Hate Is Love

Hate Is Love
Keluarga Bahagia #1


__ADS_3

Hari yang dinanti Geya akhirnya tiba. Satu bulan setelah sidang skripsinya, wanita itu akhirnya akan diwisuda. Sebenarnya wisuda hanyalah sebuah seremonial yang menandakan kelulusan seorang mahasiswa. Namun tetap saja momen tersebut menjadi sebuah kebanggaan dan kenangan indah bagi siapa saja yang melakukannya.


Bersama dengan sang suami, Geya menuju kampusnya. Tubuh wanita itu terbalut kebaya berwarna biru muda, rambutnya disanggul sederhana dengan make up tipis yang tetap memancarkan kecantikannya. Kebaya miliknya kini tertutup oleh toga yang didominasi warna hitam.


Daffa membenarkan topi toga yang dikenakan istrinya. Keduanya kemudian melangkah menuju aula, di mana acara wisuda dilangsungkan. Di depan aula, nampak Kenan dan Zahra sudah menunggu. Daffa melepaskan istrinya masuk ke dalam aula bersama mertuanya, sedang dirinya akan menunggu di luar. Melihat jalannya wisuda melalui layar lebar yang terpasang di depan aula.


Bersama dengan keluarga wisudawan yang lain, Daffa menunggu sambil mendudukkan diri di kursi yang sudah disediakan. Wisudawan memang hanya diberi jatah dua undangan saja yang dapat hadir menyaksikan acara tersebut. Sebenarnya lewat bantuan papanya, bisa saja Geya mendapatkan undangan lebih, namun Daffa melarangnya. Suaminya itu memilih menunggu di luar saja.


Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, akhirnya acara wisuda selesai. Kenan cukup puas dengan hasil yang dicapai anaknya. Nilai Geya naik pesat setelah wanita itu menikah. Sepertinya keputusannya menikahkan Geya dan Daffa lebih dulu memang tepat. Bersama kedua orang tuanya, Geya keluar dari gedung aula. Matanya mencari keberadaan suaminya.


Dia terkejut ketika sebuah tangan menyodorkan buket bunga cantik ke depannya. Sang pemberi bunga tentu saja Daffa. Senyum mengembang di wajah Geya. Dia menerima bunga pemberian Daffa kemudian memeluk suaminya itu.


“Selamat ya, sayang.”


“Makasih, bang.”


“Ayo kita foto-foto dulu,” ajak Kenan.


Keempatnya segera berjalan menuju salah satu booth foto yang ada di sana. Mula-mula Geya berfoto sendiri dengan memegang bunga dan piagam kelulusan. Kemudian dia berfoto dengan kedua orang tuanya, berfoto dengan suaminya dan terakhir berfoto bersama suami dan kedua orang tuanya.


“Nanti malam jangan lupa ajak orang tuamu ke rumah. Kita makan bersama untuk merayakan kelulusan Geya,” ujar Kenan.


“Iya, pa.”


Ajang makan malam ini mungkin akan menjadi ajang pembicaraan kedua keluarga tentang resepsi. Tiga hari setelah wisuda, resepsi pernikahan Daffa dan Geya akan digelar. Sebenarnya pasangan itu sudah tidak berminat melangsungkan resepsi. Namun mereka akhirnya menyetujui demi memenuhi keinginan Kenan. Biar bagaimana pun juga, Geya adalah anak perempuan satu-satunya. Tentu saja dia ingin memberikan pesta pernikahan meriah untuk putri semata wayangnya.


🍁🍁🍁


Kenan yang sejak menikah memang masih tinggal di kediaman Abi, menyelenggarakan makan malam di halaman belakang. Makan malam kali ini tidak hanya dihadiri dua keluarga saja, Kenan dan Reyhan. Tentu saja Abi dan Dharmawan ikut hadir. Geya adalah cucu mereka berdua. Dharmawan datang bersama dengan Nita.


Sambil makan malam, mereka membicarakan banyak hal. Mengenang masa lalu lebih banyaknya. Abi dan Dharmawan terus tertawa setiap mengingat peristiwa di masa lalu. Bagaimana Dharmawan yang terlihat bahagia akan mendapatkan anak dari Nita, saat wanita itu muntah-muntah. Namun ternyata itu karena masuk angin saja.


Begitu juga Abi yang mengenang saat Kenan pura-pura koma setelah diserang beberapa preman. Nina juga tidak bisa menahan tawanya saat mengetahui kalau itu semua hanya akal-akalan Kenzie dan Kenan. Dia bahkan sampai menghukum Abi. Dan di sana juga terjadi pertemuan pertama antara Kenan dan Zahra.


“Zahra.. kamu ingat ngga, pas kamu nyuntik Kenan gara-gara dia bikin gaduh di IGD?” Abi melihat pada menantunya.


“Ya ampun, pa. Tolong jangan diingat lagi. Malu tahu,” ujar Kenan.


“Biar anak-anakmu tahu, gimana kelakuan bapaknya, hahaha…”


“Beneran kek? Papa pernah disuntik obat bius sama mama?” tanya Gilang tak percaya.


“Iya, benar,” jawab Zahra sambil tertawa.


“Kalian harus contoh papa yang pantang menyerah mengejar wanita yang dicintai. Buktinya, mama kalian klepek-klepek sama papa.”


“Ternyata kelakuan Ge nurun dari papa,” celetuk Sam.


“Iya, untung Daffanya sabar. Hahaha…” sambung Abi.


Geya hanya memajukan bibirnya saja, tanda protes pada kakeknya. Daffa mengusak puncak kepala istrinya. Reyhan dan Ayunda tak bisa menahan tawanya mendengar kisah konyol keluarga ini.


“Kalau Rey kayanya ngga ada kendala ya waktu pedekate sama Yunda,” ujar Abi.


“Kata siapa, om? Tiga tahun cinta sendiri, pas udah nyatain perasaan dighosting juga. Perjuangan banget pokoknya, om. kalau dibuat novel pasti bagus, hahaha..”


Ayunda mencubit lengan suaminya ini. Kisah cinta segitiga dirinya bersama dengan Reyhan dan Firlan memang sangat menguras emosi. Karena keteledoran dan kebimbangannya, dia hampir saja kehilangan pria yang begitu mencintainya. Reyhan meraih tangan Ayunda, kemudian mencium punggung tangannya.


“Papa dan mama kena cinta segitiga, kek. Kalau dibuat novel judulnya pasti Bizzare Love Triangle, hahaha..” seru Daffa.


“Saingan papamu siapa emangnya?”


“Papa Ilan.”


“Wah berat juga ya, hahaha..”

__ADS_1


“Yunda kan emang cantik, pantas aja jadi rebutan,” pungkas Nina.


Suasana di meja makan semakin meriah saja dengan perbincangan mereka. Daffa mengajak Geya ke rumah pohon setelah makan malam mereka berakhir. Pria itu menggandeng tangan istrinya menapaki anak tangga untuk sampai ke atas. Dipeluknya sang istri dari belakang.


“Sayang.. apa kamu siap berangkat ke Boston?”


“In Syaa Allah, bang.”


“Kamu pasti sedih harus ninggalin keluarga di sini.”


“Bohong kalau aku bilang ngga sedih. Tapi aku kan harus ikut kemana suamiku membawaku pergi. Aku pasti bakalan kangen banget sama papa Nan, mama Zahra, papa Rey, mama Yunda, kakek Abi, nenek Nina, kakek Dharma, nenek Nita, bang Sam, Gilang, bang Rakan, bang Aqeel, kak Ila, kak Iza, keponakanku dan yang lainnya. Tapi aku rasa itu semua sepadan dengan hasil yang akan abang capai nantinya. Dan aku ingin menjadi bagian dari kesuksesan yang abang capai.”


“Aamiin.. makasih, sayang. Dukungan kamu yang paling abang butuhkan saat ini. I love you.”


“I love you too, bang.”


“Nanti di sana kamu mau kuliah lagi atau apa?”


“Ehmm.. apa ya. Nanti aja lihat sikon di sana, bang. Lingkungan tempat kita tinggal aman kan?”


“In Syaa Allah aman. Banyak orang kita juga di sana, warga di sekitar tempat kita tinggal banyak yang muslim juga. Kamu ngga akan kesepian pokoknya.”


“Abang pasti udah siapin semuanya ya.”


“Iya. Aku minta bantuan om Ilan buat siapin itu semua.”


“Makasih ya, abang.”


Geya berjinjit kemudian mendaratkan bibirnya di bibir suaminya. Daffa menahan tengkuk sang istri untuk membalas ciumannya. Tanpa sengaja Gilang dan Sam melihat ke arah atas. Terdengar decakan Gilang ketika harus melihat pemandangan yang merusak jiwa jomblonya.


“Bang.. belum kepengen kaya kak Geya?” tanya Gilang pada Sam.


“Pengen apa?”


“Itu perang bibir. Tapi jangan deh, belum ada lawan. Bakalan lama juga dapet lawannya, hahaha…”


Daffa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol kedua iparnya. Ditariknya bahu Geya ke dalam pelukannya, lalu mendaratkan ciuman di kening wanita itu. Tawa mereka pecah melihat Sam dan Gilang yang masih bergulat.


🍁🍁🍁


Lampu di kediaman Stella mulai menyala, tanda hari sudah mulai berganti malam. Baru sebulan yang lalu, Tamar dan Stella pindah ke rumah baru. Mereka membeli rumah di sebuah town house. Rumah bergaya minimalis yang menjadi pilihan mereka. Di rumah barunya ini, Tamar juga mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantu istrinya.


Sambil menggendong Aditya, Stella masuk ke dalam kamar. diletakkan sang anak di atas kasur, sedang wanita itu langsung menunaikan ibadah shalat maghrib. Usai shalat dan berdoa, dia segera melipat mukena dan sajadah yang tadi dipakainya. Stella mempercepat pekerjaannya ketika tiba-tiba Aditya menangis. Dengan cepat dia menghampiri sang anak.


“Kenapa sayang?”


Aditya masih menangis. Matanya menatap ke sudut ruangan, dia terlihat takut dan langsung memeluk Stella sambil tidak berhenti menangis. Jantung Stella berdebar tak karuan. Dia takut sang anak melihat makhluk astral. Digendongnya Aditya, dan bibirnya tidak berhenti melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.


Di bagian depan rumah, nampak Suzy berdiri memandangi kediaman baru Stella. Dia baru tahu kalau sahabatnya sudah pindah rumah. Wanita itu segera masuk ke dalam rumah tersebut. Telinganya menangkap suara Aditya yang tengah menangis. Bergegas Suzy menuju kamar Stella.


Tangis Aditya tidak berhenti dan semakin kencang saja. Asisten rumah tangga yang berusaha menenangkan anak itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Suzy mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Kemudian matanya menangkap sosok makhluk bertubuh besar dengan kepala botak plus wajah menyeramkan terus melihat pada Aditya. Melihat itu, Suzy segera mendekati makhluk tersebut.


“Berhenti ganggu anak itu!!” hardik Suzy.


“Apa urusanmu, hah!”


“Anak itu berada dalam penjagaanku. Kalau kamu terus mengganggunya, kamu akan berhadapan denganku!!”


Penampakan Suzy berubah ke wujud aslinya. Kemarahan nampak jelas di wajah jin wanita itu. Ditariknya kepala jin yang mengganggu Aditya, lalu dibenturkan ke tembok. Usia Suzy yang lebih tua dari jin tersebut tentu saja membuatnya memiliki tenaga dan kekuatan yang lebih besar. Akhirnya jin tersebut pergi, karena tak sanggup berhadapan dengan Suzy. Setelah pengganggu itu pergi, Suzy kembali merubah penampilannya seperti biasa, lalu mendekati Aditya.


“Anak manis jangan takut. Ada onty yang jaga kamu. Jangan nangis sayang.”


Tangis Aditya berhenti setelah melihat makhluk yang tadi mengganggunya sudah pergi. Tangis anak itu berubah menjadi tawa, ketika Suzy menunjukkan mimik lucu padanya. Tentu saja itu membuat Stella dan asisten rumah tangganya bingung. Suzy melihat pada wanita bertubuh gemuk di samping Stella. Wanita itu memiliki aura yang bisa dimasukinya. Dengan cepat Suzy merasuki tubuh wanita itu.


“Stel..”

__ADS_1


Tentu saja Stella terkejut mendengar asisten rumah tangganya memanggil hanya nama saja. Dia melihat ke arah wanita itu dengan tatapan bingung. Istri dari Tamar itu bertambah bingung ketika asisten rumah tangganya memeluknya.


“Stella.. ini gue Suzy. Sumpah gue kangen banget sama elo.”


“Suzy..”


“Iya.”


“Jadi elo yang tadi ganggu anak gue?”


“Ish enak aja. Gue yang nolong anak elo. Dia diganggu jin penunggu rumah ini. Tapi tenang aja, udah gue usir.”


“Kalau dia balik lagi gimana?”


“Tenang aja. Ada gue yang jaga.”


“Lo pindah ke sini? Terus gebetan lo gimana?”


“Johan udah nikah. Gue lagi cari gebetan baru. Dan udah nemu dong.”


“Siapa?”


“Tuh penjaga rumah depan rumah lo. Ganteng banget, masih muda, badannya tegap juga.”


“Dasar mata keranjang.”


“Bodo. Pokoknya mulai malam ini, gue tinggal di sini. Tapi jangan kasih Tamar, tar gue diusir sama dia. Laki lo kan kadang nyeremin.”


“Iya.. iya.. tapi lo keluar dari bi Sumi. Kasihan badannya pasti lemes lo masukin.”


“Oke deh.”


Dengan cepat Suzy keluar dari tubuh Sumi. Wanita itu langsung jatuh terduduk di lantai. Stella segera membantu asisten rumah tangganya untuk berdiri.


“Bibi ngga apa-apa?”


“Badan bibi tiba-tiba lemas, neng.”


“Bibi kecapean kali. Istirahata aja, bi. Adit udah tenang kok.”


Sumi hanya menganggukkan kepalanya. Dia segera keluar dari kamar majikannya seraya mengusap tengkuknya yang terasa berat. Dari arah luar terdengar suara mobil berhenti. Dengan Aditya berada dalam gendongannya, Stella segera menyambut kepulangan suaminya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dengan takzim Stella mencium punggung tangan suaminya. Tamar mencium kening istrinya dan sang anak bergatian, kemudian membawa mereka masuk ke kamar. Dia meletakkan kunci mobil di atas nakas, lalu membuka pakaiannya. Disambarnya handuk yang ada di belakang pintu, kemudian masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, pria itu sudah selesai dengan ritual mandinya. Tubuhnya sudah terbungkus kaos dan celana jogger. Dia lalu menghampiri istrinya yang tengah menidurkan anaknya di kasur.


“Adit rewel ngga, sayang?” tanya Tamar.


“Tadi dia nangis, tapi ngga lama sih. Mungkin masih adaptasi sama rumah baru.”


“Syukurlah. Kamu betah di sini?”


“Betah, bang. Tetangganya juga baik-baik.”


“Abang tenang ninggalin kamu dan Adit di rumah kalau gitu.”


“Mas makannya nunggu Adit tidur dulu, ya.”


“Iya.”


Tamar meraih wajah istrinya, kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Pemandangan mesra itu disaksikan Suzy yang masih berada di dalam kamar. Setelahnya, jin wanita itu keluar dari kamar. Dia berdiri di depan teras rumah Stella. Matanya terus memperhatikan penjaga rumah di depan rumah Stella yang tengah berbincang dengan satpam kompleks. Di sini dia bisa melakukan dua hal sekaligus, menjaga rumah sahabatnya dan berdekatan dengan gebetannya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Siapa yang kangen Suzy🙋


__ADS_2