
“Papa..”
Kenzie yang tengah mempelajari proposal kerjasama dari salah satu kliennya segera mengangkat kepalanya begitu mendengar suara Arsy memanggilnya. Pria itu nampak terkejut melihat penampilan anaknya yang sudah tertutup rapih. Dia meletakkan kacamata bacanya, lalu bangun dari duduknya. Dihampirinya Arsy yang berjalan mendekat padanya.
“Arsy.. ini benar kamu?”
“Iya, pa. Papa suka ngga dengan penampilan baruku?”
“Suka, suka sekali, sayang. Alhamdulillah, beban papa berkurang sekarang.”
Dengan penuh kasih sayang Kenzie memeluk anaknya. Keinginannya melihat sang anak menutup auratnya akhirnya terkabul. Pria itu seperti mendapat kebahagiaan beruntun. Setelah dua bulan lalu Nara memutuskan untuk berhijab, sekarang sang anak juga mengikuti jejak istrinya.
“Papa senang melihatmu seperti ini. Apa Irzal yang menyuruhmu?”
“Ngga, pa. Ini murni keinginanku. Tapi niatku memakainya memang untuk membahagiakan suamiku. Dan aku juga ingin meringankan beban papa,” senyum Arsy tersungging setelah mengatakan hal tersebut.
“Kamu belum kembali ke rumah sakit?”
Kenzie menarik tangan Arsy lalu mendudukkan diri di sofa. Arsy langsung masuk ke dalam pelukan sang ayah. Dia sudah sangat rindu bermanja dengan sang ayah. Walau suaminya juga memanjakannya, namun rasanya berbeda saja kalau bermanja pada ayahnya.
“Minggu depan, pa. Aku masih ingin di rumah dulu.”
“Masa magangmu berapa lama lagi?”
“Lima bulan lagi.”
“Setelah itu kamu mau langsung ambil residensi?”
“Ngga pa. Habis magang, aku mau kerja dulu sambil promil.”
“Terserah kamu aja, sayang. Papa akan selalu mendukung keputusanmu. Bagaimana dengan suamimu? Apa dia setuju?”
“Mas Bie setuju kok. Malah dia nyuruh aku langsung ambil residensi, tapi aku mau promil dulu. Aku kan mau kasih papa cucu.”
Senyum terbit di wajah Kenzie. Pria itu mendaratkan kecupan di puncak kepala anaknya. Harapannya memiliki cucu saat ini memang masih bertumpu pada Arsy, karena kedua anak lelakinya belum memiliki pasangan hidup. Walaupun dia tahu Zar sudah memiliki calon tapi pria itu masih menunda pernikahan karena ingin menangkap Richie lebih dulu.
“Bang Zar hari ini ke kantor, pa?”
“Sekarang tiap hari dia ke kantor. Kuliahnya tinggal nyusun tesis aja. Bisa dilakukan di kantor. Kenapa?”
“Ngga. Ehmm.. bang Zar kan lagi pedekate sama Renata. Papa setuju ngga?”
“Renata anak yang baik. Kenapa papa ngga setuju?”
“Tapi kan dulu dia pernah fitnah bang Zar, terus juga dia udah ngga perawan lagi.”
“Arsy… kok kamu ngomongnya kaya gitu?”
Mata Kenzie menatap lekat pada putri satu-satunya itu. Dia tak menyangka Arsy akan mengatakan hal tersebut. Ditatap seperti itu Arsy hanya tersenyum saja. Dia melepaskan diri dari pelukan sang ayah.
“Itu bukan kata aku, pa. Aku cuma mengatakan apa yang ada dalam pikiran Renata.”
“Kamu kaya cenanyang aja. Tahu dari mana kamu?”
“Aku kan juga perempuan. Setiap kita ngomongin soal bang Zar, aku lihat keraguan dan ketakutan di matanya. Apalagi yang dia takutkan kalau bukan soal itu? Dia ragu papa dan mama mau menerimanya.”
“Itu tugas kakakmu untuk meyakinkannya.”
Perbincangan keduanya terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Panjang umur, orang yang tengah dibicarakan akhirnya muncul. Sama seperti Kenzie, Zar juga terkejut melihat penampilan sang adik yang sudah tertutup rapat. Dengan cepat dia menghampiri Arsy.
“Sy.. kamu sejak kapan pakai hijab?”
“Kemarin, bang.”
“Alhamdulillah. Adik gue tambah cantik aja sekarang.”
Zar merengkuh Arsy kemudian mendaratkan ciuman di kening adiknya itu. Senyum menghiasi wajah Arsy, dia bahagia semua orang senang melihat perubahannya. Hanya tinggal mama, kakek dan neneknya saja yang belum tahu soal ini.
“Pa.. siang ini kita makan bareng yuk. Aku ajak mas Bie, papa ajak mama, kakek sama nenek.”
“Boleh, kamu mau makan di mana?”
“Di Premium aja gimana, pa? Makanan di sana enak.”
“Gue ngga diajak?” sindir Zar.
“Abang makan siang aja sama Rena.”
“Eh bener juga. Udah lama ngga makan bareng sama dia.”
“Makanya ajakin makan siang. Biar dia cepet kesengsem sama abang.”
“Ck.. pesona Zar ngga akan ada yang bisa nolak.”
Arsy hanya mencebikkan bibirnya mendengar kenarsisan sang kakak. Dia sengaja mendorong Zar untuk makan siang bersama Renata. Supaya pria itu bisa melihat perubahan yang terjadi pada Renata.
🍁🍁🍁
Sambil bersiul Zar keluar dari lift begitu kotak besi tersebut sudah sampai di lantai 12. Sesuai anjuran Arsy, dia akan mengajak Renata makan siang. Sebelum jam makan siang, pria itu sudah berangkat ke kantor Rakan Putra Group untuk menjemput sang pujaan hati. Langkah Zar terhenti saat melihat seorang wanita mengenakan hijab tengah duduk di kursi yang biasa Renata tempati.
Siapa tuh cewek? Bang Rakan ganti sekretaris emang? Kok Rena ngga bilang? Dia udah berhenti gitu.
Zar mengambil ponselnya dan menghubungi Renata. Dia ingin meminta kejelasan kenapa wanita itu tidak mengatakan kalau sudah berhenti sebagai sekretaris Rakan. Zar masih bertahan di tempatnya dan menunggu Renata menjawab panggilannya. Matanya terus melihat pada wanita berhijab di depannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa..alaikumsalam.”
Jawaban salam Zar sempat terputus ketika melihat wanita yang mengenakan hijab itu yang menjawab panggilannya. Dengan langkah pelan dia mendekati meja yang ditempati oleh Renata.
__ADS_1
“Halo Zar.. halo..” panggil Renata.
“Ren..”
Renata terjengit mendengar panggilan Zar di belakangnya. Wanita itu langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia berdiri lalu menatap Zar yang melihatnya tanpa berkedip. Bahkan ponsel pria itu masih berada di telinganya. Renata melambaikan tangannya di depan wajah Zar.
“Zar..” panggilnya.
“Ren.. kamu sejak kapan pake hijab?”
“Itu hapenya turunin dulu.”
“Eh iya.”
Zar menurunkan ponselnya lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya. Matanya kembali menatap Renata yang jauh terlihat cantik setelah mengenakan hijab. Dipandangi seperti itu Renata jadi malu sendiri. Wanita itu menundukkan kepalanya.
“Sejak kapan kamu pake hijab?” Zar mengulangi pertanyaannya.
“Sejak kemarin. Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Kamu tambah cantik.”
“Makasih,” jawab Renata dengan wajah bersemu merah.
“Makan siang, yuk.”
“Di mana?”
“Di mana aja, yang penting sama kamu.”
“Di café dekat sini aja, ya. Aku banyak kerjaan, jadi harus cepat balik ke kantor.”
“Boleh.”
Lebih dulu Renata membereskan berkas yang tadi dikerjakannya lalu menaruhnya di dalam laci. Wanita itu mengambil tasnya kemudian keluar dari meja kerjanya. Dia segera mengikuti langkah Zar yang ada di depannya. Berhubung penampilan Renata sudah tertutup sekarang, maka pria itu tidak akan bebas menyentuhnya sekarang. Zar sedikit menjaga jaraknya dari Renata demi kenyamanan wanita itu.
🍁🍁🍁
Setelah membersihkan diri sepulang dari kantor, Rakan keluar dari kamarnya. Dia belum membicarakan rencana untuk melamar Vanila akhir pekan ini pada kedua orang tuanya. Saat pria itu sampai di ruang tengah, nampak kedua orang tuanya tengah menonton televisi sambil menikmati camilan. Daffa juga ada di sana. Rakan segera mendudukkan diri di dekat sang adik.
“Ma.. pa.. hari Sabtu ini bisa antar aku?” Rakan membuka percakapan.
“Kemana?”
“Melamar Vanila.”
“Dia sudah yakin mau dilamar kamu?” tanya Reyhan.
“Udah, pa. Malah dia yang nanya kapan aku ngelamar.”
Senyum Rakan terkulum ketika mengingat momen saat Vanila menanyakan keseriusannya untuk melamar gadis itu. Rupanya hal tersebut yang membuat Vanila uring-uringan dan marah-marah tak jelas padanya.
“Lamaran aja atau mau sekalian tunangan? Kalau lamaran aja, cukup kita yang pergi. Tapi kalau mau sekalian tunangan, uwa-uwa kamu harus diajak,” seru Ayunda.
“Ya udah kalau gitu. Tapi tetap harus beli sesuatu buat lamaran nanti.”
“Iya, ma.”
“Kamu ikut, Daf?” Reyhan melihat pada anak bungsunya.”
“Tergantung, kalau ngga bentrok sama shiftku, aku ikut.”
“Kamu ikut aja. Habis dari rumah om Juna, kita ke rumah om Abi,” ujar Ayunda.
“Ngapain ma?”
“Ngelamar Geya,” jawab Ayunda sambil terkikik.
“Mama apaan sih.”
Reyhan tersenyum mendengar ucapan istrinya. Sudah menjadi rahasia umum di keluarga Ramadhan juga Hikmat kalau gadis itu naksir berat pada anak bungsunya. Sampai-sampai Gara menanyakan hal tersebut padanya karena mendengar kabar tentang Geya dari Rena. Begitu juga Ily yang penasaran setelah mendengar cerita Dimas.
“Hubungan kamu sama Geya, apa?” tanya Rakan.
“Ngga ada hubungan, bang. Kan abang tau sendiri aku lagi konsen beresin masa residen. Kalau itu udah beres baru deh mikirin masalah lain.”
“Anak orang jangan di PHP. Kalau kamu ngga suka, lebih baik bilang dari pada digantung ngga jelas, terus ujung-ujungnya ditolak. Kasihan Geya, biarpun tingkahnya ajaib, tapi dia anak yang baik.”
“Iya, pa. Oh iya soal magangnya Geya gimana?”
“Papa sudah bicara, ada satu slot lagi buat yang magang di bagian humas. Di sana cuma terima dua orang aja.”
“Ok, nanti aku bilang ke Geya biar di siapin surat-surat dari kampus.”
“Cieee.. perhatian banget. Kayanya udah ada bening-benih lope, pa,” goda Rakan.
Daffa hanya menggelengkan kepalanya saja. Pria itu memilih menyingkir dari ruang tengah agar tidak terkena ledekan demi ledekan. Dia kembali ke kamarnya untuk memberitahu soal lowongan magang di Ibnu Sina. Sementara Rakan dan kedua orang tuanya kembali melanjutkan pembicaraan.
“Mama suka sama Geya. Mudah-mudahan aja dia sama Daffa berjodoh.”
“Aamiin.. mudah-mudahan, ma. Tapi mama tahu sendiri modelan Daffa kaya gimana. Dia itu selalu baik dan ramah sama setiap orang. Kadang cewek suka dibuat salah sangka dan baper sama sikapnya.”
“Repot emang, dia kan mirip sama papamu.”
“Kok aku?” Reyhan melihat pada Ayunda. Istrinya itu hanya mengangkat bahunya saja.
Rakan bangun dari duduknya saat ponselnya berdering. Pria itu menjawab panggilan dari asistennya di ruang tamu agar tak mengganggu pembicaraan kedua orang tuanya. Reyhan merangkul pinggang istrinya, dia masih meminta penjelasan apa yang dikatakan istrinya tadi.
“Maksud kamu tadi apa?” Reyhan melihat pada Ayunda seraya mendaratkan ciuman di pipi.
__ADS_1
“Mas kan selalu baik sama semua orang. Sampai sekarang, masih ada yang baper sama mas.”
“Ampun, Ay. Umurku udah tua loh, udah setengah abad lebih. Sebentar lagi juga mau punya cucu. Kamu masih aja cemburu.”
“Ada yang bilang semakin tua semakin mempesona. Ibaratnya santan, semakin tua kelapanya, semakin kental santannya.”
“Hahaha… ada-ada aja kamu.”
Reyhan tak bisa menahan tawanya mendengar hipotesis sang istri yang terdengar absurd. Kedua tangannya memeluk tubuh istrinya dari samping seraya mendaratkan ciuman di pipi Ayunda bertubi-tubi. Deheman Rakan membuat pria itu menghentikan aksinya.
“Jadi nanti ke rumah mau bawa apa?” tanya Ayunda.
“Kalau mau bawa kue, pesan dari om Gavin aja, ma.”
“Hmm.. boleh deh. Terus apa lagi?”
“Terserah mama aja. Kan mama udah pengalaman pas nikahin Aqeel.”
“Aqeel kan nikahnya sama Iza. Ya mama ngga pusing mikirin begituan. Nanti deh mama tanya sama bunda kamu aja.”
Wanita itu bangun dari duduknya lalu menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Dia perlu menghubungi Azkia untuk menanyakan apa yang dibawa wanita itu saat melamar Shaina untuk Aslan.
🍁🍁🍁
Di malam minggu tepat jam tujuh malam, Rakan bersama kedua orang tuanya juga Daffa, Aqeel dan Iza mendatangi kediaman Juna. Kedatangan mereka disambut penuh suka cita oleh Juna dan Nadia. Viren dan Alisha juga menyambut kedatangan calon besannya dengan senang. Mereka segera mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di ruang tengah yang sudah ditata sedemikian rupa.
Dari arah tangga Vanila turun ditemani adiknya, Alden. Keduanya segera menuju ruang tengah. Vanila mendudukkan dirinya di dekat Viren. Kepalanya menunduk saat menyadari pandangan Rakan terus melihat padanya. Melihat semua yang berkepentingan sudah berkumpul, Reyhan langsung mengatakan maksud dan tujuannya datang.
“Terima kasih sebelumnya untuk om Juna dan keluarga, khususnya Viren dan Alisha yang sudah menerima kehadiran kami. Maksud kedatangan kami, untuk mengantar anak sulung kami, Rakan. In Syaa Allah, Rakan serius untuk menjalin hubungan dengan Vanila. Dan bermaksud melamarnya.”
“Alhamdulillah. Selaku orang tua Ila, kami senang mendengar kalau nak Rakan serius untuk menjalin hubungan dengan anak kami,” jawab Viren.
Reyhan melihat pada Rakan. Dia memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengungkapkan keseriusannya untuk melamar gadis pujaannya. Rakan menarik nafas panjang sebentar. Dia melihat pada Viren dan Alisha dengan lekat.
“Seperti om dan tante ketahui kalau beberapa bulan ini, saya memang dekat dengan Ila. Dan saya ingin menjalin hubungan serius dengan Ila. Kalau om dan tante mengijinkan, saya mau melamar Ila menjadi istri saya.”
“Kalau secara pribadi om tidak keberatan. Tapi sepenuhnya om serahkan pada Ila. Biarkan dia yang menjawab lamaranmu. Bagaimana Ila?”
Vanila mengangkat kepalanya ketika sadar pandangan sang ayah tertuju padanya. Dia melihat sebentar pada kedua orang tuanya dan juga Juna dan Nadia, kemudian pandangannya tertuju pada Rakan.
“In Syaa Allah, aku mau, pa.”
“Alhamdulillah,” seru yang lain.
“Kalau dua pihak sudah setuju, hanya tinggal pelaksanaannya. Ila, kamu mau mengadakan pesta pertunangan dulu atau langsung menikah? Semuanya tante serahkan padamu,” ujar Ayunda.
“Kalau aku sih maunya langsung nikah aja, ngga usah pake tunangan. Tapi ngga tau juga kalau bang Rakan.”
“Aku ikut kamu aja,” jawab Rakan.
“Baiklah kalau begitu tidak usah ada pertunangan, langsung saja menikah. Kapan kalian siap untuk menikah?” kali ini Juna yang berbicara.
Juna memang sudah tak sabar untuk segera memiliki menantu. Anak Azra yang paling besar belum ada minat untuk menikah. Dia masih menyelesaikan studi S2-nya sambil membantu Fathan di kantor. Sedang anak keduanya, masih menyelesaikan S1-nya di London. Mungkin akhir bulan depan baru kembali ke tanah air.
“Bagaimana Ila, Rakan?” Alisha melihat pada putrinya juga Rakan.
“Dua bulan lagi gimana?” tanya Vanila melihat pada Rakan.
“Kenapa ngga bulan depan? Lebih cepat lebih baik, kan?” sela Juna.
“Ngga kecepetan grandpa?” tanya Vanila.
“Ngga. Bulan depan aja kalian menikah. Kalau dua bulan lagi terlalu lama.”
Akhirnya Vanila menyetujui usulan Juna untuk menikah bulan depan. Ayunda juga menyarankan menyerahkan semuanya pada L’amour untuk mengurus semuanya. Apalagi Rain adalah kakak dari Reyhan, sudah pasti wanita itu akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan keponakannya.
“Oh pemilik L’amour itu kakak dari Reyhan. Om baru tahu,” seru Juna.
“Iya, om. itu usaha warisan nenek Sarah dan nenek Debby. Karena nenek Debby cuma punya anak bang Gara, masalah L’amour dipercayakan pada kak Rain,” jawab Reyhan.
“Om sudah sering dengar soal L’amour, tapi baru tahu kalau itu milik keluarga kalian. Untuk pernikahan keluarga kita seterusnya kita percayakan saja pada L’amour kalau begitu.”
“Alhamdulillah, terima kasih untuk kepercayaannya, om.”
“Soal mahar gimana? Kamu mau minta apa sayang?” Nadia melihat pada cucunya.
“Ehmm.. belum kepikiran grandma. Nanti aja aku obrolin sama bang Rakan.”
“Ya sudah kalau begitu, masalah waktu penikahan sudah selesai. Soal mahar diserahkan saja pada calon pengantin. Sekarang kita makan malam dulu aja,” ajak Nadia.
Wanita itu segera berdiri kemudian mengajak Ayunda menuju tempat yang sudah disiapkan. Reyhan dan yang lainnya ikut berdiri. Mereka segera menuju halaman belakang. Di sana sudah tersedia aneka makanan untuk tamu istimewa mereka.
“Kandunganmu sudah berapa bulan?” tanya Alisha seraya mengusap perut buncit Iza.
“Tujuh bulan lebih, tante.”
“Sehat-sehat ya ibu dan bayinya. Semoga persalinannya lancar.”
“Aamiin.. makasih tante.”
“Ayo makan yang banyak. Kamu harus makan untuk anakmu juga.”
Sikap ramah Alisha membuat Iza nyaman berdekatan dengan wanita itu. Aqeel mengambilkan makanan untuk istrinya lalu menyuapinya. Jika makan bersama, Iza memang selalu minta disuapi oleh suaminya. Wanita itu memang sangat manja pada Aqeel di kehamilan pertamanya ini.
Vanila mengajak Rakan makan di tempat terpisah. Mereka duduk di dekat kolam renang. Ada hal yang ingin dibicarakannya dengan Rakan. Gadis itu membiarkan calon suaminya itu menghabiskan dulu makan malamnya dan hanya berbincang ringan saja.
“Bang.. ada yang mau aku omongin,” ujar Vanila begitu melihat Rakan sudah menghabiskan makannya.
“Soal apa?”
__ADS_1
🍁🍁🍁
Ila mau ngomong apa nih?