Hate Is Love

Hate Is Love
Konspirasi


__ADS_3

Di salah satu meja, nampak para tetua tengah berkumpul bersama. Selain pandawa lima beserta para istri, Dimas dan Rena juga nampak bergabung. Sedang Ily memilih bergabung dengan Elang dan yang lainnya.


Dimas dan Rena yang baru kali ini bertatap langsung dengan semua pandawa lima, berbincang seperti mereka telah kenal lama. Beberapa kali Irzal memang sering menceritakan tentang adik dan adik iparnya itu. Abi juga tahu kalau Rena memiliki banyak akal bulus. Wanita itu beberapa kali berhasil menyatukan pasangan, termasuk mengejar almaruhum suaminya.


“Ren.. kira-kira kamu bisa bantu soal Aya sama dokter Rafa?” Abi kembali membuka soal perjodohan.


“Coba ceritain dulu situasi Aya sama dokter Rafa kaya gimana. Aku kan perlu tahu situasi mereka lebih dulu.”


Mata Kevin berbinar mendengar perkataan Rena. Dia mulai menaruh harapan besar pada wanita untuk menyatukan cucu tersayangnya dengan dokter Rafa. Dengan semangat 45, Kevin menceritakan situasi dokter Rafa, hambatan yang dihadapi Aya dalam mendekatinya. Bahkan saat Abi mengirim Daffa untuk membuat pria itu cemburu, sepertinya tidak berpengaruh banyak.


Kepala Rena hanya manggut-manggut mendengar ulasan panjang lebar Kevin. Dimas hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sang sahabat. Setelah kemarin-kemarin berhasil menjodohkan cucunya, kini otak wanita itu akan diuji kembali untuk menyatukan pasangan Aya dan Rafa.


“Ya jelas Rafa ngga akan cemburu, karena belum ada rasa sama Aya. Selama ini pendekatan Aya belum bisa menyentuh hatinya. Sentuh dulu hatinya, baru cemburu akan menunjukkan dirinya.”


“Jadi, kamu punya usulan apa?” tanya Kevin antusias.


“Situasi Rafa itu hampir sama dengan sahabatku ini, Dimas. Dia juga dulu susah move on setelah ditinggal almarhumah Sissy. Tapi lihat sekarang, bucin abis sama Ily.”


“Diem, Ren. Dari dulu mulut ember ngga hilang-hilang,” cetus Dimas.


“Ngga usah ngelak, buktinya kamu kan udah dapet empat buntut dari Ily. Udah punya cucu. Ngga ada terima kasihnya banget. Kalau dulu bukan aku yang suruh Ily ini, itu, yakin kamu jomblo sampe tua.”


“Hahaha..”


Abi dan yang lain tidak bisa menahan diri melihat perdebatan dua sahabat plus iparan itu. Dimas tidak berkomentar apa-apa. Namun dalam hatinya mengakui, kalau Rena tidak ikut campur, pastinya dia akan terus sendiri sambil mengenang almarhum istri pertamanya. Karena saran gilanya, dirinya bertekuk lutut di hadapan Ily.


“Suruh Aya ketemu sama aku. Nanti aku yang bakal kasih tips ke dia, bagaimana caranya menaklukkan Rafa.”


“Makasih, Ren. Aku lebih percaya dengan caramu, dari pada cara Abi. Dia itu tukang maksa,” Kevin melihat pada Abi.


“Biar maksa, lihat tuh Arsy sama Irzal udah nikah. Mereka juga udah saling cinta. Kadang pemaksaan itu perlu.”


“Tapi ngga bisa semua dipaksain. Modelan Rafa kalau dipaksa, ya bakal kabur.”


“Kalian ini berdebat terus. Aku kunciin di kamar berdua baru tau rasa,” sambar Juna yang sudah pusing melihat dua besan itu selalu berdebat perihal jodoh cucu-cucu mereka.


“Mending dikunciin bareng komodo dari pada sama dia,” celetuk Abi.


“Iya, bagus sama komodo. Biar kamu langsung dimakan,” balas Kevin.


“Mana mau komodonya. Udah alot badannya, hahaha…” timpal Cakra.


Gelak tawa kembali terdengar di meja mereka. Abi seperti biasa hanya menanggapi dengan gaya coolnya. Di antara para pandawa lima, hanya Jojo saja yang terlihat anteng. Rena jadi penasaran dengan pria itu.


“Kak Jojo diem-diem aja. Ngga ada niat jodohin cucunya?” tanya Rena.


“Dia kan terima beres aja. Aku yang kerja keras jodohin Arsy sama Irzal, dia yang terima hasilnya,” seru Abi.


“Enak aja. Aku juga ikutan bantu. Siapa yang ngirim Arsy ke rooftop kalau bukan aku,” Jojo membela diri.


“Cuma sekali. Gitu aja bangga.”


“Hahaha… kalian udah pada tua tapi ngga ada yang mau kalah.”


Rena dan Dimas tak bisa berhenti tertawa melihat perdebatan kelima sahabat ini. tapi Kemudian senyum mereka hilang saat mengingat orang-orang yang sudah meninggalkannya. Irzal, Regan, Ega, Adit dan Nino juga seperti ini jika berkumpul. Ega yang paling muda di antara yang lain selalu menjadi bahan bully-an mereka. Irzal dan Adit yang paling bersemangat menggoda Ega, Nino bermain aman jadi tim hore, dan Regan yang paling bijak, akan menjadi penengah.


Melihat Abi yang ceplas-ceplos membuat Rena mengingat sang kakak. Juna yang bersikap tenang, mengingatkannya akan Regan. Dan Jojo yang selalu digoda tentu saja mengingatkannya pada Ega. Sedang Cakra, sedikit banyak mirip dengan Adit. Wanita itu mengusap sudut matanya yang berair.


Abi yang menyadari perubahan ekspresi Rena, mengusap puncak kepala wanita itu. Begitu juga dengan Juna, dia menepuk bahu Dimas. Jika dilihat dari usia, Rena dan Dimas sepantar dengan Anfa.


“Kalian pasti kangen pada kakak-kakak kalian. Walau kami tidak bisa menggantikan mereka di hati kalian. Tapi, kalian boleh menganggap kami kakak kalian,” ujar Juna dengan bijak.


“Terima kasih, kak. Berkumpul dengan kalian mengingatkan aku pada semua kakakku,” ujar Rena.


Dimas menepuk-nepuk punggung tangan sahabatnya itu. Kenangan indah bersama dengan orang yang disayang memang sulit dilupakan. Selamanya akan terkenang dalam hati dan pikiran.


“Oh iya, dokter Rafa akan menjadi dokter sukarelawan. Setiap tahunnya, rumah sakit Ibnu Sina selalu mengirimkan dokter mereka ke daerah pedalaman. Mereka akan tinggal selama satu bulan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Apa kalian bisa ikut serta dalam program tersebut?” Rena mengalihkan pembicaraan pada topik lain.


“Tentu saja, Ren. Kami siap membantu, katakan saja apa yang kalian butuhkan.”


“Kalau soal biaya dan yang lainnya, In Syaa Allah sudah ada yang menanggung. Aku cuma minta tenaga tambahan sebagai tenaga sukarelawan. Untuk posisi guru, juru masak atau bidang lainnya. Bagaimana kalau Aya ikut sebagai tenaga sukarelawan. Dia bisa menjadi guru. Daerah yang akan didatangi kebetulan kekurangan tenaga pengajar. Sambil menunggu ada yang mau mengisi posisi kosong itu, bagaimana kalau Aya ikut serta. Selama sebulan, Aya dan Rafa akan tinggal di lingkungan yang sama. Ini akan mempermudah menjalin chemistry di antara mereka.”


Abi dan Kevin saling memandang satu sama lain. Sejak dulu Aya selalu ingin menjadi sukarelawan jika, CSR keluarga Hikmat mengirimkan bantuan ke daerah-daerah terpencil. Tapi Kevin selalu melarang dengan alasan, keselamatan cucu kesayangannya tidak akan terjamin.


“Gimana, Vin? Kamu kan yang paling ribet kalau soal ginian,” ujar Abi pada Kevin.

__ADS_1


“Soal keamanannya gimana?” tanya Kevin pada Rena.


“Soal keamanan ngga usah khawatir. Setiap kami mengirimkan tenaga sukarelawan, sudah pasti tim keamanan keluarga Ramadhan ada yang ikut untuk menjaga keamanan mereka. Lagi pula, kalian juga sudah ditanami chip pelacak lokasi. Aku rasa ngga ada masalah kan?”


“Ya sudah aku setuju kalau begitu.”


“Ok.. besok atau lusa, suruh Aya menemuiku. Untuk sementara aku tinggal di rumah Elang. Dia bisa ke sana untuk bertemu denganku.”


Kevin menganggukkan kepala tanda setuju, sedang Abi hanya mengangkat jempolnya saja. Mereka mempercayakan masalah Aya dan Rafa pada Rena. Nantinya Abi akan bertugas mengatur situasi agar kebersamaan Aya dan Rafa akan terus tercipta.


Apa yang terjadi di meja para tertua, berbanding terbalik dengan meja yang ditempati Renata. Di sana, dia hanya ditemani Rakan saja. Tak ada pembicaraan di antara mereka, keduanya hanya menikmati makanan dengan tenang. Namun kedatangan Tamar dan Zar membuat suasana lebih cair.


“Ren.. kamu ngga apa-apa?” tanya Tamar begitu duduk di samping wanita itu.


“Aku kenapa?”


“Lihat Irzal di pelaminan ngga apa-apa? Kamu udah ngga ada rasa sama dia?”


Ucapan Tamar sontak membuat Zar menolehkan kepala pada kedua orang itu. Dia baru tahu kalau selama ini Renata memendam perasaan pada Irzal. Pria itu menatap lekat Renata yang masih mengatupkan mulutnya.


“Baguslah kalau kamu udah move on,” ujar Tamar lagi karena Renata tak kunjung menjawab pertanyaannya.


“Apa abang pikir aku masih punya keberanian bermimpi bersanding dengan siapa pun itu, termasuk bang Irzal? Sejak kejadian malam itu, hidupku hancur. Sekarang aku sedang membangun kembali hidupku. Tapi aku tidak berani lagi bermimpi bisa bersanding dengan siapa pun. Aku.. kotor,” suara Renata terdengar lemah di akhir kalimat.


Perasaan Zar kembali dihentak rasa bersalah. Seandainya dia tidak meninggalkan Renata malam itu, mungkin semua hal buruk tidak akan menimpa wanita itu. Renata terjengit ketika Rakan memegang tangannya.


“Jangan berpikir seperti itu. Hanya karena kejadian malam itu, bukan berarti hidupmu hancur dan kamu tidak berhak bermimpi lagi. Aku yakin, suatu saat kamu akan menemukan laki-laki yang mencintai dan menerimamu apa adanya.”


“Makasih, bang.”


Ada desir aneh di hati Zar melihat cara Rakan memperlakukan Renata. Sikap lembut Rakan membuat Renata dengan mudah luluh dan mengikuti apa yang dikatakan pria itu. perasaan Zar jadi terombang-ambing sendiri. Apakah masih ada sisa rasa di hatinya untuk wanita itu?


🍁🍁🍁


Acara makan malam digelar di salah satu meeting room yang ada di hotel Arjuna. Semua keluarga Elang dan Kenzie turut hadir dalam jamuan makan malam keluarga. Abi dan Jojo ditemani pasangan masing-masing juga ikut bergabung. Begitu pula dengan Dimas, Ily dan Rena. Pengantin baru juga sudah hadir bersama mereka.


Resepsi pernikahan memang sudah berakhir sejak pukul empat sore. Irzal dan Arsy sepakat menggelar resepsi di siang sampai siang hari agar mereka bisa beristirahat lebih cepat malam harinya.


Aneka makanan sudah tersedia di meja. Mereka mulai menikmati jamuan makan malam sambil berbincang ringan. Ada saja celetukan Aslan dan Zar untuk menggoda pasangan pengantin baru. Hanya Azzam saja yang tak banyak bicara. Pemuda itu ikut tersenyum atau tertawa jika ada hal yang lucu.


“Kamu kapan pulang ke Yogya?” tanya Abi pada Azzam.


“Kenapa cepat sekali? Kamu ngga bisa tinggal lebih lama? Nenek masih kangen,” timpal Nina.


“Ngga bisa nenek, sayang. Ini aja aku bisa pulang karena papa minta langsung sama pimpinan akademi.”


“Tapi nanti kamu habis dilantik pulang dulu, ya. Jangan langsung sekolah lagi.”


“Iya, nek.”


Senyum terbit di wajah Nina. Dia memang kangen sekali pada cucunya yang jarang bisa bertemu dan berkumpul setelah Azzam memutuskan menjadi Taruna dan tinggal terpisah jauh dari mereka.


“Oh ya, kalian berdua ngga ada niatan menunda momongan kan?” kali ini Rena yang bersuara, bertanya pada pasangan pengantin baru.


“Kami belum membicarakannya, nek. Arsy sekarang masih magang di rumah sakit. Kalau dia hamil, kemungkinan masa magangnya akan tertunda,” jawab Irzal.


Kepala Arsy langsung menoleh pada pria yang baru saja beberapa jam menjadi suaminya. Dia tak menyangka Irzal akan memikirkan karirnya. Tadinya Arsy menyangka kalau Irzal akan memaksa langsung mempunyai momongan.


“Ya, ada baiknya kalian bicarakan dulu. Lagi pula kalian butuh waktu juga untuk pacaran, kan?”


Pertanyaan Abi karuan membuat pasangan pengantin jadi salah tingkah. Keduanya memilih bungkam, menikmati makanan mereka. Elang hanya tersenyum saja melihat pasangan muda itu. Dulu Aslan dan Yumna sudah mengenal pasangan mereka sejak lama sebelum akhirnya menikah. Berbeda dengan Irzal yang belum ada setahun, baru hitungan bulan. Tentu saja mereka membutuhkan waktu lebih banyak untuk saling mengenal.


“Kalau ayah, tidak masalah kalian mau menunda atau tidak. Ayah kan sudah dapat cucu dari Aslan dan Yumna. Tapi ngga tau juga sama besan ayah,” Elang melirik pada Kenzie.


“Papa juga ngga masalah. Yang penting kalian nyaman saja menjalani rumah tangga. Akur dan bahagia.”


“Terima kasih, pa,” jawab Irzal dan Arsy bersamaan.


Acara makan malam terus berlanjut diselipi perbincangan ringan. Beberapa kali Abi menangkap Irzal yang mulai memberikan perhatian pada Arsy. Mulai dari memberikan minum, mengusap noda makanan di bibir Arsy atau menawarkan makanan lain. Hati pria itu benar-benar bahagia melihat kebersamaan cucu dan cucu menantunya.


Usai makan malam, Irzal dan Arsy bermaksud kembali ke kamar. Sebelumnya mereka mengantar keluarga yang hendak pulang ke rumah. Hanya pasangan pengantin saja yang menginap di hotel.


“Zal.. siapin stamina, ya,” Kenzie menepuk pundak menantunya seraya tersenyum.


“Ayah yakin kamu pasti bisa,” lanjut Elang.

__ADS_1


“Jangan lupa jurus yang abang bilang,” sambung Aslan.


“Mau kakek kasih pelajaran tambahan?” timpal Abi.


“Tanya KiJo kalau kamu butuh tips-tips di ranjang,” sahut Jojo.


“Aku juga siap 24 jam buka konsul buat kamu, Sy,” Yumna ikutan menggoda.


Perkataan nyeleneh mereka sontak membuat wajah Irzal memerah menahan malu. Arsy sampai menutup wajah dengan kedua tangannya. Zar dan Azzam yang belum pengalaman hanya diam saja. Tapi sebenarnya mereka malu juga mendengar ucapan mereka yang tanpa saringan.


Setelah melepas semua anggota keluarganya pulang, Arsy dan Irzal kembali ke kamar mereka. Kamar suite room yang disiapkan untuk mereka sudah dihias sedemikian rupa. Kelopak bunga mawar yang bertebaran di kasur dan juga lilin aroma therapy sudah dinyalakan.


“Kita shalat isya dulu, ya,” ajak Irzal.


“Iya, mas.”


Irzal lebih dulu masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai, giliran Arsy yang masuk. Begitu keluar dari kamar mandi, dia melihat Irzal sudah menyiapkan dua buah sajadah di lantai. Dengan cepat wanita itu memakai mukenanya. Irzal pun segera memimpin shalat.


Irzal berbalik setelah selesai berdoa. Arsy meraih tangan pria itu kemudian mencium punggung tangannya dengan takjim. Untuk beberapa saat mereka hanya diam dan saling memandang. Keduanya masih duduk di atas sajadah masing-masing.


“Ar..”


“Mas..”


Senyum mengembang di wajah keduanya saat mereka memanggil di saat bersamaan. Irzal mempersilahkan Arsy bicara lebih dulu.


“Soal yang mas tadi bilang. Apa mas serius?”


“Soal apa? Soal momongan?”


“Iya.”


“Aku serius. Menjadi dokter adalah impianmu. Menunda satu tahun rasanya bukan masalah. Setelah masa magangmu berakhir, kita bisa mulai merencanakan soal momongan. Aku mau kamu konsentrasi dengan masa magangmu. Selama ini kamu sudah belajar dengan giat, setidaknya kamu harus menyelesaikan satu fase lebih dulu. Soal dokter residen, jika kita belum dikaruniai momongan, kamu bisa langsung lanjut.”


“Makasih, mas.”


Perasaan Arsy begitu bahagia melihat Irzal yang begitu pengertian dan juga peduli dengan impian dan masa depannya. Jujur saja, Arsy masih takut kalau di tengah jalan dia harus berhenti magang karena hamil dan harus mengulang tahun depan.


“Kalau ada yang mengganjal, bicarakan saja. Kita sudah menjadi suami istri, apa yang terjadi denganmu, aku harus tahu, begitu juga sebaliknya. Aku mau keputusan yang diambil untuk kehidupan rumah tangga kita, karena kesepakatan bersama, bukan hanya satu pihak.”


Didorong rasa haru dan bahagia, Arsy menghambur dalam pelukan Irzal. Walau terkejut, tak ayal tangan Irzal merengkuh punggung sang istri ke dalam pelukannya. Sungguh Arsy merasa beruntung berjodoh dengan lelaki yang di luar terlihat dingin tapi di dalamnya begitu hangat dan perhatian.


Perlahan Irzal mengurai pelukannya. Kepala Arsy terdongak melihat netra sang suami. Baru kali ini dia bisa melihat dengan jelas pupil Irzal yang berwarna hazel. Jantung Arsy berdetak tak karuan ketika wajah Irzal mulai mendekat. Pelan-pelan matanya menutup, menunggu penyatuan bibir mereka terjadi. Namun sayang, bunyi ponselnya menjeda pertemuan bibir keduanya.


Arsy segera melepaskan diri dari pelukan Irzal, lalu mengambil ponselnya. Sebuah panggilan dari rumah sakit. Jika panggilan seperti ini, berarti ada kejadian darurat yang menimpa. Dengan cepat wanita itu menjawab panggilan. Setelah berbicara sebentar dengan perawat yang menelponnya, Arsy mengakhiri panggilan tersebut. Dia melihat pada Irzal dengan perasaan campur aduk.


“Ada apa?”


“Mas.. aku harus ke rumah sakit. Ada tabrakan beruntun di tol Pasteur. Semua korban dibawa ke rumah sakit Ibnu Sina. Korban cukup banyak dan mereka kekurangan staf di IGD. Aku harus gimana?”


“Kamu siap-siap. Biar aku antar ke rumah sakit.”


“Mas ngga marah?”


“Kenapa aku harus marah? Kewajibanmu menolong dan menyelamatkan nyawa orang lebih penting. Ayo bersiaplah.”


Arsy segera membereskan alat shalatnya. Dia mengambil tas, kemudian memasukkan ponsel ke dalamnya. Irzal juga bersiap untuk mengantar sang istri ke rumah sakit. Untung saja kendaraan miliknya sudah diantarkan supir kantor ke hotel. Dengan cepat keduanya keluar dari kamar.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit Ibnu Sina. Lokasi hotel Arjuna memang tak berada jauh dari rumah sakit tersebut. Irzal menghentikan kendaraan di depan pintu masuk IGD. Arys melepaskan sabuk pengamannya lalu berpamitan pada sang suami.


“Kalau sudah selesai, kamu telepon aku.”


“Iya, mas.”


“Hati-hati dan fokus.”


“Iya, mas.”


Arsy meraih tangan Irzal kemudian mencium punggung tangannya. irzal menahan sebentar Arsy, pria itu mendaratkan ciuman cukup lama di kening sang istri. Tangan Arsy yang hendak membuka pintu tertahan sejenak, dia membalikkan tubuhnya lagi, melihat pada Irzal.


CUP


Sebuah kecupan mendarat di pipi Irzal. Dengan wajah memerah, Arsy turun dari mobil lalu masuk ke IGD. Senyum mengembang di wajah Irzal, dipegangnya pipi yang tadi terkena kecupan sang istri. Lalu pria itu menjalankan kendaraannya kembali ke hotel.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Jiaaahhh yg ngarep belah duren belum terlaksana. Arsy mau belah perban dulu🤣


Seperti yg aku bilang sebelumnya, berhubung masih dalam fase recovery jadi up nya santuy ya, ngga bisa pagi seperti kemarin². Kepala suka pusing kalau lama² di depan laptop dan diajak mikir😁 Yang penting aku tetap up ya**


__ADS_2