
Irzal yang telah sampai di lantai 12 bergegas naik ke rooftop. Dengan cepat dia membuka pintu. Matanya langsung memandang sekeliling. Tiba-tiba saja, terdengar suara pintu menuju rooftop terkunci. Pria itu segera menolehkan kepalanya kemudian bergegas menuju pintu. Beberapa kali dia menggerakkan handle pintu, namun pintu tak terbuka. Seseorang sudah menguncinya dari luar.
Arsy yang tak juga menemukan Renata, bergegas menuju pintu menuju rooftop dan menemukan Irzal di sana. Nampak Irzal tengah berusaha membuka pintu yang tertutup rapat.
“Zal.. kamu ngapain di sini?”
“Tadi Daffa telepon. Dia bilang Rena ke sini. Aku takutnya dia coba bunuh diri lagi. Kamu sendiri?”
“Sama. Aku diminta KiJo ke sini. Itu pintunya kenapa?”
“Ngga bisa dibuka. Kayanya dikunci dari luar.”
“Hah? Terus gimana? Kamu telepon pegawai kamu kek, minta bukain pintu.”
“Teleponku diblock.”
“Kok bisa? Ya udah biar aku yang telepon.”
Arsy mengambil ponsel dari tasnya. Dia mencoba menghubungi Daffa untuk meminta pertolongan. Namun ternyata ponselnya juga diblock. Gadis itu mencoba menghubungi nomor lain tapi tetap tidak bisa.
“Ini kenapa hp-ku ngga bisa telepon?”
“Hp kamu juga diblock. Kita sengaja dijebak di sini.”
“Sama siapa?”
“Menurut kamu?”
Arsy berpikir keras mencoba menebak siapa orang yang sudah berani membuat dirinya dan Irzal terjebak di atas rooftop. Kalau KiJo rasanya tidak mungkin. Zar juga tidak akan melakukan hal seperti itu, papanya apalagi. Elang jelas-jelas bukan. Kemudian otaknya mengarah pada seseorang yang sangat bersemangat sekali memuat dirinya dan Irzal bertemu.
“Kakek..”
“Hmm.. sepertinya kakekmu niat sekali. Aku yakin dia sudah punya kaki tangan untuk melakukan ini.”
“Siapa?”
“Dari pihak keluargamu, pikir saja sendiri. Tapi dari pihakku, sepertinya bang Aslan, Aidan dan om Jay.”
“Kakek ngapain coba jebak kita di sini?"
“Heh.. kamu itu polos, bego atau gimana? Masa kamu ngga bisa nebak arah jebakan ini?”
“YAAA!!”
Mata Arsy melotot seraya mengeluarkan teriakannya. Dengan santainya Irzal mengatainya bego. Mata gadis itu seperti mengeluarkan laser saat menatap Irzal. Namun pria itu tak mempedulikannya. Dia berjalan melewati Arsy untuk melihat sekeliling. Kemudian matanya tertuju pada sling cable yang ada di sisi kanan gedung.
Tubuh Irzal sedikit membungkuk untuk melihat kemana arah sling cable tersebut. Dugaannya benar kalau ternyata sang kakak ikut terlibat dalam konspirasi ini. Pasti titik koordinat yang dilihatnya tadi adalah alat pelacak milik Aidan yang dikatakan Jayden milik Renata.
“Awas aja lo, Dan. Gue jadiin rempeyek lo,” gumam Irzal pelan.
“Ini ada tali. Kita turun aja pake ini,” ujar Arsy yang sudah berada di samping Irzal.
“Ngga bisa. Ini tali cuma sampai ruangan bang Aslan. Aku yakin banget kalau jendelanya sudah dikunci.”
“Masa? Coba aja dulu.”
“Kamu aja yang turun. Tapi jangan minta aku tarik kamu lagi ke atas kalo ternyata jendelanya dikunci.”
Arsy mendesis kesal mendengar jawaban Irzal. Dia mengepalkan kedua tangannya kemudian mengarahkan pada kepala Irzal yang sudah berbalik dan meninggalkan dirinya. Mau tak mau Arsy mengikuti Irzal, karena di sini hanya ada mereka berdua saja. Pria itu kemudian membuka pintu bangunan kecil yang ada di rooftop.
Kepala Arsy melongok ke dalam. Ternyata itu adalah sebuah ruangan berukuran 4x6 meter. Ruangan ini sering digunakan pasangan pengantin untuk menyiapkan diri menjelang akad. Rooftop Humanity Corp memang sering disewa untuk acara pernikahan. Arsy melangkahkan kaki masuk ke dalamnya.
Mata Irzal menyapu seluruh ruangan. Kecurigaannya kalau ini semua adalah jebakan semakin kuat setelah melihat apa yang ada di dalam ruangan. Dua buah kasur lipat, bantal, selimut, alat shalat, makanan dan dispenser tersedia di sana.
“Mereka benar-benar menyiapkannya dengan baik,” gumam Irzal pelan.
“Siapin apa?”
“Kamu ngga lihat ini semua?”
Satu per satu Irzal menunjuk barang-barang yang tak pernah ada dalam ruangan ini. Melihat itu semua, Arsy menjadi benar-benar yakin kalau sang kakek memang sudah menyiapkan jebakan ini untuknya.
“Terus kita harus gimana?”
“Ya gimana lagi. Kita harus tidur di sini malam ini.”
“Kakek… ish nyebelin banget.”
Arsy mendaratkan bokongnya di sofa, kakinya nampak mengoseh beberapa kali. Wajahnya nampak cemberut. Irzal tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah kekanakan gadis yang kadang kerap mengeluarkan kata-kata yang membuat telinga sakit. Kali ini Arsy justru terlihat seperti anak kecil yang tengah ngambek. Irzal mendudukkan diri di samping gadis itu.
“Kamu sudah makan?”
“Belum.”
__ADS_1
“Itu ada mie cup. Mau bikin?”
Mata Arsy menoleh pada tumpukan aneka makanan yang ada di sana. Dia berdiri kemudian mengambil salah satu mie cup yang ada di sana. Dibukanya plastik pembungkus mie instan dalam cup tersebut. Gadis itu menolehkan kepala pada Irzal.
“Kamu mau?”
“Boleh.”
Dengan cepat Arsy membuka satu buah mie cup lagi. Dia juga mengambil gelas kertas yang ada di sana, dan membuat teh manis hangat untuk mereka berdua. Arsy mengaduk gula di dalam gelas sambil menunggu mie siap dimakan. Dia memanggil Irzal untuk duduk di sampingnya, menikmati mie dan juga minuman hangat.
“Kakek kamu benar-benar ajaib,” ujar Irzal di sela-sela makan mereka.
“Kakek kalau ada maunya tuh ya kaya gini.”
“Heran aku, dia bisa juga rekrut antek-antek.”
“Hihihi.. kakek Abi emang ngga ada lawan. Eh berarti kakek lagi usaha jodohin kita ya?”
Irzal hanya menganggukkan kepalanya saja, karena mulutnya masih menyeruput mie. Arsy meneruskan makannya sambil sesekali melihat pada Irzal. Walau masih kesal sudah dijebak, tapi gadis itu mencoba menikmati apa yang terjadi malam ini. Anggap saja mereka tengah syuting drama Korea. Adegan makan mie seperti ini banyak terjadi di drama asal negeri ginseng tersebut.
“Kita harus tidur di sini?”
“Ya gimana lagi. Kamu beresin aja sampah bekas kita makan. Aku bakalan atur tempat tidur buat kita.”
Setelah meneguk habis minumannya, Arsy mengumpulkan sampah sisa makanan dan minuman mereka lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di depan. Irzal membuka sepatunya, dan menaruhnya di sudut. Dia lalu menggeser sofa dengan posisi vertikal, membagi ruangan menjadi dua dengan sofa sebagai pembatas.
Diambilnya sebuah kasur lipat dan bantal lalu menggelarnya di salah satu bagian. Kemudian menggelarnya lagi di bagian lain. Irzal meminta Arsy mengambil tempat di bagian dalam, sedang dirinya di dekat pintu. Gadis itu hanya menurut saja. Setelah membuka sepatunya, dia mendudukkan diri di kasur lipat.
“Kalau kamu mau shalat, itu mukenanya. Kamar mandi ada di luar.”
“Iya.”
Usai menunaikan shalat isya, Arsy dan Irzal hanya duduk diam di bagiannya masing-masing dengan punggung bersandar pada sofa. Hanya kesunyian yang ada di antara mereka. Irzal sungguh merasa canggung hanya berdua saja dalam ruangan bersama dengan Arsy. Ini adalah pengalaman pertamanya. Terlebih pria itu jarang berinteraksi dengan kaum hawa. Hanya Arsy satu-satunya wanita yang bisa membuatnya bicara panjang lebar selain ibu dan kakaknya.
Tak berbeda dengan Irzal, Arsy pun mengalami hal yang sama. Belum pernah dia berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya di satu ruangan. Mau marah tapi pada siapa. Kenyataan kalau kakeknya yang sudah merancang ini semua, hanya bisa membuat gadis itu pasrah. Matanya melirik jam di ponselnya, yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
“Zal..”
“Hmm..”
“Rena… apa Richie yang melakukannya?”
“Hmm..”
“Dia bersembunyi dengan baik dan dalam perlindungan kelompok tertentu. Tapi aku yakin, cepat atau lambat, kita akan menemukannya.”
Arsy kembali teringat saat menengok Renata kemarin. Wajah wanita itu tidak menunjukkan gairah hidup. Apa yang menimpanya memang sangat berat, wajar saja kalau dia terlihat depresi. Arsy juga mendengar kalau Jelita sempat menemuinya. Itu yang memicu upaya bunuh diri Renata.
“Awal aku kenal Rena, jujur aja aku ngga suka, mungkin membencinya. Dia sudah menuduh Zar melecehkannya. Bahkan tanpa berkedip, dia menunjuk Zar sebagai pelakunya. Tapi sekarang, aku ngga tega melihatnya. Dia.. akan baik-baik aja kan?”
“Mudah-mudahan aja. Aku harap kakekmu bisa mengembalikan semangat hidupnya.”
“Kakek? KiJo maksudmu?”
“Iya.”
“Aku juga berharap begitu. Sepertinya KiJo membawa Rena ke rumahnya. Di sana ada papa Barra dan mama Hanna, aku yakin mereka akan menyayangi Rena. Begitu juga dengan Ninda.”
“Aamiin..”
“Kamu sudah lama mengenal Rena?”
“Lumayan, sejak keluargaku jadi pendonor tetap pantinya. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Keluarga yang lain tidak ada yang mau mengurusnya. Jadi polisi menyerahkannya ke panti asuhan. Itu yang kutahu.”
“Poor Rena. Hanya ibu panti dan anak-anak di sana yang menjadi keluarganya. Pantas saja dia sampai mau menerima perintah Richie demi adik-adik pantinya.”
Arsy terus berbicara membahas tentang Renata, sedang Irzal hanya mendengarkan saja. Dirinya tidak terlalu dekat dengan Renata, jadi tidak terlalu tahu juga sepak terjangnya. Yang dia tahu Renata gadis yang baik dan pintar. Selebihnya dia tidak tahu atau mungkin tak berminat untuk tahu.
“Apa kamu menyukainya?”
“Siapa?”
“Rena.. apa kamu menyukainya? Kamu terlihat panik saat Rena datang ke rumah sakit malam itu.”
“Rena baru saja mendapatkan kekerasan seksual. Aku hanya berempati padanya. Aku membayangkan kalau kak Yumna yang mengalaminya.”
“Kalau kak Yumna yang mengalaminya. Apa yang akan kamu lakukan?”
“Mungkin aku akan membunuh orang itu.”
“Kalau aku yang mengalaminya…..” ucapan Arsy tergantung begitu saja.
“Aku akan menangkap orang itu dan membawanya ke hadapanmu. Apa yang akan kamu lakukan?”
__ADS_1
“Entahlah. Memotong sosisnya lalu memberikannya pada kucing mungkin.”
“Hahahaha…”
Tak ayal Arsy juga tersenyum mendengar tawa Irzal. Sedikit banyak dia senang mendengar jawaban Irzal tadi. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
Arsy.. apa-apaan sih. Masa iya lo suka sama si es kering. Nih sekarang mulutnya lagi manis. Besok-besok juga bikin gedeg lagi. Jangan tertipu…
“Sudah malam. Lebih baik kamu tidur.”
Arsy tersentak dari lamunannya mendengar suara Irzal. Gadis itu beringsut dari duduknya kemudian membaringkan tubuhnya di kasur lipat dengan posisi telentang. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit. Perlahan matanya menutup, mencoba untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.
🍁🍁🍁
Jam tiga dini hari Irzal terbangun dari tidurnya. Pria itu bangun kemudian beranjak menuju kamar mandi yang ada di luar tempat dirinya tidur. Setelah mengambil wudhu, dia kembali ke ruangan. Digelarnya sajadah dan bersiap menunaikan shalat tahajud. Usai melaksanakan shalat tahajud dan witir, pria itu duduk di atas sajadah kemudian mengambil ponselnya. Dia mulai melantunkan ayat suci dengan suara pelan.
Arsy terjaga dari tidurnya begitu mendengar suara orang mengaji. Walau suara Irzal tidak kencang, tapi masih bisa ditangkap telinganya. Gadis itu membuka mata dan memasang telinga baik-baik. Suara Irzal terdengar merdu saat melantunkan ayat suci. Suara merdu Irzal langsung meresap ke dalam kalbunya. Dia terus mendengarkan pria itu menuntaskan bacaannya.
Kakek.. apa kakek mencoba menjodohkanku dengan laki-laki soleh ini? Apa dia yang akan menjadi jodohku? Kalau kakek terus mendekatkanku dengannya, bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya? Apa dia juga merasakan hal yang sama? Kakek.. aku ngga mau cintaku bertepuk sebelah tangan lagi.. tolong berhenti melakukan ini.
Telinga Arsy menangkap suara adzan yang berasal dari ponsel Irzal. Pria itu segera mengakhiri tadarusnya dan bersiap menunaikan shalat shubuh. Arsy masih berbaring di tempatnya, menunggu Irzal selesai dengan ibadahnya.
“Ar.. bangun.. sudah shubuh.”
Terdengar suara Irzal membangunkan dirinya. Arsy bangun kemudian keluar dari ruangan untuk berwudhu. Tak lama dia kembali dengan wajah dan sebagian anggota tubuh basah. Wanita itu segera menunaikan shalat shubuh.
Irzal membereskan kasur lipat, selimut dan bantal lalu menumpuknya. Setelah Arsy selesai shalat, dia mendorong sofa ke posisi semula. Arsy melipat alat shalatnya, dilanjut dengan membereskan alat tidurnya. Dia meletakkan kasur lipat, bantal dan selimut di atas sofa.
“Ayo,” ajak Irzal.
“Kemana?”
“Kamu ngga mau pulang?”
“Emang udah dibuka kuncinya.”
“Coba lihat hp-mu kalau blocknya sudah dibuka, pintunya pasti sudah dibuka.”
Buru-buru Arsy mengambil ponsel kemudian mengeceknya. Benar saja, blokiran sudah terbuka. Gadis itu menyambar tas dan memakai sepatunya. Dia mengikuti Irzal yang sudah keluar lebih dulu. Pintu kali ini sudah bisa dibuka. Keduanya keluar dari rooftop dan berjalan menuju lift.
“Kamu bawa kendaraan?”
“Bawa.”
“Hati-hati, jangan ngebut.”
Hanya senyuman yang dilemparkan Arsy ketika mereka sudah tiba di basement dan berpisah menuju mobil masing-masing. Dua buah kendaraan keluar berturut keluar dari gedung Humanity Corp.
Setelah dua orang itu pergi, seorang pria keluar dari lift, dia langsung menuju rooftop dan masuk ke ruangan yang semalam dipakai Irzal dan Arsy menginap. Pria itu meraba tangannya ke sebuah celah yang ada di bagian atas dinding. Dia mengambil kamera tersembunyi yang sengaja ditempatkan di sana. Bergegas dirinya segera keluar dari tempat tersebut.
🍁🍁🍁
Mata Abi terus memandangi rekaman cctv yang tadi dikirimkan oleh salah satu anak buah Jayden padanya. Rekaman dari kamera yang ditaruh di ruangan Arsy dan Irzal atas perintahnya. Senyumnya tersungging melihat bagaimana keduanya menghabiskan malam bersama. Nina datang dengan segelas susu hangat di tangannya. Setelah menaruh gelas di meja, wanita itu mendudukkan diri di samping sang suami.
“Lihat apa, mas?”
“Irzal.. ternyata dia laki-laki yang tahu bagaimana menjaga dirinya dan juga wanita yang bersamanya.”
Nina melihat pada tablet yang ada di tangan Abi. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah suaminya yang bersikeras menjodohkan Arsy dan Irzal. Bahkan dia sampai menyusun rencana seperti ini.
“Menurut mas, apa El akan terpancing dan mendesak Irzal menikahi Arsy dengan kejadian seperti ini? Sepertinya anak itu tidak melakukan hal yang salah. Mana mungkin El akan memaksanya menikahi Arsy hanya karena mereka tidur bersama di satu ruangan. El tidak sesembrono itu mengambil keputusan.”
“Percayakan saja hal itu pada suamimu. Kamu harus sudah mulai bersiap menyiapkan pernikahan mereka. Apa kamu tidak mau memiliki cucu menantu seperti Irzal?”
“Aku menginginkan lelaki yang baik sebagai suami Arsy. Kalau lelaki itu memang Irzal, aku akan sangat senang. Tapi.. jodoh itu di tangan Tuhan. Aku ngga mau mas terlalu berharap dan kecewa seandainya mereka ngga berjodoh.”
“Mudah-mudahan mereka berjodoh.”
“Aamiin.”
Nina mengambilkan susu untuk suaminya lalu memeluk lengan Abi seraya menyandarkan kepalanya di sana. Keduanya kembali melihat rekaman yang ada di dalam tablet. Wajah Abi nampak begitu puas melihat usahanya berhasil. Dalam hatinya sungguh berharap kalau mereka berjodoh.
“Mas katanya mau nengok Rena di rumah Jojo.”
“Iya. Kamu sudah siap?”
“Sudah. Mau pergi sekarang?”
“Boleh.”
Abi segera menghabiskan susunya. Pelukan Nina terlepas. Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangan pada suaminya. Keduanya berjalan keluar dari rumah. Seorang supir segera membukakan pintu untuk pasangan tersebut. Keduanya masuk dan duduk di kursi penumpang. Sang supir segera duduk di belakang kemudi dan melajukan kendaraan menuju kediaman Jojo.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Kira² apa lagi yang bakal dilakuin Abi setelah jebakan batmannya berhasil?