Hate Is Love

Hate Is Love
Taktik Daffa


__ADS_3

Abi, Kenan, Sam dan Gilang baru saja kembali dari masjid setelah menunaikan shalat shubuh berjamaah. Nina dan Zahra juga sudah selesai shalat jamaah di rumah. Hanya tinggal Geya, satu-satunya anak gadis di rumah ini yang masih belum bangun dari tidurnya. Zahra sudah beberapa kali masuk ke dalam kamar dan membangunkan anaknya, namun Geya sulit dibangunkan.


“Geya udah shalat, sayang?” tanya Kenan.


“Belum, mas. Anak itu susah banget kalau dibangunin. Aku udah bolak-balik dari tadi. Sekarang dicipratin air juga ngga mempan,” keluh Zahra.


“Ck.. gimana mau dijodohin sama Daffa, dibangunin shalat shubuh aja susah banget. Mau taruh di mana muka papa nanti. Kamu tahu sendiri keluarga Ramadhan seperti apa,” sambung Abi.


“Siapa yang minta dijodohin, kek?” tanya Sam.


“Adikmu, Geya. Ngotot banget minta dijodohin sama Daffa. Lah kelakuannya aja masih kaya gitu.”


“Ma, coba pasang mercon di kamarnya. Pasti langsung bangun kak Geya.”


Sam menepak kepala Gilang yang asal bicara. Kenan segera naik ke lantai atas untuk membangunkan anak gadisnya. Saat pintu terbuka, dia melihat Geya masih nyenyak tertidur dengan posisi nungging. Kepalanya terbenam di kasur, kedua tangan memeluk guling dengan posisi bokong lebih tinggi dari badannya.


“Astaghfirullah ini anak gadis. Geya! Bangun!”


“Geya.. bangun..” Kenan mengguncang-guncang tubuh anaknya.


“Euunngg… masih ngantuk pa.”


“Bangun, waktu shubuh udah mau habis.”


“Bentar lagi, pa. Lima menit lagi.”


“Awas aja lima menit lagi papa lihat kamu belum bangun, papa ceburin ke kolam renang!”


Kenan segera keluar dari kamar sang anak. Geya kembali melanjutkan tidurnya, berharap mimpinya yang tadi tengah jalan-jalan dengan Daffa dapat kembali dilanjutkan. Tiba-tiba saja ponselnya berdering membuat gadis itu memicingkan matanya. Awalnya Geya mengabaikan saja panggilan itu, tapi karena tidak berhenti, akhirnya dia memutuskan untuk menjawabnya. Tangannya meraba nakas di dekat ranjang lalu mengambil ponsel tersebut.


“Halo..” suara serak Geya menjawab panggilan.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Siapa nih?” tanya Geya dengan mata masih terpejam.


“Ini Daffa. Kok lama banget ngangkatnya? Kamu masih tidur ya?”


Mendengar nama Daffa, sontak Geya bangun dari tidurnya. Matanya langsung menatap layar telepon dan benar saja nama sang pemanggil adalah Daffa, pria yang sangat diinginkan menjadi suaminya.


“Eh bang Daffa.”


“Kamu belum bangun ya tadi?”


“U.. udah kok, bang. Ini udah bangun.”


“Pasti belum shalat?”


“Belum, hehehe..”


“Shalat dulu sana. Nanti aku telepon lagi. Langsung shalat, udah setengah enam. Nanti keburu nongol mataharinya.”


“Iya, bang.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Begitu panggilan Daffa berakhir, Geya segera bangun dari tidurnya. Dia bergegas turun ke lantai bawah lalu menuju halaman belakang, tempat di mana mushola berada. Kenan yang baru saja hendak membangunkan anaknya lagi terkejut melihat sang anak sepeti dikejar setan menuju mushola.


“Itu si Geya kesambet setan apa?” tanya Kenan.


“Kesambet jin muslim kayanya pa, hahaha..” jawab Gilang asal.


“Ayo kita latihan bela diri dulu,” ajak Kenan.


Sam dan Gilang segera mengikuti langkah sang papa menuju halaman belakang. Setiap pagi setelah shubuh, Kenan memang membiasakan anaknya berlatih bela diri, termasuk Geya. Tapi anak gadisnya itu terlalu malas, jadi perkembangannya lambat. Sudah bisa melakukan kuda-kuda dengan baik dan menguasai beberapa pukulan dan tendangan saja sudah beruntung.


Selesai shalat, Geya kembali ke kamarnya. Disambarnya ponsel yang ada di atas kasur lalu turun kembali ke bawah. Gadis itu memilih ke halaman belakang untuk melihat kakak dan adiknya berlatih. Sesekali matanya melihat ke layar ponsel, menunggu Daffa menelponnya lagi.


“Geya! Ayo latihan!” seru Kenan.


“Ngga ah, pa. Badanku pegel-pegel.”


“Alasan aja kamu. Sini, cepet!”


Dengan ogah-ogahan Geya berjalan mendekati Kenan. Dia segera mengambil posisi di belakang Gilang dan mulai melakukan pemanasan. Kenan mendekati anak gadisnya, dia meminta Geya memperagakan jurus pukulan dan tendangan yang diajarkan olehnya.


“Tangannya yang benar! Jangan bengkok!”


Geya melakukan apa yang diperintahkan Kenan. Kemudian dia memperagakan jurus tendangan yang sudah dikuasainya. Lagi-lagi Kenan membenarkan posisi kakinya saat menendang. Mata Geya sesekali melihat ke ponsel yang ditaruh di atas meja.


“Fokus! Itu mata jelalatan terus,” Kenan menjitak kepala anaknya.


“Sakit, pa.”


“Makanya konsentrasi!”


Tak ingin mendapat jitakan maut lagi dari sang papa, Geya mulai berkonsentrasi. Dengan serius dia mengikuti jurus baru yang diajarkan Kenan padanya. Pria itu lalu memerintahkan Gilang untuk sparing partner bersama Geya. Keduanya segera memakai body protector dan mulai berlatih. Sam terus mengawasi kedua adiknya yang sedang berlatih.


Tubuh Geya mundur beberapa langkah ke belakang setelah mendapat tendangan dari Gilang. Sam langsung menghentikan latihan. Pria itu lalu melihat pada adik pertamanya yang malas latihan dan sulit diatur.


“Kenapa ngga menhindar? Kan udah diajarin jurusnya,” ujar Sam.


“Lupa, bang.”


“Makanya jangan males kalau disuruh latihan. Ngga selamanya papa, aku atau Gilang bisa lindungi kamu. Kamu harus bisa melindungi diri sendiri, ngerti?!”


“Iya, bang.”


Matahari sudah menampakkan dirinya, Kenan pun mengakhiri sesi latihan hari ini. Geya melepaskan body protector dari tubuhnya, lalu berjalan menuju meja untuk mengambil ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi sampai sekarang Daffa masih belum menghubunginya.


“Bang Daffa kok belum telepon lagi? Apa lupa ya? Gue telepon aja gitu?” gumam Geya pelan.


“Ge..” tegur Sam.


“Astaghfirullah, abang ngagetin aja.”

__ADS_1


“Kamu kuliah kan hari ini?”


“Iya, bang.”


“Ayo ke kampus bareng abang. Abang juga mau bimbingan. Jangan pake lama!”


“Iya.”


Geya bergegas menuju kamarnya. Dia tidak mau terkena marah dari sang kakak lagi. Menurutnya orang paling menyeramkan di rumah ini adalah Sam. Kakaknya itu tidak banyak bicara, tegas dan lumayan galak. Tapi biar begitu, dia sangat perhatian pada Geya.


🍁🍁🍁


Dengan tas tersampir di bahunya, Geya keluar dari kelas. Gadis itu memilih duduk bersama para sahabatnya sebelum pulang ke rumah. Hari ini hanya ada dua mata kuliah dan sudah selesai semua.


“Bimo mana?” tanya Geya ketika tidak melihat salah satu sahabatnya.


“Ke toilet kayanya. Dari tadi dia bolak balik mulu,” terang Ria.


“Menwa ya?” tebak Geya.


“Apaan menwa?”


“Mencret wae.”


“Hahaha.. iya bener tuh.”


Tak lama pria yang bernama Bimo datang. Jalannya sedikit bungkuk karena terus memegangi perutnya yang masih terasa sakit bercampur mulas. Wajahnya juga sedikit pucat. Geya memperhatikan dengan seksama sahabatnya itu.


“Lo udah berapa kali bolak balik ke kamar mandi?” tanya Geya.


“Semalem empat kali, tadi pagi di rumah tiga kali. Nah di kampus lima kali.”


“Wah elo bisa dehidrasi. Mending ke rumah sakit aja,” saran Geya.


“Iya, Bim. Ayo kita ke rumah sakit aja. Ke rumah sakit Medika Center aja yang dekat sini,” usul Yoga.


“Eh jangan, mending ke Ibnu Sina aja. IGD nya lebih bagus,” sahut Geya.


“Jauh. Kalau ke Medika Center, lima menit juga sampe kalau ke Ibnu Sina bisa lima belas menit. Kasihan si Bimo kalau mencret di jalan gimana.”


“Ke Ibnu Sina aja, gue yang bayarin perawatannya. Lo tahan aja kalau mau keluar, gimana?” tawar Geya.


Mendengar akan mendapat perawatan gratis, tentu saja Bimo menyetujui usulan Geya untuk berobat ke IGD Ibnu Sina. Mereka berempat segera menuju tempat parkiran. Yoga membuka kunci pintu mobil, mereka segera masuk dan Yoga langsung memacu kendaraannya.


“Aduuuhhh Ga.. cepetan napa, kaga kuat iniiiiiihhh,” Bimo menahan mulas yang kembali melanda.


“Tahan, dikit lagi nyampe. Kan udah dibilang ke Medika Center aja. Lo ngeyel sih.”


Yoga terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Bimo sebisa mungkin menahan cairan yang hendak keluar dari area belakangnya. Dia merapatkan kakinya sambil mengepal erat kedua tangannya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


TUUUUTT


Bimo tak bisa menahannya lagi. Suara kentutnya walau tidak nyaring namun masih bisa terdengar oleh yang lain. Lebih parahnya lagi dia merasakan ada yang ikut keluar bersama hembusan angin dari bokongnya.


“Hoek.. buset bau banget.”


Yoga langsung membuka kaca mobil ketika gas beracun berputar di dalam kendaraan dan terikat oleh hawa dingin dari air conditioner. Geya dan Ria segera mencari udara segar begitu jendela terbuka. Bimo hanya mampu melemparkan cengirannya saja.


“Ga.. beliin gue CD ya. Yang ini udah basah.”


Tanpa menunggu jawaban Yoga, Bimo segera keluar dari mobil dan melesat masuk ke dalam IGD. Perawat yang bertugas hanya melongo melihat Bimo yang melewatinya dan langsung menuju kamar mandi. Sementara itu Yoga memperhatikan jok yang tadi diduduki Bimo, ada sedikit basah di bagian tengah jok,


“Buset jok mobil gue kena najis mugholadoh!” seru Yoga.


“Hahaha… lo langsung ke cuci mobil aja. Nanti gue yang bayarin deh. Eh jangan lupa beliin CD buat Bimo.”


Geya mengambil dompetnya lalu mengeluarkan uang sebanyak dua ratus ribu rupiah, lalu memberikannya pada Yoga. Setelah Geya dan Ria turun dari mobil, Yoga menjalankan lagi kendaraannya, mencari toko yang menjual CD untuk Bimo.


“Aduuhhh.. suster tolong.”


Bimo keluar dari kamar mandi dengan langkah terseok. Seorang perawat langsung menghampiri dan membantunya menuju salah satu blankar. Geya dan Ria langsung mendekati sahabatnya itu. Tak lama seorang dokter datang untuk memeriksa. Senyum Geya mengembang melihat Daffa yang datang.


“Apa keluhannya?” tanya Daffa.


“Menwa, dok,” jawab Geya.


“Geya..”


“Hai dokter Daffa,” Geya melambaikan tangannya pada Daffa. Bimo memutar bola matanya melihat reaksi sahabatnya. Ternyata ini alasannya meminta dirinya berobat ke Ibnu Sina.


Daffa segera memeriksa kondisi Bimo. Dia segera memerintahkan suster untuk memasang infusan, dikhawatirkan pria itu mengalami dehidrasi. Dokter residen itu juga memberikan obat untuk memadatkan fesesnya.


“Gimana keadaan Bimo, dok?” tanya Geya.


“Sejauh ini sudah terkendali dengan baik. Dia harus banyak minum air putih untuk mengganti cairan yang hilang dan makan pastinya.”


“Makasih, dok.”


“Sama-sama.”


“Eh.. iya, tadi katanya bang Daffa mau telepon lagi. Aku tunggu ngga telepon aja. Ada apa, bang?”


“Ehmm.. apa ya? Aku lupa. Nanti kalau udah ingat aku kasih tau.”


Perbincangan keduanya terhenti ketika ambulans datang dan membawakan pasien yang mengalami pingsan tiba-tiba. Daffa bergegas meninggalkan Geya dan segera menangani pasien tersebut. Mata Geya terus mengawasi pergerakan Daffa sampai Ria datang membuyarkan lamunannya.


“Jadi dia alasan lo bawa Bimo ke sini?” tanya Ria.


“Iya. Ganteng kan dokter Daffa?”


“Iya, ganteng. Masih jomblo emangnya?”


“Ngga, udah punya calon.”


“Lah kalau udah punya calon, ngapain lo ngeceng dia?”


“Kan calonnya gue, wleee..”

__ADS_1


“Dih… ngarep.”


“Bodo.”


Geya segera meninggalkan Ria. Gadis itu berjalan menuju meja administrasi. Dia sudah berjanji akan membayar perawatan Bimo jika mau dirawat di rumah sakit Ibnu Sina. Ria hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sahabatnya.


🍁🍁🍁


Keesokan paginya, kejadian kemarin kembali terulang. Di saat semua penghuni rumah sudah selesai menunaikan ibadah shalat shubuh, Geya masih asik berselancar dalam mimpinya. Matanya terpejam dengan damainya, dengan tangan dan kakinya memeluk guling erat.


Kenan menggelengkan kepalanya melihat sang anak yang masih tertidur. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Dia hendak mengambil segayung air untuk menyiram anak gadisnya. Di saat bersamaan ponsel Geya berdering. Gadis itu terbangun dari tidurnya, melihat nama pemanggil adalah Daffa, Geya langsung menjawab panggilan.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Baru bangun ya?”


“Iya, hehehe..”


“Shalat dulu sana. Nanti aku telepon lagi.”


“Ok, bang.”


Kenan hanya terbengong saja melihat anaknya yang langsung bangun lalu keluar dari kamar setelah mendapatkan telepon entah dari siapa. Pria itu menaruh kembali gayung ke tempatnya lalu mengambil ponsel Geya. Dia penasaran siapa yang sudah menelpon putrinya hingga membuatnya bersemangat seperti itu.


“Pantes semangat, yang telepon Daffa ternyata.”


Pria itu meletakkan kembali ponsel ke atas nakas, lalu keluar dari kamar. Dengan senyum mengembang di wajahnya, Kenan menuruni anak tangga. Sepertinya Daffa punya cara sendiri untuk membangungkan anak gadisnya. Kenan memang pernah mengeluh pada Daffa tentang Geya yang sulit dibangunkan saat shubuh.


Geya segera kembali ke dalam kamar setelah selesai shalat shubuh. Baru saja dia mengambil ponsel, Daffa kembali menelponnya. Dengan wajah ceria, gadis itu segera menjawabnya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Udah shalatnya?”


“Udah, bang.”


“Gitu dong, jangan males bangun shubuh. Shalat shubuh itu paling berat karena harus bangun sebelum matahari terbit, dan terkena air yang dingin waktu wudhu. Tapi ada banyak hal yang Allah janjikan kalau hamba-Nya mau shalat shubuh. Salah satunya dilancarkan rejekinya. Jangan malas bangun shubuh ya, masa kalah sama ayam.”


“Hehehe… iya, bang.”


“Udah sana latihan.”


“Hah? Latihan apa, bang?”


“Kata daddy kamu kalau habis shubuh kalian suka latihan taekwondo.”


“Iya, hehehe..”


“Latihan yang benar ya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“YESS!!”


Geya berteriak keras setelah Daffa mengakhiri panggilannya. Dengan bersemangat dia mengganti baju tidurnya dengan dobok. Setelah memakai ikat pinggangnya yang masih berwarna putih, Geya segera turun ke bawah. Dia langsung bergabung dengan papa dan kedua saudaranya untuk berlatih taekwondo.


🍁🍁🍁


“Kakek..” Geya mendudukkan dirinya di samping Abi yang tengah bersantai di ruang tengah.


“Apa?”


“Aku lagi bête.”


“Bete kenapa?”


“Aku kesel sama bang Daffa. Seminggu kemarin dia rajin banget telepon aku, bangunin aku pas lagi tidur terus nyuruh shalat. Nah udah empat hari ini aku kan selalu bangun shubuh terus langsung shalat. Pas dia telepon aku udah siap. Eh dia cuma nanya, udah shalat? Udah, aku jawab. Ok, dia bilang terus langsung tutup teleponnya. Besoknya kaya gitu lagi sampe empat hari. Eh sekarang udah dua hari dia ngga pernah telepon lagi, kesel kan kek.”


Abi hanya tertawa kecil mendengar keluhan cucunya. Selain sukses menjadi antek-anteknya dalam menyatukan pasangan yang ingin dijodohkan olehnya, Daffa juga mempunyai cara unik untuk membuat cucunya yang terkenal kebluk untuk bangun shubuh.


“Dia itu lagi mengajarimu bangun shubuh dan shalat shubuh tepat waktu. Bagus itu, awalnya kamu bangun shubuh karena malu kalau Daffa telepon kamunya belum bangun. Lama-lama kamu jadi terbiasa untuk bangun shubuh. Bagus kan?”


Geya hanya terdiam saja merenungi perkataan sang kakek. Memang benar, sekarang dirinya jadi tidak sulit untuk bangun shubuh lagi. Selain malu pada pria itu, dia juga sudah mulai terbiasa bangun lebih awal.


“Berarti dia calon imam yang baik ya, kek.”


“Iya.”


“Kakek ngga ada niatan buat jodohin aku, gitu?”


“Susah kayanya.”


“Susah gimana? Masa kakek ngga punya ide sih buat jebak aku sama bang Daffa?”


“Daffa itu sudah jadi antek-antek kakek sejak kakek jodohin Arsy dengan Irzal. Jadi dia udah paham semua trik kakek. Pasti dia langsung tahu kalau kakek pasang jebakan, dan udah jelas hasilnya pasti gatot. Kamu pasrah ajalah.”


“Ya… kakek mah gitu, giliran kak Arsy, kak Stella sama kak Aya dibantuin. Pas aku, kakek ngga mau bantu, kakek pilih kasih nih,” Geya mulai merajuk.


“Tenang, nanti kakek bantu, tapi tunggu dia beres residen dulu ya. Tinggal tiga bulan lagi. Sekarang dia lagi konsen beresin residennya. Dan kamu mending kuliah aja dulu. Kamu sebentar lagi mau magang kan?”


“Iya, kek.”


“Kamu mau magang di mana? Di kantor daddy apa papa Kenzie? Atau mau sama papa Ravin?”


“Ngga ah, aku mau magang di rumah sakit Ibnu Sina aja.”


“Hah? Mau magang jadi apa kamu? Tukang pel?”


“Kakek ish..” Geya menepuk lengan kakeknya.


“Bukan gitu, kamu ngga malu apa magang di sana. IPK kamu kan ngga nyampe 3. Kalau kamu magang di kantor daddy kamu lebih aman.”


“Kakek mah gitu. Pokoknya aku mau magang di Ibnu Sina. Kakek tolong bilang ke papa Reyhan ya.”


Abi hanya melongo mendengar Geya sudah memanggil Reyhan dengan sebutan papa, bukan om lagi. Geya melemparkan senyuman manis kemudian meninggalkan sang kakek yang masih pusing dengan kelakuannya. Sambil bersenandung gadis itu kembali ke kamarnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Abi beneran dibuat puyeng ama cucunya🤣


Susah ya kek kalo mau jebak antek sendiri, triknya udah kebaca🤣**


__ADS_2