Hate Is Love

Hate Is Love
Honeymoon


__ADS_3

Pagi-pagi setelah sarapan, Irzal dan Arsy segera menuju destinasi wisata pertama di kecamatan Salopa, Tasikmalaya. Mereka mengunjungi Batu Paraga Salopa yang terletak di desa Mandalahayu. Akses untuk masuk ke objek wisata ini tidak bisa ditempuh dengan kendaraan. Setelah memarkirkan mobilnya, Irzal mengajak Arsy menyusuri jalan yang masih alami.


Cukup jauh juga mereka berjalan sebelum sampai di tempat yang terkenal dengan kealamiannya. Bebatuan yang berbentuk balokan langsung terpampang di depan mata ketika sampai di tempat ini. Bebatuan tersebut terbentuk alami, tanpa campur tangan manusia.


Di sana terdapat sungai yang kanan dan kirinya dikelilingi tebing bebatuan. Besarnya bentuk batu yang ada di sana membuat pengunjung yang datang, seolah-olah tengah berada di jaman dinosaurus. Aliran sugai ini terkadang meluap sampai ke jalan jika sedang datang musim penghujan. Dan tentu saja menjadi sedikit berbahaya bagi pengunjung.




Selain mereka berdua, beberapa pengunjung juga sudah datang ke tempat tersebut. Ada yang bermain di pinggir sungai, ada yang berjemur di atas bebatuan, atau berfoto dengan tebing batu besar sebagai latar belakangnya. Irzal memegangi tangan Arsy, kemudian membawanya ke sisi sungai.


Air sungai yang jernih dan dingin langsung terasa ketika Arsy memasukkan tangannya ke dalam air. Dia duduk di salah batu dengan kaki mencelup ke dalam air. irzal duduk di sampingnya, meraih bahu sang istri lalu mengambil diri mereka dengan kamera ponsel. Beberapa kali mereka mengambil gambar. Terkadang Irzal mencuri ciuman di pipi sang istri.


“Pemandangannya bagus banget, mas. Cuma sayang di sini masih minim fasilitas.”


“Ya karena belum dikelola secara serius sama pemerintah setempat. Padahal tempatnya bagus banget. Ngga kalah kaya di luar negeri, kan?”


“Iya, mas. Keren banget ini mah. Terus batu-batuannya tuh bagus, kaya disusun dan dibentuk gitu, padahal alami ya. Aku ngebayangin dari balik tebing nongol dinosaurus, hihihi..”


Arsy terkikik mendengar ucapannya sendiri. Tapi bentuk bebatuan di sini memang cocok jika dijadikan habitat tyrex dan kawan-kawan. Andai saja ada produser film Hollywood datang ke sini, pasti mereka tidak akan pikir dua kali untuk syuting di tempat seperti ini. Sayang, promosi pemerintah daerah yang kurang, membuat tempat ini tidak sepopuler Bali, Raja Ampat atau Lombok.


“Kamu mau santai di hammock sana ngga?” tangan Irzal menunjuk sebuah hammock yang tergantung di tengah-tengah aliran sungai.


“Ngga mau ah, serem.”


“Mau ke tengah sungai?”


“Tapi pegangin ya, mas.”


Irzal bangun dari duduknya, kemudian memegang tangan sang istri. Mereka berjalan menuju tengah sungai dan berdiam di sebuah batu yang ada di sana. Kembali Irzal mengabadikan keindahan tempat ini. Dia juga meminta Arsy bergaya di tengah sungai. Wajah ceria sang istri berhasil direkam dengan kamera ponselnya.


Puas bermain di tengah sungai, mereka menaiki batuan besar yang ada di sisi sungai. Keduanya duduk di atas batu berbentuk balok. Arsy mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas ransel. Wanita itu membuka kotak bekal yang berisi jajanan pasar yang mereka beli di jalan.


Sambil menikmati camilan, mereka kembali berbincang sambil memandangi pemandangan di depan mereka. Berada di tempat ini membuat mereka betah dan tak ingat waktu. Saat matahari bergulir semakin ke tengah, Irzal mengajak Arsy untuk kembali ke hotel. Kembali mereka harus menyusuri jalan yang cukup jauh sebelum sampai di tempat parkir mobil.


🍁🍁🍁


“Yang.. kita pindah hotel, yuk,” ajak Irzal ketika mereka sudah kembali ke hotel.

__ADS_1


“Emang di sini kenapa, mas?”


“Di sini ngga ada kolam renang private. Kita ke vila aja. Aku udah sewa vila ngga jauh dari sini. Vilanya ngga terlalu besar, tapi ada kolam renangnya. Biar kamu bisa renang juga.”


“Ayo, mas.”


Mereka segera berkemas. Irzal ingin menciptakan nuansa romantis, di mana hanya ada mereka berdua saja. Menghabiskan waktu berdua untuk bersantai, dan menyewa vila adalah pilihan yang baik saat ini. Sambil menggeret koper dan menenteng traveling bag, Irzal keluar dari kamar yang disewanya.


Hanya butuh waktu tiga puluh menit saja untuk mereka sampai di vila yang disewa Irzal. Bangunan memang tidak terlalu besar. Di sana hanya ada satu kamar, satu ruang keluarga berukuran besar, dapur dan halaman belakang yang dilengkapi kolam renang. Selain itu, di bagian depan juga terdapat taman yang ditanami bunga-bunga cantik.


“Vilanya nyaman banget, mas. Aku suka di sini.”


“Kalau mau pesan makanan gampang. Tadi di dekat jalan masuk kan ada restoran Sunda. Kita bisa pesan makanan di sana.”


“Mas mau makan sekarang?”


“Ngga, aku mau berenang. Kamu juga ya. Jangan lupa pakai baju renang yang aku beli buat kamu,” Irzal mengedipkan sebelah matanya.


Pria itu masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Dia keluar hanya mengenakan celana renang saja, lalu segera menuju halaman belakang. Setelah melakukan peregangan, Irzal segera masuk ke dalam air. Sementara Arsy segera mencari pakaian renang yang dimaksud suaminya. Matanya membulat melihat pakaian renang two pieces yang dibelikan Irzal untuknya.


Malu-malu Arsy keluar dari kamar, kemudian menuju halaman belakang. Nampak Irzal sudah masuk ke dalam kolam. Senyumnya mengembang melihat sang istri yang terlihat seksi mengenakan pakaian renang yang dibeli olehnya. Melihat tubuh molek sang istri, tentu saja membangkitkan gairah pria itu.


Perlahan Arsy menuruni tangga yang ada di kolam, kemudian masuk ke dalam air. Dia berenang menghampiri suaminya. Irzal mengajak Arsy berenang mengitari kolam renang berbentuk kotak tersebut. Setelah melakukan dua kali balikan, keduanya beristirahat di sisi kolam. Tangan Irzal meraih pinggang sang istri.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya, Irzal mengajak istrinya mengunjungi Danau Lemona. Danau Lemona sebenarnya adalah tempat makan yang berada di tengah danau. Tempat makan ini menyuguhkan keindahan alam dan juga menyediakan berbagai fasilitas untuk pengunjung yang datang. Makanan yang disajikan tentu saja adalah makanan khas Sunda. Bangunan restoran pun terbuat dari kayu yang benar-benar terkesan alami.


Mata Arsy langsung disambut hamparan danau dengan bangunan di bagian sisinya dan ada jembatan gantung terbentang di tengah danau. Jembatan gantung tersebut merupakan akses bagi pengunjung yang akan menuju restoran.



Selain tempat makan dengan gaya lesehan, di sana juga menyediakan saung sederhana untuk pengujung menikmati makanan.


Keduanya segera menuju jembatan gantung agar bisa sampai ke restoran. Alas jembatan terbuat dari anyaman bambu, dan di kanan dan kirinya terdapat sling yang terbuat dari besi untuk menjaga pelintas jembatan. Pengunjung juga bisa berpegangan ke tali sling jika sedikit takut.



Bentuk jembatan naik ke atas, di bagian tengah terdapat palang-palang kemudian jembatan melandai sampai ke depan restoran. Irzal mempersilahkan Arsy berjalan lebih dulu, dengan dirinya berada di belakang. Dengan begitu dia bisa menjaga sang istri dari belakang.

__ADS_1


Tangan Arsy berpegangan pada sling ketika mulai menapaki jembatan. Jembatan sedikit bergoyang-goyang ketika mereka melintasinya. Sesampainya di tengah, mereka berhenti sebentar untuk mengambil gambar, kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke restoran. Mereka memilih makan di saung yang ada di sana. Untuk sampai ke gazebo, mereka juga harus melintasi jembatan dari bambu. Aneka menu masakan Sunda yang dipesan sebelumnya, sudah tersaji di saung.


Usai menikmati makanan dengan cita rasa lezat, mereka masih berdiam di atas saung sambil menikmati hembusan angin yang menyejukkan badan. Untuk membakar lemak setelah makan, Irzal mengajak Arsy bermain perahu dayung. Mereka menyewa perahu dayung untuk mengelilingi danau dengan luas kurang lebih tiga hektar.


Jika ditanya bagaimana perasaan Arsy, tentu saja dia bahagia. Acara bulan madu yang dirancang suaminya benar-benar terasa indah untuknya. Mereka banyak menghabiskan waktu berdua. Menikmati keindahan alam dan juga menghabiskan quality time berdua serta jangan lupakan kegiatan berbagi peluh untuk mendapatkan keturunan.


Saat ini Arsy dan Irzal sedang berbaring di atas kasur. Hari ini mereka memutuskan menghabiskan waktu di vila. Hanya menikmati kebersamaan berdua saja, tanpa gangguan orang lain. Tubuh keduanya hanya terbalut selimut saja. Mereka baru selesai melakukan ritual suami istri yang panas menggelora.


“Kamu senang, Ar?”


“Senang pake banget. Aku suka acara bulan madu kita. Mas pintar memilih lokasi wisata dan tempat untuk menghabiskan waktu berdua.”


“Semoga saja, kita cepat diberi momongan, ya.”


“Aamiin..”


“Kamu kapan mulai tugas di rumah sakit?”


“Minggu depan, mas. Jadwalku cuma tiga hari aja, dari jam tujuh sampai jam dua belas siang.”


“Kamu mau praktek di Klinik Ramadhan, ngga?”


“Klinik Ramadhan di mana, mas?”


“Di dekat markas keluarga Ramadhan. Awalnya klinik satu tempat dengan markas. Tapi saat yang datang berobat semakin banyak. Bangunan klinik dibangun terpisah. Tapi masih bersebelahan dengan markas.”


“Di sana ada dokter apa aja mas?”


“Dokter umum, spesialis penyakit dalam, dokter gigi dan dokter kandungan. Kita juga sedia satu ruang operasi di sana, kalau ada pasien darurat. Semua gaji dokter berasal dari yayasan Qurota’ayyun. Harga periksa di sana juga terbilang murah, cuma lima puluh ribu, untuk biaya periksa dan obat.”


“Dokter gigi juga, mas?”


“Iya. Kita memang membuat klinik itu khusus untuk orang yang kurang mampu. Biaya operasional klinik dan gaji dokter semuanya ditanggung yayasan, bukan dari pasien.”


“Oh gitu. Kok aku baru tau, ya. Aku mau, mas.”


“Nanti mas bilang ke dokter Rizal. Dia yang bertanggung jawab di sana.”


Arsy hanya menganggukkan kepalanya. Satu tahun lebih menjadi menantu keluarga Ramadhan, ternyata masih banyak yang belum diketahuinya dari keluarga ini. Namun yang pasti keluarga mertuanya pastilah orang yang baik yang memikirkan kepentingan orang banyak, terutama yang kurang mampu. Pantas saja sang kakek sangat ingin cucu-cucunya menikah dengan keluarga Ramadhan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Sekian wisata online hari ini😁


__ADS_2