
Waktu menunjukkan pukul setengah empat dini hari. Jalanan kota Bandung nampak lengang, belum banyak kendaraan yang berlalu lalang. Warga ibu kota Jawa Barat ini masih banyak yang terlelap dalam tidurnya.
Di tengah kesunyian, sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju di jalan raya. Dua orang yang berada di dalam mobil adalah wanita muda dalam keadaan mabuk. Suara musik berdentum kencang melalui audio mobil. Baik sang pengemudi maupun penumpang larut dalam irama musik yang diputar.
Kendaraan nampak tak berjalan lurus. Sisa hujan semalam masih meninggalkan basah di aspal dan membuat kondisi jalan sedikit licin. Roda kendaraan bergerak zigzag, tapi sang pengemudi tak mempedulikannya. Dia asik bernyanyi-nyanyi sambil menggerakkan kepala ke kanan dan kiri.
Di sebuah perempatan, dia membelokkan kendaraannya ke arah kanan tanpa mengurangi kecepatan mobilnya. Ketika roda ban melewati genangan air, laju mobilnya jadi tidak terkendali. Mobil terus bergerak ke samping kiri menuju sebuah warung nasi 24 jam yang ada di sisi jalan.
Semua yang berada di warung nasi bergerak cepat untuk menghindari mobil yang melaju ke arah mereka. Sang pengemudi yang terkejut segera membanting stir, namun upayanya terlambat. Kendaraan roda empat yang dikemudikannya menabrak warung nasi sederhana tersebut. Wanita pemilik warung nasi yang tengah menghangatkan makanan tidak dapat menghindar. Tubuhnya terpental saat tertabrak mobil.
Bukan hanya sang pemilik warung, tapi ada tiga orang pelanggan yang tengah menikmati makanan dan kopi menjadi korbannya. Mobil yang menabrak warung baru bisa berhenti ketika menabrak pohon di depannya. Balon pengaman di stir dan dashboard segera mengembang saat terjadi benturan. Pengemudi dan penumpang mobil tidak mengalami luka parah.
🍁🍁🍁
Daffa yang tengah melakukan shift malam terkejut ketika perawat di IGD mendapat panggilan dan mengabarkan korban tabrakan yang terjadi di daerah Pasteur akan dilarikan ke rumah sakit Ibnu Sina. Dokter residen tersebut segera menyiapkan petugas medis yang berjaga malam untuk menerima kedatangan pasien.
Berturut-turut lima ambulans datang membawa korban kecelakaan. Ambulans pertama datang membawa ibu pemilik warung. Di antara para korban, wanita pemilik warung yang mengalami cedera paling parah. Dua orang petugas mendorong masuk blankar. Daffa langsung mengarahkan mereka masuk ke ruang tindakan.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Daffa.
“Korban terkena hantaman bodi mobil. Sepertinya korban mengalami luka bagian dalam, luka di kepala tidak terlalu parah, tulang panggulnya bergeser. Dia juga mengeluh nyeri di bagian dada.”
Dengan seksama Daffa memeriksa kondisi pasien tersebut. Seorang suster menyiapkan mesin USG untuk memeriksa kondisi perut pasien. Daffa meraba bagian dada pasien, terdengar eranganya ketika pria itu menekan di dada sebelah kanan.
“Dia mengalami pneumotoraks. Lakukan intubasi!”
Dokter magang yang membantu Daffa segera melakukan yang diperintahkan dokter residen tersebut. Daffa menggerakkan probe di perut pasien, beberapa kali dia menggerakkan probe di tempat yang sama.
“Limpanya luka, dan ada pendarahan internal. Siapkan ruang operasi dan hubungi dokter Fabian, kita harus segera mengoperasi pasien!”
Suster yang membantu Daffa bergegas keluar dari ruang tindakan dan menghubungi dokter Fabian. Tak lama dia kembali.
“Dokter Fabian tidak bisa dihubungi.”
“Hubungi dokter Reyhan.”
“Baik dok.”
Setelah dokter magang berhasil memasang intubasi pada pasien, Daffa meminta kain pada suster. Dia bermaksud mengembalikan posisi tulang panggul pasien yang bergeser. Diikatkan ujung kain pada bed, lalu diangkatnya pelan tubuh pasien hingga kain berada di bawah tubuhnya. Dengan gerakan pelan, dia menggerakkan panggul hingga posisi tulang kembali ke semula. Setelah itu, Daffa memerintahkan pasien segera dibawa ke ruang operasi. Di saat bersamaan ponsel Daffa berdering. Melihat sang ayah yang memanggil, pria itu segera menjawab panggilan.
“Halo.”
“Papa dalam perjalanan sekarang. Katakan bagaimana kondisinya?”
“Pasien mengalami pneumotoraks dan pedarahan di bagian limpa.”
“Papa akan tiba 10 menit lagi. Kamu lakukan yang terbaik di ruang operasi sampai papa datang.”
“Iya, pa.”
Daffa mengakhiri panggilan dan segera berlari menuju ruang operasi. Di dalam ruangan, dokter ansetesi, dan dua orang perawat sudah bersiap untuk menerima kedatangan pasien. Daffa segera masuk ke dalam ruang operasi setelah mencuci tangan. Seorang suster memakaikan sarung tangan padanya.
“Kita akan mulai operasinya. Saya akan memimpin operasi sampai dokter Reyhan datang.”
Semua menanggukkan kepalanya. Seorang suster langsung bersiap di samping Daffa. Membantu pria itu memberikan peralatan yang dibutuhkan untuk mengoperasi pasien.
“Mess..”
Suster memberikan pisau bedah pada Daffa. Pelan-pelan Daffa menyayat perut korban hingga bagian organ dalamnya terlihat.
“Suction..”
Suster kembali memberikan alat yang diminta Daffa. Pria itu memasukkan suction ke dalam perut lalu mulai meyedot darah yang memenuhi limpa. Setelah darah berhasil disedot keluar, dia mulai mencari bagian limpa yang terluka. Pintu ruang operasi terbuka, Reyhan masuk dan mengambil alih operasi.
Dengan cepat Reyhan berhasil menemukan bagian limpa yang terluka. Dia mulai menutup luka dengan cara menjahitnya.
“Cut.”
Daffa menggunting benang yang digunakan untuk menjahit. Reyhan melanjutkan jahitannya dan beberapa kali meminta Daffa menggunting benang. Luka di bagian limpa akhirnya dapat ditutup dengan sempurna. Selanjutnya dia berpindah ke area dada. Dengan pisau bedah, Reyhan membuka bagian dada pasien.
“Suction.”
Daffa memasukkan suction ke dalam dada lalu menyedot darah yang ada di bagian dada. Reyhan meraba bagian paru dan dengan cepat menemukan bagian yang robek akibat benturan. Dia segera menjahit luka robek di paru pasien dibantu oleh Daffa.
Usai menutup luka robek di bagian paru, Daffa menyeesaikannya dengan menjahit kembali bekas sayatan di bagian dada dan juga perut pasien. Akhirnya setelah berjibaku hampir dua jam lamanya, operasi tersebut selesai di lakukan.
Keluar dari ruang operasi, Daffa dan Reyhan segera menuju mushola yang berada di lantai 10. Keduanya langsung menunaikan shalat shubuh yang tertunda karena operasi yang dilakukan. Selesai melaksanakan ibadah shalat shubuh, keduanya segera menuju IGD untuk memeriksa keadaan pasien yang lain.
“Bagaimana pasien lainnya?” tanya Reyhan pada Dante, dokter residen yang juga rekan Daffa.
__ADS_1
“Tiga korban lainnya tidak mengalami cedera parah. Satu patah tangan, satu hanya lecet di bagian kaki dan tangan, satu lagi luka di kepala tapi tidak ada yang parah dan sudah dilakukan CT Scan. Tapi masalahnya pada pelaku penabrakan.”
“Ada apa dengannya? Apa cederanya parah?”
“Ngga, dok. Tapi mereka menolak diambil darah untuk dicek kadar alkohol dalam kandungan darahnya. Dia menyetir dalam keadaan mabuk.”
“Coba lagi.”
Perawat tersebut kembali membawa peralatan untuk mengambil darah pasien. Dia menyibak tirai yang menutupi bed pasien. Wanita yang mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk, sedang duduk di atas blankar dengan punggung menyandar ke tembok.
“Nona, kita ambil darah dulu.”
“Saya bilang ngga mau!”
“Kami perlu tahu berapa kadar alkohol dalam tubuh nona.”
“Aku ngga mau! Aku ngga mabuk!”
Mendegar teriakan wanita itu, Daffa segera mendekati blankar wanita itu. Dia segera mengambil suntikan dari tangan suster lalu mendekati pasien tersebut. Karuan wanita itu langsung berontak agar Daffa tak mengambil sample darahnya.
“Jangan banyak bergerak. Kalau aku sampai salah menusukkan jarum ke tanganmu, maka akibatnya akan fatal.”
Mendengar ucapan Daffa, wanita itu berhenti bergerak. Wanita itu mengamati dengan seksama wajah tampan Daffa yang tengah mengambil sample darahnya.
“Aku bisa menuntutmu karena sudah mengambil darahku tanpa ijin!”
“Kalau begitu tuntut saja aku. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai dokter.”
Jawaban dingin Daffa langsung membungkam wanita itu. Daffa segera menyerahkan hasil darah yang didapatnya pada suster untuk dibawa ke laboratorium. Reyhan menepuk pelan pundak anaknya itu.
“Kalau dia mengadukannya pada orang tuanya, kamu bisa dapat masalah.”
“Biar aja, pa. Karena keteledorannya, seseorang hampir saja kehilangan nyawanya. Dia beruntung pasien bisa diselamatkan nyawanya. Kalau keluarganya menuntut aku akan menghadapinya.”
“Good.”
Hanya itu yang keluar dari mulut Reyhan. Pria itu segera keluar dari ruang IGD dan menuju ruangannnya yang berada di lantai tiga. Dalam hati pria itu tersenyum dan kagum atas sikap yang diambil Daffa. Walau dia tahu kemungkinan besar sang anak akan mendapatkan masalah karena tindakan yang dilakukannya.
🍁🍁🍁
Jam delapan pagi Geya sudah sampai di rumah sakit Ibnu Sina. Tadi malam temannya mengabarkan kalau dirinya masuk ke rumah sakit karena sakit lambung yang dideritanya. Gadis itu segera menuju lantai enam, tempat di mana sahabatnya menjalani perawatan. Walau sekarang belum masuk jam besuk, namun gadis itu nekad datang ke rumah sakit.
“Apa kata dokter?” tanya Geya.
“Biasa, aslam gue kumat.”
“Lagian elo udah tahu punya aslam, makan yang pedes sama asem terus.”
“Lo tau sendiri, ngga enak makan kalau ngga ada pedas-pedasnya.”
“Serah elo deh.”
Ria membuka bungkusan yang dibawa oleh Geya. Matanya berbinar melihat sahabatnya membawa kue kesukaannya. Gadis itu segera menyantap kue coklat kesukaannya tersebut. Geya hanya tersenyum saja melihat Ria yang katanya masih sakit perutnya namun ternyata nafsu makannya masih besar.
“Tadi shubuh kalau ngga salah ada korban tabrakan yang dibawa ke sini,” ujar Ria di sela-sela makannya.
“Kok lo bisa tau?”
“Tadi pagi gue dengar ada suster yang ngobrol. Katanya yang nabrak anaknya anggota dewan atau pejabat ya, lupa gue. Terus dia nolak diambil darahnya buat dicek kadar alkoholnya.”
“Wah parah, nyetir sambil mabok. Laki ya?”
“Katanya sih perempuan.”
“Hah? Terus gimana?”
“Tapi katanya ada dokter residen yang nekad ngambil sample darahnya. Sekarang orang tuanya lagi marah-marah sama tuh dokter.”
“Serius? Di mana?”
“Ya di IGD lah. Tuh dokter tugas di IGD.”
Mendengar kata IGD, Geya langsung terpikir pada Daffa. Tanpa mengatakan apapun, gadis itu bergegas menuju IGD. Dia takut kalau dokter yang terkena semprotan orang tua pasien adalah Daffa, laki-laki yang diam-diam disukai olehnya.
PLAK!
Geya terhenyak ketika melihat pipi Daffa ditampar oleh seorang wanita paruh baya ketika dirinya sampai di IGD. Bukan hanya Geya, tapi semua orang yang berada di IGD dibuat terkejut. Dante yang juga berada di sana segera menghampiri wanita tersebut.
“Maaf, bu. Tindakan kasar ibu ini sangat tidak dibenarkan. Bisa-bisanya ibu berbuat kasar pada petugas medis,” kecam Dante.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan dia?” wanita itu menunjuk pada Daffa.
“Dia mengambil sample darah anakku tanpa seijinnya,” lanjut wanita itu lagi.
“Itu adalah prosedur yang harus kami lakukan. Anak ibu adalah pelaku penabrakan dan datang dalam keadaan mabuk. Kami harus mengambil sample darahnya untuk laporan penyebab kecelakaan. Itu adalah prosedur yang berlaku di rumah sakit ini. Karena laporan medis kami akan dijadikan rujukan oleh polisi untuk melakukan penyelidikan.”
“Hah? Penyelidikan? Itu hanyalah kecelakaan kecil. Anakku tidak mabuk!”
“Kalau anak ibu tidak mabuk, dia pasti tidak akan menolak darahnya diperiksa,” balas Daffa tak mau kalah.
“Kamu hanyalah dokter. Tugasmu hanyalah mengobati pasien. Dari pada kamu mengambil sample darahnya, lebih baik kamu mengobatinya! Anakku juga terluka!”
“Anak ibu baik-baik saja, karena mobil mahal yang digunakannya, balon mengembang tepat waktu dan menahan tubuh anak ibu dari benturan. Tapi empat orang yang menjadi korbannya mengalami luka akibat benturan mobil.”
“Siapa namamu?”
Dengan kasar, wanita itu menarik name tag Daffa dan membaca nama yang tertera di sana. Dia mendekati Daffa, dengan telunjuknya, dia menekan-nekan kening Daffa cukup kencang.
“Kamu tidak tahu siapa aku? Dengan mudah aku bisa menutup kasus ini dan menuntutmu. Aku bisa membuatmu kehilangan ijin praktekmu!”
Wanita itu terjengit ketika tiba-tiba Geya mendekat lalu menahan telunjuknya yang berada di kening Daffa. Terdengar ringisan wanita itu ketika Geya memelintir jarinya.
“Lepas!”
“Bu.. ibu harusnya malu sama umur dan jabatan ibu. Bisa-bisanya ibu mengancam dokter yang bertugas. Dokter ini bekerja keras menyelamatkan nyawa orang yang ditabrak anak ibu. Harusnya ibu berterima kasih bukannya mengancam. Dan bilang sama anak ibu untuk tidak berkendara kalau dalam keadaan mabuk!”
“Kamu siapa hah? Beraninya kamu mencampuri urusanku!”
“Namaku Geya Kirania, ayahku Kenan Mahendra Hikmat. Dan kakekku adalah Abimanyu Hikmat.”
Mendengar nama keluarga Hikmat, wanita itu langsung membungkam mulutnya. Tanpa mengatakan apapun, dia segera kembali ke blankar tempat anaknya berada. Daffa segera menarik tangan Geya keluar dari IGD.
“Abang ngga apa-apa?” tanya Geya.
“Ge.. apa yang kamu lakukan tadi?”
“Aku cuma bela abang aja. Aku ngga terima abang dihina kaya gitu. Emangnya cuma dia aja yang punya jabatan dan kekuasaan.”
“Ge.. terima kasih kamu udah bela aku. Tapi aku minta kamu tidak ikut campur masalah ini. Aku bisa saja menyebutkan siapa keluargaku dan mengadukan apa yang dilakukannya tadi. Tapi aku ingin menyelesaikan masalah ini sebagai seorang dokter, bukan sebagai anak dari keluarga Ramadhan. Aku harap kamu mengerti.”
“Maaf, bang.”
“Kamu ngga salah, hanya caramu kurang tepat. Aku hanya mau menyadarkan ibu itu kalau apa yang dilakukannya dan anaknya itu salah. Dia tadi langsung berhenti karena takut mendengar nama keluargamu, bukan karena dia menyesal sudah melakukan kesalahan. Jika seperti itu, dia akan terus melakukan kesalahan dan menindas orang-orang yang dianggapnya berada di bawahnya. Aku ingin dia sadar dan tidak melakukan tindakan semensa-mena pada orang lain, siapa pun itu.”
“Iya, bang.”
“Kamu ngapain ke sini?”
“Nengok sahabat aku yang lagi sakit.”
“Aku laper.”
“Hah?”
“Aku laper, temani aku makan di kantin, mau?”
“Ok.”
Senyum terbit di wajah Geya. Bersama dengan Daffa, keduanya segera menuju kantin yang ada di dekat tempat pendaftaran pasien rawat jalan. Mereka segera menuju penjaga kantin yang bersiap menerima pesanan.
“Mau makan apa dokter Daffa?” tanya penjaga kantin.
“Ada rice bowl ngga?”
“Ada, dok. Mau berapa?”
“Kamu mau?” Daffa melihat pada Geya.
“Boleh.”
“Rice bowlnya dua. Minumnya teh manis hangat dua.”
“Ok, dok.”
Setelah memesan makanan, Daffa mengajak Geya duduk di meja yang kosong. Saat tengah menunggu pesanan, datang seseorang menghampiri meja mereka. Dia adalah wanita pelaku penabrakan semalam. Dengan santainya dia menarik kursi di depan Daffa.
🍁🍁🍁
Mau ngapain tuh cewek? Minta sarapan bareng ama Daffa ya😂
__ADS_1