
“Sehat, pa?”
Rakan yang melihat kedatangan Azriel segera menghampiri lalu mencium punggung tangan pria itu. Anak bungsu Ega itu mengusak puncak kepala mantan calon menantunya. Niatnya bisa berbesan dengan sang sahabat, Ayunda harus pupus setelah putrinya meninggal dunia karena sakit.
“Alhamdulillah. Bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah, sehat. Oh iya, kenalin ini Vanila.”
Vanila maju ke depan, kemudian mencium punggung tangan Azriel. Dia sudah mendengar dari Shifa, kalau Rakan tengah dekat dengan seorang gadis. Mata pria itu terus memandangi wajah cantik di depannya.
“Jadi ini calonmu?” tembak Azriel.
Wajah Vanila langsung memerah. Antara dirinya dengan Rakan masih belum ada kepastian, namun kabar kedekatan mereka sudah tersebar ke seluruh keluarga Ramadhan. Gadis itu jadi malu sendiri.
“Bakal calon, pa,” ralat Rakan.
“Ayo disegerakan, jangan menunggu terlalu lama. Bisa-bisa kamu disalip Daffa.”
“Hahaha.. bisa aja papa.”
“Kapan-kapan main ke rumah ya.”
“In Syaa Allah, om.”
“Jangan panggil om. Panggil papa aja, seperti Rakan.”
“I.. iya, pa,” jawab Vanila sedikit canggung.
“Nanti papa ajarkan main bulu tangkis. Kamu suka ngga?”
“Dia sukanya masak, pa,” ujar Rakan.
“Wah bisa dong sekali-kali masakin papa.”
“In Syaa Allah.”
Senyum di wajah Azriel terbit. Dia mengusak puncak kepala Vanila, kemudian meninggalkan pasangan muda itu, untuk mencari keberadaan sahabatnya. Vanilla menarik tangan Shifa, kemudian mengajaknya menuju kumpulan pada sepupunya.
“Gaaeesss.. kenalin ini kak Shifa. Kalian pasti tahu dong doi siapa,” Vanila menaik turunkan alisnya.
“Widih pemain kelas dunia datang juga. Kenalin, gue Zar,” Zar mengulurkan tangannya pada Shifa yang langsung dibalas wanita itu.
“Ini sepupu gue. Ada Sam, Arya, Gilang, Farzan dan ini Fikri.”
Zar memperkenalkan sepupu yang tengah bersamanya pada Shifa. Tangannya terangkat ketika melihat Azzam yang baru saja turun dari panggung pelaminan. Pria bertubuh tegap itu segera menghampiri sang kakak.
“Kalau ini adik bungsu gue, Azzam. Zam, kenalin ini..”
“Shifa,” sambar Azzam.
“Yoi. Tau juga.”
“Ya taulah. Kita kalau di asrama suka nobar pertandingan bulu tangkis," jawab Azzam.
Azzam mengulurkan tangannya pada Shifa seraya menyebutkan namanya. Senyum wanita itu mengembang ketika dikenalkan dengan keluarga Hikmat. Matanya kemudian mencari-cari sosok yang ingin ditemuinya.
“Cari siapa?” tanya Daffa.
“Bibie mana?”
“Tuh..”
Tangan Daffa menunjuk meja yang dekat dengan panggung hiburan. Senyum Shifa mengembang, bergegas dia menuju pasangan yang tengah berbahagia menunggu kelahiran anak pertama mereka.
“Bie..” panggil Shifa.
“Eh.. kapan pulang?”
“Dua hari lalu. Ini istri kamu?” Shifa melihat pada Arsy.
“Iya. Ar.. kenalin ini Shifa, anaknya papa Ziel sama mama Yossi.”
Kedua wanita itu saling mengulurkan tangan dan berjabat tangan seraya menyebutkan nama masing-masing.
“Sorry ya pas kalian nikah aku ngga bisa datang. Pas lagi turnamen juga soalnya.”
“Ck.. turnamen mulu. Cepetan nikah.”
“Bawel.”
Shifa meninggalkan sebentar pasangan muda tersebut untuk mengambil makanan. Dengan sepiring dimsum di tangannya, dia kembali ke meja yang ditempati oleh Irzal, lalu mendudukkan diri di samping Arsy.
“Darren ngga ke sini?” tanya Shifa.
“Kayanya tadi dateng, tapi udah pergi lagi.”
“Padahal aku janjian sama dia di sini. Telat, deh.”
“Emang mau ngapain?”
“Butuh bantuan dia buat ngelacak pengagum rahasia.”
“Emang punya pengagum rahasia? Kerajinan banget tuh orang jadi pengangum rahasia. Ngga ada yang lebih pantes apa?”
__ADS_1
“Beneran ya, Bie.. mulut lo biar udah nikah, pedesnya ngga abis-abis. Sy.. harap sabar ya ngadepin mulut mercon kaya dia. Kalau dia ngga romantis, jangan kasih masuk kamar.”
Shifa menjulurkan lidahnya, kemudian meninggalkan meja tersebut dengan piring dimsum di tangannya. Arsy hanya tertawa saja melihat perdebatan suaminya dengan pemain bulu tangkis nomor satu dunia itu.
Sementara di atas panggung, pasangan pengantin masih terus menerima ucapan selamat dari tamu yang datang. Sang pembawa acara memberi tanda, memberikan waktu untuk kedua mempelai mengistirahatkan tubuhnya. Tamu yang belum memberi ucapan dipersilahkan mencicipi hidangan lebih dulu.
Baru saja Stella duduk di samping suaminya. Tiba-tiba Suzy muncul dan duduk di antara dirinya dengan Tamar. Mata Stella menatap tajam pada jin wanita itu. Tapi Suzy nampak cuek saja, dia malah merebahkan kepalanya di pundak Tamar.
“Eh.. apa-apaan lo! Cari mati!” sewot Stella sambil melotot.
Sontak Tamar menolehkan kepalanya. Dia terkejut melihat wajah Stella yang nampak sewot melihat padanya.
“Kamu kenapa? Ngga ada angin ngga ada hujan, marah-marah,” sembur Tamar.
“Bukan sama abang tapi Suzy. Nih jin enak aja main duduk di tengah. Mana sok manja nyenderin kepalanya di bahu abang.”
Refleks Tamar menepis-nepis bahunya. Suzy mengucek-ngucek hidungnya saat tangan Tamar mengenai hidungnya. Dia menarik kepalanya kemudian bangun dari posisinya. Stella langsung beringsut merapat pada Tamar. Suzy pun duduk di samping Tamar.
“Ngapain lo duduk di situ? Demen banget nemplok deket suami gue. Pindah sini!”
Tamar melihat ke arah kanan begitu mendengar ucapan istrinya. Lagi-lagi pria itu mengibaskan tangannya, mencoba menyingkirkan Suzy dari sampingnya. Kali ini bukan hidungnya yang terkena kibasan tangan Tamar, melainkan wajahnya. Dengan kesal Suzy berpindah ke samping Stella.
“Ngapain lo dateng tiba-tiba udah kaya jailangkung.”
“Pengen lihat bestie gue nikah. Sinis banget bawaan lo. Bilangnya ngga cinta, giliran gue deketin sewot. Sesuka apapun gue sama dia tetap aja ngga bisa ngapa-ngapain. Beda kalo orang, bisa peluk, cium, ngajak ke atas ranjang.”
“Ish.. berisik. Lo nyumpahin laki gue selingkuh?”
“Ssstt.. berisik Stel,” peringat Tamar.
“Ini lagian si Suzy rese. Masa dia nyumpahin abang selingkuh.”
“Mana doyan aku sama makhluk jadi-jadian kaya dia. Mukanya juga jelek, males banget lihatnya.”
“Ya ampun suami lo ngomongnya kaya petasan ya, ngga enak banget. Bilangin sama dia, gue ngga naksir dia. Mending juga sama Johan.”
“Ya udah sana kejar Johan. Ngapain di sini?"
“Bentar aja, Stel. Gue pengen deket elo sebelum lo ngga bisa lihat dan ngomong sama gue lagi.”
Mendadak wajah Suzy berubah sendu. Jika Stella sudah berhubungan badan dengan Tamar, maka hubungan keduanya sudah tidak bisa terjalin lagi. Stella akan menjadi orang normal dan tidak akan melihat penampakan lagi.
Sama seperti Suzy, Stella pun merasakan hal yang sama. Dia lupa kalau dirinya sudah menikah dan menunaikan kewajibannya sebagai istri, otomatis dirinya tidak akan bisa berinteraksi lagi dengan makhluk astral. Dulu dia sangat ingin kemampuannya hilang dengan cepat. Tapi sekarang rasanya berat berpisah dengan Suzy yang sudah dianggap sahabat olehnya.
“Kamu kenapa?” tanya Tamar yang melihat perubahan wajah istrinya.
“Ngga apa-apa.”
“Ayo bangun lagi.”
🍁🍁🍁
Pukul tiga sore acara resepsi berakhir. Kedua pengantin diperkenankan masuk ke kamar pengantin. Diantar para sepupunya, Stella menuju kamar pengantin, sedang Tamar memilih berganti pakaian di kamarnya tadi ditemani oleh Bima.
Usai melepaskan pakaian pengantin dan membersihkan make up di wajahnya, Stella segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dayana dan Ghea yang tadi mengantarnya juga sudah keluar dari kamar pengantin tersebut. Setelah mandi dan berpakaian, Stella menunaikan shalat ashar dan dzuhur yang disatukan karena tadi terlewat saat resepsi.
Begitu gadis itu selesai shalat, Tamar masuk ke dalam kamar. Wajah dan tubuh Tamar terlihat lebih segar setelah terkena guyuran air. Pria itu mengenakan pakaian santai, hanya kaos dan jeans. Dia mendudukkan diri di kursi meja rias, memandangi Stella yang tengah melipat mukena.
“Habis ini acaranya apa?” tanya Stella.
“Ngga ada acara apa-apa. Paling kumpul sama teman-teman sambil nunggu jam makan malam.”
Stella hanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu berjalan ke tepi ranjang, lalu mendudukkan dirinya di sana. Netra kedua pengantin itu saling bertemu. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang.
“Kamu tadi kenapa?”
“Maksudnya?”
“Mukamu kelihatan sedih.”
“Oh.. itu.. soal Suzy. Kalau aku udah nikah dan kita udah… abang tahulah. Aku ngga akan bisa melihat makhluk astral lagi, termasuk Suzy.”
“Oh ya?”
“Iya. Kemampuanku akan menghilang, sama seperti eyang dan mami. Aku sedih aja. Biar gimana juga, Suzy udah jadi temanku hampir setahun. Ngga bisa lihat dia lagi, kaya ada yang hilang aja gitu.”
“Aku tahu kamu dekat dengan Suzy. Bahkan dia juga membantuku memecahkan kasus. Tapi.. alam kalian memang berbeda. Dan ngga baik manusia bergaul dengan jin. Bukannya itu bagus? Kamu akan menjadi manusia normal.”
“Tapi aku sedih aja.”
Stella menundukkan kepalanya. Tamar memandangi istrinya lekat-lekat, kemudian pria itu berpindah duduk di samping Stella. Tangannya meraih bahu sang istri, lalu menariknya dalam pelukannya.
“Kamu mungkin kehilangan Suzy. Tapi kamu akan dapat sahabat baru.”
“Siapa?” Stella mengangkat kepalanya, melihat pada Tamar.
“Aku. Aku akan menjadi sahabatmu. Status kita memang suami istri, tapi tidak ada salahnya kalau kita bersahabat juga. Dengan begitu, kita bisa saling berbagi kebahagiaan dan masalah. Apapun yang membuatmu marah, kesal, sedih, kamu bisa berbagi denganku. Aku sebisa mungkin akan meluangkan waktu mendengarkan ceritamu.”
“Makasih, bang.”
Stella menyurukkan kepalanya ke dada Tamar. Tangannya melingkari pinggang pria itu. Jantung Tamar berdegup kencang berada dalam posisi seperti ini bersama dengan istri sahnya. Padahal ini bukan pelukan pertama mereka. Namun ketika mereka melakukannya setelah menyandung status sah dan bukan untuk melindungi gadis itu dari makhluk astral, membuatnya berdebar tak karuan.
Hal sama juga berlaku pada Stella. Walau detak jantungnya tak karuan, namun dia enggan melepaskan diri dari pelukan Tamar. Tubuh suaminya itu terasa hangat, dan dirinya merasa lebih terlindungi.
__ADS_1
Pelukan keduanya terurai ketika ponsel Tamar bergetar. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. para sahabatnya sudah menunggu di lobi. Mereka akan menghabiskan waktu bersama sebelum makan malam. Stella juga bersiap menemui keluarganya.
🍁🍁🍁
Setelah makan malam dan bercengkrama dengan keluarga juga para sahabat. Pasangan pengantin baru masuk ke dalam kamar. Seketika suasana canggung langsung terasa, mengingat mereka akan menghabiskan malam dalam satu kamar dan juga satu ranjang.
Stella memilih membersihkan wajah lebih dulu, baru kemudian naik ke atas ranjang. Dia mendudukkan diri di atas ranjang sambil menyenderkan punggungnya ke headboard ranjang. Tamar yang baru keluar dari kamar mandi, terdiam sejenak di tempatnya begitu melihat ke arah ranjang.
Dengan langkah pelan, Tamar berjalan menuju ranjang lalu naik ke atasnya. Sejatinya tubuhnya terasa lelah menjalani serangkaian acara sejak pagi. Kemarin malam juga dirinya tidak bisa tidur nyenyak karena gugup menghadapi pernikahannya. Yang diinginkannya saat ini hanyalah tidur.
“Kamu ngga ngantuk?” tanya Tamar seraya melihat pada istrinya.
“Ngantuk sih.”
“Tidur kalau ngantuk. Aku juga ngantuk.”
Perlahan Tamar merebahkan tubuhnya. Dia berbaring dengan posisi telentang. Melihat Tamar yang sudah berbaring, Stella pun melakukan hal yang sama. Dia ikut berbaring dengan posisi yang sama.
Tamar berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak karuan. Sebisa mungkin dia menyingkirkan rasa gugup yang melanda. Diam-diam pria itu melirik pada Stella yang berbaring di sampingnya.
Dddrrttt.. Ddddrrrttt
Ponsel yang berada di atas nakas begetar. Pria itu mengambil ponsel dan melihat banyaknya pesan yang masuk ke grup divisinya. Dia membuka pesan karena penasaran apa isi pesan tersebut. Matanya membulat membaca deretan pesan. Dengan cepat dia bangun dari posisinya dan menghubungi Aji. Butuh waktu beberapa saat untuk anak buahnya itu menjawab panggilannya.
“Halo..”
“Halo, Ji. Ada kejadian apa?”
“Ada kerusuhan di lapas. Ada napi yang memicu kebakaran. Beberapa napi terluka dan beberapa ada yang kabur. Ini kita lagi bersiap mengejar napi yang kabur.”
“Berapa yang kabur?”
“20 orang.”
“Aku ke sana.”
“Ngga usah. Captain ngapain ke sini? Kita-kita juga bisa ngatasin. Fokus aja ke malam pertama, ok.”
Tanpa menunggu persetujuan Tamar, Aji langsung memutuskan panggilan. Pria itu berdecak kesal karena panggilannya ditutup begitu saja. Melihat gelagat suaminya yang mencurigakan, Stella bangun dari tidurnya.
“Ada apa, bang?”
“Ada kerusuhan di lapas. 20 orang napi kabur,” wajah Tamar langsung cemas.
“Kan petugas polisi banyak, bang. Ngga usah khawatir gitu.”
“Lapas yang terbakar itu, sebagian besar napinya ditahan untuk kasus kriminal, kaya pembunuhan, pencurian dan penculikan. Kalau mereka ngga segera ditangkap, pasti akan menimbulkan keresahan di masyarakat.”
“Aku yakin kok, mereka semua bisa ditangkap.”
“Tetap aja aku ngga tenang.”
“Terus abang maunya gimana?”
“Aku mau ke TKP dulu. Mastiin aja kalau mereka ngga kekurangan personil. Habis itu aku balik lagi ke sini. Ok?”
“Sekarang kan hari pernikahan kita. Bisa ngga abang ngga mikirin soal pekerjaan dulu?”
“Maaf, Stel. Aku cemas aja kalau mereka belum tertangkap. Mereka itu napi berbahaya.”
Stella menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya Tamar bersikukuh untuk pergi. Dia tak punya pilihan selain mengijinkan sang suami untuk pergi. Tamar langsung beranjak dari ranjang. Pria itu mengambil pakaian dari dalam lemari lalu masuk ke kamar mandi. Tak lama dia keluar.
“Aku ngga akan lama. Kamu jangan kemana-mana.”
Tamar mengusak pelan puncak kepala istrinya, kemudian keluar dari kamar. Stella hanya pasrah menunggu di dalam kamar. Sang suami sudah berpesan dirinya tidak boleh kemana-mana. Jika dulu dia bisa langsung pergi, tapi tidak sekarang. Langkahnya sudah terikat pada ijin sang suami.
🍁🍁🍁
“Captain ngapain ke sini?”
Aji terkejut melihat sang atasan sudah berada di TKP. Tamar melihat ke sekeliling. Nampak tiga buah mobil damkar dan enam ambulans berada di lokasi. Di sana juga terdapat belasan mobil polisi dan juga URC.
“Gimana situasinya?”
“12 orang sudah tertangkap. Kita masih ngejar sisanya. Situasi aman terkendali. Captain balik aja ke hotel. Masa istri ditinggal di malam pertama.”
Tamar tak mempedulikan cerocosan sang bawahan. Pria itu segera menuju Ridwan yang juga datang ke TKP. Pria itu terkejut melihat Tamar datang ke lokasi kejadian.
“Kamu ngapain di sini?”
“Cuma lihat keadaan.”
“Itu napinya, kejar!!”
Terdengar suara salah satu petugas berteriak saat melihat salah satu napi yang kabur. Pria berseragam tahanan itu berlari menuju salah satu mobil polisi yang terparkir. Dia langsung masuk ke dalamnya. Melihat itu, refleks Tamar mengejarnya. Dia berlari kencang, mencoba menyusul mobil yang dikendarai sang napi.
Lewat jalan pintas, dia berhasil menghadang mobil. Namun sang napi yang tidak mau tertangkap, terus melajukan mobilnya, tanpa mempedulikan keberadaan Tamar di depan sana. Melihat sang napi terus melajukan kendaraan, Tamar terpaksa menyingkir, namun gerakannya sedikit terlambat. Bagian depan mobil menyenggol tubuh pria itu hingga jatuh terguling.
“Captain!!”
🍁🍁🍁
Waduh😱
__ADS_1
Nasibnya Tamar gimana tuh?