Hate Is Love

Hate Is Love
The Proposal


__ADS_3

Setelah dipikirkan matang-matang, akhirnya Renata siap memberikan hukuman untuk Richie. Bersama dengan Zar yang sudah keluar dari rumah sakit, wanita itu segera menuju markas tim keamanan keluarga Hikmat. Keduanya menunggu di ruangan Duta. Tak lama kemudian Syarif datang dengan membawa Richie bersamanya.


Penampilan Richie nampak kucel. Rambutnya acak-acakan, rahangnya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus dan di wajahnya terdapat beberapa luka lebam. Matanya langsung tertuju pada Renata. Pria itu melemparkan senyum sinisnya, lalu mendudukkan diri di depan Renata dan Zar. Syarif segera keluar dari ruangan, meninggalkan ketiga orang itu untuk berbicara.


“Bagaimana keadaanmu? Apa orang-orang di sini memperlakukanmu dengan baik?” tanya Zar dengan tatapan mengejek.


“Cih.. jangan senang dulu. Orang tuaku sebentar lagi akan membebaskanku. Kamu dan semua orang di sini akan masuk ke dalam penjara karena sudah melakukan kekerasan dan penyekapan padaku.”


“Hahaha…”


Tawa Zar langsung terdengar menyambut ucapan Richie. Di saat terdesak pun, pria itu masih menujukkan kesombongannya. Zar mengeluarkan ponselnya, lalu melihat pada Richie.


“Apa kamu mau menghubungi orang tuamu? Berapa nomornya? Biar aku yang hubungi.”


Tak ada jawaban dari Richie. Renata langsung menyebutkan nomor Adriawan. Wanita itu hafal nomor ponsel pengusaha tersebut karena pernah bekerja bersama pria itu di rumahnya. Dengan cepat Zar mengetikkan nomor tersebut lalu memanggilnya. Setelah menunggu beberapa saat, Adriawan menjawab panggilan tersebut.


“Halo..”


“Halo, om. Ini dengan Zar,” mata Zar terus melihat pada Richie.


“Ada apa?”


“Richie.. ingin bicara dengan om.”


Zar segera mengetuk ikon loudspeak. Dia mendekatkan ponsel ke arah Richie. Pria itu melihat sebentar pada pria yang dibencinya itu, baru kemudian berbicara dengan ayahnya.


“Pa.. ini Richie.”


“Ada apa?”


“Kapan papa akan mengeluarkanku dari sini? Jangan lupa untuk memenjarakan semua orang di sini.”


“Richie.. dengarkan papa. Kamu harus menjalani semua hukuman yang diberikan Renata untukmu.”


“Papa bohong kan? Papa cuma bercanda, kan? Buat apa aku menjalani hukuman dari perempuan murahan itu?”


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Richie. Zar yang tidak suka mendengar Richie menghina wanita yang dicintainya, langsung segera memberikan hukuman. Mata Richie membulat mendapat perlakuan seperti itu. Zar mengepalkan tangannya, hendak memukul Richie lagi, namun segera ditahan oleh Renata.


“Papa tidak bercanda. Karenamu, mamamu juga sedang menjalani hukuman. Jadi terima saja hukuman dari Renata dan jalankan dengan baik. Semoga kamu bisa menyadari semua kesalahanmu dan bertobat. Minta maaflah pada Renata, karena kamu sudah menghancurkan hidupnya.”


Setelah mengatakan itu semua, Adriawan langsung mengakhiri panggilannya. Zar langsung mengambil ponsel di tangan Richie lalu duduk kembali di samping Renata. Richie hanya terbengong saja mendengar apa yang dikatakan ayahnya tadi.


“Apa kamu sudah siap mendengar hukumanmu?”


Suara Zar membangunkan Richie dari lamunannya. Pria itu menatap Zar dan Renata bergantian. Renata nampak tenang, duduk menatapnya tanpa berkedip. Begitu pula dengan Zar yang menatapnya dengan mata tak berkedip. Perasaan Richie mulai was-was.


“Rena.. maafkan aku,” Richie menjatuhkan dirinya di depan Renata. Pria itu berdiri di atas lututnya dengan kedua tangan tertangkup.


“Selama dua tahun kamu akan menjalani hukuman berpindah dari satu daerah tertinggal ke daerah lainnya. Kamu akan melakukan pekerjaan fisik di sana, seperti membangun fasilitas jalan, jembatan atau apapun itu yang dapat membantu masyarakat di sana. Kamu akan berpindah setiap tiga bulan sekali.


Di pergelangan kakimu akan terpasang gelang elektronik, kalau sampai terdeteksi hormon testosteronmu naik, maka gelang tersebut akan memberikan kejutan listrik untukmu. Jadi, jangan pernah berpikir melampiaskan n*fsu bejatmu di tempat hukumanmu.”


“Hanya itu hukumannya?” tanya Zar sambil melihat pada Renata.

__ADS_1


“Setelah dua tahun menjalani hukuman berpindah, kamu akan dipindahkan ke pulau Oak. Di sana kamu akan bergabung dengan para preman, begal dan juga anggota gank motor. Mengolah lahan tandus di daerah sana untuk bercocok tanam. Aku sarankan untuk menjaga sikapmu di sana, Richie. Mereka sekumpulan pria yang tidak pernah mendapatkan sentuhan wanita. Jangan sampai mereka melampiaskannya padamu. Kamu mengerti kan, maksudku?”


Richie menelan ludahnya kelat mendengar ucapan Renata. Nama pulau yang disebutkan wanita itu, belum pernah didengarnya. Pulau Oak adalah pulau yang baru saja dibuka tiga tahun lalu. Di sana para preman, begal dan juga anggota gank motor yang selalu membuat kerusuhan di masyarakat menjalani hukumannya. Mereka harus bekerja keras bercocok tanam di daerah yang cukup tandus. Selain bercocok tanam, mereka juga bisa membuat tambak ikan, karena pulau tersebut dikelilingi lautan.


“Rena.. maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Tapi tolong, jangan kirim aku ke sana. Aku mohon Rena..”


Tak ada jawaban dari Rena, wanita itu segera bangun lalu meninggalkan ruangan tersebut. Setiap melihat Richie, dia akan selalu teringat perbuatan pria itu padanya. Zar segera menyusul keluar ruangan. Melihat Renata dan Zar sudah keluar, Syarif segera masuk ke dalam ruangan untuk mengembalikan Richie ke ruang tahanan bawah tanah.


“Ren..”


Langkah Rena tertahan ketika Zar memanggilnya. Wanita itu menghentikan langkahnya, dan menunggu Zar sampai di dekatnya.


“Ren.. kapan aku bisa ketemu bu Sundari?”


“Untuk apa?”


“Melamarmu.”


“Zar..”


“Aku sudah pernah bilang, setelah Richie tertangkap, aku akan langsung melamarmu. Jadi tolong tanyakan pada bu Sundari, kapan dia bersedia menerimaku? Aku akan datang dengan kedua orang tuaku.”


Mata Renata menatap lekat pria di hadapannya. Ternyata Zar menepati janjinya untuk melamar dirinya. Hatinya terharu melihat kesungguhan Zar padanya. Pria itu mau menerima dirinya apa adanya. Walau sudah ternoda dan pernah menyakiti hatinya. Cairan bening menggenang di kedua netra Renata.


“Kenapa?”


“Kamu.. benar ingin menikahiku? Kamu ngga masalah dengan keadaanku?”


“Aku ngga peduli soal itu. Aku mencintaimu apa adanya. Aku harap, kamu juga merasakan hal sama denganku. Apa kamu mau menikah denganku?”


Zar berteriak kencang. Hatinya bahagia, akhirnya wanita pujaan hatinya mau menerima lamarannya. Kalau tidak ingat Renata belum halal untuknya, ingin rasanya dia memeluk dan mencium wanita itu.


🍁🍁🍁


Setelah berdiskusi dengan kedua orang tuanya, Zar akhirnya mendatangi panti asuhan di mana Renata dibesarkan. Niatnya hanya melamar dengan kedua orang tuanya saja, namun Abi dan Jojo memaksa untuk ikut. Alhasil bukan hanya Nara dan Kenzie saja yang mengantarnya, tetapi juga Abi, Nina, Jojo, Dinda, Arsy dan Irzal ikut bersamanya.


Tadinya Arya dan Ervano juga ingin ikut dalam acara lamaran. Namun Zar berhasil mencegahnya. Dia tahu kalau Arya berusaha memperlambat pernikahannya dengan Renata, supaya pria itu dengan Shifa melaju ke pelaminan lebih dulu.


Mobil yang dikendarai Zar berhenti di depan panti asuhan. Di belakang berturut-turut berhenti mobil lain. Irzal dan Arsy turun, disusul Abi, Nina, Jojo dan Adinda dari mobil belakang. Keenamnya segera bergabung dengan Zar, lalu masuk ke dalam panti. Di sana, Renata dan Sundari sudah menunggu.


Ruang kerja Sundari sudah disulap sedemikian rupa, hingga bisa memuat orang-orang yang mengantar Zar melamar Renata. Wanita itu cukup terkejut melihat Abi dan Jojo ikut juga untuk melamarnya. Sebelumnya Zar tidak mengatakan hal tersebut. Mendadak perasaan Renata jadi ketar-ketir. Akankah Abi menyetujui lamaran cucunya itu.


“Terima kasih bu Sundari, mau menerima kedatangan kami yang mendadak ini,” Kenzie memulai pembicaraan.


“Sama-sama, pak Kenzie. Jujur, saya merasa tersanjung menerima kedatangan bapak dan keluarga datang ke sini. Apalagi pak Abi dan pak Jojo juga menyempatkan diri.”


Abi dan Jojo hanya menganggukkan kepalanya saja. Sundari melihat pada Renata yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya saja. Zar menyenggol tangan Kenzie, memberi isyarat pada papanya itu untuk langsung mengatakan lamarannya.


“Kedatangan kami ke sini, seperti yang sudah ibu ketahui, adalah untuk mengantar anak kami, Abidzar untuk melamar Renata.”


Wajah Sundari menunjukkan kebahagiaan. Dia memang sudah mendengar desas-desus hubungan anak asuhnya dengan anak dari CEO Metro East tersebut. Perasaannya lega melihat Renata sudah bisa melanjutkan hidup setelah peristiwa kelam yang menimpanya dan sekarang akan dilamar oleh Zar.


“Alhamdulillah. Sungguh saya merasa sangat bahagia mendengar itikad baik nak Zar untuk melamar Renata. Apa nak Zar bersungguh-sungguh ingin melamar Renata?”


“In Syaa Allah, bu. Saya serius melamar Renata,” jawab Zar mantap.

__ADS_1


“Kalau saya pribadi, tentu saja dengan senang hati akan menerima lamaran ini. Tapi keputusan sepenuhnya saya serahkan pada Rena. Apa jawabanmu, Rena?”


Sundari melihat pada anak asuhnya. Perlahan kepala Renata terangkat lalu melihat pada Sundari. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja, tanda setuju.


“Alhamdulillah,” ujar Zar senang.


Walau Renata sudah menjawab lamarannya waktu itu, tapi jawaban wanita itu sekarang di depan semua keluarganya tak ayal membuatnya kembali merasakan bahagia. Arsy pun tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaan, akhirnya sang kakak akan mengakhiri masa jomblonya bersama wanita yang dicintainya.


“Kalau Rena sudah setuju, tidak ada alasan juga bagi ibu untuk menolak. Kira-kira kapan rencananya nak Zar menikhi Rena?”


“Besok, bu.”


Dengan kesal Kenzie menepak kepala Zar. Anaknya itu memberikan jawaban sekenanya saja. Nara juga menjewer telinga anaknya karena kesal. Arsy hanya terkikik geli melihat penderitaan kakak kembarnya.


“Maafkan anak saya, bu Sundari. Karena Renata adalah menantu wanita pertama di keluarga kami, tentu saja saya dan keluarga ingin memberikan pesta yang layak. Pernikahan akan dilaksanakan paling cepat dua bulan dari sekarang.”


“Papa..” protes Zar.


“Bulan depan kamu harus bolak-balik Jepang, Thailand dan Macau. Apa kamu tega meninggalkan istrimu di rumah? Jangan membantah, dua bulan lagi kalian baru bisa menikah. Itu pun kalau kesibukanmu sudah selesai.”


Zar hanya bisa pasrah mendengar jawaban papanya. Dirinya memang baru saja menerima tugas proyek kerjasama dengan tiga perusahaan besar yang ada di tiga negara yang tadi Kenzie sebutkan. Waktunya memang akan banyak tersita pada pekerjaan tersebut.


“Rena.. apa kamu siap menikah dengan Zar, dua bulan lagi?” tanya Sundari.


“In Syaa Allah siap, bu.”


“Baiklah kalau begitu, pernikahan akan dilaksanakan dua bulan lagi atau menunggu sampai kesibukan Zar selesai.”


“Kamu mau minta mahar apa?” tanya Abi yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan.


“Apa saja, kek. Yang penting tidak memberatkan dan bermanfaat.”


“Jangan minta uang koin seperti Stella ya,” sambar Jojo yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


“Minta oppa korea diair keras aja, hihihi..” sambung Arsy.


Renata ikut tertawa mendengar ucapan calon adik iparnya. Gara-gara Stella dan Dayana yang sedang hamil, dia ketularan hobi menonton drama Korea. Kedua ibu hamil itu kerap mengajak dirinya nonton drama Korea di rumah mereka masing-masing.


“Soal mas kawin, biar aku sama Rena aja yang bahas nanti,” putus Zar.


“Resepsinya mau di mana?” tanya Jojo.


“Itu juga masih dipikirin, KiJo. Pokoknya aku mau yang spesial dan anti mainstream.”


“Asal jangan seperti Barra, yang nyebur ke kolam renang, hahaha..”


Tawa Abi lepas saat mengenang pernikahan terkonyol yang pernah ada. Niat hati ingin melakukan pernikahan dengan gaya nyentrik, mempelai pria malah jatuh ke kolam renang karena tidak mau berhenti bergerak. Belum lagi ditambah insiden cincin pernikahan yang menggelinding.


Renata yang baru mendengar cerita tersebut hanya menganga saja. Tak menyangka ayah angkatnya ternyata pernah mengalami pernikahan fenomenal. Jojo juga tak bisa berhenti tertawa. Tingkah konyol Barra menurun pada Zar. Mungkinkah pernikahan fenomenal akan menimpa Zar kali ini?


Setelah menyepakati waktu pernikahan, Sundari mempersilahkan semua tamunya untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia. Azkia dan Ayunda yang menyiapkan semua hidangan untuk tamunya malam ini. Wanita itu merasa beruntung, keluarga Ramadhan tidak pernah berhenti menyokong panti yang dikelolanya. Dan sekarang keluarga Hikmat juga sudah mulai memberikan bantuannya.


🍁🍁🍁


**Kita tunggu aja ya, seperti apa pernikahan Zar🤭

__ADS_1


Up sekarang ngga terlalu banyak ya. Paksu pulang, liburnya dipercepat. Lumayan lah ya, daripada ngga up😁**


__ADS_2