Hate Is Love

Hate Is Love
Cobaan Calon Bapak


__ADS_3

Sejak satu jam lalu Stella nampak gelisah, dia tidak dapat memejamkan matanya. Di sampingnya Tamar sudah tertidur pulas. Dilihatnya jam di dinding, waktu menunjukkan pukul dua belas malam kurang lima menit. Wanita itu membangunkan suaminya. Dengan gerakan pelan, dia mengguncang pundak Tamar.


“Bang.. abang bangun.”


“Euungg..”


Merasakan guncangan disertai suara sang istri, pelan-pelan Tamar membuka matanya. Dilihatnya Stella tengah duduk di sebelahnya. Pria itu mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih berceceran. Dia menegakkan tubuhnya sambil menyandarkan punggung ke headboard ranjang. Dengan mata memicing dia melihat ke jam dinding.


“Kenapa sayang?” tanya Tamar dengan suara seraknya.


“Abang.. aku pengen makan.”


“Makan apa?”


“Perkedel bondon.”


“Hah? Perkedel apa?”


“Perkedel bondon yang di stasiun hall. Aku lagi pengen makan itu. Ayo kita ke sana.”


“Sekarang?”


“Ya, iya. Kalau nanti pagi udah tutup tempatnya.”


Tamar memejamkan matanya sejenak, kemudian pria itu turun dari ranjang. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Tamar mengambil celana jogger lalu mengenakannya, tak lupa dia melapisi tubuhnya dengan jaket. Stella juga hanya melapisi piyama yang dikenakannya dengan jaket.


Pria itu mengambil kunci mobil dari atas nakas lalu keluar dari kamar. Demi memenuhi keinginan sang istri yang sedang mengidam, pria itu rela bangun tengah malam untuk mengantarnya membeli makanan yang diinginkan.


Dengan kecepatan sedang Tamar memacu kendaraannya. Jalanan sudah terlihat lengang. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Dengan cepat mereka sampai di tempat tujuan. Tamar memarkirkan kendaraannya di depan toko dengan spanduk di depannya bertuliskan Perkedel Bondon.


Bondon adalah sebutan untuk wanita bayaran atau kupu-kupu malam. Sang penjual sengaja memakai kata bondon, merujuk pada waktu berjualannya pada malam hari. Seperti kupu-kupu malam yang selalu beroperasi pada malam hari.


Awalnya tempat tersebut buka mulai pukul setengah sebelas malam. Tapi sekarang mulai jam delapan sudah membuka lapaknya. Sejak dahulu sampai sekarang, makanan tersebut masih diminati oleh masyarakat kota Bandung. Bahkan banyak juga pengunjung dari luar kota yang penasaran untuk mencicipi makanan yang terbuat dari kentang tersebut.


Sudah ada beberapa pengunjung saat Tamar dan Stella sampai di sana. Mereka masih harus menunggu perkedel yang masih digoreng. Keduanya duduk menunggu di kursi yang sudah disediakan oleh sang pedagang.


“Kamu mau beli berapa?” tanya Tamar.


“20.”


Tamar segera memesan pada sang penjual. Bersama pembeli lainnya, mereka duduk menunggu. Stella merapatkan jaketnya yang tidak dikancingkan ketika merasakan hembusan angin. Tamar menarik resleting untuk menutup jaket yang dikenakan istrinya.


Tak berapa lama perkedel pesanan mereka siap. Setelah membayar pesanan, keduanya segera kembali ke mobil. Stella mengambil tisu untuk membungkus perkedel yang masih panas lalu memakannya. Tamar melirik pada Stella, melihat sang istri yang begitu menikmati penganan tersebut, membuatnya meneguk ludah.


Stella mengambil lagi satu perkedel, kemudian mengarahkannya ke mulut sang suami. Tamar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja saat merasakan rasa perkedel bondon yang legendaris. Selama dalam perjalanan, sudah lima buah perkedel sukses masuk ke dalam perut ibu hamil itu. Demikian juga Tamar yang ikutan makan. Hampir setengahnya makanan itu habis dikonsumsi sebelum mereka tiba di apartemen.


Sesampainya di unit apartemen, Stella segera menuju dapur. Dia memindahkan perkedel ke dalam piring. Lalu wanita itu mengambil cabe rawit merah dan tomat dari dalam kulkas. Dengan coet yang terbuat dari kayu dia mulai mengulek cabe rawit, sedikit irisan tomat, garam dan gula merah. Tak lupa dia memberi sedikit terasi yang sudah dibakar.


Wanita itu membawa coet ke meja makan. Diisinya piring kosong yang diambilnya tadi dengan nasi, lalu menambahkan kecap di atasnya. Stella menarik kursi kemudian menikmati kembali perkedel bondon dengan nasi yang diberi kecap sambil dicocol ke sambal yang dibuatnya.


Tamar hanya menggelengkan kepalanya saja melihat nafsu makan istrinya yang tidak pernah surut walau tengah mengandung di trimester pertama. Jika ibu hamil pada umumnya kesulitan makan di tiga bulan pertama kehamilannya, itu tidak berlaku untuk Stella. Namun begitu Tamar bersyukur sang istri tidak menemui kesulitan berarti ketika mengandung anak pertama mereka.


“Makan yang banyak, sayang,” Tamar mengusap puncak kepala istrinya.


“Abang mau makan, ngga?”


“Ngga, buat kamu aja.”


Pria itu berjalan ke dapur untuk mengambilkan minuman. Seraya mendudukkan diri, dia meletakkan gelas di dekat istrinya. Matanya melihat pada piring berisi perkedel. Hanya tinggal tersisa tiga buah saja di sana.


“Besok kamu mau makan apa? Biar abang beliin pulang kerja.”


“Belum kepikiran, bang. Nanti nunggu ilham dulu.”


Senyum tercetak di wajah Tamar. Perkataan yang keluar dari mulut sang istri kadang terdengar mencengangkan. Usai menghabiskan makanannya, Stella membawa piring kotor, gelas dan cobek ke dapur. Dia mencuci semua peralatan tersebut, baru kemudian kembali ke kamar.


“Jangan langsung tidur, Yang. Biar lambung kamu mencerna makanannya dulu,” peringat Tamar saat melihat Stella naik ke atas kasur.


“Iya. Kita nonton tv aja dulu.”


Tangan Tamar bergerak menghidupkan layar datang yang terpasang di dinding depan ranjangnya. Stella merebut remote di tangan suaminya. Dia memilih aplikasi yang menayangkan drama Korea kesuakaannya. Sambil menyandarkan kepalanya, dia menonton drama yang tersaji di layar.


Dua puluh menit kemudian Stella sudah jatuh tertidur. Remote di tangannya terlepas begitu saja. Pelan-pelan Tamar membaringkan istrinya itu. Setelah mematikan televisi, pria itu berbaring di samping Stella. Ditariknya tubuh wanita itu kemudian memeluknya erat. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halusnya, pertanda pria itu sudah terlelap.


🍁🍁🍁


Tamar mematut dirinya di depan cermin. Tubuh tegapnya sudah terbalut kaos hitam bertuliskan Bareskrim di bagian belakang. Hari ini dia akan melakukan tugas lapangan. Menangkap pelaku kejahatan yang sudah seminggu ini dilacak anak buahnya. Tiga orang DPO yang melakukan pembunuhan berantai.


Saat keluar dari kamar, matanya langsung menangkap Stella yang sedang mencari-cari sesuatu di dapur. Pria itu berjalan mendekati sang istri. Didaratkan kecupan di puncak kepalanya.


“Cari apa, Yang?”


“Perkedel yang semalem kan masih tiga, kemana? Dibuang sama abang?”


“Ngga.”


“Terus kemana dong? Masa dimakan tikus.”


“Abang yang makan tadi abis shubuh. Kenapa emang?”


“Abang.”


Bibir Stella maju beberapa senti. Dengan kesal dia mendudukkan bokongnya di kursi makan. Tentu saja Tamar bingung dibuatnya. Pria itu menarik kursi di dekat sang istri lalu mendudukkan diri di sana.


“Kenapa emang?”


“Aku mau sarapan pake itu.”

__ADS_1


“Waduh.. terus gimana dong?”


“Au ah..”


Stella yang dalam mode ngambek karena sisa perkedel yang akan dijadikan menu sarapan olehnya habis dimakan sang suami, segera masuk ke dalam kamar. Dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Bergegas Tamar menyusul sang istri ke kamar. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang.


“Yang.. jangan ngambek.”


“Au aaah..”


“Nanti abang beliin lagi.”


“Ngga usah. Aku maunya pagi ini.”


Tamar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Gara-gara perkedel tiga buah, Stella jadi marah padanya. Pria itu terus berusaha membujuk istrinya agar tidak marah berkepanjangan. Apalagi sebentar lagi dia akan berangkat kerja. Tidak tenang rasanya meninggalkan Stella dalam keadaan seperti ini.


“Yang.. abang mau berangkat kerja. Kamu jangan ngambek, abang ngga tenang ninggalin kamu.”


Untuk sesaat Stella masih berdiam di posisinya sekarang. Kemudian dia bangun dan melihat pada suaminya. Melihat wajah memelas Tamar, hatinya mulai luluh. Pria itu mengusap pipi Stella dengan lembut.


“Maafin abang. Sarapannya diganti yang lain aja, ya. Kamu mau apa?”


“Abang kerja aja. Biar aku aja yang cari sarapan.”


“Maaf ya, sayang.”


“Iya, ngga apa-apa. Abang hati-hati ya.”


“Iya.”


Stella meraih tangan sang suami lalu mencium punggung tangannya. Tamar mencium kening dan bibir Stella sekilas. Pria itu memakai jaketnya, menaruh ponsel di saku jaketnya dan mengambil kunci mobil.


“Abang pergi dulu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Hati-hati abang.”


Tamar menganggukkan kepalanya. Pria itu lalu keluar dari kamar. Baru saja pria itu hendak membuka pintu unit apartemennya, panggilan dari Aji masuk. Bawahannya itu meminta Tamar langsung menuju lokasi karena tim sudah bergerak.


🍁🍁🍁


Penggerebekan yang dilakukan Tamar dan anggota timnya membuahkan hasil. Mereka berhasil menciduk DPO kasus pembunuhan berantai. Semua langsung dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Tiga orang tersangka dimasukkan ke dalam sel. Satu per satu mereka diinterogasi oleh petugas, beserta saksi dan keluarga korban. Sejak pagi sampai menjelang sore, Tamar benar-benar dibuat sibuk dengan kasus yang ditanganinya ini.


Setelah melakukan interogasi panjang, Tamar kembali ke ruangannya. Dia menghempaskan bokongnya di kursi kerjanya. Baru saya dia memejamkan matanya, terdengar ponselnya berdering. Dengan cepat dia mengangkat telepon dari ibu negara.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Abang masih lama pulangnya?”


“Sebentar lagi, sayang. Kenapa?”


“Combro?”


“Iya. Tapi belinya harus di Cibadak. Gerobaknya mangkal di depan jalan Cibadak. Pesen combronya yang pedas ya, bang.”


“Iya, sayang. Mau beli berapa?”


“20.”


“Oke.”


“Jangan pake lama ya, bang. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Tamar melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah empat. Pria itu keluar dari ruangan lalu menuju mushola yang ada di samping kantor. Setelah menunaikan ibadah shalat ashar, pria itu kembali ke ruangannya. Dipakainya kembali jaket lalu memasukkan ponsel ke saku jaketnya. Dia menyambar kunci mobil yang ada di atas meja. Sebelum keluar kantor, dia menemui Aji lebih dulu.


“Ji.. aku pulang duluan. Ibu negara pesan makanan. Tolong beresin dua orang lagi yang belum diinterogasi terus buat laporannya.”


“Siap, capt.”


Setelah mengucapkan terima kasih, Tamar bergegas keluar dari kantornya. Dia segera menuju mobilnya dan memacunya menuju jalan Cibadak untuk membelikan makanan pesanan ibu hamil.


Untuk beberapa saat Tamar mencari tempat untuk memarkir mobilnya. Pria itu menghentikan kendaraan di depan toko emas. Dia turun dari mobil lalu berjalan menuju gerobak penjual combro. Sudah ada beberapa orang yang mengantri di sana.


“Mang combro yang pedas 20, ya.”


“Muhun, kang. Antosan heula nya. Ieu tos aya nu ngantri ti tatadi (iya, kang. Tunggu aja. Ini udah ada yang ngantri dari tadi).”


Dengan sabar Tamar menunggu pesanannya selesai. Ternyata ada tiga orang yang sudah memesan tapi ditinggal belanja lain. Tentu saja membuat pria itu semakin lama menunggu. Dia segera mengangkat telepon ketika merasakan getaran di saku jaketnya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Abang di mana?”


“Ini lagi ngantri combro.”


“Cepetan ih, aku udah ngacai.”


“Sabar sayang, yang beli banyak.”


“Ya udah. Abis beli langsung pulang. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Tamar hanya menghela nafas panjang. Memenuhi keinginan ibu hamil memang harus lebih banyak bersabar. Pria itu memasukkan kembali ponsel ke saku jaketnya. Sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Seorang wanita yang berdiri di sampingnya yang melakukannya.

__ADS_1


“Istrinya lagi hamil ya?” tebak sang ibu.


“Iya, bu.”


“Mang… nu abi pasihkeun ka akang ieu heula. Karunya pamajikannya keur hamil (mang.. yang saya kasihin ke akang ini aja. Kasihan istrinya lagi hamil).”


“Siap.”


“Aduh makasih, bu.”


“Sami-sami.”


Sang pedagang mengangkat combro yang baru saja matang. Setelah menaruh di saringan sebentar, dia mulai memasukkan dua puluh buah combro dalam wadah kertas lalu memasukkan ke dalam kantong plastik dan memberikannya pada Tamar. Tamar mengeluarkan uang seratus ribu lalu memberikannya pada sang pedagang.


“Sekalian aja bayar yang pesanan ibu ini.”


“Eh ngga usah, kang.”


“Ngga apa-apa, bu. Anggap aja rejeki.”


Tamar menerima uang kembalian kemudian segera pergi dari sana. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih pada ibu tadi. Bergegas dia masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya.


Harum combro yang baru matang langsung masuk ke indra penciumannya. Tamar jadi tergoda untuk mencicipi combro tersebut. Melihat banyaknya pembeli, dia yakin kalau rasa combro tersebut memang enak. Diambilnya satu buah combro lalu memakannya. Ternyata benar, combro pesanan sang istri benar-benar enak. Dua buah combro sukses masuk ke dalam perutnya.


Baru saja tangan Tamar hendak mengambil combro ketiga, ponselnya kembali bergetar. Pria itu terpaksa menepikan mobilnya demi bisa menjawab panggilan. Kalau panggilan tidak dijawab, dijamin ibu negara akan murka.


“Ya sayang.”


“Abang di mana?”


“Di jalan pulang.”


“Aku tunggu di depan lobi. Kita ke Cicadas.”


“Ngapain sayang?”


“Beli awug. Itu combronya udah dapet?”


“Udah.”


“Jangan dimakan!”


GLEK


Tamar menelan ludahnya kelat. Padahal sudah dua buah masuk ke dalam perutnya. Tidak mungkin juga dia kembali ke tukang dagang tadi karena jaraknya sudah jauh.


“Abang tadi udah nyobain dua, hehehe..”


“Abang mah.. itukan buat si utun.”


“Masa nyoba dua aja ngga boleh? Abis baunya enak.”


“Ya udah. Tapi jangan makan lagi, awas aja.”


“Iya, iya.”


Panggilan dari Stella berakhir. Tamar kembali menjalankan kendaraannya. Pria itu menghembuskan nafas lega karena sang istri tidak menyuruhnya kembali untuk membeli combro. Tak butuh waktu lama pria itu sudah sampai di gedung apartemen tempatnya tinggal. Dia berhenti di depan lobi. Stella segera masuk ke dalamnya.


“Cicadas, bang.”


“Siap, bu. Sesuai titik kan.”


Senyum Stella terbit mendengar suaminya mengucapkan kata-kata yang sering dikatakan oleh driver taksi online. Wanita itu langsung menyambar bungkusan berisi combro pesanannya. Tak butuh waktu lama, lima combro masuk ke dalam perutnya. Dia mengambil sebuah combro lalu menyuapkan ke mulut suaminya.


“Enak ya, bang combronya.”


“Iya, enak. Pantes banyak yang beli.”


“Langganan aku jaman sekolah tuh. Rasanya ngga pernah rubah. Sekarang berapa bang satunya?”


“2000.”


Stella hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Mulutnya terus mengunyah makanan yang terbuat dari singkong parut dengan isian oncom di dalamnya. Tak lupa dia menyuapi suaminya.


Tamar memperlambat laju kendaraannya ketika mobil yang dikendarainya memasuki jalan Ahmad Yani. Dia menunggu petunjuk di mana harus berhenti, karena tidak tahu di mana penjual awug yang dimaksud istrinya. Stella menunjuk sebuah gerobak dan meminta Tamar berhenti. Bersama sang suami, wanita itu berjalan mendekati gerobak penjual awug yang sangat terkenal sejak lama.


“Mang aku mau awugnya. Terus lupis sama putu mayangnya juga.”


“Siap, neng.”


"Gulanya dipisah."


Dengan cepat pedagang tersebut mengambilkan makanan yang diminta oleh Stella. Setelah membayar semuanya, keduanya kembali ke mobilnya. Tamar tak langsung menyalakan mesin mobilnya. Dia melihat sebentar pada sang istri.


“Mau langsung pulang atau mau mampir ke tempat lain lagi?”


“Aku mau sate.”


“Di mana?”


“Sate pak Gino yang ada di jalan Sunda, dekat rel kereta.”


“Siap sayang.”


Tamar kembali mengikuti keinginan sang istri. Dia mengarahkan kendaraannya menuju warung sate yang diinginkan. Otaknya berpikir apa semua makanan yang dibelinya tadi bisa masuk ke dalam perut Stella? Tapi mengingat istrinya yang gembul, bisa saja dia menghabiskan semuanya tanpa bersisa. Satu yang harus Tamar ingat, pria itu tidak boleh asal menghabiskan makanan sang istri. Bisa-bisa kejadian seperti tadi pagi terulang.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Ya ampun Stella, itu perut apa karung beras, segala masuk🤣


Aku up abis NR kenapa belum beres review aja. Astaga mulai lagi bengeknya. Apa yg salah sama bab ini🤦**


__ADS_2