
Sudah sepuluh menit lamanya Aidan duduk di belakang kemudinya. Mobil yang dikendarainya kini berada di perempatan Dago, dekat jalan layang Pasopati. Adisty memintanya melakukan janji yang diucapkannya waktu itu. Dirinya sudah gagal membuat wanita itu jatuh cinta padanya.
“Apa jawabanmu?”
“Besok jam empat sore, aku tunggu abang di perempatan Dago, dekat jalan layang Pasopati. Abang harus tepati janji abang.”
TOK
TOK
Lamunan Aidan buyar ketika terdengar suara ketukan di kaca jendela mobilnya. Di samping mobilnya, Adisty berdiri. Mau tak mau Aidan keluar dari dalam mobil. Sebagai lelaki sejati, tentu saja dia harus menepati janji yang diucapkannya. Betapa terkejutnya Aidan ketika melihat ke arah belakang mobilnya.
Di sana berturut-turut sudah terparkir mobil Irzal, Arya, Daffa, Rakan, Tamar, Rafa, Ervano, bahkan Zar juga ada di sana. Sudah pasti dirinya akan menjadi bulan-bulanan para sahabatnya. Bukan hanya para pria, Arsy, Dayana, Stella, Vanila dan Geya pun tak ketinggalan turut serta. Untung saja Shifa dan Renata tidak ada, setidaknya sedikit mengurangi rasa malunya.
“Kita ke sini mau ngapain, sih?” tanya Zar.
Sebenarnya dia bingung tiba-tiba mendapat ajakan dari Arya. Pria itu juga tidak tahu kalau Aidan kenal dengan Adisty. Sibuk dengan pekerjaan, mengawasi jalannya persiapan pernikahan, sekaligus mewaspadai Arya, membuat pria itu ketinggalan berita terkini.
“Si Aidan bikin taruhan sama Disty. Kalau dia bisa bikin Disty jatuh cinta, mereka bakalan nikah. Kalau kalah, si Aidan bakal joged-joged di perempatan pake daster.”
“Bhuahahaha….”
Suara tawa kencang Zar tentu saja menarik perhatian Aidan. Pria itu hanya mendengus kesal. Pasti Zar tengah menertawakan dirinya. Aidan membuka pintu belakang mobilnya, lalu mengambil paper bag dari dalamnya. Dia berjalan menuju gedung sebuah bank swasta. Meminta ijin menggunakan toilet untuk berganti pakaian.
Sepuluh menit kemudian, Aidan keluar. Suara tawa langsung menyambut kedatangan pria itu. Tubuh tegapnya sudah terbalut daster, namun kakinya masih mengenakan sepatu pantovel. Irzal mendekat, lalu memberikan bungkusan di tangannya.
“Ganti sepatu, lo. Ngga cocok, pake ini.”
Dengan malas Aidan mengambil plastik tersebut. Matanya membulat melihat isi di dalamnya. Irzal memberi kode dengan kepalanya. Mau tak mau pria itu melakukan apa yang diminta atasannya. Dilepasnya sepatu pantovel miliknya, lalu diganti dengan sandal bakiak.
“Pake wig sama kacamata hitam. Jangan sampe orang-orang ngeh, lo itu asisten gue.”
“Asem..” rutuk Aidan.
Pria itu pasrah saja ketika Irzal memakaikan wig rambut keriting dengan panjang sebahu. Ditambah dengan kacamata hitam. Terakhir, Irzal memberikan kecrekan pada sahabatnya itu. Sebisa mungkin dia menahan tawa melihat penampilan asistennya itu. Orang-orang yang melintas pun sudah mulai memperhatikan penampilan Aidan.
Dari bagasi mobilnya, Arya mengeluarkan TOA yang sengaja dibawanya untuk mengiringi Aidan berjoged. Pria itu menaruh TOA di trotoar dekat zebra cross. Dia menyambungkan TOA ke ponsel miliknya. Untuk beberapa saat Arya mencari lagu yang pas untuk Aidan berjoged.
Ketika lampu berubah merah, Aidan melangkah ke tengah jalan. Dia berhenti tepat di tengah zebra cross. Sore hari ini, kendaraan yang berada di lampu merah cukup banyak. Banyak pengendara yang menerka-nerka apa yang akan dilakukan makhluk jadi-jadian di depan sana. Arya segera memutar musik dari ponselnya. Seketika lagu yang tengah popular saat ini mengudara. Aidan menggerakkan kecrekan di tangannya dan mulai berjoged.
“Rungkad. Entek entek an. Kelangan koe sing paling tak sayang. Bondoku melayang tego tenan. Tangis tangisan. Rungkad. Entek entekan. Tresno tulusku mung dinggo dolanan. Stop mencintaimu. Gawe aku ngelu.”
“Bhuahahaha..”
Gelak tawa para sahabat Aidan langsung terdengar begitu melihat pria itu menggerakkan tubuhnya sambil memainkan kecrekan. Aidan berjalan maju mundur, sambil sesekali menggoyangkan bokongnya. Ervano yang merekam aksi pria it uterus saja terpingkal, membuat ponselnya tak mau diam.
Bukan hanya para sahabat, tapi para pengguna jalan pun tak bisa menahan tawanya. Bahkan seorang anak berusia lima tahun turun dari motor, kemudian mendekati Aidan lalu memberikan uang dua ribu rupiah pada pria itu. Karuan saja gelak tawa semakin kencang terdengar. Dalam hati Aidan merutuki keputusannya dulu. Saking percaya dirinya, dia sampai rela membuat taruhan seperti ini.
Diam-diam Adisty pun tertawa melihat apa yang dilakukan Aidan. Apa yang dilakukan pria itu menunjukkan kalau Aidan adalah lelaki yang menepati janji. Walau pun hal dilakukannya membuatnya malu dunia, akhirat, namun pria tetap melakukannya demi sebuah janji.
Penderitaan Aidan berakhir ketika lampu berubah hijau. Pria itu buru-buru menuju trotoar. Hampir saja dia terpeleset ketika berlari akibat bakiak yang dikenakannya. Adisty mengulurkan tangannya membantu pria itu.
“Kita ke perempatan mana lagi sekarang?” tanya Aidan. Pria itu memang berjanji akan berjoged di tiap perempatan yang ada di kota Bandung.
“Hari ini cukup di sini aja,” ujar Adisty.
“Udah sekalian aja, biar sekalian juga malunya.”
“Bhuahaha… nantangin dia. Eh tapi bener, Dis. Mending dicicil aja, biar malunya juga nyicil, hahaha…” Zar tertawa puas.
“Kampret.. emangnya cicilan pinjol apa.”
“Udah.. bubar semua. Pertunjukkan udah selesai,” seru Adisty.
Aidan bergegas menuju toilet yang ada di bank swasta untuk mengganti pakaiannya lagi. Para sahabat Aidan masih berkumpul di sana. Tak lama kemudian, mereka pun segera kembali ke mobilnya masing-masing. Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Zar melihat Adisty sedang berbicara dengan Arga.
Dis.. Dis.. padahal mending Aidan kemana-mana dari pada tuh cowok. Emang cinta itu buta.
Zar segera masuk ke dalam mobilnya, lalu segera memacunya. Bertepatan dengan itu, Aidan keluar dengan pakaian yang tadi dipakainya. Matanya langsung melihat pada Adisty dan Arga. Hatinya bertanya-tanya, apakah gadis yang diincarnya itu memutuskan untuk kembali pada mantan kekasihnya.
Saat Aidan sampai ke dekat Adisty, Arga langsung pergi. Mata Adisty masih melihat pada Arga yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Kemudian pandangannya beralih pada Aidan. Dia mengajak pria itu ke taman yang ada di sebrang. Begitu lampu berubah merah, Adisty dan Aidan menyebrangi jalan, kemudian duduk di kursi yang ada di sana.
“Apa kamu kembali pada Arga?” tanya Aidan langsung.
“Ngga.”
“Syukurlah. Dia itu ngga pantas buatmu. Kamu layak mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.”
“Bang.. terima kasih abang sudah mau menepati janji.”
“Sama-sama.”
“Boleh aku minta hal lain?”
“Apa? Katakan saja. Kalau bisa, aku pasti akan memenuhinya.”
“Bisa abang melamarku?”
Sontak kepala Aidan menoleh pada Adisty. Mata pria itu menatap wanita di sampingnya tanpa berkedip. Adisty membalas tatapan mata Aidan. Sorot matanya menunjukkan kesungguhan.
“Maksud kamu apa, Dis?”
“Ayo kita menikah.”
“Tapi.. bukannya kamu nolak aku?”
“Aku cuma ingin tahu, apa abang pria yang menepati janji. Apa yang abang lakukan tadi, sudah cukup membuktikan.”
“Kenapa kamu mau menikah denganku? Apa karena Arga?”
__ADS_1
“Iya.”
Aidan sedikit kecewa mendengar jawaban Adisty. Dirinya hanya akan dijadikan pelarian saja oleh gadis itu. Masih belum ada jawaban dari Aidan. Pria itu membuang tatapannya ke depan. Melihat lalu lalang kendaraan.
“Aku lelah terus dikejar Arga. Dia terus saja memintaku kembali padanya. Aku juga lelah terus dituduh Maya, ingin merebut Arga darinya.”
“Jadi itu alasanmu menikah denganku?”
“Iya. Selain itu, aku juga ingin menjadi pemilik laki-laki bertanggung jawab yang duduk di sampingku ini. Aku percaya dia akan menjadi imam yang baik untukku.”
“Dis..”
“Ayo kita menikah, bang. Aku percaya padamu, aku percaya abang bisa membuatku bahagia.”
“Kamu yakin?”
“Iya, aku yakin.”
“Kapan kamu mau menikah?”
“Sebelum Arga dan Maya menikah.”
“Kapan mereka menikah?”
“Awal bulan besok.”
Sejenak Aidan terdiam, dia menghitung waktu yang disebutkan Adisty. Jika awal bulan depan. Berarti waktu pernikahan Arga berbarengan dengan waktu pernikahan Zar.
“Kenapa, bang? Ngga sanggup? Katanya abang mau nyalip bang Zar.”
“Iya, tadinya aku mau akad aja dulu kaya Daffa, hehehe.. Tapi aku berubah pikiran. Aku mau buat pesta mewah buat kamu.”
“Aku ngga butuh pesta mewah, bang. Cukup akad nikah yang dihadiri orang tua, keluarga dan sahabat dekat kita.”
“Kamu yakin? Apa orang tuamu setuju?”
“Aku akan bicara pada mama dan papa. Setelah aku bicara, abang bisa langsung menemui mereka.”
Aidan tak mampu mengatakan apa-apa lagi. Semuanya terlalu mengejutkan untuknya. Gadis yang diinginkannya meminta dinikahi secepatnya. Melihat kepribadian Aidsty, dia yakin kalau gadis itu bukanlah tipe wanita yang akan memainkan ikatan suci pernikahan. Aidan akan berbicara pada kedua orang tuanya untuk mengantarnya melamar Adisty.
🍁🍁🍁
“Kamu yakin, Dis?” tanya Azra ketika sang anak menceritakan niatnya untuk menikah dengan Aidan.
Fathan sendiri belum memberikan komentarnya. Pria itu bukan tidak setuju, hanya saja ingin mencari tahu alasan sebenarnya putrinya itu mendadak ingin menikah. Untung saja pria yang dipilihnya Aidan, yang dia sudah tahu seperti apa kapasitasnya. Kalau bukan Aidan, mungkin akan langsung ditolaknya.
“Yakin, ma.”
“Apa alasanmu buru-buru menikah? Setahu papa kamu belum ada hubungan apa-apa sama Aidan. Apa dia yang mengajakmu menikah secepat ini?”
“Bukan, pa. Aku yang minta dia nikahin aku secepatnya.”
Untuk sesaat Adisty hanya terdiam. Dia memang belum menceritakan soal alasan putusnya hubungannya dengan Arga. Gadis itu hanya mengatakan hubungan mereka sudah berakhir. Kedua orang tuanya sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena mereka juga tidak terlalu menyukai Arga.
“Sebenarnya alasanku putus dengan Arga, karena dia udah hamilin Maya. Dan sekarang Arga malah minta aku balikan sama dia. Maya juga nuduh aku mau ambil Arga lagi. Aku capek aja, pa ngadepin dua orang itu. Makanya aku mutusin nikah sebelum Arga dan Maya nikah.”
“Kalau begitu kasihan Aidan. Dia hanya dijadikan tameng untukmu.”
“Ngga gitu juga, pa. Aku suka sama bang Aidan, walau belum sepenuhnya ada rasa cinta. Tapi aku yakin dia bakal jadi imam yang baik.”
“Ya kalau gitu persiapan pernikahan aja dulu. Jangan dadakan kaya gini,” sahut Azra.
“Aku takut, ma. Aku takut bang Aidan berubah pikiran.”
Azra hanya menghembuskan nafasnya, mendengar penjelasan sang anak. Sepertinya Adisty belum sadar kalau sudah mulai jatuh cinta pada Aidan. Ketakutannya ditinggalkan Aidan, sudah menjawab itu semua.
“Sebentar lagi Zar akan menikah, Arya juga. Keluarga pasti kaget kalau kamu nikah tiba-tiba kaya gini.”
“Aku yang bakalan bilang ke grandpa dan yang lain. Aku juga bakal ijin sama bang Zar.”
“Orang tua Aidan gimana?”
“Kalau mama dan papa setuju, bang Aidan bakal langsung bilang ke orang tuanya dan lamar aku.”
“Ya sudah kalau itu keputusanmu. Tapi ingat, kamu harus bertanggung jawab atas keputusanmu. Papa ngga mau ke depannya kamu merengek, menyesali keputusanmu. Atau meminta berpisah dari Aidan.”
“Iya, pa.”
Senyum tercetak di wajah Adisty, akhirnya dia berhasil memperoleh restu kedua orang tuanya. Dia langsung menghubungi Aidan dan mengatakan hasil pembicaraan tadi. Aidan berjanji akan datang besok bersama kedua orang tuanya untuk melamar.
Usai menghubungi Aidan, Adisty bersiap untuk menemui Zar. Biar bagaimana pun juga dia harus mengatakan rencana pernikahannya ini. Untuk Arya, dia akan mengatakannya setelah bertemu dengan Zar. Dengan mengendarai mobilnya, Adisty menuju kediaman Kenzie.
Kedatangan Adisty disambut oleh Kenzie juga Nara. Sebelum menemui Zar, lebih dulu gadis itu mengatakan maksud kedatangannya. Baik Kenzie maupun Nara tidak keberatan dengan keinginan keponakannya itu. Apalagi pria yang dipilihnya adalah Aidan. Sahabat menantunya itu adalah pria yang baik.
“Kapan rencana pernikahan kalian?”
“Secepatnya, ma, pa. Mungkin seminggu lagi.”
“Mama doakan lancar. Katakan saja kalau kamu butuh sesuatu.”
“Iya, ma. Lagian cuma akad aja kok, seperti mama Alisha dulu.”
“Mau akad aja, mau pesta, yang penting pernikahan kalian langgeng, hidup saling mencintai, saling percaya sampai maut memisahkan.”
“Aamiin.. Kalau bang Zar, di mana?”
“Ada di atas. Kamu ke atas aja.”
Adisty bangun dari duduknya, lalu menemui Zar. Pria itu nampak sedang sibuk mempelajari beberapa berkas. Melihat kedatangan Adisty, dia menghentikan pekerjaannya. Zar mengajak Adisty berbincang di selasar.
__ADS_1
“Ada apa ke sini malam-malam?”
“Aku mau minta ijin sama abang.”
“Ijin apa?”
“Aku mau nikah, bang. Tapi perayaannya cuma akad aja. Rencananya minggu depan.”
“Minggu depan? Cepat amat.”
“Iya, bang. Maaf kalau aku duluan.”
“Ya aku sih ngga masalah. Namanya jodoh kan, ya. Tapi ada syaratnya.”
“Apa, bang?”
“Jangan kasih tahu si Arya, hahaha..”
“Hah? Kenapa?”
“Pokoknya jangan. Kalau kamu kasih tau Arya, ijin aku cabut nih.”
“Oh ok.”
Walau tidak tahu alasan Zar melarangnya memberitahu Arya, tapi demi keamanan dan kelancaran, gadis itu langsung mengiyakannya saja.
“Dis.. kamu beneran mau nikah sama dia? Kamu yakin?”
“In Syaa Allah, yakin bang. Emangnya kenapa?”
“Gimana ya.. aku ngga suka aja sama dia. Aku ngga yakin dia bakal jadi imam yang baik buat kamu. Masih banyak laki-laki lain yang pantas buat kamu.”
Kening Adisty berkerut mendengar penuturan Zar. Setahunya Zar dan Aidan berteman baik, tetapi kenapa sepupunya itu memberikan komentar seperti itu. Jangan salahkan Zar, pria itu tengah salah paham. Disangkanya Adisty akan menikah dengan Arga. Karena terakhir kali, dia melihat Adisty berbincang dengan Arga. Pria itu masih menyangka sepupunya itu memiliki hubungan dengan Arga. Apalagi Aidan baru saja ditolak olehnya.
“Emang abang tahu aku mau nikah sama siapa?”
“Tahulah. Kan kemarin aku ada di lampu merah. Lupa kamu?”
“Tapi aku yakin kok dengan pilihanku.”
“Ya kalau kamu yakin, bagus. Aku harap pilihanmu ngga salah. Kalau dia nyakitin kamu, aku orang pertama yang bakal hajar dia.”
“Iya, bang. Makasih udah kasih ijin. Tapi waktu Geya nikah kenapa abang mencak-mencak?” Adisty mengulum senyumnya.
“Masalahya si Daffa nyalip ngga kasih sen. Main nikah aja. Kalau kamu kan udah ijin.”
“Oh gitu. Makasih deh buat ijinnya. Aku pulang dulu ya, bang.”
“Ok.. Dis.. kabarin aja kapan tanggalnya. Aku pasti dateng.”
“Harus. Awas aja kalau ngga datang.”
Zar hanya mengangkat jempolnya. Mata pria itu terus memandangi punggung Adisty yang menjauh. Padahal dia berniat membujuk sepupunya itu untuk menerima Aidan. Tidak rela saja rasanya melihat Adisty menikah dengan Arga. Tapi jodoh tidak ada yang tahu.
🍁🍁🍁
Pagi-pagi, Arya dan Shifa sudah mendatangi kantor KUA untuk mengurus dokumen pernikahan mereka. Rencana pernikahan di awal bulan terpaksa diundur karena gaun pengantin Shifa belum beres. Untung persiapan yang lain sudah selesai, hanya masalah gaun saja yang menjadi kendala.
Setelah menyerahkan berkas yang dibutuhkan, mereka memutuskan untuk segera pergi. Namun mereka mengurungkan niatnya ketika melihat Zar datang bersama Renata. Seperti halnya Arya, pasangan itu pun hendak mendaftar untuk pernikahan. Melihat Arya, sontak membuat Zar terkejut.
“Ngapain lo di sini?”
“Ya daftar nikahlah.”
“Wah beneran mau nyalip gue. Kapan lo nikah?”
“Minggu kedua. Lo tetap mau minggu pertama?”
“Ya iyalah. Udah fix, ngga bisa diganggu gugat.”
“Gue saranin elo pindah ke minggu kedua aja. Kan gue nikahnya Minggu, lo ambil Sabtunya. Ini sih saran gue sebagai sepupu.”
“Ogah. Pokoknya tetap minggu pertama, titik.”
“Ya terserah elo lah. Gue udah ingetin elo, ya. Jangan nyesel.”
“Gue bakalan nyesel kalo ngambil saran elo.”
Renata segera mengajak Zar untuk masuk. Calon suaminya itu kalau sudah bicara, kadang tidak ingat waktu dan tempat. Begitu pula dengan Shifa. Malu saja orang-orang melihat mereka berdebat karena waktu pernikahan.
“Emang kenapa kamu minta Zar nikahnya minggu kedua?” tanya Shifa ketika mereka sudah berada di mobil.
“Kalau minggu pertama, penghulunya itu pak Rahman Surahman, yang nikahin Stella dulu. Beuuhh.. tuh penghulu meresahkan. Si Tamar sama Stella aja sampe dibuat mati kutu sama tuh penghulu.”
“Yang bener? Hahaha… eh terus kita penghulunya siapa? Bukan yang nikahin Daffa, kan?”
“Bukan. Penghulu yang nikahin bang Rafa sama Aya. Aman lah. Ck.. kalau bener Zar ambil minggu pertama, aku bakalan jadi penonton paling depan, hahahaha…”
“Emang sekonyol apa sih pernikahan Tamar sama Stella?”
“Nanti aku kirimin videonya, hahaha..”
Arya segera menyalakan mesin mobilnya, kemudian meninggalkan area kantor urusan agama itu. Sementara Zar sudah mendaftarkan pernikahannya. Sesuai jadwal, dia mengambil waktu di minggu pertama. Pria itu sama sekali tidak tahu kalau penghulu yang akan menikahkannya adalah penghulu yang menikahkan Tamar dan Stella.
🍁🍁🍁
**Kalau Zar tau yang dinikahin Adisty itu Aidan, restu turun ngga ya🤭
Siap² Zar, penghulumu Rahman Surahman🤣**
__ADS_1