
Setelah memesan makanan, Daffa mengajak Geya duduk di meja yang kosong. Saat tengah menunggu pesanan, datang seseorang menghampiri meja mereka. Dia adalah wanita pelaku penabrakan semalam. Dengan santainya dia menarik kursi di depan Daffa.
Baik Daffa maupun Geya sama terkejutnya dengan kedatangan wanita penyebab kecelakaan tersebut. Namun wanita itu sama sekali tidak terganggu dengan pandangan kedua orang di depannya. Dia terus memandangi Daffa tanpa berkedip. Suasana canggung di antara mereka terurai ketika penjaga kantin datang membawakan makanan. Tanpa mempedulikan wanita di depannya, Daffa langsung memakan makanannya.
“Soal hasil tes darahku, apa sudah keluar?”
“Hmm..” hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Daffa.
“Sepertinya kita harus memulai hubungan dari awal lagi. Kenalkan, namaku Anggi.”
Wanita bernama Anggi itu mengulurkan tangannya pada Daffa seraya melayangkan senyuman. Daffa hanya melihat sekilas pada Anggi, kemudian melanjutkan makannya tanpa membalas uluran tangan wanita itu. Ingin rasanya Geya melempar kotoran ke wajah wanita tak tahu malu itu.
Melihat Daffa tak kunjung membalas uluran tangannya, Anggi kembali menarik tangannya. Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya. matanya terus memandangi Daffa. Dalam hatinya kesal karena Daffa seperti tidak menganggap kehadirannya.
“Aku mau kamu tidak memberikan hasil tes darahku pada polisi.”
“Kenapa? Kamu takut di penjara?”
Akhirnya terdengar juga kata-kata dari mulut Daffa. Namun apa yang dilontarkan pria itu tentu saja membuat Anggi berang. Matanya melotot dan menatap tajam pada Daffa. Geya yang melihat itu tentu saja jadi meradang.
“Jaga matamu itu. Apa seperti ini sikap yang kamu tunjukkan pada orang yang sudah menyelamatkan korbanmu? Haaaiisshhh.. mau gue colok tuh mata,” kesal Geya.
“Aku tidak punya urusan denganmu. Tutup mulutmu!”
“Kalau kamu tidak mau mendengarku bicara, harusnya kamu pergi dari sini. Kamu itu mengganggu acara makan kami!”
Balas Geya tak mau kalah. Dia juga menatap Anggi tak kalah tajamnya. Daffa menyentuh tangan Geya, membuat gadis itu sedikit melunak. Kemudian Daffa melihat pada Anggi.
“Apa maumu?”
“Jangan berikan hasil tes itu pada polisi. Kamu bisa bilang kalau aku menolak untuk diperiksa. Bisa kamu lakukan itu?”
“Tidak.”
“Jangan seperti ini. Apa kamu tahu siapa orang tuaku? Jangan sampai..”
“Apa? Apa kamu akan menamparnya lagi seperti yang ibumu lakukan? Memangnya siapa orang tuamu sampai kamu merasa paling berkuasa?” sambar Geya. Dia benar-benar tidak suka dengan wanita yang duduk di depannya.
“Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan. Aku tetap akan memberikan hasil tes darahmu pada polisi.”
“Kau!”
Kata-kata Anggi tertahan ketika ponsel Daffa berdering. Suster yang bertugas di ruang ICU menghubunginya. Dia mengatakan kalau pasien yang dioperasinya tadi bersama dengan Reyhan kondisinya kritis. Daffa segera bangun dari duduknya kemudian berlari meninggalkan kantin.
Melihat Daffa yang tiba-tiba pergi, Geya menghentikan makannya. Dia juga bergegas mengejar Daffa. Anggi pun melakukan hal sama. Dia berlari di belakang Geya yang tengah menyusul Daffa.
Dengan cepat Daffa masuk ke dalam ruang ICU. Nampak seorang dokter dan suster tengah berusaha menyelamatkan nyawa pasien.
“Apa yang terjadi?”
“Dia mengalami henti jantung, dok.”
Seorang suster masuk membawakan defribilator. Dokter yang tengah melakukan kompresi segera turun dari bed. Daffa mengambil defribilator lalu menempelkannya ke dada pasien. Tubuh wanita itu terlonjak ke atas.
“Denyutnya belum kembali.”
“Suntikan epinephrine! Naikkan 200 joule!”
Suster segera melakukan apa yang diperintahkan Daffa. Dia menyuntikkan epinephrine dan dokter yang bersamanya kembali melakukan kompresi. Setelah deflibilator siap, Daffa kembali melakukan kejut jantung.
“Denyutnya masih belum kembali.”
“Naikkan 300 joule!”
Dokter kembali melakukan kompresi. Dia segera turun ketika defribilator siap digunakan. Daffa kembali memberi kejutan. Pasien masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Daffa naik ke atas bed lalu memberikan kompresi.
“Kumohon.. ayo kembali.. kembali,” ujar Daffa di tengah-tengah upayanya mengembalikan detak jantung pasien.
Setelah tiga menit berlalu, akhirnya detak jantung pasien kembali. Daffa segera turun dari bed. Rambutnya sudah basah oleh keringat, namun dia lega dapat menyelamatkan nyawa pasien. Setelah kondisi wanita itu stabil, Daffa keluar dari ruang ICU. Matanya langsung tertuju pada Anggi yang menunggu di dekat pintu masuk.
“Bersyukurlah karena wanita itu masih bertahan hidup. Setidaknya kamu terhindar dari hukuman 20 tahun penjara!”
Usai mengatakan itu, Daffa segera berlalu meninggalkan Anggi. Geya bergegas menyusul Daffa yang hendak meninggalkan lantai lima. Anggi masih bertahan di tempatnya. Dia cukup shock mengetahui korban yang ditabraknya dini hari tadi sempat kritis dan hampir kehilangan nyawa.
Dengan langkah gontai Anggi kembali ke ruangan tempatnya dirawat. Beberapa menit lalu dia dipindahkan ke ruang perawatan demi menghindari interogasi dari pihak kepolisian. Melalui koneksi suaminya, ibu Anggi meminta polisi menunda pertemuan dengan anaknya. Anggi mendudukkan diri di sisi ranjang.
“Anggi! Kamu dari mana?”
“Ma.. korban yang kutabrak tadi kritis. Dia hampir saja meninggal.”
“Lalu?”
“Dia hampir meninggal, ma. Kalau dia meninggal aku pasti akan masuk penjara.”
“Dengarkan mama. Kamu tidak akan masuk penjara. Kamu tidak bersalah, itu adalah kecelakaan, bukan kesengajaan. Ingat itu!”
__ADS_1
🍁🍁🍁
Sebuah mobil berjenis sedan memasuki pelataran parkir rumah sakit Ibnu Sina. Setelah memarkirkan kendaraannya, seorang wanita mengenakan busana muslim turun dari dalamnya. Dengan langkah anggun, dia masuk ke dalam rumah sakit. Aqeel yang baru saja menangani pasien yang berada di IGD terkejut melihat kedatangan mamanya.
“Mama.. ngapain ke sini?” tegur Aqeel.
“Mama ada sedikit urusan.”
Ayunda terus berjalan menuju meja perawat. Aqeel yang penasaran, terus mengikuti sang mama. Tidak biasanya Ayunda datang ke rumah sakit kalau tidak menemui suaminya. Dan sekarang wanita itu malah mendatangi suster yang berada di IGD.
“Pasien bernama Anggi. Di mana dia?” tanya Ayunda.
“Dia baru saja dipindahkan ke lantai 10. Kamar VIP 1.”
Mendengar jawaban suster tersebut, Ayunda hanya melemparkan senyum manis dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Aqeel yang bingung melihat sikap Ayunda yang tidak biasanya segera mengikuti mamanya. Bersama dengan Ayunda, dia masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 10.
Sesampainya di lantai 10, Ayunda terus melangkahkan kakinya menuju kamar VIP 1. Entah mengapa Aqeel merasakan hal tak mengenakkan akan segera terjadi. Dia segera menghubungi Reyhan dan meminta papanya segera menuju lantai 10. Tak lupa pria itu juga menghubungi Daffa.
“Ma.. mama mau ngapain?” tanya Aqeel saat Ayunda hendak masuk ke kamar VIP 1.
“Mama ada perlu dengan orang tua Anggia, kenapa?”
“Emang mama kenal?”
“Apa mama harus kenal dulu? Mama hanya ingin mengembalikan sesuatu.”
“Mengembalikan apa?” tanya Aqeel bingung.
“Kamu kenapa jadi kepo? Minggir.”
Baru saja Ayunda hendak membuka pintu, Daffa datang menghampiri. Di belakang pria itu, Geya masih dengan setia mengikutinya. Ayunda melihat pada Aqeel, pasti anak keduanya itu yang sudah menghubungi Daffa. Dia juga yakin kalau sebentar lagi suaminya akan datang. Tak ingin membuang waktu, Ayunda segera masuk ke dalam kamar.
Kedatangan Ayunda yang tiba-tiba, tentu saja mengejutkan Anggia dan ibunya. Melihat ada Daffa juga yang masuk ke ruangannya, wanita itu melemparkan senyumnya. Dengan langkah tenang Ayunda mendekati mama Anggia.
“Dengan ibu Gina?” tanya Ayunda seraya menatap wanita di depannya tanpa berkedip.
“Iya. Ibu siapa?”
“Kenalkan, saya Ayunda,” Ayunda mengulurkan tangannya pada Gina. Mau tak mau wanita itu membalas uluran tangan Ayunda.
“Apa kita saling mengenal?”
“Tidak. Saya ke sini hanya ingin mengembalikan sesuatu.”
PLAK!!
“Mama!” seru Daffa dan Aqeel bersamaan.
Gina memegangi pipinya yang ditampar oleh Ayunda. Bukan hanya Daffa dan Aqeel yang terkejut, Geya dan Anggi pun sama terkejutnya. Wajah Gina memerah menahan malu sekaligus amarah. Dia mendekati Ayunda seraya menaikkan tangannya. Wanita itu hendak membalas tamparan Ayunda. Namun tangannya berhasil ditahan oleh Ayunda dan dihempas dengan kasar.
“Kamu! Siapa kamu?!”
“Saya adalah ibu dari dokter Daffa. Saya hanya mengembalikan tamparan yang ibu berikan untuk anak saya. Siapa anda beraninya menampar anak saya?!”
“Karena dia sudah lancang mengambil sample darah anak saya!”
“Apa harus kamu menamparnya? Apa anakmu seberharga itu sampai kamu harus menamparnya?! Anakku juga sama berharganya seperti anakmu. Jadi aku peringatkan, jangan coba-coba menyakiti anakku lagi. Atau kamu akan mendapatkan lebih dari ini!”
“Hah.. memangnya kamu siapa hah? Apa kamu tidak tahu siapa suamiku?”
“Anggota dewan Marwoto Hadisuwarno, dia suamimu kan?”
Gina terkejut mendengar Ayunda menyebutkan nama lengkap suaminya. Yang membuatnya heran, wanita itu masih berani bersikap kasar padanya walau tahu siapa suaminya. Ayunda mendekati Gina lalu menunjuk dada wanita itu dengan telunjuknya.
“Kamu pikir suamimu bisa sampai ke posisi sekarang atas usahanya sendiri? Tanyakan padanya, apa dia lupa sudah mengemis dukungan pada orang nomor dua di Gala Corp? Kalau kakakku tidak mengijinkan mereka memberi dukungan untuk suamimu, maka suamimu tidak akan sampai di posisi sekarang. Jangan jadi kacang yang lupa pada kulitnya, dan jangan mencoba menggigit tuan yang sudah memberimu makan. Harusnya kamu sadar di mana tempatmu berada. Beraninya kamu menyakiti anakku, dasar tidak tahu diri!”
“Si.. siapa kamu sebenarnya?”
Mendengar kata-kata Ayunda, karuan membuat Gina menjadi ciut. Apalagi wanita itu mengetahui soal dukungan Gala Corp untuk suaminya. Selama ini dia hanya mengenal Anggara atau Gara dan juga istrinya Nara. Gina sama sekali tidak mengenal Ayunda.
“Aku lupa mengenalkan diriku dengan baik. Aku.. Ayunda Chana Ramadhan, adik dari Elang Ramadhan, dan istri dari Reyhan Fatansyah Vaughan, pemilik rumah sakit ini.”
Wajah Gina memucat mendengar nama Ramadhan dan Vaughan yang disebutkan Ayunda. Hampir saja tubuhnya terjatuh kalau Anggi tidak langsung memeganginya. Daffa mendekati sang mama yang sudah dikuasi emosi.
Saat sedang bersantai di rumah, dia mendapatkan kiriman video dari Dante, rekan Daffa di IGD. Wanita itu terkejut melihat Gina menampar Daffa dan mendengar keseluruhan cerita dari Dante. Ayunda langsung mencari tahu siapa wanita yang sudah berani menyakiti anaknya.
“Ma.. udah, ma.”
“Apa yang sudah? Dia harus diberi pelajaran. Kalau kamu dipukul karena melakukan kesalahan, mama tidak akan semarah ini. Tapi kamu dipukul karena melakukan kewajibanmu. Dan kamu! Apa kamu tidak menyesal sudah membuat orang lain celaka karena kelalaianmu?” Ayunda melihat pada Anggi.
“Kalau kamu mabuk, jangan sekali-kali mengemudikan kendaraan, karena itu akan membahayakan orang lain.”
“Maafkan saya,” ujar Anggi pelan.
“Kenapa kamu minta maaf pada saya? Harusnya kamu minta maaf pada orang-orang yang menjadi korbanmu.”
__ADS_1
Anggi hanya menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak berani menatap Ayunda. Geya melihat seluruh adegan yang tersaji di depannya tanpa berkedip. Dalam hati gadis itu bersorak karena Ayunda berhasil membungkam mulut kedua wanita sombong itu.
“Pertanggungjawabkan perbuatanmu. Jangan menghindari hukuman, ingat itu! Atau kalian akan merasakan akibatnya.”
Setelah menebarkan ancaman, Ayunda segera meninggalkan tempat tersebut. Sekilas dia melihat pada Geya yang mengangkat kedua jempol untuknya. Ayunda melemparkan senyuman pada anak kedua dari Kenan tersebut. Diikuti oleh Aqeel, Daffa dan Geya, dia keluar dari kamar. Ternyata Reyhan sudah menunggu sang istri di luar kamar.
“Sudah selesai?” tanya Reyhan sambil mengulum senyum.
“Sudah, mas.”
“Papa kenapa diam di sini? Kenapa ngga masuk ke dalam? Papa ngga lihat apa tadi mama buasnya kaya apa?” cerocos Daffa dan hanya ditanggapi Reyhan dengan tawa.
“Kenapa papa harus masuk? Wanita harus dilawan wanita juga. Papa ngga mungkin masuk ke dalam dan ikut mengeroyok. Bisa jatuh harga diri papa.”
“Bukan ngeroyok, pa. Tapi nenangin mama.”
“Apa yang dilakukan mamamu sudah benar. Dia memang harus diberi pelajaran. Lagi pula salahnya sendiri sudah membangunkan macan tidur. Ini bukan kasus pertamanya, sebelumnya dia juga sudah melakukan ini pada orang lain. Menyombongkan status suaminya yang anggota dewan demi menekan dan mengintimidasi orang yang sudah dirugikannya.”
Daffa tak bisa mengatakan apapun lagi kalau sang papa sudah mendukung apa yang dilakukan mamanya. Dalam hatinya dia senang juga melihat Gina berhasil dibuat mati kutu oleh Ayunda.
“Tante, aku padamu. You are the best,” seru Geya.
“Shift kamu sudah selesai, lebih baik kamu pulang. Jangan lupa antar Geya pulang,” seru Reyhan.
“Kamu ngga bawa mobil?” Daffa melihat pada Geya.
“Ngga. Aku ke sini naik taksi online. Aku belum boleh bawa mobil lagi sama daddy gara-gara abis nabrak trotorar, hehehe..”
“Daddy kamu pasti khawatir,” sahut Aqeel.
“Ngga. Dia ngga bolehin aku takutnya aku nabrak orang. Jadi aku belum boleh bawa mobil sampai batas waktu yang tidak ditentukan, huaaaaa…”
Baik Ayunda, Reyhan, Aqeel dan Daffa hanya bisa tertawa melihat tingkah Geya. Daffa segera menarik lengan baju Geya dan membawanya pergi dari lantai sepuluh. Aqeel segera kembali ke ruang prakteknya. Sedang Reyhan mengajak Ayunda ke ruangannya.
🍁🍁🍁
“Pokoknya tante Yunda tuh keren banget. Suka deh sama gayanya tante Yunda.”
Geya baru saja menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit tadi pada Abi, Nina, Kenan dan Zahra. Pada dasarnya Geya adalah anak yang terbuka dan tidak pernah menyimpan rahasia. Dia selalu menceritakan apa yang dilihatnya atau terjadi padanya pada keluarganya. Seperti sekarang yang tengah menceritakan apa yang terjadi pada Daffa.
“Ya bagus itu. Seorang ibu pasti akan melindungi anaknya,” ujar Zahra.
“Ayunda itu adiknya Elang. Walau perempuan, tapi dia juga bisa bersikap tegas. Dan jangan salah, dia itu pemegang sabuk biru taekwondo.”
“Serius, kek? Wah hebatnya calon mama mertuaku.”
Uhuk.. uhuk..
Semua yang ada di meja makan terbatuk mendengar celetukan Geya. Gadis itu hanya melemparkan cengiran saja saat menyadari dirinya baru saja keceplosan. Tapi sebenarnya dia berharap sang kakek mau menjodohkannya dengan Daffa.
“Ngaku-ngaku seenaknya. Emangnya Daffa mau sama kamu,” celetuk Kenan.
“Ya kalau ngga mau, dijodohin dong sama kakek. Ya kakek.. jodohin aku sama bang Daffa. Kaya kakek jodohin kak Arsy, kak Aya sama kak Stella. Dijebak atau dipasangin perangkap juga ngga apa-apa, malah seru kayanya. Ya kakek ya…”
“Aduh kepala kakek pusing.”
Abi segera beranjak dari duduknya sambil memegangi kepalanya. Baru kali ini ada klien yang minta dicomblangi olehnya dengan sangat memaksa. Bahkan minta dijebak dan dibuat perangkap, pria itu hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah ajaib cucunya. Kenan tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan sang anak.
“Daddy sama mommy setuju kan aku sama bang Daffa?”
“Masalahnya bukannya kita setuju apa ngga. Daffanya mau apa ngga sama kamu.”
“Emangnya aku kenapa? Aku cantik, pinter, solehah,” Geya memuji dirinya sendiri.
“Ceroboh, teledor, rajin main, suka bikin pusing, kebluk, masih males disuruh shalat,” sambung Kenan menyebutkan sifat jelek anaknya.
“Cuma shubuh aja,” protes Geya.
“Tetap aja. Daddy malu nyodorin kamu buat Daffa. Kamu cocoknya sama mang Kohar aja, yang jualan sayur keliling.”
“Daddy!!!”
“Hahaha..”
Tanpa mempedulikan teriakan Geya, Kenan segera meninggalkan meja makan. Bibir Geya sudah maju beberapa senti. Nina segera mendekati cucunya ini, kemudian menghiburnya. Zahra hanya tersenyum melihat kelakuan putri satu-satunya.
“Tenang saja, kalau kamu memang jodoh sama Daffa, pasti kalian akan bersama,” hibur Nina.
“Betul itu. Daffa itu anak yang pintar, baik dan soleh. Nah kalau kamu mau sama Daffa, yang dikejar baik dan solehahnya dulu, bukan Daffanya.”
Zahra menjawil hidung Geya. Gadis itu nampak termenung mendengarkan ucapan ibunya. Sepertinya mulai sekarang dia harus berubah menjadi gadis yang lebih baik lagi agar Tuhan mau menjodohkannya dengan Daffa.
🍁🍁🍁
Yang ini kasusnya beda ya. Bukan Abi yang mau comblangin, tapi Geya yang maksa dicomblangin🤣
__ADS_1