
Dua hari sebelum penangkapan Zar
Zar memutuskan menceritakan apa yang dikatakan Renata pada papanya, soal telepon Richie pada wanita itu. Pria itu bergegas menuju restoran Premium yang berada di gedung Humanity Corp. Di sana Kenzie sedang makan siang bersama Elang dan Aslan.
Seorang pelayan menyambut kedatangan Zar. Mendengar nama Elang, pelayan tersebut langsung mengantarkan Zar menuju private room yang berada di lantai dua. Setelah mengetuk pintu, Zar masuk ke dalamnya. Pria itu langsung bergabung dengan yang lain.
“Tumben kamu ikut makan siang,” ujar Kenzie.
“Ada yang mau aku obrolin sama papa juga ayah.”
“Soal apa?”
“Dua hari yang lalu Renata dapet telepon dari Richie. Dia ngancem Rena.”
“Hmm.. anak itu sudah mulai berani menunjukkan diri,” ujar Elang.
“Menurut Diki, sekarang Richie sudah tidak tinggal di basement gedung Desmond Group lagi. Dia menyewa apartemen yang masih dalam lingkungan gank Margarita. Dia juga merekrut anak buah sendiri.”
“Pasti disokong sama keluarganya,” celetuk Aslan.
“Iya, bang. Ibunya yang selalu sokong dia.”
“Menurutku lebih cepat kita mengakhiri ini semua lebih baik. Alvaro juga semakin menunjukkan niatnya untuk mengambil Humanity dan Metro East. Sudah waktunya kita perang terbuka dengannya. Kalau terlalu lama didiamkan, secara ngga langsung akan mengganggu kinerja kita.”
Kenzie mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Elang. Beberapa kali anak buah Alvaro yang berasal dari gank Margarita mengacaukan proyek yang dijalankan kedua CEO itu. Sepertinya memang sudah saatnya mereka melakukan perang terbuka. Toh kekuatan mereka jika digabungkan akan bisa menghancurkan gank Margarita.
“Aku punya rencana, gimana kalau kita biarkan Richie menjalankan rencananya. Sasaran pertama dia itu aku. Aku akan masuk ke dalam perangkapnya, kalau aku tertangkap pasti Alvaro akan bertindak. Dia pasti akan menggunakanku sebagai alat negosiasi dengan papa dan ayah.”
“Tapi itu beresiko, apalagi Richie punya dendam pribadi sama kamu. Bisa saja dia menyuruh orang untuk menghabisimu.”
“Papa ngga usah khawatir, aku ngga selemah itu. Lagi pula ada tim bayangan yang jaga aku, kan?”
Kenzie masih belum menyetujui usulan anaknya itu. Resiko yang harus ditanggung Zar cukup besar untuk memancing Richie keluar dari sarangnya. Tapi jika tidak seperti ini, mereka tidak akan bisa mengalahkan musuh dengan satu pukulan.
“Aku rasa usulan Zar bagus, beresiko emang, tapi lebih efektif. Kita bisa ringkus semuanya sekaligus, Richie, Alvaro dan memukul mundur gank Margarita. Kita juga bisa memberikan bocoran pada The Cave supaya konsentrasi Margarita terpecah.”
Aslan yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya memberikan pendapatnya. Sudah lama dia ingin menghajar anak buah gank Margarita karena sering kali mengganggu proyek yang sedang ditanganinya. Kalau bukan Elang yang memintanya bersabar, dia akan langsung menyerbu gank tersebut.
“Oke papa setuju, tapi kamu harus hati-hati. Tim bayangan akan terus mengikutimu. Chip-mu juga sudah diaktifkan. Darren akan terus memantau posisimu,” putus Kenzie.
“Aku punya usul untuk meminimalisir korban.”
“Apa, mas?” Kenzie melihat pada Elang.
“Aku akan menantang salah satu orang terbaik di Margarita untuk berduel. Kalau aku menang, kita bisa memukul mundur Margarita tanpa harus mengerahkan kekuatan besar-besaran.”
“Apa mereka mau?” Zar menyangsikan usulan Elang.
“Sergio itu orang yang memiliki gengsi tinggi. Aku yakin dia pasti akan mengirimkan Rambo untuk melawanku. Dia adalah anak buah paling baik yang dimilikinya.”
“Tapi itu beresiko, yah. Selain dia menguasai teknik beladiri, dia juga juara muay thai.”
Perasaan Aslan langsung tak enak mendengar usulan Elang. Bukan dia meragukan kemampuan sang ayah, namun pertimbangan usia yang menjadi faktor utamanya. Dan kalau terjadi sesuatu dengan ayahnya, sang bunda mungkin akan mengutuknya menjadi magic com karena tidak mampu menghentikan ide gila Elang.
“Kamu tenang aja, ayah sudah mempelajari dengan seksama siapa Rambo. Fisiknya memang kuat, tapi dia juga punya titik lemah.”
“Gimana kalau aku aja,” usul Kenzie.
“Ngga usah, Ken. Kamu konsen aja bernegosiasi dengan Alvaro. Soal Sergio akan menjadi urusanku.”
Kenzie hanya menganggukkan kepalanya. Keempatnya sepakat melakukan ide yang diusulkan Zar. Walau beresiko, tapi memang harus dijalankan demi ketenangan bersama. Sepak terjang Alvaro bersama gank Margarita memang meresahkan akhir-akhir ini. Bahkan pihak berwajib pun kerap dibuat kerepotan. Belum lagi kepiawaian Alvaro melobi beberapa pejabat untuk berpihak padanya.
“Kita ngga tau kapan Richie menjalankan rencananya. Kamu harus hati-hati mulai dari sekarang. Diki dan Jalal akan menjagamu dari kejauhan.”
“Iya, pa.”
☘️☘️☘️
Hari penculikan Zar
__ADS_1
“TUNGGU!!”
Aslan muncul dari arah belakang. Pria itu berjalan mendekati sang ayah yang berdiri beberapa meter di depannya. Rambo yang sudah bersiap untuk menyerang Elang, terpaksa harus menunda aksinya itu.
“Lawanmu aku,” Aslan melihat pada Rambo.
“Tidak bisa. Ayahmu yang sudah menantangnya, maka biarkan dia yang menyelesaikan tantangannya,” sela Alvaro.
“Kenapa? Kalian tidak percaya diri kalau aku yang melawannya?” ejek Aslan.
Rahang Sergio mengeras, dia paling tidak suka ada orang yang meremehkan anak buahnya dan meragukan keputusannya. Dipandanginya Aslan lekat-lekat. Usia Aslan setara dengan Rambo, sepertinya pertarungan akan berlangsung seru. Namun pria itu yakin kalau Rambo yang akan memenangkan pertarungan.
“Rambo, apa kamu tidak keberatan?” Sergio melihat pada orang kepercayaannya.
“Siapapun lawannya, aku tidak takut. Maju.”
Rambo menggerakkan tangannya, meminta Aslan untuk maju menyerangnya. Kenzie dan Elang mundur, untuk memberi ruang pada dua orang yang akan bertarung. Dengan tenang Aslan menggulung lengan kemeja sampai ke siku. Matanya terus memperhatikan pergerakan Rambo. Pria itu memiliki pukulan yang kuat, namun gerakan kakinya tidak selincah tangannya.
Tak berapa lama pertarungan pun dimulai. Rambo langsung melayangkan pukulan dan tendangan pada Aslan. Tak memberi kesempatan pada pria itu melawan. Beberapa kali Aslan terkena pukulan dan tendangan dari Rambo. Senyum tersungging di wajah Sergio dan Alvaro. Mereka seperti tengah melihat hilal kemenangan.
Kenzie terlihat cemas melihat Aslan yang terdesak oleh Rambo. Berbeda dengan Elang, pria itu terlihat tenang. Dia tahu kalau Aslan sengaja menerima banyak pukulan dan tendangan dari Rambo untuk melihat jurus-jurus yang dikeluarkan pria itu.
Sebuah tendangan keras mengarah ke perut Aslan. Walau pria itu sempat menghalangi dengan kedua tangannya, namun tak ayal membuat tubuhnya terpental juga. Wajah Rambo menyeringai melihat lawannya ternyata tidak setangguh yang dilihatnya.
Sementara itu Renata yang baru saja tiba, segera menuju gudang tempat Zar di sekap. Richie terlihat senang melihat kedatangan wanita tersebut. Setelah Renata masuk ke dalam gudang, berturut-turut mobil yang dikendarai Farzan, Irzal dan Arya sampai. Barra memilih menghampiri Kenzie dan Elang, sedang sisanya bergegas menuju gudang.
“Selamat datang Rena,” sambut Richie.
“Zar..”
Melihat Zar dengan posisi kedua tangan terikat, Renata langsung menghampirinya. Zar terkejut melihat kedatangan Renata yang seorang diri. Sebelum Renata mendekati Zar, Richie lebih dulu sampai, ditariknya hijab yang menutupi kepala wanita itu. Sekuat tenaga Renata mempertahankan kain yang menutupi auratnya.
“Lepas saja, kamu tidak butuh ini menutupi dirimu. Mau ditutupi seperti apapun, kamu tetaplah perempuan kotor, perempuan sampah!”
“Lepas!!” teriak Renata.
“RICHIE!!!”
“RICHIE!! BRENGSEK LO!!” maki Zar.
“Teriak aja terus. Sebentar lagi lo bakal lihat cewek yang lo sayang bakal jadi piala bergilir kita, hahaha…”
BRAK!
Tawa Richie terhenti ketika melihat anak buahnya jatuh tersungkur. Dari arah pintu berturut-turut masuk Irzal, Tamar, Daffa, Ervano, Arya dan Farzan. Mata Richie membelalak, dia tidak menyangka tempatnya menyekap Zar akan ditemukan begitu mudahnya.
Melihat Richie yang kehilangan konsentrasi, dengan keras Renata menggigit tangan pria itu. Tak hanya itu, Renata juga menendang sel*ngkang*n Richie dengan kerasnya hingga cengkraman pria itu terlepas. Richie jatuh terduduk sambil memegangi bagian bawahnya yang terasa linu sambil melihat anak buahnya yang dihajar oleh Irzal dan yang lain.
Renata bergegas menghampiri Zar. Dia berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangan pria itu. Wanita itu menoleh ketika salah satu anak buah Richie terpental dan tubuhnya menimpa tumpukan kotak kayu bekas buah. Pisau di tangan pria itu terlepas. Renata segera mengambilnya dan dipakai untuk memutuskan tali.
Setelah terbebas dari ikatannya, Zar segera menghampiri Richie. Ditariknya kaos pria itu hingga berdiri, kemudian menghadiahkan pukulan beberapa kali di wajahnya. Terakhir, Zar melayangkan tendangan keras ke perut Richie, hingga tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang.
“Udah Zar, tar dia mati,” cegah Arya yang melihat Zar masih ingin menghajar Richie.
“Bang, duduk. Gue obatin dulu luka lo.”
Daffa melepaskan ransel yang ada di punggungnya. Ransel tersebut berisikan peralatan medis yang sengaja dibawanya untuk memberikan pertolongan pertama. Tamar, Ervano dan Arya mengumpulkan anak buah Richie jadi satu lalu mengikat mereka semua. Sedang Irzal dan Farzan menyusul ke tempat Elang berada.
“Zar..”
Panggil Renata dengan suara pelan. Dia tidak tega melihat pria yang dicintainya itu babak belur. Sudut bibir Zar terluka, begitu juga dengan pelipisnya, beberapa memar juga terdapat di wajah dan juga bagian tubuhnya. Richie perlahan bangkit, dia mengambil pisau yang ada di dekatnya. Pria itu merangsek ke arah Renata sambil mengarahkan pisau tersebut. Melihat itu, Zar segera bergerak. Dia menghalangi Renata dari pisau tersebut.
SRET
Teriakan Renata terdengar ketika pisau di tangan Richie berhasil melukai pinggang Zar. Darah langsung merembes ke bajunya. Tanpa merasakan sakit yang melanda, Zar menghadiahkan kembali sebuah tendangan ke pria itu. Richie jatuh pingsan setelah punggungnya menabrak tembok di belakangnya.
“Ngga ada matinya tuh orang,” kesal Tamar. Dia bergegas menghampiri Richie lalu mengikatnya.
“Zar.. pinggang kamu,” ujar Renata panik melihat darah yang terus keluar.
__ADS_1
“Tiduran dulu, bang. Biar aku lihat lukanya.”
Zar mengikuti arahan Daffa. Dokter residen itu mengangkat kemeja yang dikenakan Zar. Sebuah luka goresan terlihat di pinggangnya. Daffa membersihkan dulu tangannya dengan sanitizer, memakai sarung tangannya, lalu menuangkan cairan saline ke luka Zar, terdengar ringisan pria itu.
“Lukanya lumayan dalam, harus dijahit.”
Dengan cepat Daffa menghentikan pendarahan yang dialami Zar, kemudian dia mengeluarkan jarum dan benang untuk menjahit luka gores tersebut. Sebelum menjahit terlebih dulu dia menyuntikkan bius local supaya Zar tidak terlalu merasakan sakit. Renata, Tamar, Arya dan Ervano hanya memperhatikan tangan lincah Daffa saat menjahit luka Zar.
Sementara itu di bagian lain, pertarungan antara Aslan dan Rambo masih berlangsung. Jika tadi Aslan membiarkan dirinya terkena pukulan dan tendangan dari Rambo. Tidak sekarang, kini pria itu sudah mengeluarkan jurus-jurus yang dikuasainya. Beberapa serangan Rambo berhasil dipatahkan membuat pria itu frustasi sendiri.
Melihat itu Aslan tidak mengendurkan serangannya. Pukulan dan tendangan dilayangkan pria itu sampai membuat Rambo terdesak. Aslan meloncat ketika sapuan kaki Rambo mengarah padanya. Dia melayangkan tinjunya hingga mengenai rahang pria itu. Tubuh Rambo terhuyung, dan akhirnya terpental ke belakang saat tendangan Aslan mendarat di dadanya. Pria itu masih berusaha bangun, namun karena sakit di tubuhnya, dia kembali ambruk.
Wajah Alvaro nampak pucat melihat kekalahan Rambo. Berarti Sergio akan menarik pasukannya dan mengabaikan dirinya. Pria itu berusaha kabur, tapi Irzal dan Farzan segera menghalangi. Sergio melihat sekilas pada Rambo yang tidak mampu bangkit lagi. Kemudian pandangannya tertuju pada Elang. Pria itu bersiul, dan seketika tiga puluh anak buahnya mengepung Elang dan yang lainnya.
“Kamu tidak menepati janji,” ujar Elang.
“Itu hanya janji lisan, bukan tertulis,” jawab Sergio tanpa merasa berdosa.
Kenzie mengambil ponsel dari saku jasnya. Dia menekan tombol nol cukup lama. Dan tak lama kemudian tim keamanan keluarga Hikmat dan Ramadhan langsung berkumpul di dekat mereka. Enam buah mobil berturut-turut berhenti tak jauh dari lokasi mereka. Kenan, Farel, Firlan, Gara, Ravin dan Fathan keluar kemudian menghampiri lokasi Kenzie dan Elang.
Mata Sergio memandangi kumpulan orang yang ada di dekatnya dan juga anak buahnya. Jika dihitung, mereka sudah pasti kalah jumlah. Apalagi kemampuan bela diri tim keamanan Hikmat dan Ramadhan berada di atas mereka. Elang memandangi Sergio tanpa berkedip.
“Mau dilanjutkan?” tanya Elang.
Belum sempat Sergio menjawab, ponselnya berdering. Dengan cepat pria itu mengambil ponselnya. Anak buahnya yang berjaga di markas mengabarkan kalau mereka baru saja diserbu oleh gank The Cave. Beberapa berkas berharga, uang tunai dan emas batangan berhasil didapatkan oleh pesaingnya itu. Wajah Segio nampak mengeras.
“Mundur!!” pria itu memberi perintah pada anak buahnya.
“Sergio!” panggil Alvaro dengan panik.
“Mulai sekarang kami tidak ada hubungannya lagi dengan Alvaro dan Richie. Sebaiknya kita tidak usah saling ganggu lagi mulai sekarang!”
Diikuti semua anak buahnya, Sergio meninggalkan tempat tersebut. Alvaro yang berusaha menyusulnya tidak dapat bergerak begitu tim keamanan Hikmat meringkusnya. Irzal mendekati kakaknya. Terdapat beberapa luka memar di wajah pria itu.
“Ck.. yakin kak Shaina bakalan mencak-mencak lihat abang begini.”
“Alamat tidur di luar kayanya,” celetuk Narendra yang ikut datang bersama ayahnya, Farel.
Aslan hanya tersenyum saja mendengar ledekan adik-adiknya. Sepertinya dia harus menyiapkan rayuan maut untuk merayu sang istri. Dia paling tidak senang melihat Aslan terluka.
Dari arah gudang, Zar keluar dengan dipapah oleh Arya. Di belakang mereka menyusul Renata, Daffa, Tamar dan Ervano. Kenzie segera menghampiri Zar. Dipeluknya anak sulungnya itu.
“Papa cemas sama kamu.”
“Aaaww.. pa.. jangan kencang-kencang meluknya.”
Zar meringis ketika Kenzie memeluknya erat. Pria itu langsung mengurai pelukannya. Diamatinya tubuh sang anak dan juga wajahnya yang dipenuhi lebam.
“Mana yang sakit?”
“Sepertinya tulang rusuknya ada yang retak, pinggangnya juga terkena sabetan pisau tapi sudah dijahit. Zar harus langsung dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa,” jawab Daffa.
“Tolong berikan perawatan terbaik untuk Zar.”
“Tenang aja, om.”
Setelah menjelaskan tentang kondisi Zar, Daffa segera menghampiri Aslan. Dia hanya menghela nafas saja melihat keadaan kakak sepupunya ini. Dengan cepat dia memeriksa Aslan, takut ada luka di bagian dalam.
“Ngga ada yang parah sama bang Aslan. Cuma nih muka harus di make up aja biar ngga diomelin kak Shaina, hahaha..”
“Dasar,” Aslan menoyor kepala adik sepupunya ini.
“Nanti sampai di rumah jangan lupa minum pereda nyeri.”
“Iya, bawel.”
Karena semua masalah sudah selesai, mereka memutuskan kembali ke rumah masing-masing. kecuali Zar, pria itu akan langsung menuju rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya. Renata dan Daffa yang akan menemani Zar ke rumah sakit diantar oleh Arya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
**Beres ya part tegangnya😁
Kemarin pada ribut gantung².. Kan aku jadi travelotak, apaan yang ngegantung🏃🏃🏃**