Hate Is Love

Hate Is Love
Benih Eceng Melanda


__ADS_3

Hai.. Hai.. Hai.. Maaf ya kemarin aku ambil cuti sehari. Kamis itu jadwal paksu ada di rumah, jadi aku putusin take a break, ngga urus up, beberes rumah, masak sama nemenin paksu benerin speaker. Spending time sama keluargaku boleh kan?😊 Sekarang baru up lagi.


🍁🍁🍁


Di ruang kerjanya, nampak Tamar tengah berdiskusi dengan anggota timnya. Setelah mendapat persetujuan dari sang atasan, pria itu membuka kembali kasus Lina. Wanita yang dituduh membunuh suaminya dan kini tengah menjalani hukuman penjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya.


Penyelidikannya di Kuningan membuahkan hasil, walau tidak bisa menangkap basah Putra. Rumah Liliana sebagai pemilik mobil yang dinaiki Putra sepulang dari café ternyata kosong. Menurut penuturan tetangganya, wanita itu pergi meninggalkan rumah empat hari sebelum Tamar datang.


“Gum, kamu sama Amin berangkat ke Kuningan. Telusuri jejak Liliana atau Putra, entah itu rekaman cctv atau catatan transaksi kartu kredit atau debitnya.”


“Siap, capt.”


“Aji dan Ipul, cari tahu siapa pria yang diduga Putra saat itu. Minta surat perintah untuk membongkar makam dan melakukan autopsi ulang. Selidiki juga apa ada orang di bagian forensik yang terlibat kasus ini. Bukankah mereka waktu itu memberikan laporan kalau mayat yang terbakar itu Putra?”


“Iya, capt.”


“Aku sendiri akan menemui Lina untuk mencari informasi tambahan dan menyiapkan bahan untuk pengajuan banding.”


Semua hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja mendengarkan arahan dari sang atasan. Tamar segera mengakhiri rapat, semuanya bersiap untuk menjalankan perintah atasan. Gugum dan Amin akan langsung berangkat menuju Kuningan, sedang Ipul meminta surat perintah dari atasan.


Tak lama setelah anggota timnya membubarkan diri, pintu ruangan Tamar terketuk dari luar. Perlahan namun pasti pintu tersebut terbuka, dari baliknya muncul Stella dengan senyum menghiasi wajahnya. Tangannya juga tidak dibiarkan menganggur. Terdapat kotak bekal di tangan kanannya.


Tamar memandangi Stella yang berjalan masuk mendekati meja kerjanya tanpa ekspresi. Dibiarkannya saja Stella menghampirinya lalu mendudukkan diri di depan meja kerjanya. Gadis itu meletakkan kotak bekal di atas meja.


“Pakpolgan, aku datang bawakan makan siang,” ujar Stella dengan suara yang dibuat semerdu mengkin.


“Itu makanan buat berapa porsi?” tanya Tamar santai.


“Dua dong, buat abang sama aku.”


“Yakin cukup?”


“Ish.. aku ngga serakus itu ya,” berang Stella melihat pandangan Tamar yang seolah mengejeknya.


Pria itu hanya mengendikkan bahunya santai. Stella menyingkirkan kertas-kertas di atas meja, lalu membuka satu per satu kotak bekal yang terdiri atas empat susun. Dua kotak berisi nasi, dan dua kotak lainnya berisi lauk.


“Ini kamu yang masak?”


“So pasti bukan, hehehe..”


“Sudah kudugong,” ujar Tamar pelan tapi masih bisa tertangkap telinga Stella. Membuat gadis itu mengeluarkan desisannya.


Stella memberikan sendok pada Tamar dan mempersilahkan pria itu untuk makan. Memang sekarang sudah masuk jam makan siang. Seoarng rekan Tamar yang masuk ke dalam ruangan, kembali keluar begitu melihat rekannya itu tengah makan bersama dengan calon istrinya.


“Abang suka kakap kan? Ini kakap asam manis, ini cah kangkung pake udang, ini perkedel jagung,” Stella menunjuk satu per satu lauk di dalam kotak.


“Aku tahu. Yang mau aku tahu, kamu bisa ngga masaknya? Apa cuma bisa makan doang?”


“Abang kepo amat. Pacar bukan, calon suami bukan. Kalo aku ngga bisa masak, ngga ada ruginya juga buat abang.”


“Oh ya? Terus kenapa kamu bilang sama semua orang di sini kalau kamu calon istriku? Bahkan atasanku saja sudah tahu soal itu.”


Hampir saja Stella tersedak mendengar penuturan Tamar. Dia tak menyangkan candaannya waktu itu dianggap serius oleh semua rekan Tamar, bahkan atasannya. Gadis itu hanya melemparkan cengirannya saja.


“Kamu itu udah buat kerugian, ngaku-ngaku sebagai calon istriku.”


“Emang abang rugi apa? Justru untung udah ngga dianggap jomblo lagi.”


“Nah itu.. pasaranku jadi turun. Sekarang siapa coba yang mau sama aku kalau udah pada tau aku punya calon istri.”


“Emang ada yang mau sama abang?”


Mata Tamar langsung melotot mendengar komentar Stella yang meluncur bebas tanpa hambatan sama sekali, seperti jalan tol Cipali. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya dan serius menikmati makanannya.


“Bang.. soal kasus bu Lina bagaimana?” Stella mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Aku sudah mengajukan penyelidikan ulang. Semua anggota timku sudah mulai bergerak.”


“Oh ya? Kalau gitu aku bisa ikut gabung dong,” mata Stella menatap penuh harap.


“Tugasmu sudah selesai?”


“Sudah, dong.”


“Tapi kamu kan sibuk kuliah.”


“Kan ngga tiap hari kuliahnya.”


Tamar menghembuskan nafasnya kasar, Stella selalu saja punya jawaban atas pertanyaannya. Cukup sulit juga mencari celah untuk menghindari gadis itu. Dia seperti terjebak dengan cucu dari Cakra tersebut.


“Nanti habis makan siang, kamu ikut aku.”


“Kemana?”


“Ketemu bu Lina.”


“Asiiikkk..”


“Habiskan makananmu.”


Dengan cepat Stella menghabiskan makanannya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Lina. Semenjak menyelidiki kematian Ferdi, gadis itu seperti candu untuk menguak misteri dan melakukan hal yang memacu adrenalinnya.


Usai menghabiskan makan siang bersama, Stella segera memberekan kotak bekal yang dibawanya. Sebelum pergi, Tamar lebih dulu hendak menunaikan shalat dzuhur di mushola yang ada di samping kantornya. Stella juga mengikuti pria tersebut keluar ruangan. Tak disangka reaksi mengejutkan didapatkan dari orang-orang yang ada di ruangan depan.


“Uhuy.. calon pengantin kemana-mana berdua terus kaya kancing cetet.”


“Intil terus Tamarnya, neng. Dia suka mampir ke rumah janda sebelah, hahaha..”


“Jangan lupain mpok Romlah, tukang nasi uduk yang suka diutangin sama sama kamu, Tam. Jaminannya mau nikahin anaknya katanya.”


“Jangan percaya, neng. Akang Tamar belum punya pasangan. Dia itu high quality jomblo. Tapi high quality kok jomblo ya, hahaha…”


“Hahaha..”

__ADS_1


Suara gelak tawa langsung terdengar menyambut ucapan salah satu petugas senior di sana. Tamar hanya menggelengkan kepalanya saja menanggapi celotehan absurd para rekannya. Stella hanya bisa melemparkan senyuman kikuknya. Dia bergegas mengikuti Tamar keluar dari kantor bareskrim tersebut,


Setelah menunaikan ibadah shalat dzuhur, Tamar tak kembali lagi ke ruangannya. Dia langsung menuju mobilnya. Stella juga memutuskan untuk ikut mobil Tamar untuk mengunjungi Lina di lapas.


“Bang.. rumah bu Lina dulu di mana?” tanya Stella setelah keduanya berada di dalam perjalanan.


“Kenapa?”


“Aku mau suruh Suzy ke sana.”


“Kalau ngga salah rumahnya sudah dijual, setelah bu Lina mendapat vonis hukuman 20 tahun penjara. Nanti aku kasih alamatnya.”


“Anaknya bu Lina di mana sekarang?”


“Diurus keluarganya Putra. Mereka ngga bolehin Lina atau keluarganya untuk mengunjungi apalagi mengurus anak itu, karena Lina sudah membunuh Putra.”


“Kasihan bener bu Lina. Kita harus bisa membebaskan bu Lina. Kutu kupret tuh si Putra. Masih hidup tapi pura-pura mati. Kalau aku jadi bu Lina, bakal aku bunuh beneran tuh si Putra kalau keluar dari penjara. Eh malah di penjara lagi ya jadinya, hihihi..”


“Ngga.. karena Putra sudah dinyatakan meninggal, maka Lina tidak akan terkena hukuman lagi kalau membunuhnya, karena putusan pengadilan untuk kasus itu sudah keluar dan dia sudah menjalani hukuman yang sebelumnya. Namanya double joepardy, kalau di Indonesia disebut dengan Ne Bis In Idem,” terang Tamar.


Kepala Stella hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Walau tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Tamar. Kendaraan roda empat Tamar terus melaju menuju lembaga pemasyarakatan yang berada di daerah Sukamiskin.


🍁🍁🍁


Langit sudah terlihat gelap. Waktu memang sudah menunjukkan pukul enam lebih empat puluh menit. Sebuah kendaraan roda empat berhenti di depan kediaman Kevin. Seorang pria berwajah tampan keluar dari dalamnya, dengan menjinjing tas medis di tangannya. Pria itu lalu memasuki pekarangan rumah mantan asisten CEO Blue Sky tersebut.


Tubuh Rafa terlihat segar. Setelah tugas prakteknya selesai, pria itu membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum datang ke rumah Kevin. Jari Rafa mengarah pada bel yang berada di sisi pintu. Tak butuh waktu lama untuknya hingga pintu terbuka. Freya muncul dari baliknya.


“Assalamu’alaikum. Malam, tante.”


“Waalaikumsalam. Malam. Masuk dok,” Freya mempersilahkan Rafa untuk masuk.


Sebelum datang ke rumah ini, dia lebih dulu menghubungi Kevin. Rafa hendak melakukan pemeriksaan rutin pada Kevin. Sudah sebulan lebih pria itu tak memeriksa keadaan Kevin. Setelah mempersilahkan Rafa untuk duduk, Freya segera menuju kamar Kevin, memanggil mertuanya itu.


Suasana rumah Kevin cukup sepi juga. hanya terdengar suara dari arah dapur, sepertinya sang asisten rumah tangga tengah menyiapkan makan malam. Kevin keluar dari kamar bersama dengan Rindu dan Freya. Pria itu segera mendudukkan diri di dekat sang tamu.


“Malam pak dokter,” sapa Kevin.


“Malam, opa.”


“Waduh maaf ya, jadi merepotkan membuat dokter datang ke sini.”


“Ngga apa-apa, opa. Kan saya yang inisiatif mengunjungi opa. Mungkin saya masih terbawa suasana saat jadi relawan.”


“Mungkin juga, hahaha..”


“Opa mau diperiksa di mana?”


“Di sini saja bisa?”


“Bisa, opa. Silahkan berbaring di sini.”


Kevin segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Rafa. Pria itu membaringkan tubuhnya di sofa. Rafa segera mengeluarkan alat-alat medisnya untuk memeriksa Kevin. Dayana yang melihat mobil Rafa di depan rumah opanya, segera turun ke bawah. Dia juga sudah rindu ingin bertemu dengan Rafa. Seminggu sejak kembali dari desa Tampaure, mereka memang belum bertemu lagi.


“Semuanya baik, opa. Tensinya normal, detak jantungnya baik dan denyut nadinya juga normal,” ujar Rafa setelah memeriksa keadaan Kevin.


“Tapi kalau opa mau pemeriksaan lebih lanjut, silahkan ke rumah sakit aja.”


“Baik, dokter.”


Rafa memasukkan kembali alat medisnya ke dalam tas. Di saat yang sama Dayana sampai di ruang depan. Dia langsung mendudukkan diri di samping Kevin, seraya memeluk lengan sang opa.


“Keadaan opa baik-baik aja kan, mas?” tanya Dayana.


“Alhamdulillah baik.”


“Opa ke kamar dulu, ya. Kalian ngobrol aja.”


Rindu segera bangun dari duduknya untuk membantu sang suami kembali ke kamarnya. Freya juga kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Kini hanya tinggal Rafa dan Dayana saja di sana. Untuk sesaat suasana menjadi sepi, hingga akhirnya Rafa memecahkan kesunyian lebih dulu.


“Kamu sudah makan malam?”


“Belum. Mas makan di sini aja,” tawar Dayana.


“Aku mau ajak kamu makan di luar. Aku kan punya utang sama kamu.”


“Utang apa?”


“Ingat waktu kamu sakit, bilang apa?”


Sejenak Dayana terdiam untuk mengingat apa yang dikatakannya waktu itu. Lebih tepatnya bepura-pura mengingat, karena dia masih dengan jelas mengingat semua adegan bersama dengan Rafa.


“Oh soal aku minta makan macem-macem, ya.”


“Iya. Sekarang aku mau ajak kamu makan apa aja yang kamu mau.”


“Serius mas?”


“Serius. Kamu mau makan apa?”


“Ehmm.. apa ya. Kita makan soto betawi yuk, mas.”


“Boleh.”


“Bentar ya, aku ganti baju dulu.”


Bergegas Dayana bangun dari duduknya lalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tak bisa dilukiskan betapa bahagia perasaannya. Hal yang dinantikan cukup lama, bisa terwujud malam ini. Rafa berinisiatif mengajaknya makan malam lebih dulu. Apakah mungkin duda hot itu sudah mulai terpikat padanya?


Sambil bersenandung kecil, Dayana memilih-milih pakaian yang akan dikenakannya. Akhirnya dia memilih pakaian kasual saja. Celana jeans dan kaos longgar lengan pendek yang panjangnya menjuntai sampai menutup bokongnya. Gadis itu memoles wajahnya dengan bedak tipis dan memakai lipstick warna bibir. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja.


Setelah menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Dayana menyambar tas selempangnya yang hanya bisa masuk ponsel dan dompet saja, lalu keluar dari kamar. Sebelum menemui Rafa, Dayana lebih dulu menemui Freya untuk meminta ijin.


“Ma.. aku mau keluar dulu, ya.”

__ADS_1


“Mau kemana?”


“Mas Rafa ngajak makan di luar.”


“Pulangnya jangan malem-malem, ya.”


“Iya, ma.”


Dayana meraih tangan Freya lalu mencium punggung tangannya. Dia lalu menuju rak sepatu yang ada di bawah tangga. Pilihannya jatuh pada flat shoes berwarna hitam. Setelah itu barulah dia menemui Rafa.


“Sudah siap?” tanya Rafa sambil berdiri.


“Sudah, ayo mas.”


“Bilang ke mamamu dulu.”


“Udah kok.”


Tanpa membuang waktu lagi, keduanya langsung keluar dari rumah. Rafa membukakan pintu untuk Dayana kemudian berjalan memutari bodi mobil. Pria itu segera menyalakan mesin setelah duduk di belakang kemudi. Perlahan kendaraan roda empat tersebut bergerak maju.


Rafa terus mengemudikan mobilnya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Dayana. Kendaraan tersebut terus melaju menuju daerah Burangrang. Pria itu mengurangi kecepatan mobilnya saat mendekati tempat yang dituju. Dia menghentikan mobilnya di depan warung tenda bertuliskan SOTO BETAWI MPOK LELA.


“Mas udah pernah makan di sini?” tanya Dayana seraya melepaskan tali sabuk pengamannya.


“Belum.”


“Rasanya enak banget, mas. Eh tapi mas suka kan soto betawi?”


“Suka kok.”


Senyum Dayana terbit mendengarnya. keduanya segera turun dari mobil. Warung tenda yang memiliki dua meja dan dua kursi panjang yang terbuat dari kayu itu, sudah didatangi beberapa pengunjung. Mereka mendudukkan diri di kursi yang tersisa.


“Mpok, sotonya dua ya. Porsi biasa,” ujar Dayana.


“Siap. Nasinya satu apa setengah?”


“Yang satu setengah, satunya lagi satu porsi.”


Wanita berdarah Betawi itu hanya menganggukkan kepalanya. Sang asisten datang membawakan dua gelas teh tawar panas lalu meletakkannya di depan pasangan tersebut.


“Kegiatanmu apa saja akhir-akhir ini?” tanya Rafa membuka percakapan.


“Ngga ada, diam aja di rumah. Hehehe…”


“Enak benar.”


“Ngiri ya.”


Senyum kecil namun terlihat begitu manis diberikan oleh Rafa, merespon ucapan Dayana. Mpok Lela datang membawakan dua porsi soto Betawi lengkap dengan nasinya. Dayana menambahkan kecap, sambal dan perasan jeruk nipis ke dalam mangkok sotonya. Setelah dirasa pas, sedikit demi sedikit, dia memasukkan soto ke dalam piring berisi nasi.


“Kamu kenyang makan porsi segitu?”


“Kenyang, mas. Emangnya kenapa?”


“Ngga apa-apa. Aku takutnya kamu bangun tengah malam karena kelaparan.”


“Enak aja. Emangnya aku Stella yang makannya sebakul, hahaha…”


Dayana tak bisa menahan tawanya mengingat Stella yang porsi makannya memang banyak. Bahkan gadis itu tidak pernah jaim makan di hadapan siapa pun. Baginya membuat perut kenyang lebih penting dari pada gengsi yang berujung pada mati kelaparan.


“Stella siapa?”


“Sepupuku, yang tingkahnya paling ajaib. Saking ajaibnya, ngga ada cowok yang mau jadi pacarnya.”


“Kamu sendiri kenapa belum punya pacar?”


“Karena aku udah suka sama seseorang, cuma sayangnya orang itu ngga suka sama aku.”


Perkataan Dayana seperti sebuah sindiran halus untuknya. Rafa hanya berdehem saja dan lanjut menikmati makanannya. Didorong rasa penasaran, Rafa kembali bertanya soal perasaan gadis di sebelahnya.


“Sekarang, kamu masih suka dia?”


“Sebenarnya masih. Cuma karena dia ngga juga ngerespon, kayanya aku harus nyerah dan move on. Masih banyak cowok di sekitarku yang ngga kalah dari dia.”


Mendadak rasa soto yang dimakan Rafa terasa hambar. Pria itu menghentikan makannya sejenak. Diambilnya gelas lalu meneguknya pelan. Dayana melirik pria di sampingnya ini. Dalam hati dia terkikik geli melihat perubahan mood Rafa.


“Andai aja dia bales perasaan aku, aku bakalan senang banget. Tapi kayanya itu mustahil ya.”


“Ngga ada yang mustahil di dunia ini.”


“Mustahil mungkin ngga, tapi sulit. Soalnya dia masih belum bisa move on.”


Mata Rafa melirik Dayana yang masih menikmati makannya dengan lahap. Pria itu melanjutkan makannya kembali. Tak ada pembicaraan lagi setelahnya. Perasaan Rafa mendadak bimbang setelah Dayana membahas mendiang istrinya, walau secara tidak langsung.


🍁🍁🍁


Seorang pria muda berkacamata yang memiliki nama lengkap Muhammad Zainal, menaruh proposal di depan meja kerja seorang pria paruh baya. Pria itu adalah pemegang pucuk pimpinan tertinggi di Infinity Corp. Muhammad Zainal atau yang biasa dipanggil Zain menerangkan secara singkat isi proposal tersebut.


“Jadi ini proposal yang dibuat oleh Irzal? Hmm.. anak itu benar-benar hebat.”


“Benar, pak. Sulit sekali mencari celah di proposalnya. Jadi lebih baik kita ajukan saja proposal ini ke Global Company secepatnya. Sebelum dia sadar kalau proposalnya sudah dicuri,” saran Zain.


“Baiklah. Ayo kita bertemu pak Ramli sekarang.”


Kepala Zain terangguk, menyetujui usulan atasannya. Pria itu mengambil kembali proposal buatan Irzal yang sudah berpindah tangan padanya. Kemudian bersama dengan sang atasan, mereka segera menuju Global Company.


Ramli Husein, CEO Global Company nampak puas dengan proposal yang diberikan Infinity Corp. Keduanya langsung saja menandatangani perjanjian kerjasama. Dari proyek ini, bisa dipastikan Infinity Corp akan mendapatkan keuntungan yang besar.


🍁🍁🍁


**Tamar sama Stella lagi mode akur.


Dayana - Rafa, cinta bilang boss..

__ADS_1


Irzal tau ngga itu proposalnya ada yang nyuri🤔


Kalau tidak ada aral melintang, aku bakalan up 2x. Kemungkinan sore atau malam. Tunggu aja ya😉**


__ADS_2