
Hari yang ditunggu oleh Zar akhirnya tiba juga. Setelah disalip di tikungan tajam oleh Daffa dan didahului di garis finish oleh Aidan, akhirnya tiba giliran pria yang dikenal dengan julukan petasan banting untuk mengucap janji suci dengan wanita yang sangat dicintainya, Renata.
Sepertinya Zar harus berterima kasih pada Naima yang sedikit lambat menyelesaikan gaun pernikahan Shifa. Dengan begitu Arya tidak berhasil menyalipnya. Walau itu bukan satu-satunya alasan Arya merelakan pernikahan Zar dilangsungkan lebih dulu. Salah satu faktor penting yang membuat pria itu melangsungkan pernikahan seminggu setelah Zar, adalah penghulu yang akan menikahkan.
Sejak semalam, Zar sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan Rahman Surahman. Jangan sampai dia jatuh dan ternistakan oleh penghulu itu. Walau dia tidak tahu amunisi apa yang sudah disiapkan Rahman untuk membombardirnya. Yang jelas, dia akan berjuang sampai titik malu penghabisan.
Salah satu water park milik perusahaan Kenan sudah dibooking satu hari penuh untuk melangsungkan pernikahan Zar dengan Renata. Akad nikah dilangsungkan di taman yang ada di dekat kolam renang. Areanya cukup luas, dan sudah disulap sedemikian rupa oleh tim L’amour menjadi begitu indah. Meja akad ditempatkan di bawah pohon rindang. Beberapa meter di belakang meja akad, sudah tertata kursi untuk para keluarga menyaksikan acara sakral tersebut.
Tak jauh dari taman tersebut, terdapat sebuah ruangan kecil. Di sana Renata ditemani oleh ibu Sundari dan juga Nara, duduk menunggu sampai ijab kabul selesai. Seorang penata rias juga berada di sana untuk merapihkan kembali penampilan sang mempelai wanita yang terlihat cantik dalam balutan kebaya muslim berwarna putih tulang.
Sementara itu di dekat lokasi akad, Zar sudah siap dengan beskap dengan warna senada. Bersama dengannya juga sudah datang saudara sepupu dan sahabatnya. Beberapa kali pria itu menarik dan menghembuskan nafas panjang, demi menenangkan perasaannya. Jantungnya terus berdetak lebih kencang dari biasanya. Menantikan detik-detik penyatuan dirinya bersama dengan Renata.
Kepalanya menoleh begitu mendengar suara Kenzie menyambut kedatangan pria yang akan menikahkan dirinya. Nampak pria bernama lengkap Rahman Badarudin Surahman itu berjalan menuju meja akad. Ada yang mengenalnya dengan nama Rahman, ada juga yang memanggilnya dengan sebutan Badar. Pria berusia lima puluh tahunan itu datang mengenakan kemeja batik dan kopeah yang menutupi kepalanya.
Dilihat dari wajahnya, sebenarnya Rahman Badarudin Surahman ini seperti pria yang kalem dan tidak banyak bicara. Tapi menurut kabar yang terdengar, pria itu selalu bisa membuat calon pengantin yang akan dinikahkannya mati kutu. Dan hal tersebut terjawab lewat pernikahan Stella dan Vanila yang fenomenal. Sang penghulu sukses membuat malu pasangan pengantin sebadan-badan.
Bersama dengan Irzal, Arya dan Rakan, Zar menyambut kedatangan Rahman atau Badar. Ketiga pria itu menyalami Rahman satu per satu. Dan ternyata Rahman mengenali Rakan. Pria yang berhasil dibuat memerah wajahnya saat akad nikah dulu.
“Eh ini pak Rakan yang menikah beberapa bulan yang lalu, kan?” tanya Rahman.
“Iya, pak. Masih ingat dengan saya rupanya.”
“Ingatan saya cukup tajam. Bagaimana kabar burungnya? Masih suka makan apem?”
Pertanyaan frontal Rahman karuan membuat wajah Rakan kembali memerah. Tak jauh dari sana, nampak Tamar nampak bersembunyi. Dia tidak mau bersitatap langsung dengan Rahman. Dan ternyata apa yang ditakutkannya terjadi. Rakan kembali dibuat malu oleh pria itu.
“Bukan doyan lagi, pak. Udah candu. Sekali ngga makan apem, ngga afdol kayanya,” celetuk Zar.
Apa yang dikatakan calon pengantin semakin sukses membuat wajah Rakan memerah. Tawa terdengar dari semua yang ada di dekat Rakan, termasuk Rahman. Pria itu lalu menoleh pada Zar. Rupanya calon pengantin prianya sekarang memiliki mulut yang tak kalah lemes darinya. Sepertinya akan seru beradu kejahilan dengan pria itu.
“Ini mempelai prianya? Ngga gugup, kan?”
“In Syaa Allah, ngga pak. Saya siap lahir batin, dunia akhirat,” jawab Zar mantap.
“Tenang aja, pak. Ini calon mantennya punya mental baja plus mulut petasan banting, hahaha..” sambung Arya.
Kenzie segera meminta Rahman menuju meja yang sudah disiapkan. Kalau tidak dilerai, maka perbincangan antara penghulu dengan calon pengantin pria beserta antek-anteknya akan terus berlanjut. Zar duduk di depan Rahman yang tengah mengecek kesiapan dokumen kedua mempelai. Di samping kiri dan kanannya, sudah duduk Farel yang menjadi saksi dari pihak Renata, dan Fathan yang menjadi saksi di pihak Zar.
“Nama pengantin wanita Renata Andriana, betul?”
“Betul, pak.”
“Renata sudah yatim piatu dan tidak ada sanak keluarga yang akan menikahkan, jadi saya yang akan menjadi wali nikahnya.”
Ucapan Rahman kembali dijawab dengan anggukan tanda setuju, baik oleh Kenzie, Farel ataupun Fathan. Kemudian pria itu memeriksa berkas kelengkapan calon mempelai pria. Dia mencocokkan wajah Zar dengan foto ukuran 3x4 yang ada di berkasnya.
“Nama lengkap Abidzar Danendra Hikmat, betul?”
“Betul, pak,” jawab Zar mantap.
“Panggilannya apa?”
“Zar.”
“Kirain *****,” balas Rahman santai.
“Bhuahahaha… serangan pertama ajib,” seru Arya. Sontak Zar melihat pada Arya dengan tatapan membunuh, yang menyiratkan ‘lo sebenernya dukung gue apa si pakpeng?’.
“Status perjaka, betul?”
“Betul banget.”
“Pake tongtong, ngga?”
“Pake pak. Masih ori, belum pernah turun mesin dan ganti oli.”
“Hahaha…”
Tawa Rahman meledak mendengar jawaban Zar. Ternyata benar, calon mempelai pria kali ini tidak mudah terintimidasi olehnya. Dan hal tersebut justru semakin membuatnya bersemangat untuk menggoda.
“Biasanya kalau ori, masih kurang pengalaman nih.”
__ADS_1
“Tenang aja, pak. Pengalaman bisa didapat dari mana aja, tanpa praktek.”
“Berarti sering lihat film ehem-ehem, ya. Ayo ngaku!”
Skak mat! Pertanyaan Rahman kali ini tidak bisa dijawab oleh Zar. Jika bilang tidak, tentu dia berbohong. Nyatanya pria itu telah dua kali melihat film yang sedikit bicara namun banyak bekerja, dua hari sebelum pernikahannya. Semua tentu saja demi kelancaran malam pertamanya. Tapi jika jawab iya, mau taruh di mana mukanya. Apalagi ada ayah dan paman di dekatnya.
“Tos ah.. tong panik kitu. Kita masih saling mengerti saja,” Rahman mengedipkan sebelah matanya.
Pria itu senang sudah bisa membuat kedudukan jadi satu kosong. Zar melihat kesal pada para sepupu dan sahabatnya yang justru tertawa-tawa di atas penderitaannya. Tiba-tiba saja Rahman berdiri dari duduknya.
“Sebelum acar akad, lebih baik kita senam dulu. Untuk menghilangkan kegrogian calon pengantin pria. Jangan sampai terjadi pengulangan saat ijab kabul nanti. Ayo berdiri, kang.”
“Kita mau ngapain, pak?”
“Kita senam sebentar, biar afdol.”
“Bentar, pak. Saya mau ajak sepupu sama sobat saya dulu. Ar.. Dan, ayo.”
Arya dan Aidan tentu saja terkejut mendengar ajakan Zar. Keduanya terpaksa mendekati calon pengantin pria itu, ketika Irzal dan Rakan mendorong tubuh mereka. Rahman sudah siap sedia di depan Zar sebagai instruktur senam.
“Saya boleh ajak mereka ya, pak. Ini Arya, calon pengantin juga. Dia nikahnya minggu depan. Ini Aidan, dia udah nikah tiga hari lalu, tapi belum jebol gawang. Sawahnya masih banjir bhuahahaha..”
Mata Aidan melotot mendengar Zar dengan mulut lemesnya membuka aibnya begitu saja. Sekilas dia melihat pada Adisty yang menundukkan kepalanya karena malu. Ingin rasanya Aidan menutup mulut Zar dengan semen cor.
“Wah bolehlah. Ayo siap-siap.”
Semua yang hadir cukup penasaran, senam apa yang akan ditunjukkan oleh Rahman. Nampak pria itu berdiri di paling depan, di belakangnya Zar, Arya dan Aidan berdiri sejajar. Pria itu kemudian merenggangkan kedua kakinya dan sedikit menekuk lututnya. Ketiga pria di belakangnya mengikuti apa yang dilakukannya. Tangan Rahman sedikit diangkat sejajar sebatas dada, dengan kedua tangan terkepal.
“Gutak gitek,” Rahman menggoyangkan bokongnya ke kanan dan kiri.
“Gual geol,” kini bokongnya digoyang berputar.
Pria itu tidak melanjutkan gerakannya. Dia melihat pada ketiga pria di belakangnya. Rahman kembali mengatakan mantranya dan meminta mereka melakukan apa yang dilakukannya.
“Gutak.. gitek.. gual.. geol.. coba itu bokongnya diputar dengan benar,” Rahman menunjuk pada Aidan.
Mau tak mau Aidan melakukan apa yang diminta oleh penghulu sableng itu. Rahman kembali memposisikan dirinya di depan dan mengulangi gerakan pertama.
“Numpang-numpang.. abi teh perjaka tongtong.”
Saat menyebut kata tongtong, Rahman menghentakkan pinggulnya ke depan dua kali. Ketiga orang di depannya mengikuti apa yang dilakukan Rahman, dengan wajah memerah tentunya. Suara-suara tawa mulai terdengar di sekitarnya.
“Pasihan ijin bade ngaliwat.”
Rahman memajukan satu tangannya sambil membuka kepalannya lalu maju dua langkah kemudian memutar dan kembali ke posisi semula.
“Gutak.. gitek.. gual.. geol.. jodoh abi tos aya di dieu, sing dilancarken ngucapkeun ijab kabulna.”
Untuk mantra kedua, mereka melakukan gerakan yang sama. Rahman lalu mengulangi kedua mantranya, namun kali ini hanya membiarkan ketiga korbannya saja yang melakukan gerakan.
“Alhamdulillah senamnya selesai. Mudah-mudahan yang mau akad, dilancarkan ijabnya. Yang mau nikah dilancarkan sampai hari H. Yang mau belah duren ngga ketunda lagi.”
“Aamiin!!” sahut yang lain dengan suara kencang.
“Pak, ada senam buat yang jomblo, ngga?” tanya Zar.
“Ada. Hayu yang jomblo merapat.”
Dengan semangat empat lima, Arya dan Zar menarik Ervano, Farzan, Sam, Nalendra dan Azzam yang baru saja datang. Sisanya kabur entah kemana. Tapi tanpa di duga, Gilang, anak bungsu Kenan, dengan suka rela maju dan bergabung dengan yang lainnya.
“Ngapain, lo? Masih belum cukup umur, sana balik.”
“Ck.. sirik aja, bang. Pokoknya gue ikut.”
Rahman mengatur enam lelaki yang akan ikut senam jomblo menjadi dua jajar, masing-masing jajar berisi tiga orang. Farzan, Ervano dan Nalendra di bagian depan. Sedang di belakang, Sam, Azzam dan Gilang. Seperti biasa, sang penghulu berada di depan.
“Gutak.. gitek.. gual.. geol.. ulah julid kanu jomblo. Biar jomblo bisa bikin terlope-lope.”
Keenam pria yang jadi korban Zar, mengikuti gerakan Rahman. Menggerakkan bokongnya ke kanan dan kiri, lalu memutarnya. Memajukan tangannya, diiringi dua langkah maju ke depan kemudian berputar dan kembali ke tempat semula. Rahman mengulangi mantranya, dan hanya enam pria itu saja yang bergerak.
“Alhmadulillah, senam jomblo selesai. Mudah-mudahan cepat dapat jodoh. Jangan lupa, nanti nikahnya saya penghulunya.”
__ADS_1
“Ogah,” seru Ervano.
Gelak tawa langsung terdengar. Zar nampak senang sekali. Walau tidak bisa membalas sang penghulu, setidaknya dia tidak malu sendirian. Ada delapan korban lain yang ikut malu bersamanya. Rahman kemudian mempersilahkan Zar kembali duduk. Akad nikah akan segera dimulai.
“Sebelum akad dimulai, saya mau kasih pantun buat akang Zar.”
“Silahkan, pak. Saya juga punya pantun buat bapak.”
“Ke pasar beli burung gelatik. Beli itik juga, sama pakannya. Wahai akang Zar yang simpatik. Kalau mau nyuntik, lihat dulu lubangnya.”
“Cakep!!” seru yang lain.
“Bales, Zar,” seru Irzal.
“Si dudu mau pergi jalan-jalan. Ke kota Solo kalau mau beli intip. Kalau beli genteng ke Majalengka. Wahai pak penghulu yang budiman. Ngga boleh kepo ngga boleh ngintip. Akang Zar ganteng mau belah semangka.”
“Whoaaa mantuull,” seru Arya.
Ucapan pria itu disertai tepuk tangan yang lain. Zar menolehkan kepalanya ke belakang, lalu membalas tepukan tangan dengan lambaian tangannya. Rahman hanya tersenyum saja melihat tingkah unik calon pengantin pria di depannya. Namun pria itu masih memiliki amunisi untuk menyerangnya.
“Baik.. kita mulai saja akadnya.”
Rahman mulai memasang wajah serius. Dia menjabat tangan Zar dengan erat. Matanya menatap Zar tanpa berkedip. Zar menarik dan menghembuskan nafas panjang. Dia menganggukkan kepalanya, tanda siap.
“Saudara Abidzar Danendra Hikmat. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Renata Andriana bintin Ahmad Jalaludin dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan seberat 50 gram, dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Renata Andriana binti Ahmad Jalaludin, dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana para saksi?”
“SAH!” tegas Farel dan Fathan.
“SAAAAAHHHH!!!” sambung semua yang melihat jalannya prosesi ijab kabul.
“Alhamdulillah, sah!” tegas Rahman.
“Alhamdulillah, Yes!! Yes!!” teriak Zar senang.
Kenzie hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah ajaib anaknya. Entah gen siapa yang menurun pada anak sulungnya itu. Tak berapa lama kemudian, Renata datang didampingi oleh Sundari dan juga Nara. Wajah wanita itu nampak tersipu malu, melihat Zar yang terus menatapnya tanpa berkedip. Pria tampan yang sedang duduk menunggunya, kini sudah sah menjadi suaminya.
Zar berdiri untuk menyambut sang istri. Sebelum duduk, dia mengambil kotak beludru yang ada di atas meja, lalu menyematkan cincin pernikahan di jari manis Renata. Tanpa melihat pada Zar, Renata mengambil cincin yang tersisa, lalu memasukkan ke jari manis suaminya. Kemudian wanita itu mencium punggung tangan Zar. Pria itu balas mencium kening Renata, kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Karuan saja apa yang dilakukan memancing sorakan dari yang melihat, membuat wajah Renata merona.
“EHEM!”
Deheman keras Rahman membuat Zar melepaskan pelukannya. Dia mengajak Renata duduk berdampingan dengannya. Keduanya lalu menandatangani buku nikah yang sudah disiapkan.
“Pantes akang Zar sudah seperti cacing kepanasan, ngga sabar buat nikahin neng Rena. Ternyata mempelai wanitanya cantik ya,” goda Rahman begitu mereka selesai menandatangani buku nikah.
“Jangan naksir, pak.”
“Eeh.. bapak mah hanya mengagumi. Ibaratnya neng Rena dan semua wanita yang ada di sini itu seperti ikan di akuarium. Hanya bisa dilihat dan dikagumi keindahannya, tanpa bisa dipegang apalagi ditangkap.”
“Hahaha..”
“Akang Zar.. coba bapak pengen dengar. Apa yang membuat akang mau menikahi neng Rena?”
“Rena itu cantik, di luar juga di dalam. Dia wanita yang kuat, dan In Syaa Allah akan menjadi pendamping yang baik buat aku ke depannya. I love you, Ren,” Zar mencium punggung tangan Rena.
“Kalau neng Rena. Apa yang dilihat dari akang Zar?”
“Zar.. laki-laki yang baik. Dia mau menerima keadaanku apa adanya. Dia juga alasan aku bertahan hidup sampai hari ini. Terima kasih, sudah mencintaiku begitu besar,” Renata melihat pada Zar.
“Co cweet..” celetuk Rahman.
Pria itu memberikan waktu pada kedua mempelai mengungkap rasa cinta dan sayang mereka. Zar memeluk Renata, sambil menghadiahi kecupan di puncak kepalanya. Perlahan pria itu melepas pelukannya, kemudian menghapus airmata yang membasahi pipi sang istri. Semua yang ada di sana, ikut terhanyut dengan suasana mellow yang tercipta.
“Biar suasana ngga mellow. Bapak punya pantun buat kalian. Siap, kang, neng?”
🍁🍁🍁
Kira² apa nih pantunnya? Zar bisa bales ngga?😂
__ADS_1