Hate Is Love

Hate Is Love
Kangen


__ADS_3

Dengan langkah lunglai Rakan memasuki rumahnya. Hari ini jadwal kerjanya benar-benar padat. Dia harus berpindah dari satu meeting ke meeting lainnya. Belum lagi, Dwi, orang kepercayaan yang mengurus perusahaan di Jakarta mengabarkann jika ada masalah dengan perusahaan tersebut. Rakan harus berangkat ke Jakarta dan membereskan masalah secepatnya.


Saat memasuki ruang tengah, dilihatnya kedua orang tuanya sedang berada di sana. Mereka tengah menonton siaran televisi. Pria itu memilih menemui kedua orang tuanya sebelum masuk ke kamar. Rakan mendaratkan bokongnya di samping sang mama lalu memeluknya.


“Kenapa, sayang? Capek banget kamu kayanya,” ujar Ayunda seraya mengusap puncak kepala anaknya.


“Banget, ma.”


“Pak Dwi telepon papa, katanya ada masalah di Jakarta,” sela Reyhan.


“Iya, pa. Ada masalah dengan perusahaan di sana. Besok aku harus ke Jakarta.”


“Mau papa yang berangkat ke sana?”


“Ngga usah, pa. Biar aku aja. Habis dari sana aku mau ke Singapura, ketemu om Gemma. Aku mau ajak kerjasama soal distribusi barang di sana.”


“Hmm.. baguslah. Tapi ingat, jangan terlalu capek. Tetap jaga kesehatan.”


“Iya, pa.”


Reyhan melemparkan senyumnya melihat anak sulungnya yang masih bermanja pada istrinya walau usianya kini sudah memasuki 28 tahun. Dia selalu seperti itu jika ada hal yang mengganggu pikirannya.


“Oh iya, soal melamar Ila bagaimana?”


“Ditunda dulu, pa.”


“Karena masalah pekerjaan?”


“Bukan.”


Rakan menegakkan tubuhnya dan mulai berbicara serius dengan kedua orang tuanya. Sejak Vanila menemuinya, dia belum sempat berbicara dengan Reyhan dan Ayunda kalau gadis itu memintanya menunda niatnya melamar.


“Ila minta aku menundanya. Katanya dia belum siap.”


“Belum siap?” Ayunda menatap anaknya bingung.


“Iya, ma. Sepertinya aku yang terlalu cepat mengambil langkah atau bisa jadi aku yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Melihat sikapnya padaku, aku menyangka kalau dia memiliki perasaan yang sama sepertiku. Tapi sepertinya dia masih membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri. Salahku yang terlalu cepat berjalan karena ingin cepat mengakhiri masa sendiriku. Dan sekarang aku akan menurunkan kecepatan dan membiarkan dia menyusulku. Kalau memang kami berjodoh, kami pasti akan bersama. Tapi kalau tidak, sepertinya aku harus menunggu perempuan lain yang menarik hatiku.”


Terdengar tawa kecil Rakan setelahnya. Ayunda memandangi anaknya ini dengan perasaan tak menentu. Kebahagiaan yang sempat dilihatnya di wajah sang anak beberapa waktu belakangan ini, sekarang sudah tak terlihat lagi. Wanita itu segera memeluk Rakan, mencoba memberi dukungan lewat pelukannya.


“Apa kamu mencintainya?” tanya Reyhan.


“Hmm.. iya, pa. Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya. Dia dan semua sifat uniknya selalu bisa membuatku tertawa. Tapi sepertinya dia tidak merasakan apa yang kurasakan. Entahlah, pa.”


“Apa kamu menyerah begitu saja?”


“Menurut papa aku harus menyerah?”


“Jangan. Kamu harus terus maju. Sampai dia bilang dengan mulutnya sendiri kalau dia tidak mencintaimu dan memintamu pergi, baru kamu boleh menyerah. Tapi sebelum itu, jangan pernah berpikir untuk melepaskannya. Dia adalah kebahagiaanmu, maka kamu harus memperjuangkannya. Mengerti?”


“Siap, dokter!”


Tawa Reyhan pecah mendengar ucapan anaknya. Semangat Rakan yang sempat padam mendengar penundaan lamaran yang diminta Vanila, kembali berkobar. Selesai membereskan masalah perusahaan di Jakarta, dia akan kembali mengejar Vanila. Meyakinkan gadis itu agar mau menerima cintanya.


“Aku ke kamar dulu, ma, pa.”


“Iya.”


Rakan mengangkat tubuhnya, kemudian berjalan menuju lantai dua menuju kamarnya. Mata Reyhan dan Ayunda terus mengikuti pergerakan anaknya. Sejak ditinggal pergi Shafa, baru kali ini mereka melihat Rakan menyukai seorang gadis. Mereka sungguh berharap Vanila bisa menjadi jodoh Rakan. Berharap gadis itu bisa mengembalikan kebahagiaan anak sulungnya yang sempat hilang.

__ADS_1


“Menurutmu, apa Rakan bisa menaklukkan Vanila?” Reyhan melihat pada Ayunda.


“Harus bisa. Dia adalah anak kita. Dalam darahnya mengalir darahmu, mas. Dulu saja kamu tidak pantang menyerah mengejarku. Aku yakin dia akan bisa mendapatkan Vanila. Aku akan membantunya dengan doa.”


Senyum Reyhan mengembang mendengar ucapan sang istri. Tangannya meraih bahu Ayunda dan menariknya ke dalam pelukannya. Ayunda melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami. Pria pilihannya yang sudah memberinya tiga orang anak lelaki. Kisah cinta mereka yang tak mudah dan penuh dengan konflik hati berakhir dengan kebahagiaan.


🍁🍁🍁


Walau tidak didampingi Rakan, Vanila terus menjalani pelajaran memasaknya bersama dengan Gibran. Hari ini dia diberi kejutan karena Gavin ikut bergabung bersama dengan adiknya. Gadis itu ditantang membuat menu fusion. Tentu saja Vanila dibuat menggaruk-garuk kepalanya mendengar tantangan dari Gavin.


Menu fusion adalah penggabungan bahan makanan, bentuk dan teknik pengolahan dari dua atau beberapa jenis masakan berbeda hingga menjadi menu baru. Gavin menantang Vanila membuat menu fusion gabungan western dan Asian food. Dia diberi waktu setengah jam untuk memikirkan menu yang akan dibuatnya.


Vanila membuka ponselnya, mencari menu-menu fusion yang kira-kira bisa dibuatnya. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat mie ala chinese tapi menggunakan pasta sebagai bahan pengganti mie. Dengan cepat dia mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan olehnya.


Gavin dan Gibran duduk mengawasi apa yang dilakukan oleh gadis itu. Gavin cukup terkesan melihat cara Vanila mengiris bawang dan bahan lainnya. Sepertinya sang adik sudah memberikan cukup banyak pelajaran pada gadis itu.


“Kira-kira dia mau buat apa?” tanya Gavin pada Gibran.


“Kayanya sih mau buat mie tapi pake pasta buat bahan pengganti mienya.”


“Hmm.. kayanya begitu.”


Gavin dan Gibran terus memperhatikan apa yang dilakukan Vanila tanpa ada keinginan untuk ikut campur. Mereka membebaskan gadis itu berkreasi sesuai imajinasinya sendiri. Diperhatikan begitu intens oleh dua chef favoritnya tak ayal membuat Vanila gugup. Dia seperti tengah mengikuti kontes memasak dengan kedua chef tersebut yang menjadi jurinya.


Setelah merebus spaghetti, Vanila segera meniriskannya. Tak lupa dia memberi minyak agar pasta tersebut tidak lengket. Kemudian gadis tersebut segera membuat bumbu untuk pasta tersebut. Dia memasukkan bawang putih dan jahe cincang, irisan cabe merah dan cabe rawit merah dan terakhir memasukkan irisan daging ayam yang sudah diiris kotak-kotak.


Beberapa bumbu dimasukkan ke dalam wajan, tak lupa dia menambahkan perasa nipis dan kecap asin sebagai pengganti angciu. Setelah diberi sedikit air, dia memasukkan pokchoy dan memberi saos tiram. Setelah mengoreksi rasa, barulah dia memasukkan spaghetti ke dalam wajan. Setelah mengaduk-aduk sebentar, Vanila menaruh hasil masakannya ke dalam tiga piring.


Vanila menaruh piring berisi pasta yang dikombinasikan dengan bumbu chinese buatannya. Tak lupa dia menghiasi spaghetti dengan daun piterseli agar tampilannya lebih cantik. Gibran tersenyum puas melihat hasil karya anak didiknya. Bersama dengan Gavin, dia mencicipi masakan tersebut.


“Ehmm.. secara keseluruhan masakanmu enak. Kamu hanya harus lebih berani lagi dalam memberi bumbu,” ujar Gavin.


“Iya, chef.”


“Iya, chef.”


“Ambil makananmu, ayo kita makan bersama. Untuk sebuah tantangan dadakan, hasilnya sudah cukup baik,” puji Gavin.


Senyum di wajah Vanila mengembang. Dia sangat senang mendengar pujian dari Gavin. Setahunya chef tersebut jarang sekali memuji orang. Dia kerap mengeluarkan komentar pedas jika mencicipi hidangan yang tidak pas dengan lidahnya. Dan kali ini Vanila merasa beruntung bisa terhindar dari mulut pedas Gavin.


Dengan bersemangat Vanila mencicipi spaghetti buatannya. Rasanya sudah cukup enak, namun seperti yang Gibran katanya, ada sedikit asam karena perasa jeruk nipisnya yang sedikit berlebih. Tapi setidaknya hasil karyanya masih bisa dinikmati dan tidak membuat orang yang memakannya sakit perut.


Sambil makan, Vanila memandangi wajah Gavin dan Gibran bergantian. Wajah keduanya begitu mirip dan keduanya memang lebih banyak mengambil wajah Dimas, dibanding Ily. Di sela-sela acara makan mereka, Vanila merasa ada yang kurang. Ketidakhadiran Rakan membuatnya seperti ada yang kurang. Biasanya pria itu selalu datang untuk mencicipi masakan buatannya.


“Rakan masih di Jakarta?” tanya Gavin pada Gibran.


“Ehmm… tapi kata bang Gemma, besok dia ke Singapura kamu ketemu abang di sana. Katanya dia mau kerjasama dengan Orchid Company soal distribusi barang di sana.”


“Masalah di Jakartanya sudah beres?”


“Setahuku sudah. Kasihan dia pasti capek membereskan masalah perusahaan seorang diri. Aqeel dan Daffa sibuk dengan tugasnya di rumah sakit.”


“Itu sudah resiko. Tapi abang yakin Rakan pasti mampu.”


Percapakan Gavin dan Gibran tertangkap oleh Vanila. Gadis itu baru tahu kalau Rakan sedang berada di Jakarta. Pantas saja pria itu tidak pernah menemuinya akhir-akhir ini. Jangankan menemuinya, berkirim pesan juga tidak. Awalnya Vanila mengira Rakan marah dan berusaha menghindarinya. Namun ternyata pria itu tengah disibukkan dengan pekerjaannya.


“Apa Rakan ada menghubungimu?” tanya Gibran pada Vanila.


“Eh.. ng.. ngga, chef.”

__ADS_1


“Anak itu kalau sudah sibuk dengan pekerjaannya, pasti lupa orang-orang di sekelilingnya. Coba kamu aja yang hubungi dia. Jangan lupa minta oleh-oleh. Dia besok ke Singapura.”


Vanilla hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar ucapan Gibran. Mungkin nanti malam dia akan coba menghubungi Rakan. Beberapa hari tidak bertemu, rasanya kangen juga ingin mendengar suara pria itu. Vanila rindu melihat senyum pria itu dan usakan di kepalanya. Hal yang selalu Rakan lakukan padanya.


🍁🍁🍁


Vanila melepaskan mukena yang membalut tubuhnya. Selesai menunaikan shalat isya, gadis itu melanjutkannya dengan shalat istikharah, memohon petunjuk pada Allah SWT atas kembimbangan yang melandanya sekarang. Dia mengadukan keluh kesahnya tentang Rakan. Apakah pria itu adalah jodoh yang tepat untuknya.


Usai melipat alat shalatnya, Vanila naik ke atas ranjang sambil mengambil ponselnya. cukup lama dia memandangi benda pipih persegi di tangannya. Sudah beberapa hari tak ada pesan masuk dari Rakan untuknya. Vanila benar-benar kesal pada pria itu. Karena dia menunda lamaran Rakan, kakak dari Daffa itu sama sekali tidak menghubunginya sejak hari itu.


“Bang Rakan berarti ngga benar-benar serius sama gue. Baru gue bilang gitu aja langsung ngilang ngga kasih kabar. Nyebelin, katanya mau jadi suami aku, tapi belum nikah aja udah pergi tanpa kabar udah kaya bang Toyib,” gumam Vanila kesal mengeluarkan keluh kesahnya yang tak dihubungi Rakan.


Hampir saja ponsel di tangannya terlepas ketika ada pesan masuk ke ponselnya. Matanya berbinar ketika melihat Rakan yang mengirimkan pesan. Sepertinya kelutusannya tadi sampai ke telinga pria itu. senyum terbit di wajahnya ketika Rakan mengirimkan gambar boneka dengan caption kamu suka? di bawahnya. Dengan cepat dia membalas pesan Rakan.


To Bang Rakan :


Bonekanya lucu. Aku suka.


From Bang Rakan :


Ok.. itu oleh-oleh buat kamu.


To Bang Rakan :


Abang di mana sekarang?


From Bang Rakan :


Di Singapura


To Bang Rakan :


Kapan pulangnya?


From Bang Rakan :


Lusa mungkin


To Bang Rakan :


Ok, bang. Jangan lupa makan, istirahat dan minum vitamin


From Bang Rakan :


Ok, calis sayang


To Bang Rakan :


Calis apaan?


From Bang Rakan :


Calon Istri


Semburat merah langsung menghiasi wajah Vanila membaca pesan yang dikirimkan Rakan. Hatinya yang tadi gundah gulana tak menentu langsung berseri begitu membaca singkatan Rakan untuknya. Setelah beberapa kali membahas pesan, akhirnya keduanya mengakhiri kegiatannya.


Vanila menaruh ponsel ke atas nakas lalu membaringkan dirinya. Hatinya benar-benar senang mendapatkan kabar dari Rakan. Sekarang gadis itu sudah bisa tidur dengan tenang setelah empat hari tidak mendengar kabar dari Rakan. Dia juga berharap lusa segera tiba, dan dirinya bisa bertemu dengan Rakan secepatnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Vanila udah kangen berat sama calsu😁


__ADS_2