Hate Is Love

Hate Is Love
Baby Twins


__ADS_3

Dari balik jendela kamarnya, Arsy melihat lurus ke depannya sambil sesekali mengusap perutnya yang semakin membuncit. Kehamilannya sekarang sudah menginjak usia 35 minggu. Menurut perkiraan dokter, minggu ini adalah perkiraan lahirnya. Dari luar kamar, Irzal masuk lalu memeluk wanita itu dari belakang.


Mendapat pelukan hangat dari suaminya, Arsy menyandarkan kepalanya ke dada bidang Irzal. Awalnya pria itu menaruh dagunya di pundak sang istri. Kemudian dia mulai bergerak menciumi leher dan tengkuk istrinya. Terdengar tawa kecil wanita itu ketika merasakan geli di tubuhnya.


Irzal melepaskan pelukannya, kemudian membalikkan tubuh sang istri. Dia berjongkok tepat di depan perut Arsy kemudian memeluknya. Beberapa kali pria itu memberikan ciuman di perut buncit istrinya yang terbalut daster. Tangan Arsy membelai lembut rambut sang suami. Kepala Irzal terdongak ketika mendengar ringisan suaminya.


“Kenapa, sayang?”


“Perutku sakit, mas. Sepertinya aku udah mulai kontraksi.”


“Kamu mau ke rumah sakit sekarang?”


“Nanti aja, mas. Ini masih kontraksi awal kayanya. Tunggu sebentar lagi, ya.”


“Mas siapkan barang-barangnya dulu, ya.”


Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh Arsy. Irzal bergegas menuju walk in closet, kemudian mengambil tas yang berisi barang-barang calon anaknya. Dia membawa tas tersebut keluar, lalu menaruhnya di sofa. Pria itu juga menghubungi bundanya untuk mengabarkan kalau istrinya sudah mulai merasakan kontraksi.


Tak berapa lama kemudian, Azkia datang. Dia hendak melihat keadaan menantunya. Irzal membukakan pintu kamar untuk sang bunda. Arsy nampak sedang berjalan-jalan sambil menarik nafas beberapa kali.


“Sudah mulai kontraksi, Sy?” tanya Azkia.


“Iya, bun. Tapi jaraknya masih jarang. Sepertinya masih pembukaan awal.”


“Tunggu aja dulu. Biar kamu tidak terlalu lama di rumah sakitnya. Bie.. coba kamu telepon dokter Suci, bilang kalau Arsy sudah mulai kontraksi. Biar mereka bersiap.”


“Iya, bunda.”


Dengan segera, Irzal menghubungi dokter Suci. Dokter kandungan yang menangani istrinya sejak kehamilan anak pertama mereka. Dokter tersebut mengatakan apa yang harus dilakukan Arsy untuk mempercepat pembukaan. Usai menghubungi dokter Suci, Irzal membawa istrinya keluar kamar. Dia akan mengajak berjalan-jalan di ruangan luar.


Azkia kembali turun ke bawah, dia hendak membuatkan makanan untuk sang menantu. Arsy butuh tenaga untuk melahirkan anak kembarnya nanti. Wanita itu segera membuatkan camilan sehat yang bisa dikonsumsi di saat kontraksi mulai dirasakan oleh Arsy.


“Sayang, kamu yakin mau melahirkan dengan cara normal?” tanya Irzal, seraya menuntun istrinya berjalan-jalan.


“Iya, mas. Selama aku masih bisa melhirkan normal, aku akan melakukannya. Mas akan terus damping aku, kan?”


“Pasti sayang.”


Kembali Arsy melanjutkan langkahnya. Sesekali wanita itu berhenti saat merasakan kontraksi. Dengan sabar, Irzal terus mendampingi istrinya. Jantungnya berdebar tak karuan menantikan kelahiran anak kembarnya. Hatinya juga tidak berhenti berdoa demi keselamatan istri tercinta.


🍁🍁🍁


Setelah dua jam berjalan-jalan di seputar kediamannya, Arsy memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Jarak kontraksinya juga semakin dekat dibanding yang pertama. Dengan tas di tangannya, Irzal menuntun istrinya keluar dari lift. Azkia dan Elang sudah bersiap untuk mengantar anak dan menantunya ke rumah sakit.


Dengan kecepatan sedang, pria itu memacu kendaraannya. Di belakang, mobil milik Elang mengikuti. Secara beriringan kedua kendaraan roda empat tersebut meluncur menuju rumah sakit Ibnu Sina. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke rumah sakit, tidaklah lama. Setelah memarkirkan kendaraannya, Irzal segera membawa turun istrinya. Seorang perawat dengan kursi roda sudah menunggu di depan lobi.


Suster tersebut segera mendorong kursi roda menuju lift yang terdapat di lobi. Mereka akan langsung menuju tempat persalinan. Sesampainya di lantai lima, lebih dulu suster memasukkan Arsy ke ruangan observasi. Dokter Suci masuk, lalu memeriksa pembukaan ibu hamil tersebut.


“Baru pembukaan enam. Sebentar lagi. Ibu bisa jalan-jalan dulu.”


“Terima kasih, dok.”


Irzal membantu istrinya turun dari ranjang, lalu kembali mengajaknya berjalan-jalan. Sesekali Azkia meminta Arsy untuk duduk dan memakan camilan buatannya. Walau tak bernafsu makan akibat rasa sakit yang menderanya, namun wanita itu memaksakan diri. Melahirkan secara normal, apalagi anak kembar, pastinya membutuhkan tenaga yang besar pula.


“Sakit, mas,” keluh Arsy ketika rasa sakit kembali menderanya.


“Sabar, sayang. In Syaa Allah, anak kita anak yang soleh. Pasti ngga akan menyulitkan bundanya.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Arsy. Wanita itu kembali berjalan-jalan, ditemani oleh Irzal. Selama menemani istrinya, pria itu tidak henti melantunkan shalawat, membuat hati Arsy yang ketar-ketir menjadi tenang.


Mendengar sang adik akan melahirkan, Zar segera menuju ke rumah sakit. Rena diminta menunggu di rumah. Jika nanti Arsy sudah melahirkan, barulah dia diperbolehkan ke rumah sakit. Kenzie dan Nara juga bergegas menuju rumah sakit. Kedua orang tua dan mertuanya diminta menunggu kabar baik di rumah saja.

__ADS_1


Selain Zar, Azzam juga dikabari oleh mamanya perihal Arsy yang hendak melahirkan. Mendengar itu, Azzam segera menghubungi kakaknya. Pria itu melakukan video call ke ponsel kakak iparnya. Irzal mengajak Arsy duduk sebelum menjawab panggilan dari adik iparnya. Wajah Azzam langsung memenuhi layar ponsel, ketika Irzal mengusap ikon hijau.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam. Kakak.. sudah waktunya?” tanya Azzam.


“Iya, Zam. Kamu ngga pulang?”


“Rencananya nanti malam aku mau pulangnya, naik kereta. Tapi papa barusan udah kirim pesawat. Aku lagi di jalan mau ke bandara. Kakak yang kuat, ya.”


“Iya, Zam. Doakan aku, ya.”


“Pasti, kak. Kakak pasti bisa. Ada bang Irzal yang damping kakak. Bang.. aku titip kak Arsy, ya.”


“Iya, Zam. Kamu ngga usah khawatir. Abang bakal terus temani kakakmu.”


“Bu Arsy.. ayo kita periksa lagi pembukaannya.”


Seorang bidan datang dan menginterupsi perbincangan ketiga orang tersebut. Rasa sakitnya memang semakin sering intensitasnya, sepertinya sebentar lagi pembukaannya komplit. Arsy segera mengakhiri percakapannya dengan Azzam.


“Zam.. kakak harus diperiksa lagi. Kakak tunggu ya.”


“Iya, kak. Semoga persalinannya lancar. Aku doain kakak terus dari sini. Udah dulu, ya. assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Wajah Azzam tidak terlihat lagi ketika pria itu mengakhiri panggilannya. Irzal segera membantu Arsy berdiri, lalu membawanya ke kamar observasi. Bidan yang tadi berbicara padanya nampak sudah mengenakan sarung tangannya. Bersiap untuk memeriksa pembukaan nyonya Irzal tersebut.


“Sudah pembukaan sembilan, sebentar lagi. Langsung aja ke ruang persalinan.”


Arsy mulai kesulitan berjalan, karena rasa sakit yang dirasakannya sudah semakin dekat saja jaraknya. Begitu masuk ke ruang persalinan, wanita itu diarahkan untuk berbaring di bed partus. Di dalam ruangan tersebut, dokter Suci, bidan dan dua orang perawat sudah bersiap untuk membantu proses persalinan.


“Siap ya, bu. Pembukaannya sudah lengkap. Tarik nafas, keluarkan. Tarik lagi, keluarkan. Jangan memejamkan mata saat mengejan dan jangan berteriak ya, bu.”


Hanya anggukan kepala saja yang mampu diberikan oleh Arsy. Wanita itu sudah mulai menarik dan menghembuskan nafas sesuai arahan sang dokter. Arsy segera mengejan ketika merasakan kontraksi. Untuk percobaan pertama, masih gagal. Tanpa menyerah wanita itu terus berusaha mengeluarkan anak-anaknya.


Tubuh Arsy sudah bersimbah keringat. Beberapa kali Irzal mengusap kening istrinya yang penuh dengan peluh. Tak bosan pria itu terus memotivasi istrinya, dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an untuk menenangkan sang istri. Pergelangan tangannya sudah memerah dan dipenuhi cakaran, tapi tak ada satu keluhan pun yang keluar dari mulutnya.


“Digunting saja, dok,” usul bidan yang mendampingi. Melihat kepala sang bayi sudah berada di depan jalan keluar.


Suster memberikan episotomi atau gunting v*g*na pada dokter. Terdengar bunyi yang cukup linu di telinga, ketika dokter Suci segera membuat sayatan untuk membuka jalan lahir. Bidan kembali memberikan intrsuksi pada Arsy untuk mengejan. Wanita itu menarik dan mengeluarkan nafas beberapa kali, kemudian mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mengejan.


OEK


OEK


OEK


Bayi pertama dapat keluar dengan selamat. Tubuh Arsy terkulai ketika anak pertamanya lahir. Dia kembali mengatur nafasnya yang tersengal. Irzal memberikan ciuman di kening istrinya itu. Suster segera membawa bayi mungil itu untuk ditimbang, diukur dan dibersihkan. Sekarang dokter dan bidan sedang menunggu bayi kedua lahir.


Setelah lima menit beristirahat, Arsy kembali merasakan kontraksi. Wanita itu kembali menarik dan menghembuskan nafas, sebelum mengeluarkan tenaganya untuk mengejan. Anak keduanya masih belum mau keluar. Arsy beristirahat sejenak. Dia kembali mengejan saat sudah siap untuk melahirkan bayi keduanya.


OEK


OEK


OEK


Bayi kedua keluar dengan selamat. Suster kedua membawa bayi tersebut untuk menimbang, mengukur dan membersihkan bayi. Sang bidan segera membersihkan rahim Arsy dari sisa-sisa darah yang menempel. Sementara suster pertama sudah selesai dengan bayi pertama. Dia membawa bayi tersebut pada Irzal untuk diadzankan.


Mata Irzal berkaca-kaca saat menerima bayi mungil tersebut. Dengan suara bergetar, pria itu mulai melantunkan adzan di telinga kanan anaknya. Setelah selesai, suster menaruh sang anak di atas dada Arsy untuk inisiasi dini. Tak berapa lama berselang, suster berikutnya membawa bayi kedua. Irzal kembali melantunkan adzan untuk anak keduanya.

__ADS_1


Arsy tak bisa menahan haru saat kedua bayinya diletakkan di atas dadanya untuk inisiasi dini. Tangannya mengusap kepala kedua anaknya yang berada di atas dadanya. Irzal sungguh terharu melihat pemandangan di depannya. Perjuangan sang istri yang tak mudah ketika melahirkan, terbayar sudah dengan kehadiran dua bayi tampan ini.


“Selamat bu Arsy, pak Irzal. Kedua anaknya lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Anak pertama beratnya 2,4 kg dan panjangnya 44 cm. Anak kedua beratnya 2,3 kg dan panjangnya 45 cm. setelah inisiasi dini, mereka akan ditaruh di inkubator untuk menghangatkan tubuhnya.”


“Iya, dok.”


Setelah setengah jam lebih memberikan inisiasi dini. Suster segera membawa kedua bayi itu ke ruangan khusus bayi. Mereka sementara akan ditempatkan dalam inkubator. Sementara keadaan Arsy yang sudah membaik, dipersilahkan untuk segera menuju ruang perawatan. Wajah tegang di ruang tunggu segera mencair ketika ruang persalinan terbuka. Didorong Irzal, kursi roda yang diduduki Arsy keluar dari ruang persalinan.


“Selamat ya, sayang.”


Nara mendekati putrinya, kemudian mencium dan memeluknya. Hatinya bahagia sang anak melahirkan dua bayi yang tampan dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Azkia menyusul di belakangnya. Wanita itu juga memeluk dan mencium kening menantunya.


Kenzie mendekat lalu memeluk anaknya. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di puncak kepala sang anak. Terakhir Zar mendekat, lalu memeluk adik kembarnya ini. Elang mendekat seraya mengusap puncak kepala menantunya ini. Pria itu kemudian memeluk bahu anak bungsunya.


“Kakek, nenek, KiJo sama Ninda jangan lupa dikasih tahu.”


“Iya, Sy. Kakek dan nenek ke sini sama daddy. KiJo dan Ninda dijemput Arya. Kamu lebih baik istirahat di kamar dulu,” ujar Nara.


Irzal kembali mendorong kursi roda istrinya. Mereka segera menuju lantai 11, di mana ruang VVIP berada. Semuanya segera mengikuti pasangan orang tua baru itu. Zar bergegas membukakan pintu ruangan, sesampainya mereka di lantai 11. Irzal membantu istrinya naik ke atas bed.


“Papa mau lihat anakmu dulu, ya.”


“Aku ikut, mas,” sahut Nara.


“Mas.. kita lihat cucu kita,” ajak Azkia pada suaminya.


Elang merangkul bahu istrinya, kemudian keluar dari ruangan, mengikuti langkah Kenzie dan Nara yang sudah lebih dulu keluar. Mereka kembali ke lantai lima untuk melihat cucu mereka yang masih berada dalam inkubator.


“Kamu mau makan, sayang?” tawar Irzal.


“Minum aja, mas. Aku haus.”


Irzal segera memberikan segelas air putih hangat untuk istrinya. Satu gelas air putih air hangat masuk ke tenggorokan Arsy. Irzal memberikan makanan yang tadi dibuatkan oleh Azkia. Arsy perlu mengisi tenaganya lagi setelah melahirkan bayi kembarnya. Pria itu tak henti-hentinya mencium puncak kepala istrinya seraya membisikkan ucapan terima kasih dan I love you di telinganya.


“Zal.. jangan mesra-mesra napa, masih ada gue nih,” protes Zar.


“Siapa suruh dateng sendiri.”


“Dah ah, mending gue lihat anak kalian aja.”


Melihat Irzal yang bersikap mesra pada Arsy membuat pria itu kegerahan sendiri. Akhirnya Zar segera keluar dari ruangan. Menyusul kedua orang tuanya yang sedang melihat keponakannya.


Hanya berduaan saja di dalam ruangan, dimanfaatkan Irzal untuk mencium bibir istrinya dengan mesra. Kebahagiaan Arsy semakin lengkap sekarang dengan hadirnya sang buah hati. Suaminya juga bertambah sayang padanya.


“Namanya sudah siap, mas?”


“Sudah. Kamu mau nambahin, ngga?”


“Ngga ah. Aku ikut mas aja. Siapa namanya?”


“Kakaknya, Arsyad Danantya Ramadhan. Adiknya Irsyad Danadyaksa Ramadhan. Gimana, bagus ngga?”


“Bagus, mas. Aku suka.”


Senyum tercetak di wajah Arsy begitu mendengar nama kedua anaknya yang sudah dipersiapkan sang suami. Irzal kembali menghadiahi wajah sang istri dengan ciuman. Dimulai dari kening dan diakhiri di bibir.


🍁🍁🍁


**Selamat ya Irzal dan Arsy atas kelahiran si kembar.


HIL udah hampir sampai ke ujungnya nih. Agak berat kalau udah menuju ending🤭**

__ADS_1


__ADS_2