Hate Is Love

Hate Is Love
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

**Hai.. Hai.. Mamake hadir lagi. Maaf ya, kemarin ngga bisa up karena paksu lagi sakit. Jadi aku mendadak jadi Nina dulu, soalnya mas Abiku sakit🤭


Mudah²an episode kali ini bisa menghapus kerinduan kalian.


HAPPY READING🤗


🍁🍁🍁**


Stella duduk diapit oleh Abi dan Cakra. Di depan mereka duduk kedua orang tua Tamar. Setelah Ridwan berpamitan, rekan Tamar yang lain berdatangan untuk menjenguk pria itu. Mereka juga mengatakan kalau Stella memang calon istri Tamar. Sang pelaku tak bisa menyangkal, selain sudah tersebar luas, dia juga malu harus mengakui kebohongannya terbongkar di depan rekan-rekan Tamar.


Kepala gadis itu tertunduk, sedari tadi mama Tamar tidak mengalihkan pandangan darinya. Wanita itu juga kesal karena sang anak masih belum bangun dari tidurnya. Padahal mulutnya sudah gatal ingin menanyakan kebenarannya. Kalau memang benar, ingin rasanya dia menjewer telinga anaknya itu yang tak mengatakan apapun perihal calon istrinya.


“Pa.. Tamar kapan bangunnya? Siram aja pake air biar cepat bangun,” seru Wida, mama Tamar dengan kesal.


“Astagfirullah, anak lagi sakit malah mau dibanjur. Sabar ma, sabar.”


“Bapak sama ibu tinggal di mana?” Cakra mencoba memecah kecanggungan di antara mereka.


“Di Bogor, pak,” jawab Ahmad, ayah dari Tamar.


“Pasti bapak dan ibu lelah, bagaimana kalau istirahat dulu di lantai atas? Rumah sakit ini menyediakan kamar untuk penunggu pasien,” tawar Cakra.


“Terima kasih, pak. Saya mau nunggu anak saya sadar dulu. Dia harus menjelaskan kenapa tidak mengenalkan calon istrinya pada kami,” Wida melihat pada Stella.


Sebenarnya Wida menyukai Stella. Gadis itu tidak hanya cantik, tapi juga sopan. Hanya saja dia kesal sang anak tidak mengatakan apa-apa padanya. Padahal kalau Tamar mengatakannya, dia dan suaminya akan langsung menyiapkan lamaran untuk gadis itu.


“Maaf ya nak Stella. Tamar itu memang jarang cerita sama kami kalau ada sesuatu. Tapi soal calon istri, ya kebangetan banget tuh anak ngga ngomong apa-apa.”


“Mungkin Tamar nunggu saat yang tepat, ma,” sang suami masih mencoba menenangkan istrinya.


“Kami juga tidak tahu kalau sudah ada kesepakatan antara Tamar dan Stella,” sahut Cakra.


Stella hanya mampu menggigit bibirnya. Kepalanya semakin tertunduk dalam. Dia seperti terjebak dalam permainannya sendiri. Mau kabur dari ruangan pun tak bisa. Terpaksa dia harus tinggal sampai Tamar terbangun dari tidurnya.


Semua yang ada di ruangan langsung menoleh ketika mendekar suara pintu terbuka. Irzal dan Arsy rupanya yang datang. Irzal yang memang mengenal kedua orang tua Tamar langsung menghampiri dan mencium punggung tangan mereka. Dia juga mengenalkan istrinya, Arsy. Setelah itu Irzal mencium punggung tangan Abi dan Cakra lalu mendudukkan diri di sofa yang kosong.


“Istrimu cantik, Bie. Maaf ya, mama sama papa tidak bisa datang saat pernikahanmu.”


“Ngga apa-apa tante.”


“Oh iya, kamu tahu kalau Tamar dan Stella sudah sepakat menikah?”


Irzal dan Arsy saling berpandangan mendengar ucapan Wida. Mata keduanya lalu melihat pada Stella yang hanya bisa melemparkan cengirannya.


“Tahu ngga, Bie?”


“Ehmm.. secara langsung sih Tamar ngga bilang apa-apa, tan. Tapi.. mereka itu sering pergi berdua, Stella juga sering ikut Tamar tugas. Kayanya dia cinta mati sama Tamar.”


Mata Stella spontan melotot melihat pada Irzal. Arsy menundukkan kepalanya, mencoba menahan tawa yang hendak meledak. Abi melihat pada Irzal lalu mengedipkan matanya. Tak di sangka cucu menantunya itu bisa jahil juga.


“Wah.. tante ngga nyangka. Ehmm.. Stella, apa yang kamu suka dari Tamar? Dia itu kan kadang suka nyebelin.”


“Iya, tan. Dia itu emang nyebelin banget. Ada aja omongannya yang bikin aku naik darah.”


Stella mengusap kepalanya yang terkena jitakan Cakra. Pria itu kesal mendengar ucapan cucunya yang tanpa saringan. Wida justru tertawa mendengar apa yang dikatakan Stella. Memang benar, terkadang putranya itu sering membuat orang naik darah. Tak jarang dia juga sering bertengkar dengan adiknya.


“Biar nyebelin tapi kamu nempel terus kan?” goda Irzal


“Ya gitu deh, mas. Benci jadi cinta. Tadi pas Tamar dioperasi juga dia ngga berhenti nangis,” sambung Arsy.


“Mana ada!”


Mata Stella melotot pada sepupunya itu. Memang benar dia tadi menangis saat Tamar menjalani operasi. Tapi itu karena dia cemas dan merasa bersalah. Apa yang terjadi pada Tamar karena menyelamatkan dirinya.


Semua perhatian yang ada di ruangan langsung tertuju pada bed, ketika mendengar suara lenguhan Tamar. Wida segera bangun dari duduknya lalu mendekati bed Tamar. Perlahan mata anaknya itu terbuka. Samar-samar dia bisa melihat wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya.


“Mama..” panggil Tamar pelan.


“Iya, ini mama. Bagaimana keadaanmu?”


Terdengar erangan Tamar ketika merasakan sakit di bagian punggungnya. Irzal yang juga sudah berada di samping bed, menaikkan bed sampai setengah tegak. Dia membenarkan posisi Tamar, agar punggungnya yang terkena tikaman tidak terasa sakit lagi.


“Mama sama papa kapan sampai?”


“Dua jam yang lalu. Kamu kenapa sampai terluka seperti ini?”


“Namanya juga tugas, ma.”


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Cakra.


“Baik, eyang.”

__ADS_1


Mata Tamar tertuju pada Stella yang berdiri di belakang Cakra. Wanita itu tak berani mendekat, bahkan tak berani mengangkat kepala dan melihat padanya. Tamar bingung sendiri melihat reaksi Stella. Apa gadis itu merasa bersalah karena dirinya terluka?


“Tamar, kamu beneran udah ngga apa-apa?” tanya Wida memastikan keadaan anaknya.


“Iya, ma. Lukanya ngga dalam kok. Mama tenang aja.”


“Baguslah kalau keadaanmu sudah membaik. Sekarang mama mau tanya, kenapa kamu ngga bilang sama mama dan papa kalau sudah punya calon istri?”


Rona keterkejutan nampak di wajah Tamar. Pria itu sontak melihat pada Stella, dan gadis itu langsung bersembunyi di punggung Cakra. Dia melihat pada Irzal yang hanya menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Ma.. mama dapet kabar dari siapa?”


“Dari atasan kamu, pak Ridwan. Keterlaluan kamu, punya calon istri ngga bilang-bilang.”


“Aaaaa… aaawwww.. sakit ma..”


Terdengar suara ringisan kesakitan ketika Wida menjewer telinga anaknya cukup kencang. Irzal menutup mulut dengan kepalan tangannya untuk menahan tawa yang hendak meledak.


“Eyang juga kaget, Tam. Kapan kalian jadiannya? Tau-tau dengar kalau sudah jadi calon istri,” Cakra malah mengompori.


“Apa kalian sudah ngebet nikah?” lanjut Abi.


“Ngga!” jawab Tamar dan Stella bersamaan.


“Aduh mama pusing. Disuruh nikah ngga mau tapi udah gembar-gembor kalau kalian itu pasangan pengantin.”


Mata Tamar terus melihat pada Stella. Baru tersadar dari obat bius sehabis keluar dari ruang operasi. Kini kepalanya sudah dibuat pening dengan berondongan pertanyaan seputar hubungannya dengan Stella.


“Stella.. jangan ngumpet. Tanggung jawab kamu,” kesal Tamar.


“Jadi ini sebenarnya bagaimana sih?” tanya Wida yang kebingungan.


Jujur saja, Wida tidak mau mendengar kalau hubungan Tamar dan Stella hanya main-main saja. Selain karena sudah berharap mempunyai menantu, wanita itu juga sudah menyukai Stella. Bukan karena gadis itu berasal dari keluarga terpandang, tapi dia sudah terpincut oleh sikap Stella yang sopan dan apa adanya.


“Tenang dulu, ibu. Bagaimana kalau kita bicarakan ini dengan kepala dingin,” usul Cakra.


“Boleh, pak.”


Cakra menarik tangan Stella, lalu menarik cucunya itu ke depan. Semua mata langsung tertuju pada gadis cantik itu. Stella yang awalnya menunduk, akhirnya berani juga menatap semua orang yang ada di dekatnya.


“Sebelumnya aku mau minta maaf. Sebenarnya aku sengaja ngomong calon istrinya bang Tamar, biar bisa bebas dateng ke kantornya. Aku lagi bantuin bang Tamar buka kasus lama. Iya kan, bang?”


Stella mencoba mencari dukungan dari Tamar, namun pria itu hanya membungkam mulutnya. Gadis itu menyebikkan bibirnya pada Tamar. Kalau tidak ingat pria itu yang sudah menyelamatkan nyawanya, mungkin dia akan berusaha membuka mulut Tamar dengan dongkrak.


“Eyang!” protes Stella dan Tamar bersamaan.


“Udah kompak juga, eyang,” sambar Irzal sambil tersenyum. Tak dipedulikannya tatapan maut Tamar padanya.


“Benar itu. Awalnya mereka dekat karena menangangi kasus bersama. Apa kalian yakin tidak ada sesuatu di antara kalian?” tanya Abi, namun tak ada tanggapan dari Stella maupun Tamar.


“Kalian bisa kompak dan sukses menangani kasus bersama. Masa kalian tidak bisa duet menjalani bahtera rumah tangga bersama.”


Ucapan pelan Abi namun sarat akan makna semakin membuat kedua tersangka tak bisa membuka mulutnya. Tamar hanya mampu memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing. Stella memegangi tangan Arsy, berharap sang sepupu mau menolongnya. Namun wanita itu hanya bergeming saja.


“Setuju pak Abi. Setelah Tamar keluar dari rumah sakit, kami akan langsung melamar Stella.”


“Ma..” protesan Tamar hanya dianggap angin lalu oleh Wida.


“Baiklah kalau begitu masalah sudah selesai. Bapak dan ibu bagaimana kalau beristirahat dulu di lantai atas?” tawar Cakra.


“Om sama tante lebih baik istirahat. Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian,” ujar Irzal.


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Wida dan Ahmad. Keduanya segera keluar dari ruangan mengikuti Irzal dan Arsy. Abi dan Cakra juga langsung pamit pulang. Cakra melarang Stella untuk pergi. Dia harus menemani Tamar. Kini hanya tinggal Stella dan Tamar saja di dalam kamar.


“Gara-gara tindakan ceroboh kamu, lihat kan apa yang terjadi.”


“Yang ember itu atasan kamu. Kenapa juga pake ngomong aku calon istri kamu. Jadi polisi kok gegabah, ngga cek dan ricek dulu main asal tebar berita aja,” sewot Stella.


“Gimana mereka ngga percaya kalau tiap hari kamu ngintilin aku terus?” balas Tamar tak mau kalah.


“Yang penting sekarang kita tinggal pikirin gimana caranya gagalin pernikahan ini.”


“Kamu aja yang mikir. Aku mau tidur!”


Tamar menurunkan bed yang ditidurinya lalu membaringkan tubuhnya kembali. Dia menutup tubuhnya dengan selimut lalu menutup matanya. Stella hanya mendesis kesal melihat kelakuan Tamar. Dia berpindah duduk ke sofa. Sesekali terdengar suaranya meneriakkan kekesalannya.


🌸🌸🌸


“Ay..”


Langkah Dayana yang hendak memasuki lift tertahan ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Senyum merekah di wajahnya begitu melihat pria pujaan hati yang memanggilnya. Bergegas Rafa menghampiri gadis itu.

__ADS_1


“Mau kemana?”


“Mau nengok Tamar.”


“Siapa Tamar?”


“Calonnya Stella, hihihi…”


Dayana tak bisa menahan tawanya jika mengingat apa yang terjadi pada sepupunya itu. Arsy sudah menceritakan padanya apa yang dialami Stella. Gadis itu dipaksa menikah dengan Tamar gara-gara kecerobohannya mengaku sebagai calon istri Tamar. Sepupunya itu seperti tengah melempar boomerang yang kembali menyerang padanya.


“Mas mau ikut nengok Tamar? Masih ada pasien ngga?”


“Ngga kok. Ayo.”


Pintu di lift sebelah terbuka, Dayana menarik tangan Rafa masuk ke dalamnya. Dayana terkejut ketika melihat Nilam sudah berada di dalam kotak besi tersebut. Gadis itu melemparkan senyumnya pada mantan rekannya saat menjadi relawan dulu. Pandangan Nilam langsung tertuju pada tangan Dayana dan Rafa.


Seketika perasaan cemburu langsung menghentaknya. Senyuman Dayana tak direspon apapun oleh wanita itu. Dayana yang tak enak hati bermaksud menarik tangannya, namun Rafa menahannya. Pria tersebut malah menautkan jari jemari mereka dan sengaja berdiri di depan Nilam.


“Kamu cuma bawa bunga aja buat Tamar? Ngga bawa makanan?”


“Kalau aku bawa makanan, nanti dihabisin Stella,” Dayana kembali tertawa.


“Tapi emang harus ya kasih bunga? Kenapa ngga bawa buah aja?”


“Emang kenapa mas? Ini bunga bisa dipajang di kamarnya, biar harum.”


“Ngga apa-apa.”


Rafa mengarahkan pandangannya ke depan. Jujur saja, dia tidak senang melihat Dayana memberikan bunga untuk pria lain, walau tujuannya hanya untuk menjenguk saja. Tak ada pembicaraan lagi di antara keduanya, sampai Nilam keluar di lantai tujuh. Sebelum pintu lift menutup Nilam menolehkan kepalanya lagi. Tangan Rafa dan Dayana masih bergandengan, seakan tak ingin lepas satu sama lain.


Sesampainya di lantai 11, keduanya keluar dari lift dan menuju ke ruangan di mana Tamar dirawat. Stella menyambut gembira kedatangan sepupunya. Dia yang sedang membantu Tamar makan, langsung meninggalkan bed dan menyambut Dayana.


“Mas, kenalin ini Stella, sepupuku. Dan ini bang Tamar, calonnya Stella.”


“Jangan mulai deh, Ay..” protes Stella.


“Cepet amat gosipnya nyebar,” gerutu Tamar.


“Maklum keluarga kita keturunan lambe turah, hahaha..” Dayana tertawa mendengar ucapannya sendiri.


“Nih bunga biar nih kamar tambah wangi,” lanjut Dayana seraya memberikan bunga di tangannya.


“Lo ngga bawa makanan?” tanya Stella.


“Ngapain bawa makanan? Bang Tamar pasti dapet makanan dari rumah sakit.”


“Ya buat gue!”


“Beli aja sendiri. Bisa bangkrut gue kalau beliin lo makanan.”


“Bhuahahaha…”


Tawa Tamar meledak mendengarnya. Pria itu sampai meringis ketika luka di punggungnya kembali terasa nyeri akibat dirinya terlalu keras tertawa. Rafa juga tidak bisa menahan senyumnya.


“Cepat sembuh ya, bang Tamar. Ayo mas, kita pulang. Kasihan calon pengantin kalau kita gangguin terus.”


“Aya!!”


Dayana tak mempedulikan teriakan protes sepupunya. Gadis itu langsung menarik keluar Rafa dari ruang perawatan VIP tersebut. Tawa masih belum lepas dari Dayana. Dia senang sekali mengganggu sepupunya itu.


“Mau ke ruanganku dulu? Habis itu kita pulang bareng.”


“Boleh, mas.”


Rafa kembali menggandeng tangan Dayana lalu masuk ke dalam lift. Perawat yang ada di lantai 11 cukup terkejut melihat kedekatan Rafa dengan Dayana. Setahu mereka, selama ini Rafa menutup diri dari wanita manapun. Namun ternyata sekarang ada wanita muda yang berhasil meraih hatinya.


Rafa membukakan pintu Dayana dan mempersilahkannya masuk. Dia meminta Dayana menunggu di sofa, sementara dirinya menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu. Sambil menunggu Rafa selesai bekerja, Dayana mengambil ponselnya dan asik bermain game.


Selesai dengan pekerjaannya, Rafa bangun dari duduknya kemudian menghampiri Dayana. Gadis itu segera menghentikan permainannya, dan mulai fokus pada Rafa. Sepertinya ada hal serius yang ingin dikatakan pria tersebut.


“Ay..”


“Kenapa mas?”


“Kamu.. ada niatan menikah muda?”


🍁🍁🍁


**Eaaa... Kira² jawaban Aya apa ya???


Stella... Soookooorr mau dinikahin kan. Lagian ngintilin Tamar mulu🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan ngarep double up ya. Minggu ini aku lagi sibuk. Keluargaku mau ada hajat, adik ipar mau nikah😉**


__ADS_2