
Suara gemericik air, cicitan burung dan hembusan angin menemani Renata yang tengah menikmati paginya di pinggiran sungai. Wanita itu duduk di atas batu besar yang ada di sana, sambil memandangi aliran air. Udara di sini begitu sejuk dan asri. Pantas saja glamping milik Kenan ini tak pernah sepi pengunjung. Selain dilengkapi berbagai fasilitas, pemandangan alam yang disuguhkan juga begitu indah.
Tak ada Zar yang menemaninya. Suaminya itu sedang menemui pihak pengelola, entah apa yang diinginkan oleh pria itu. Kepala Renata menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Tadinya dia berharap Zar yang datang, namun harapannya sirna ketika melihat dua pria seumuran dirinya yang datang. Mereka adalah penghuni glamping juga.
Kedua pria itu melemparkan senyuman pada Renata. Tak menyangka di pagi ini, mereka bisa bertemu dengan seorang bidadari di pinggir sungai. Awalnya mereka ingin bersantai di saung yang ada di sana, sambil menunggu sarapan mereka diantar ke sini. Namun begitu melihat Renata, keduanya berjalan mendekati sungai.
“Sendiri aja?” tanya salah seorangnya.
Tak ada jawaban dari Renata. Dia memilih mengabaikan kedua pria itu. Pandangannya pun sama sekali tidak melihat pada pria yang berada tak jauh darinya. Melihat sikap abai Renata, tak membuat mereka kapok. Sekali lagi mereka mencoba berbasa-basi.
“Sendiri aja ke sininya?”
“Ngga takut nginep di sini sendirian?” tanya yang satu lagi.
“Ngga. Saya sama suami ke sininya,” jawab Renata.
Dia memilih untuk menjawab, walau dengan nada suara dingin. Itu agar kedua pria itu tidak terus mengganggunya. Namun sekali lagi Renata salah. Mereka malah semakin senang memancing pembicaraan dengan wanita itu.
“Suaminya yang pake kaos merah tadi ya?”
Mata Renata membulat mendengarnya. Pria berbaju merah yang tadi mendatangi glampingnya adalah manager glamping ini. Restu namanya, usianya sudah empat puluh tahun lebih, dan perutnya juga sedikit buncit.
“Jangan sembarangan ya. Suami saya masih muda dan ganteng. Dibanding kalian berdua, masih gantengan suami saya kemana-mana.”
Nada suara Renata kali ini penuh dengan penekanan. Emosinya langsung naik ketika mendengar ucapan kedua pria itu. Dengan kesal dia bangun, lalu bermaksud meninggalkan tempat tersebut.
“Ya jangan marah, dong. Kita cuma pengen ngobrol aja. Basa-basi doang yang tadi mah.”
“Saya ngga butuh basa-basi. Saya ini wanita bersuami, harusnya kalian bisa menjaga sikap. Kalau mau basa-basi, sana sama ikan aja!” kesal Renata.
“Kenapa, sayang?”
Tiba-tiba Zar datang. Telinganya tadi sempat menangkap istrinya itu seperti sedang marah-marah. Kedua pria yang bersama Renata tadi hanya melemparkan cengiran saja. Mereka menghampiri Zar, mencoba menerangkan apa yang terjadi, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Maaf, mas. Kita tadi cuma ngobrol aja. Istrinya galak ya mas, hehehe..”
“Mari, mas.”
Pria yang satunya segera mengajak temannya menuju saung ketika melihat pelayan datang membawakan sarapan mereka. Zar mendekati istrinya, merangkulnya lalu membawanya kembali duduk di batu besar tadi.
“Kenapa, sayang? Pagi-pagi udah marah-marah aja.”
“Kesal aku. Masa aku disangka istrinya pak Restu, enak aja. Suamiku yang ganteng gini disamain sama pak Restu.”
“Hahaha… kirain kenapa. Eh jadi kamu mengakui kegantenganku, ya?”
“Ya iyalah. Kalau ngga ganteng, mana mau aku nikah sama kamu.”
“Gitu ya..”
Zar menggelitiki pinggang istrinya. Renata yang kegelian, hanya bisa tertawa sambil meminta sang suami untuk berhenti. Interaksi mereka tak luput dari perhatian dua pria tadi. Mereka menikmati sarapan sambil melihat kemesraan pasangan itu. Dalam hati mereka menjerit, kapan mereka mendapat pasangan halal dan melakukan adegan seperti Zar dan Renata.
“Sayang, tadi aku udah pesan bahan buat makan siang kita ke mang Kohir. Aku mau kamu yang masak,” ujar Zar.
“Mas mau makan apa?”
“Aku pengen pepes ikan, nasi liwet, sambel sama lalap. Semua bahannya lagi disiapin mang Kohir. Kayanya bentar lagi dateng, deh.”
“Ya udah kita balik sekarang aja.”
“Ayo. Sebelum masak, nambah satu ronde ya, Yang.”
“Ish.. modus.”
“Pokoknya satu ronde lagi, ya. Kan semalem cuma seronde.”
Tanpa menunggu jawaban Renata, Zar berdiri kemudian mengulurkan tangannya. Renata menyambut uluran tangan suaminya. Kemudian keduanya berjalan meninggalkan area sungai. Benar saja, di depan glamping mereka, terlihat mang Kohir baru saja tiba dengan membawa keranjang belanjaan di tangannya.
“Gimana, mang? Dapet?”
“Dapet. Ini ikan gurame sama bumbu udah disiapin di sini, sekalian lalapan, bahan sambel sama beras.”
“Makasih, mang.”
“Kalau kastrolnya ada ngga, mang?” tanya Renata.
“Ada, bu. Sudah saya taruh di dapur.”
“Mang.. ini buat beli rokok sama kopi.”
Zar menyerahkan dua lembar berwarna merah pada pria paruh baya itu. Sambil mengucapkan hamdallah dan ucapan terima kasih, mang Kohir menerima pemberian Zar. Renata mengambil keranjang belanjaan, kemudian membawanya masuk. Dia segera mengeluarkan semua belanjaan yang diberikan mang Kohir.
Wanita itu terjengit ketika Zar memeluknya dari belakang. Renata tak enak diam, karena suaminya terus menciuminya. Tangan Zar pun sudah bergera-gerak mengusap perut, kemudian naik ke atas.
__ADS_1
“Maasss..”
“Nanti aja masaknya. Ayo main lagi,” bujuk Zar.
Mau tak mau, Renata mengikuti keinginan suaminya. Wanita itu pasrah saja saat ditarik masuk ke kamar. Zar melepaskan hijab instan yang dikenakan istrinya, lalu menciumi leher wanita itu.
“Mas.. bentar aku mau ke kamar mandi dulu.”
Terpaksa Zar melepaskan istrinya itu. Renata bergegas menuju kamar mandi. Dia merasa tak enak di bagian bawahnya, perutnya juga sedikit mulas. Tak berapa lama kemudian wanita itu kembali keluar. Nampak Zar sudah berbaring di atas kasur, suaminya itu hanya mengenakan segitiga pengaman saja. Dengan kepala tertunduk, Renata mendekati suaminya.
“Mas..”
“Sini, sayang..”
“Mas.. maaf..”
“Maaf kenapa?”
“Aku.. datang bulan.”
“Hah?”
Sejenak Zar hanya terbengong. Niat hati ingin mengulangi olahraga yang menguras keringat, namun membuat hatinya berbunga-bunga batal sudah. Dia merutuki bulan yang datang tak ingat waktu. Semalam karena lelah, dia hanya bermain satu ronde saja. Tahu begitu, dia akan bermain double atau triple.
“Terus adikku gimana, sayang?” tanya Zar dengan suara lemas, melihat pada adik kecilnya yang sudah menegang dan enggan untuk tidur kembali.
“Gimana dong, mas?”
“Bantu nidurinnya.”
“Gimana caranya?”
“Sini, aku ajarin.”
Dengan langkah pelan, Renata menghampiri suaminya. Dia mendudukkan diri di sisi Zar. Pria itu membisikkan sesuatu di telinga sang istri. Mata Renata membulat mendengar apa yang dikatakan suaminya. Tapi melihat wajah Zar yang memelas, dia jadi tak tega. Wanita itu pasrah saja saat Zar menuntun tangannya memegang ular kobra yang sudah siap tempur.
🍁🍁🍁
Dengan ransel di bahunya, Azzam menuruni anak tangga di kediaman kedua orang tuanya. Hari ini dia harus kembali ke tempat pelatihannya di Yogyakarta. Azzam segera menuju meja makan, di sana kedua orang tuanya sudah menunggu.
“Kamu kembali ke Yogya, sekarang?” tanya Kenzie.
“Iya, pa.”
“Ngga bisa, ma. Sebelum ke bandara, aku bakal mampir ketemu bang Arya.”
“Setelah pendidikan, kamu nanti ditempatkan di mana?” tanya Kenzie lagi.
“Belum tahu juga, pa. Tergantung pengaturan dari pusat. Aku juga mau ikut seleksi latihan bersama RSAF begitu beres pendidikan. Doain ya, ma, pa.”
“Pasti, sayang. Doa mama dan papa pasti selalu menyertaimu. Kamu jaga kesehatan, makan yang teratur, jangan lupakan shalat juga.”
“Iya, ma.”
Asisten rumah tangga datang membawakan makanan untuk makan siang mereka. Khusus hari ini, Nara memasakkan makanan kesukaan anak bungsunya, iga bakar. Azzam tersenyum melihat makanan kesukaannya tersaji di atas meja. Semenjak menjadi taruna, dia jarang menikmati makanan kesukaannya. Dengan lahap dia menikmati makanan tersebut.
Sesekali Kenzie melihat pada anaknya. Walau pun pilihan sang anak membuat mereka harus hidup berjauhan, tapi pria itu bangga dengan pilihan sang anak. Apalagi Azzam menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Dia yakin anak bungsunya ini bisa menjadi kebanggaan keluarga.
“Kamu sudah punya pacar, Zam?”
Uhuk.. uhuk..
Pertanyaan Nara membuat Azzam terbatuk. Wanita itu segera memberikan minum pada anaknya. Diteguknya air sampai habis setengah gelas, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.
“Mama tumben nanya begitu,” ujar Azzam.
“Ya emangnya mama ngga boleh nanya? Siapa tahu aja kamu naksir teman kuliah kamu.”
“Ngga ada, ma. Aku belum mikirin begituan. Lagian kasian kalau aku punya pacar sekarang. Pasti aku tinggal-tinggal terus.”
“Bagus itu. Lebih baik kamu fokus pada pendidikan dan karirmu dulu,” sambung Kenzie.
“Iya, pa. Kalau udah jadi TNI aktif, aku mau daftar jadi pasukan perdamaian.”
“Jangan ah. Mama takut kamu disuruh ke daerah konflik. Bahaya.”
Terdengar kekehan kecil Azzam mendengar ucapan mamanya. Diraihnya tangan sang mama, kemudian memegangnya erat.
“Namanya juga pasukan perdamaian, ya pasti ditaruhnya di daerah konflik. Mama tenang aja. Jaga perdamaian bukan berarti harus perang.”
“Mama tuh maunya kamu beres pendidikan, pulang udah ngga usah tugas di mana-mana. Kerja di perusahaan bareng papa dan juga kakakmu”
“Hahaha.. mama ada-ada aja, mana bisa begitu. Kalau ujung-ujungnya kerja di perusahaan, ngapain juga aku daftar jadi taruna. Mama tenang aja, di mana pun aku berada, aku tetap anak mama. Doakan aku aja, ma. Kalau aku punya waktu luang, pasti aku pulang kok. Ya mama, sayang.”
__ADS_1
Nara hanya menganggukkan kepalanya saja. Sebenarnya sejak awal wanita itu tidak setuju anaknya memilih berkarir sebagai parjurit TNI. Mereka akan jarang bertemu, dan bukan tidak mungkin pekerjaan yang dilakukannya mengundang bahaya. Namun sebagai ibu yang baik, dia berusaha mendukung impian sang anak dan mendoakan untuk kebaikannya.
“Ma.. pa.. aku pergi dulu, ya.”
Setelah makan siang mereka berakhir, Azzam langsung berpamitan. Nara memeluk anak bungsunya ini cukup lama. Rasanya dia masih belum puas melepas rindu dengan sang anak. Azzam mengurai pelukannya, lalu menghampiri papanya. Pria itu memeluk sang papa dengan erat. Kenzie menepuk punggung sang anak beberapa kali.
“Belajar yang benar. Semoga kamu lulus dengan nilai tinggi dan menjadi prajurit kebanggaan.”
“Aamiin.. makasih doanya, pa. Aku pergi, ya.”
Azzam mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian, kemudian keluar dari rumah. Di depan rumah, Syarif sudah menunggunya. Dia bertugas mengantarkan Azzam ke bandara. Azzam masuk ke dalam mobil, dibukanya kaca jendela, lalu melambaikan tangannya. kendaraan roda empat yang ditumpanginya mulai bergerak.
Sebelum menuju bandara, Azzam lebih dulu mengunjungi kedua kakek dan neneknya. Pertama-tama, Azzam mengunjungi Abi. Dia berpamitan sekaligus meminta doa pada kakeknya itu. Abi banyak memberikan nasehat pada cucunya itu sebelum kembali ke tempat pelatihannya. Nina tak banyak bicara, dia hanya memeluk cucunya itu.
Sepulang dari tempat Abi, Azzam mengunjungi kakaknya, Arsy. Kedatangannya disambut hangat oleh Elang dan Azkia. Arsy tentu senang melihat kedatangan adiknya, begitu pula dengan Irzal. Namun wanita itu kembali bersedih begitu tahu kalau Azzam akan kembali ke Yogyakarta.
“Aku pulang dulu ya, kak. Sehat-sehat ya.”
“Kamu juga, Zam. Jaga kesehatan, jangan begadang, ingat makan dan tidur teratur.”
“Iya, kak. Bang, aku pulang. Jagain kak Arsy ya. Aku doakan kalian cepat dapat momongan lagi.”
“Aamiin.. makasih, Zam. Hati-hati.”
Sekali lagi Azzam memeluk kakaknya, sebelum masuk ke dalam mobil. Pria itu melambaikan tangan lewat kaca jendela. Arsy memeluk tubuh suaminya seraya membalas lambaian tangan sang adik.
“Jangan sedih. Azzam itu pulang ke akademi buat belajar. Bukan pergi ke medan perang,” goda Irzal.
“Aku jarang kumpul sama dia. Siapa juga yang ngga sedih.”
“Ayo ikut, mas. Biar kamu ngga sedih lagi.”
“Kemana?” tanya Arsy dengan wajah berbinar.
“Ke kamar, kita nyicil buat anak,” bisik Irzal.
Terdengar teriakan Arsy ketika Irzal membopong tubuhnya, lalu masuk ke dalam rumah. Dia sampai menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, karena malu berpapasan dengan kedua mertuanya. Irzal terus berjalan memasuki lift dengan Arsy dalam gendongannya.
🍁🍁🍁
“Apaan nih?” tanya Arya melihat kotak berukuran sedang yang diberikan Azzam padanya.
Setelah mengunjungi Arsy, Azzam mengunjungi Jojo dan Adinda, baru kemudian menemui Arya. Dia ingin meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan pria itu minggu depan. Keduanya kini sedang berada di teras.
“Itu hadiah buat abang. Sorry ya, gue ngga bisa dateng pas nikahan abang nanti. Gue cuma bisa doain aja, semoga menjadi keluarga samawa.”
“Aamiin..”
“Eeeh.. jangan dibuka sekarang. Nanti aja kalau gue udah pergi. Ngga sopan buka hadiah masih ada orangnya,” Azzam nenahan Arya yang hendak membuka kotak pemberiannya.
Kening Arya mengernyit mendengar ucapan Azzam. Dia jadi curiga dan menerka-nerka, apa isi dari kotak di tangannya ini. Azzam tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Pasti saudara sepupunya itu akan terkejut setelah membuka isinya.
“Nanti penghulu yang nikahin abang, sama ngga, kaya penghulunya bang Zar?”
“Ngga. Makanya gue ambil hari nikah seminggu setelah abang lo nikah, biar ngga dapet dia.”
“Hahaha.. antisipasi ya, bang.”
“Iyalah. Lo ngga liat kemarin? Abang lo yang modelan petasan banting aja bisa dibuat mingkem. Apalagi gue.”
“Hahaha… tapi kayanya seru kalau penghulunya abang, dia juga.”
“Beuuhh jangan sampe.”
“Hahaha… ya udah, bang. Gue pergi, ya. Salam buat kak Shifa.”
“Ok.. hati-hati, Zam.”
“Ok.”
Azzam hanya mengangkat jempolnya. Sebelum pergi, dia berpamitan dulu pada Aric dan Naya. Arya mengantarkan sepupunya itu sampai ke mobil. Azzam membuka kaca jendela, kemudian melambaikan tangannya. Arya tetap di tempatnya sampai mobil yang membawa Azzam menghilang.
Dengan kotak pemberian Azzam, Arya masuk ke dalam kamar. Dia mendudukkan diri di belakang meja kerjanya. Diletakkannya kotak tersebut di atas meja, memandangnya dengan seksama. Tangannya kemudian bergerak membuka penutup kotak tersebut. Matanya membulat melihat hadiah yang diberikan sepupunya itu.
Di dalam kotak berwarna biru tua itu terdapat aneka k*ndom dari berbagai merk, gel untuk meredakan nyeri di **** **********, tisu magic dan gel pembesar alat vit*l pria. Wajah Arya memerah melihat hadiah pemberian adik sepupunya itu.
“AZZAAAAAMM!!!”
🍁🍁🍁
**Hadiahnya Azzam fenomenal🤣
Zar.. Mohon maaf, ronde keduanya tunggu seminggu lagi ya🤣**
__ADS_1