Hate Is Love

Hate Is Love
Cicit Kedua


__ADS_3

Stella berjalan mondar-mandir di dalam rumah sambil memegangi perutnya yang terasa mulas. Namun begitu, tangannya kanannya masih memegang makanan, dan sesekali menyuapkan ke dalam mulutnya. Sang mama memang menyarankannya untuk mengisi perutnya, sebagai tambahan tenaga saat melahirkan nanti.


Sejak semalam wanita itu sudah merasakan kontraksi, namun intensitasnya masih jarang. Tamar menyarankannya untuk langsung ke rumah sakit, tapi Stella belum mau. Dia tidak mau menunggu terlalu lama di rumah sakit. Lebih baik menunggu di rumah, sampai dirasakan kontraksi semakin sering sambil menikmati makanan buatan sang mama.


Seminggu menjelang HPL, Stella dan Tamar sudah pindah ke rumah Cakra. Di sana banyak orang, dan pasti akan lebih mudah untuk meminta pertolongan jika tiba-tiba merasakan kontraksi. Cakra mendekati cucunya yang masih terus berjalan mondar-mandir. Sesekali Stella berhenti ketika rasa sakit melanda.


“Mau ke rumah sakit sekarang, Stel? Tamar mana?” tanya Cakra.


“Bang Tamar lagi ke kantor dulu. Katanya mau beresin laporan yang harus dikasih ke atasannya hari ini. Aji lagi sakit, jadi ngga masuk.”


“Ya sudah, kamu ke rumah sakit diantar papi aja,” ujar Irvin yang sudah sampai di rumah lagi begitu Anya menghubunginya.


“Nanti tunggu bang Tamar aja, pi. Sebentar lagi katanya dia pulang. Sssshhhh….”


Stella meringis menahan sakit yang mendera. Intensitasnya kini dirasakan semakin bertambah. Irvin membimbing anaknya duduk di sofa. Stella meraih ponsel yang ada di atas meja, lalu menghubungi suaminya. Untuk beberapa saat panggilannya belum terjawab, hingga akhirnya terdengar suara Tamar.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam, abang di mana?”


“Abang lagi di jalan pulang.”


“CEPETAAAAAANNNN.. aku udah ngga kuat.”


“Iya, sayang.”


Panggilan segera berakhir. Beberapa kali Stella nampak menarik dan menghembuskan nafas. Anya datang dengan membawa tas berisi perlengkapan bayi, lalu menaruhnya di sofa. Dilihatnya wajah sang anak yang terus meringis.


“Sekarang aja ke rumah sakitnya. Kamu bilang aja ke Tamar buat nyusul.”


“Ngga, mi. Aku nunggu bang Tamar aja. Sebentar lagi sampai katanya.”


“Ya udah. Papi sama mami tunggu di rumah aja, ya. Biar aku sama a Irvin yang ke rumah sakit temenin Stella,” Anya melihat pada kedua orang tuanya.


“Papi mau ikut ke rumah sakit.”


“Nanti aja, pi. Kalau Stella udah lahiran. Takutnya lama, papi sama mami malah capek nunggu di rumah sakit,” bujuk Irvin.


“Ya udah. Tapi langsung kasih tau ya, kalau Stella udah lahiran.”


“Iya, pi.”


Dari arah depan terdengar suara mobil berhenti. Mendengar teriakan istrinya tadi, Tamar menjalankan mobilnya ala Maxmillian Gunther. Alhasil dalam waktu kurang dari sepuluh menit sudah sampai di kediaman mertuanya. Bergegas dia menghampiri Stella yang sedang berusaha berdiri.


“Abang lama banget sih.”


“Maaf, sayang. Aku baru beres nulis laporan. Ayo kita ke rumah sakit sekarang.”


“Mi..”


“Iya, sayang. Ini tasnya udah siap kok,” sambar Anya.


“Bukan itu. Jangan lupa makanan buat aku.”


“Astaga iya.. iya.. kamu lagi kontraksi, sama makanan ngga lupa juga.”


“Ngelahirin kan butuh tenaga, mi.”


“Iya.. iya..”


Tamar segera membantu istrinya menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Irvin membawa tas yang berisi perlengkapan bayi. Di belakangnya menyusul Cakra dan Sekar, hendak mengantarkan cucunya sampai naik ke mobil. Anya menyambar tasnya, lalu menyusul sang suami. Tak lupa dia membawa tote bag berisi makanan yang diminta Stella.


Setelah Stella naik ke dalam mobil, Tamar memasukkan tas perlengkapan bayi dan juga tote bag berisi makanan ke jok belakang. Pria itu segera memutari bodi mobil, kemudian naik ke atasnya. Tak butuh waktu lama, kendaraannya segera meluncur pergi. Di belakangnya, kendaraan lain yang ditumpangi Irvin dan Anya menyusul pergi.


🍁🍁🍁


Mendengar sang kakak akan melahirkan, sepulang dari kampus, Dipa langsung menyusul ke rumah sakit. Walau sering bertengkar dan saling meledek, namun pria itu sangat menyayangi sang kakak. Mengetahui sebentar lagi keponakannya akan lahir ke dunia, tentu saja membuatnya berbahagia.


Setelah memarkirkan kendaraan roda duanya, Dipa bergegas memasuki gedung rumah sakit Ibnu Sina. Dia segera menuju lift untuk membawanya ke lantai lima, tempat di mana ruang persalinan berada. Langkahnya terhenti ketika medengar suara Arsy memanggilnya.


“Dipa.. mau kemana?”


“Ke lantai lima. Emang kakak belum tau? Kak Stella mau melahirkan.”

__ADS_1


“Masa? Kamu duluan gih, nanti aku nyusul.”


Dipa hanya menganggukkan kepalanya, kemudian masuk ke dalam lift yang sudah terbuka pintunya. Arsy bergegas menuju ruang prakteknya, untuk membereskan barang-barangnya. Waktu prakteknya sudah selesai, dia akan langsung menuju lantai lima untuk melihat sepupunya itu.


Di lantai lima, nampak Stella masih berjalan-jalan di sekitar kamar. Pembukaannya masih belum komplit, jadi suster menyarankan wanita itu untuk berjalan-jalan untuk memperlancar jalannya pembukaan. Di sampingnya, dengan sabar Tamar terus menemainya. Tangannya sudah dipenuhi tanda merah. Setiap merasakan kontraksi, Stella akan melampiaskan rasa sakitnya pada sang suami.


“Kak..” panggil Dipa seraya berlari ke arahnya.


“Belum melahirkan?” tanya Dipa begitu sampai di dekat Stella.


“Lihat sendiri aja, perut gue masih melendung,” jawab Stella asal.


“Dip.. tolong pegangin kakakmu dulu. Abang mau beli beli minum dulu.”


Tanpa menunggu jawaban Dipa, Tamar segera pergi menuju mesin penjualan minuman. Dia memilih dua botol air mineral. Dengan sigap Dipa memegangi tangan sang kakak yang masih berjalan-jalan. Tiba-tiba saja Stella berhenti ketika kembali merasakan kontraksi. Tangannya langsung menjambak rambut Dipa yang ada di sampingnya.


“Aduuuhh… sakit kaaakk.. oiii… aduuuhh.. buset ganas banget sih lo.. aaaawwwww…”


Tamar tak bisa menahan tawanya melihat sang adik ipar yang berteriak kesakitan akibat kekerasan yang dilakukan istrinya. Irvin dan Anya yang berada tak jauh dari sana, malah tertawa saja melihat penderitaan anak bungsunya.


“Adaaaawwww!!!”


Kembali terdengar teriakan Dipa. Kali ini telinganya yang dijadikan sasaran Stella. Jewerannya di telinga Dipa terjadi cukup lama karena rasa sakit yang menderanya cukup lama juga. Tamar bergegas menghampiri istrinya ketika suster memintanya mengantarkan Stella ke ruang persalinan.


“Sayang.. ayo kita ke ruang persalinan.”


Dipa mengusap telinga dan juga kepalanya yang terkena jambakan dan jeweran dari kakak perempuannya. Tamar terus membimbing Stella memasuki ruang persalinan. Dia membantu sang istri naik ke meja partus. Di dalam ruangan, suster, bidan dan dokter kandungan sudah bersiap untuk membantu persalinan.


Setelah memakai sarung tangannya, bidan segera mendekat, kemudian memeriksa pembukaan Stella. Kepalanya mengangguk pada sang dokter. Mereka pun bersiap untuk membantu kelahiran anak Stella dengan cara normal.


🍁🍁🍁


Dua jam berlalu, pintu ruang persalinan terbuka. Dari dalamnya keluar Stella yang duduk di kursi roda, dengan Tamar berada di belakangnya, mendorong kursi tersebut. Tawa Irzal dan Daffa hampir meledak melihat penampakan sahabatnya. Rambut Tamar acak-acakan, di tangannya juga terdapat beberapa luka bekas cakaran dan cubitan. Pantas saja tadi terus terdengar teriakannya dari dalam ruang persalinan.


Anya segera menyambut sang anak yang tengah menggendong bayi mungilnya. Diambilnya bayi berjenis kelamin laki-laki itu. Irvin mendekat, melihat wajah cucu pertamanya dengan penuh sukacita. Suster mengarahkan Tamar untuk membawa Stella ke ruang perawatan.


Demi kenyamanan ibu dan bayi, Irvin sudah memesan kamar VVIP untuk anaknya. Tamar menarik tirai untuk menutupi bed, karena Stella hendak menyusui anaknya. Pria itu kemudian bergabung dengan yang lain di sofa.


“Berapa berat badan anakmu?” tanya Anya.


“Kok cuma 3,1 kg. Padahal kak Stella naik hampir 20 kg loh. Tuh sisanya kemana?” tanya Dipa polos.


“Ya ke badan kakakmu. Ngga lihat apa sekarang bodinya udah kaya bola, hahaha..” jawab Arsy.


“Siap-siap aja Tam, dompet jebol. Kalo lagi menyusui nafsu makannya tambah gede tuh,” kekeh Irzal.


“Tenang, bang. Nanti mami sama papi subsidi beras sama bahan lainnya kok, hahaha..”


“Dipa!! Gue denger ya!!” teriak Stella dari arah bed.


Pria itu hanya terpingkal saja mendengar protesan sang kakak. Tamar menanggapi semua selorohan keluarga sang istri dengan senyuman saja. Hari ini dia benar-benar bahagia, sang anak yang sudah ditunggunya, akhirnya terlahir ke dunia dengan selamat dan tidak kekurangan apapun.


“Orang tuamu sudah diberi tahu?” tanya Irvin.


“Sudah, pi. Besok mama sama papa ke sini.”


Tamar segera berdiri ketika Stella memanggilnya. Disibaknya tirai yang menutupi bed. Sang anak rupanya sudah selesai menyusu. Tamar mengambil anaknya dari gendongan istrinya. Anya mendekat lalu mengambilnya dari tangan Tamar. Dia memposisikan sang cucu dalam keadaan tegak sambil disandarkan ke dadanya. Setelah terdengar suara sendawa, baru dia menurunkannya.


“Kalau habis menyusui, harus digendong seperti tadi, sambil ditepuk pelan punggungnya. Kalau sudah sendawa, baru gendong seperti ini,” terang Anya.


“Iya, mi.”


Kepala Anya menoleh ketika terdengar suara pintu terbuka. Cakra dan Sekar masuk ke dalamnya. Di belakang mereka menyusul Arya dan Shifa. Tadi Cakra menghubunginya dan meminta diantar ke rumah sakit. berturut-turut di belakang mereka, masuk Abi, Nina, Juna, Nadia, Jojo, Adinda, Kevin dan Rindu.


“Cicit eyang, gantengnya,” ujar Cakra begitu berada di dekat Anya.


“Namanya sudah ada?” tanya Sekar.


“Sudah eyang.”


“Siapa?”


“Aditya Dzuhairi Urahman.”

__ADS_1


“Nama yang bagus,” puji Sekar.


Bergantian pandawa lima beserta istri melihat cicit kedua mereka. Jika dari Dayana, mereka mendapatkan cicit perempuan. Dari Stella, mereka mendapatkan cicit laki-laki. Kini hanya menunggu Vanila yang baru saja masuk trimester pertama kehamilan.


“Nah nanti di antara Irzal, Arya, Zar sama Aidan, siapa duluan nih yang cebongnya sampe finish,” celetuk Abi.


“Pasti aku dong, kek.”


Terdengar suara Zar dari dekat pintu. Bersama dengan Renata, mereka baru saja datang. Tak lama kemudian, pasangan Aidan dan Adisty masuk ke dalam ruangan. Keempatnya segera bergabung bersama yang lain.


“Yakin, Zar? Emang sawahnya Rena udah kering? Hahaha..” sambar Arya.


“Weh.. udah dong. Dari kemarin-kemarin juga gue udah melancarkan serangan pagi, siang, sore, malem, hahaha..”


Renata mendaratkan cubitan di pinggang istrinya. Suaminya ini kalau bicara selalu sukses membuat wajahnya merona. Tak ada komentar dari Aidan, dia yakin sekali kalau cebongnya yang akan duluan bersemayam di rahim sang istri.


“Yang pada jomblo kapan nyusul ya,” seru Juna.


“Tenang aja, grandpa. Nanti aku bawa Vano dan yang lain ke gua anti jomblo. Biar cepat dapet pasangan, hahaha…” seru Arya.


“Emang ada gua anti jomblo? Di mana?” tanya Zar penasaran.


“Ada di pulau Kunti, Sukabumi. Tempat gue bulan madu kemarin.”


“Serem amat nama pulaunya.”


“Iya seserem muka lo, Dan, hahaha..”


“Kampret!”


Suara gelak tawa kembali memenuhi ruangan tersebut. Namun suara gaduh itu sama sekali tidak mengganggu kenyenyakan tidur bayi mungil bernama Aditya. Pelan-pelan Anya membaringkan cucunya di boks bayi. Abi yang duduk di sebelah Irzal, memeluk bahu cucu mantunya ini.


“Gimana peluang kamu? Siap bersaing sama para pengantin baru itu?”


“Tenang aja, kek. Biarin aja mereka balapan, aku yakin, aku duluan yang sampe finish, hahaha..”


“Aamiin.. kakek doakan. Ingat, jangan kasih kendor.”


Arsy hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar pembicaraan suami dan kakeknya. Namun dalam hatinya mengamini apa yang dikatakan keduanya. Dia juga ingin segera memiliki momongan untuk menambah kebahagiaan dan memperat hubungannya dengan Irzal. Dia yakin kalau suaminya akan menjadi ayah yang hebat untuk anaknya nanti. Seperti halnya sang kakek, papa dan ayah mertuanya.


🍁🍁🍁


Malam mulai menjelang. Suasana kamar rawat inap yang ditempati Stella dan bayinya sudah sepi. Semua keluarganya yang tadi menengok sudah pulang ke rumah. Kini hanya tinggal suaminya saja yang menemaninya.


Tamar baru saja membaringkan sang anak di boks bayi selesai menyusu dari sumbernya langsung. Stella menepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta sang suami berbaring di sampingnya. Tamar segera naik ke atas bed, namun tak lama turun kembali, karena ternyata bed tidak cukup menampung dirinya dan sang istri. Tubuh Stella yang melar, memakan tempat lebih banyak.


“Abang tidur di sofa aja,” ujar Tamar.


“Aku makan tempat ya, bang,” wajah Stella nampak cemberut.


“Ngga usah sedih. Kan besok kamu udah boleh pulang. Kita bisa tidur sama-sama lagi. Sekarang kamu istirahat ya.”


“Kalo badanku ngga balik kaya dulu, gimana bang?”


“Ya ngga apa-apa. Yang penting kamunya sehat.”


“Tapi abang jangan tergoda sama perempuan lain ya?”


“In Syaa Allah, ngga. Abang cinta kamu apa yang ada di dalam kamu, bukan karena fisikmu. Lagian, kamu itu perempuan antik, udah ngga ada stok lagi di dunia. Rugi kalau abang lepas kamu.”


“Ish..”


Tawa pelan Tamar terdengar. Dirangkumnya wajah sang istri, kemudian mencium bibirnya dengan mesra. Dengan cepat keduanya tenggelam dalam ciuman panjang nan menggelora. Tanpa sepengetahuan mereka, ada yang sedang memperhatikan kemesraan dua orang itu.


Suzy yang melihat Stella pergi ke rumah sakit langsung mengikutinya, dan melihat perjuangan sang sahabat melahirkan buah hatinya. Dan sampai malam ini, jin wanita itu masih bertahan di sana.


“Selamat ya, Stel.. aku doakan kamu bahagia selalu. Aku juga berharap keturunanmu tidak ada yang mewarisi kemampuanmu. Aku akan selalu berada di dekatmu dan menjadi saksi kebahagiaanmu.”


🍁🍁🍁


**Selamat Stella dan Tamar, sudah menjadi orang tua.


Semoga aja reviewnya ngga selama SM ya.

__ADS_1


Kemarin ada yang penasaran penampakan karang. Nih aku kasih🏃🏃🏃**



__ADS_2