
Setelah melalui serangkaian acara akad nikah, dan mengisi perut, pasangan pengantin dipersilahkan kembali ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Stella akan mengenakan gaun pengantin, sedang Tamar mengenakan Pakaian Dinas Umum. Mereka akan melakukan upacara pedang pora sebelum acara resepsi dimulai.
Stella masuk ke dalam kamar. Dibantu oleh penata rias, gadis itu melepaskan kebaya putih yang tadi dikenakannya untuk acara akad nikah. Matanya memandangi gaun pengantin berwarna dusty pink di hadapannya.
Salah satu wanita yang membantunya, mengambil gaun tersebut dan memakaikannya pada Stella. Dia terus memandangi pantulan dirinya di cermin.
Tatanan rambut Stella tidak dirubah, rambut pengantin wanita disanggul sederhana dengan menyisakan anak rambut di sisi kanan kirinya. Gadis itu menundukkan kepalanya saat seorang penata rias menaruh tiara di atas kepalanya.
Sementara itu di kamar sebelah, dibantu Bima, Tamar mengganti pakaian yang dikenakannya. Pria itu melepaskan beskap, kain dan celana yang dikenakannya. Lalu menggantikanya dengan Pakaian Dinas Umum yang menunjukkan korpsnya bertugas.
Bima merapihkan jas yang dikenakan Tamar untuk memperbaiki penampilannya. Sang kakak terlihat gagah mengenakan pakaian dinasnya.
Selesai membantu sang kakak berpakaian, pria itu mengantar kembali pria itu menuju ballroom. Di saat bersamaan, Stella juga keluar dari dalam kamar dan menuju tempat acara. Sebentar lagi upacara pedang pora akan dilaksanakan. Semua alumni akademi polri yang akan melakukan hal tersebut sudah berkumpul di dalam ballroom.
Tamar dan Stella melepaskan cincin pernikahan di jari mereka lalu memasukkan kembali ke dalam kotak cincin yang ada di atas nampan yang dipegang oleh seorang perwira wanita. Selain dirinya, masih ada tiga orang lagi yang bertugas membawa nampan berisikan untaian bunga melati, buket bunga dan lilin.
Dua orang petugas WO membukakan pintu ballroom. Nampak di dalam, sudah berdiri enam pasang perwira yang berdiri berhadapan dengan pedang di tangan mereka. Seorang protokol berjalan menuju mimbar untuk memandu jalannya upacara. Dalam hal ini, Ridwan yang akan menjadi inspektur upacara.
“Selamat siang hadirin yang kami muliakan. Di siang hari yang berbahagia ini, kami dengan berbangga hati mengantar kedua mempelai menggapai mahligai abadi dengan upacara tradisi yang menjadi kebanggaan serta wujud penghormatan kami kepada kedua mempelai yang dinamakan pedang pora.
Pedang pora merupakan suatu acara tradisi yang biasa dilakukan oleh para leluhur kita dalam rangka untuk memberikan doa restu bagi ksatria yang akan berangkat ke medan tugas. Demikian halnya dalam upacara tradisi pedang pora kami siang hari ini, mengandung makna pemberian doa restu, keikhlasan dan kebahagian kami menghantar rekan kami guna mengarungi mahligai abadi.
Dengan terhunusnya pedang yang akan dilalui oleh kedua mempelai, menunjukkan kesiapan yang perwira beserta bhayangkarinya dalam menghadapi tugas-tugas suci yang diberikan negara kepadanya. Sementara itu, pengalungan bunga, penyerahan buket bunga dan penyerahan baju bhayangkari oleh senior kami kepada kedua mempelai adalah melambangkan keagungan nilai-nilai luhur dan suci, ketauladanan dari yang diwariskan dari yang tua kepada yang muda. Agar mampu melanjutkan perjuangan sebagai bhayangkari sejati, maupun sebagai warga negara. Hadirin yang berbahagia, upacara pedang pora dimulai. Hadirin diminta berdiri.”
“Siaaaaaaap grak!”
Suara komandan upacara terdengar. Barisan pasukan pedang pora yang awalnya berada dalam posisi istirahat, langsung berdiri tegak dengan pedang disamping mereka.
“Siaaaaaaaaap…”
Suara pimpanan pasukan terdengar memberikan aba-aba. Semua pasukan memegang pedang mereka dengan posisi sedikit menariknya dari sarung.
“Grak!”
Anggota pasukan mengeluarkan pedang dari sarung, mengangkat pedang, menghunusnya kemudian menaruhnya di posisi samping dengan ujung lancip berada di atas.
“Laporan komandan upacara kepada kedua mempelai.”
“Kepada… mempelai pria. Hormaaaaaat grak!”
Sang komandan upacara menaruh tangannya di dekat pelipis seperti menghormat bendera. Sedang anggota pasukan mengangkat pedang kemudian menurunkannya dengan posisi lancip menghadap lantai. Tamar membalas hormat mereka.
“Tegaaaaak grak!”
Posisi pedang kembali di samping para perwira. Komandan upacara kemudian berjalan menuju kedua mempelai. Dia berhenti tepat di depan Tamar.
“Lapor! Upacara tradisi pedang pora siap dilaksanakan!”
“Lanjutkan!” jawab Tamar.
“Siap. Lanjutkan!”
Komandan upacara berbalik, kemudian berjalan meninggalkan kedua mempelai. Dia menuju samping kirinya dan berdiri di samping anggota pasukan. Terdengar suara pemimpin pasukan memberikan aba-aba. Anggota pasukan menggerakkan pedangnya dan mengarahkan ke arah bawah dengan posisi menyilang.
Terdengar suara musik tanda upacara pedang pora dimulai, diiringi dengan ucapan sang protokol acara memberikan doa dan harapan untuk kedua mempelai. Bersama dengan Stella, Tamar mulai berjalan melewati pasukan pedang pora. Secara perlahan para pasangan pemegang pedang menaikkan pedang dan mengarahkannya ke atas saat pasangan pengantin melewatinya. Di belakang pasangan pengantin berjalan tiga orang perwira wanita dengan membawa tempat lilin dan nampan di tangannya.
Sesampainya di ujung, Tamar memegang tangan Stella dan membantunya berbalik. Ketiga perwira wanita terus berjalan mendekati pasangan pengantin. Anggota pasukan juga bergerak seirama mengikuti langkah ketiga perwira wanita tersebut. Mereka kemudian membentuk formasi lingkaran, dengan pasangan pengantin dan ketiga perwira wanita berada di tengah. Suara pemimpin kembali terdengar memberi aba-aba pada pasukan untuk berhenti bergerak.
“Penyematan cincin oleh kedua mempelai.”
Suara pemimpin pasukan terdengar memberi aba-aba. Pasukan bergerak satu langkah ke depan kemudian mengarahkan pedang mereka ke atas seolah tengah memayungi pasangan pengantin. Perwira wanita yang membawa cincin mendekat. Tamar mengambil cincin lalu menyematkan ke jari Stella. Pria itu kemudian membuka sarung tangan yang dikenakannya, dan membiarkan Stella menyematkan cincin ke jarinya. Setelah itu memakai kembali sarung tangannya. Anggota pasukan mundur selangkah dan menurunkan pedang kembali ke posisi di samping.
“Kepada inspektur upacara yang terhormat beserta ibu, diminta memasuki lingkaran pedang pora.”
Ridwan beserta istri masuk ke dalam lingkaran, kemudian mendekati pasangan pengantin. Pria itu mengalungkan bunga ke leher Tamar. Sedang sang istri memberikan pakaian bhayangkari dan juga buket bunga pada Stella.
“Pengalungan dan penyerahan bunga selesai. Dimohon kepada inspektur upacara yang terhormat beserta ibu untuk meninggalkan lingkaran pedang pora.”
Ridwan bersama dengan istri, diikuti oleh ketiga perwira wanita meninggalkan lingkaran pedang pora. Tamar dan Stella berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan. Setelah terdengar aba-aba, secara berturut anggota pasukan berbalik, memposisikan diri berdiri dengan sebelah lutut sedang lutut yang satunya sebagai penyangga tangan yang memegang pedang.
Tamar mendekati Stella kemudian mencium kening sang istri dengan durasi yang cukup lama. Setelah ciumannya berakhir, pasukan pedang pora berdiri seraya menaruh pedang di samping kemudian membalikkan badan menghadap pasangan pengantin.
“Kedua mempelai dipersilahkan menuju panggung pelaminan.”
Sambil memeluk lengan Tamar, Stella berjalan menuju panggung pelaminan bersama suaminya. Keduanya menaiki panggung dan berdiri tepat di tengah panggung.
“Laporan komandan upacara kepada kedua mempelai.”
Sang komandan upacara maju ke depan menghadap pasangan pengantin.
“Lapor. Upacara tradisi pedang pora telah selesai dilaksanakan!”
__ADS_1
“Kembali ke tempat!” jawab Tamar.
“Siap. Kembali ke tempat!”
Komandan upacara berbalik kemudian berjalan sampai di posisi tengah lingkaran. Semua anggota pasukan melihat pada pasangan pengantin.
“Kepada.. mempelai pria.. hormaaaaat grak!”
Penghormatan kembali diberikan oleh komandan upacara beserta pasukan pedang pora pada Tamar. Pria itu membalas hormat dengan menaruh tangan di dekat topinya.
“Tegaaaaaak grak!”
“Laporan komandan upacara pada inspektur upacara.”
Setelah memberikan laporannya pada inspektur upacara, komandan upacara kembali ke tempatnya. Pemimpin pasukan memberi aba-aba. Semua anggota memposisikan pedang ke dalam sarungnya.
“Grak!”
Pedang dimasukkan kembali ke dalam sarung.
“Pasukan pedang pora menaiki panggung pelaminan untuk berfoto bersama.”
Suara musik terdengar mengiringi pasukan naik ke atas panggung dari dua sisi panggung yang berbeda kemudian berdiri di sisi kanan dan kiri pasangan pengantin. Posisi pedang berada di depan mereka dengan posisi menjejak panggung.
“Kepada inspektur upacara beserta ibu dipersilahkan berfoto bersama pengantin.”
Ridwan beserta istri naik ke atas panggung. Ridwan berdiri di sisi Tamar, sedang sang istri berada di sisi Stella. Mereka menghadap kamera yang dipegang sang juru foto.
“Kepada orang tua kedua mempelai dipersilahkan naik ke atas panggung.”
Anya, Irvin, Ahmad dan Wida naik ke atas panggung. Ahmad dan Wida berdiri di samping Ridwan, sedang Irvin dan Anya berdiri di samping istri Ridwan.
“Kepada inspektur upacara beserta istri diperkenankan meninggalkan panggung pelaminan.”
Ridwan dan istri turun dari panggung pelaminan. Kini hanya kedua orang mempelai yang berfoto bersama pasangan pengantin dan pasukan pedang pora. Setelah sesi foto, pasukan pedang pora secara tertib memberikan selamat pada kedua mempelai beserta kedua orang tua kemudian turun dari panggung. Mereka kembali membentuk pasukan dan berjalan keluar dari ballroom.
“Hadirin yang berbahagia, demikianlah rangkaian upacara tradisi pedang pora pada siang hari ini. Semoga membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi kita semua. Kami, atas nama alumni akademi kepolisian mengucapkan menyampaikan ucapan terima kasih diiringi ucapan selamat menempuh hidup baru bagi kedua mempelai. Semoga kebahagiaan menaungi kedua mempelai. Acara kami serahkan pada protokoler keluarga dan hadirin dipersilahkan duduk kembali.”
Tamar tersenyum lega upacara tradisi pedang pora berakhir dengan baik. Stella pun tak kalah senang. Baru kali ini dia melihat upacara pedang pora dan dia yang menjadi pemeran utamanya. Senyum tak lepas dari wajahnya. Tamar melihat sang istri.
“Senang banget.”
“Iya, dong. Keren tau.. berasa jadi putri di negeri dongeng. Punya banyak pengawal terus jalan di bawah payung pedang. Uuuhhh keren.. untung suamiku pakpolgan, jadi aku bisa ngerasain itu semua.”
Tamar hanya mengunggingkan senyuman mendengar ucapan sang istri. Keduanya kembali bersiap untuk menerima ucapan selamat dari tamu yang datang. Begitu pula dengan kedua orang tua mempelai. Satu per satu, tamu undangan menaiki panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.
Arsy bersama dengan Irzal naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Mereka menyalami lebih dulu Ahmad dan Wida, sebelum mendekati kedua mempelai.
“Selamat ya, Tam. Semoga jadi keluarga samawa.”
“Thanks, Bie..”
“Perlu panduan buat malam pertama ngga?”
Mata Tamar melotot mendengar ucapan frontal sahabatnya itu. Arsy hanya terkikik melihat suaminya yang begitu usil menggoda pasangan pengantin. Stella sendiri nampak cuek saja mendengar ucapan suami sepupunya itu.
“Selamat ya Stel.. sekarang kamu udah jadi istri. Jangan bikin pakpol naik darah terus, hihihi..”
“Hilih.. gue mah solehah.”
“Solehbor kali,” gumam Tamar pelan.
“Ish..” Stella mendelik pada Tamar.
“Solehbor apaan?” tanya Arsy.
“Solehah tapi slebor,” jawab Tamar.
“Hahaha..”
Tawa terdengar dari pasangan Irzal dan Arsy. Stella memajukan bibirnya mendengar julukan sang suami untuknya. Irzal dan Arsy kemudian mendekati Anya dan Irvin untuk mengucapkan selamat, lalu turun dari panggung pelaminan.
Setelah mereka selesai memberikan ucapan selamat, berturut-turut para sahabat Tamar naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat. Zar yang naik bersama dengan Renata langsung memberikan selamat.
“Selamat ya bang Tamar, Stella. Semoga jadi keluarga samawa dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah.”
“Aamiin.. makasih Ren,” jawab Tamar dan Stella bersamaan.
“Nanti pas malem pertama, jangan lupa siapin tali tambang buat si ppsstt,” ujar Zar.
“Buat apa?”
“Ngiket kaki sama tangannya biar ngga ngamuk, hahaha..”
“Dasar sepupu durhakim! Turun lo!” sewot Stella.
Zar terus saja tertawa. Dia menarik tangan Renata untuk turun dari panggung setelah mengucapkan selamat pada kedua orang tua. Selanjutnya Daffa yang naik bersama dengan Adian. Tamar melihat keki pada kedua sahabatnya yang cengar-cengir tak jelas. Aidan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya kemudian memberikannya pada Tamar saat menjabat tangan pria itu.
__ADS_1
“Selamat, Tam. Ini buat persiapan tempur tar malem, hahaha…”
“Ini buat kamu, Stel,” Daffa mengeluarkan sesuatu juga dari saku jasnya kemudian memberikan pada Stella.
Setelah memberikan ucapan selamat dan kado luar biasa pada pasangan pengantin, keduanya segera turun dari atas panggung. Pelan-pelan Tamar membuka tangannya. Ternyata Aidan memberikan gel untuk otongnya agar lebih mudah saat memasuki gua lembab Stella. Terdengar pria itu menggeram pelan.
Tak berbeda dengan Tamar, Stella juga terkejut melihat hadiah dari Daffa. Pria itu menghadiahinya gel untuk meredakan rasa nyeri di bagian intinya. Wajah gadis itu langsung memerah. Buru-buru dia meletakkan barang tersebut di ujung kursi pengantin. Dia kembali bersiap menerima ucapan selamat dari Rakan dan Vanila.
“Selamat ya buat kalian berdua. Samawa selalu, cepat diberi momongan dan mesra terus sampai kakek nenek.”
“Makasih, bang,” jawab Stella dan Tamar bersamaan.
“Selamat ya, kak Stella. Sekarang kan udah jadi istri, jangan kaya kuda lumping lagi. Kasihan sama bang Tamar kalo dia stress punya istri kakak, hihihi..”
“Astaga mulut kalian ngga ada yang enak ya didengar.”
“Hahaha…”
Rakan mengajak Vanila untuk turun setelah memberikan ucapan selamat. Tak lama kemudian Dipa naik ke atas panggung. Dia langsung menghambur pada Stella setelah memberi ucapan selamat pada Ahmad dan Wida.
“Kakak… huhuhu… sedih gue, kakak gue akhirnya laku juga. Akhirnya gue terbebas jadi satpam elo.”
Dengan kesal Stella menoyor kepala adiknya ini. Dipa hanya terpingkal saja melihat reaksi sang kakak. Kemudian pemuda itu melihat pada Tamar, setelah melepaskan pelukannya dari Stella.
“Bang.. aku titip kakakku, ya. Harap maklum kalau dia agak pecicilan, kadang malu-maluin dan satu lagi, makannya banyak. Kalau kehabisan stok beras, ke rumah aja.”
“Dipaaaaaaa!!”
Setelah mengatakan berbagai pujian untuk sang kakak, Dipa langsung ambil langkah seribu sambil terpingkal. Begitu Dipa berlalu, tatapan maut diberikan Stella pada Tamar yang juga ikut tertawa mendengar ledekan Dipa untuk istrinya.
Sementara itu di bawah panggung, Vanila yang tengah mengantri dimsum, ditarik tangannya oleh Rakan. Pria itu membawa Vanila menemui seseorang. Senyum gadis itu terbit begitu tahu kemana Rakan mengajaknya.
“Om.. kenalin ini Ila, dia itu penggemar berat om.”
Pria yang dipanggil om oleh Rakan menolehkan kepalanya. Gavin melemparkan senyuman pada Vanila kemudian mengulurkan tangannya. Dengan cepat Vanila menyambut uluran tangan Gavin seraya menyebutkan namanya.
“Ya ampun chef Gavin. Mimpi apa aku semalam ketemu chef di sini,” ujar Vanila sambil menatap Gavin tanpa berkedip.
“Mimpi dilamar Rakan,” celetuk Gibran yang langsung dibalas tawa Gavin.
“Jadi ini calonnya Rakan?” Gavin ikutan menggoda.
“Bukan om,” jawab Vanila seraya menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah seperti udang rebus, digoda oleh Gavin dan Gibran bersamaan.
“Kamu belum ngelamar dia?” Gavin melihat pada Rakan.
“Secara resmi belum, om. Tapi kalau secara illegal sih udah, om. Hahaha..”
Sebuah tepukan mendarat di lengan Rakan. Vanilla bertambah malu dibuatnya. Setelah mengenalkan Vanila pada Gavin, Rakan mengajak gadis itu untuk berburu kuliner. Selain meja prasmanan, pada pernikahan ini juga tersedia 20 stall yang menyajikan aneka makanan.
Pasangan pengantin kembali berdiri ketika Dayana dan Rafa naik ke atas panggung. Keduanya berjalan mendekati Ahmad dan Wida lebih dulu untuk memberikan ucapan selamat, baru kemudian menuju pasangan pengantin.
“Selamat Tamar, Stella,” ujar Rafa seraya menjabat tangan kedua pengantin.
“Selamat bang Tamar, Stella. Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah warohmah. Punya banyak anak, kalo bisa sekontainer,” ujar Dayana.
“Buset.. lo kira gue kucing apa, sekalinya ngelahirin segerombol.”
“Hahaha…”
“Jangan terlalu capek. Sisain tenaga buat nanti malam,” goda Rafa.
“Emang tar malem ngapain?” tanya Stella. Entah polos atau bodoh, mempelai wanita itu menanyakan hal tersebut.
Dayana segera menarik tangan Rafa menjauhi pasangan pengantin. Keduanya memberi selamat pada Irvin dan Anya, kemudian turun dari panggung.
“Aku ngga yakin, mereka bakalan malam pertama,” ujar Dayana.
“Emangnya kenapa?”
“Si Stella modelnya kaya ondel-ondel gitu. Udah gitu ngga mau diem juga. Aku malah kasihan sama suaminya, hahaha…”
Tak ayal Rafa ikut tersenyum mendengar kata-kata calon istrinya. Dia mengajak Dayana berkeliling stall. Memilih makanan pertama akan yang akan mereka santap sambil menggandeng tangan Dayana.
Dari arah pintu masuk, muncul Azriel bersama istrinya, Yossi dan ketiga anaknya, Shifa, Ammar dan Aidil. Mereka berlima naik bersamaan ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat. Mata Stella berbinar saat melihat Shifa.
“Ini kan pemain bulu tangkis nomer satu dunia!” pekik Stella senang.
“Hai Stella.. selamat ya atas pernikahannya. Selamat juga, Tamar. Akhirnya ada juga cewek yang mau sama kamu, hihihi..”
Tamar hanya berdecak sebal mendengar ucapan Shifa. Jika bertemu, mereka sudah seperti anjing dan kucing. Tamar yang kerap kesal dan Shifa yang tak berhenti menjahilinya. Pertengkaran mereka terhenti jika Rakan atau Shafa yang melerainya.
Selesai memberi ucapan, Shifa menyusul kedua orang tua dan adik-adiknya turun dari panggung. Tanpa wanita itu sadari sepasang mata terus mengawasi pergerakannya. Mata itu tak lepas memandangi wajah cantik Shifa dalam balutan dress berwarna hijau tosca dan make up tipis yang menghiasi wajahnya.
🍁🍁🍁
**Siapa tuh pengagum rahasianya Shifa?🤔
__ADS_1
Malam pertamanya pasangan fenomenal besok ya, kalau ngga lupa atau kena sensor entuuun🤣**