Hate Is Love

Hate Is Love
Zar Sakit


__ADS_3

Dengan langkah lunglai Zar masuk ke dalam rumah sambil menggeret kopernya. Tubuhnya terasa letih setelah menghabiskan waktu berpindah dari Thailand, ke Macau, lanjut Jepang dan terakhir Malaysia. Keadaan rumah sepi ketika pria itu sampai di rumah. Hanya ada asisten rumah tangga saja yang menyambut kedatangannya.


Kenzie pasti belum pulang dari kantor. Sedang mamanya entah sedang kemana. Mungkin saja berkumpul dengan saudaranya. Zar meninggalkan kopernya begitu saja di dekat tangga. Dia sudah tidak punya tenaga untuk membawanya naik. Begitu sampai di kamarnya, pria itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Tak berapa lama dia bangun, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk mandi dan berwudhu. Pria itu menyatukan waktu shalat dzuhur dan ashar karena saat waktu dzuhur dirinya masih di perjalanan. Selesai shalat, pria itu naik ke atas kasur dan langsung memejamkan matanya. Selain lelah, dirinya juga mengantuk. Tak butuh waktu lama, dia sudah masuk ke alam mimpi.


Rasanya baru saja lima menit pria itu memejamkan matanya. Tidurnya terusik saat mendengar suara Nara menyadarkannya. Mata Zar terbuka dan menangkap sosok mamanya duduk di sisi ranjang. Wanita itu mengusap puncak kepala anaknya.


“Kamu kapan pulang?”


“Tadi sore, ma.”


“Bangun dulu, sayang. Makan..”


“Sekarang jam berapa, ma?”


“Jam delapan.”


“Hah? Jam delapan?”


Tak percaya rasanya kalau dia sudah tidur selama empat jam lamanya. Rasanya baru sebentar saja dia memejamkan mata. Dengan malas, pria itu bangun dari tidurnya. Matanya menangkap koper miliknya yang tadi ditinggalkan di dekat tangga, sudah berada di dalam kamarnya.


“Ayo makan dulu.”


“Aku shalat dulu, ma. Nanti aku ke bawah.”


Nara hanya menganggukkan kepalanya. Dengan langkah terhuyung Zar menuju kamar mandi. Nara cukup mencemaskan keadaan anak sulungnya itu. Wajahnya sedikit pucat dan suhu tubuhnya juga lumayan tinggi. Wanita itu keluar dari kamarnya, lalu mendekati suaminya yang menunggu di meja makan.


“Zar mana?” tanya Kenzie.


“Lagi shalat. Mas.. kayanya Zar sakit. Mukanya pucat, badannya juga panas.”


“Coba telepon Arsy suruh ke sini periksa Zar.”


“Iya, mas.”


Wanita itu melangkah menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi Arsy untuk datang memeriksa keadaan Zar. Begitu selesai menghubungi Arsy, Nara kembali ke ruang makan. Nampak Zar menuruni anak tangga. Pria itu menarik sebuah kursi makan, lalu mendudukkan bokongnya di sana.


“Kamu sakit, Zar?” tanya Kenzie.


“Ngga, pa.”


“Mukamu pucat gitu. Ayo makan dulu. Mama sudah telepon Arsy, nanti dia ke sini periksa keadaan kamu.”


“Kasihan Arsy udah malam. Aku paling kecapean aja.”


“Arsy ke sini diantar Irzal. Ayo makan dulu.”


Zar memandangi aneka lauk di depannya dengan tidak berselera. Pria itu hanya mengambil sedikit nasi dan lauk, lalu memakannya. Lidahnya terasa pahit, semua makanan yang masuk ke mulutnya terasa pahit.


“Kenapa Zar?”


“Ngga apa-apa, ma.”


Zar memaksakan diri menelan makanan di piringnya. Dia tidak mau membuat mamanya bertambah cemas. Tak sanggup terus menerus menelan makanan yang terasa pahit, pria itu hanya mampu menghabiskan setengah saja dari jumlah yang diambilnya. Dia segera membasahi tenggorokannya dengan air putih.


“Aku ke kamar dulu ya, ma.”


“Iya, kamu istirahat aja. Sebentar lagi Arsy sampai.”


Sambil berpegangan pada penyangga tangga, Zar naik ke atas menuju kamarnya. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin.


Baru sepuluh menit dirinya berbaring, pintu kamarnya terbuka. Dari luar muncul Arsy bersama Irzal. Di belakangnya Nara menyusul bersama suaminya. Arsy mendekat lalu memeriksa kondisi sang kakak. Dia mengeluarkan alat dari tas medis yang dibawanya. Mengarahkan thermometer ke lubang telinga sang kakak.


“Panas bang, ini sampe tiga sembilan.”


Arsy mengeluarkan stetoskopnya, lalu mengarahkannya pada dada sang kakak. Dia juga memeriksa denyut nadi pria itu. Setelah memeriksa keadaan sang kakak, Arsy memasukkan kembali peralatannya ke dalam tas.


“Abang kecapean. Banyak istirahat ya, bang. Banyakin minum air putih. Aku infus aja ya, bang.”


“Ngga usah.”


“Biar cepat sembuh abangnya. Aku bisa masukin vitamin ke infusan.”


“Infus aja, Sy,” ujar Kenzie.


“Aku harus ke apotik dulu. Ma.. abang kasih paracetamol dulu.”


“Iya.”


Bergegas Arsy menuju apotik diantar oleh Irzal. Zar bukanlah orang yang mudah sakit. kalau kondisinya drop, itu berarti keadaan tubuhnya tidak baik-baik saja. Arsy membeli semua peralatan yang dibutuhkan, termasuk tiang untuk menggantung infusan, lalu bergegas kembali ke rumah.


Zar hanya pasrah saja ketika adiknya memasangkan jarum infusan ke tangannya. Arsy menggantung infusan pada tiang yang ditempatkan di dekat ranjang, lalu mengatur waktu tetesan infus. Dia juga menyuntikkan vitamin ke dalam infusan.


“Gimana kerjaan? Beres?” tanya Irzal.


“Beres.”


“Syukur deh. Besok gue kirim perawat ke sini biar lo cepat sembuh.”


“Siapa?”


“Heleh pura-pura ngga tahu. Lo pasti ngarep dirawat Rena, kan?”

__ADS_1


“Hehehe.. tau aja lo. Emang ipar ter the best deh.”


“Abang jangan banyak gerak. Harus istirahat,” peringat Arsy.


“Kalau besok dia masih belum sembuh, panggil aja penghulu ke sini. Pasti langsung sehat dia.”


Arsy tertawa mendengar ucapan suaminya. Setelah memastikan infusan Zar berjalan dengan baik, Arsy keluar dari kamar bersama suaminya. Dia mengajak Irzal masuk ke kamarnya. Karena khawatir dengan keadaan sang kakak, Arsy memutuskan menginap di kediaman orang tuanya. Irzal sama sekali tidak keberatan.


Setelah menutup pintu dan menguncinya, Arsy merangkak naik ke atas ranjangnya. Sejak menikah, dia hanya sesekali saja pulang ke rumah orang tuanya. Biar begitu, Nara selalu rajin meminta asisten rumah tangganya mengganti seprai di kamarnya secara rutin. Seperti sekarang, wanita itu segera mengganti seprai saat tahu Arsy akan menginap.


Irzal yang sudah lebih dulu berbaring, merentangkan lengannya. Arsy merebahkan kepalanya di dada sang suami. Tangannya mengusap dada bidang yang menjadi favoritnya. Rasanya begitu damai bersandar di dada bidang itu, apalagi Irzal selalu memeluknya ketika tidur. Membuatnya merasa begitu nyaman.


“Mas.. sebulan lagi aku selesai magang. Rencananya aku mau cuti dulu. Kita bulan madu yuk, mas.”


“Boleh. Kamu mau bulan madu kemana?”


“Yang dekat aja, ngga usah jauh-jauh. Mas juga ngga bisa ambil cuti lama. Yang penting tempatnya indah dan cocok buat berduaan.”


Arsy terkikik setelahnya. Tapi memang tempat seperti itu yang biasanya dijadikan destinasi bulan madu. Apalagi dia juga berencana promil setelah magangnya beres. Jadi mereka akan melakukan masa bulan madu di saat masa suburnya. Arsy sudah tidak sabar untuk mengandung lagi.


“Mas ikut maunya kamu aja.”


“Selesai magang, aku juga udah bisa promil, mas. Mudah-mudahan begitu kita pulang bulan madu akan dapat kabar baik.”


“Aamiin..”


“Kalau dapet kembar pasti enak ya, mas. Apalagi aku keturunan kembar.”


“Berdoa aja, Yang. Tapi jangan terlalu berharap, nanti jatuhnya kecewa. Kalau dikasih kembar, Alhamdulillah. Kalau ngga, ya disyukuri aja.”


“Iya, mas. Ehmm.. mas masih sayang kan sama aku?”


“Kok gitu nanyanya?”


Irzal mengubah posisinya, jadi berhadapan dengan Arsy. Dibelainya pipi halus istrinya itu. Arsy menangkap tangan Irzal, lalu mengecup punggung tangannya. Irzal mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan ciuman di bibir sang istri. Arsy langsung menyambut ciuman suaminya. Untuk beberapa saat, pasangan itu tenggelam dalam kegiatan pertautan bibir.


“Besok pagi jangan lupa telepon Rena. Yakin kalau ada Rena, Zar bakalan cepat sembuh,” ujar Irzal setelah ciuman mereka berakhir.


“Itu sih maunya si abang. Ditengok terus dimanja sama Rena, hihihi..”


“Makanya, kasih kebahagiaan sama si jomblo yang abis kena salip. Jangan lupa telepon Arya juga biar ke sini. Nanti aku juga suruh Aidan ke sini.”


“Mau ngapain mereka disuruh ke sini?”


“Biar mereka iri lihat Zar dimanja sama Rena, hahaha..”


“Ya ampun sejak kapan suamiku jadi jahil gini. Tapi aku suka kok. Asal jangan jahil godain perempuan lain aja.”


“Buat apa godain perempuan lain, kalau yang di samping udah cantik paripurna.”


“Tapi suka kan digombalin?”


“Suka pake banget.”


Arsy semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami. Hidupnya sekarang sudah lengkap, memiliki suami yang tampan, soleh dan setia. Hanya tinggal menunggu datangnya momongan untuk menyempurnakan kebahagiaannya. Irzal menarik tubuh Arsy agar lebih merapat padanya seraya mendaratkan ciuman di kening.


🍁🍁🍁


Mendapat kabar Zar sakit, Renata bergegas mendatangi kediaman Kenzie pagi-pagi sekali. Dia juga meminta ijin pada Rakan tidak masuk ke kantor. Untung saja sudah ada calon sekretaris pengganti dirinya. Rakan memang sudah menyiapkan pengganti dirinya menjelang pernikahannya dengan Zar.


Kedatangan Renata disambut gembira oleh Nara. Calon menantunya itu juga tidak datang dengan tangan kosong. Dia sudah membuatkan bubur dan beberapa lauk yang disukai oleh calon suaminya.


“Langsung ke atas aja, Ren. Zar ngga bisa sarapan di bawah, dia kan lagi diinfus.”


“Zar sampai diinfus, ma?”


“Iya. Dia lagi ngga berselera makan. Tapi Arsy udah kasih vitamin ke infusannya.”


“Aku buatin teh madu lemon dulu buat Zar.”


Nara hanya menganggukkan kepalanya. Dengan cekatan Renata membuatkan teh madu lemon untuk lelaki yang dicintainya. Dia menaruh teh dan juga wadah bubur ke atas nampan, lalu membawanya ke atas. Di dekat tangga, wanita itu berpapasan dengan Irzal dan Arsy.


“Wah gercep juga nih calon kakak iparku,” goda Arsy.


“Zarnya udah bangun?”


“Udah, dua-duanya juga udah bangun,” jawab Irzal.


“Dua-duanya? Emang ada siapa di kamar Zar?” kening Renata nampak berkerut.


“Zar sama adik kecilnya yang udah bangun, hahaha..”


Arsy mencubit pinggang suaminya yang sudah membuat pipi Renata merona. Wanita itu bergegas naik ke atas tanpa melihat pada Irzal lagi. Setelah menikah, ucapan Irzal semakin absurd saja.


Sejenak Renata mengambil nafas panjang sebelum membuka pintu kamar Zar. Terkejut dengan pintu yang terbuka tiba-tiba, Zar yang tengah memakai celana jogernya hampir saja terjatuh. Renata refleks membalikkan tubuhnya melihat adegan di depannya. Posisinya masih berada di dekat pintu tapi tetap membelakangi Zar.


“Udah selesai, Zar?”


“Udah.”


Yakin tidak ada tontonan mendebarkan lagi, perlahan Renata membalikkan tubuhnya. Nampak Zar sudah duduk di atas ranjang. Wanita itu berjalan mendekat, lalu menaruh nampan yang dibawanya ke atas nakas. Dia menarik kursi ke dekat ranjang.


“Infusannya ngga apa-apa? Kayanya ngga jalan,” mata Renata melihat pada selang infusan.

__ADS_1


“Masa sih?”


“Aku panggil Arsy dulu.”


Begitu mendengar infusan Zar tidak berjalan, Arsy bergegas menuju kamar sang kakak. Dia membenarkan tetesan cairan bening itu, lalu keluar dari kamar tersebut. Renata bersiap untuk menyuapi Zar. Pintu kamar dibiarkan terbuka lebar, agar tidak terjadi hal yang diinginkan sebelum waktunya.


“Apa kata Arsy?” tanya Renata sambil menyuapkan bubur ke mulut Zar.


“Kecapean aja. Emang kerjaanku banyak banget dan aku pengen cepat-cepat beresin itu semua sebelum kita nikah. Supaya bulan madu kita ngga keganggu.”


“Tapi ingat kesehatan juga. Kamu kan bukan robot, Zar. Kamu sakit kaya gini, emangnya ngga bikin aku cemas apa.”


“Kamu khawatir, Ren?”


“Ya iyalah aku khawatir. Kalau kamu sakit, aku ngga bisa dengar ocehan kamu yang kaya petasan banting, hahaha..”


PLETAK


“Aduh..”


Renata mengusap keningnya yang terkena sentilan Zar. Wanita itu memajukan bibirnya beberapa senti, tanda protes darinya. Zar mengusap dada melihat penampakan di hadapannya. Melihat bibir Renata yang seperti ikan c*pang, malah membuatnya ingin mencaplok bibir tersebut.


“Arya gimana?” tanya Zar.


“Gimana apanya? Aku jarang ketemu Arya belakangan ini.”


“Aku curiga tuh anak mau coba nyalip kita deh.”


“Hahaha.. ya biarin aja. Kalau emang udah jodoh dan waktunya dia nikah cepat, kita bisa apa?”


“Ngga rela aku. Aku duluan yang ngelamar kamu, masa giliran bayar tunai disalip mulu. Udah cukup si Daffa yang nyalip. Jangan sampe si Arya ikutan nyalip.”


“Makanya kamu harus konsentrasi kerjanya, jaga kesehatan juga. Jangan sampai kerjaan beres, begitu kita nikah kamunya sakit lagi. Yang ada bulan madunya di rumah sakit.”


“Eh jangan bilang gitu dong, sayang. Nanti didengar malaikat repot, kan.”


“Hihihi.. ada-ada aja kamu, Zar.”


Seperti yang Irzal katakan, kedatangan Renata memang menjadi mood booster untuk Zar. Bukan hanya keadaannya saja yang mulai membaik. N*fsu makan pria itu juga sudah kembali, dan jangan lupakan mulutnya yang terus saja mengoceh. Membicarakan apapun yang terlintas di pikirannya. Renata dengan sabar mendengarkan semua ocehan calon suaminya.


🍁🍁🍁


Saat jam makan siang, sahabat Zar menyempatkan diri untuk menengok pria yang terkenal dengan julukan petasan banting di rumahnya. Arya datang untuk melihat keadaan sepupunya itu. Begitu juga dengan Aidan yang diutus Irzal untuk melihat kondisi kakak iparnya. Selain kedua orang itu, Daffa juga menyempatkan diri menjenguk bersama dengan Geya. Tamar juga ikutan menengok bersama sang istri.


Kamar Zar sudah dipenuhi oleh celotehan dan gelak tawa orang-orang yang tengah menengoknya. Banyak hal yang mereka bicarakan, menceritakan apa yang terjadi ketika Zar berada di luar negeri. Termasuk saat terjadi perkelahian dengan angoota gank The Cave di rumah sakit.


“Tuh anak buah The Cave dibawa ke kantor polisi akhirnya?” tanya Zar.


“Iya. Langsung masuk bui semua, ngga usah pake sidang lagi. Nanti kalau kuota udah penuh, langsung diterbangin ke pulau Oak,” jawab Tamar.


“Bagus tuh, emang harus digituin. Mereka berani karena keroyokan aja. Kalau satu lawan satu pasti mengkeret. Udah gitu cuma modal muka serem sama tato aja. Kemampuan bela diri ngga ada, menang gertak sama garang doang.”


“Betul tuh. Harus dibasmi orang-orang kaya gitu,” sahut Aidan.


Renata dan Geya masuk membawakan makanan untuk para pria yang ada di kamar. Termasuk untuk ibu hamil yang keinginan makannya bertambah besar seiring dengan bertambahnya usia kandungan. Kedua wanita itu menaruh aneka makanan di atas karpet. Arya, Aidan, Daffa, Tamar dan Stella tentu saja menyambutnya dengan senang. Renata duduk di sisi ranjang dan mulai menyuapi Zar.


“Duh calon istri gue emang paket lengkap deh. Bisa jadi koki hebat, sekarang jadi perawat juga,” Zar melihat pada Arya.


“Bukan cuma calon istri lo doang. Bini gue juga sama kok,” jawab Tamar tidak mau kalah.


“Eh Geyaku juga perhatian kok. Ya kan, sayang?”


Daffa mencium pipi Geya di depan semuanya tanpa merasa malu. Tentu saja hal tersebut membuat gondok Aidan dan Arya. Bahkan Zar juga ikutan gondok, biarpun Renata berada di dekatnya. Tapi dia belum bisa memperagakan gaya soang seperti Daffa tadi.


“Daff.. lihat sikon napa? Lo ngga kasihan sama Idan apa? Kalau gue sih udah bisa mandang Rena yang cantik udah puas,” seru Zar.


Kampret lo bawa-bawa gue. Lihat aja Zar, gue bakalan salip lo lagi. Bakalan nangis sampe nungging lo, hahahaha..


“Shifa gimana kabarnya, Ar?”


“Baik. Dia lagi fokus latihan buat Sudirman cup.”


“Ck.. kasihan gue sama elo. kayanya Shifa lebih cinta sama raketnya dibanding elo, hahaha..”


“Sumpah ya, Zar. Biar lagi sakit, mulut lo lemes terus,” kesal Arya.


“Buat Shifa, ngelus bulu di kok itu lebih menarik dibanding ngelus elo, hahaha..” Tamar ikut memanasi.


“Kalo si Arya sakit, palingan ditepak-tepak sama raketnya,” sambung Aidan.


“Mending ditepak doang. Kalo disetrum pake raket nyamuk gimana? Hahaha…” tawa Daffa langsung terdengar.


“Terooossss bully aja terus.. mumpung yang dibully lagi nongkrong di empang,” kesal Arya.


“Hahaha..”


“Bang Arya ngapain nongrong di empang? Lihatin yang kuning ngambang ya, hihihi..” Geya ikutan julid.


“Arya lihatin lele lagi makanin yang kuning-kuning, hahaha..”


Tawa Stella disambut oleh tawa yang lainnya. Arya menghembuskan nafas kesal. Ternyata mulut semua orang yang bersamanya sekarang benar-benar tajam, setajam silet. Matanya kemudian melirik pada Renata yang sedang menyuapi Zar dengan telaten. Dia sontak memutar otaknya. Bagaimana caranya agar Shifa juga mau melakukan itu untuknya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


**Nikmati waktumu ngebully Arya dan Aidan. Tapi hati² diam² mereka lagi tancap gas🤭


Besok HIL dan SM libur ya. Tanggal merah, anak² libur, paksu libur, aku mau family time sama refreshing otak🤗**


__ADS_2