Hate Is Love

Hate Is Love
Tongkat Perseneling


__ADS_3

Melihat wajah istrinya yang sedikit tegang, Daffa kembali memberikan kecupan-kecupan di wajah cantik itu. Dia tahu pasti Geya was-was untuk menerima serangan darinya. Sebisa mungkin dia ingin membuat sang istri rileks dan menikmati percintaan mereka. Mendapat sentuhan lembut dari suaminya, perlahan rasa tegang Geya berkurang.


Mata Daffa melihat lurus pada lembah sempit di depannya. Lembah tersebut akan membawanya pada dunia baru yang memabukkan. Pria itu pun bersiap untuk menerobos kabut tipis yang ada di depan lembah sempit itu. Setelah merapalkan doa dengan suara pelan, pria itu siap untuk melakukan perjalanan melewati lembah sempit untuk menemukan danau yang bisa menyemburkan air mancur.


Daffa mulai menggerakkan tongkat perseneling. Dia berkonsentrasi, mengambil nafas panjang lalu pelan-pelan menekan pedal gasnya. Ternyata menembus kabut tipis tersebut tidaklah mudah. Pria itu terpaksa memundurkan tongkat persenelingnya, kemudian memajukannya lagi.


Percobaan kedua pun masih belum berhasil, namun begitu pria itu tidak menyerah. Dia memundurkan lalu memajukan kembali tongkat persenelingnya. Sedikit lagi kabut itu dapat ditembusnya. Untuk keempat kalinya dia memundurkan tongkat persenelingnya, kemudian memposisikannya dalam posisi netral. Beberapa kali dia menginjak pedal gas, kemudian sekali tarik, dia memajukan tongkat perseneling dengan kecepatan penuh.


Rintihan kecil Geya terdengar ketika kendaraan panjang milik suaminya berhasil menembus kabut tipis dan berhasil melewati lembah sempit miliknya. Untuk beberapa saat Daffa masih berada dalam mode parkir. Kembali pria itu memberikan sentuhan untuk menetralisir rasa sakit yang mendera sang istri.


Bibirnya terus menciumi bibir ranum yang sudah menjadi candunya. Berkat cumbuan Daffa, perlahan Geya melupakan rasa sakit dan perih yang tadi menderanya. Sang suami sudah berhasil membuatnya melambung lagi. Kendaraan panjang milik Daffa mulai bergerak menjelajahi apa yang ada dalam lembah sempit istrinya. Beberapa kali dia memainkan tongkat persenelingnya maju mundur.


Ternyata menjelajahi lembah sempit istrinya begitu menyenangkan. Tanpa lelah, dia terus memainkan tongkat persenelingnya, menjelajahi isi lembah sempit itu, maju mundur seperti irama lagu. Semakin jauh Daffa melaju, dia mulai melihat danau di depan sana. Pria itu menambah kecepatannya, lalu masuk ke dalam danau. Seketika semburan air keluar dari dalamnya.


Nafas Geya terdengar terengah, pemilik lembah sempit itu bergetar hebat ketika air mancur berhasil menyembur keluar. Daffa memeluk tubuh istrinya, memberikan waktu pada wanita itu untuk beristirahat sejenak. Kemudian pria itu mulai memainkan tongkat persenelingnya lagi. Kendaraan panjang itu kembali bermain di lembah sempit milik sang istri.


Melihat waktu yang semakin mendekati titik akhir, langit yang mulai menggelap, membuat Daffa mempercepat petualangannya. Kendaraannya bergerak semakin cepat menjelajahi lembah sempit itu. Untuk kedua kalinya danau di dalam sana dibuat mengeluarkan air mancurnya, dan membuat Daffa semakin sering memainkan tongkat persenilingnya maju mundur.


Daffa kembali memundurkan tongkat perseneling, kemudian dengan kekuatan penuh dia menekan pedal gas. Kendaraan panjangnya meluncur deras dan menghentak hingga ke ujungnya. Setelah beberapa kali hentakan, kendaraan panjangnya sampai juga di akhirnya hingga mengeluarkan oli yang menggenangi lembah sempit tersebut. Pria itu tetap mempertahankan posisinya sampai semua oli miliknya keluar.


“Makasih, sayang.”


Sebuah kecupan mendarat di kening Geya yang dipenuhi titik keringat. Tubuh Daffa pun tak kalah berkeringat setelah memainkan tongkat persenelingnya di lembah sempit sang istri. Perlahan dia menggulirkan tubuhnya ke samping. Dada Geya masih bergerak naik turun, deru nafasnya masih terdengar. Daffa menarik tubuh istrinya, memeluknya sambil memulihkan tenaga yang terkuras.


Diliriknya jam yang tergantung di dinding kamar, lima belas menit lagi adzan maghrib akan berkumandang. Pria itu bangun kemudian menyambar handuk yang terlempar ke lantai. Dia segera masuk ke kamar mandi, kemudian menyalakan kran air untuk memenuhi bath tube. Daffa kembali keluar lalu membopong tubuh istrinya. Pelan-pelan dia menaruh sang istri ke dalam bak mandi tersebut.


“Berendamnya jangan lama-lama, sayang. Sebentar lagi maghrib.”


Hanya anggukan saja yang diberikan oleh Geya. Dia terlalu malu untuk membuka suaranya. Sekarang dia sudah menjadi istri yang sesungguhnya. Sebenarnya dia terkejut Daffa akan langsung menerkamnya sepulang kerja. Dipikirnya pria itu akan menunggu sampai malam menjelang. Tapi ternyata hasrat dan gairah sudah mengalahkan segalanya. Namun begitu wanita itu tetap bahagia berhasil memberikan mahkota berharganya yang menjadi hak suaminya.


Usai mandi wajib dan berpakaian, Daffa bergegas menuju masjid yang ada di kompleks perumahan di mana dia tinggal bersama dengan Reyhan dan Aqeel. Sedang Geya memilih shalat di kamar. Bagian bawahnya masih terasa nyeri akibat terobosan tongkat perseneling sang suami.


Setelah menunaikan shalat maghrib berjamaah, para jamaah masih tinggal di sana untuk mendengarkan tausyiah singkat. Kegiatan ini memang selalu rutin diadakan. Selain untuk menambah wawasan keagamaan, juga untuk menjalin silaturahmi para penghuni kompleks. Biasanya tausyiah diadakan sampai menjelang isya. Setelah shalat isya berjamaah, barulah mereka kembali ke kediaman masing-masing.


Usai berbincang singkat dengan para tetangganya, Reyhan, Aqeel dan Daffa segera kembali ke rumah. Nampak Ayunda dan Iza sedang menyiapkan makan malam. Reyhan dan Aqeel segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Daffa berhenti sejenak ke dapur untuk mengambil minum.


“Daf.. panggil Geya, makan malam udah siap,” ujar Ayunda.


“Iya, ma.”


“Geya baik-baik aja, kan? Apa dia sakit?”


“Emang kenapa, ma?”


“Tumben ngga shalat bareng di mushola. Biasanya juga dia ikut siapin makan malam, tapi sama sekali ngga keluar kamar. Mama takut dia sakit, soalnya terus-terusan di depan laptop.”


“Geya baik-baik aja kok, ma. Sebentar aku panggilin.”


Sebelum beranjak ke kamarnya, Daffa meletakkan dulu gelas bekas minumnya. Baru kemudian dia menuju lantai dua. Ketika pria itu membuka pintu kamar, nampak Geya tengah duduk di sisi ranjang. Daffa melepas kopeah dari kepalanya, mengganti baju koko dengan pakaian rumah dan melepaskan sarungnya. Kini bagian bawah pria itu hanya terbungkus celana pendek selutut.


Dihampirinya Geya yang sedari tadi hanya duduk sambil menundukkan kepalanya.


“Ge.. ke bawah, yuk. Makan malam udah siap.”


“Malu, bang.”


“Malu kenapa?”


“Jalanku aneh.”


Awalnya Daffa tidak mengerti dengan perkataan istrinya itu. Namun kemudian dia paham kenapa Geya mengatakan jalannya aneh. Pasti dia masih merasakan sakit di bagian bawahnya setelah tadi menerima gempuran tongkat persenelingnya.


“Mau makan di kamar aja?”


“Jangan. Nanti mama malah curiga.”

__ADS_1


“Mau abang gendong?”


“Ngga mau. Malu, bang.”


“Terus gimana, dong?”


“Jalan aja, tapi pelan-pelan. Abang pegangin aku.”


“Ayo.”


Daffa bangun dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya. Geya berdiri kemudian menyambut tangan suaminya. Terdengar desisannya ketika merasakan bagian bawahnya terasa nyeri ketika kakinya mulai bergerak. Pelan-pelan wanita itu menggerakkan kakinya keluar dari kamar. Dengan hati-hati, kakinya menuruni anak tangga satu per satu. Ayunda yang melihat menantunya berjalan dengan langkah tertatih langsung mengerti apa yang sudah terjadi antara anak bungsu dan menantunya.


Reyhan yang baru keluar melihat Daffa sedang menuntun Geya lalu menarik sebuah kursi untuknya. Pemandangan tersebut juga tidak luput dari perhatian Aqeel. Reyhan mendekat lalu menarik kursi yang biasa ditempatinya.


“Kamu sakit, Ge?” tanya Reyhan.


“Ngga, pa.”


“Sakit abis dapet yang enak-enak, pa,” celetuk Aqeel.


Sontak saja perkataan pria itu mengundang pelototan dari Daffa. Geya langsung menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah merah merona, seperti kepiting rebus saja. Reyhan mengulum senyum, sudah paham apa maksud dari anak keduanya. Begitu juga dengan Ayunda. Wanita itu mendudukkan diri di dekat suaminya setelah menaruh makanan terakhir di meja.


“Laporan magangmu sudah selesai?” Reyhan mengalihkan pertanyaan pada hal lain agar sang menantu tidak merasa malu.


“Udah, pa. Tinggal bimbingan terus seminar.”


“Mudah-mudahan lancar, ya. Kalau kamu butuh bantuan, bisa minta tolong Bibie atau Rakan. Kalau minta tolong Daffa, malah disuntik kamunya.”


Uhuk.. uhuk..


Daffa yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak mendengar ucapan nyeleneh papanya. Aqeel tertawa puas melihat wajah sang adik. Geya lagi-lagi menundukkan kepalanya. Dia cepat-cepat menghabiskan makannya, agar tidak terus mendapat godaan dari keluarga suaminya.


Seperti biasa, usai makan malam, Geya biasa membantu mama mertuanya membereskan peralatan bekas makan malam. Namun kali ini Ayunda melarangnya. Dia meminta Geya duduk saja. Mau tak mau wanita itu menurut, karena memang bagian bawahnya masih terasa sakit jika banyak bergerak.


Usai membereskan peralatan bekas makan, Ayunda masuk ke dalam kamarnya. Tak lama dia keluar lalu menghampiri menantunya. Wanita itu menyerahkan gel dalam bentuk tube pada Geya. Ayunda memang sudah mempersiapkan obat itu untuk menantunya. Namun dia lupa memberikannya.


“Pakai ini.”


“Apa ini, ma?”


“Untuk meredakan sakit. Dioles di permukaannya, ya. Biar bengkaknya hilang dan sakitnya berkurang.”


“Makasih, ma.”


Wajah Geya merona mendengar penuturan mama mertuanya, namun tak ayal tangannya mengambil gel pereda nyeri tersebut. Dia memutuskan untuk kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa pegal, seperti habis dilindas mobil stum. Daffa kembali membantu istrinya kembali ke kamar.


Sesampainya di kamar, Geya tidak langsung memakai obat yang diberikan mertuanya. Dia meletakkan begitu saja gel tersebut di atas nakas. Tangannya meraih remote lalu menyalakan layar datar di depannya. Daffa mendekati ranjang, matanya langsung tertuju pada gel yang ada di atas nakas.


“Ini apa?”


“Gel buat hilangin sakit.”


Daffa mengambil gel tersebut, lalu membaca kandungan di dalamnya. Sekali baca dia tahu di mana harus meletakkan gel tersebut. Pria itu naik ke atas ranjang seraya membawa gel tersebut.


“Ayo pakai dulu.”


“Nanti aja, bang.”


“Pake sekarang. Katanya sakit. Sini abang bantu.”


“Ngga usah, biar aku aja.”


“Kalau kamu yang pakein, nanti ngga bisa rata. Udah biar sama abang aja.”


Terus didesak oleh suaminya, Geya tak punya alasan untuk menolak. Dengan perasaan malu, dia membiarkan Daffa membuka celananya. Dengan lembut Daffa mengoleskan gel tersebut di tempat semestinya. Kemudian timbul keisengan dalam dirinya. Sambil mengoleskan gel, jarinya menelusup masuk hingga membuat Geya terpekik. Refleks wanita itu memukul lengan suaminya.

__ADS_1


“Abang..”


“Hahaha.. maaf, sayang. Abis gemes.”


Bukannya berhenti, Daffa malah kembali memainkan jarinya, bahkan setelah dia selesai memakaikan gel. Apa yang dilakukan pria itu sukses membuat Geya kembali terpancing. Dia kembali berusaha mengingatkan suaminya, namun suaranya justru terdengar berat dan seperti godaan di telinga Daffa.


“Lagi, Yang,” bisik Daffa.


Tanpa menunggu jawaban Geya, Daffa langsung mel*mat bibir istrinya. Pria itu langsung memberikan ciuman dalam dan intens. Suasana panas dengan cepat kembali terjadi di antara keduanya. Tangan Daffa sudah mulai bergerilya, menyentuh titik-titik sensitif di tubuh istrinya. Geya pasrah menerima semua sentuhan suaminya yang dia tahu akan berakhir di mana aksi suaminya itu.


🍁🍁🍁


Usai menunaikan ibadah shalat shubuh, Geya memilih berbaring kembali di kasur. Tubuhnya benar-benar letih, setelah pertarungan panjang semalam. Apalagi menjelang shubuh suaminya itu kembali meminta jatah darinya. Mau tak mau, Geya harus melayani hasrat suaminya yang masih belum puas bermain dengan dirinya.


Bukan hanya tubuhnya yang pegal-pegal, tapi matanya juga berat. Jatah tidurnya berkurang akibat ulah suaminya. Belum lagi area bawah tubuhnya masih sedikit nyeri, lengkap sudah penderitaan yang dirasakan Geya. Penderitaan yang membawa nikmat tentunya.


Daffa yang baru pulang dari masjid, segera mengganti baju kokonya dan melepas sarungnya lalu naik ke atas ranjang. Dia menelusup masuk ke dalam selimut kemudian memeluk tubuh istrinya. Untung saja hari ini dia mengambil shift siang, jadi bisa mengistirahatkan tubuhnya lebih lama.


“Ke kampus jam berapa, sayang?”


“Ngga jadi.”


“Kenapa? Dosennya ngga ada?”


“Badanku cape banget, bang. Jalanku juga masih aneh.”


Daffa terkekeh mendengar jawaban istrinya. Dia tahu sudah menggeder istrinya tanpa henti sejak semalam. Tapi mau bagaimana lagi, apa yang Geya miliki menyuguhkan hidangan yang lezat dan membuatnya tak ingin berhenti untuk mencicipinya. Bahkan sudah menjadi candu untuknya. Apalagi mereka sempat menunda hampir dua minggu lebih untuk melakukan hubungan suami istri.


“Ya udah, kamu istirahat aja di rumah.”


“Abang, ngga kerja?”


“Aku masuk habis jam makan siang.”


“Berarti abang pulang malam, dong.”


“Abang tugas sampai jam sembilan malam. Kenapa?”


“Bakalan kangen sama abang.”


“Kemarin-kemarin abang tinggal kerja lama juga kamu ngga protes.”


“Kan kemarin aku ada kerjaan. Sekarang kerjaanku udah beres, jadi bosen aja di rumah terus.”


“Kamu tengokin kakek aja, biar ngga bosen. Atau istirahat di rumah, siapin tenaga lagi.”


“Ish.. abang ngga cape apa?”


“Ngga, lah. Justru itu salah satu cara buat refill tenaga dan semangat.”


Geya mencebikkan bibirnya. Namun harus diakui, dia pun menyukai kegiatan barunya bersama sang suami. Wanita itu melepaskan pelukan Daffa, kemudian berbalik menghadapnya.


“Abang.. kita kan belum bulan madu.”


“Kamu mau bulan madu kemana, sayang?”


“Belum tahu, juga. Yang pasti di kasur sama abang, hihihi..”


“Ketagihan, ya. Mau main lagi?”


“Ngga ah, cape. Aku mau tidur, ngantuk.”


“Ya udah sekarang tidur dulu. Nanti sebelum abang berangkat ke rumah sakit, kita main lagi ya.”


Bibir Geya mengerucut mendengar permintaan suaminya. Dengan cepat Daffa mengecup bibir yang terlihat menggemaskan itu. Ditariknya tubuh Geya semakin dekat padanya. Ujung kakiya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Sambil berpelukan, mereka tidur sejenak sebelum makan pagi.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Tuh jadi juga belah durennya. Ngga pake acara ketunda lagi ya. Aku ngga sejahat itu sama Daffa😂


__ADS_2