Hate Is Love

Hate Is Love
Suntikan Sang Dokter


__ADS_3

Sebuah pelaminan dengan nuansa putih langsung tertangkap mata pasangan pengantin begitu mereka memasuki area ballroom.



Bersama kedua orang tua, mereka menaiki panggung pelaminan. Panitia yang bertugas segera memberi tahu di mana pasangan orang tua harus berada.


Setelah semua siap, salah seorang memberi tanda, dan pintu utama menuju ballroom terbuka. Para tamu undangan yang sudah datang mulai memasuki tempat resepsi. Mereka segera menuju panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin.


Keluarga besar Rafa, rekan kerjanya dan teman-teman di masa sekolah, termasuk teman-teman mendiang istrinya datang untuk memberikan selamat. Mereka turut berbahagia mengetahui Rafa sudah melepas masa dudanya bersama seorang gadis cantik keturunan salah satu keluarga konglomerat.


Teman-teman Dayana juga turut datang menghadiri acara penting gadis itu, termasuk teman-temannya yang bertugas menjadi relawan dahulu. Yang membuatnya terkejut adalah kedatangan Amran. Diam-diam Ravin mengirimkan tiket untuk Amran dan istri untuk datang ke Bandung. Bersama dengan pria itu juga datang beberapa murid Dayana dahulu. Semua tiket dan akomodasi untuk Amran dan muridnya ditanggung oleh keluarga Dayana.


Dengan membawa istri dan lima orang murid yang datang bersamanya, Amran naik ke atas panggung. Dayana begitu terharu melihat kelima anak didiknya itu. Mereka segera menghambur ke arah Dayana.


“Miss Ayaaa!!”


Dayana membuka lebar kedua tangannya demi menyambut kelima muridnya. Matanya sampai berkaca-kaca melihat anak-anak itu. Dia memang berencana akan mengunjungi mereka lagi, namun tak menyangka kalau keluarganya akan mendatangkan mereka untuknya.


“Kalian kapan sampai di sini?”


“Kemarin, miss. Kita kangen miss Aya.”


“Aku juga kangen kalian.”


Satu per satu Dayana mendaratkan ciuman di puncak kepala kelima muridnya. Amran dan istri hanya terdiam melihat besarnya kasih sayang Dayana pada anak muridnya. Sambil memeluk kelima muridnya, Dayana melihat pada Amran.


“Amran, makasih sudah mau datang dan makasih sudah mau membawa mereka.”


“Sama-sama, Ay. Papamu yang sudah menyediakan semuanya untuk kami.”


“Papa..”


Dayana menolehkan kepalanya pada Ravin. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Melihat sang anak yang begitu bahagia melihat kedatangan muridnya, tak ayal membuat Ravin juga bahagia.


“Miss Aya, selamat untuk pernikahannya," ujar salah satu murid. Kemudian dia memberikan komando pada yang lain. Serempak kelima murid tersebut berbaris di depan Dayana dan Rafa.


“Congratulations miss Aya and mr. Rafa. Happy wedding day. We wish you all the best.”


“Thank you..”


Dayana semakin terharu mendengar kelima muridnya mengucapkan selamat menggunakan bahasa Inggris. Rafa ikut tersenyum melihatnya. Satu per satu kelima murid tersebut menyalami Dayana dan Rafa bergantian, ditutup oleh Amran dan istrinya.


“Kalian boleh makan sepuasnya di bawah sana,” ujar Dayana.


“Horeee… makasih miss.”


Setelah memberi ucapan selamat pada orang tua pengantin, Amran mengajak anak didiknya turun dari panggung pelaminan. Dengan senang kelima anak itu berkeliling stall, ingin mencoba aneka makanan yang tersedia di sana.


Setelah dibuat heboh oleh kedatangan kelima muridnya, Dayana dibuat tak nyaman ketika melihat Nilam naik ke atas panggung. Mata wanita itu menatap dingin padanya, berbeda saat melihat Rafa. Wanita itu lebih dulu menyapa Rafa, pria yang berusaha ditaklukkan olehnya.


“Selamat dokter Rafa.”


“Terima kasih, dok.”


“Selamat Aya,” ujar Nilam setengah hati.


“Terima kasih, dok.”


“Mulai sekarang aku harus berhati-hati. Ternyata banyak yang menusuk dari belakang. Di depan berteman, tapi di belakang menusuk.”


“Apa maksudnya dokter Nilam? Apa dokter menyindirku?”


“Apa kamu merasa tersindir? Kalau begitu kamu mengakui kalau sudah menusukku dari belakang.”


“Siapa menusuk siapa? Aku tidak mengatakan siapa laki-laki yang kusukai karena aku tidak tahu apa lelaki itu menyukaiku atau tidak. Aku tidak mau mengumbar sesuatu yang hanya akan menjadi aib untukku. Apa itu salah?”


“Ada apa ini?” tanya Rafa.


“Dia menuduhku menusuknya dari belakang karenamu, mas,” jawab Dayana dengan nada kesal.


“Karenaku? Apa kita punya hubungan dokter Nilam? Kurasa selama ini hubungan kita hanya sebatas hubungan kerja, profesionalitas, tidak lebih. Apa aku pernah melakukan sesuatu yang membuatmu merasa istimewa? Apa aku pernah memberimu harapan? Tolong jaga kata-kata anda dokter Nilam. Aku tidak suka mendengarmu menuduh istriku seperti itu. Terima kasih atas kedatangannya, silahkan nikmati hidangan yang sudah disediakan.”

__ADS_1


Rafa menggerakkan tangannya, mempersilahkan Nilam untuk meninggalkan panggung pelaminan. Dengan wajah memerah Nilam meninggalkan pasangan tersebut. Bahkan dokter wanita itu sama sekali tidak menyapa Ravin dan Freya. Ravin sampai harus menenangkan istrinya yang sudah tersulut emosi.


“Sabar sayang.”


“Kalau bukan resepsi, udah kubuat samsak hidup dokter kurang ajar itu,” geram Freya.


“Sabar…”


Ravin mengusap punggung sang istri. Dada wanita itu naik turun menahan gemuruh di hatinya. Ravin mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya beberapa kali demi meredam emosi sang istri. Di kursi sebelah, Rafa juga sedang menenangkan Dayana. Dia sampai meminta pembawa acara menghentikan sementara tamu yang hendak memberikan ucapan selamat.


“Maaf, sayang. Karena mas, kamu mendapatkan perlakuan seperti itu.”


“Kesal aku, mas. Dia itu dokter, tapi kok ngga punya etika sama sekali. Bisa-bisanya dia ngajak ribut di sini. Dia juga ngga nyapa kedua orang tuaku.”


“Sudahlah, jangan dipikirkan. Dia akan bertambah senang melihatmu kesal seperti ini. Lupakan saja, dia itu ngga penting.”


Rafa meraih tangan Dayana kemudian mencium punggung tangannya dengan mesra. Seketika kemarahan gadis itu menguap mendapat perlakuan manis dan lembut dari suaminya. Rafa kembali memberikan tanda pada sang pembawa acara untuk meminta tamu kembali naik ke atas panggung.


Kekesalan pasangan pengantin di atas panggung berbanding terbalik dengan kemesraan yang ditunjukkan Zar pada Renata. Pria itu sekarang sudah tak sungkan untuk menunjukkan perasaannya pada wanita itu. Dia sengaja mengajak Renata duduk di meja terpisah dari sepupunya yang lain agar kebersamaan mereka tidak terganggu.


“Ren.. kapan aku bisa ketemu bu Sundari?”


“Buat apa?”


“Melamarmu.”


“Apa-apaan sih kamu.”


“Aku serius, Ren.”


Tak ada jawaban dari Rena. Jika ditanyakan pada hatinya, tentu saja dia sangat bahagia. Pria yang diam-diam disukainya ternyata menaruh perasaan yang sama padanya. Namun jika melihat keadaannya dan juga orang-orang di sekeliling Zar, harapannya langsung sirna. Wanita itu cukup tahu diri akan kenyataan dirinya. Dia hanya seorang anak yatim piatu dan juga sudah ternoda oleh beberapa orang lelaki. Renata merasa tak layak mendampingi Zar yang sudah seperti putra mahkota bagi keluarga Hikmat.


“Kenapa diam, Ren?”


“Apa yang kamu suka dari aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan bukan gadis lagi. Aku ngga layak buat kamu, Zar. Kamu pantas mendapatkan perempuan lain yang lebih segalanya dariku.”


“Aku ngga peduli semua itu. Bagiku, kamu layak untukku.”


“Tapi menurutku, ngga.”


“Zar..”


“Tapi aku ngga akan maksa kalau kamu bilang ngga punya perasaan padaku. Sekarang bilang, apa kamu ngga punya perasaan padaku?”


Kedua netra Zar menatap lekat mata Renata. Wanita itu tak bisa berkata apa-apa. Ingin rasanya lidahnya mengatakan tak ada perasaan apapun pada pria di hadapannya. Namun dia tak sanggup untuk melakukannya.


“Kamu ngga bisa bilang karena kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku, iya kan?”


“Rena..” Zar meraih kedua tangan Rena.


“Mari kita serahkan pada takdir. Jika kamu memang jodohku, kemana pun kamu pergi, pasti kita akan bersama. Kalau kita tidak berjodoh, sekuat apapun aku berusaha, maka kita tidak akan bersatu. Tapi tidak ada salahnya kalau kita berusaha. Karena Allah senang meliha usaha hamba-Nya, bukan hasil akhirnya.”


Zar terpaksa melepaskan tangan Renata ketika mendengar sang ayah memanggilnya. Sambil mengusak puncak kepala wanita itu, Zar meninggalkan Renata. Rakan yang tak sengaja menguping, segera mendekati meja yang ditempati Renata.


“Rena..”


“Iya, bang.”


“Aku tahu apa yang membuat hatimu bimbang. Saranku, hilangkan semua hal yang membuatmu tak percaya diri. Kalau saat ini kamu merasa tak layak mendampingi Zar, maka berusahalah agar bisa mendampinginya. Layak tidaknya kamu bukan dilihat dari materi, atau masa lalumu. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang dan ke depannya. Kalau kamu merasa keluarga Zar tidak mau menerimamu dengan keadaanmu sekarang. Maka kamu harus berusaha menjadi sosok yang lebih baik lagi. Buatlah mereka menilaimu layak menjadi menantu mereka. Jadilah dirimu sendiri dan tunjukkan pada mereka, hanya kamu perempuan yang kuat bersama Zar, laki-laki model petasan banting.”


Renata tersenyum tertahan mendengar julukan Rakan untuk Zar. Kepala wanita itu mengangguk, tanda setuju dan sanggup memenuhi apa yang dikatakan pria yang sudah dianggapnya kakak.


“Makasih, bang.”


“Kalau kamu mau berterima kasih, bisa kamu ambilkan aku kambing guling? Aku males ngantrinya panjang.”


“Hahaha.. ya ampun. Siap, bang.”


Segera Renata bangun dari duduknya kemudian menuju stall kambing guling yang sudah dipenuhi tamu yang ingin mencicipi hidangan tersebut. Vanila yang berdiri tak jauh dari meja Renata ikut mendengarkan apa yang dikatakan Rakan tadi. Rasa kagumnya pada pria itu semakin bertambah saja. Tanpa dia sadari Rakan sudah berada di sampingnya.


“Ila..”

__ADS_1


“Ya ampun.”


Vanila terkejut mendengar suara di belakangnya. Gadis itu sampai memegangi dadanya yang berdegup kencang.


“Bang Rakan ngagetin aja.”


“Minggu depan kamu ada waktu?”


“Mau apa bang?”


“Aku mau datang ke rumah orang tuamu bersama mama dan papaku untuk melamarmu.”


“Hah?”


“Tolong bilang pada orang tuamu.”


Tanpa menunggu jawaban Vanila, Rakan segera berlalu pergi. Kini hanya tinggal gadis itu yang masih melongo mendengar ucapan Rakan tadi. Dia menepuk-nepuk pipinya, meyakinkan dirinya kalau yang didengarnya tadi adalah kenyataan bukanlah mimpi apalagi khayalan.


🍁🍁🍁


Kemeriahan pesta sudah berakhir sejak beberapa jam lalu. Para tamu undangan sudah kembali ke tempatnya masing-masing, begitu juga keluarga dan kerabat dekat. Hanya keluarga inti pasangan pengantin saja yang tinggal di hotel. Usai makan malam bersama, kedua mempelai masuk ke kamar pengantin.


Dengan perasaan tak menentu, Dayana memasuki suite room yang sudah disulap menjadi kamar pengantin. Jantungnya berdebar kencang mengingat malam ini dia akan menyerahkan hal berharganya pada sang suami. Rafa yang sudah berpengalaman, mengerti apa yang dirasakan sang istri.


Rafa meraih tangan Dayana, kemudian mendudukkan gadis itu di kursi rias. Dia membuka lemari kemudian mengambil kotak beludru dari dalamnya. Dia membuka kotak tersebut, di dalamnya terdapat gelang emas yang dijadikan mas kawinnya tadi.



Rafa mengambil gelang tersebut kemudian berlutut di hadapan Dayana. Pria itu memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan sang istri. Usai melakukan itu, sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Dayana.


“Kamu semakin cantik memakai ini.”


“Makasih, mas.”


Mata Rafa terus memandangi gadis di depannya yang sudah sah menyandang status sebagai istrinya. Perlahan tangannya bergerak mengusap rambut sang istri, yang berlanjut mengusap pipi lembutnya. Dengan gerakan pelan Rafa mendekat lalu mencium kening Dayana cukup lama.


Ciuman Rafa berlanjut ke kedua pipi Dayana hingga akhirnya terhenti di bibir ranumnya. Detak jantung Dayana semakin tak karuan saat merasakan pertemuan bibir mereka. Apalagi ketika Rafa mulai menggerakkan bibirnya, menyesap perlahan bibirnya, m*lum*t dan memagut bibir itu dengan lembut.


Mata Dayana terbuka ketika Rafa mengakhiri ciumannya. Wajah pria itu berada begitu dekat dengannya. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafasnya. Mata Dayana kembali terpejam ketika Rafa kembali mencium bibirnya. Kali ini Rafa mulai memasukkan lidahnya, memberikan teknik berciuman yang baru pada sang pemula. Pria itu baru mengakhiri ciumannya ketika oksigen di sekitar mereka mulai berkurang.


Wajah Dayana nampak memerah, menahan rasa malu sekaligus bahagia. Rafa berdiri kemudian mengangkat tubuh istrinya itu. Refleks Dayana memeluk leher suaminya. Matanya terus memandangi wajah tampan Rafa dari jarak yang begitu dekat. dengan hati-hati Rafa membaringkan tubuh Dayana di atas kasur.


Tangan Rafa mulai bergerak membuka pakaian yang menutupi tubuh istrinya. Mata Dayana terpejam, dia terlalu malu melihat Rafa yang menatap tubuhnya tanpa mengenakan apapun.


“Aya..”


Panggilan lembut Rafa membuat gadis itu membuka matanya. Dia terkejut ketika melihat Rafa sudah berada di atasnya dan pria itu tak mengenakan apapun lagi di tubuhnya. Belum hilang keterkejutannya, Rafa mulai mencumbui istrinya itu. Bibir pria itu mulai menelusuri kulit mulus wanita di bawahnya.


Sebagai yang sudah berpengalaman, Rafa tahu betul di mana letak-letak sensitif seorang wanita. Tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk membuat Dayana terbuai dalam cumbuannya. Mata gadis itu sudah terlihat sayu oleh kabut gairah. Apalagi Rafa juga sudah membuatnya merasakan pelepasan untuk pertama kali dalam hidupnya.


Kini pria itu bersiap untuk membuat sang istri menanggalkan status kegadisannya. Sambil terus memberikan cumbuannya, dokter Rafa bersiap memberikan suntikan yang tidak akan pernah dilupakan Dayana seumur hidupnya. Setelah keadaan sang istri cukup rileks Rafa bersiap melakukan suntikan untuk pasien cintanya.


Pelan-pelan dokter Rafa menyiapkan jarum suntiknya tepat di titik yang akan menerima suntikan. Dengan gerakan perlahan dia mulai mendorong suntikan miliknya ke dalam titik yang sudah ditandainya. Dayana menjerit tertahan ketika jarum suntik mulai memasukinya. Hati-hati dokter Rafa terus mendorong jarum suntik agar bisa menembus selaput tipis yang menjadi tujuannya.


“Aaarrgghhh..”


Teriakan kecil disertai ringisan terdengar dari mulut Dayana ketika jarum suntik milik dokter Rafa berhasil mencapai selaput tipisnya dan merobeknya. Pria itu kembali mencium bibir Dayana demi mengalihkan rasa sakit yang diderita wanita itu. Dengan bibir dan sentuhan tangannya, Rafa berusaha membuat Dayana melupakan rasa sakitnya.


Setelah keadaan Dayana sedikit tenang, Rafa mulai menarik dan mendorong jarum suntiknya. Di sela-sela rasa sakit dan perihnya, perlahan Dayana mulai bisa merasakan yang lain. Dia mulai menikmati suntikan yang diberikan Rafa. Apalagi pria itu tak berhenti mencumbunya.


Gerakan Rafa yang konstan, tidak terlalu cepat atau lambat, membuat Dayana semakin terbuai dan akhirnya wanita itu bisa mendapatkan kenikmatannya lagi. Melihat sang wanita sudah sampai ke puncaknya, Rafa mempercepat gerakan menarik dan mendorong suntikannya. Pria itu nampak bersemangat, terlihat dari wajahnya yang memerah dan keringat yang membasahi punggungnya.


Setelah beberapa saat, terdengar erangannya ketika cairan yang berada dalam suntikannya masuk ke dalam rahim Dayana tanpa bersisa. Tubuh pria itu jatuh di atas Dayana dengan nafas terengah. Usahanya menahan diri selama tiga tahun akhirnya terbayar sudah. Dia berhasil mendapatkan wadah yang tepat untuk menampung benih-benih cintanya.


“Terima kasih, sayang. I love you,” Rafa menciumi wajah sang istri dengan penuh cinta.


🍁🍁🍁


**Senang ngga dapet notif lagi?


Pengantin baru protes katanya minta MP dipercepat, jadi aku up lagi deh. Karena besok libur, anggap aja ini bonus😁

__ADS_1


Sekali lagi aku ucapkan


SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1444 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN🙏**


__ADS_2