggu di restoran ya.”
“Iya, om.”
__ADS_1
Azriel segera berpamitan. Dia hendak menyusul putrinya yang sedang membersihkan diri. Arya dan Ervano melipat kembali stand banner. Setelah pertandingan Shifa, mereka memutuskan langsung pulang untuk makan malam bersama Shifa. Berturut-turut pandawa lima plus Anfa keluar juga dari gor.
🍁🍁🍁
Seperti yang sudah dijanjikan Azriel, dia mengajak Shifa makan malam bersama dengan keluarga Hikmat. Tubuh Shifa sudah segar setelah mandi. Dia juga terlihat cantik dengan pakaian casual yang dikenakannya. Mata Arya tak lepas memandangi wanita yang sudah berhasil membuatnya seperti orang gila, jungkir balik untuk mendapatkan wanita itu.
Shifa mencium tangan semua tetua yang ada di meja makan. Dia juga bersalaman dengan Ervano, dan pastinya dengan Arya. Namun wanita itu terkejut ketika tiba-tiba Arya mengecup tangannya di depan semua orang. Wajah Shifa langsung bersemu kemerahan.
“Selamat ya, Shifa. Pertandingan tadi benar-benar seru. Kamu hebat,” puji Cakra.
“Makasih kakek..”
“Eyang,” sela Arya.
“Oh iya, eyang. Karena dukungan eyang dan yang lainnya, lawanku jadi galfok,” Shifa terkikik setelah mengatakannya.
“Itulah gunanya kita. Kalau mau kita bisa jadi supporter tetap kamu,” ujar Abi.
“Inget umur kakek. Tar encok sama sesak nafas, bahaya. Bisa dijewer kita sama bidadari kalian,” celetuk Ervano yang langsung mengundang gelak tawa lainnya.
Pelayan datang mengantarkan makanan untuk mereka. Cakra mempersilahkan Azriel dan Shifa untuk menikmati hidangan. Perbincangan langsung terjadi saat makan malam. Isi pembicaraan lebih banyak mengenai Shifa. Pandawa lima mencoba menggali sosok Shifa agar sang cucu lebih mudah melakukan pendekatan.
“Makanan kesukaan kamu apa?” tanya Jojo.
“Aku suka seafood, eng.. apa nih manggilnya?”
“KiJo,” jawab Arya.
“KiJo?”
“Iya KiJo alias aki Jojo. Kalau ini kakek Abi, ini granpa Juna, eyang Cakra, opa Kevin dan KeFa.”
“KeFa?”
“Kakek Anfa.”
Shifa hanya menganggukkan kepalanya mendengar panggilan yang berbeda untuk pandawa lima dan juga Anfa. Arya menceritakan alasan mereka memanggil dengan sebutan berbeda.
“Kita sengaja manggil dengan sebutan beda. Kalau semua dipanggil kakek, repot pas kumpul. Kita panggil kakek, nengok semua, hahaha…”
Senyum Shifa terbit mendengar penjelasan Arya. Walau baru sekali kumpul bersama dengan para tetua keluarga Hikmat, namun wanita itu sudah merasa senang dan nyaman. Apalagi dirinya sudah tidak memiliki kakek dan nenek lagi. Semuanya sudah berpulang dipanggil Sang Maha Kuasa.
“Besok lawanmu siapa?” tanya Abi.
“Arya, coba kamu searching seperti apa si Cacing Sia itu,” ujar Abi.
“Chi Cing Sia, kakek,” ralat Ervano.
“Ck.. beda dikit doang. Coba cari tahu dia seperti apa? Besok kita bantu Shifa biar menang. Kita akan menjadi bahaya laten buat si Cacing Sia.”
“Astaga! Chi Cing Sia kakek. Kalo cacing mah yang suka uget-uget di tanah. Kalo cacingan, itu penyakit si Arya, matanya kedip-kedip mulu dari tadi, hahaha…”
“Sue lo!” Arya menoyor kepala Ervano yang sudah menjatuhkan harga dirinya di depan wanita pujannya.
Shifa tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Ervano. Ternyata sepupu dari Arya ini sama gesreknya seperti Arya. Tapi dia tidak heran, bisa jadi kelakuan cucu mereka yang ajaib berasal dari benih para tetua yang ajaib juga.
“Shifa… kamu punya sepupu yang masih jomblo?” tanya Abi.
“Ada kek, anaknya om Gara masih jomblo. Anaknya om Ilan sama om Virza juga masih ada yang jomblo.”
“Anaknya om Virza udah punya calon,” sela Azriel.
“Serius pa? Fathiya udah punya calon? Berarti aku dirunghal dong.”
“Makanya kamu sama aku aja, biar kita bisa langsung nikah,” ujar Arya dengan percaya dirinya.
“Hilih masih bocil.”
“Bocil yang udah bisa produksi bocil juga,” jawab Arya tak mau kalah.
Mulut Shifa terbungkam mendengar kata-kata Arya. Azriel hanya tertawa saja melihat interaksi keduanya. Cakra dan Jojo saling berpandangan, sepertinya mereka sudah sangat setuju pada Shifa.
Usai makan malam, Arya mengajak Shifa berbincang di tempat yang sedikit jauh dari para tetua. Dia ingin mengungkapkan keseriusannya berhubungan dengan Shifa. Tidak peduli kalau usia wanita itu empat tahun lebih tua darinya.
“Kapan kamu siap?” Arya membuka pembicaraan.
“Siap apa?”
“Siap buat aku lamar.”
“Ngga usah ngaco deh.”
“Aku serius.”
__ADS_1
“Arya, kamu itu masih muda. Masih 23 tahun, kamu tahu umurku udah 27 tahun.”
“So what? Beda umur kita cuma empat tahun aja. Rasulullah saat menikahi Siti Khodijah bedanya lima belas tahun, tapi pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan. Rasulullah bisa menjadi suami dan panutan yang baik untuk istrinya. Aku juga yakin bisa melakukannya. Aku sudah bekerja, sudah berpenghasilan. Sebentar lagi S2-ku selesai, apalagi? Soal ilmu agama, In Syaa Allah aku udah paham juga. Aku tahu apa hak dan kewajiban suami pada istrinya.”
Jawaban Arya sukses membuat Shifa terbungkam. Ternyata pria ini tidak main-main dengan perkataannya. Dia bersungguh-sungguh saat ingin menjadikan Shifa istrinya. Untuk sesaat suasana di antara keduanya menjadi hening.
“Kapan S2 mu selesai?”
“Sekitar empat bulan lagi.”
“Ok.. aku akan kasih jawaban setelah S2-mu selesai dan setelah aku bertanding untuk tim piala Sudirman.”
“Deal! Aku tunggu janjimu. Aku harap kamu ngga menghindar lagi nantinya.”
Hanya senyuman saja yang diberikan Shifa. Mau lari kemana pun pasti Arya akan terus mengejarnya. Maka tak ada cara selain memberikan kesempatan pada pria itu. Senyum mengembang di wajah Arya. Di waktu yang tersisa, dia akan terus berusaha meyakinkan Shifa akan keseriusannya.
🍁🍁🍁
Pertandingan final diselenggarakan keesokan harinya. Tim Indonesia berhasil meloloskan pemainnya ke final untuk perebutan juara di ganda campuran, ganda putra dan tunggal putri. Tiga pertandingan tersebut akan dilangsungkan di bagian akhir. Namun begitu para penonton sudah mulai berdatangan untuk melihat jalannya pertandingan.
Pertandingan pertama di nomor ganda putri. Tim Tiongkok akan berhadapan dengan tim Korea. Pertandingan berjalan seru sampai tiga set. Awalnya tim Tiongkok berhasil menang di set pertama, namun tim Korea mencuri kemenangan di set kedua. Dan di set ketiga, kejar-kejaran angka terus berlangsung dari awal babak. Akhirnya tim Korea meraih kemenangan dengan skor 27-25.
Laga kedua menampilkan tunggal putra. Kali ini wakil Denmark akan berhadapan dengan wakil dari Jepang, pemain muda yang langsung meroket karena kepiawaiannya menaklukkan pemain unggulan. Namun kali ini pemain Jepang harus mengakui keunggulan pemain Denmark. Dia menang straight set, 21-19, 23-21.
Lanjut ke pertandingan berikutnya di ganda campuran. Kali ini tim Indonesia akan melawan tim Tiongkok. Sebenarnya pasangan Indonesia yang maju ke babak final bukanlah tim unggulan, namun mereka berhasil memberikan perlawanan sengit meski harus menyerah setelah melewati pertandingan selama tiga set.
Laga yang ditunggu keluarga Hikmat akhirnya digelar, Shifa akan melawan pemain nomor dua asal Tiongkok, Chi Cing Sia. Saat masuk ke dalam arena pertandingan, matanya langsung tertuju pada kursi yang ditempati Arya dan supporter hebohnya. Ternyata di pertandingan final, mereka mendapat dua orang personil tambahan, Gurit dan Radix ikut menyusul ke Jakarta untuk bantu memberikan dukungan.
Riuh penonton mengelukan nama Shifa langsung terdengar. Maklum saja, selain prestasinya yang mengagumkan, Shifa juga berwajah cantik. Jadi tidak heran kalau wanita itu memiliki banyak penggemar. Shifa menaruh barang-barangnya di boks dan bersiap untuk melakukan pemanasan.
“GO SHIFA GO. SHIFA HANYA MILIK ARYA!” teriak Gurit sambil menggerakkan tubuhnya. Rupanya pria itu lupa kalau umurnya sudah tidak muda lagi.
“MAJU TERUS SHIFA. ARYA CUMA PUNYA SHIFA!” Radix ikut berteriak dan bergoyang.
Melihat Gurit dan Radix yang begitu bersemangat, Arya dan Ervano pun mulai memberikan dukungan pada Shifa tak kalah heboh. Gurit menabuh genderang yang sengaja dibawanya dari Bandung. Begitu pula dengan Radix, suasana di kursi mereka semakin ramai saja.
Chi Cing Sia, awalnya tidak peduli dengan semua teriakan supporter Shifa. Namun ketika tanpa sengaja matanya melihat ke arah pandawa lima, dia dibuat bergidik sendiri melihat tatapan kelima pria yang usianya sudah tidak muda lagi namun terlihat menyeramkan. Abi menggerakkan dua jarinya, dia mengarahkan ke matanya lalu ke arah mata Chi Cing Sia. Tentu saja hal tersebut sedikit mengganggu konsentrasi pemain tersebut.
Tanpa menunggu lama, pertandingan pun dimulai. Sorak sorai penonton langsung terdengar. Shifa langsung bermain menyerang, tak memberi kesempatan pada lawannya untuk mengembangkan permainan. Di awal set, Chi Cing Sia nampak keteteran. Berkali-kali wanita itu mendapat serangan bertubi dari Shifa.
Namun perlahan wanita itu mulai bangkit dan melakukan serangan balik. Keunggulan skor Shifa semakin menipis. Melihat itu, Arya kembali memberikan motivasi untuk wanita pujaannya. Gurit dan Radix tak henti menabuh genderang, pandawa lima dan juga Anfa membunyikan balon tepuknya sambil terus meneriakkan kata semangat untuk Shifa.
“SHIFA KAMU PASTI BISA!” Anfa.
“AYO CUCU MANTU, KALAHKAN SI CACING!” Cakra.
“Chi Cing Sia, eyang,” ralat Arya.
“Biarin aja!”
“CACING! JANGAN MACEM-MACEM KAMU SAMA CUCU MANTU SAYA!” Jojo.
“AYO SHIFA LAWAN TERUS, JANGAN KASIH KENDOR!” Juna.
“AYO SHIFA, LIBAS SI CACING!” Abi.
“KASIH GARAM!” Kevin.
Sontak semua langsung menoleh pada Kevin. Lagi-lagi pria itu melontarkan kata-kata keluar dari konteks. Sadar semua mata tertuju padanya, dengan santainya dia menjawab,
“Kan cacing mati kalau dikasih garam.”
Set pertama akhirnya berhasil dimenangkan oleh Shifa, lewat pertandingan ketat bahkan sampai deuce. Wanita itu berhasil menaklukkan Chi Cing Sia dengan skor 26-24. Kedua pemain berpindah tempat untuk babak kedua. Kali ini Chi Cing Sia berada di sisi yang dekat dengan Arya dan supporter hebohnya. Tentu saja hal tersebut dimanfaatkan Abi untuk menjatuhkan mental wanita itu.
Pertandingan di babak kedua tidak sealot babak pertama. Konsentrasi Chi Cing Sia pecah karena suara yang berasal dari kursi yang ditempati Arya and the gank. Apalagi pandawa lima terus mengintimidasi pemain tersebut dengan tatapan horornya. Chi Cing Sia seperti bermain di rumah hantu. Sepanjang pertandingan, bulu kuduk wanita itu terus berdiri. Dia banyak melakukan kesalahan. Smashnya nyangkut, atau pukulannya keluar. Dan tentu saja menjadi keuntungan untuk Shifa.
Tak butuh waktu lama untuk Shifa menyelesaikan pertandingan di babak kedua ini. Dia berhasil menang telak 21-11 dari Chi Cing Sia. Suara gemuruh langsung terdengar ketika Shifa berhasil menang. Wanita itu berlari memeluk ayahnya setelah bersalaman dengan pemain dan wasit.
Saat Shifa hendak naik ke podium, Arya berlari mendekati wanita itu lalu mengalungkan syal yang dibawanya. Mau tak mau Shifa memakainya sampai ke podium. Arya langsung mengabadikan ketika Shifa menerima medali, bunga, boneka dan papan bertuliskan uang yang dimenangkannya. Wajahnya tersenyum bangga melihat kekasih hatinya berdiri sebagai pemenang sekaligus mempertahankan gelar juara.
🍁🍁🍁
**Ternyata selain memberi semangat, suporter dadakan bisa juga bikin nyali lawan ciut🤣
Ini aku kasih penampakan calon pasangan versi diriku ya😉
Arya yang pede abis**
Shifa, calon cucu mantu
__ADS_1