Hate Is Love

Hate Is Love
Menjadi Istri Idaman


__ADS_3

Mendengar kabar Abbas telah tertangkap oleh Zar, Richie mulai tak tenang. Sedari tadi pria itu tak henti berjalan bolak-balik. Sesekali dari mulutnya keluar umpatan. Dia benar-benar kesal, kenapa Abbas bisa seteledor itu dan sampai tertangkap oleh Zar. Padahal pria itu sudah mewanti-wanti sahabatnya untuk tetap waspada.


Diki dan tiga orang pengawal yang kemarin menemani Abbas menuju hotel Sakura dimaki habis-habisan oleh Richie. Mereka dianggap tak becus menjaga keamanan sahabatnya. Di antara mereka berempat, hanya Diki yang terlihat santai, sedang ketiga temannya nampak geram. Pasalnya Richie hanyalah tamu dan bukan tugas utama mereka menjaga Richie dan ketiga temannya.


“Dasar bodoh! Kenapa kalian sampai kecolongan, hah?” geram Richie melampiaskan kekesalannya.


“Maaf bos, bukan begitu ceritanya kita…”


“Diam lo! Gue curiga sama elo, dulu elo juga kan yang jaga Daus waktu dia ketangkep sama Zar. Dan sekarang Abbas juga sama. Elo pasti mata-mata si Zar kan?!”


Perkataan Richie sontak membuat posisi Diki dalam bahaya. Ketiga temannya langsung melihat padanya. Pria itu langsung memutar otak agar bisa lepas dari tuduhan Richie dan kecurigaan rekan-rekannya.


“Bos.. gue emang ditugasin buat jaga kalian. Tapi coba bos tanya, apa gue langsung setuju waktu Abbas mau pergi ke hotel Sakura. Jono, lo kan dengar waktu gue ngelarang Abbas, iya kan?” Diki melihat pada salah satu rekannya.


“Iya, Diki emang nyegah Abbas cuma dianya aja yang keras kepala.”


“Aaahhh.. gue ngga percaya lo semua!”


“Kalau memang kamu sudah tidak percaya pada kami, silahkan tinggalkan tempat ini! Kami tidak ada kewajiban untuk menjagamu. Kami melakukan ini atas permintaan pak Alvaro, tidak lebih!”


Richie terkejut ketika seseorang menginterupsi pembicaraan mereka. Dari arah luar ruangan, muncul seorang pria bertubuh tegap, kulit kecoklatan, dan beberapa tato menghiasi kedua lengannya. Dia adalah Rinto atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rambo. Rambo adalah orang kedua di gank margarita.


Rambo menghempaskan bokongnya di sofa yang ada di sana. Salah satu anak buahnya langsung memberikan minuman untuk pria tersebut. Mata Rambo terus memandangi Richie yang sejak kedatangannya mulai diam. Pria itu ikut mendudukkan diri di hadapan Rambo.


“Apa yang terjadi pada ketiga temanmu sebenarnya bukan kesalahan kami. Daus mencari masalah sendiri dengan menculik salah satu keluarga Hikmat. Yuke tergiur game online sampai tertangkap oleh musuhmu. Dan terakhir Abbas, salahnya sendiri yang tidak pernah bisa menahan n*fsunya. Salah kami di mana? Kamu masih bisa bernafas sampai saat ini karena kami menjagamu. Kalau kamu dan teman-temanmu tidak macam-macam, kalian semua masih tetap aman.”


Penuturan panjang lebar Rambo, sukses membungkam mulut Richie yang sedari tadi terus menyalahkan anak buah gank margarita karena tak becus menjaga teman-temannya. Diki cukup lega dengan kedatangan Rambo, setidaknya menghentikan kecurigaan dan bola panas yang bergulir padanya tadi.


“Kalian juga harus lebih hati-hati mulai sekarang!” Rambo melihat pada tiga rekan Diki.


“Iya, bos.”


“Dan kamu.. bagaimana luka-lukamu?” Rambo melihat pada Diki.


“Sudah baikan bos.”


Demi totalitas akting, Diki rela menerima pukulan dari rekan-rekannya sendiri demi menghindari kecurigaan dari yang lainnya. Setelah tak ada lagi yang perlu disampaikan, Rambo memilih untuk pergi. Ketiga rekan Diki juga ikut meninggalkan ruangan tersebut. Saat Diki akan ikut pergi, Richie menahannya.


“Kemarin kamu lihat siapa saja yang datang waktu Abbas ditangkap.”


“Zar.”


“Brengsek! Apa hanya Zar saja?”


“Zar sama perempuan tapi saya ngga kenal.”


“Siapa? Bagaimana ciri-cirinya?”


“Kulitnya putih, rambutnya hitam panjang, hidung mancung, alis tebal, cantik pokoknya.”


“Renata..” gumam Richie pelan.


Dia sangat yakin kalau wanita yang disebutkan Diki adalah Renata. Mendengar itu Richie bertambah geram. Wanita yang hidupnya sudah dibuat hancur olehnya, kini masih bisa berkeliaran bebas, bahkan berhasil menangkap Abbas. Richie mengepalkan tangannya erat, sorot matanya menampakkan kebencian yang begitu dalam pada Renata.


🍁🍁🍁


“Arsy..”


Terdengar suara Renata memanggil ibu hamil itu ketika memasuki area mall bersama dengan Stella dan Dayana. Mereka memang sepakat untuk bertemu dan makan siang bersama. Selain keempat wanita itu, Iza, istri dari Aqeel juga ikut diajak bergabung. Kelima wanita cantik itu duduk bersama di salah satu meja yang ada di Rose café.


“Gimana kabarmu, Sy?” tanya Renata seraya bercipika-cipiki dengan Arsy.


“Alhamdulillah baik.”


Bukan hanya pada Arsy, Renata juga melakukan hal yang sama pada dua pengantin baru, Stella dan Dayana. Mereka langsung bergabung dengan Renata dan Iza yang sudah datang lebih dulu. Mata Dayana langsung tertuju pada perut Iza yang sudah membuncit. Kandungan wanita itu sudah berusia enam bulan.


“Kandungannya udah berapa bulan, Za?” tanya Dayana sambil mengelus perut Iza.


“Alhamdulillah udah enam bulan.”


“Ya ampun pengen deh cepat-cepat hamil kaya kalian. Kamu berapa bulan, Sy?”


“Baru dua bulan.”


“Lo ngga mau punya anak cepat, Stel?” Dayana melihat pada sepupunya.


“Kalau gue sih sedikasihnya ajalah, ngga terlalu ngoyo juga. Lagian gue sama bang Tamar kan masih saling mengenal satu sama lain. Masih pacaran lah istilah kerennya. Jadi dinikmati aja dulu.”


“Gimana bang Tamar?” tanya Arsy penasaran.


“Ya gitu deh. Tapi dia baik, cuma emang agak keras aja orangnya. Tapi dia ngga pernah bentak-bentak gue kalau ngomong. Dan satu lagi, dia tuh selalu makan masakan gue tanpa protes. Padahal rasa masakan gue kan masih amburadul, hihihi..”


Stella terkikik sendiri ketika mengingat dirinya mencoba membuat perkedel jagung. Selain bentuknya yang hancur lebur karena wanita itu tidak menambahkan tepung untuk merekatkan adonan, rasanya juga manis. Rasa manis dari jagung bertambah manis karena Stella menambahkan gula pada adonan perkedel jagung.


“Kok gue kasihan ya sama bang Tamar kalo dengar cerita lo. Untung dia ngga masuk rumah sakit gara-gara keracunan,” timpal Dayana sambil tertawa.


“Rese lo. Emangnya rasa makanan gue semengerikan itu apa?”


Pertanyaan Stella sontak mengundang tawa yang lainnya. Untuk Dayana dan Iza, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kemahiran mereka dalam mengolah masakan. Perut suami-suami mereka sudah dimanjakan dengan rasa masakan mereka yang lezat. Berbeda dengan Arsy dan Stella. Selama menikah bahkan Arsy belum pernah memasak khusus untuk suaminya. Mereka selalu makan di lantai bawah, dan semua hasil masakan mama mertuanya.


“Sy.. lo kan udah agak lama nikah, lo ngga ada keinginan gitu masakin buat suami elo?” tanya Dayana.


“Pengen sih. Cuma gue bingung mau masak apa.”


“Ya masak makanan kesukaan suami elo lah.”


“Nah itu dia, gue ngga bisa.”

__ADS_1


“Belajar, neng. Lo jangan belajar nyuntik sama jahit luka aja, belajar masak juga. Emang lo ngga mau mas Bibie lo tersayang tambah bucin sama elo?”


“Betul itu, modal cantik sama pinter doang ngga cukup. Kita juga harus bisa memuaskan perut suami kita,” sahut Stella.


“Heleh gaya lo ngomong gitu,” ledek Dayana.


“Eh emang gue belum jago masak. Tapi seenggaknya gue berusaha untuk masak walau rasanya amburadul. Yang bang Tamar lihat itu usaha gue buat kasih hidangan buat dia. Makanya dia ngga pernah protes walau rasanya menyeramkan.”


Mendengar ucapan kedua sepupunya, Arsy jadi tertohok sendiri. Selama menjadi istri Irzal, dia baru satu kali memasak untuk suaminya, itu pun hanya nasi goreng yang rasanya pun tidak karuan. Selebihnya mereka lebih banyak memakan masakan buatan Azkia atau membeli di luar.


“Sy.. bunda Azkia tuh jago masak. Kenapa kamu ngga belajar masak aja dari bunda?” Iza yang sedari tadi hanya diam, mulai ikut berbicara.


“Mama Nara juga jago masak. Emang dianya aja yang males belajar,” timpal Dayana.


“Gue kan sibuk di rumah sakit,” kilah Arsy.


“Nah itu. Lo boleh aja sibuk di rumah sakit, tapi jangan lupa kewajiban elo sebagai istri. Gue yakin bang Irzal tuh tipe setia, tapi akan lebih bagus lagi kalau lo bisa melakukan hal lain yang bikin lo tambah perfect di matanya, salah satunya masak. Biar dia tambah klepek-klepek sama elo.”


Arsy hanya menganggukkan kepalanya saja. Apa yang dikatakan Dayana ada benarnya juga. Sepertinya mulai sekarang dia akan menyempatkan waktu belajar masak untuk suaminya.


“Eh iya, Ren. Gue dengar si Abbas udah ketangkep?” Stella mengubah topik pembicaraan.


“Iya, dia udah ketangkep. Tinggal Richie aja.”


“Sabar, Ren. Aku yakin sebentar lagi Richie bakalan ketangkep.”


“Makasih, Za.”


Seulas senyum tercetak di wajah Renata. Dia senang mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Wanita itu berjanji tidak akan mengingat kenangan buruk yang sudah menghancurkan hidupnya dan hanya akan menatap masa depan saja, menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


“Eh kayanya gue cabut duluan. Bang Tamar udah jemput,” Stella bangun dari duduknya.


“Bareng Stel, mas Rafa juga udah jemput.”


Kedua wanita cantik itu segera berpamitan pada Arsy, Renata dan Iza lau bergegas meninggalkan café. Tak berselang lama Aqeel datang untuk menjemput istrinya, Iza berdiri dan meninggalkan Arsy dan Renata. Kini hanya tinggal dua wanita itu yang masih bertahan di sana.


“Bang Irzal ngga jemput?” tanya Renata. Baru saja dia mendapat pesan dari Zar yang akan menjemputnya.


“Mas Bibie masih ada meeting. Dia lagi ada proyek baru, jadi masih sering lembur,” wajah Arsy nampak sedih karena hanya dirinya yang tidak dijemput sang suami.


“Sabar, Sy.. kan suami kamu lagi kerja buat kamu dan calon anak kalian, bukan lagi kelayapan ngga jelas.”


“Iya. Kamu gimana? Zar mau jemput?”


“Ngga, kok.”


“Beneran?”


“Dia emang bilang mau jemput tapi ngga tau jam berapa. Eh hari ini aku ngga ada kegiatan. Gimana kalau kita masak bareng? Kamu mau masakin apa buat bang Irzal, biar aku bantu.”


Mata Arsy nampak berbinar mendengar tawaran dari Renata. Wajahnya yang semula suram berubah menjadi sumringah. Mendengar Renata akan mengajarinya memasak, membuat dirinya kembali bersemangat. Keduanya segera keluar dari café dan menuju supermarket untuk berbelanja bahan makanan.


“Kamu mau masak apa?” tanya Renata sambil mendorong troli.


“Aku mau buatin masakan kesukaan mas Bibie, ayam kecap, capcay sama perkedel jagung.”


“Ok, ayo kita belanja.”


Pertama-tama kedua wanita itu menuju box yang berisi sayuran. Renata memasukkan jagung manis, wortel, brokoli, baby corn, jamur merang, bawang putih dan bawang Bombay. Lalu mereka mengambil bumbu pelengkap seperti penyedap rasa, saos tiram, kecap, soy sauce dan mushroom sauce.


Selesai membeli sayuran dan bumbu, mereka menuju tempat perdagingan. Arsy memilih ayam bagian paha, karena itu adalah bagian favorit Irzal. Lalu wanita itu membeli telur dan tepung terigu.


“Bahan makanannya udah semua. Kamu mau buat apa untuk desertnya?”


“Apa ya? Puding?”


“Puding buah aja ya biar segar. Bagus juga buta kehamilan kamu.”


“Ok.”


Renata menambahkan bubuk puding dan beberapa buah-buahan ke dalam troli belanjaannya. Setelah tak ada lagi yang perlu dibeli, mereka berjalan menuju kasir. Sambil mendorong trolinya, Renata berbalas pesan dengan Zar. Dia meminta pria itu langsung menuju supermarket. Karena tak berhati-hati, troli belanjaannya menabrak troli orang lain.


“Maaf,” ujar Renata.


“Rena..” desis wanita yang trolinya ditabrak Renata.


Melihat wanita di depannya, Renata terkejut. Begitu pula dengan wanita itu. Matanya membulat melihat wanita yang dianggap telah menghancurkan hidup anaknya. Wanita yang ternyata adalah Jelita, ibu dari Richie melihat Renata dengan tatapan tajam.


“Kamu.. ternyata masih hidup juga kamu. Dasar perempuan laknat!”


“Tolong jaga kata-kata ibu!” Arsy yang tidak suka mendengarnya langsung membalas kata-kata wanita itu.


“Kamu masih bisa hidup enak, sedangkan anakku entah berada di mana setelah kamu menghancurkan hidupnya.”


“Apa tidak salah, bu? Richie dan teman-temannya yang sudah menghancurkan hidup saya. Beruntung saya memiliki banyak orang yang selalu memberikan dukungan pada saya sampai saat ini. Kalau sekarang hidup Richie menderita itu salahnya sendiri! Saya akan menunggu kehancuran dirinya.”


Tak ada ketakutan dalam diri Renata lagi sekarang. Dia tidak mau menjadi korban yang teraniaya terus menerus. Jelita memperlakukan anaknya seolah korban dari Renata. Jika dulu wanita itu berhasil mengintimidasinya, tidak sekarang. Dia sudah bertekad untuk melawan siapa saja yang berusaha menjatuhkannya.


“Dasar perempuan tidak tahu malu! Perempuan kurang ajar! Tidak tahu terima kasih. Kalau bukan kami yang membiayaimu kamu mungkin hanya jadi gembel!”


“Harap berhati-hati dengan ucapan ibu. Saya bekerja di keluarga ibu sebagai ganti atas uang yang ibu keluarkan untuk saya. Ibu pikir saya tidak tahu kalau ibu menerima banyak sumbangan karena selalu membawa nama tempat panti asuhanku tinggal. Hanya ibu dan Tuhan yang tahu apakah semua uang hasil sumbangan itu ibu berikan atau tidak.”


“YAAA!! Anak kurang ajar!!”


Tangan Jelita sudah terangkat dan siap mendarat di pipi Renata. Namun sebuah tangan menahan pergerakan Jelita. Zar yang datang tepat waktu, menahan tangan wanita itu. Dia melepaskan tangan Jelita lalu berdiri di depan Renata.


“Saya minta ibu pergi, jangan ganggu Rena lagi. Kalau ibu masih mengganggunya, maka saya tidak akan segan-segan untuk bertindak kasar.”

__ADS_1


Sambil melepaskan tatapan tajam Jelita segera pergi meninggalkan Renata dan yang lainnya. Dia mendorong kereta belanjaannya menjauh dari sana. Zar melihat pada Renata yang tengah berusaha meredam emosinya.


“Kamu ngga apa-apa?” tanya Zar.


“Aku ngga apa-apa.”


“Sy.. lo ngga apa-apa?”


“Ngga, kok.”


“Kok muka lo agak pucet.”


“Biasa, namanya juga bumil. Gue lagi kurang n*fsu makan, makanya pucet terus bawaannya.”


Arsy berusaha menenangkan kakak kembarnya. Sebenarnya perutnya sedikit mulas melihat pertengkaran Renata dan Jelita. Untunglah rasa mulasnya sudah menghilang sekarang. Bersama dengan Zar, mereka berjala menuju kasir untuk membayar belanjaan.


🍁🍁🍁


Arsy memandang tak percaya tiga buah hidangan di atas meja hasil karyanya lewat bantuan Renata. Wanita itu dengan telaten mengajarkan Arsy bagaimana mengolah bahan-bahan yang tadi dibelinya menjadi hidangan kesukaan suaminya. Saat memasak tadi Arsy terus mencatat resep yang dikatakan Renata. Dia juga melakukan semua yang diperintahkan Renata. Dan hasilnya makanan kesukaan Irzal sudah tertata di atas meja.


“Ya ampun aku ngga percaya kalau ini semua aku yang bikin,” gumam Arsy pelan.


“Calon gue emang keren deh. Adek gue yang masakannya acak adul bisa juga bikin masakan enak.”


Dengan kesal Arsy menepak punggung sang kakak. Namun begitu senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya. Renata membantunya memotong-motong sayuran dan menyiapkan bahan lain saja, sedang untuk bumbu wanita itu meminta Arsy yang membuatnya sendiri atas petunjuknya. Dan saat mengoreksi rasa, Renata juga membiarkan nyonya Irzal itu yang melakukannya. Itu agar lidah Arsy terbiasa dan bisa merasakan apakah ada yang kurang dengan masakannya.


“Sy.. mau dong, gue laper nih.”


“Ngga ada. Masa suami gue makan bekas elo. Sana makan aja di luar.”


“Pelit lo.”


“Pulang aja yuk, aku buatin makanan buat kamu deh di rumah KiJo,” bujuk Renata.


“Bener ya, no php.”


“Iya. Kamu mau dimasakin apa?”


“Apa aja yang penting kamu yang masak.”


“Kasih aja balado kecoa sama cicek,” ujar Arsy.


“Dasar adek durhakim ngga ada terima kasihnya.”


“Bodo. Wleee..”


Renata hanya tertawa melihat perdebatan Zar dan Arsy. Dia segera mengajak Zar pergi dari kediaman Arsy. Setelah kepergian Renata dan Zar, Arsy menutup makanan kemudian wanita itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi Arsy terkejut melihat Irzal yang sudah datang. Dengan senang dipeluknya tubuh sang suami yang begitu dirindukannya. Irzal mendaratkan ciuman di puncak kepala sang istri kemudian mengurai pelukannya.


“Peluknya jangan lama-lama. Badanku kotor sama debu dan keringat, bau juga.”


“Ngga apa-apa, aku suka. Aku suka bau keringat mas yang udah kerja keras buat istri dan calon anaknya.”


“Ya ampun istriku manis banget,” Irzal mengecup bibir Arsy.


“Mas mandi dulu, ya. Abis itu makan. Aku udah masakin makanan kesukaan mas.”


“Oh ya? Jadi ngga sabar pengen makan.”


“Mandi dulu, sayang.”


Arsy mendorong tubuh suaminya masuk ke kamar mandi. Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, dia segera menuju ruang makan. Dia akan menyiapkan makanan untuk suaminya.


Tubuh Irzal sudah lebih segar setelah terguyur air dingin. Dia segera menuju meja makan. Dilihatnya Arsy tengah menuangkan air putih ke dalam gelas. Matanya langsung menangkap makanan kesukaannya di atas meja.


“Ini kamu yang buat?” tanya Irzal sambil menarik sebuah kursi.


“Iya, mas. Rena yang ajarin aku. Ayo dicoba.”


Arsy mengambilkan nasi lalu memasukkan ayam kecap, capcay dan perkedel jagung ke dalam piring suaminya. Hatinya harap-harap cemas saat Irzal mulai mencicipi makanannya. Pria itu belum mengatakan apa-apa. Dia masih mengunyah makanan yang baru masuk ke dalam mulutnya.


“Gimana, mas?”


“Enak, sayang.”


“Bener, mas?”


“Iya. Sini makan bareng mas.”


Irzal menepuk pahanya dan meminta Arsy duduk di pangkuannya. Pria itu memeluk pinggang sang istri begitu berada di pangkuannya. Dia mengambil makanan dengan sendok lalu menyuapkannya pada sang istri.


“Enak kan?” tanyanya memastikan.


“Iya. Ya ampun aku ngga percaya bisa masak seenak ini.”


“Makasih ya, sayang,” Irzal mencium pipi istrinya.


“Aku akan rajin belajar masak mulai sekarang. Biar mas tambah sayang sama aku.”


“Tanpa kamu lakukan itu juga mas udah sayang banget sama kamu. Apalagi sebentar lagi kamu akan memberikan kebahagiaan untuk kita berdua.”


Tangan Irzal mengusap perut Arsy dengan lembut. Keduanya meneruskan acara makannya. Irzal tetap memangku Arsy dan menyuapinya. Anggap saja itu balasan untuk sang istri tercinta yang sudah membuatkan masakan enak untuknya. Tangan Arsy memeluk leher suaminya, sesekali dia mencium pipi Irzal dengan mesra.


🍁🍁🍁


Beeuuuhh pasangan ini selalu bikin laper eh wafer eh baper😂

__ADS_1


__ADS_2